Riwayat Kota dalam Lanskap Media Lokal

The Last Juror by John Grisham

Kau terlalu banyak berkhotbah, dan tidak ada yang mendengarkan.” – Harry Rex

John Grisham lagi, saya punya belasan novelnya tersusun di rak. Hanya menunggu giliran dibaca saja yang belum terbaca. Sejauh ini memuaskan semuanya. Ini jelas salah satu yang terbaik, mengesankan dan benar-benar melelahkan. Lima ratus halaman dihantam banyak masalah, ditulis dengan sabar dan runut, seperti biasa masalah hukum tetap kental diangkat, setting di Ford County tetap menjadi primadona, hingga cara penyampaiannya yang sungguh sangat enak. Terlalu lancar dalam bernarasi sampai-sampai seolah memang bertutur langsung. Grisham adalah contoh penulis yang menulis apa yang menjadi pengalaman hidup, menulis apa yang benar-benar ia tahu, tulisan dengan pola semacam ini benar-benar dapat feel-nya.

Mengagumkan bagaimana prospek uang bisa mengubah masa depan kita. Kali ini tema utama mengambil sisi kepala redaktur Koran lokal yang menangkap momen banyak kejadian, tepatnya semala satu dekade 1970-an hingga akhirnya kembali dijual. Mengambil sudut pandang Willie Traynor seorang mahasiswa drop-out berusia 23 tahun, ia sudah menjadi pemilik Koran Mingguan The Ford County Times. Akusisi itu terjadi karena memang Spot, pemilik dan kepala redaksi sebelumnya lelah dan melepasnya. Masa depan Koran memang tampak suram. Maka harganya tergolong sangat murah, hanya lima puluh ribu dollar. Willie tak punya uang, ia ‘pinjam’ sama neneknya. Walaupun tak diganti, sang nenek kaya raya cuy. Maka ia-pun memulai petualangan di kota Clanton yang muram tapi damai, jauh dari hiruk pikuk kota besar yang berisik. Kawasan yang kaya akan tanah pertanian, tapi kondisinya parah.

Kota kecil ini hanya memiliki satu Koran, Spot lebih banyak menulis tentang obituari, orang-orang menyeganinya, tapi karena sudah tua ia kurang antusias mengeksplore masalah-masalah sosial politik. Maka Willie menanganinya. Darah muda yang mudah mendidih.

Kasus terbesar kota ini muncul saat salah satu keluarga kulit hitam Danny Padgitt membunuh seorang janda beranak dua Rhoda Kasselaw, pemerkosaan dan pembunuhan malam itu kedua anaknya menyaksi, sang korban dengan berlumuran darah meminta pertolongan kepada tetangganya, sebelum mati mengucap nama Danny sebagai pelaku. Keluarga kulit hitam yang tinggal di pulau ini, memang terkenal jahat. Mafia turun temurun. Uangnya bertruk-truk, tukang suap sama pemerintah. Laba terbaik adalah laba yang berasal dari sumber-sumber yang tidak dikenai pajak. Suap itu termasuk ke Sherif Coley ramah yang memanggil semua orang dengan Sir atau Ma’am, selalu sambil tersenyum.

Pembunuhan yang melibatkan keluarga Padgitt, berita yang sangat sensasional dan merupakan kesempatan emas. Oplah langsung melejit, beritanya dibuat sesensasional mungkin. Kantor penuh rak buku berisi perpustakaan pribadi Spot, koleksi eksentrik yang tampaknya diacuhkan. Kantornya pernah ditaruh bom karena berita menyudutkan sang penjahat selama proses sidang, tergeletak dalam keadaan utuh, di samping Koran lama di ruang cetak.

Menurut Baggy, pengacara yang bagus tidak akan pernah mengajukan pertanyaan kecuali tahu jawabannya, terutama dengan saksi yang berbahaya. Kesaksian terdakwa yang sungguh kreatif. Pemeriksaan silang terhadap penjahat yang bersalah merupakan impian jaksa penuntut, sementara jaksa menyerangnya terus, dia menyanggahnya sampai pendengar lelah.

Maka proses persidangan seperti akan lebih mudah. Nah, inilah kasus utama buku ini. drama persidangan berlarut, memilih anggota juri, dan vonis yang melegakan, lalu malah jadi kurang melegakan setelah 12 juri tak mencapai suara bulat untuk menggantung sang penjahat. Pengacara keluarga Padgitt adalah Lucien Wilbanks, orang yang dibenci banyak warga. Pertengkaran keluarga yang singkat dan hebat, terutama kalau uang yang menjadi taruhannya.

Selama proses sidang itu, Willie berkenalan dengan baik dan intim sama saudara korban Ginger, dibuat dengan renyah dan nyaman bahkan saat mengantarnya ke Karaway. Hal-hal tabu dibuat lucu dan mengesankan.

Saat terdakwa turun dari kursi saksi, segalanya menegangkan sebab keputusan itu jelas blunder. Danny melototi para anggota juri seakan ia hendak melempar granat ke arah mereka saat itu juga, sambil berkoar, “Kalau kalian menghukumku, akan kubalas kalian satu per satu. Satu per satu.” Adegan ini dikenal dengan sebutan, ‘Ledakan Dinamit’. Vonis yang cepat biasanya berakhir bersalah. Dan ini merupakan kelegaan besar, apapun lainnya akan merupakan bencana.
Dengan dipenjara seumur hidupnya Danny, kota berjalan kembali. Pemilu, olahraga rugby, rekreasi keluarga, hingga hal-hal rutin kembali berlangsung. Koran ini menjadi besar, oplahnya dari hanya seribuan meningkat, bahkan tembus tujuh ribu eksemplar. Angka yang luar biasa.

Kota lalu menggeliat. Banyak hal ditulis, tentang Perang Vietnam yang ribut dan warga terbelah, para orang tua yang pro mendapat kecam generasi muda dengan kalimat langsung, “Ini darah kami, bukan darah kalian.” Tentang gereja yang totalnya di Ford County ada 80, dan Willie dengan gemilang mendatanginya satu per satu tiap Minggu untuk mengikuti kebaktian, menulis artikel sebagai ulasan keagamaan. Banyak di antara mereka yang rajin sembahyang di hari Minggu pagi menjadi kurang beriman di Minggu malam.

Tentang Perusahaan besar yang datang, ekspansi merupakan langkah yang bijak bagi para pemegang saham Bargain City, tapi secara ekonomis menghancurkan sebagian besar kota kecil. Dan kerusakan yang sebenarnya di sisi budaya. Persis di sini, bagaimana Alfamart/Indomart menghantam toko-toko kecil di sekitar kita.

Nah berjalannya waktu, terdengar kabar Danny berkeliaran di kota, tema itu diangkat dalam Koran, menyulut kemarahan warga. Baru tujuh tahun berselang, ada jajak pendapat kemungkinan bebas bersyarat. Willie muncul dengan heroik mengagagalkannya. Bagi narapidana yang memiliki koneksi dan uang tunai, sistem pembebasan bersyarat merupakan labirin yang luar biasa dari hukum-hukum yang bertentangan dan memungkinkan Dewan Pembebasan Bersyarat untuk menyetujuinya. Pembebasan bersyarat yang diajukan, hanya masalah waktu itu terjadi. Tapi harus ada yang menentangnya.

Tahun 1977, muncul Koran tandingan bernama Clanton Chronicle. Sesutau yang wajar dan biasa, pesaing dibutuhkan. Tahun ke delapan, muncul sidang serupa, kali ini sudah diantisipasi para mafia hukum sehingga pengacau sidang disingkirkan, Willie dilarang ikut dan segala yang memberatkan tak ada. Willie kalah jumlah dan tak bersenjata. Maka vonis bebas benar-benar terwujud, masalah utama justru muncul di sini.

Anggota juri benar-benar ada yang dibunuh setelah Danny bebas, satu pembunuhan mungkin bisa dibilang peristiwa acak, dua berarti ada pola. Yang ketiga akan mengirim sepasukan polisi dan orang-orang hendak main hakim sendiri ke pulau Padgitt. Prioritas adalah melindungi delapan juri yang masih hidup. Tiga telah tewas, Mr. Fred Bilroy (karena radang paru-paru), Lenny Ferguson, dan Mo Teale. Satu anggota juri telah pindah ke Florida. Saat korban pembunuhan berikutnya gagal, ada paket bom ke rumah salah satu juri, yang kena justru polisi yang berjaga. Danny dipanggil pengadilan untuk disidang ulang. Sidang itu begitu singkat daripada yang diantisipasi siapa pun. Bagian ini jujur saja membuatku berteriak wooow berulang kali. Kegemparan itu mencipta tensi lebih tinggi lagi, sampai adegan klimaks di ruang sidang. Kalian mungkin sudah menduga pelakunya, tapi tetap saja benar-benar nikmat sekali saat membaca kalimat-kalimat akhir buku ini.

Selama akhir dekade ada yang menawar untuk akusisi Koran ini, kata ‘Satu Juta’ tengah mencipta gemuruh dalam tubuh Willie. Dan keputusan menjual lagi koran sungguh melengkapi ending sempurna The Last Juror, apalagi paragraf penutupnya dengan menulis obituari final yang mengharukan. Top tenan.

Buku ini mengambil judul dalam sosok istimewa Calia H. Ruffin, yang menjadi anggota juri terakhir yang dipilih, kulit hitam pertama yang bertugas dalam sidang di Ford County. Pembela menginginkannya karena ia kulit hitam, Negara menginginkannya karena mereka begitu mengenalnya. Miss Callie, memiliki banyak anak yang lulus kuliah dengan cemerlang, kecuali sang bungsu Sam yang kena apes. Sam yang merindukan ibunya, dan masakan ibunya sebab ia buron, kasihan sekali kau Nak. Willie diundang makan siang setiap Kamis yang bahan dasarnya dipetik langsung dari kebun. Hebat, ideal sekali. Maka tiap Kamis yang manis mengakrabkan hubungan. Miss Callie mempertahankan kepercayaan lama bahwa bersantap di restoran itu pemborosan, dan karenanya merupakan dosa.

Lalu ada dua karakter unik dalam Harry Rex, pintar sekali berkisah seolah pendongeng dan Baggy, penggosip gedung pengadilan setempat yang mengarang isu begitu tidak mendengar gosip baru dalam waktu satu jam. Desas-desus, di manapun adalah bahan bakar kisah yang sempurna untuk digali, The Last Juror menggali rumor dengan cemerlang.

Anggota Juri Terakhir | by John Grisham | Copyright 2004 | Alih bahasa B. Sendra Tanuwidjaja | GM 402.07.003 | Desain sampul Marcel A.W. | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Cetakan pertama, Januari 2004 | 536 hlm, 18 cm | ISBN-10: 979-22-2598-6 | ISBN-13: 978-979-22-2598-3 | Skor: 5/5

Karawang, 300321 – Linkin Park – Faint

Thx to Leo P, Jakarta

Buku dibaca dari 21 Feb Senin pagi saat shift dua s/d 11 Mar 2021, Kamis malam jam 23:01

Tidak Malam Ini, Mungkin di Malam Lain

Kuda Kayu Bersayap by Yanusa Nugroho

Karena kekal hanya bisa terwujud bila menjauh dari kehidupan. Ia harus berada di kutub yang berseberangan…

Kota ini terlalu banyak melahirkan pertanyaan yang nyaris menutupi jawaban. Keren. Keren adalah respon mula, saat menyelesaikan beberapa cerpen pembuka. Setidaknya sampai di nomor lima, saya memuji fresh. Mulai di Randu, lalu tensinya menurun, mungkin polanya sudah terbaca.

Ini adalah buku beli yang acak, artinya saya tak mengenal sang Penulis, yang ternyata sudah melalangbuana di banyak media, penulis senior yang katanya, sesuai pembuka pengantar penerbit: Ngerokok. Ngopi. Ngarang. Perjudian menikmati karya ‘asing’ seperti ini memang jarang membuahkan hasil Ok, jelas ini adalah daftar sedikit itu. Cocok seperti yang dibilang sama Bung Yanusa, “Menulis, sebagaimana halnya makan dan minum, adalah kebutuhan. Kebutuhan untuk mengungkap sesuatu…”

#1. Anjing
Pembukanya keren sekali. Sekumpulan anjing yang dipelihara sebagai penjaga rumah sekaligus sebagai teman Aku. Ada warga yang komplain, hingga ending yang menggetarkan hati. Rino, anjing yang memimpin kawanan ini memang tampak istimewa, diberi permen, sayur atau dengan kata sederhana disayang, maka sayang pula yang didapat sang majikan. Sedih pas lihat jelmaan fajar itu.

Selamat pagi, Rino…”

#2. Bom
Mungkin salah satu yang terlemah, saya sudah menduga apa yang dilakukan sang tokoh atas niatan ‘buruk’ meledakkan. Jelas sekali ini hanya sebuah permainan yang disajikan dengan mencoba menyembunyikan inti kisah. Aku butuh bom, dan ledakan itu menggelegar serta meluluhlantakkan lawan dan player one. Game over.

Adalah lebih baik menghadapi seorang lawan yang jago daripada sejuta musuh yang kerbau. Ini prinsip, catat itu!”

#3. Kambing
Jelas ini yang terbaik, sederhana dan sungguh membumi. Seorang miskin yang mencoba merubah nasib, sekolah juga tak lulus SD, pemikiran baru jalan saat ditegur atau diperintah atau diminta, apa yang disajikan sungguh kocak dan terasa nyata. Dia menata pikirannya sendiri yang entah mengapa berkembang hanya lantaran ucapan istrinya. Kipli dan tanah lima hektar yang menjanjikan uang, diolah, ditanami singkong, dipetik hasilnya, lalu kambing diinvestasikan Pak Bob, majikannya. Dipanasi, direncana, dilakukan, lalu booom

Bukan begitu, saua nanya… kenapa kacang, kenapa bukan singkong? Bukannya minta ditanemin singkong?”

