Menyemai Kemungkinan-kemungkinan

Apa yang tak bisa kita katakan, kita harus biarkan tetap membisu.”Ludwig Wittgenstein.

Saya Laziale, saya akan menceritakan kebenaran dan tidak memedulikan konsekuensinya. Pertengahan Desember lalu “Lazio menerima dengan senang hati dan bahagia kembali ke fase knock-out di Liga Champion”, begitu kata sang pengundi beberapa detik sebelum membuka kertas bertulis tim Jerman ini. Semakin baik kondisi lawan yang kita dapatkan, semakin yakinlah Laziale. Lawan-lawan ofensif adalah lawan-lawan favorit kita. Ingat kita kesulitan menumbangkan Cagliari yang super defensif tapi enak sekali menyaksikan Atalanta porak poranda dengan daya serang hebatnya. Kekuatan yang mendesak kita untuk mengisi kesenjangan-kesenjangan tersebut, mencipta emosi luap untuk diladeni. Dalam hal ini, setiap tindakan mendatangkan reaksi emosi yang kadarnya setara, dan itu direproduksi muncul dari pihak lawan.

Simone Inzaghi baru saja mencipta 100 kemenangan di Serie A, rekor pelatih tercepat keempat yang tercatat. Gol satu biji milik Luis Alberto cukup mengamankan jalur pendakian klasemen. Minimal bisa membuat Romanisti geram melihat tabel dan Juventini mengotak-atik peluang. Hasil minor justru didapat FC Hollywood, tumbang memprihatinkan saat tandang ke Eintracht Frankfurt. Tanda-tanda menyenangkan bukan? Ini terjadi hanya berselang hari jelang laga akbar. Saya rasa saya memiliki optimis berlimpah.

Inzaghi jelas sosok istimewa, ia Laziale sejati, pahlawan setempat. Pribadi yang sangat hangat, ramah, dan bersahabat. Lihat saja, cuplikan selebrasi gol-gol pasukannya, banyak sekali menghampiri dalam peluk, atau kala pergantian pemain, ia dengan bangga menyalami pemain yang ditarik. Padahal di pinggir lapangan ia fasih meneriakinya, tak kenal lelah, asertif elegan. Sepintas lalu tampak murka karena meletup-letup terus apapun keadaannya, Lazio tampak memiliki pelatih segalak sabun alkali.

Skuat kita sudah sangat siap. Kiper berpengalaman nan tenang Reina, laga-laga penting musim ini banyak mendulang poin sebab bukan Strakosha di bawah mistar. Lini tengah sangat istimewa, posisi paling vital. Luis Alberto pemain kreatif, Leiva memainkan tempo, Savic pemain energik, bersama selalu menyusun rencana dan mencari-cari kesempatan, selalu menunggu peluang… menyelaraskan aliran bola. Sisi depan mungkin terlalu bertumpu pada Immobile, cadangan masih bongkar pasang, tandem ideal belum ditemukan, tapi bergantian memberi andil disaat yang pas. Improvisasi yang baik tak mungkin dilakukan tanpa mengetahui strategi pokok dan teknik dasar untuk pengungkapan secara kreatif. Bulan Januari, Lazio nyaris menyapu bersih poin Serie A. Momen bagus ‘kan.

Kelemahan utama memang di belakang. Patric labil, Radu menua, Luis Felipe lagi-lagi terkapar di meja dokter, Hoedt lebih mirip foto model ketimbang tukang jagal memesona, bakat yang lebih merepotkan ketimbang berguna. Hanya Acerbi yang istimewa, manusia robot. Menit bermainnya mencengangkan untuk seorang yang pernah divonis kanker. Jelajah dayanya mengagumkan. Sejatinya Lotito sudah tahu, manajemen sudah paham, budget transfer tengah musim kita yang tak selaras, uangnya tak semewah kas Manchester City. Maka saat Januari kemarin jendela transfer dibuka kita mencoba mendatangkan bek. Formello tidak berurusan dengan isu, isu-isu pemain bintang yang akan didatangkan otomatis membumbung tinggi bak asap disapu angin. Setiap tahun selalu berulang, kebutuhan mendesak itu dijawab dengan mendatangkan bek camat – cadangan mati, berumur 30 tahun milik Milan, Mateo Musacchio yang saat debut langsung melakukan blunder. Tak mengapa, masih ada Parolo.

