Membela Inzaghi

Anda harus belajar aturan permainan dan kemudian Anda harus bermain lebih dari orang lain.”Albert Einstein

Satu saja bek nakal bisa jadi racun. Dia membuatku khawatir, itu saja.

Ini adalah Pertempuran melawan Kemapanan. Bayern Munchen sang sixtuple tidak bagus-bagus amat semalam, tiga dari empat gol adalah kesalahan tiga bek kita. Saat jeda laga ketinggalan tiga gol, grup bola FOC riuh ramai akan kekhawatiran tragedi 1-7, saya sih tenang saja. Saya menyaksikan setiap detiknya bagaimana bola bergerak, Bayern tak bagus mainnya walau unggul tiga gol mereka keteteran pressing dan possession. Seperti yang kubilang di preview, kelemahan kita ada di lini belakang. Terbukti segalanya berantakan gara-gara blunder bek, bahkan kekonyolan sudah dimulai saat menit baru 9. Gol yang tak semestinya terjadi, Mateo Musacchio dengan entengnya menyerahkan bola ke striker paling subur Jerman di depan Reina! Pantas langsung ditarik saat setengah jam berjalan, memasukkan kapten yang baru sembuh. Fakta bahwa Lewa menikmati gol bejan hanyalah bonus kecil kekesalan. Selebrasinya seolah habis mencetak gol brilian ke gawang Marchegiani.

Savic mendengus dan menggelengkan kepala perlahan-lahan, semua orang menunggu terjadinya ledakan. Membiarkan saat genting ini mengendap. Berkat gol cepat bodoh itu tampak Lazio panik. Susunan bata itu berantakan bukan karena tempaan faktor terjangan angin atau badai, justru malah tukang batunya yang merubuhkan. Praktis Lazio harus kembali menyusun mental, yang sayangnya langsung remuk ulang tak lama berselang, Remaja puber Jamal Musiala menggandakan skor. Dia baru saja mengumumkan membela Jerman, walau sudah ditempa di Chelsea. Luar biasa ini bocah. Derita tuan rumah di separuh awal dilengkapi lewat blunder Patric yang gagal menyapu bola sehingga menggelinding ke kaki lawan yang lantas menekan gas maksimal ke depan gawang. Ini bukan Alianz, Patric! Ini kandang kita, ya ampun.

Lihatlah, ini kesalahan-kesalahan dasar bukan berkat strategi hebat klub yang dinobatkan juara dunia. Grogi setelah belasan tahun tak bersapa dengan gadis pujaan sejatinya wajar, tapi kalau sudah melangkah lebih hingga berkenan dengan aroma gelar di fase gugur, sungguh tak bisa dimaafkan. Babak kedua baru disemprit wasit, giliran bek senior Acerbi yang linglung yang lantas menghujamkan bola telak ke gawang sendiri. Di sinilah, saya mulai khawatir. Mereka langsung diam, keheningan mencekam. Malu, marah, kecewa. Setelah beberapa detik barulah saya mengangkat kelapa dan, dengan setengah lelah, kembali menatap layar HP. Terlihat Bayern terus saja tak kelihatan kehebatan yang digembar-gemborkan, mereka menuai poin dari kerikil yang kita tebar sendiri. Kopiku tampak tak nikmat lagi, kukira Inzaghi sudah mendisiplinkan pasukan, degub itu malah memicu saat gol cantik Correa tercipta melalui skema serangan apik. Beginilah seharusnya skor terjadi, bukan sekadar nemu.

Setelahnya imbang, banyak peluang banyak terbuang. Pertandingan sendiri praktis berakhir bagi Biancoceleste menit 81 saat menarik dua pilar terpenting lini tengah: Luis Alberto dan Savic memasukkan Akpa Akpro yang pernah meminta bola, tapi saat dikasih malah terlepas mudah saat seharunsya berderap menyerang. Dan Cataldi yang sepertinya pemuda lokal ini sudah sulit dikembangkan lebih jauh. Linglung semua. Skor akhir yang kini mencipta posisi Lazio menyetarakan diri dengan Barcelona yang dipukul PSG minggu lalu.