#4. Nam-ma, Namamu…
Kukira kumpulan cerpen ini akan menjadi banyak kisah slebor dan tak banyak menyajikan diksi sulit, oh ternyata tidak. Cerpen keempat ini malah memberi kita kata-kata puitik dengan menjelaskan maksud sebenarnya, secara nyaman kenapa ia stress meneriakkan nama pujaan hati hanya untuk menerima balik gemanya.

Aku benci sekali mengapa mimpi yang seharusnya mengelana dalam setiap pejaman mata ini menjadi kenyataan yang kurasakan.”

#5. Penyair dan Ular
Ini juga punya metafora, sebuah seminar atau sesi sosialisasi penyair kepada pendengar bahwa ia meminjam kata-kata bersayap, “Di bawah ancaman seekor ular, aku bahkan tak bisa bernapas…” Hadirin yang mengira itu adalah kalimat singgung situasi sosial politik yang sedang hangat. Ah penyair sendu berkaca mata ini.

#6. Randu
Bagaimana masa lalu mencipta masa depan, bagaimana sebuah sajian tawa ambigu menjadi pemicu tindakan nyata ke depannya. Pohon randu yang penuh duri, isinya hanya kapas, lantas apa alasan utama orang memanjatnya? Pendekar yang sadis bertemu kakek tua membawa air nira, dan akhir yang tak diduga sang jagoan.

Tanganmu tergerak oleh hatimu. Seperti kuda, kalau kau latih dia, maka patuhlah dia kepadamu…”

#7. Baterai
Ini lucu, dan saya sendiri pernah mengalami. Saya mungkin termasuk orang yang malesi bantu batu baterai jam dinding. Lihat, di rumah penuh jam dinding, rerata baterai koit. Baru saja semalam istri melempar baterai ABC ke pangkuanku, ganti jamnya sana. Iya, tapi ternyata mager dan hanya kupindahkan baterainya di rak, kutunda lalu lupa lagi. hahaha…

Jam berapa sekarang?”

#8. Wayang
Wayang kulit ajaib yang turun temurun ini dipamerkan, lalu menjelma sakral dan menunjukkan kuasanya. Dukuh Karang Ombo dengan cerita gaibnya. Sesuatu yang aneh sekaligus indah. Asing yang juga indah. Mahal itu indah.

Apa pun penghalangnya, wahai para makhluk bernapas, yang satu ini akan terjadi…”

#9. Di Taman Kota Singapura
Ini bisa jadi yang tergolong biasa, di Singapura bertemu orang asing yang dirasa familiar, lalu tindakan utama yakni membeli buku di Page One malah terlewat sebab mencipta keakraban baru. Engkong yang menggunakan bahasanya, dan aku yang menggunakan bahasaku.

Aku arep tuku buku dhisik, yo, Mbah…”

#10. Saya, Anjing…
Ini thriller, walau tensinya kurang tinggi. Jadi pengakuan aku adalah anjing menjadi boomerang. Tetangganya yang dianggap gila setelah ditinggal mati istrinya mengaku anjing, maka Aku suatu malam mengetahui ada maling berusaha beraksi di rumahnya, digagalkan anjing. Padahal tak memelihara anjing, feelingnya mengarah tetangganya yang gila itu. Dan benar saja, tapi saat ia mengucap terima kasih, malah mendapat tugas membunuh yang sulit sekali dilakukan, dan juga sulit ditolak.

Ingat kau tidak membunuh ‘manusia’…

#11. Kuda Kayu Bersayap
Kisah utama, dari komidi putar dengan bentuk kuda menjelma sebuah pengakuan berat. Membunuh demi apa? Pengakuan ke anak sungguh sulit, sampai di DO dari koorporasi dan akhirnya memandang hakikat hidup dengan sendu. Trisno, tentara yang akan menikah tapi mendadak mendapat tugas, dan terjadilah…

Ya, mbuh, Mas… saya tidak pernah bercita-cita, apalagi memilih karier di sini.”

#12. Si Rambut Panjang Itu
Ini kocak dan manis, sekaligus ada kegetiran. Di bandara mendapati gadis cantik yang menyita perhatian khalayak, lalu malah memilih duduk bersama Aku sekadar turut ngopi, siapa yang bisa menolak? Ada tiga hal asyik di sini:

Satu, Lulu nama cewek itu dibayangkan menjadi Bintang shampoo, bisa kimpul; dagangan habis duitnya kumpul.

Dua, saat ia memilih duduk bareng langsung jreeeeng. Kikuk. Aku merasa menjadi anak SMA lagi, goblok, tolol, dan konyol.

Tiga, ia Mirip Andy MacDowel, makin dipandang makin cantik. Wait, saya tak kenal bintang ini. Saya tahu dan pernah baca Burung-burung Manyar-nya Romo Mangun, tapi artis satu ini? Oh nanti saya googling.

Siapa bisa meramal jalan hidup seseorang?”

#13. Umairah
Di pipi bersemu merah, dan hikayat kasih sayang. Tutur klasik Sang nenek yang menghinggapi ingatan, ia adalah ‘korban kehidupan’, kekejaman perilaku masyarakat. Judul tulisan ini saya ambil dari cerpen ini, yang saat mendapat tamu ia selalu menjawab itu. Endingnya trenyuh tenan. Terbaring dengan ulas senyuman…

#14. Kapan Pulang?
Selingkuh adalah tema umum dalam kehidupan manusia, sudah sangat banyak dibuat. Kali ini mengambil sisi seorang suami yang cemburu sebab istrinya mendapat tugas keluar negeri dari kantornya, bersama kolega cowok, sekamar pula! Kecemburuan, keirian, dan daya tolak itu tak cukup, lantas muncul telepon dari cewek temannya yang berantakan dalam rumah tangga yang mengajak nonton di malam minggu.

Untuk apa kebanggaan, kalau akhirnya menyiksa diri sendiri?”

#15. Laki-laki yang Menusuk Bola Matanya

Bayangan akan manusia berkepala kelinci, lalu kerbau, lalu anjing, lalu binatang lainnya tak hanya semu tapi sungguh aduhai. Ini adalah karyawan partner yang menerima job dari perusahaan lain. Mencipta iklan dengan berupaya ide segar. Namun, selalu ada yang berbeda, dan mengalah.

Zaman sekarang ini sudah dikutuk sama Ki Ageng Ranggawarsita, zaman edan! Termasuk cara berpikir kita yang juga sudah edan.”

#16. Lho
Ini lucu, memainkan ironi kehidupan yang bangsat ini. Sang pendiam yang lebih banyak mengalah, lebih suka menyaksi keadaan, menikmati suasana, dan saat beranda rumah akan dicat, ia berupaya melakukannya sendiri. Tak seberapa, tapi tetangganya Pak Sodik menawarkan diri, bayarannya gmana? Harga tetangga, harga sahabat yang abu-abu. Karena memang pekerjaan tak seberapa, ia beri 50 ribu, diterima. Gosip menguar, ia dianggap pelit. Waduh! Maka suatu hari pas ada pekerjaan rumah, lagi-lagi Pak Sodik menawarkan diri. Ditolak, lalu gosip menguar, ia pelit sebab tak mau dibantu walaupun uang barang 20-30 ribu juga diterima sekadar uang makan. Aduh!

Terserah sajalah, soalnya ya gimana, ya. Ini, kan nggak seberapa…” Ga seberapa gundulmu!

#17. Dusta Itu
Kisah perang Bratayudha sudah sangat sering kit abaca dan nikmati di berbagai lini. Kali ini mengambil sudut pandang sang guru Dorna. Ini perang kecamuk taka da yang menang, yang bertahan hidup dan yang tewas sama kalahnya.

Bukankah ini semua karena angkuhan orang-orang sepertimu, yang mengatasnamakan harga diri, lalu mudah mencabut pedang?”

#18. Maaf Kalau…
Pelacur Sripah dan kemelut bayi yang dikandungnya, melahirkan bayi bersayap yang lalu disepakati oleh mereka yang jahat, dimusnahkan. Tamunya banyak, ayahnya bisa siapa saja. Dan ini menjadi konspirasi jahat, yang lalu menghantui sang pencerita, memandang cermin dengan waspada, dosa sepenanggungan. Bayi bersayap mirip angsa itu, siapa ayahnya?

Mirip angsa…”

Dilengkapi dengan ilustrasi ciamik tiap memulai cerpen, jelas dibuat dengan serius dan taka la kadar. Apik tenan. Kisahnya beragam, yang kutangkap atau kurasa adalah sebagian pengalaman sendiri. Mengecat beranda rumah contohnya, itu adalah tindakan lumrah, dibicarakan orang, lumrah juga, yang unik adalah ironinya. Saya punya pengalaman yang mirip, tapi tak semengesalkan itu. Pernah saya mau bikin undakan motor di rumah, saya tak tahu harga. Tukang yang kebetulan lagi kerja di tetangga, menawarkan diri, kutanya harga, dia bilang gampang… duh! Coba saya kasih 100 ribu untuk kerja barang setengah jam. Diomelin istri, standarnya tak sampai separuhnya, bahkan 20 ribu juga kebanyakan. Waduh! Itukah yang namanya ‘harga abu-abu’?

Yanusa Nugroho, lahir 2 Januari 1960 di Surabaya. Masa sekolahnya melalangbuana. SD sampai kelas 4 di Surabaya, pindah ke Palembang. SMP di Sidoarjo, SMA di Jakarta. Kuliah pernah di IPB, do lalu ke UI fakultas sastra. Salah satu cerpen yang kontroversial adalah ‘Segulung Cerita Tua’ yang pernah dimuat di Kompas Minggu (1998) dinyatakan tidak pernah dimuat karena diprotes pembaca. Uniknya, kumpulan cerpen ke-4nya diterbitkan oleh Kompas dengan judul yang sama lalu menjadi kandidat Khatulistiwa Award. Wuihh… baik, ini layak diburu dan dinikmati.

Buku pertama beliau yang kubaca, sepertinya akan mencipta gelombang baru bacaan berikutnya.

Kuda Kayu Bersayap | by Yanusa Nugroho | Editor Ambhita Dhyaningrum | Desain sampul Widiyanto | Ilustrator Hartining Umiyatsih | Penata letak Bunga | Cetakan pertama: 2004 | Penerbit Tiga Serangkai | xvi + 280, 18 cm | ISBN 979-668-483-7 | Skor: 4/5

Karawang, 290321 – The Cranberries – Delaila

Thx Haritson, Yogyakarta

Buku kesepuluh bulan ini yang kutuntaskan baca, kubaca cepat dua hari 27-28 Maret 2021

Capaian-capaian Spiritual

Tasawuf yang Dipuja Tasawuf yang Dikutuk, Editor by Mukhlis, S.Pd.I., M.Ag

(Aku bersumpah demi) realitas Cinta (al-Haq) bahwa cinta merupakan dasar semua cinta; Kalau bukan karena cinta yang bersemi dalam hati, Cinta (al-Haq) tidak akan disembah sama sekali.Ibn ‘Arabi

Sufisme merupakan suatu ilmu yang mengarah kepada pendekatan diri pada Allah dengan sedekat-dekatnya. “Tidak ada yang dicintai kecuali Allah”, adalah jargon yang sangat terkenal dalam literatur sufi. Sejak membaca Dunia Mistik dalam Islam karya Animarie Schimmel saya jatuh hati dengan tema tasawuf. Maka setiap muncul di beranda sosmed ada yang jualan, dan harga terjangkau langsung kuambil. Ini adalah salah satunya, dan ternyata sangat bagus. Semakin asyik dan syahdu terendam capaian spiritual. Ada dua nama sufi yang semakin kucinta di sini, Al-Ghazali dan Ibn ‘Arabi. Tasawuf mulai abad 3-4 mulai ada dua model kecenderungan dalam penghayatan dan pengamalan tasawuf. Pertama, aliran tasawuf akhlaqi (tasawuf sunni) yang mengklaim penganutnya paling konsisten dalam usaha memagari tasawuf dengan Al-Quran dan Sunnah serta mengkaitkan keadaan dan tingkatkan rohaniyah mereka dengan keduanya. Sufi paling terkenal adalah Al-Ghazali. Kedua, aliran tasawuf semi-filosofis, yang pengikutnya cenderung pada ungkapan-ungkapan ganjil (syathahiyyat) serta bertolak dari keadaan fana’ menuju pernyataan tentang terjadinya penyatuan (hulul). Sufi yang terkenal adalah Ibn ‘Arabi.

William C. Chittick dan Michael Chodkiewicz secara jujur menilai bahwa semua karya Ibn ‘Arabi sebenarnya tidak lain dari tafsir Al-Quran. Ibn ‘Arabi menyebut para wali Allah yang tertinggi “Ahli al-Quran” (ahl al-Quran) dan juga :ahli al-Haqq” (ahl al-Haqq).

Syariat dapat dipahami sebagai jalan, aturan yang dibawa oleh nabi dan rasul dari setiap masa kenabian, dan bukan dibuat-buat atas nama kreativitas akal. Ini adalah buku yang disajikan oleh banyak penulis senior. Dikumpulkan dan diedit oleh Mukhlis, S.Pd.I., M.Ag. Penulisnya dari berbagai kalangan, tapi rerata adalah dosen. Salut.

Dibuka dengan sebuah pukulan menohok. Manusia, si anak yang hilang ini, ingin berdamai kembali dengan ‘orangtuanya’ untuk diizinkan kembali bertandang ke rumah purbawinya, yaitu rumah spiritual. Tema spiritual yang masih relate dari zaman batu sampai era modern. Dulu tasawuf sempat disunyi-senyapkan, didiamkan, dianaktirikan, dan bahkan dianggap irasional mendadak menjadi perawan yang menggairahkan, sintal penuh makna. Orang-orang mulai melirik kembali kearifan kuno (al-hikmah al-khalidah) sebagai saluran penengah setelah saluran-saluran lain tersumbat dan tak mampu menampung jeritan jiwa-jiwa yang hampa. Cinta berarti merengguk tanpa menikmati. Cinta merupakan gabungan dari pelbagai unsur perasaan dan keadaan jiwa berupa uns (kehampiran), syawq (kerinduan), mahabbah (kecenderungan akan cinta).

