Prediksi Oscars 2021: Class of Trial

Izin cuti besok sudah kukantongi. Ini akan jadi Oscar ke-12 yang kutonton secara beruntun. Live di Disney +. Seperti biasa saya akan menebak 14 kategori. Tahun ini saya berhasil melahap 22 film Oscars sebelum pengumuman. Angka yang sangat tinggi walaupun di antaranya kukebut dalam dua minggu terakhir. Ralat, angka tertinggi selama kuikuti. Amazing year

#14. Animated feature filmSoul

Alasan: Tema menarik dengan dunia antara yang megah, serta jazz di mana-mana

Tiga film yang kunikmati, Soul menjadi film pertama yang kutonton pasca pengumuman. Langsung dapat feel-nya, langsung kutebak menang. Shaun The Sheep 2 dan Onword jelas bukan, keduanya terlalu anak-anak dan biasa. Sekadar menghibur.

#13. Actor in a supporting roleDaniel Kaluuya (Judas and the Black Messiah)

Alasan: Benar-benar hidup dan menghentak pidato pasca bebas

Pasca Get Out yang hebat itu, tampak pilihan film Kaluuya makin bagus. ini bisa jadi saatnya menang, yang jelas bukan Paul Raci atau partnernya di Judas. Bisa jadi Leslie Jr yang juga luar biasa dalam malam yang aneh. Namun tetap saya pilih si keling.

#12. Actor in a leading roleChadwick Boseman (Ma Rainey’s Black Bottom)

Alasan: Penghormatan terakhir untuk sang Black Panther

Tak ada yang benar-benar menonjol di kategori ini, tak seperti tiga empat tahun terakhir yang sudah bisa dikunci. Antara Hopkins dan Boseman, saya pilih Black Panther sebab sudah tak ada lagi kesempatan, dan memang aksinya menjadi musisi jazz muda yang sombong dan pede sangat ciamik.

#11. Actress in a supporting roleGlenn Close (Hillbilly Elegy)

Alasan: Haha, nenek cerewet yang begitu sayang cucunya, ganas dan sungguh menghentak

Olivia sudah dapat Oscar dua tahun lalu, perannya jadi anak yang terpaksa mengirim ayahnya ke panti jompo bagus dengan aksen British seksi. Namun jelas, sudah kujago si nenek menang sebab ia paling melonjol baik di film ataupun di daftar. Bayangkan tiga jenis Terminator disebut dengan kocak.

#10. Actress in a leading role Carey Muligan (Promising Young Woman)

Alasan: Saya menyukai Carey sejak An Education, dan inilah saatnya setelah sedekade lebih memantau

Antara dia dan Viola Davis. Jadi vokalist blues di era suram Amerika, galak dan memukau. Sementara untuk Carey, tampak lembut dengan masa depan suram, cantik pirang menggoda. Balas dendam yang tak biasa, dan terencana dengan kurang matangnya mengejutkan.

#9. Foreign Language FilmBetter Days

Alasan: Megap-megap

Banyak yang menunjuk Another Round yang akan menang, saya kurang suka tema mabuk jadi pembenaran. Walaupun endingnya bagus, dance dan musik yang begitu hidup. Mending Quo Vadis, Aida? sih, tapi tema perang sudah sangat banyak dibuat. Better Days bisa menyingkirkan A Sun yang luar biasa itu, yang berarti istimewa.

#8. Costume Design Emma

Alasan: Anya seolah sedang fashion show

Antara Mank dan Emma, cenderung ke Emma sebab tema utama film ini adalah pamer baju dengan wajah Anya sesering mungkin closed up.

#7. Visual effects Tenet

Alasan: Membingungkan? Sajian Nolan menghebat! Di efeknya…
Cara membalik adegan mundur saja sudah jadi bukti sahih, sulit buatnya dan ledakan-ledakan. Sewa pesawat asli Cuma buat ditabrakkan! Gokil emang.

#6. Original SongSpeak Now (One Night in Miami)

Alasan: Film lima bintang yang memiliki tema kemanusiaan, satu dari empatnya musik

Bagusya sih Leslie Jr menang juga, tapi kalau ia terlepas maka lagunya juga ga masalah. Empat tema dalam empat manusia, bagus semua. Namun yang paling menonjol ya musik, ditampilkan dengan live dan menghipnotis.

#5. CinematographyMank

Alasan: Mank bagus di sisi teknis

Agak sulit di sisi ini, bagus semua tapi tak ada benar-benar menonjol, Judas ok dan suram. The Trial ok dan suram. Nomadland ok dan merenung. Hanya Mank yang ok dan melayang. Hitam putih memesona.

#4. Writing (adapted screenplay) Nomadland

Alasan: Film jemuran dengan renungan malam

Sudah kutonton semua, kategori ini sulit dan sering kali tak diberikan ke film yang benar-benar wow. Harusnya One Night tapi tidak, atau The Father tapi tidak juga rasanya. Juri sering milih yang standar, maka nomad diuntungkan.

#3. Writing (original screenplay)The Trial of the Chicago

Alasan: Sorkin pengalaman menang di sini, jangan bosan

Yang jelas bukan Minari atau Judas. The Trial tuh bagus baget, ini kategori favorit jadi wajib tebak yang benar-benar film hebat. Adegan ending pembacaan korban itu luar biasa menakjubkan.

#2. DirectingDavid Fincher (Mank)

Alasan: Sutradara hebat yang belum memenangkan piala ini, saatnya tiba
Bukan film terbaik Fincher, tapi mau kapan lagi? Mank berkelas dan memiliki jumlah tertinggi nominasi, jadi memang sudah saatnya menang.

#1. Best pictureThe Trial of the Chicago 7

Alasan: Film terbaik Oscars tahun ini

Piala tertinggi banyak yang bilang akan jadi milik Nomadland atau Mank, Mank bolehlah bagus memang proses pembuatan naskah film legendaris, tapi jangan Nomadland please… The Trial adalah film terbaik tahaun ini jadi wajar kutebak. Peluangnya tak sebesar keduanya, tapi saya benar-benar berharap Sorkin menang. Salah satu drama pengadilan terbaik yang pernah dibuat, kalau tak mau ditempatkan di puncak.

Karawang, 260421 – Joeniar Arief – Rapuh

#1. Pertama kalinya Oscar kuikuti ada di bulan April dan bulan puasa, jadi tak ada kopi dan cemilan yang menemaniku di Senin pagi cuti ini.

#2. Oscar live di Disney Plus mulai jam 7.

Better Days: Kasus Perisak yang Bikin Sesak Napas



Better Days


Chen: “Dapatkah kamu melindungiku? Tapi aku tak punya uang untuk membayarmu.”


Manusia dilahirkan dengan dua kategori, yang kuat dan yang lemah, yang suci dan biasa, pahlawan dan mereka yang menaruh hormat pada pahlawan. Contoh sederhananya dua kategori manusia itu ada dalam Chen Nian dan Xiao Bei. Tentang perisak yang memilukan. Dunia remaja yang seharusnya penuh keceriaan menjelma kisah pilu saat tema perisak – populer dengan nama bullying, diapungkan. Sempat was-was akan jadi cerita cinta klise pasangan beda kasta, beda kecakapan, beda area; ternyata malah meledak di jelang akhir. Luar biasa, bagaimana sebuah hubungan bisa begitu intens tanpa perlu banyak kata. Rumit memang, mereka jelas saling mencinta, saling menjaga, saling melindungi. Carl Jung berkata bahwa alam bawah sadar manusia – daerah masa lalu, masa kanak-kanak dan masa bayi yang tertekan ke bawah sadar – ada ‘kesadaran kolektif’, yakni daerah masa lalu umat manusia dan masa sebelum manusia ada. Cukup wajar kita menangisi masa-masa sedih di masa lalu, megap-megap menyaksi cinta tulus itu direnggangkan, disandiwarakan, lalu menghantam nurani. Apakah dunia adil? Mungkin Tuhan memerlukan boneka-boneka ini, untuk digerakkan dengan jari-jariNya untuk menembus tabir yang ditenun oleh akal manusia.




Kisahnya tentang Chen Nian (Dongyu Zhou) yang bernarasi masa lalunya. Dibuka dengan present day, ia menjadi pengajar. Membacakan kalimat bahasa Inggris: bedanya masa lalu: ada masa lalu yang biasa, ada masa lalu yang membekas, masa lalu dengan kenangan yang bersemanyam. Apabila harus pergi ke masa mudamu, dan mencoba menghidupkan kembali, pada usia tertentu, hal-hal yang pernah kau cintai atau sangat nikmati sekaligus masa-masa berat tentunya kita bersepakat pada artikulasi indahnya cinta. Nah, Better Day memaparkan masa hitam putih itu. Kisah ditarik mundur semasa ia bersekolah. Berteman dengan Hu Xiaodie yang melakukan bunuh diri. Lihat, pembuka yang berat bukan? Seperti A Sun yang pembukanya langsung memberi kita adegan membacok tangan hingga putus, film-film Asia kalau sedari mula seperti ini, siapa yang tak tersentuh hati?



Hu bunuh diri, ia adalah korban perisak yang dilakukan rekan sekelasnya digawangi oleh Wei Lang (Ye Zhou) dan teman-teman. Secara nurani dan refleks Chen berjalan mendekat ke korban dan menutupi temannya dengan jaket dalam sorotan kamera seisi sekolah. Dalam penyelidikan lebih lanjut, ia ditanya. Awalnya tak mau melaporkan, ia juga korban perisak. Namun berjalannya waktu ia nantinya terpaksa memberitahu polisi.



Ketika pulang sekolah, di jalan yang sepi melihat kekerasan, pengeroyokan berandal, sambil berjalan cepat menelpon polisi, naas ia malah turut serta ditangkap, dan menjadi korban. Mereka lalu malah berteman, kedua korban yang dipaksa ciuman ini lalu saling mengenal lebih dekat. Liu Beishan atau akrab dipanggil Xiao Bei (Jackson Yee) adalah remaja nakal, preman kota yang sudah biasa berantem, Chen siswi cerdas, miskin, pendiam dan rupawan. Dua pribadi berbeda yang saling mengisi.


