Bincang-Bincang New York

Pretend It’s a City Season satu Episode satu.

Audien: “Bagaimana kamu menggambarkan gaya hidupmu?” / Fran: “Gaya hidup? Saya tak akan memakai kata ‘Gaya Hidup’” (tepuk tangan membahana), seorang audien nyeletuk: “great” / Fran: “Begitulah saya menggambarkannya.”

Review singkatku, sungguh menyenangkan menyaksikan penulis tua curhat panjang lebar mengenai kehidupan modern dengan berbagai teknologi dan kebiasaan. Well, kemajuan teknologi adalah salah satu menifestasi ‘Ekonomi Perasaan’. Orang-orang tua seperti kita harus beradaptasi, memeluk kelambanan bisa jadi solusi, bisa jadi opsi, tapi tetap saja ada gesekan di sana. Ok, saya coba ulas seribu kata seperti biasa.

Dengan label “A Netflix Documenter Seri”, kita menjelajah kota metropolitan paling akbar di dunia. Sepanjang film kita hanya mendengar ocehan Fran Lebowitz (berperan sebagai dirinya sendiri) yang mencerita kehidupan kota New York, dan potongan-potongan rutinitas kota. Ocehan itu beberapa dihasilkan dari wawancara, beberapa dari narasi sepihak, beberapa kita dengar muncul dalam talk show santai, beberapa di ruang seminar. Pembukanya sudah lucu, “apakah kalian kesal sama orang-orang di jalan?” Ya. (dalam hati saya bilang ya juga). Lalu jelajah kata berkelindan. Mayoritas sama kok dengan kota-kota (besar) di dunia. Orang main ponsel sambil jalan. Iklan di mana-mana. Naik sepeda (kendaraan) dengan tangan kanan pizza, kiri ponsel, stang dengan lengan! Transportasi moda yang kotor. Tanaman-tanaman palsu, dst.

Tokoh utama hanya Fran Lebowitz, seorang penulis, aktor, pembicara publik. Beberapa kali muncul pula aktor lain, tapi sepintas saja: Spike Lee, Alec Balwin, Olivia Wilde, termasuk Martin sang sutradara. Menyampaikan hal-hal yang umum, tapi asyik atau bisa dibilang cerdas. Banyak tawa, semacam sitcom, tawanya ditempel, beberapa tergelak. Kalau jenis film macam gini selalu ingat Mr. Bean atau serial Friends. Beberapa tentu saja benar-benar lucu, dan mengena seperti, “apakah kau orangnya suka meremehkan?” Lalu dengan lugas dijawab, “Meremehkan? Maksudmu, apa saya sombong? Ada beberapa jenis keangkuhan yang menurutku buruk. Tentu saja, itu bukan keangkuhan yang kumiliki, paham? (Keangkuhanku) berkaitan dengan ‘Apa kau setuju denganku tentang ini?’” Hehe.. Damn it’s true. Atau lelucon tentang, banyak orang menanyakan arah, dan dijawab dengan “Apakah saya tampak ramah?” Hahaha… Beberapa biasa saja, atau bisa jadi tak relate sama kehidupan Karawang sehingga saat tawa palsu penonton membahana saya diam saja misal, menghakimi bahwa pekerjaan yang paling membosankan adalah psikiater di New York, 14 jam mendengarkan keluh kesah orang, berisik. Wah, banyak orang mengaku kepadaku profesinya membosankan. Guru, petani, penulis, buruh, dan masih banyak, bosan adalah tanggapan kita akan sebuah kejadian. Jadi tergantung sudut pandang dan kepribadian. Atau kereta api bawah tanah ditutup karena bau? Oh my… Seperti kata Durkhein, “semakin nyaman dan etis sebuah masyarakat, semakin pikiran kita membesar-besarkan kesembronoan yang sepele.”

Tak ada adegan ledakan atau hantaman penuh aksi, benar-benar kita menjadi penyimak segala omongan. Sesekali muncul narasi orang lain, warga kota tapi sepintas saja. Karena nuansa klasik banyak ditampilkan, maka aura jadul terasa aduhai. Nyenengke dan wow digabung. Seperti bagaimana kalau kehidupan tahun 1970-an? Lalu ditanya lagi gmana kalau kehidupan tahun 1930-an? Hahaha…

Dari semua adegan aksi, paling bagus dan agak menghibur untuk ‘cuci mata’, hanya satu yakni adegan Fran ketika berdiri di atas miniatur kota. Memperhatikan gedung-gedung, berdiri sepanjang sungai Hudson, eh atau bukan ya itu East River. Diambil dengan ciamik, dari atas lalu bergerak mendekat, dan yang semula kita duga adalah kota New York ternyata hanya miniatur. Kota yang padat, Big Apple yang sesak.