Ada sufi yang bukunya didedah detail, setidaknya ada tiga: Abu Thalib Al-Makky, Ibn Taymiyyah, dan Ibn ‘Arabi. Nama terakhir yang paling keren, luar biasa rasanya menikmati bahasannya. Jelas, ini adalah idola baru-ku. Beberapa kutipan layak dibagikan. “Rahmat diberikan kepada seluruh jagad raya, kepada yang eksis dan segala yang potensial ada.” – Ibn ‘Arabi dalam Al Futuhat al Makiyyah.

Menurut al-Makky terdapat delapan amaliah. Empat bentuk praktis merupakan artikulasi anggota badan: salat dua rakaat, mengucapkan istigfar 70 kali diteruskan subhanallah al azhim wa bihamdih sebanyak 100 kali, bersedekah, dan melakukan puasa satu hari. Sedang empat lainnya artikulasi hati, diantaranya: meyakini bahwa taubat (pengampunan) dari Allah, takut siksa dari Allah, mengharapkan pengampunan dari Allah, dan mengakui eksistensi Allah secara positif dan meyakini dengan hati akan diampuni dosa yang telah dilakukan.

Sufisme minimal memiliki tiga karakter. Pertama karakter disiplin spiritual (pengabdian agama dan sanggup mengasingkan diri dari godaan dunia), kedua karakter moral (pasrah dan nerimo ing kahanan), ketiga karakter asketik (tidak mau dunia serta cinta akhirat).

Saya sendiri bukan seorang yang relijius, salat memang lima waktu, tapi belum menjadikannya sebagai kenikmatan. Islam umum sebab salat jalan, sebagai pengugur kewajiban. Hiks, mungkin dengan menikmati buku-buku sejenis ini akan menjadikan kita lebih syukur dan taat pada-Nya. Syukur, secara etimologis artinya sikap berterima kasih kepada Allah dan merasa lega.

Tasawuf adalah sejarah ‘perebutan kebenaran’ tentang capaian-capaian spiritual sekaligus airmata yang berdarah-darah.” Fawaizul Umam. Nada seruling yang menjadi ciri khas musik Tarekat Maulawiyah memunculkan kenangan akan kampung halaman asal, sebuah kenangan paling dalam yang dirasakan oleh orang-orang yang didorong oleh daya tarik surga dalam kehidupan ini dan orang-orang yang telah mendapat bimbingan utama Rumi.

Capra mengatakan bahwa teori quantum menunjukkan bahwa, “struktur-struktur dan fenomena-fenomena yang kita amati di alam tidak lain daripada ciptaan pikiran kita yang mengukur dan mengkategorisasikan.”

Fase pertama perkembangan tasawuf disebut era asketisisme, tumbuh pada abad pertama dan kedua Hijriah. Tasawuf itu original Islam dengan tak memungkiri adanya sebagian pengaruh asing yang masuk. Asketisisme menurut Nabi dan para sahabatnya tidak berarti berpaling secara total terhadap hal-hal duniawi, tetapi sikap yang hati-hati dan membatasi terhadap kepentingan duniawi, seraya memposisikan akhirat sebagai tujuan yang dominan.

Al-Ghazali menyebut maqam itu ada delapan dengan urutan: taubat, shabar, faqr, zuhud, tawakkal, mahabbah, ma’rifah, ridla. Al-Ghazali menghasilkan deskripsi aturan jalan menuju allah sejak permulaan dalam bentuk latihan jiwa, lalu menempuh fase-fase pencapaian rohaniah dalam tingkatan serta keadaan menurut jalan tersebut, yang akhirnya sampai pada fana’, tauhid, dan ma’rifat.

Menurut al-Taftazani, ciri umum tasawuf filosofis ialah kesamar-samaran ajarannya, akibat banyaknya ungkapan dan peristilahan khusus yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang mendalami ajarannya.

Kaum Bathiniyah berasumsi bahwa bagi orang yang telah mengerti makna ibadah maka gugurlah kewajiban ibadah itu baginya. Dalam hal ini mereka menta’wilkan firman Allah dalam surat al-Hijr ayat 99: “wa’budu rabbaka hatta ya’tiyaka al-yaqin”. Mereka mengatakan bahwa yang dimaksud dengan al-yaqin dalam ayat ini adalah ma’rifat ta’wil, sementara menurut jumhur berarti maut.

Ladang subur sufisme adalah lingkungan urban yang termiskinkan yang terdiri dari para anggota kategori kelas sosial marginal dan orang-orang yang tidak dapat mencapai hak istimewa kelas-kelas elite. Sufisme merupakan gerakan eskapisme (pelarian dari kebuntuan) sekaligus proses penelusuran hakekat hidup?

Menurut Imam al-Qusyairi dalam risalahnya, yang dikutip Simuh bahwa syariah yang tidak ditopang oleh haqiqah adalah tidak dapat diterima, dan setiap haqiqah yang tidak dikaitkan dengan syariah adalah nihil. Imam Malik berpendapat sama, yaitu orang yang melakukan syariah dengan tanpa haqiqah adalah fasiq, dan orang yang melakukan haqiqah saja tanpa syariah adalah zindig. Zindig adalah orang yang tidak percaya pada yang gaib.

Inti ketertarikan manusia modern terhadap dunia spiritual, pada dasarnya digunakan untuk mencari keseimbangan baru dalam hidupnya. Muhabbah adalah cinta yang mendalam kepada Allah tanpa syarat. Dari muhabbah inilah berkembang ‘ishq, yaitu kerinduan penuh gelora dan terus menerus kepada Allah.

Tiga paragraf berikut ini saya kutip, tulis ulang khusus untuk idola baruku.

Tuhan merupakan realitas impersonal yang berada di luar jangkauan manusia. Oleh karena itu, tidak ada jalan atau cara apapun untuk memahaminya karena pemahaman membutuhkan keterjangkauan nalar manusia. Bagaimana mungkin manusia dapat menjangkaunya padahal Tuhan tidak identik dengan siapa-siapa dan atau apapun. Persoalan Tuhan yang dapat dideskripsikan, dapat diungkapkan dengan ungkapan-ungkapan paradoks: membicarakan yang tidak dapat dibicarakan. Mengetahui tuhan yang tidak dapat diketahui. Menamai yang tak dapat dinamai. Mengungkapkan yang tak dapat diungkapkan. Memikirkan yang tak dapat dipikirkan. Memahami yang tak dapat dipahami. Membayangkan yang tak dapat dibayangkan. Melukiskan yang tak dapat dilukiskan. Maka memaksakan diri memikirkan sesuatu yang tak mungkin untuk dipikirkan tersebut dicela oleh Ibn ‘Arabi sebagai bentuk keangkuhan intelektual sebagaimana yang diperdebatkan dan dilakukan para teolog.

Abu Bakar pernah berkata ketidakmampuan untuk mencapai pemahaman merupakan pengetahuan yang sebenarnya. Mirip ungkapan Socrates, “Orang bijak adalah orang yang tak mengetahui apa-apa.”

Menurut Ibn ‘Arabi, menafikan kebenaran agama lain dengan mengagung-agungkan keyakinannya sendiri tidak lain merupakan bentuk kepongahan relijius, padahal pemahaman terhadap Tuhan bersifat relatif dan tidak mutlak benar. Banyaknya Tuhan sebanyak aliran napas makhluk, dan setiap tarikan napas yang keluar manusia akan bentuk Tuhan sesuai dengan apa yang mereka yakini.

Tema penyembuhan juga dibahas, di paling akhir. Kedokteran medis merupakan suatu ilmu terapan yang empiris sementara tasawuf adalah kebalikannya. Meditasi, sebenarnya terjadi pada organ-organ tubuhnya adalah syarat-syaraf yang memerintahkan ‘rasa’ tidak berfungsi karena seluruh pikirannya dikonsentrasikan pada sesuatu.

Natur spiritual kita adalah lompatan kualitatif melampaui natur-natur fisik dan psikis (keduanya berakar pada tubuh fisik dan eksistensi material kita). Manusia yang sehat secara spiritual adalah manusia yang hidup sesuai dengan potensial-potensialnya sebagai manusia. Akar penyakit spiritual adalah keterpisahan dari Tuhan yang merupakan Asal segala sesuatu.

Abu Bakar: “Segala sesuatu yang terlintas dalam khayalanmu dan tergambar pada benakmu, maka itu bukanlah Allah.”

Terakhir, dunia gaib memang tak kasat indra. Hanya orang-orang pilihan yang bisa, saat malam sendiri dalam sujud adalah saat terdekat manusia dalam syukur sembah pada-Nya. Kita semua adalah pembelajar, seorang petualang yang akan terus menempa pengetahuan untuk mendekatkan diri pada Tuhan.

Hidup dalam ketenangan dan kesederhanaan secara penuh dengan sedikit makan dan minum, banyak berdzikir dan beribadah, seraya penuh rasa kepasrahan kepada Allah. Dzikir secara sederhana berarti ingat. Semoga kita semua selalu diberikan kesehatan untuk bisa konsisten menuntut ilmu, Tuhan memberkati.

Tasawuf yang Dipuja Tasawuf yang Dikutuk | Editor by Mukhlis, S.Pd.I., M.Ag | @Genta Press | Cetakan I, Mei 2008 | Penyelarasa aksara Ibnu Marhuum Nuur | Perancang sampul Mn. Jihad | Penata letak Munawar | Bekerja sama dengan Alam Tara | ISBN 978-979-3988-35-1 | Pracetak Lengge Printika | Skor: 4.5/5

Karawang, 200321 – 260321 – Charlie Parker – Jam Session (1952)

Thx to Jojo Merdeka, Bks

Rentang Kisah Buah Hati

Dubi Dubi Duma by Esthy Wika

Mau namamu berganti apapun, temanmu tetap akan selalu nemu nama ejekannya. Jadi sudahlah, biarin, nanti mereka juga capek sendiri.”

Ini adalah kisah keluarga yang ada di blog, lalu disunting dan dibukukan. Khas cerita bu-ibu yang membanggakan anaknya, keseharian dalam rutinitasnya mengasuh. Ibu dari dua anak, Ken dan Uma. Semua kisah di sini adalah tutur kata dan kegiatan sang buah hati. Dengan problematika umum yang dihadapi orang tua. Banyak hal tentu saja sudah kurasakan, May – istriku, persis mengeluh kesah sekaligus bangga akan Hermione. Betapa apa yang dirasakan Bubun adalah apa yang dirasakan ribuan ibu-ibu juga. Esthy Wika bersekolah di Batu dan Kediri, kuliah di Surabaya dan sekarang tinggal di Sidoarjo. Bisa disapa di blognya tuwuhingati.wordpress.com.

Terdiri atas tiga bagian utama: Masa Bermain, Masa Awal Sekolah, dan Masa Bersekolah. Lalu dipecah lagi dalam beberapa bab, satu kisah akan menuturkan lanjut kisah lainnya, atau berdiri sendiri. Sebagian bab akan berkesinambungan, menjadikannya catatan keseharian tumbuh kembang anak. Beberapa tentu saja sangat menyentuh hati, seperti saat Uma membela sang kakak saat mendapat perisak kawan lainnya “Jangan pukul kakakku,” atau saat juara tak lagi penting, tapi kalau dapat ya Alhamdulillah. “Bu, Uma dapat peringkat tiga.”

Beberapa terasa bagus, seperti foto ayah. Bagaimana Uma memilihnya ketimbang foto Bubunnya. “Yah, I love you.” Atau saat Ken meminta foto sama bule, lalu akhirnya memilih pasif dengan menyaksi anak-anak lain yang berfoto. Khas semua paradoks pilihan, ya dan tidak terasa tak ada yang salah, atau tak ada yang benar, cukup sudut mana kita mau mengambil dan menelaah, berkesinambungan, berputar dalam opsi, dan tak ada yang salah selama kita bisa menunjukkan pilihan yang diambil adalah bijak, dan terasa baik buat sendiri dan orang sekitar. Pernyataan anak bahwa Bunda tak sayang Ayah, juga terasa umum. Pertengkaran membutuhkan dua orang yang saling peduli, dan itu wajar. Bahwa kita ditakdirkan untuk selalu bertikai untuk perbedaan-perbedaan kecil.

Beberapa terasa biasa, seperti jika Bubun kerja penyamarataan perasaan Si Kecil, “Soalnya yang biasa mukul dan bikin gara-gara itu yang mamanya kerja.” Beberapa lagi lebih biasa lagi – kalau tak mau dibilang hufh – terutama politik pasif yang terhimpun dalam dukungan nomor satu atau dua. Pragowo? Uma menjawab pertanyaan saya dengan yel-yel. Sebentar, bijaksana itu apa?

Tentang HP dan menikmati acara, zaman sekarang memang sulit mengendalikan anak yang kecanduam gadget. Sulit, era kita tak sama dengan era anak-anak zaman sekarang. Dulu tak ada HP, biasa mau penuh lumpur atau memanjat pohon tanpa rasa takut, atau mengejar layang-layang putus menerjang lalu lintas. Zaman sekarang yang banyak dikenal mabar, menyaksikan youtube tak berkesudahan. Dunia berubah, lantas kita apakah perlu tak berubah? Dalam sebuah seminar parenting yang pernah saya ikuti, ada nasehat bahwa anak tak boleh pegang HP, walau sekadar pinjam milik orangtua. Tak boleh diberi HP, biarkan ia memiliki sendiri nantinya, yang berarti saat ia bekerja. Entah apakah itu diterapkan sama trainer sendiri atau sekadar khayal, sulit sekali-kan membayangkan saja terasa mustahil. Anak-anak tanpa gadget? Mustahil! Termasuk mencoba pasif dalam grup WA, ya bisa saja. Sesekali, tapi rasanya mendiamkannya setahun tanpa tersentuh buka, rasanya lebih mudah memisahkan tiap helai kulit buah salak.

