Sastra Aksi Berlapis

Anwar Tohari Mencari Mati by Mahfud Ikhwan

Dan tentu saja ini baru awal dari cerita yang lebih panjang.”

Berkelas. Bagus sekali. Rentetan katanya menyemburkan degub khawatir dan caci maki kepuasan. Dalam puncak ketegangan, saya benar-benar menikmati adu jurus di atas jembatan itu. Setidaknya tiga kali pada bab pertarungan kusela tepuk tangan dan kepal tangan. Bravo! Cerita-cerita pun mengalir dahsyat, dan saya hampir mengeluarkan HP buat kubaca rekam. Mungkin akan kulakukan nanti pas baca ulang. Bergaul dengan Warto Kemplung membuatku berlajar seni bercerita. Senyumnya bagai sambaran kilat, dan berhasil memainkan tempo.

Berbulan-bulan setelah baca Dawuk: Kisah Kelabu dari Rumbuk Randu, banjir spekulasi. Akhir menggantung, sang jagoan dikepung api dan tak terjelaskan apakah akhirnya tewas tersebab kerelaan hidup yang hampa ataukah berhasil mentas dari kobaran. Tak dinyana, tanya itu dijawab dengan kisah lain yang sama membaranya.

Sejujurnya terlalu banyak daya tarik Dawuk yang bisa dikembangkan, meneruskan kisah bagus itu riskan. Takut merusak, hal itu langsung kurasakan di bab mula kisah Anwar Tohari Mencari Mati. Warto Kemplung yang jago bercerita di warung kopi Bu Siti, kembali membual di lain pagi, dan benar saja, ini sekuel tentang balas dendam! Itu bisa jadi motif yang kita cari, balas dendam tentu saja, mereka ini orang-orang jahat. Pembuka itu ditutup dengan tanya lebih besar, sebab ini bukan balas dendam yang kukira, bukan balas dendam biasa, ini justru riwayat hidup karakter idola kita semua: Warto Kemplung, terlihat Cak Mahfud menjejalkan suku kata ‘War’ dari Warto untuk mencipta nama Anwar lalu mengekorkan nama besar sastrawan kita: Tohari. Si tukang kibul peminta rokok dan kopi ternyata seorang pendekar sakti.

Separuh pertama kisah berlapis memusing bak karya David Lynch, lapisan bawang yang dikupas memberi kehidupan kisah lainnya, awalnya teratur helainya lalu ambyar di tengah, seru dan meliar tak terkendali di akhir. Mustofa Abdul Wahab, Mas Wartawan, menerima kiriman surat dari Imam Widjaja, yang merasa cerbung Dawuk di koran yang ia kelola ada kejanggalan. Sang pengirim mendaku sahabat lama Warto Kemplung, dan protes seharusnya kisah mengambil sudut pandang darinya. Kenapa? Ia lalu mengisahkan masa lalu persahabatan mereka…

Anwar Tohari yang remuk redam patah hati kabur dari Rumbuk Randu sebab pujaan hati Rukaniyati dijodohkan gurunya sama orang lain, ia ke dunia luar mencari tantangan entah apa. Jelas judul buku diambil dari sini, ia tampak cuek akan kehidupan, rela mati tapi tak berani bunuh diri. Digambarkan ia sakti mandraguna, seperti saat di tumpangan truk, ia bisa berkelebat ke muatan untuk menghajar bajing loncat, atau saat mengikuti dua motor yang melaju. Usain Bolt saja pasti terengah-engah kejar kendaraan. Dengan sarung pemberian, seolah senjata penting ia lalu melanjutkan petualangan.

Saya tak mengerti kenapa saya tak diterima di sini, tapi saya tak bisa menerimanya. Mungkin itulah kalimat terbesit terendam. Di sebuah tongkrongan malam, saat empat lulusan mahasiswa (ralat, tiga mahasiswa sebab satunya lagi berlayar) bernostalgia dan berdiskusi terkait pembantaian antek PKI, Anwar langsung menyautbukan begitu’, orang asing menempatkan diri dalam debat, malah mencipta persahabatan. Iman seorang Chinese memiliki kios koran milik orangtuanya, istilahnya tukang kliping. Dan di sinilah persahabatan itu benar-benar terjalin, termasuk saat muncul tokoh penting Maria Ratna Dacosta yang cerdas, jatuh hati pada Anwar tapi ditolak. Sempat terjadi gap hubungan sebab Imam marah, ini cewek sempurna ditolak gembel nyeleneh. Namun tetap saja, mereka kembali berteman, malam itulah mereka memutuskan nonton ludruk di kota jauh, dengan vespa menembus malam.

Kukira inilah puncaknya, di atas jembatan terjadi adegan pertarungan dua pendekar. Sang Penulis menyebutnya dalam bab, “Betapa sulitnya menceritakan ulang pertarungan itu.” Dua macan dalam sangkar, akan terjadi kerusakan yang tak bisa diperbaiki. Di sana, di tengah malam pekat itu merupakan lubang gelap yang luas, dan kita takut berada terlalu dekat dengan adu ilmu. Anwar Tohari yang penampilannya bak gelandangan itu bertarung hebat melawan pendendam yang punya jimat. Membayangkan saja, rasanya pengen tertawa setiap Imam gemetar di pojok jembatan menjadi saksi, sungguh aduhai. Akhirnya tertebak, sebab kita tahu dua karakter utama ini selamat. Namun, apa yang kukira puncak ternyata bukan, buku ini kembali mendaki, tengengah-engah berhiking sampai akhir yang sulit ditebak, rasanya tak mau berhenti, ada lagi hempasan menakjubkan. Reaksi mereka mengagumkan, setiap pembaca tampak terkejut. Seperti kata Mustofa, “Orang-orang dari masa lalu ini memang benar-benar berkomplot untuk membingungkanku.”