Bei melindungi, turut menguntitnya saat berangkat dan pulang sekolah, Chen merasa nyaman mendapat kepastian aman, bisa lebih konsentrasi belajar. Wei dkk kena skors, belajar di rumah, mereka melakukan pembalasan, menyatroni rumahnya, mengejarnya. Chen memutuskan menginap di rumah kumuh sahabat barunya, dan tentu saja mencipta keakraban mendalam. Mencipta cinta tak terucap, saling menjaga dan melindungi. Namun sampai kapan?



Tragedi-pun dicipta. Bei ditangkap polisi karena diduga melakukan kekerasan seksual, walau tak bersalah ia tak bisa menjaga Chen saat pulang sekolah. Naas pula saat itu genk sekolah melakukan perisak disertai kekerasan, ada video rekamannya. Babak belur semuanya, dan Bei mencoba membalas dendam tapi ditahan. Digundul berdua, jelang hari ujian. Rasanya pada saat itu perasaan sudah terlalu mati untuk bisa menangis. Rasa sakitnya harus dilupakan. Karena terkadang itulah satu-satunya cara untuk mengingat apa yang ada pada tulang kita.



Hari H ujian Gaokao hujan lebat, jalanan macet sebab ditemukan mayat dalam reruntuhan tanah. Adalah mayat Wei Lai, di sinilah kejutan dan kehebatan film benar-benar makin mencipta sesak. Chen diduga pelakunya, Bei setelah didesak lebih lanjut mengakui sebagai pelaku. Oh tidak, tidak sesederhana itu. Ini film asing yang diwakilkan Asia ke Oscar, harus ada sesuatu yang luar biasa dalam cerita. Ini film yang menyingkirkan A Sun yang hebat itu, jadi memang benar ada kejutan dan adegan ‘Kamu melindungi dunia, aku akan melindungimu’. Lalu menangislah, sekencang dan sepuasnya. Kalian laik melakukannya. Megap-megap di eksekusi akhir. Seorang laki-laki selalu memiliki dua karakter: miliknya sendiri dan karakter yang dikira oleh lingkungan. Kita akan mengerti bagaimana sebuah ungkapan tertentu digunakan untuk menggambarkan seluruh konteks emosi. Ia begitu rapuh sekaligus kuat, menjalani hari dengan berat bersama pelukan kekerasan tapi memiliki kelembutan hati demi orang terkasih.



Terasa nyata apa yang disajikan, sungguh di negera maju dengan tekanan hidup yang lebih tinggi kehidupan sehari-hari remaja justru ditumpuk beban-beban berat. Lihat hari jelang ujian, para remaja ini tampak begitu menderita akan pembelajaran. Demi prestise demi nilai bagus sehingga bisa melanjutkan ke Perguruan Tinggi idaman. Di Indonesia menuju ke arah sana, ini adalah zaman kita dan kita tidak bisa hidup dengan membenci diri sendiri dan generasi setelah kita. Zaman kita telah terpuruk begitu rendah karena berlebihan dalam kebaikan-kebaikannya dan juga kerena besarnya kesalahan-kesalahannya.


Berdasarkan buku karya Jiu Yuexi berjudul In His Youth, In Her Beauty. Terasa ada pengalaman pribadi yang ditulis. Gagasan bahwa setiap penulis pasti menulis tentang dirinya sendiri dan menggambarkan dirinya sendiri dalam buku-bukunya adalah salah satu gagasan konyol yang kita warisi dari Romantisme. Namun jelas sayatan kisahnya terasa hidup dan nyata, apalagi saat epilog kita disajikan fakta-fakta mencengangkan masalah bullying yang menimpa China.



Keputusan akhir, untuk saling melindungi dituangkan dengan gaya. Menghitung peluang, siapa yang berhasil lolos. Si wanita punya masa depan, si lelaki juga punya tapi tak secemerlang dirinya. Biarkan ia menanggung dosa, bakalan jadi penghuni penjara remaja, jadi ikhlaskanlah. Nyatanya, sidang terpisah interograsi itu tak berjalan mulus. Sulit memang kala cinta dan pengorbanannya ditautkan saat keadaan genting. Harapan merupakan pedang untuk menatap masa depan dan pahlawan akan melindungi siapa pun yang berdoa dan berusaha pada saat dalam kesusahan dan bahaya.



Masa muda yang berapi menjadi titik penting untuk kehidupan dewasa, jadi pijakan bahwa ada harapan indah di sana, untuk hari esok yang lebih baik. Layar Better Days adalah ejawantah desahan yang penuh penderitaan, kehilangan, dan keikhlasan atas kesalahan masa lalu yang mengikis waktu kebersamaan dengan orang terkasih. Apa yang terjadi pada mimpi-mimpi kamu yang hebat? Apa konsekuensinya?


Better Days | Tahun 2020 | Hongkong | Directed by Derek Tsang | Screenplay Lam Wing Sum, Li Yuan, Xu Yimeng | Cast Zhou Dongyu, Jackson Yee, Yin Fang, Huang Jue, Wu Yue, Zhou Ye | Skor: 4.5/5




Karawang, 240421 – The Adams – Pahlawan Lokal

Hillbilly Elegy: Kuda Patroclus Menangis Untuk Tuannya, Meninggal dalam Pertempuran

JD: “Where we come from is who we are but we choose every day who we become.”

Elegi, menurut kamus bahasa Indonesia artinya syair atau nyanyian yang mengandung ratapan dan ungkapan dukacita (khususnya pada peristiwa kematian). Ini cerita tentang kedukaan yang timpa menimpa, ini elegi sebuah keluarga di Hillbilly, mereka menghadapi dengan tegar.

Dari sutradara kawakan Ron Howard kita diajak mengenal sebuah proses belajar kehidupan. Berdasarkan kisah nyata, diambil dari memoar berjudul sama yang terbit tahun 2016. Kisahnya merentang tiga generasi. Masa muda neneknya yang sepintas lalu, ia menikah muda ‘kawin lari’. Generasi kedua ibunya yang broken home, tersangkut narkoba dan hidupnya berantakan setelah hidup sama junkies. Generasi ketiga adalah J.D. Vance, orang yang diambil sudut pandangnya. Bagaimana ia bisa menjadi lulusan hukum Yale tahun 2013, padahal dari keluarga biasa. Luar biasa memang saat kita menyaksikan perjalanan hidup orang hebat, benar-benar mengharu biru.
Kisahnya tentang J.D. Vance (Gabriel Basso), ia tumbuh kembang dalam keluarga yang keras. Saat liburan di Jackson tahun 1997, J.D. Vance kecil (Owen Asztatos) naik sepeda untuk mandi di sungai padahal sudah siap-siap balik ke Ohio, kena perisak hingga berdarah, dibawa pulang keluarga. Ibunya Bev (Amy Adams) sangat keras, ia tak segan memukul saat JD salah, neneknya Mamaw (diperankan dengan sangat bagus oleh Glenn Close – Oscar please…) tak kalah keras sehingga JD tumbuh dengan menghantam balik kerasnya keadaan.

Kakaknya Linsay (Haley Bennett) sibuk pacaran sama Kevin, sehingga JD benar-benar kurang kasih sayang. Sebenarnya hubungan ibu anak ini bagus, bagaimana mencuri post card Joe Montana, dan saat-saat tawa akan kebersamaan. Saat ibunya pindah untuk tinggal sama suami barunya dan saudara tirinya yang aneh, segalanya berubah. Ia menjadi pecandu heroin, ia makin mudah marah, dan betapa kehidupan begitu memuakkan. Lingkaran teman JD turut memburuk, ia terlihat pengerusakan gudang, ia minum minuman keras, ia turut mudah melontarkan kata-kata kotor. Maka dalam keadaan sakit, neneknya memaksa diri mengambilnya dari rumah ibunya. Sempat terjadi cekcok, tapi keputusan radikal harus diambil.
Tinggal sama neneknya yang berupaya memperbaiki keadaan, JD berangsur membaik dalam banyak hal. Nilai sekolah aljabar dulu merah menjelma yang terbaik di kelas, ia berusaha membalas kebaikan neneknya. Kasus kalkulator juga mengerikan, bagaimana bocah sekolah mencoba mengambil dari toko, harganya yang mahal (apakah dari emas), neneknya terpaksa membelinya, JD yang kesal melemparnya keluar mobil, pungut! JD berusaha membantu keuangan dengan menjadi kasir, belajar tekun dan segalanya benar-benar ke arah positif.

Masa merentang 14 tahun kemudian, ke tahun 2011 yang sejatinya menjadi setting waktu utama. JD punya pacar keturunan India, Usha (Freida Pinto), mahasiswi magang di Washington DC. Ia sedang berusaha mendapat beasiswa Yale jurusan hukum dan kerja dalam tiga hal, tapi makan malam ramah tamah itu, atau saat penentuan jelang wawancara ia mendapat telpon dari kakaknya, ibunya sakaw dan perlu tindakan segera. Pilihan sulit, tapi tak sulit juga menentukan sebab ini film keluarga, dan keluarga jelas nomor satu. Kakaknya sibuk dengan pekerjaan dan tiga anak, jadi ia-pun berkendara jauh ke Ohio demi ibunya.

Ibunya coba dicarikan tempat rehabilitasi, menolak. Dipindahkan ke hotel, ditinggal cari makan malah nyuntik narkoba di kamar. Sementara menanti Linsay pulang dari tempatnya bekerja, ia mengurus dengan kasih. Dalam sebuah adegan menyentuh hati, kita diajak menjelajah masa lalu. Frame waktu demi waktu keluarga ini melintasi keadaan. JD was-was pula karena ada wawancara beasiswa besok jam 10:00 di Washington. Dengan segala kegalauan ini, berhasilkan ia mengejar waktu melintasi kota dalam semalam?