Nama panggilan yang diplesetkan? Lumrah, sangat lumrah. Dari zaman nenek moyang kita, sudah ada. Zaman kita kecil juga ada, zaman sekarang? Karena sekolah masih konvensional, tatap muka dalam bercanda tawa, tentu saja masih ada. Entah seribu tahun lagi, mungkin zaman robot sudah menginvasi kita akan ada pergeseran memplesetkan nama, tapi yakinlah masih akan ada. Hermioneku memiliki nama ‘sayang’ sekaligus ‘plesetan’ yang disuka sekaligus dibenci, #Ciprut.

Apa yang ditampilkan adalah kegiatan umum dan mendasar, tak ada drama apalagi action. Kegiatan yang direkam, ditulis, dipos, lalu didedah kembali untuk naik cetak. Lelah mengurus anak? Tentu saja lelah kita adalah impian pasangan keluarga yang mendamba kelahiran buah hati. Lelah bekerja seharian untuk mencari nafkah keluarga? Jelas lelah kita adalah impian para pengangguran yang begitu ingin mendapat gaji rutin. Lelah melihat anak memberantakan ruang keluarga dengan mainan dan tak bisa kembali merapikan? Lelah kita adalah sebuah impian, harapan, dambaan orang tua lainnya. Kita memang harus bersyukur atas segala rahmat Yang Mahaesa, waktu bergulir maju dan setiap detiknya akan menjadi bermakna saat berhasil menumpahkannya bersama orang terkasih, apapun keadaannya, apapun posisinya. Jadi terasa tepat apa yang disampaikan, “Kualitas hubungan buat saya bukan dari berapa banyak foto bersama yang telah tercetak, tapi juga berapa lama kita sanggup nyambung ketika ngobrol bersama.”

Berhasil menang lomba mencipta cerita dengan 500 kata? Bagus. Berhasil menjadi juara lomba menggambar/ mewarnai? Bagus. Berhasil menyelesaikan tugas menghafal doa/surat. Bagus. Ada masa anak memang membanggakan, tapi jangan lupa segalanya perlu tempa dan kasih sayang. Apa yang ditampilkan anak, apapun terasa menggemaskan. Sesekali marah wajar, tapi tetap pegangan utama mengasuh adalah Sabar, Kuat, Maaf.

Kepo adalah hal yang menggemaskan, bila itu diucapkan balita. Dunia anak penuh tanya, setiap perkembangannya akan selalu mencipta penasaran. Hal-hal basic mungkin, seks itu apa? Dedek bayi itu asalnya dari mana? Kenapa orang ribut pilihan politik? Kenapa kita punya hidung? Kenapa dia gemuk? Kenapa aku sakit? Apa itu pacaran? Bubun bahagia? Atau yang lebih sederhana lagi, kalau Allah Mahasegalanya, mengapa ia tak mencipta semua makhluk bahagia? Eh bahagia itu apa?

Dengan berjalannya waktu, cita-cita anak memang selalu bergeser, tentatif, serta situasional. Ada kalanya ingin menjadi illustrator saat menyaksikan kartun idola atau melihat gambar indah tokoh pujaan, ada kalanya ingin menjadi arsitek saat menyaksi gedung-gedung menjulang, adakalanya mengharap jadi chef saat menonton Master Chef Indonesia, mertega dan segala olesannya merata. Atau ingin menjadi astronot menjelajah bulan dan galaxy maha luas karena menonton Rainbow Ruby? Wajar akan selalu berkehendak bebas, dan penting. Ada harapan di depan sana, ada hal yang harus digapai, ada sesuatu yang bernilai untuk dilakukan. Seperti kata Mark Manson dalam Segala-galanya Ambyar, “Sesuatu harus memiliki makna karena tanpa ada sesuatu yang bermakna, maka tidak ada alasan untuk terus menjalani hidup ini. Dan sebentuk altruism yang sederhana atau hasrat untuk meringankan penderitaan selalu merupakan resep pikiran kita untuk membuat suatu tindakan pantas dikerjakan.”

Hermione sendiri pernah ingin ke London sebab saya bacakan cerita Narnia, Pooh, atau Harry Potter. Ketiga buku itu kebetulan dicipta di British, dunia Barat yang megah di London sana. Maka wajar dalam doanya dia berharap bisa sekolah ke London untuk belajar ilustrasi ala Ernest H. Shepard. Mungkin harapan menyaksi salju dan memotret diri dengan stasiun King Cross sembilan seperempat turut mendorongnya.

Pada akhirnya waktu akan menjawab segalanya. Biarkan pertanyaan semesta, rentang kisah yang menjawab. Sementara itu, marilah kita nikmati masa-masa berharga bersama anak, berdendang dan berirama ria dalam, “dubi dubi dam dam, dubi dubi duma…

Dubi Dubi Duma | by Esthy Wika | Copyright 2021 | Penyunting Margareth Ratih Fernandez | Pemeriksa aksara Dyah Palupi | Penata isi Azka Maula | Ilustrasi sampul; Uma Aathifah R. | Penata letak sampul M. Sadam Husaen | Cetakan pertama, Februsri 2021 | xiv + 136 halaman | 13 x 19 cm | ISBN 978-623-7284-50-5 | Penerbit Mojok

You’re my sunshine after the rain. You’re the cure against my fear and my pain” 98 Degrees

Karawang, 250321 – Boyzone – Picture of You

Thx EW, Surabaya

Pengakuan Sukarno Kepada Rakyat Indonesia

Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia by Cindy Adams

Seorang Marhaen adalah orang yang memiliki alat-alat yang sedikit, orang kecil dengan milik kecil, dengan alat-alat kecil, sekadar cukup untuk dirinya sendiri… Marhaenisme adalah Sosialisme Indonesia dalam praktik.”

Bagi Bung Karno, biografi ini dimaksudkan untuk memberikan pemahaman yang lebih baik terhadap Sukarni maupun terhadap Indonesia (oleh masyarakat dunia). Buku yang sangat bagus, salah satu biografi terbaik yang pernah kubaca. Begini seharusnya sebuah pengakuan dibuat, ditulis oleh Penulis lain, dengan melakukan penuturan kisah hidupnya. “Ini adalah pekerjaan yang sulit bagiku. Sebuah otobiografi tak berbeda dengan pembedahan mental. Sangat sakit, melepas plester pembalut luka-luka dari ingatan seseorang dan membuka luka-luka itu – banyak di antaranya yang mulai sembuh – terasa perih…”

Biografi ini atas saran Howard Jones, duta besar Amerika yang sedang makan nasi goreng. Bersama istrinya Marylou, Sukarno sama Hartini di pavilium kecil di Istana Bogor. Dan jadilah, dengan syarat yang menulis adalah Cindy Adams, wartawati AS yang sedang tugas di Indonesia. Bersama suaminya Joey Adams yang memimpin misi kesenian Presiden Kennedy ke Asia Tenggara. Anda adalah ahli pidato terbesar setelah William Jenning Bryan.

Kisahnya merentang panjang, dari kelahiran sampai tahun krusial bangsa ini pertengahan 1960-an. Disertai foto-foto yang mencerita perjalanan hidupnya. Opini publik berjalan mirip gelombang. Tahun 1656 ketika aku pertama kalinya berkunjung ke AS, setiap orang menyukaiku. Sekarang arusnya menjauh terbalik, menentang Sukarno. “Aku bukan, tidak pernah dan tidak mungkin menjadi seorang komunis. Aku membungkuk ke Moskow? Setiap orang yang pernah dekat dengan Sukarno mengetahui, dia memiliki ego yang terlalu besar untuk bisa menjadi budak dari seseorang, kecuali budak untuk rakyatku. Aku memiliki ego. Itu aku akui. Tapi apakah seseorang yang tanpa ego bisa mempersatukan 10.000 pulau menjadi satu bangsa. Dan aku memang tinggi hati. Siapa pula yang tidak demikian? Bukankah setiap orang ingin mendapat pujian?”

Pernyataan itu benar-benar menegaskan bahwa ia bukan komunis. Komunisme dapat diberantas dengan pikiran sehat, bukan dengan sikap histeris. Aku akan memuji setiap hal baik, tak pandang ia datangnya dari seorang komunis, Islam atau seorang Hipo Indian. Pegangannya adalah humanisme, selama itu baik buat kebersamaan, mengapa tidak? “Kita tidak membenci rakyatnya, kita membenci sistem pemerintahan kolonial.”

Sukarno sejak kecil sudah hobi membaca dan menikmati cerita. Lebih penting dari kata-kata yang tertulis adalah bahasa yang keluar dari lubuk hati. Aku memuja Mary Pickford, Tom Mix, Eddie Polo, Fatty Arbuckle, Beverly Bayne, dan Francis X. Bushman. Setiap bungkus rokok Westminster keluaran Inggris berisi foto seorang bintang film sebagai hadiah. Aku mengumpulkan bungkus-bungkus rokok yang sudah terbuang dan menempelkan tokoh-tokoh yang kupuja itu di dinding. Film seharusnya menjadi alat untuk meningkatkan solidaritas antar bangsa di dunia, bukan untuk menghancurkannya. Filsuf India, Swami Vivekananda pernah menulis, “Jangan bikin kepalamu menjadi perpustakaan. Pergunakan pengetahuanmu untuk diamalkan.”

Sukarno mendapat tempaan nasionalisme di Surabaya. Di rumah Pak Cokro, dapur dari nasionalisme. Pak Cokro, sampai saat aku menutup mata nanti, aku akan tetap menulis namanya dengan kelembutan hati. Sukarno muda banyak menulis artikel yang menentang Belanda, memakai nama samara ‘Bima’ yang berarti Prajurit Besar, juga memiliki keberanian dan kepahlawanan. Ketika ia ingin melanjutkan pendidikan ke luar negeri, dilarang ibunya. “… Jangan lupa anakku, bahwa tempatmu, nasibmu, pusakamu berada di kepulauan ini.”

Perkumpulan politik pertamaku bernama Tri Koro Darmo, yang berarti ‘Tiga Tujuan Suci’, dan melambangkan kemerdekaan politik, ekonomi, dan sosial yang kami cari. Jong Java sebagai perkumpulan politik berikutnya memiliki dasar yang lebih luas.

Kehidupan berliku, termasuk soal asmara. Mien Hessels, dia ibarat lapisan gula di atas kue yang takkan pernah bisa kubeli. Kasih ini ambyar sebab tuan Hessels tentu saja menolak pemuda inlander. Dicaci maki dan diusir. “Ya Tuhan, aku tak akan dapat melupakan ini.” Namun 23 tahun kemudian, tepat tahun 1942, zaman perang saat melihat etalase toko di Jakarta mereka bertemu lagi, Sukarno tak mengenalinya, Mien terkekeh. Bidadarinya itu kini tua dan jelek. Sungguh tangan Tuhanlah yang menggerakkan hatiku.

Asal muasal kebiasaan memakai peci bagus juga. Kalau aku memarahi itu berarti aku mencintaimu. Aku melampiaskan marahku kepada orang-orang terdekat dan paling kusayangi. Ibaratnya merekalah papan peredam suaraku. Kita memerlukan sebuah simbol dari kepribadian bangsa. Peci yang memiliki sifat khas, mirip dengan yang dipakai bangsa Melayu, adalah asli milik kita. Tapi istilahnya dari penjajah kita. Dalam bahasa Belanda, ‘pet’ berarti kupiah, ‘je’ akhiran yang menunjukkan ‘kecil’ dan kata itu ‘petje’… mari memakai peci ini sebagai lambang Indonesia Merdeka.

John F. Kennedy pernah bilang, “Presiden Sukarno, aku sangat mengagumi Anda. Seperti aku, Anda selalu berpikir untuk menggali dan mempertanyakan sesuatu. Anda banyak membaca. Anda banyak tahu.”

Lebah yang pada tahun 1908 baru mendengung dengan slogan-slogan politik tanpa kekerasan, sekarang tumbuh besar dan memiliki racun ketidakpuasan dengan sengatan yang mematikan. Aku adalah seorang yang selalu lambat tidur dan membaca.

Sukarno pernah menghadapi serangan teroris. Menandatangani hukuman mati, bukanlah satu pekerjaan yang memberi kesenangan kepadaku. Sungguhpun demikian, seorang pemimpin harus bertindak tanpa memikirkan betapapun pahit kenyataan yang dihadapi. Contohnya kasus Kartosuwiryo. Tahun 1918 Ia adalah kawanku, bahu membahu membantu Pak Cokro demi kejayaan tanah air. Firman Allah: “Ada masa-masa di mana kesulitanmu berguna dan diperlukan.”

Membikin mabuk massa sampai mereka dikuasai semangat akibat inspirasi yang mereka reguk sebagai anggurnya. “Orang Belanda pun akan memiliki sedikit respek pada kita. Sudah menjadi sifat manusia untuk meludahi lawan yang lemah, tetapi bila kita menghadapi lawan yang kuat, setidak-tidaknya kita merasa bahwa dia merupakan lawan kita yang pantas.”

Hanya dengan keesaanlah ada kekuatan. Mungkin aku adalah seorang politikus yang berjiwa romantik, yang terlalu sering memetik kecapi dari idealisme… Ada begitu banyak yang ingin kusampaikan sehingga aku tak tahu apa yang harus kukatakan.

Nomor sel Sukarno adalah 233 saat ditahan di penjara Sukamiskin. Nomor keramat nih. Ia juga seorang relijius. Bangsa Indonesia dilahirkan untuk mengabdi pada Tuhan. Tanggal 31 Desember 1931, aku pertama kali mengenakan pakaian sipil setelah dua tahun di penjara. Sudah menjadi kebiasaan orang Indonesia untuk mengadakan selamatan bila seseorang keluar dari penjara. Hal ini tak hanya saat kebebasan penjara semua peristiwa – pernikahan, lulus sekolah, dan kelahiran bayi – selalu ditandai dengan pesta syukuran.

Berikut beberapa perkataannya: Sukarno bukan lagi milik orangtuanya, Sukarno sudah jadi milik rakyat Indonesia. Di Sukamiskin tubuhku dipenjara, di Flores semangatku dipenjara. Di Ende yang terpencil dan membosankan ini aku memiliki banyak waktu untuk berpikir. Dalam umur 28 aku sudah dipenjara. Dua belas tahun dari tahun-tahun terbaik seorang laki-laki kuhabiskan dalam pembuangan.