Sejak tahun 2016, Inzaghi sudah tentu bongkar pasang skuat. Ini kutipan yang terlalu bagus untuk dilewatkan, jadi harus kuketik dengan antusias. “Tak ada seorang yang lebih meragukan hasil eksperimen selain pelaksana eksperimen itu sendiri sebab merekalah yang paling tahu tentang kekurangan dan ketidaksempurnaan pelaksanaan”, kata W.I.B Beveride dalam The Art of Scientific Investigation (1950). Selama saya menjadi Laziale, itu berarti 23 tahun terakhir, bisa jadi ini puncak kemegahan. Sebuah kesempatan langka, lawan kita didaulat terbaik saat ini, semua gelar kompetisi yang mereka ikuti disabet. Jadi alangkah bergairah menyambut hari H, eksperimen apalagi yang bakal diapungkan?

Tahun 2021 adalah tahun Piala Eropa, Immobile pernah kecewa bersama Timnas tahun 2018, kejuaraan yang sejatinya dilakukan tahun lalu tergeser akhir musim ini. Ciro sedang di puncak karier dan kontribusi kepada Negara masih begitu minim, maka melalui hasil karya permainan di Laziolah langkah-langkah itu disajikan. Kisah ini bisa panjang lebar dan terinci, ini memang momennya, ini memang saatnya.

Kalau cuaca bisa memicu argumentasi, bayangkan apa yang bisa dipicu angan ini.

Karawang dan daerah sekitar diguyur hujan lebat dalam seminggu ini. Luapan air terjadi di banyak tempat. Bisa kurasakan pipiku panas karena antusias dan emosional. Jadi momen ini harus dibuat kesan, ini tentang kefanatikan.
Bisa kubayangkan Rabu dini hari nanti, dengan kopi terhirup dan mendecakkan lidah seakan telah berada di padang pasir begitu lama. Dahaga di Liga Para Juara, menyaksikan Inzaghi meluap-luap dalam teriakan, membiarkan kata-katanya mengambang di udara untuk dicerna dan dinikmati. Ia selalu ada di pinggir lapangan bak senapan menyalak sepanjang laga, ia menghibur kita. Ia sesekali memandang kamera, dan sejenak tampak menikmati jadi pusat perhatian. Ia memancarkan kepercayaan diri. Kegiatan pembunuh waktu yang menyenangkan terutama saat unggul.

Lawan kita memiliki segala keunggulan: statistik, pengalaman, kualitas pemain, jumlah gelar, dan tentu saja uang. Segala kombinasi itu tak ada yang enak dilihat untuk dijadikan patokan prediksi. Teman saya bahkan bilang, “Jangan coret Juventus walau tertinggal satu gol di Stadio do Drago, tapi coretlah Lazio.” Itu adalah seminggu lalu. Namun tunggu dulu, Bayern Munchen bisa kita kalahkan, camkan itu, bahkan sebelum saya mengetik kata pertama. Saya meyakininya, menumbangkan klub yang dinyatakan terbaik saat ini bukanlah sebuah delusional. Kalian bisa bilang, ini mungkin bisa jadi tindakan intimidasi halus. Memang tidak ada yang masuk akal saat ini, selain keyakinan membuncah melibas sang sextuple. Gap dua gol cukup untuk bersafari ria balik ke Allianz Arena bulan depan. Champions, jreng jreng jreng….

Sesederhana itu.

Karawang, 220221

Lazione P. Budy

Kopi di kanan, buku di kiri, musik Jazz bergentayangan di sekitar. Laziale anggota tercatat nomor empat belas dari Karawang. Hobi makan bakso dengan kuah melimpah. Bisa disapa di twitter @lazione_budy