Cumbuan di antara keanggunan yang penuh kemenangan, semua kegairahan nyanyian kasih yang tak pernah memudar dengan datangnya pagi. Senyum JD, senyum Usha. Senyum semuanya. Ini cerita happy ending. Ini kisah nyata. Ini kisah bersisian cara penyampaiannya. Dalam film tak runut seperti yang saya ketik, sebab alurnya acak. Jelang credit title kita akan melihat video dan potongan gambar-gambar asli keluarga ini, menggemaskan dan sungguh-sungguh membumi.

Membicarakan tiap generasi, otomatis kita akan menjelaskan keadaan sosial di tiap masa. Orangtua dipengaruhi dan memengaruhi anaknya: anak-anak tidak hanya meniru kehidupan, tetapi juga membentuknya. Banyak orang meniru gaya orang sekitar. Bagaimanapun cara membesarkan anak, memengaruhi sisi psikologinya. Untung sekali sang nenek menyelamatkan JD dari pengaruh buruk lingkungan dan pergaulan.

Menjadikannya kebanggaan, walaupun sesekali kita dengar ia bangga ibunya jadi nomor 2 dari 400 siswa di sekolah.
Tindakan tanpa fondasi yang tepat akan menghasilkan bencana. Banyak sekali adegan yang menyiratkan kemarahan. Seolah bilang, “Aku bodoh. Tolol. Itulah yang terjadi kala tindakan kita dimotivasi oleh dorongan emosi, bukan logika yang kokoh.” Nenek ke ibu, ibu ke anak, lantas saat ia tumbuh dewasa tindakan yang sama dilakukan, hanya fasenya dibalik saat sang ibu sakaw. Hiks,…

Kuharap Glenn Close menang Oscar. Perannya sungguh memikat. Menjadi nenek yang peduli, yang marah, yang kecewa, yang begitu bangga pada cucunya saat ia berangkat sebagai US Marine, yang begitu bangga saat menyaksikan perubahan membaik nilai pelajaran, yang begitu memesona. Proses adaptasi Close menjadi sang nenek yang sangat amat pas, kaca matanya bahkan kaca mata asli. Kita semua merindukan nenek cerewet penuh kasih sayang. Inilah kedukaan untuk Mamaw. Kuda Patroclus menangis untuk tuannya, meninggal dalam pertempuran.

Kelegaan yang dirasa semua pihak lantas memacu kehidupan masa lalu yang lebih tenang. “Saya tidak mendengar apa-apa, hanya daun-daun yang gemerisik, dan angin.”

Hillbilly Elegy | Tahun 2020 | Directed by Ron Howard | Screenplay Vanessa Taylor | Story J.D. Vance | Cast Amy Adams, Glenn Close, Gabriel Basso, Haley Bennett, Freida Pinto, Bo Hopkins, Owen Asztalos | Skor: 4/5

Karawang, 230421 – Take Over band feat John Paul Ivan – Cuma Kamu

Nomadland: Kesunyian, Pasti. Dan Mungkin Juga Umat Manusia

Fern: “No, I’m not homeless. I’m just house-less. Not the same, right?”

Nomaden era now. Penampilan yang sederhana, semuanya. Kehidupan, para karakter, filmnya, ceritanya, aktingnya, semuanya sederhana. Sampai-sampai untuk hidup nyaman menetap saja ditolak. Dunia memang penuh orang aneh, dan kita berdiri di antara mereka. Banyak pilihan dengan sedikit yang menawarkan hal bermutu. Kehidupan warga Amerika bersama van keliling dari kota satu ke kota lain memang tampak eksotis, yang jelas tak semembosankan hidup di rumah yang sama, di kegiatan rutin yang sama, dan tidak menghadapi masalah yang sama pula.

Kisahnya di tahun 2011 tentang Fern (Frances McDormand) seorang janda berusia 60-an yang ditinggal mati suaminya Bo. Ia kehilangan pekerjaan sebab US Gypsum di Empire, Nevada ditutup. Ia memutuskan menjual semua barangnya dan membeli van yang dinamai ‘Vanguard’, memutuskan menjadi nomad. Tinggal di mobil di semacam perkemahan dengan kendaraan terbentang sepanjang mata memandang, lalu berpindah, dan kemudian bergerak lagi. Bekerja sambil lalu, dapat di Amazon yang sifatnya musiman. Bergabung dengan orang-orang sejenis (Nomads), ia memutuskan menikmati sisa hidupnya dengan meninggalkan saudara dan teman-temannya, menjalankan perjalanan spiritual. Suatu ketika bannya bocor, ia meminta tolong ke mobil terdekat sang nomad: Swankie yang heran, “tak punya cadangan. Hah serius?” Teman-teman barunya mencoba membantu, ke depannya harus punya ban cadangan sayang. Mereka membentuk tim, Swankie menderita kanker dan divonis tinggal 6-8 bulan lagi, ia tak mau menghabiskan sisa hidup di rumah sakit. Ia melanjutkan perjuangan di jalanan.

Fern mendapat kerja di Taman satwa RV dan berkenalan dengan nomad David. Ia koki di rumah makan lokal. Suatu malam anaknya datang memberitahu David, istrinya hamil dan memintanya pulang. Ia ragu, malah meminta Fern ikut. Oh tidak bisa teman.

Saat Fern kerja di pertanian gula, ia mengalami masalah pelik finansial. Mobilnya rusak, gagal di-stater berkali-kali, ke bengkel biayanya lumayan besar, saat di kasir sang montir mencoba menawar mobilnya, oh tidak dijual. Untuk membayarnya ia ke saudaranya meminjam uang, sekali lagi ditawari kenyamanan menetap dan tetap jawabnya sama. Masing-masing dari kita, ada kalanya, suka memperdaya diri sendiri dengan percaya bahwa apa yang baik untuk kita pasti juga baik untuk semua orang. Tidak, kalian tak bisa tahu isi hati masing-masing.

Dalam komunitas ini, mereka saling menolong, menyapa dalam keakraban, berbagi kopi di pagi yang cerah, berbagi rokok dan pematiknya. David adalah salah satu teman terdekat, ia menyukai batu-batu eksotik. Suatu hari ia memutuskan pulang ke keluargnya, siap menyambut cucunya. Ia meninggalkan alamat ke Fern, memintanya berkunjung. Lama setelahnya, ia memenuhi permintaan tersebut. Kunjungan yang hangat dan penuh keakraban, bahkan David meminta Fern tinggal permanen, ada kamar tamu yang kosong, dan saat Fern tahu ban van David kempes, ia tahu sobatnya memutuskan berhenti nomad.

Saat salah satu sobat dalam komunitas meninggal, mereka menyalakan api unggun di malam hari, menyampaikan pesan-pesan penghormatan terakhir. Bob (Bob Wells), salah satu sobatnya lalu berdiskusi tentang hidup. Ia kehilangan anak sebab bunuh diri di usia yang sangat muda, ia terluka dan tak bisa menghapus kenangan. Fern sendiri lalu mengakui masalahnya, ia kehilangan suaminya yang eksentrik, ia tak bisa menetap di rumah dengan memandang segala kenangan yang pernah dicipta. “Sesuatu yang dikenang, tetap hidup.”

Film sederhana yang diprediksi menang piala tertinggi. Saya tak setuju, cerita bagiku yang utama, secara cerita sangat biasa. Diadaptasi dari buku karya Jessica Bruder, Nomadland menawarkan banyak sekali kesunyian. Ladang-ladang gersang, hutan-hutan hijau, jalanan dengan lanskap langit malam penuh bintang, bukit-bukit terjal dengan sungai mengalir air jernih, bahkan McDormand mandi telanjang di sana.

Lanskap-langskap menawan itukah yang membuat juri Oscar terpikat? Dibanding film dengan bintang Frances McDormand yang menghentak Three Billbords, jelas jauh sekali kualitasnya.

Cara hidup Fern yang nomad ataukah menerima undangan tinggal dengan orang terkasih? Yang kedua sama benarnya dengan yang pertama, yang terpenting memang syukur dan upaya tidak menjadi beban mereka. Upaya Fern untuk terus menghidupkan kenangan akan suaminya, sekaligus juga anomali cara membunuh kenangan. Ia tak mau melihat setiap hari tempat-tempat yang ditinggali almarhum, sekaligus ia ingin mengabdi atas nama kesetiaan cinta. Rumit? Well, setiap orang itu unik. Kita tahu bahwa kita hidup dalam kontradiksi ini, Manusia tidak pernah berhenti tumbuh dalam pengetahuan mengenai nasibnya.

Nomadland menampilkan beberapa nomad asli: Linda May, Swankie dan Bob adalah di antaranya. Film ini memang didedikasikan untuk mereka yang harus beranjak pergi, sampai jumpa di ujung jalan. Saya tak mempermasalahkan keputusan nomad, saya yajin keputusan menjelajah jalanan dengan menekuri aspal adalah salah keputusan bijak seseorang, hidup seolah piknik tiap hari. Saya hanya agak kecewa dengan cerita, konfliknya tak ditampilkan terbuka, kurang nendang, berkali-kali muncul adegan yang hanya tempelan seolah lukisan, yang saking banyaknya justru mengambil alih cerita. Film semacam ini menang Golden Globe? Monggo, tapi tidak untuk Oscar.

Ada sebuah adegan Fern membacakan sebuah puisi untuk lelaki muda nomad yang berbagi rokok. Seolah penyair sedang mempertontonkan karya, penonton adalah hadirin, penyimak, termasuk hiburan setelah kita terbosankan sepanjang menit berjalan. Puisi-puisi yang di-visualisasi-kan mencipta keindahan yang membosankan. Begitulah pembalasan yang kita sebut diri menenangkan narasi dengan sebuah dusta

Maka matahari membuat mata mereka sayu seperti makhluk yang indah. Dalam hal ini tebing tampak eksotis dengan tempaan senja adalah yang terindah, karena alam dan perempuan lebih sedap dilihat di sana.