Sudah menjadi pembawaanku untuk mencoba tetap gembira menghadapi keadaan apa pun.” Sebuah pertemuan dengan Komandan Fujiyama di Puncak Lembah Ngarai di Bukittinggi yang sampai sekarang membuatku dicap sebagai ‘kolaborator Jepang’. Syarafku sangat tegang dan aku mencungkil-cungkil kuku jariku, kebiasaan bila sedang gelisah.

Imamura san: “Boleh saya beri tahu, Ir. Sukarno, bagaimana saya menaklukkan orang kulit putih yang perkasa itu dari daratan Anda. Dengan gertak, atau apa itu. Semata-mata gertak.”

Pidato tentang Pancasila, “Jika kuperas yang lima ini menjadi satu, maka dapatlah aku satu perkataan Indonesia tulen, yaitu perkataan gotong-royong. Gotong-royong adalah pembantingan tulang bersama, pemerasan keringat bersama, perjuangan bantu-membantu bersama. Amal semua buat kepentingan semua…”

Karena ke mana Sukarno pergi tujuh puluh juta rakyat akan mengikuti. Tujuh belas adalah angka yang suci. Tujuh belas adalah angka keramat. Pasca Proklamasi, yang mendarat pertama adalah pasukan Inggris dan mereka membawa serombongan wartawan asing. “Menurut Menteri Luar Negeri kami, satu kali lawatan Sukarno ke sebuah Negara sama artinya dengan sepuluh tahun pekerjaan duta besar…”

Hanya setelah mati dunia ini dapat menimbang dengan jujur, Sukarno manusia yang baik ataukah manusia yang buruk? Hanya di saat itulah dia baru dapat diadili. Penutupnya keren sekali, seolah sebuah wasiat bila nantinya meninggal maka tulisan di batu nisan kalimat sederhana: “Di sini beristirahat Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.” Persis seperti yang pernah diujarnya dalam buku lain, “Menggali Api Pancasila”. Aku ini bukan apa-apa tanpa rakyat. Aku besar karena rakyat, aku berjuang karena rakyat dan aku penyambung lidah rakyat.

Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia | by Cindy Adams | Judul asli Sukarno An Autobiographt as Told to Cindy Adams | The Bobbs-Merrill Company Inc, New York, 1965 | Diterjemahkan oleh Syamsu Hadi | Sumber foto Yayasan Bung Karno | Tata letak Arif | Tata wajah Sigit Lingga, Sugeng | Penyelaras akhir M. Aref Rahmat | Ed. Rev | YBK 2014, 423 hlm; 16 x 24 cm | ISBN Edisi Hard cover 979-911-032-7/9 | ISBN Edisi soft cover 979-911-451-9/8 | Penerbit Yayasan Bung Karno | Bekerjasama dengan Media PRessindo | Cetakan pertama, ed. Rev Agustus 2007 | Cetakan keempat, 2014 | Skor: 5/5

Demi pengertian terhadap Sukarno dan bersamaan dengan itu pengertian yang lebih baik terhadap Indonesia-ku yang tercinta.”

Karawang, 100221 – 260221 – 190321 – Ida Laila – Sepiring Berdua

Thx to Buku Corner ATK, Jakarta

Rencana-rencana Sang Pendeta

Pendeta Yonas by La Rose

Apa? Urusan Pendeta Yonas? Urusan pribadi Pendeta Yonas adalah adalah juga urusan anggota gereja. Pendeta Yonas tidak mempunyai kehidupan pribadi… karena kepada Pendeta Yonas kami memandang.”

Namanya Yahya Yonathan Yonannes, biasa dipanggil Yonas. Sejak kecil memang tampak istimewa, pribadi mempesona. Maka cita-cita menjadi Pendeta untuk remaja yang sabar dan alim ini dirasa pas, “Ini adalah panggilan Tuhan.”

Kisah yang sungguh menggugah, dibuat era 1980-an dengan konfliks yang mungkin terlihat seperti kisah sinetron, tapi eksekusi dan tutur bahasanya yang renyah malah menghasilkan degub debar membuncah. Rencana-rencana indah sang Pendeta menjadi ambyar sekejap ketika fakta-fakta yang pembaca sudah ketahui, dihadapkannya menjadikannya dewasa seketika. Dunia memang begitu Bapa, kejam penuh tipu muslihat. Di era sekarang mungkin terasa wah, kok tega, tapi kalau direnungkan dan ditelaah lebih masih relate dan sungguh perawan di usia 20-an menjadi tampak langka bila melihat model pergaulan bebas di kota-kota besar.

Yonas adalah putra pertama dari pasangan kristiani dari Manado yang pindah ke Surabaya. Sejak remaja ia memang relijius, tak seperti adiknya Ruth dan Maryam yang komersial dan menjadi gadis kebanyakan. Ruth menikah dengan jutawan Hongkong, Maryam menjadi bintang film yang lalu menjadi istri kedua Pak Sukimin, pengusaha kaya. Yonas memilih menjadi pemuka agama sebab merasa banyak domba-domba tersesat yang perlu diselamatkan. Keinginan yang semula diragukan Derek Yohannes, ayahnya seorang pedagang sukses dan ibunya Anna, kedua orangtuanya merelakannya. Apakah tak sebaiknya menikah dahulu, menjadi Pendeta dalam kesederhanaan akan menjadikannya benar-benar tak bisa maksimal menikmati hidup, ia bergeming. Keinginannya sudah bulat, dan setelah menempuh pendidikan wajib, dan disahkan oleh diaken, ia resmi menjadi Pendeta. Penugasan pertamanya adalah di kota Kretes, kota kecil sejuk di pegunungan. “Jalan ke surga itu sempit, tak semua orang dapat ke sana…

Di sebuah gereja kecil itulah ia tinggal menggantikan Pendeta Frederik yang sudah usia lanjut, dibantu Pak Udin sebagai pesuruhnya, melakukan gebrakan banyak hal, maklum anak muda. Berusia 26 tahun, sudah jadi kepala Pendeta, luar biasa. Di daerah situ terkenal dengan panti pijat Vila Nirwana dan beberapa hotel yang dikelola olah Tante Betsy. Sebelum hari Minggu, khotbah pertamanya, Yonas berkunjung ke sana, menyapa, mengakrabkan diri. Yonas yang muda, ganteng, gagah telah memikat sang germo, singkatnya Tante Betsy yang berusia 47 tahun, lajang dan gendut itu jatuh hati. Mirip bintang film terkenal masa itu, Alain Delon.

Tante Betsy memiliki pembantu Mbok Iyem, asisten terpercaya Carolina, dan lima gadis pemijat yang sungguh masih sangat muda-muda: Nurlaila (20 tahun) mancung, semampai, hitam manis, rambut panjang. Sumiati (19), Saarce (22) gadis keturunan Belanda, badannya padat dan berpostur tinggi, selalu rapi berpenampilan. Mience (18) dari Bandung, kulit kuning langsat, ramping dan selalu berkebaya. Terakhir, Mei Hwa dari Karawang, kuning bersih, jelas memiliki darah China dari neneknya. Mendapat julukan di Goyang Kerawang. Semua cantik, karena itulah persyaratan bekerja di message parlour Nirwana. Pada akhirnya, dunia ini fana. Tak ada yang kekal, secantik dan semuda apapun semua akan digilas waktu.

Tante Betsy memang pandai memasak, ia memasak special buat Pendeta. Untuk makan pagi, siang, dan malamnya makan bersama. Keakraban ini menimbulkan banyak gosip, menimbulkan desas-desus tak sedap. Bahkan di hari pertama saat khotbah, kedatangan mengejutkan sang germo membuat jamaat lainnya mengeluh, mencaci, sampai tak terima seorang pendosa duduk di antara mereka. Dengan dramatis, Tante Betsy keluar, sehingga kesan pertama yang didapat tak bagus.

Tante Betsy dan Nyonya Trees Wana memang punya slek, punya masalah di masa lalu. Suaminya, Alex Wana pernah kepergok indehoy di Nirwana, hubungan menjadi retak dan kacau, jamaah tak mau menerima germo ada di kursi gereja, tapi di tangan Pendeta muda inilah semuanya diperbaiki. Melalui diskusi panjang, dari makan malam satu ke makan malam berikutnya, diputuskan bisnis perhotelan dan Vila Nirwana akan tutup, dan karena Tante kaya ia pensiun, menyumbangkan banyak uangnya ke gereja. Dari keputusan radikal inilah, hubungan membaik, sepertinya…

Lalu waktu menempa, Tante Betsy menawarkan perkenalan dengan gadis kepada sang Pendeta untuk dijadikan istri. Dengan surat tertulis ia sakit keras ke Erna di Jakarta, maka ia bergegas datang. Erna adalah bekas anak buahnya, diangkat derajatnya dari remaja culun menjadi seorang lady, dan lalu menjadi model dan menjadi simpanan om-om. Ia memang cantik, usianya sebaya dengan Sang Pendeta. Ketika tiba di bandara, ia naik taksi langganan Bang Ali, bercerita masa lalu dan update gosip Kretes. Maka dirasa cocok, saat tiba di Vila Erna kaget, suratnya palsu, lalu disusunlah rencana perjodohan. Erna menjadi Erni, dan ia harus pasif soal seks, ia berakting menjadi gadis baik-baik, tanpa banyak make-up, menjadi lebih polos.

Pendeta Yonas yang polos diperdaya, ia kesemsem. Ia jatuh ke pelukan Erna, dan karena dirasa cocok serta sudah saling mencinta, tak perlu menunda lama, mereka sepakat akan menikah dalam waktu dekat. Yonas lalu minta restu ke orangtua, ke Surabaya diantar taksi. Kasmaran, dalam mobil sampai menyanyikan lagu Elvis Presley berjudul Hawaiian Wedding Song di mobil, bertutur banyak hal menggembirakan kepada Sopir Pak ali. Diberitahunya ia akan menikah, tapi dengan siapa tak disebut. Dikira sama Nelly, gadis desa baik-baik yang jarang keluyuran. Namun tidak, bukan Nelly. Membuat penasaran, ah andai di bagian ini Yonas bilang Erna, kisah ini bisa lebih boooom! Pak ali punya peran penting walaupun cuma antar sana-antar sini.

Ketika tahu, anaknya mau nikah tentu saja pada sepakat. Calonnya rahasia, tak banyak yang bisa dicerita sebab Erna ini menjadi kata rahasia. Ayahnya dalam hati berjanji menyelidiki identitas calon menantu. Nah, di sinilah peras orangtua menjadi jelas sangat tepat. Anak kesayangannya harus dilindungi, harus menjadi pemimpin keluarga yang bijak. Di era modern, di mana cinta diagungkan, akankah percintaan seorang pendeta yang polos dengan pelacur ini dapat terwujud.

Tak perlu banyak spekulasi. Cinta mereka kandas. Erna sendiri merasa kasihan akan sifat sang pendeta. Cinta omong kosong, tak tega. Engkau pernah mencintai Pendeta ini, bukankah ini terdengar bagus dan dramatis sekali? Sang pendeta yang sudah terjatuh, kurasa bagus untuk masa depan dan masa tuanya, sakit memang tapi akan sembuh dalam hitungan waktu. Benar saja, endingnya dibuat sangat bahagia, untuk semua.

Kubaca dalam dua hari kemarin, libur santuy (20-21 Maret 21), saat tegang Sukaluyu dengan Pilkades dengan lima calon. Ini buku kedua La Rose yang kubaca setelah kumpulan artikel nasehat dan motivasi dalam ‘Pribadi Mempesona’, jelas ini lebih bagus. Fiksi yang menegangkan, apa yang ditampilkan dalam narasi terasa berhasil membuat emosi pembaca. Ikut tegang, membayangkan seorang Pendeta baik hati dan luar biasa polos bercumbu dengan pelacur kelas atas/model ibu kota yang dipinangnya. Benar-benar jatuh hati, seolah kecupan itu terjadi dalam imaji, dirasa wajar dan bikin deg-degan. Eksekusi endingnya pas, tapi andai dibuat sad ending akan lebih sempurna. Bukan karena Yonas mempunyai banyak uang, bukan karena berkuasa, tapi karena ia mewakili kebaikan.

Kalimat penutupnya sangat bagus. Dunia memang kejam, dunia memang seperti ini. “… Yonas tidak jadi kawin dengannya, bukan karena dia pelacur. Juga bukan karena ditentang Papa dan lingkungan gereja. Tapi karena saya seorang Pendeta. Hal ini akan merupakan penghalang bagi pekerjaan saya. Bagaimana orang-orang akan mendengarkan khotbah saya, bahwa Erna pernah… manusia itu kejam… hanya Tuhan yang sesungguhnya mau memaafkan… mungkin mereka mau memaafkan, tapi mereka tak akan melupakan.”

Pendeta Yonas | by La Rose | Cet. 1, 1985 | IV, 254 hal, 18 cm | Fiksi Indonesia | Penerbit PT Gunung Agung | Kwitang 8, Jakarta 10420 | Pencetak PT Midas Surya Grafindo, Jakarta | Skor: 4/5

Karawang, 220321 – Ida Laila – Sepiring Berdua

Thx to Pak Saut, Jkt

Bercerita Filsafat dengan Gaya Fun

Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer by Jujun S. Suriasumantri

Segalanya punya moral, asalkan kau mampu menemukannya.” Alice dalam Alice In Wonderland.