Kita kembali ke masa kini, mendapati Imam sekarat dan meminta Anwar dan Mustofa ke sana sebelum terlambat. Lalu apa yang kita dapat adalah rona-rona filosofis seolah tak bertepi. Jingan, keren banget. Inilah sastra action (aksi) masa kini, apa yang ditampilkan di permukaan bukanlah aslinya. Sastra berlapis aksi.

Saya langsung googling lagu-lagu Ida Laila dan betapa saya menikmati lagunya. Hebat, saya ternyata sudah begitu familiar sama tracklist-nya. Inilah lagu-lagu yang sering kudengar di tempat gawe waktu kecil, menjadi teman ngopi Bapak selepas Magrib di Radio JIP FM (Solo) bersama lagu lain bergenre dangdut, campursari, hingga klenengan. Maka ketika kunikmati berulangkali, sungguh aduhai langsung klik dan suka. Saya tumbuh remaja bersama kaset pita, apa yang dirasakan anak-anak 1980-an dan 1990-an digambarkan mantab dalam kotak kaset. Menjadi terlalu emosional dan kenangan itu layak disimpan.

Saya membayangkan menjadi Mustofa, mendapati surat-surat, terombang-ambing dalam kebimbangan. Keberhasilan buku fiksi ditentukan di sini, pembaca turut merasakan emosi dan seolah memiliki pilihan, andai saya di posisi itu jelas tidak bisa menolaknya mentah-mentah, apalagi kata-katanya masuk akal. Cerita itu lugas, faktual, terinci, ditulis dengan baik, dan terasa tak berlebihan sedikit pun. Dan saat membacanya saya turut serta mencoba belajar dari usaha membuat sensasional situasi. Jadi saat akhirnya ia memutuskan berangkat, terasa wajar. Lalu kita dihadapkan adegan di mobil amarah, kita malah menghadapi masalah yang jauh lebih penting untuk diributkan. Dan pengaruhnya benar-benar menghancurkan, kilat pikir penuh penyesalan, dan ribuan andai mencuat liar, atau dalam satu kalimat, “memainkan dramanya dengan sempurna.”

Bacaan sastra dengan ketangkasan adu fisik mendebarkan semacam ini diyakini berhasil menjaring banyak pembaca, memuaskan pembaca. Bayangkan, ini novel dan kita dijejali pengandaian bak komik adu jotos. Kata-kata di komik – zdig, blam, pakkk, woof, bzuk, paw, dan semacamnya. Lagi-lagi adegan di atas jembatan, sungguh syahdu. Dua pendekar bertarung di sela pertanyaan-pertanyaan antah yang terarah dan sinis. Saat pancing amarah kena, jelas sangat gusar, pertanda bagus! Musuhnya terus menyerangnya, hingga kita lelah. Sampai akhirnya sang jagoan terpaksa mengambil sikap. Anwar membiarkan jawaban-jawaban meresap, lalu melanjutkan momentum. Seakan setiap rincian ucap akan diselidiki dengan teliti dan setiap kebohongan akan diungkap.

Sungguh cerdas dengan mengambil sudut sisi luar, menyaksi. Mereka ada di sana, saya ada di sana, kita semua di sana: berdansa. Satu hal memicu hal lainnya. Setelah bab itu usai rasanya saya benar-benar menginginkan tetap tinggal. Saya tak ingin ke kantor polisi menenteng mayat, saya tak ingin subuh menjulang, saya tak ingin berakhir. Saya tak ingin kehilangan selera silat yang tadinya kuhayati, kumiliki. Saya ingin lebih.

Menempatkan warung kopi menjadi eksekusi akhir tampak lumrah dan pas, bahkan untuk tempat yang sudah terbengkalai. Saya tahu bahwa gosip di warung kopi ada gunanya. Orang-orang ribut di sana. Kemplung seolah menjadi kata umpatan. Maka di warung senyap itulah, kesedihan tampak nyata, emosinya meletup-letup, sulit dibayangkan dan dihayati hingga selesai. Bagaimana cara Cak Mahfud menjelaskan detail itu kepada kita? Menurut al kitab, ‘mata diganti mata’, maka seharusnya nyawa dibalas nyawa. Saya rasa itu tidak harus selalu berlaku.

Akhir Anwar Tohari Mencari Mati sendiri juga menggantung, sebab ada nama Suharto yang sepertinya siap menjadi bahan bakar bualan berikutnya, lalu karena kita tahu Warto sakti, ia seolah bisa mencium ketidakberesan sahabatnya walau berada jauh ruang. Sungguh menarik, sungguh liar, sungguh jantan.

Anwar Tohari Mencari Mati | Tahun 2021 | by Mahfud Ikhwan | Penerbit Marjin Kiri | Cetakan pertama, Februari 2021 | I – vi + 207 hlm, 14 x 20.3 cm | ISBN 978-602-0788-12-8 | Sampul diolah dari foto D. Anikin | Skor: 5/5

Mengenang sahabat dan saudaraku, Anas AG (1978-2018)

Karawang, 080321 – Ida Iaila – Bunga Dahlia

Lazione P. Budy

Kopi di kanan, buku di kiri, musik Jazz bergentayangan di sekitar. Laziale anggota tercatat nomor empat belas dari Karawang. Hobi makan bakso dengan kuah melimpah. Bisa disapa di twitter @lazione_budy

3 komentar di “Sastra Aksi Berlapis

  1. Ping balik: Kusala Sastra Khatulistiwa 2021: Bentang-kan Hingga Langit | Lazione Budy

  2. Ping balik: 14 Best Books 2021 – Fiksi/Lokal | Lazione Budy

  3. Ping balik: 130 Buku Rentang Setahun | Lazione Budy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s