Cara hidup nomad terasa menggairahkan, setiap waktu adalah hal baru. Hal-hal paling liar di alam, dengan aturan hidup yang paling alami. Mereka sendirian dan juga tidak sendirian. Namun dua juga bisa berupa kerumunan. Mandiri dan tak mandiri, mereka saling membantu tapi dalam teritori sewajarnya. Apa yang menarik dari kekosongan, dari kejemuan, dari desir angin, dari langit yang tak peduli? Kesunyian, pasti. Dan mungkin juga umat manusia.

Setiap angin yang menempa wajah dalam petualangan ini seolah berbisik dan membawa janjinya, selalu sama.

Nomadland | Tahun 2020 | Directed by Chloe Zhao | Screenplay Chloe Zhao | Story Jessica Bruder | Cast Frances McDormand, Gay DeForest, Patricia Grier, Linda May, Angela R. Hughes, Douglas G. Soul, Ryan Aquino | Skor: 3.5/5

Karawang, 230421 – Ida Laila – Setelah Jumpa Pertama

Quo vadis, Aida?: Bagaimana Membedakan Kegilaan dengan Kebodohan, Kesetanan dengan Kemanusiaan?

Aida Selmanagic: “General Mladic is looking for a civilian representiative with him. Are there any volunteers?”

Perang adalah buah dari harapan yang keliru. “Aku merasa bahwa dewa-dewa yang kehilangan sesuatu begitu lama karena tidak ada yang bangkit menentang mereka.” kata Promethous di Kaukasus, Lucian. Prometheus adalah pahlawan yang cukup mencintai manusia untuk memberinya kebebasan, teknologi, seni. Dan juga api, ada nyala api yang menunggu di Bosnia yang genting.

Jika perang selalu menjadi anakronisme sosial, masalahnya tidak akan selesai dengan menjadikan militer dan perang sebagai kambing hitam. Manusianya yang bermasalah, ideologinya hitam. Anarki dengan obsesi membunuh. Militer pada dasarnya tetap dibawah naungan politik, dan para elit militer di kawasan perang ini terjebak dalam persaingan militer. Korbannya tetap rakyat biasa. Kita tahu itu kejahatan perang, dan kita tahu itu kenyataan.

Hendak kemana, Aida? Judul yang eksotis sehingga menarik tanya tonton. Apa maksudnya? Dan seusai Subuh kucoba nikmati jelang berangkat kerja (21/04/21) lalu kutuntaskan di sela kerja, barulah tahu kegalauan yang dimaksud. Ini bukan sekadar tanya buat para penonton, ini juga bukan tanya buat umat manusia yang menuduh semesta bertindak semena-mena, lebih dari itu. Ini tanya ke nurani manusia, betapa kejam kita terhadap sesama, betapa tak berperikemanusiaan terhadap kaun kita sendiri. Tragis, trenyuh, menyedihkan. Hendak ke mana Aida? Tuhan telah mati…

Kisahnya fokus pada Aida Selmanagic (Jasna Djuricic) yang menjadi penerjemah PBB di daerah konflik Perang Bosnia pada Juli 1995. Ia mendapat akses ke banyak area dengan kalung identitas dan mencoba memanfaatkannya untuk menyelamatkan manusia, terutama tentu saja suaminya Nihad (Izudin Bajrovic) dan kedua putranya Hamdija (Boris Ler) dan Sejo (Dino Bajrovic). Bosnia kalah perang, Serbia menjajah kota, mengirim tank dan pasukan guna memporakporandakan segalanya. Terlihat di adegan pembuka, sejumlah warga mencoba kabur. Para petinggi kota langsung dieksekusi. Semua kalang kabut.

Saat warga mengungsi ke UN Camp di kota kecil Srebrenica, dan gedung hanya bisa menampung sebagian. Mayoritas warga sipil tertahan di luar gedung yang panas dan tak tentu nasib. Film ini fokus di sini. Para tahanan, para warga, para manusia kalah yang menanti tindakan pemerintah. Aida tampak sangat sibuk. Sebagai penerjemah ia wara-wiri antara militer yang kalah dengan militer yang menang. Ia turut serta mengetahui rencana buruk yang akan dilakukan pemenang perang.

Sementara ia berhasil memasukkan dua anak dan suaminya ke kamp, ia diikutkan sama warga di gedung dengan akses sandang pangan terbatas, setidaknya sektor papan terlindungi dari panas yang menyengat. Namun sampai kapan?

Saat ada evaluasi lanjutan, pihak militer mendatangkan berderet bus dan truk dengan iringan tank di kedua sisi kekhawatiran semakin menjadi. Warga di luar gedung diangkut dengan sistem yang membuat buku kuduk berdiri. Dengan dalih apapun, mereka jelas dipindahkan bukan di tempat yang nyaman. Anak-anak dan perempuan dipisah dengan lelaki. Evakuasi ini memilukan, kita turut menyaksikan terpisahkan tak ada kompromi. Laki-laki ke truk kiri, yang lain ke bus kanan. Tak perlu spekulasi banyak cingcong, jelas mereka akan dieksekusi.

Maka saat orang-orang yang di luar gedung selesai, target berikutnya ya yang di dalam gedung. Semua warga sipil tak terkecuali harus diangkut. Aida jelas berupaya semaksimal mungkin melindungi keluarganya. Setelah warga di penampungan habis, mereka disembunyikan di kamar tim militer, Aida meminta keluarga dimasukkan ke data PBB. Kolonel tentu saja menolak, ia tak mau ambil resiko, Aida melawan.

Saat berupaya meminta kartu jaminan muter-muter tak dapat, printer rusak. Ia meminta keringan ke bos, tak digubris. Ia sendiri udah frustasi. Saat kembali, keluarganya sudah diangkut, ia langsung menyusul untuk menarik mereka, disembunyikan lagi ke area gudang yang gelap. Aida, hendak ke mana lagi? Mencoba lagi minta bos membuat lagi kartu, yang tetap saja ditolak. Kami ada di daftar! Kami ada di daftar! Suasana kacau balau, suasana mengerikan.

Saat lagi-lagi keluarganya ketahuan lalu digiring ke truk, ia melakukan tindakan usaha akhir. ia bersimpuh di kaki bosnya, ia meminta tolong dengan sangat agar mereka tak dibawa, oh kita tak bisa melakukan apa-apa Aida. Peluk dan kasih perpisahan yang memilukan terjadi, dan seperti dokumen yang ia tahu, keluarganya akan dieksekusi dengan laki-laki lainnya. Saat truk bergerak meninggal kepul asap dalam kepiluan Aida, yang tertinggal hanyalah angkasa, membentang menuju perjalanan yang tak bergerak.

Adegan mereka dimasukkan ke gedung dengan kedua tangan di atas kepala, menyerah sungguh menyedihkan. Lalu saat kamera mengambil gambar dari jarak dekat moncong senjata yang dimunculkan di celah lalu rentetan terdengar, setelahnya gambaran dua mobil di luar gedung dengan iringan brem berkepanjangan, luar biasa. Tuhan telah mati! Di manakah hati nurani manusia? Diletakkan di mana seharusnya identitas jiwa yang suci itu? Aida, hendak ke mana?

Dalam buku Post-Military Society: Militerism, Demilitarization and War at the End of the Twentieth Century karya Martin Shaw terdapat istilah militer yang rumit. “Tentara dibentuk untuk beberapa alasan yang murni militer – persaingan regional antar Negara, pemberontakan dalam negeri, dan perang sipil – tetapi sering kali sebagai alat politik. Militerisme merupakan watak dari organisasi sosial semua masyarakat kelas dan bahwa kapitalisme memproduksi bentuk militerismenya sendiri yang aktif. ‘Partisipasi’ dan ‘mobilisasi’ adalah konsep sisi dua yang penting bagi militerisme dan militerisasi.”

Secara keseluruhan jelas ini film yang amat sangat memilukan. Bagus secara cerita, bagus secara alur, bagus sekali naskahnya. Sampai ikut menangis menyaksi kehampaan hati Aida. Pembantaian terjadi di banyak tempat, laiknya peralihan kekuasaan yang memakan korban tak pandang kasta dan logika, dan rakyat terenggut kemerdekaannya. Formula Kemanusiaan berbunyi, “Bertindaklah dengan mendudukkan kemanusiaan, senantiasa sebagai tujuan, bukan hanya sebagai sarana.”

Sebagai film bahasa asing pertama yang selesai kusaksikan. Peluang Aida mungkin kecil, tapi jelas butuh kebesaran hati untuk menyaksikan hingga adegan anak-anak, sebagai tunas bangsa dan harapan masa depan. Mereka yang mencintai dan terpisah dapat hidup dalam penderitaan, namun ini bukan keputusasaan: mereka tahu bahwa cinta itu ada. Anak-anak generasi mendatang akan tahu kisah pilu ini suatu hari, mereka akan tahu sejarah hitam bangsa ini. dunia yang fana. Lalu satu hal lagi yang sangat menggelisahkan, mengapa mayoritas manusia mempertahankan ‘kegilaan’ itu dengan landasan keyakinan yang sangat ultrafanatis?

Lantas, bagaimana membedakan kegilaan dengan kebodohan, kesetanan dengan kemanusiaan? Aida tak bisa ke mana-mana.

Qua vadis, Aida? | Tahun 2020 | Bosnia and Herzegovina | Directed by Jasmila Zbanic | Screenplay Jasmila Zbanic | Cast Jasna Djuricic, Izudin Bajrovic, Boris Ler, Dino Bajrovic, Johan Heldenbergh, Raymond Thiry, Boris Isakovic | Skor: 4.5/5

Karawang, 220421 – Hanson – Where’s the Love?

Emma: Focus on ((( Anya )))

Mr. Knightley: “Prejudiced? I’m not prejudiced!”