Makin pandai seseorang dalam bidang keilmuan maka harus makin luhur landasan moralnya. Ilmu pengetahuan tidak bisa disangkal merupakan agama yang paling efektif karena ini adalah agama pertama yang mampu berevolusi dan memperbaiki dirinya sendiri. Buku ini diterbitkan agar masyarakat lebih mencintai filsafat. Kubaca santai sejak bulan September tahun lalu, setelah dengan terjal mencoba tuntaskan, akhirnya selesai juga. Sempat menghantuiku berbulan-bulan, sebab saat itu menemukan pengetahuan yang tak lazim tentang filsafat. Jelas buku ini memesona sekali, terutama separuh awal, tema serius disampaikan fun, dengan gambar-gambar lucu dan potongan kutip filsuf dari berbagai era. Sempat pula kubilang, wow. Ini ditulis oleh Penulis lokal, penuh gaya dan akrobat kata yang disodorkan luar biasa nyaman. Belajar filsafat tak melulu pening.

Auguste Comte membagi tiga tingkatan perkembangan pengetahuan ke dalam tahap relijius, metafisik, dan positif. Dalam tahap pertama maka asas relijilah yang dijadikan postulat ilmiah sehingga ilmu merupakan deduksi atau penjabaran dari ajaran reliji. Tahap kedua orang mulai spekulasi tentang metafisika (keberadaan) ujud yang menjadi objek penelatahan yang terbebas dari doma reliji dan mengembangakn sistem pengetahuan di atas dasar postulat metafisik tersebut. Tahap ketiga adalah tahap pengetahuan ilmiah, (ilmu) di mana asas-asas yang dipergunakan diuji secara positif dalam proses verifikasi yang objektif.

Dibagi dalam sepuluh bab dengan pemilahan acak, di bagian probalitas sempat membuatku demam. Bahkan sampai khawatir Covid-19 sebab pandemi saat itu lagi ramai-ramainya dan gejalanya mirip. Setelah beberap minggu sakit, akhirnya terbengkelai. Awal tahu kulanjutkan, dan ‘untungnya’ paruh ketiga buku, bahasannya lebih landai. Apalagi ending-nya, lebih nyaman tentang tata kelola penelitian.

Mungkin karena saya kuliah tidak ambil ilmu psikologi atau filsafat, maka buku ini terasa sangat bervitamin. Cara kerja otak merupakan objek telaah dari berbagai disiplin ilmu seperti fisiologi, psikologi, kimia, matematika, fisika, teknik, dan neuro-fisiologi. Kadang kurang disadari bahwa tiap ilmu, terutama ilmu-ilmu sosial, mempunyai asumsi tertentu tentang manusia yang menjadi lakon utama dalam kajian keilmuannya. Ilmu sosial juga terasa fun ternyata kalau pembawaannya asyik.

Begitu juga agama, jelas disinggung. Kalau ilmu bersifat nisbi dan pragmatis, maka agama adalah mutlak dan abadi. Maka kata Einstein: “Ilmu tanpa agama adalah buta, agama tanpa ilmu adalah lumpuh… mengapa ilmu yang sangat indah ini, yang menghemat kerja dan membikin hidup lebih mudah, hanya membawa kebahagiaan yang sedikit kepada kita?”

Ilmu dikacaukan oleh seni, ilmu dikonfrontasikan dengan agama, bukankah tak ada anarki yang lebih menyedihkan dari itu? Kehendak Tuhan tidak akan pernah kita ketahui, dan Bruder Juniper dalam karya sastra klasik The Bridge of San Luis Rey berujar, “Tuhan terhadap kita adalah bagaikan lalat yang dibunuh kanak-kanak pada suatu hari di musim panas.”

Manusia adalah makhluk yang berpikir, merasa, mengindera, dan totalitas pengetahuannya berasal dari ketiga sumber tersebut; di samping wahyu: yang merupakan komunikasi Sang Pencipta dengan makhluk-Nya. Kegiatan penalaran merupakan suatu proses berpikir logis, di mana berpikir logis di sini harus diartikan sebagai kegiatan berpikir menurut pola tertentu, atau dengan perkataan lain, logika tertentu. Berpikir logis mempunyai konotasi yang bersifat jamak (prural) dan bukan tunggal (singular).

Perasaan merupakan suatu penarikan kesimpulan yang tidak berdasarkan penalaran. Kegiatan berpikir juga ada yang tidak berdasarkan penalaran umpannya intuisi yang merupakan kegiatan berpikir nonanalitik yang tidka berdasarkan diri kepada suatu pola berpikir tertentu. Wahyu (atau dalam hal ini Tuhan yang menyampaikan wahyu) dan intuisi adalah sumber pengetahuan.

Rasio adalah sumber kebenaran mengembangkan paham yang menyatakan bahwa fakta yang tertangkap lewat pengalaman manusia merupakan sumber kebenaran mengembangkan paham empirisme. Jadi penalaran deduktif terkait rasionalime, dan penalaran induktif dengan empirisme. Jadi sumber-sumber pengetahuan ada empat: rasio, pengalaman, intuisi, wahyu. Dengan demikian kita bisa menelaah hakikat ilmu dengan saksama.

Intuisi merupakan pengetahuan yang didapatkan tanpa melalui proses penalaran tertentu. Tanpa melalui proses berpikir yang berliku-liku tiba-tiba saja dia sudah sampai di situ. Suatu masalah yang sedang kita pikirkan, yang kemudian kita tunda karena menemui jalan buntu, tiba-tiba saja muncul di benak kita yang lengkap dengan jawabannya. Kita merasa yakin bahwa memang itulah jawabannya yang kita cari namun kita tidak bisa menjelaskan bagaimana caranya kita sampai ke sana. Bagi Maslow, intuisi merupakan puncak pengalaman, bagi Nietzsche merupakan intelegensia yang paling tinggi.

Agama merupakan pengetahuan bukan saja mengenai kehidupan sekarang yang terjangkau pengalaman, namun juga mencakup masalah-masalah yang bersifat transcendental seperti latar belakang penciptaan manusia dan hari akhirat nanti. Kepercayaan merupakan titik tolak dalam agama. Suatu pernyataan harus dipercaya dulu untuk dapat diterima. Singkatnya, agama dimulai dengan rasa percaya, dan lewat pengkajian selanjutnya kepercayaan itu bisa meningkat atau menurun. Pengetahuan lain, seperti ilmu umpamanya, bertitik tolak sebaliknya. Ilmu dimulai dengan rasa tidak percaya, dan setelah melalui proses pengkajian ilmiah, kita bisa diyakinkan atau tetap pada pendirian semula.

Humaniora terdiri atas seni, filsafat, agama, bahasa, dan sejarah. Sejarah kadang dimasukkan juga ke dalam ilmu-ilmu sosial dan merupakan kontroversial yang berkepanjangan apakah sejarah itu ilmu ataukah humaniora.

Animisme merupakan kepercayaan yang berdasarkan pemikiran supernaturalisme, di mana manusia percaya pada roh-roh yang gaib yang ada di benda-benda, dan merupakan kepercayaan yang paling tua. Materialisme merupakan paham berdasar naturalism berpendapat bahwa gejala alam tidak disebabkan oleh pengaruh kekuatan gaib, melainkan karena kekuatan yang terdapat di alam itu sendiri.

Descartes, Locke, dan Berkeley berpendapat bahwa apa yang ditangkap oleh pikiran, termasuk penginderaan dari segenap pengalaman manusia, adalah bersifat mental. Bagi Descartes maka yang bersifat nyata adalah pikiran sebab dengan berpikir maka sesuatu itu lantas ada. Locke menganggap pikiran manusia pada mulanya dapat diibaratkan sebuah lempeng lilin yang licin (tabula rasa) di mana pengalaman indera kemudian melekat pada lempeng tersebut. Dengan demikian pikiran diibaratkan sebagai organ yang menangkap dan menyimpan pengalaman indera. Berkeley terkenal dengan pernyataan ‘To be is to be perceived’ – ada adalah disebabkan persepsi.

Thomas Hobbes menyimpulkan bahwa pengetahuan adalah bersifat empiris yang dicerminkan oleh zat dan gerak yang bersifat universal. Ini lawan dari aliran fatalism yang berpendapat segala kejadian ditentukan oleh nasib yang telah ditetapkan lebih dulu. Demikian juga paham determinisme bertentangan dengan penganut pilihan bebas yang menyatakan manusia mempunyai kebebasan dalam menentukan pilihannya tidak terikat kepada hukum alam yang tidak memberikan alternatif.

Ilmu sekadar merupakan pengetahuan yang mempunyai kegunaan praktis yang dapat membantu kehidupan manusia secara pragmatis. Ilmu memulai penjelajahannya pada pengalaman manusia dan berhenti di batas pengalaman manusia. Ilmu tak mempelajari surga neraka sebab surga neraka berada di luar jangkauan pengalaman manusia. Matematika bukan merupakan ilmu, melainkan cara berpikir deduktif. Matematika merupakan sarana berpikir yang penting sekali dalam kegiatan disiplin ilmu.

Berpikir adalah kegiatan mental yang menghasilkan pengetahuan. Hipotesis merupakan dugaan atau jawaban sementara terhadap permasalahan yang sedang kita hadapi. Dalam melakukan penelitian untuk mendapatkan jawaban yang benar maka seakan-akan ilmuwan melakukan suatu ‘integrasi terhadap alam’.

Ilmu sekadar alat dan semuanya tergantung kepada kita mempergunakan alat itu dengan baik atau tidak. Menolak kehadiran ilmu dengan picik berarti kita menutup mata terhadap semua kemajuan masa kini di mana hampir semua aspek kehidupan modern dipengaruhi oleh produk ilmu dan teknologi. Syair Byron dalam Manfred, di mana pengetahuan tak membawa kita bahagia, dan ilmu sekadar bentuk lain dari ketidakbahagiaan.

Pengetahuan ilmiah pada hakikatnya mempunyai tida fungsi: menjelaskan, meramalkan, dan mengontrol. Tantum possumus, ujar Francis Bacon, quantum scimus! (Kita dapat melakukan sesuatu sebatas yang kita tahu!). “Jika saya mampu melihat jauh maka hal itu disebabkan oleh sebab saya berdiri di puncak para jenius terdahulu.”Newton

Tak pernah ada binatang yang membikin perang,” kata Aldous Huxley, “Karena mereka tak mempunyai sesuatu yang dianggap luhur. Apakah yang lebih luhur lagi bagi seekor harimau selain daging dan betinanya? Mereka tak mempunyai mekanisme verbal untuk mengemukakan dan mempertahankan apa yang dianggap luhur…”

Peradaban manusia sangat berutang pada ilmu dan teknologi. Perkembangan ilmu sering melupakan faktor manusia, di mana bukan lagi teknologi yang berkembang seiring dengan perkembangan dan kebutuhan manusia, namun justru sebaliknya, manusialah akhirnya yang harus menyesuaikan diri dengan teknologi. (Jaques Ellul, The Technological Society). Secara moral ilmu ditunjukkan untuk kebaikan manusia tanpa merendahkan martabat atau mengubah hakikat kemanusiaan.

Menurut Alfred Korzybski, “kebudayaan mempunyai kemampuan mengikat waktu. Tanaman mengikat bahan-bahan kimia, binatang mengikat ruang, tetapi hanya manusia seorang yang mampu mengikat waktu.” Kegiatan kreatif berarti melakukan sesuatu yang lain, suatu pola yang bersifat alternatif, bagi kelaziman yang bersifat baku. Improvisasi yang baik tidak mungkin dilakukan tanpa mengenal tema pokok serta teknik-teknik dasar untuk pengungkapan secara kreatif.

Kejelasan menulis adalah masalah psikologis, di mana sering kali ditemui ilmuwan yang menderita rasa rendah diri yang menyebabkan mereka secara terus-menerus harus memompa ego mereka dengan menulis sekabur mungkin.”E. Bright Wilson Jr., An Introduction to Scientific, Research.

Seorang yang pikirannya semrawut akan menulis secara semrawut pula. Humor mengajarkan toleransi, dan seorang humoris, dengan senyum di bibirnya, sambil menghela napas kemungkinan besar akan mengangkat bahu daripada harus memaki-maki…”W. Somerset Maugham, The Summing Up

Ah,” keluh sejarawan Hendrik Willen van Loon, “ingin saya menuliskan sejarah dengan satu suku kata.” / “Satu suku kata mungkin tak bisa,” jawab seorang ilmuwan, “namun mungkin ada kalimat yang patut diingat oleh mereka yang mendalami perkembangan ilmu.” / “Yakni…” / “Jangan putar jarum sejarah!

Sajak Sutarji atau lagu Ebiet fungsinya memang bersifat estetik, yang kalau kita konsumsikan dengan baik, memberikan kenikmatan batiniah. “Tiap ilmu dimulai dengan filsafat dan diakhiri dengan seni.” Kata Will Durant.

Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer | by Jujun S. Suriasumantri | 84 UM 02 | Desain sampul Natasa T. | Penerbit Sinar Harapan, Jakarta | Cetakan kedelapan belas, April 2005 | Skor: 5/5

Karawang, 030321 – 100321– 190321 – Ida Laila – Bunga Dahlia

Thx to Ade Buku, Bandung

Parolo dan Senyumnya

Review match: Bayern Munchen (2) Vs. SS Lazio (1)

Pergilah kau ke bintang-bintang, anak muda!”Virgil (70-19 SM)

SS Lazio, setelah tiga belas tahun absen di kompetisi Liga Champions Eropa (UCL), di masa nostalgia ini akhirnya terhenti langkahnya di 16 Besar. Terasa wajar dan nyaris normal jika diukur dengan standar masa kini. Auranya memang beda, suasana kompetisi bagai festival, mirip acara yang unik. Menimbulkan emosi campur aduk. Saya sedang dalam suasana hati untuk menikmati menit-menit berharga Lazio di Liga Champions. Saya mencoba memenuhi tulisan ini dengan detail laga yang bisa kuingat.

Saat masuk lapangan, tak ada sesuatu yang teatrikal dalam perilaku pemain Lazio, dengan ban kapten tersemat di lengan Savic, Luis Alberto mengacungkan kedua tangan ke langit. Cara berjalan mereka biasa saja. Padahal Allianz Arena, tempat persidangan leg dua ini bernuansa teater, lengkap dengan puluhan mic di pinggir pentas, dan dengan logo besar Bayern di kursi penonton. Kedua pelatih berteriak sepanjang laga, kadang keluar garis menghasilkan efek tertentu. Tempat ini sudah banyak menjadi ladang pembantaian para tamu, ternyata kami bukan salah satunya.

