Riwayat Kota dalam Lanskap Media Lokal

The Last Juror by John Grisham

Kau terlalu banyak berkhotbah, dan tidak ada yang mendengarkan.” – Harry Rex

John Grisham lagi, saya punya belasan novelnya tersusun di rak. Hanya menunggu giliran dibaca saja yang belum terbaca. Sejauh ini memuaskan semuanya. Ini jelas salah satu yang terbaik, mengesankan dan benar-benar melelahkan. Lima ratus halaman dihantam banyak masalah, ditulis dengan sabar dan runut, seperti biasa masalah hukum tetap kental diangkat, setting di Ford County tetap menjadi primadona, hingga cara penyampaiannya yang sungguh sangat enak. Terlalu lancar dalam bernarasi sampai-sampai seolah memang bertutur langsung. Grisham adalah contoh penulis yang menulis apa yang menjadi pengalaman hidup, menulis apa yang benar-benar ia tahu, tulisan dengan pola semacam ini benar-benar dapat feel-nya.

Mengagumkan bagaimana prospek uang bisa mengubah masa depan kita. Kali ini tema utama mengambil sisi kepala redaktur Koran lokal yang menangkap momen banyak kejadian, tepatnya semala satu dekade 1970-an hingga akhirnya kembali dijual. Mengambil sudut pandang Willie Traynor seorang mahasiswa drop-out berusia 23 tahun, ia sudah menjadi pemilik Koran Mingguan The Ford County Times. Akusisi itu terjadi karena memang Spot, pemilik dan kepala redaksi sebelumnya lelah dan melepasnya. Masa depan Koran memang tampak suram. Maka harganya tergolong sangat murah, hanya lima puluh ribu dollar. Willie tak punya uang, ia ‘pinjam’ sama neneknya. Walaupun tak diganti, sang nenek kaya raya cuy. Maka ia-pun memulai petualangan di kota Clanton yang muram tapi damai, jauh dari hiruk pikuk kota besar yang berisik. Kawasan yang kaya akan tanah pertanian, tapi kondisinya parah.

Kota kecil ini hanya memiliki satu Koran, Spot lebih banyak menulis tentang obituari, orang-orang menyeganinya, tapi karena sudah tua ia kurang antusias mengeksplore masalah-masalah sosial politik. Maka Willie menanganinya. Darah muda yang mudah mendidih.

Kasus terbesar kota ini muncul saat salah satu keluarga kulit hitam Danny Padgitt membunuh seorang janda beranak dua Rhoda Kasselaw, pemerkosaan dan pembunuhan malam itu kedua anaknya menyaksi, sang korban dengan berlumuran darah meminta pertolongan kepada tetangganya, sebelum mati mengucap nama Danny sebagai pelaku. Keluarga kulit hitam yang tinggal di pulau ini, memang terkenal jahat. Mafia turun temurun. Uangnya bertruk-truk, tukang suap sama pemerintah. Laba terbaik adalah laba yang berasal dari sumber-sumber yang tidak dikenai pajak. Suap itu termasuk ke Sherif Coley ramah yang memanggil semua orang dengan Sir atau Ma’am, selalu sambil tersenyum.

Pembunuhan yang melibatkan keluarga Padgitt, berita yang sangat sensasional dan merupakan kesempatan emas. Oplah langsung melejit, beritanya dibuat sesensasional mungkin. Kantor penuh rak buku berisi perpustakaan pribadi Spot, koleksi eksentrik yang tampaknya diacuhkan. Kantornya pernah ditaruh bom karena berita menyudutkan sang penjahat selama proses sidang, tergeletak dalam keadaan utuh, di samping Koran lama di ruang cetak.

Menurut Baggy, pengacara yang bagus tidak akan pernah mengajukan pertanyaan kecuali tahu jawabannya, terutama dengan saksi yang berbahaya. Kesaksian terdakwa yang sungguh kreatif. Pemeriksaan silang terhadap penjahat yang bersalah merupakan impian jaksa penuntut, sementara jaksa menyerangnya terus, dia menyanggahnya sampai pendengar lelah.

Maka proses persidangan seperti akan lebih mudah. Nah, inilah kasus utama buku ini. drama persidangan berlarut, memilih anggota juri, dan vonis yang melegakan, lalu malah jadi kurang melegakan setelah 12 juri tak mencapai suara bulat untuk menggantung sang penjahat. Pengacara keluarga Padgitt adalah Lucien Wilbanks, orang yang dibenci banyak warga. Pertengkaran keluarga yang singkat dan hebat, terutama kalau uang yang menjadi taruhannya.

Selama proses sidang itu, Willie berkenalan dengan baik dan intim sama saudara korban Ginger, dibuat dengan renyah dan nyaman bahkan saat mengantarnya ke Karaway. Hal-hal tabu dibuat lucu dan mengesankan.

Saat terdakwa turun dari kursi saksi, segalanya menegangkan sebab keputusan itu jelas blunder. Danny melototi para anggota juri seakan ia hendak melempar granat ke arah mereka saat itu juga, sambil berkoar, “Kalau kalian menghukumku, akan kubalas kalian satu per satu. Satu per satu.” Adegan ini dikenal dengan sebutan, ‘Ledakan Dinamit’. Vonis yang cepat biasanya berakhir bersalah. Dan ini merupakan kelegaan besar, apapun lainnya akan merupakan bencana.
Dengan dipenjara seumur hidupnya Danny, kota berjalan kembali. Pemilu, olahraga rugby, rekreasi keluarga, hingga hal-hal rutin kembali berlangsung. Koran ini menjadi besar, oplahnya dari hanya seribuan meningkat, bahkan tembus tujuh ribu eksemplar. Angka yang luar biasa.