Cinta tak akan ada tanpa kemurnian. Setelah menjadi murni ke dalam ketidaktahuan, kita sekarang tanpa sengaja menjadi bersalah: semakin banyak kita tahu, semakin besar misterinya. Ini memang cerita anak muda. Ini memang cerita asmara yang kalau dipikir manusia berusia di atas 30 tahun akan terlihat, “ya ampuuunn… lika-liku orang jatuh hati, macam tak waras,” Maka nikmatilah gemerlapnya. Emma adalah contoh film dengan kemasan yang sangat rupawan. Benar-benar keterlaluan kinclongnya. Ini adalah film adaptasi buku klasik terkenal karya Jane Austen yang menjual wajah Anya Taylor-Joy. Tampil dengan penuh percaya diri, ia menjadi pusat utama sepanjang. Memesona bukan hanya para karakter tapi penonton juga turut luluh hatinya. Menjadi seorang pusat perhatian, wajah Anya sering kali kena close-up kamera. Seakan pamer kecantikan. Memang saat ini era Anya, walau saya belum menonton tanding catur Queen Gambit, wajahnya sudah bersliweran di beranda sosmed. Ini tentang kehidupan bangsawan tahun 1800-an, era jadul dengan segala keterbatasan. Cinta dan konfliksnya berkutat di gedung sebelah, di gereja, di ruang dansa, di taman-taman keluarga, sedih dan bahagia hanya masalah pesta dan bagaimana, misalkan – mengatasi agar keluar rumah tidak kehujanan. Ini adalah film dengan penampilan yang ciamik, kemasan jauh lebih penting ketimbang isi. Pamer kecantikan dengan berbagai baju bagus seolah ini fashion show gaya sinema. Warna-warni indah di layar memanjakan mata, lupakan dilema permasalahan era itu yang penuh perang, kita fokus akan kehidupan hedon para borjius.

Kisahnya merentang empat musim, dengan ilustrasi di setiap pergantian masa. Ini tentang Emma Woodhouse (Anya Taylor-Joy) yang hidup sama ayahnya Mr. Woodhouse (Bill Nighty), mereka baru saja bersedih sebab Miss Taylor akan menikah dengan Tuan Weston. Walaupun menikah dengan duda kaya, menikah bahagia kenapa sedih? Dengan pernikahan ini maka Taylor tak akan sering ketemu lagi. Padahal jarak rumah barunya hanya sekitar satu mil. Haha..

Setelah pesta pernikahan sederhana, kita akan mengenal lebih dekat para karakter, Emma berteman dekat sama Harriet Smith. Mereka menjadi teman curhat banyak hal, terutama masalah cowok. Dari satu pesta ke pesta lain, saling lirik dengan potensi pasangan, hingga adegan merajut yang dilakukan dalam selingan memainkan piano sambil berdansa. Dunia gemerlap nan sederhana yang tampak sangat membahagiakan, sepanjang mata memandang adalah alam hijau, kambing-kambing yang bertebaran, kereta kuda yang terhuyun di jalanan tanah, gedung tua yang menawan nan klasik mengepulkan asap dapur dari cerobongnya. Hubungan persahabatan ini suatu hari diuji.

Harriet mendapat surat lamaran dari Robert Martin, petani kaya yang sederhana. Secara tersirat Emma mendorong untuk menolaknya, apa yang bisa diharapkan dari petani? Padahal Harriet suka. Kamu akan di sawah dan bergaul dengan kerbau penuh lumpur. Karena Harriet begitu terobsesi dan nurut dan begitu patuh sama sobatnya, lamaran itu ditolak. Isu itu menyebar dan menyebabkan goncangan aneh, bagaimana bisa seorang kaya ditolak cewek sederhana? Yah, Emma punya agendanya sendiri

Ia ingin menjodohkan Harriet dengan Tuan Elton yang melukis wajahnya. Ia seorang pendeta muda yang murah senyum dan begitu jumawa. Perjodohan itu seolah berjalan lancar sebab semua tersenyum dan memberi sinyal tertarik, oh tidak sesederhana itu sobat. Sang pendeta justru jatuh hati sama Emma! Yang saat ‘nembak’-nya dilakukan di kereta kuda, tentu saja ditolak. Emma punya target yang lain…

Tersebutlah Jane Fairfax, keponakan Miss Bates yang datang untuk numpang tinggal. Frank dan Jane tinggal di Weymounth selama Oktober, waktu yang sama dengan kepergian MR Weston. Kehadiran ini tampak seolah tak menggangu sosialita, oh tidak. Jane yang sederhana malah membuat jatuh hati mereka sebab memainkan piano bisa begitu menghanyutkan. Ia memainkan sonata Mozart tanpa nada F. Emma sendiri lebih ke irama English folk tune yang lembut. Permainan piano di sini bagus dan benar-benar memukau, musik klasik itu ternyata dimainkan asli oleh para karakter.

Nah, terjadilah persaingan. Inilah penyebab utamanya, Frank Churchill kembali. Pemuda tampan yang menjadi incaran Emma ini kembali seolah menyambutnya. Saat Jane mendapat hadiah piano tak ada yang menduga pasti siapa pengirimnya, sementara itu Mr Knightley yang hangat seolah merayu Harriet dengan menawarinya berdansa, lalu desas-desus lebih kencang menerpa siapa pacaran sama siapa, kejutan disajikan.

Frank dan Jane tunangan, wew. Yah! Hubungan mereka tak terdengar sama publik, tahu-tahu akan menikah. Tentu saja ini meluluhkan hati Jane. Setelahnya Tuan Knightley mengucap cinta, oh tidak kamu kan sama Harriet, bukan itu maksud saya mengajaknya dansa, lalu Harriet sama siapa nanti dong? Adegan ini mungkin tampak aneh, ditembak orang tampan sampai hidungnya mimisan! Apakah Tuan Martin masih membuka hati? Mari kita coba, dan sepening apapun, Emma yang cantik tentu akan menemukan jodohnya. Ini cerita cinta dengan happy ending untuk semuanya…

Saya belum tuntas membaca novelnya yang tebal sekali, hanya dapat sepertiga dan entah kapan kulanjutkan. Kisahnya berputar terus, masalah comblang, masalah kamu nikah sama siapa, kamu akan pakai gaun apa ke pesta. Butuh kesabaran ekstra buat jelata melahap kisah para orang kaya, walaupun di era jadul di Inggris Raya. Kaya, cerdas, tampan mendapat pasangan Anya. Ah semacam itulah. Emma menarik hanya di bagian teknis, maka wajar diganjar dua Oscar untuk bagian itu. Busana Anya berganti setiap berapa menit lalu ditampilkan closed up jelas bermaksud itu. Dan berhasil. Ini debut film Autumn de Wilde, secara cerita mungkin kurang tapi jelas secara tampilan sangat glamour.

Anya sendiri saat kasting bilang, ia merasa yang jelek untuk memerankan Emma, rasanya tak akan sanggup. Saat peran itu jatuh kepadanya, tetap ia merasa tak begitu cantik, ini akan tampak aneh. Oh sial, orang cantik merasa tidak cantik. Mau komen apa coba?! Mari kita mengaguminya, tetapi tidak memercayai apa yang dia ucapkan adalah kata hati.

Ini kisah orang kaya di era 1800-an, tak perlu komplain akan nuansa dan ploblematikanya. Ketika kalian menguap bosan atas bolak-balik hati Emma yang seolah membawa kejemuan sinema, tidak terdapat keharuan maupun melankoli dalam kesedihannya. Tetap saja, Anya segar dipandang. Kita memang diminta fokus padanya.

Apakah kita tertinggal di belakang, ataukah kita maju ke depan? Akankah kita memiliki kekuatan untuk membuat nikmat pandang padang hijau yang ditawarkan? Emma, sudah cukup bagimu.

Emma | Tahun 2020 | Directed by Autumn de Wilde | Screenplay Eleanor Catton | Story Jane Austen | Cast Anya Taylor-Joy, Angus Imrie, Letty Thomas, Gemma Whelan, Bill Nighty, Rupert Graves | Skor: 3.5/5

Karawang, 210421 – Ronan Keating – When You Say Nothing at All

The Trial of the Chicago 7: Bagaimana Perang di Pengadilan Dicipta

Tom Hayden: “Those are two contradictory instructions.”

Kita akan menemukan apa yang kita bayangkan sejak awal. Perang harus diakhiri, dan itu butuh darah pengorbanan di jalanan kota. Film yang luar biasa menghentak. Segala peluru amunisi ditembakkan secara membabibuta di gedung pengadilan. Rentetan bom diledakkan seolah tak berujung. Jebakan kata bisa meledak setiap saat. Adu cerdik, adu taktik di depan Yang Mulia menjadi pertempuran akbar tujuh aktivis kemanusiaan yang memperjuangkan Anti-Perang melawan Negara yang semena-mena. Semua ini masalah kemanusiaan, harga diri diredam, dan tameng-tameng itu bombardir rentetan tembak membabi buta. Mereka kalah jumlah, kalah senjata, kalah pasukan, kalah sebelum berperang. Namun tidak, tidak sepenuhnya sang raksasa berhasil mencincang sepasukan jagoan kecil ini. penonton dan warga dunia menyaksikan, dan mari kita beri aplaus paling meriah untuk laporan akhir mengguncang pengadilan yang terhormat.

Kisahnya berkutat di pengadilan Chicago, dari sidang ke sidang yang melelahkan. Sesekali muncul adegan demontrasi yang menyebab proses ini: dari, saat, dan setelahnya. Tujuh orang yang diadili adalah orang-orang yang didakwa mengkoordinasi massa, mereka memprotes perang Vietnam, konversi Partai Demokrat di Chicago tahun 1968. Masa puncak invasi ke Asia Tenggara itu diproses, dibahas para wakil rakyat, lalu masyarakat demo, prosesnya dikemas dengan sangat menawan. Dan terjadilah kerusuhan.

Biang rusuh digugat, mereka adalah: Abbie Hoffman (Sacha Baron Cohen), Jerry Rubin (Jeremy Strong), Bobby Seale (Yahya Abdul-Mateen II), John Froines (Danny Flaherty), Tom Hayden (Eddie Redmayne), Lee Weiner (Noah Robbins), dan David Dellinger (John Carroll Lynch). Jaksa penuntut yang ditunjuk adalah Richard Schultz (Joseph Gordon-Levitt) yang sedari awal sekali film tampak ragu, apanya yang dituntut? Namun sebagai jaksa terbaik ia mencoba menjalankan tugas.