Starter yang dipilih agak mengejutkan, tak ada Immobile. Tanpa memainkan Immobile yang dapat sepatu emas? Saya berusaha memahami apa yang belum bisa benar-benar dipahami. Inzaghi terkadang bisa sangat persuasif, tidak sering, sesekali. Ini partai penting, mungkinkah karena target agregat yang tinggi? Saya mendapat kesan, ia terlalu bekerja keras dengan skuat sepemberian Presiden Klub, tak banyak menuntut. Kesetiaan formasi 3-5-2 dengan berbagai modifikasi pemain sudah menjadi paten, bahkan setelah melatih lima tahun – keputusan ini masih membuatku terkejut.

Sisi kiper sudah paten. Bek selama Radu mau main akan diberi menit, begitu pula Acerbi, satu lagi bersyukurlah bukan ketiga pemain ini: Patric, Musacchio, Hoedt. Lazzari ternyata sudah fit, Escalante pertama kalinya starter, Savic dan Luis Alberto tetap yang terbaik, dan Fares-lah kepingan kelima. Keputusan memainkan penyerang termahal Lazio: Muriqi yang paling tak terantisipasi.

Biasanya kita ofensif, tapi berhubung ini bukan Serie A, pola mainnya menunggu, padahal kita dalam posisi butuh gol cepat. Strategi konsolidasi ini pada pokoknya bersifat aman, sumber dayanya saja yang terbatas. Tidak semua gagasan bagus bisa dipraktekkan. Kekuatannya adalah disiplin dan tindakan cepat saat pemain lawan menutup ruang. Kreativitas adalah sebuah peristiwa spiritual. Kesabaran permainan, memancing pemain lawan maju sungguh menggetarkan. Kita tak memiliki keuntungan waktu, dan kita sadar mereka akan turut bosan dengan bola-bola pendek memainkan posisi. Menanti mereka mengendurkan penjagaan, menunggu melakukan kesalahan. Harus diakui tuan rumah sukses meredamnya, siapa yang mau memperdebatkan keberhasilan?

Seperti yang sudah diduga, situasi lini belakang Lazio tampak sibuk bukan karena serangan lawan, tapi justru sebab susunan serangan sendiri, hanya sekadar melewati garis tengah terasa sulit. Rencananya cukup jelas, detailnya kacau balau. Dari kesabaran memainkan tempo itu, Lazio memiliki satu peluang emas yang prosesnya ciamik. Menit ke-14, Savic menerima umpan lambung dari Acerbi yang tepat di depan gawang, sayangnya sundulannya lemah. Sejatinya, skenario itu untuk Si Bajak Laut yang memang memiliki akurasi bagus saat berduel udara.

Setengah jam berlalu. Sesaat setelah sepak pojok tuan rumah diambil, meriam pertama berdentum di atas kepala kami, selama sepersekian detik saya mengira itu pelanggaran buat kami, ada yang melecut tajam di udara, dan karena kami sudah bermain apik sedari awal, protes dilancarkan, keadaan tegang, Acerbi diacungi kuning, kami membeku sejenak seakan tak percaya, lalu saya menggerung karena reaksi yang tertunda. Permainan tempo Lazio dirampok, secara instan terbesit judul tulisan ini melolong: “Lazio Dirampok”. Namun pada akhirnya pengalaman memang memberi andil semestinya. Senggolan Muriqi dalam kotak pinalti seolah ada dalam garis naskah cerita, bagaikan bubuk mesiu yang menunggu api kena tiup. Muriqi boleh diperbedat apakah benar melakukan pelanggaran, yang pasti justru dia membuatku ketakutan, padahal kita berada di pihak yang sama. Gol kelima agregat hadir dari pinalti, ah tekanan tambahan. Akibat gol pinalti itu, tanganku berkeringat, degub debar dimulai, telingaku berdenging. Setelahnya kami semua berlari dengan langkah-langkah berat, seperti orang yang menuju eksekusi. Awan gelap menggantung di langit, para pemain bergegas-gegas merapatkan barisan. Pertandingan terasa lebih singkat daripada yang diantisipasi.

Saya menyeruput kopi lagi, dan duduk lebih tegak di ruang tamu sendirian di dini hari yang pekat, menampari nyamuk yang sesekali datang, lalu menilai situasi. Ruangan ini penuh buku, laba-laba, berdebu, dan saya terjebak di sekelilingnya. Malam di musim penghujan di Karawang yang dingin, dari jendela terlihat bulan sabit, kesunyiannya menyusup.

Dengan memasukkan Lulic di pergantian babak, tampak Inzaghi kembali mencabut senjata dan berusaha menyamakan kedudukan. Inzaghi menunggu dengan sabar. Sebenarnya, kesabarannya justru mulai membuatku gugup. Namun setelah sepuluh menit tanpa perbedaan, ia menarik Muriqi dan bukannya memasukkan Immobile untuk menyelaraskan situasi. Maka masuknya gelandang bertahan Parolo adalah indikasi kami mengamankan diri. Gol pertama menembus kebuntuan mereka, gol kedua lebih ke kepastian terkuncinya kami tak melangkah ke 8 besar.

Parolo terlihat sangat menikmati satu golnya lagi di UCL, lihat selebrasi berlebihnya, senyumnya merekah. Merangkul Radu, keduanya adalah kombinasi arti setia sampai senja. Kesetiaannya yang luar biasa ini selalu memesonaku, membuatku bergetar terharu, bisa jadi ini musim terakhirnya bersama Lazio. Dengan gol itu, indikasi Parolo untuk bertahan jelas ada, secara terbuka sudah mengakui, mungkin semusim lagi, hanya saja saya tak tahu seberapa besar keinginan itu dikabulkan menajemen. Saya benar-benar menginginkannya tetap tinggal. Parolo dan senyumnya telah mewakili kami keluar arena dengan sehormat-hormatnya.

Kulihat Caicedo di baris kedua kursi cadangan, dan kita bisa memaklumi apa yang ada di pikiran sang pelatih. Maka sisa laga yang tak lama, bukan senjata rahasia yang dimasukkan tapi Akpa Akpro sebagai opsi menyimpan tenaga sang striker untuk kompetisi lokal.

Lazio di UCL 2021 memang tak semewah Lazio di UCL 2000, saya ingat cerita-ceritanya, detail-detail kenangannya, masa kejayaan bersama Sven-Goran Eriksson. Saya ingat keduapuluh tiga pemainnya dan perjalanan sampai ke fase gugur di perempat final. Lazio kini terhenti oleh sang juara bertahan yang gaji skuat cadangannya lebih tinggi dari seluruh pasukan kami, plus pelatih dan stafnya. Dalam konferensi pers seusai laga, Acerbi bilang, “Lazio pulang dari Jerman dengan kepala tegak.” Ia membumbui kegagalan ini dengan hujan alasan yang mengesankan.

Gempuran besar dengan serangan-serangan memukau dari juara bertahan yang kukhawatirkan ternyata tak ada. Mungkin sedikit membuat kecewa Romanisti, satu dua orang Tru Blue dan para Cules mencari teman sependeritaan. Tidak, kami keluar kompetisi dengan tepuk tangan meriah. Selamat, Bayern Munchen melaju ke daftar pendek melengkapi tujuh kontestan lain, saya tak peduli. Itu akan menjadi cerita bagi fans lain.

Membandingkan cerita, menciptakan detail baru. Seperti itulah kejadiaanya. Memang itulah yang terjadi. Karena ini hanya sesobek bukti kesabaran mendukung tim yang tak bertradisi di Liga Para Juara. Seni memuja cinta pertama, salah satu resep yang dianjurkan oleh semua orang. Apa saja yang sudah dimulai, jauh dari akhir. Sampai jumpa musim depan (di Liga Champions lagi). Jreng jreng jreng…

Karawang, 180321 – Setelah Jumpa Pertama

Lazione P. Budy

Kopi di kanan, buku di kiri, musik Jazz bergentayangan di sekitar. Laziale anggota tercatat nomor empat belas dari Karawang. Hobi makan bakso dengan kuah melimpah. Bisa disapa di twitter @lazione_budy

Allianz Arena Munchen Seperti Jutaan Kilometer Jauhnya, tapi Masih Jauh Lebih Dekat Daripada Ataturk Olympic Stadium, Istanbul

Preview match: Bayern Munchen Vs. SS Lazio

Manusia itu jarang betulnya, kalaupun betul sekadar kebetulan, manusia itu jarang salahnya, kalaupun salah sekadar kesalahan.” – Pujangga Hasan Mustafa

Skuat Lazio akan melawat ke Jerman dengan hati berdebar. Bisa bertahan atau terbantaikah adalah pertanyaan yang membelah udara seperti senapan di banyak arena sosial media. Harus ada yang memiliki keberanian, rasanya memang menggetarkan misi agregat yang diemban, empat gol sebagai tamu, tapi kami harus melanjutkan. Kami takkan pernah mundur. Sekarang ini di 16 Besar sudah tak ada apa-apa kecuali spekulasi terang-terangan bahwa peluang kami kecil.

Mereka habis menjadi juara enam kali di enam kompetisi yang diikuti, saya bisa menulis setebal buku telepon Yellowpage penuh penjabaran mutu pemainnya, hanya sedikit yang bergaji kecil, hanya sedikit yang berharga murah di transfer market. Iya saya tahu Lazio kalah banderol dan tak berpengalaman. Kalau kita terlalu takut di pertempuran, kita akan ditaklukkan. Maka beranilah! Allianz Arena Munchen seperti jutaan kilometer jauhnya, tapi masih jauh lebih dekat daripada Ataturk Olympic Stadium, Istanbul. “Ini hanya satu setengah jam, jadi santailah…”

Di banyak diskusi, percakapan dimulai dengan bom dan serangan terhadap lawan-lawan Bayern Munchen sebelumnya, sebut saja skor-skor gede saat bercumbu dengan Barcelona, Chelsea, atau Roma. Bagaimana mereka luluh lantak dan awan ketakutan ditebar karenanya. Mereka, fans tim lain dari luar lingkar fase knock out menghujani kami dengan sinis dan keraguan, beberapa mungkin simpati, rasanya saya berbicara membela lebih banyak daripada yang kuinginkan. Perasaan terbakar dimulai dari kepala, dan menyebar ke segala badan hingga cacian mencuat saat sensasi itu menghantam bagian belakang tenggorokan, saya merasa terpanggang. Maka saya harus menulisnya. (COT)

Claudio Lotito mempertahankan kepercayaan lama bahwa berbelanja mahal di tengah musim itu perborosan dan dosa. Tak butuh waktu lama untuk pembuktian, satu-satunya rekrutan Januari lalu adalah kesalahan. Gratis dan tak terpakai, memang apa yang diharapkan? Mateo Musacchio seolah amatir di tengah Si Bocah dan Si Tampan (kalian tahu yang saya maksud), tak heran blunder itu adalah pematik utama ia dipinggirkan. Ia lambat dan metodis, bahkan lebih lambat dari Parolo yang menua.

Hasil-hasil pasca laga leg satu memicu keributan di banyak grup diskusi Laziale, kalah dua kali beruntun dari Bologna dan Juventus. Saya merasa perebutan Scudetto turut menyusut. Laziale yang marah menyebut dengan makian yang meriah. Bentuk protes dan marah berlebih, ini benar-benar menyentuh, tapi tak bisa diterima. Bologna berpotensi tertinggal, pinalti Immobile sangat jarang gagal, malam itu memang tampak janggal dan dalam hitungan singkat malah lawan unggul. Juventus kelabakan di menit mula, ada empat peluang bersih yang bisa menutup peluang Nyonya Tua, tapi babak pertama malah imbang lalu kesalahan memasukkan dua pemain mengakhiri keseruan harap. Saya duduk dengan hati mendidih saat gol Morata terjadi. Kupelototi Patric dan Escalante bergantian tiap tampak di layar dan berusaha tak berkata kasar sepanjang sisa laga.

Masih untung laga ketiga menang, walau sulit. Inzaghi pernah salah, tapi tak pernah ragu-ragu. Saat skor sama kuat, ia memasukkan senjata rahasia, yah siapa lagi? Jelas Felipe Caicedo. Ia melakukan selebrasi dengan tatapan hampa ke kamera, seolah bilang, “Jangan khawatir, ada saya.” Tak seorangpun meragukan status supersub-nya, perhatikan gol indah itu, sepakan Escalante kencang dan terarah sebab maksudnya memang shoot ke gawang, Si Keling bisa tenang mengontrolnya dengan satu kakinya, menjinakkannya untuk menempatkan bola dalam ruang tembak seolah binatang jinak, lalu dengan satu kaki lainnya menceploskannya maksimal. Dentuman tajam mengguncang syarafku. Kenapa bunyinya harus sekeras itu? Sesudahnya, kami berhasil mengatasi rasa terkejut. Ini Caicedo Sang Panther Hitam, Bung. Sudah biasa mencipta sensasi menit akhir ‘kan?!

Bagaimana peluang leg kedua malam ini? Baik, saya akan meraba kemungkinan pasukan yang dimainkan. Kiper sudah dikunci milik Reina, tua dan pengalaman. Strakosha kontraknya menyisa setahun, musim ini tersingkir lembut walau label cedera terkadang dikalungkan. Rasanya riskan memainkan kiper labil ‘kan. Bagian belakang akan bikin gemetar kalau melihat daftar pilihan. Radu berusia tiga puluh empat tahun dan masih banyak kasih kontribusi, tapi masalah lain mengintai. Lihatlah dua gol awal versus Crotone, itu umpan lambung terukur dari jiwa yang tenang, yang menjelma asis. Gol Savic emosional sebab selebrasinya merangkul hangat Radu. Sehingga tak perlu ragu menempatkannya di starting bersama Acerbi. Satu lagi bakal diisi antara Patric, Hoedt, atau bahkan Musacchio. Bek bagus kita terbatas, memilih satu dari ketiga itu membuat Inzaghi akan sering minum panadol, ngelu.