Orang-orang memang memuakkan, kompetisi ini sungguh sulit dan tak bisa ditebak. Kebanyakan dari kita mendukung dengan landai, berhaha-hihi di media sosial. Sebagian lagi fanatisme membabi buta, mencaci maki saat kalah lalu memuji tinggi saat menuai hasil positif seolah lupa pekan sebelumnya misuh-misuh. Dan sebagian lagi sungguh tersesat. Inilah sepakbola, kita ditakdirkan untuk selalu bertikai akan perbedaan-perbedaan kecil. Contoh paling nyata Marusic, sepanjang musim lalu dihujat akan inkonsistensi penampilan. Musim ini menjelma hebat. Hal-hal semacam ini saya yakini juga terjadi di komunitas fans lain, dan ini wajar.

Memperhatikan setiap kemungkinan, sehingga tidak akan terjadi sesuatu yang mengerikan setelah berlangsung ‘malam tiga kesalahan’ yang tidak kuperhitungkan masak. Maka di Allianz, seharusnya sebelum mereka menyusun rencana yang konkret, kita harus memberi kejutan di menit-menit awal. Kita harus mengandalkan kekuatan kita sendiri. Juara Liga Antah ini sepertinya jarang bikin kesalahan. Saya memandang leg kedua dengan harapan besar dan kekhawatiran yang besar. Harapan masih ada walau peluang kecil, mereka main ga bagus-bagus amat, bisa dilumpuhkan dengan formula yang tepat. Rasa kekhawatiran karena berbagai kelemahan (bek bek bek) dan kesalahan berulang, ini bisa menghancurkan. Kuncinya langsung serang sejak menit pertama. Orang biasa mungkin pasrah dengan memainkan pola aman, bertahan. Inzaghi sejauh yang kuingat, adalah orang luar biasa. Siapa tahu berani memasang Muriqi di tengah Immo dan Correa. Bukankah cara terbaik untuk bertahan adalah menyerang. Dengan mengamati leg satu, bagaimana Bayern menjalankan operasi tunggu dan pressing ketat antar individu.
Inzaghi selalu sibuk di sepanjang menit, hingga nyaris terlalu letih dan ia tak pernah berhenti cukup lama untuk melihat sekitarnya. Ia boleh marah besar, seperti biasa; itu bukan hal baru, sebab dalam keadaan tertinggal jauh seperti ini ia seharusnya beringas. Tapi apakah ia akan mengumpat dan mengancam, mungkin melempar barang-brang, atau sekadar mendidih di permukaan?

Kata Aristoteles, harapan adalah mimpi dari seseorang yang terjaga. Masih ada 90 menit buat terus didekap nyala api harapan itu. Melihat sepak terjang Simone Inzaghi selama bermain dan melatih Lazio, saya percaya ada sesuatu yang besar akan diraih setidaknya dalam kurun dua-tiga tahun ke depan. Scudetto? Mari di-amin-kan. Ia memiliki kharisma, kualitas dan kapasitas kantong cocok sama manajemen sehingga sudah merupakan keputusan terbaik. Apapun hasil akhir dalam perjalanan di Liga Para Juara ini, saya jelas membela Inzaghi yang berujar seusai laga, “Kami akan akan mempersiapkan pertandingan mendatang dengan tenang dan memaksimalkannya.” #ForzaLazio

Lazio akan ke Jerman 18 Maret 2021, dan melakukan misi mustahil empat gol.

Karawang, 250221 – New York Jazz Lounge (Bar Jazz Classic)

Lazione P. Budy

Kopi di kanan, buku di kiri, musik Jazz bergentayangan di sekitar. Laziale anggota tercatat nomor empat belas dari Karawang. Hobi makan bakso dengan kuah melimpah. Bisa disapa di twitter @lazione_budy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s