Persidangan dipimpin hakim Julius Hoffman (Frank Langella). Pengacara David Dellinger dkk diampu William Kunstler (Mark Rylance) yang tampil ciamik. Kantornya meriah dengan poster-poster protes, tulisan ‘Konspirasi’ ditempel di dinding berjumlah empat deret. Dalam rembug bilang, ini adalah persidangan politik. Dalam ilmu hukum adanya sidang pidana dan perdata Lik, oh tidak. Ini adalah proses hukum politik buat para aktivis. Revolusi belum usai.

Dalam persidangan itulah terungkap banyak sekali hal-hal tak tampak selama demo. Polisi cantik yang menyamar Daphne O’Connor (Caitlin FitzGerald) masuk ke tubuh aktivis dengan cara yang membuat pukau para idealis. Kepada Jerry ia bilang, “Kamu tahu, kenapa orang Prancis sarapan hanya dengan sebutir telur? Karena di Prancis satu telur is ‘un oeuf’ (cukup).” Cara menyampaikan un oeuf yang meluluhkan hati, apakah ini diajarkan di akademi. Fck!

Boby Seale ditahan sebab banyak omong dan dianggap mengganggu serta menghina pengadilan. Pengacaranya sedang sakit, ia sering komunikasi sama rekannya yang nantinya justru ditembak mati di subuh hari. Sang pemimpin genk ini David Delliger juga akhirnya diringkus sebab marah saat menyampaikan pendapat, yang dianggap belum diberi kesempatan bicara. Ia bahkan memukul petugas yang mencoba menenangkannya. So sorry… so sorry…

Ditampilkan secara bersisian gonta-ganti dengan video klip asli saat demo. Konser musik dengan latar perjuangan. Orasi penuh motivasi ala ala stand up comedy yang dibawakan dengan gemilang oleh Abbie Hoffman, diiringi musik berdegub nan mewah: perang adalah situasi buruk kawan-kawan. Lalu dalam adegan yang berdarah, saat ada demonstran anak kecil naik ke tiang dan dipukuli polisi, saat seharusnya menahan diri, Tom Hayden dengan nada provokasi indah puitik, “Jika darah akan mengalir, biarkan mengalir ke seluruh kota.” Kalimat yang dijadikan bukti memberatkannya, yang membuatnya tak bisa jadi saksi kunci sebab terekam jelas.

Mereka yang bersenjata menekan, mereka yang melawan babak belur, mereka mulai mengendur, ditempelengi angin, dipojokkan bar penuh politikus, lalu menyerah… Asal usul seseorang menentukan partisipasi politiknya, tidak semua orang kaya itu termasuk golongan reaksioner. Terkadang para borjuis yang menjalankan revolusi, ah langka, sementara orang miskin mendukung fasisme. Black Panther, Sayap Kiri, Perkumpulan Demokrasi Pelajar, Partai Muda Internasional, sebut saja…

Dengan segala yang memberatkan, dengan hakim yang jelas berat sebelah, dengan kondisi timpang dan compang camping dalam pembelaan rasanya ancaman hukuman 10 tahun maksimal penjara akan diketuk dengan mantab. Bahkan saat Kunstler dan tim memanggil mantan jaksa agung di era Presiden sebelumnya Lyndon B. Johnson, awalnya tampak meragu Ramsey Clark (Michael Keaton) mau menjadi saksi, tapi ia dengan meyakinkan siap hadir. Saat dihadirkan ia tampil memesona, “Presiden bukan klien.” Dan saat pertanyaan dalam pembicaraan telepon, apakah presiden akan menuntut, oh tidak. Polisilah yang memulai kerusuhan! Sayang 12 juri tak dihadirkan, sayang sekali Ramsey Clark dipaksa turun dari kursi saksi, dan sayang sekali tepuk tangan membahana hadirin tak mencapai titik keputusan yang diharap. Rasanya benar-benar habis. Bagaimana menyelamatkan prinsip saat semua keadaan menyudutkan? Tom Hayden memiliki jawabannya. Menghentak! Waktu berlalu selagi kita bersidang, korban berjatuhan di Timur Jauh sana, selagi kita memertanyakan keadilan.

Saat nasib akhir para terdakwa dibuat dalam tulisan epilog, kita tahu mengapa pengadilan memakai simbol wanita dengan mata tertutup membawa timbangan. Saya benar-benar turut tepuk tangan adegan ending itu. Dan makin kesemsem saat tahu film dibuat dan ditulis oleh Aaron Sorkin, manusia istimewa yang menulis naskah dengan CV keren nan panjang. Secara kualitas, sejauh ini jelas The Trial adalah film Oscar terbaik tahun ini. Sangat amat layak menang kategori tertinggi. Untuk editing laik menang, sinematografi nanti dulu.

Ruang sidang bagi mereka seolah adalah panggung untuk menyampaikan gagasan. Akting Sacha Baron dan Eddie Redmayne paling memukau. Ada begitu banyak yang ingin disampaikan sehingga seolah tak tahu apa yang harus dikatakan. Dalam pengertian mereka, revolusioner berarti radikal; berhasrat melakukan perubahan dengan cepat. Perang harus diakhiri. Saat sang hakim memberi kesempatan untuk menyampaikan sesuatu sebelum vonis. Seolah Tom dan dirinya mengukur hati masing-masing. Singkat? Ya… banjir kata-kata gan! Semua hadirin berdiri memberikan tepuk tangan paling meriah, termasuk jaksa penuntut, termasuk semua penonton. Sebuah kemenangan sesungguhnya yang secara tersurat tersampaikan bahwa misi utama menarik pasukan Amerika, berhasil.

Di luar gedung terjadi demontrasi yang menuntut para aktivis dibebaskan, dunia menyaksikan. Para terdakwa kini menjadi ‘pahlawan’, kisah-kisah heroik setiap individu jadi sungguh aduhai. Kadang kebenaran sulit diterima. Dan revolusi ini mencipta banyak harapan, kalian bisa jadi apa saja. Tak perlu takut diangkut pemerintah pada usia 18-24 tahun untuk wajib militer, tak perlu panik saudara atau kerabat mati di medan perang. Sebuah revolusi terhadap dogma-dogma pemikiran tradisional. Seperti kata pakar militer Carl von Clausewitz, “Mau dibilang apa, perang adalah kelanjutan dari politik.”

The Trial of the Chicago 7 | Tahun 2020 | Directed by Aaron Sorkin | Screenplay Aaron Sorkin | Cast Eddie Redmayne, Alex Sharp, Sacha Baron Cohen, Jeremy Strong, John Carroll Lynch, Yahya Abdul-Mateen II, Mark Rylance, Joseph Gordon-Lewitt, Ben Shenkman, J.C. MacKenzie, Frank Langella, Michael Keaton | Skor: 5/5

Karawang, 210421 – Robin Williams – Feel

Ma Rainey’s Black Bottom: Perfect Blues

Levee: “I can smile and say yessir to whoever I please. I got my time coming to me.”

Proses rekaman lagu Ma Rainey’s Black Bottom yang menggairahkan. Apa yang terjadi: akan, sedang, dan setelah rekaman sepanjang satu setengah jam benar-benar luar biasa. Meledak bak delapan granat yang dilempar secara serentak. Berdentum bermenit-menit bahkan setelah film usia. Sinisme, harga diri, perjuangan persamaan hak, hingga apa arti kebersamaan. Tema yang asyik dengan durasi yang pas. Setting utama hanya di studio rekaman, hanya berkutat di situ. Apa yang ditampilkan sudah cukup mewakili suara para pihak yang terlibat. Ini adalah penghormatan terakhir Chadwick Boseman, Sang Black Panther yang meninggal dunia tahun lalu.

Kisahnya tentang rekaman lagu tanggal 2 Juli 1927 di studio Paramount, Chicago milik warga kulit putih. Para anggota band Georgia Jazz Band tiba terlebih dulu terdiri atas: Toledo (Glynn Turman), Cutler (Colman Domingo), Slow Drag (Michael Potts), dan Levee Green (Chadwick Boseman). Mereka berlatih sembari menunggu sang diva. Levee memiliki sepatu baru kuning mengkilap, ia adalah anggota baru, menjadi tokoh yang menonjol dengan impian memiliki band sendiri, yang paling muda yang paling memberontak. Ia berkisah di masa lalu bagaimana ibunya diperkosa warga kulit putih, ingatan itu terpatri kuat dan mencoba membalas trauma itu dengan menunjukkan jati diri. Ia menawarkan original komposer Sturdyvant. Interpersonal sepenuhnya adalah tentang kelekatan emosional. Dan cara terbaik untuk membangun kelekatan tersebut, adalah dengan membuat orang berhenti berpikir kritis. Ya Sir katamu? Saya punya kisah tak terlupa, trenyuh.

Cutler adalah pemimpin band, ia bersikeras memakai musik asli Ma, tapi ditentang oleh Levee yang mengingin versinya. Saat ditanyakan manajer band Irvin (Jeremy Shamos), ya pakai Sturdyvant saja. Dengan gesture tak peduli, sang pemimpin band merasa kecewa, Levee jumawa.

Saat Ma Rainey (Viola Davis) tiba kecelakaan kecil terjadi di depan studio, mobil barunya tergores dan sang manajer diminta membereskannya. Ia bersama keponakan Sylvester (Dusan Brown) yang gagap, memaksanya masuk band sebagai intro, bersama pula penari Dussie Mae (Taylour Paige) yang menggoda. Ketiga disambut bak raja. Yah, Ma memiliki suara emas, mereka hanya menginginkan suaranya. Fakta bahwa warga kulit hitam hanya dimanfaatkan adalah kebenaran yang menggelisahkan, sebuah kesadaran bisu bahwa di hadapan keluasan tanpa batas, segala yang kita kasihi sekejap menjadi hampa. Kalian kesal sama Ma? Ya awalnya , terlihat egois. Lalu Fanta-fanta diskriminasi diapungkan, dan kita justru membernarkan. Amerika tahun 1920-an begitu semena-menanya karena warna kulit beda.