Sektor tengah, sayang sekali Manusia Cepat Manuel Lazzari cedera, ia akan cocok di sayap kiri bersama Marusic di bagian sayap lain, jadi Fares-lah yang kemungkinan akan mengisinya. Luis Alberto tetap akan jadi sentral serangan, paten seperti Leiva di sentral tengah belakang, Savic melengkapi kepingan. Impian Savic adalah membawa Lazio di UCL, setelah terwujud apakah Madrid mendengar impian liarnya pula? Gagasan menempatkan Muriqi/Caicedo di tengah Immobile dan Correa sejak menit pertama, bisa dianggap sinting, yah mau gmana lagi? Kepalang tanggung. Namun Inzaghi mencintai strategi 3-5-2, sama seperti ia mencintai istrinya. Ia tak menyukai kalah, apalagi kalah besar. Tenang Laz, Ia akan bekerja untuk melindungi kami dari keduanya.

Untuk memulai laga 90 menit nanti, saya akan menutup mata rapat-rapat dan berdoa. Doa yang singkat tapi tulus. Dan karena Muriqi seharga 18 juta Euro plus bonus dua, ia layak diberi menit lebih. Semoga ada yang bisa dipamerkan di scoresheet sebagai dari hasil dari kesabaran, usaha, dan kesempatan musim perdananya di Italia. Bisa jadi salah satu sundulannya membuat Manuel Neuer memungut bola di jala.

Saya memuja Lazio, sama seperti memuji kesebelas starter yang dipilih pelatih beserta cadangannya. Cinta ini tak pernah mati, dan tak boleh mati apapun hasil akhir tiap musim. Lazio juara atau tidak, apa bedanya? Musim depan Serie A masih 38 pertandingan, Coppa masih menawarkan gengsi yang sama, kompetisi Eropa di manapun Tim Elang Biru berada akan tetap semarak. “Oh Tuhan, padahal Laziale kalau udah ngumpul semua ceria. Haha hihi ketawa ketiwi. Mereka mabuk seperti sigung.”

Saya berkata kepada diri sendiri sedikitnya satu kali sehari bahwa tim ini layak dicintai. Di Jerman Kamis dini hari esok, tidak ada yang membuatku takut. Ada yang menyinggung prediksi, pertanyaan yang sama tiap Lazio akan bermain. Jawaban juga sama. Ini Lazio kami, ini tim kebanggan kita. Apapun aktual fulltime-nya, saya akan berkata dan sekeras mungkin: #ForzaLazio!

Dengan kesabaran sedikit lagi, saya masih sangat meyakini Lazio bersama Inzaghi akan mendapat gelar bergengsi dua-tiga tahun lagi, saya masih tak meragukan hal itu. Saya akan menunggu, dan untuk itulah saya yakin.

Karawang, 150321 – Ida Laila – Bunga Dahlia

Lazione P. Budy

Kopi di kanan, buku di kiri, musik Jazz bergentayangan di sekitar. Laziale anggota tercatat nomor empat belas dari Karawang. Hobi makan bakso dengan kuah melimpah. Bisa disapa di twitter @lazione_budy

Sastra Aksi Berlapis

Anwar Tohari Mencari Mati by Mahfud Ikhwan

Dan tentu saja ini baru awal dari cerita yang lebih panjang.”

Berkelas. Bagus sekali. Rentetan katanya menyemburkan degub khawatir dan caci maki kepuasan. Dalam puncak ketegangan, saya benar-benar menikmati adu jurus di atas jembatan itu. Setidaknya tiga kali pada bab pertarungan kusela tepuk tangan dan kepal tangan. Bravo! Cerita-cerita pun mengalir dahsyat, dan saya hampir mengeluarkan HP buat kubaca rekam. Mungkin akan kulakukan nanti pas baca ulang. Bergaul dengan Warto Kemplung membuatku berlajar seni bercerita. Senyumnya bagai sambaran kilat, dan berhasil memainkan tempo.

Berbulan-bulan setelah baca Dawuk: Kisah Kelabu dari Rumbuk Randu, banjir spekulasi. Akhir menggantung, sang jagoan dikepung api dan tak terjelaskan apakah akhirnya tewas tersebab kerelaan hidup yang hampa ataukah berhasil mentas dari kobaran. Tak dinyana, tanya itu dijawab dengan kisah lain yang sama membaranya.

Sejujurnya terlalu banyak daya tarik Dawuk yang bisa dikembangkan, meneruskan kisah bagus itu riskan. Takut merusak, hal itu langsung kurasakan di bab mula kisah Anwar Tohari Mencari Mati. Warto Kemplung yang jago bercerita di warung kopi Bu Siti, kembali membual di lain pagi, dan benar saja, ini sekuel tentang balas dendam! Itu bisa jadi motif yang kita cari, balas dendam tentu saja, mereka ini orang-orang jahat. Pembuka itu ditutup dengan tanya lebih besar, sebab ini bukan balas dendam yang kukira, bukan balas dendam biasa, ini justru riwayat hidup karakter idola kita semua: Warto Kemplung, terlihat Cak Mahfud menjejalkan suku kata ‘War’ dari Warto untuk mencipta nama Anwar lalu mengekorkan nama besar sastrawan kita: Tohari. Si tukang kibul peminta rokok dan kopi ternyata seorang pendekar sakti.

Separuh pertama kisah berlapis memusing bak karya David Lynch, lapisan bawang yang dikupas memberi kehidupan kisah lainnya, awalnya teratur helainya lalu ambyar di tengah, seru dan meliar tak terkendali di akhir. Mustofa Abdul Wahab, Mas Wartawan, menerima kiriman surat dari Imam Widjaja, yang merasa cerbung Dawuk di koran yang ia kelola ada kejanggalan. Sang pengirim mendaku sahabat lama Warto Kemplung, dan protes seharusnya kisah mengambil sudut pandang darinya. Kenapa? Ia lalu mengisahkan masa lalu persahabatan mereka…

Anwar Tohari yang remuk redam patah hati kabur dari Rumbuk Randu sebab pujaan hati Rukaniyati dijodohkan gurunya sama orang lain, ia ke dunia luar mencari tantangan entah apa. Jelas judul buku diambil dari sini, ia tampak cuek akan kehidupan, rela mati tapi tak berani bunuh diri. Digambarkan ia sakti mandraguna, seperti saat di tumpangan truk, ia bisa berkelebat ke muatan untuk menghajar bajing loncat, atau saat mengikuti dua motor yang melaju. Usain Bolt saja pasti terengah-engah kejar kendaraan. Dengan sarung pemberian, seolah senjata penting ia lalu melanjutkan petualangan.

Saya tak mengerti kenapa saya tak diterima di sini, tapi saya tak bisa menerimanya. Mungkin itulah kalimat terbesit terendam. Di sebuah tongkrongan malam, saat empat lulusan mahasiswa (ralat, tiga mahasiswa sebab satunya lagi berlayar) bernostalgia dan berdiskusi terkait pembantaian antek PKI, Anwar langsung menyautbukan begitu’, orang asing menempatkan diri dalam debat, malah mencipta persahabatan. Iman seorang Chinese memiliki kios koran milik orangtuanya, istilahnya tukang kliping. Dan di sinilah persahabatan itu benar-benar terjalin, termasuk saat muncul tokoh penting Maria Ratna Dacosta yang cerdas, jatuh hati pada Anwar tapi ditolak. Sempat terjadi gap hubungan sebab Imam marah, ini cewek sempurna ditolak gembel nyeleneh. Namun tetap saja, mereka kembali berteman, malam itulah mereka memutuskan nonton ludruk di kota jauh, dengan vespa menembus malam.

Kukira inilah puncaknya, di atas jembatan terjadi adegan pertarungan dua pendekar. Sang Penulis menyebutnya dalam bab, “Betapa sulitnya menceritakan ulang pertarungan itu.” Dua macan dalam sangkar, akan terjadi kerusakan yang tak bisa diperbaiki. Di sana, di tengah malam pekat itu merupakan lubang gelap yang luas, dan kita takut berada terlalu dekat dengan adu ilmu. Anwar Tohari yang penampilannya bak gelandangan itu bertarung hebat melawan pendendam yang punya jimat. Membayangkan saja, rasanya pengen tertawa setiap Imam gemetar di pojok jembatan menjadi saksi, sungguh aduhai. Akhirnya tertebak, sebab kita tahu dua karakter utama ini selamat. Namun, apa yang kukira puncak ternyata bukan, buku ini kembali mendaki, tengengah-engah berhiking sampai akhir yang sulit ditebak, rasanya tak mau berhenti, ada lagi hempasan menakjubkan. Reaksi mereka mengagumkan, setiap pembaca tampak terkejut. Seperti kata Mustofa, “Orang-orang dari masa lalu ini memang benar-benar berkomplot untuk membingungkanku.”

Kita kembali ke masa kini, mendapati Imam sekarat dan meminta Anwar dan Mustofa ke sana sebelum terlambat. Lalu apa yang kita dapat adalah rona-rona filosofis seolah tak bertepi. Jingan, keren banget. Inilah sastra action (aksi) masa kini, apa yang ditampilkan di permukaan bukanlah aslinya. Sastra berlapis aksi.

Saya langsung googling lagu-lagu Ida Laila dan betapa saya menikmati lagunya. Hebat, saya ternyata sudah begitu familiar sama tracklist-nya. Inilah lagu-lagu yang sering kudengar di tempat gawe waktu kecil, menjadi teman ngopi Bapak selepas Magrib di Radio JIP FM (Solo) bersama lagu lain bergenre dangdut, campursari, hingga klenengan. Maka ketika kunikmati berulangkali, sungguh aduhai langsung klik dan suka. Saya tumbuh remaja bersama kaset pita, apa yang dirasakan anak-anak 1980-an dan 1990-an digambarkan mantab dalam kotak kaset. Menjadi terlalu emosional dan kenangan itu layak disimpan.

Saya membayangkan menjadi Mustofa, mendapati surat-surat, terombang-ambing dalam kebimbangan. Keberhasilan buku fiksi ditentukan di sini, pembaca turut merasakan emosi dan seolah memiliki pilihan, andai saya di posisi itu jelas tidak bisa menolaknya mentah-mentah, apalagi kata-katanya masuk akal. Cerita itu lugas, faktual, terinci, ditulis dengan baik, dan terasa tak berlebihan sedikit pun. Dan saat membacanya saya turut serta mencoba belajar dari usaha membuat sensasional situasi. Jadi saat akhirnya ia memutuskan berangkat, terasa wajar. Lalu kita dihadapkan adegan di mobil amarah, kita malah menghadapi masalah yang jauh lebih penting untuk diributkan. Dan pengaruhnya benar-benar menghancurkan, kilat pikir penuh penyesalan, dan ribuan andai mencuat liar, atau dalam satu kalimat, “memainkan dramanya dengan sempurna.”

Bacaan sastra dengan ketangkasan adu fisik mendebarkan semacam ini diyakini berhasil menjaring banyak pembaca, memuaskan pembaca. Bayangkan, ini novel dan kita dijejali pengandaian bak komik adu jotos. Kata-kata di komik – zdig, blam, pakkk, woof, bzuk, paw, dan semacamnya. Lagi-lagi adegan di atas jembatan, sungguh syahdu. Dua pendekar bertarung di sela pertanyaan-pertanyaan antah yang terarah dan sinis. Saat pancing amarah kena, jelas sangat gusar, pertanda bagus! Musuhnya terus menyerangnya, hingga kita lelah. Sampai akhirnya sang jagoan terpaksa mengambil sikap. Anwar membiarkan jawaban-jawaban meresap, lalu melanjutkan momentum. Seakan setiap rincian ucap akan diselidiki dengan teliti dan setiap kebohongan akan diungkap.

Sungguh cerdas dengan mengambil sudut sisi luar, menyaksi. Mereka ada di sana, saya ada di sana, kita semua di sana: berdansa. Satu hal memicu hal lainnya. Setelah bab itu usai rasanya saya benar-benar menginginkan tetap tinggal. Saya tak ingin ke kantor polisi menenteng mayat, saya tak ingin subuh menjulang, saya tak ingin berakhir. Saya tak ingin kehilangan selera silat yang tadinya kuhayati, kumiliki. Saya ingin lebih.

Menempatkan warung kopi menjadi eksekusi akhir tampak lumrah dan pas, bahkan untuk tempat yang sudah terbengkalai. Saya tahu bahwa gosip di warung kopi ada gunanya. Orang-orang ribut di sana. Kemplung seolah menjadi kata umpatan. Maka di warung senyap itulah, kesedihan tampak nyata, emosinya meletup-letup, sulit dibayangkan dan dihayati hingga selesai. Bagaimana cara Cak Mahfud menjelaskan detail itu kepada kita? Menurut al kitab, ‘mata diganti mata’, maka seharusnya nyawa dibalas nyawa. Saya rasa itu tidak harus selalu berlaku.

Akhir Anwar Tohari Mencari Mati sendiri juga menggantung, sebab ada nama Suharto yang sepertinya siap menjadi bahan bakar bualan berikutnya, lalu karena kita tahu Warto sakti, ia seolah bisa mencium ketidakberesan sahabatnya walau berada jauh ruang. Sungguh menarik, sungguh liar, sungguh jantan.

Anwar Tohari Mencari Mati | Tahun 2021 | by Mahfud Ikhwan | Penerbit Marjin Kiri | Cetakan pertama, Februari 2021 | I – vi + 207 hlm, 14 x 20.3 cm | ISBN 978-602-0788-12-8 | Sampul diolah dari foto D. Anikin | Skor: 5/5

Mengenang sahabat dan saudaraku, Anas AG (1978-2018)

Karawang, 080321 – Ida Iaila – Bunga Dahlia

Lazione P. Budy

Kopi di kanan, buku di kiri, musik Jazz bergentayangan di sekitar. Laziale anggota tercatat nomor empat belas dari Karawang. Hobi makan bakso dengan kuah melimpah. Bisa disapa di twitter @lazione_budy