Kota lalu menggeliat. Banyak hal ditulis, tentang Perang Vietnam yang ribut dan warga terbelah, para orang tua yang pro mendapat kecam generasi muda dengan kalimat langsung, “Ini darah kami, bukan darah kalian.” Tentang gereja yang totalnya di Ford County ada 80, dan Willie dengan gemilang mendatanginya satu per satu tiap Minggu untuk mengikuti kebaktian, menulis artikel sebagai ulasan keagamaan. Banyak di antara mereka yang rajin sembahyang di hari Minggu pagi menjadi kurang beriman di Minggu malam.

Tentang Perusahaan besar yang datang, ekspansi merupakan langkah yang bijak bagi para pemegang saham Bargain City, tapi secara ekonomis menghancurkan sebagian besar kota kecil. Dan kerusakan yang sebenarnya di sisi budaya. Persis di sini, bagaimana Alfamart/Indomart menghantam toko-toko kecil di sekitar kita.

Nah berjalannya waktu, terdengar kabar Danny berkeliaran di kota, tema itu diangkat dalam Koran, menyulut kemarahan warga. Baru tujuh tahun berselang, ada jajak pendapat kemungkinan bebas bersyarat. Willie muncul dengan heroik mengagagalkannya. Bagi narapidana yang memiliki koneksi dan uang tunai, sistem pembebasan bersyarat merupakan labirin yang luar biasa dari hukum-hukum yang bertentangan dan memungkinkan Dewan Pembebasan Bersyarat untuk menyetujuinya. Pembebasan bersyarat yang diajukan, hanya masalah waktu itu terjadi. Tapi harus ada yang menentangnya.

Tahun 1977, muncul Koran tandingan bernama Clanton Chronicle. Sesutau yang wajar dan biasa, pesaing dibutuhkan. Tahun ke delapan, muncul sidang serupa, kali ini sudah diantisipasi para mafia hukum sehingga pengacau sidang disingkirkan, Willie dilarang ikut dan segala yang memberatkan tak ada. Willie kalah jumlah dan tak bersenjata. Maka vonis bebas benar-benar terwujud, masalah utama justru muncul di sini.

Anggota juri benar-benar ada yang dibunuh setelah Danny bebas, satu pembunuhan mungkin bisa dibilang peristiwa acak, dua berarti ada pola. Yang ketiga akan mengirim sepasukan polisi dan orang-orang hendak main hakim sendiri ke pulau Padgitt. Prioritas adalah melindungi delapan juri yang masih hidup. Tiga telah tewas, Mr. Fred Bilroy (karena radang paru-paru), Lenny Ferguson, dan Mo Teale. Satu anggota juri telah pindah ke Florida. Saat korban pembunuhan berikutnya gagal, ada paket bom ke rumah salah satu juri, yang kena justru polisi yang berjaga. Danny dipanggil pengadilan untuk disidang ulang. Sidang itu begitu singkat daripada yang diantisipasi siapa pun. Bagian ini jujur saja membuatku berteriak wooow berulang kali. Kegemparan itu mencipta tensi lebih tinggi lagi, sampai adegan klimaks di ruang sidang. Kalian mungkin sudah menduga pelakunya, tapi tetap saja benar-benar nikmat sekali saat membaca kalimat-kalimat akhir buku ini.

Selama akhir dekade ada yang menawar untuk akusisi Koran ini, kata ‘Satu Juta’ tengah mencipta gemuruh dalam tubuh Willie. Dan keputusan menjual lagi koran sungguh melengkapi ending sempurna The Last Juror, apalagi paragraf penutupnya dengan menulis obituari final yang mengharukan. Top tenan.

Buku ini mengambil judul dalam sosok istimewa Calia H. Ruffin, yang menjadi anggota juri terakhir yang dipilih, kulit hitam pertama yang bertugas dalam sidang di Ford County. Pembela menginginkannya karena ia kulit hitam, Negara menginginkannya karena mereka begitu mengenalnya. Miss Callie, memiliki banyak anak yang lulus kuliah dengan cemerlang, kecuali sang bungsu Sam yang kena apes. Sam yang merindukan ibunya, dan masakan ibunya sebab ia buron, kasihan sekali kau Nak. Willie diundang makan siang setiap Kamis yang bahan dasarnya dipetik langsung dari kebun. Hebat, ideal sekali. Maka tiap Kamis yang manis mengakrabkan hubungan. Miss Callie mempertahankan kepercayaan lama bahwa bersantap di restoran itu pemborosan, dan karenanya merupakan dosa.

Lalu ada dua karakter unik dalam Harry Rex, pintar sekali berkisah seolah pendongeng dan Baggy, penggosip gedung pengadilan setempat yang mengarang isu begitu tidak mendengar gosip baru dalam waktu satu jam. Desas-desus, di manapun adalah bahan bakar kisah yang sempurna untuk digali, The Last Juror menggali rumor dengan cemerlang.

Anggota Juri Terakhir | by John Grisham | Copyright 2004 | Alih bahasa B. Sendra Tanuwidjaja | GM 402.07.003 | Desain sampul Marcel A.W. | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Cetakan pertama, Januari 2004 | 536 hlm, 18 cm | ISBN-10: 979-22-2598-6 | ISBN-13: 978-979-22-2598-3 | Skor: 5/5

Karawang, 300321 – Linkin Park – Faint

Thx to Leo P, Jakarta

Buku dibaca dari 21 Feb Senin pagi saat shift dua s/d 11 Mar 2021, Kamis malam jam 23:01

Satu komentar di “Riwayat Kota dalam Lanskap Media Lokal

  1. Ping balik: The Summons: Keserakahan adalah Binatang yang Sangat Aneh | Lazione Budy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s