Saat latihan lagi, betapa sulitnya Sylvester masuk ke lagu bahkan sekadar memulai. Kalimat legendaris yang berkali-kali diulang Cutler: “Ma Rainey’s Black Bottom. A one. A two. A you-know-what-to-do” berulang kali diambil. Dan saat Cutler tanya ke Ma pakai irama apa? Ya jelas pakai miliknya. Hahahaha… Levee yang egois menunjukkan kecewa. Saat di studio tak kalah heboh, panas minta kipas. Haus minta cola. Dan rehat lagi, terjadi cinta sesaat antara Levee dan Mae. Si omong besar akan band sendiri dan si gadis yang mata duitan. Klop. Anda memiliki iman bahwa cinta adalah hal yang penting, pekerjaan juga hal yang penting, pakaian juga penting, mewujudkan ambisi penting, dan semua hal ini adalah sesuatu yang penting. Setiap individu memiliki tujuannya masing-masing.

Saat akhirnya rekaman dimulai, keping kaset dibuang berkali-kali sebab seperti saat latihan Sylvester gagap. Saat adegan masuk, lagu menggema hebat. Yah, mic milik si keponakan ternyata tak tersambung sempurna, Ma tak peduli, rekaman harus diulang. Jelas ini membuat gusar manajer dan pemilik studio. Semakin kita menghargai sesuatu semakin kita keberatan untuk mempertanyakan atau mengubah nilai tersebut, dan maka semakin menderitalah kita jika nilai itu mengecewakan kita.

Saat rekaman usai dengan sangat manis, dan Ma ‘dipaksa’ menandatangani rilis lagu, terjadi drama. Levee dipecat, ia lalu mencoba merayu sang bos buat mendengar demo lagunya, dan kegusaran itu membunuh. Harapan pada akhirnya menghancurkan diri sendiri sekaligus mengekalkan-dirinya-sendiri. Betapa dunia bergerak dengan tak waras, betapa kehidupan melaju dengan kejam. Sadis tak terperi, sepatu terinjak hanyalah alibi, kemarahan itu meletup tak terkendali. Pada akhirnya, hanya emosilah yang menggerakkan kita untuk bertindak. Ini karena tindakan adalah emosi. Adegan di paling ujung lebih gilax lagi, bagaimana warga kulit putih band Paul Whiteman’s Orchestra memainkan Sturdyvant milik Levee yang malang! *
Natur spiritual kita adalah lompatan kualitatif melampaui natur-natur fisik dan psikis, keduanya berakar pada tubuh fisik dan eksistensi material kita. Siapa yang tak bergetar hatinya mendengar Ma menyenandungkan dengan dahsyat lagu itu. Pantas warga kulit putih membayar mahal, adegan pembuka saat orang-orang yang berlari kendang di hutan seolah dikejar anjing itu kukira tak lebai. Mereka rela gegas demi antri tiket live Jazz dipersembahkan.

Ma Rainey’s Black Bottom adalah film Oscar pertama tahun ini yang kunilai sempurna. Benar-benar hidup. Music jazz menghantui, proses pembuatan di tahun 1920-an yang jadul, klasik, dan sederhana. Saya suka hal-hal sederhana. Dramanya dapat, musiknya dapat, akting kedua bintang utama luar biasa. Viola Davis bisa saja kalah, tapi Boseman yang almarhum menjadi kandidat sangat kuat melawan Pak tua Hopkins. Film dengan dua aktor di di dua kategori bergengsi yang tak masuk Best Picture? Serius? Hah…

Lagu yang dimainkan musisi berbeda jelas memberi hasil yang berbeda pula. Szwed, John F., dalam “Memahami dan Menikmati Jazz” biang, “Jika karya yang sama dimainkan lagi malam harinya, karya itu juga diharapkan terdengar baru. Tuntutan tingkat kreativitas sangat tinggi, bahkan terdengar tidak realistis; musisi tidak saja dituntut untuk terdengar berbeda dari musisi lain tapi juga berbeda dari dirinya sendiri.” Makanya endingnya terasa bgst, siapa yang memulai siapa yang menikmati. Terasa wajar dan pantas apa yang dilakukan Ma, ia memiliki suara emas dan karya maka ia menuntut, ia memperjuangkan haknya, melindungi sesuatu yang ternilai sebab bisa saja hal buruk gegas terjadi di masa Amerika yang diskriminasi.

Pengalaman menghasilkan emosi. Emosi menghasilkan nilai. Nilai menghasilkan cerita-cerita tentang makna. Dan orang yang berbagi cerita makna yang sama, berkumpul bersama untuk menghasilkan raungan jazz berkelas. Sebagai penghormatan atas almarhum Chadwick Boseman, saya turut menebak dia-lah yang akan disebut namanya Senin pagi nanti.

Ma Rainey’s Black Bottom | Tahun 2020 | Directed by George C. Wolfe | Screenplay Ruben Santiago-Hudson | Story August Wilson | Cast Viola Davis, Chadwick Boseman, Colman Domingi, Glynn Turman, Michael Potts, Jeremy Shamos, Jonny Coyne, Taylour Paige, Dusan Brown | Skor: 5/5

Karawang, 210421 – Charlie Parker – Jam Sessions (1952)

Borat Subsequent Moviefilm: Oscar untuk Cerita Semacam Ini? Bah!

Borat: “Only men and bears are allowed inside car.”

Banyak orang terlambat mati dan beberapa mati terlalu dini. Tapi dokrin itu masih terdengar asing, “Matilah pada saatnya yang tepat.” Ketika Borat dibebaskan, lalu menjalani misi ke Amerika kalau gagal akan dihukum mati, saya langsung bilang ‘omong kosong’. Omong kosong untuk eksekusinya, kalau misinya? Oh ini konspirasi ngasal, jangan diambil hati. Sekuel ini tak akan membunuh Borat. Dan terbukti.

Film yang annoying. Saya menyaksikan sekuel Borat dengan pesimistis, dan terbukti rasa jengah itu menjadi kenyataan. Apa yang bisa dilakukan oleh komedi dokumenter politik? Remuk. Perjalanan Borat ke Amerika untuk menyerahkan hadiahnya kepada wakil presiden terasa konyol sedari mula. Perintah dari pemerintah, kalau sampai misi gagal ia akan dieksekusi mati. Dengan penampilan kumal, ia dibersihkan, dimandikan, disuntik entah apa, diberi pakaian layak.

Maka perjalanan panjang dari Kazakhtan ke Amerika dimulai. Anehnya Borat Sagdiyev (Sacha Baron Cohen) naik kapal, mampir China, mampir Australia, mampir Eropa. Saat sampai di Amerika, saat boks dibongkar, monyetnya mati dimakan oleh putrinya Tutar Sagdiyev (Maria Bakalova) yang turut serta dalam pelayaran. Sempat akan dikirim balik, tapi justru memutuskan sang putri dijadikan hadiah.

Untuk mempersembahkannya, Tutar didandani. Wajahnya dipermak, dadanya dioperasi dengan harga 21.751 dollar karena dananya kurang Borat mencari duit jadi tukang cukur, sementara Tutar dititipkan ke warga sekitar, saat duitnya komplit, justru Tutar justru menemukan seminar tentang persamaan gender. Tentang feminism di era modern. Wanita juga bisa nyupir, bisa bekerja, bisa menjadi dirinya sendiri. Bisa punya pilihan. Jadi selama ini buku hijau dari sukunya palsu? Ya.

Termasuk saat beli kue yang memakan langsung, dan figure bayi ditelan. Sungguh annoy saat konsultasi, bagaimana cara mengeluarkan bayi dari tubuhnya. Oh hidup adalah hidup, tak peduli sekecil apa di dalam perut. Mencipta mis-komunikasi dengan sengaja seperti ini membuatku muak. Borat dan anaknya menipu publik, ini dokumenter aneh dan mengganggu. Termasuk bagaimana kemaluan menelan pemiliknya sebab menyentuhnya. Ga jelas, geje, memalukan.

Saat Tutar melakukan perlawanan, ia menjadi seperti wanita Amerika kebanyakan. Menjadi reporter konser lalu mencoba menjadikan hadiah buat Michael Pence. Borat bertemu dengan dua ilmuwan, turut tinggal dan mengapa jalanan sepi? Oh virus menghantam, semua orang karantina mandiri. Dalam kediaman menulis lagi yang mengecam partai republik, dan Obama. Yang saat konser dinyanyikan live. Makin absurd.

Eksekusi endingnya makin gajebo saat Tutar melakukan wawancara, Borat yang mendapat ilham bahwa persembahan semacam itu tak baik dari Jeanice Jones hanya karena ia mau mengambil bola tahanan beserta rantainya. Lalu ia pun melakukan sabotase wawancara. Konyol, ga lucu, blas ga menarik. Dokumenter macam apa ini. Payah! Ga relate sama kehidupan modern Barat, dan juga Timur.

Kejutan yang dicipta akhir juga tak terlalu mengejutkan. Makan kelelawar? Virus yang dibawa ke sana oleh karakter ini? Dan adegan Tom Hanks yang muncul sekian detik di Aussie yang kena Covid-19. Ahhh… sungguh mengada-ada.

Dua nominasi Oscar kuprediksi gagal semua. Cerita adaptasi jelas kalah, asal saja ini kisah walaupun dibuat oleh keroyokan scenario tetap saja. Buruk dan ngantuk dan cenderung kacau. Untuk supporting actress, lumayan aja. Debut Maria Bakalova di Amerika tak akan menang piala. Ia memang menawan, cantik dan menggemaskan. Namun tidak, saya tak menyarankan juri Oscar memilihnya. Mungkin dia-lah daya tarik utama cerita ini. Tutar menggunakan Bahasa Bulgaria, menjadikan akses canpur aduk sama Bahasa Negara Eropa lainnya. Tutar artinya ‘Putri’ dari Bahasa Estonia.

Judul aslinya “Borat: Gift of Pornographic Monkey to Vice Premiere Mikhael Pence to Make Benefit Recently Diminished Nation of Kazakhtan.” Ah hanya bikin sensasi saja, saya lebih senang sebut Borat 2. Judul panjang 110 karakter ini menuliskan rekor mengalahkan film yang pernah masuh nominasi Oscar sebelumnya dipegang oleh “Those Magnificent Men in Their Flying Machines or How I Flew from London to Paris in 25 hours 1 minutes.” (1965) dengan 85 karakter.

Dalam pepatah Jawa yang terkenal: ‘perempuan adalah swarga nunut nraka katut.’ Artinya, perempuan adalah surga turut, neraka ikut. Borat 2 mencipta desakan protes, bahwa wanita setara dengan pria. Feminism yang diperjuangkan. Tutar mengalami perubahan signifikan dari remaja perempuan yang dibelenggu, dianggap hanya sebagai hadiah, dan akhirnya menjadi dewasa dalam sekejap. Hebat, penuturan kata dari wanita-wanita independen langsung merubahnya. Kritik sosial yang tebal tapi terjadi berkali-kali penyimpangan arti, yang bisa muncul karena tiga hal: ambiguitas, kontradiksi, dan nonsence. Perjalanan ini sendiri sudah ambigu. Hadiah berubah, misi seolah tempelan. Kontradiksi terjadi di banyak adegan. Mulai dari tak percaya virus, tapi memukuli tiang dan tembok guna membunuhnya, sampai niatan mengambil bola belenggu yang tak dibawa ketika menerima kata-kata sang baby sitter. Bah! Semudah itu. Sedang nonsence, kata borat sendiri omong kosong. Adegan ia berdandan perempuan yang mencoba menggantikan putrinya, omong kosong. Adegan jadi tukang cukur dengan gunting pemotong rumput, tapi hanya buat gaya. Sejatinya hampir semua yang dilontarkan Borat akting berlebih. Dokumenter yang tak lucu.

Kasih adalah api, ia membakar segala sesuatu. Pertama-tama api membakar tahap kesabaran. Kutonton saat puasa, dan untuk menuntaskannya butuh kesabaran ekstra. Piala Oscar untuk cerita semacam Ini? Bah! 3x.

Borat 2 | Tahun 2020 | Directed by Jason Woliner | Screenplay Sacha Baron Cohen, Anthony Hines, Dan Swimer, Peter Bayham, Erica Rivinoja, Dan Mazer, Jena Friedman, Lee Kern | Cast Sacha Baron Cohen, Maria Bakalova, Tom Hanks, Dani Popescu, Manuel Vieru | Skor: 2.5/5

Karawang, 200421 – Linkin Park – Breaking the Habit

Meeting ESS HO-CIF-CHR

Onward: Fantasi Nanggung

Barley: “Put it in O, for Onward!”

Kisahnya tentang sebuah era di mana sihir sudah memudar. Zaman dahulu kala mereka hidup dalam dunia fantasi. Dengan tongkat sihir dan keajaibannya, dengan naga yang menjadi hewan peliharaan, hingga mitos-mitos lainnya, di era sekarang New Mushroomton hampir semuanya sirna. Teknologi dan ilmu pengetahuan menggeser keajaiban alami. Listrik misalnya bisa mencipta api dan kehangatan dalam sekejap ketimbang menautkan dua batu untuk sekadar membuat percikan api. Adalah dua elf: Ian Lightwood (Tom Holland) siswa sekolah atas yang tampak penggugup dan kakaknya yang seolah kebalikannya, Barley (Chris Pratt) yang pede dan aneh dan pecinta sejarah. Seorang gamer yang fanatik. Dalam adegan rekam, ia menceam walikota menyingkirkan air mancur kota yang memiliki sejarah panjang dengan mendirikan gedung di atasnya. Mereka adalah anak yatim, ayahnya Wilden meninggal saat Ian belum lahir. Dan ibunya Laurel (Julia Loius-Dreyfus) kini memiliki pacar polisi seorang centaurus, manusia dengan pinggang ke bawah berbentuk kuda. Colt Bronco (Mel Rodriguez ) yang tegas dan keras, kurang disukai oleh mereka berdua.

Remaja, oh tindak tanduknya memang selalu aneh. Ulang tahun yang ke enam belas yang rencananya mengundang teman-teman sekolah berakhir berantakan. Ian yang introvert, kakaknya yang annoy naik mobil jadul penuh kerusuhan, van yang diberi nama Guinevere., diambil dari nama istri Raja Arthur Nantinya dalam petualang mobil ini melakukan pengorbanan yang mengharu. Ibunya lalu membuka langit-langit berisi warisan buat Ian. Barang-barang sihir dari ayahnya: barang ajaib, permata, dan sepucuk surat. Termasuk kemungkinan bertemu ayahnya dalam sebuah mantra panggilan. Sayangnya permata dan mantra itu gagal sepenuhnya menjalankan tugas sebab hanya separuh bawah bapaknya yang muncul.

Dengan peta yang ada mereka lalu menjalankan misi ke Manticore’s Tavern lalu menuju ke gunung terdekat Raven’s Point guna menemukan gems dibantu oleh Corey (Octavia Spencer). Harapan untuk bisa ngobrol sama ayahnya mencipta perjalanan penuh bahaya, menjelajah gua misterius, menelusur tempat-tempat eksotis lama. Dan dalam adegan maut yang mendebarkan mereka terbebas dengan dramatis di sebuah gorong-gorong. Lalu muncullah di kota, hah mereka balik lagi di tempat tinggal. Jadi selama ini gems ada di air mancur kota? Ya, dan perbuatan itu memicu kutukan lama: sekolah menjelma naga golem raksasa itu menyerang mereka. Berhasilkan Ian menuntaskan misi, apakah ayahnya bisa terwujud sepenuhnya? Kisah pribadi memiliki gema kolektif.

Ini film anak-anak yang fun. Tak perlu berkerut kening, kisahnya sederhana sahaja. Fantasi tak rumit: naga, golem, penyihir, kuda poni, dst semua hanya tempelan. Kisah ini adalah kisah persaudaraan Ian dan Barley yang renggang lalu menjadi kuat berkat petualangan aneh. Onward, tak seperti Pixar lainnya temanya biasa. Pengisi suara yang biasanya antah, kini malah berisi artis-artis ternama, seperti bukan Pixar. Lagian tahun lalu sudah ada Soul, kenapa rilis film lain di tahun yang sama? Tradisi satu film setahun memang sudah beberapa kali memudar, dan dengan sendirinya kualitas Pixar juga segaris lurus, entah kenapa magi-nya jadi sangat standar.

Jelas tidak akan menang Oscar, temanya drama keluarga, fantasi hanya tempelan. Tak seperti soul yang lebih dalam dan luar biasa filosofis, Onward lebih mengedepankan arti saudara. Arti keluarga. Bagaimana saat mengenang selama petualangan ini kakaknya mengisi segala yang ia butuhkan, bagaimana kebersamaan menjadi arti penting dalam persaudaraan. Dan fantasi nanggung ini mengakhiri kisah bak motivator menyampaikan nasehat-nasehatnya. Tak seperti Pixar kebanyakan, dan mereka terasa menyadarinya merilis digital di bulan Maret. Pertama kalinya film Pixar rilis di bulan ketiga.

Sejatinya fantasi bersinggung kehidupan nyata selalu menarik, kalau dibuat dengan benar. Onward nanggung di semua lini, drama dan eksekusinya yang tergesa. Bahkan Onward mencoba melakukan kritik sosial terkait penggusuran tempat bersejarah, fantasi geografis berangsur-angsur menghasilkan simpati, tapi tidak. Film ini tak berhasil mencapainya. Kepala Dan dkk terisi adonan fantasi dan realism, gagal dalam eksekusi. Musuh muncul dan kalah secara dramatis, film banget. Menawarkan harapan, memberi suatu hal yang perlu diperjuangkan.

Plato, Aristoteles dan para Stoik berkata bahwa bukanlah kebahagiaan, tapi tentang karakter, menumbuhkan kemampuan untuk menanggung penderitaan dan berkorban secara tepat. Ian menyadari kehadiran saudaranya penting, memberi peran yang selama ini dicarinya. Lantas melalui pengalaman itu apakah penonton tercerahkan? Tidak. Kita sudah tahu, menerima kenyataan akan lebih bijak. Saudara adalah sahabat terbaik, menggantikan peran seseorang tak akan pernah bisa tapi kenyataan memberi fakta itu, berjalannya waktu akan bisa. Ian seolah diberi harapan palsu, semu, dan jelas-jelas maya. Hanya di dunia fiksi dan film-film, kalau sampai Ian berhasil justru pesannya malah terlepas, Dan tahu itu makanya dibuatkan kesadaran buatan, jadi selama ini yang ia cari ternyata ada di depan matanya. Klise ya? Ya. Biasa ya? Ya. Bukan Pixar banget. Pribadi mempesona ternyata tidak terletak pada fisiknya, melainkan karena dia mempunyai pendirian yang teguh dan kepribadian yang mantab.

Boleh saja Anda sebut dongeng fantasi yang mengandung pesan moral, cocok buat jamaah yang mengangguk-angguk sepakat atas apa yang disampaikan motivator. Sihir ala Neil Gaiman jauh lebih berkelas.

Onward | Tahun 2020 | Directed by Dan Scanlon | Screenplay Dan Scanlon, Jason Headley, Keith Bunin | Cast Tom Holland, Chris Patt, Julia Loius-Dreyfus, Octavia Spencer, Mel Rodriguez, Kyle Bornheimer, Lena Waithe | Skor: 3/5

Karawang, 200421 – The Cranberries – Promises