Frances Ann Lebowitz, aktor senior yang sering disebut sebagai Dorothy Parker modern, bernarasi panjang lebar. Basa-basi, bahas sana bahas sini. Terlihat sudah menguasai panggung, jelas sekali santuy menghadapi pertanyaan atau di hadapan orang banyak. Sangat meyakinkan mengingatkanku pada pengaplikasian buku Dorothy Sarnoff berjudul ‘Berbicara Dapat Mengubah Hidup Anda’, yang meragu justru ketika di jalanan, di gedung, di sudut kota. Meragu dalam arti kikuk, semisal menyebrang jalan dengan sepeda melintas, lalu ia menggerakkan tangan tanda halau, kesal. Hanya saya yang taat pada rambu, yang lain sudah gila kali ya?! Bagaimana ia memiliki tempat duduk strategis di tengah panggung opera, yang menurutnya enggak. Sebab tempat duduk ideal itu di dekat pintu, jadi ketika opera dimulai ia bisa langsung kabur. Di jalanan New York yang kacau, bagaimana kita bisa bertahan hidup? Padahal potensi terbunuh sangat besar. Dengan santainya menyebut berbagai sisi hitam, tapi ada nada ironis ketika ditanya, jadi apakah betah? Oh betah banget. Hahaha… Emang kamu punya saran tinggal dimana? Saya akan jawab dengan meyakinkan, tanah kelahiran. Mayoritas orang pasti sepakat, setelah melalangbuana, tempat tinggal terbaik adalah rumah. Saya bisa sebut Palur, istriku bisa teriak kencang bilang Wonogiri, tetanggaku orang Bandung akan senang tinggal di Ciwidey kalau kutanya. Kenapa? Kampung halaman adalah tempat terbaik untuk membuncah kenangan. Dan itulah kenapa Fran bilang betah tinggal di tengah kekacauan.

Ia menjawab dengan lugas dan yakin, tampak sekali literatur kata tinggi. Sepintas lalu, membuat Martin terbahak, sepintas lalu mencipta Alec tersenyum, ia sungguh berpengalaman. Sebuah perjalanan kota yang disajikan dengan jalan-jalan bersama penjelasan asyik, kata-kata yang jelas dibuat dengan tekun dan terbuka. Sebagai seorang yang tak menyusup teknologi, ia tak memakai ponsel, komputer atau sejenisnya. Dunia memang butuh perlambatan, yang jadul memang asyik, yang klasik dan minim sentuhan tekno lebih – apa ya menyebutnya, lebih elegan. Saya sendiri sejatinya membatasi diri akan kemajuan, sayangnya beberapa akhirnya jebol. E-money, platform jual beli daring, permainan dengan akselerasi tinggi dalam genggaman, sampai aplikasi buang waktu video (bah bah bah) kini sudah terpasang. Duh, menyedihkan ya.

Pretend It’s mungkin bisa disebut stand up comedy tanpa penonton langsung. Bagian yang terasa sama dan relate dengan suasana ruwet Karawang terasa pas, coba bayangkan kalian memaki segala aktivitas warga Karawang, tapi sekaligus mencintai segala nuansanya. Terobos lampu merah, buang sampah sembarangan, parkir seenaknya, ibu-ibu naik matic tanpa helm, berkendara di kanan, jalanan berlubang yang cocok buat kebun di tengah jalan (perbaikan jalan yang bagus dan permanen? Dasar udik!), sungai yang kotor karena sampah berbaris di atasnya, sampai hiasan kota dengan spanduk kampanye terpasang. Sepanjang jalan, sepanjang hari, sepanjang waktu. Dengan wakil rakyat berpeci atau kerudung dan membuat kutipan buruk, yang dengan penafsiran umum akan berbunyi: ‘Dukung saya, Pilih saya!’ Dan ketika ditanya, kamu betah? Jawabmu betah. Ironi? Mungkin. Kesal? Pasti, jadi kenapa tak pindah? Dibilangin betah. Saya (dan orang lain kebanyakan) akan menjawab dengan tegas, saya hidup di sini, menikah di sini, bekerja di sini, dan sudah menjadi warga sini. Memang kalian mau menyarankan tinggal di mana yang lebih baik? Lalu kembali lagi, semua berputar. Ya, saya tidak tinggal di New York tapi saya bisa merasakan jab dan upper cut Fran yang membahana itu. Reaksi-reaksi emosional kita terhadap aneka masalah tidak ditentukan oleh ukuran masalah tersebut.

Film ini kutonton di libur akhir pekan Minggu malam jelang partai Lazio di sofa tengah yang nyaman sama Hermione yang setiap menit bertanya, ‘kenapa dia tertawa?’, ‘kenapa gambarnya ada di layar, dia tahu tidak?’, ‘meremehkan itu apa?’, ‘Itu berdiri di mana?’, dst. Selain banyak tanya, ia juga sering kehilangan teks subtitle, yah maklum anak SD kelas satu. Apa pendapatnya setelah usai nonton? “Ayah, saya pengen ke New York! Sama London bagusan mana?” hahaha… saya ketawa saja. Kenapa? Sebab dalam doanya seusai salat selalu diselipkan doa, Hermione ingin sekolah ke London buat melihat langsung tempat para maestro cerita (novel) dibuat: Narnia, Harry Potter, Alice, dst.

Lagu penutupnya adalah “New York’s My Home” yang dibawakan Ray Charles. Sekali lagi, jazz menguasai kota, termasuk sinema ponsel kita. Season satu ada tujuh episode, saya akan kupas per episode, menarik disimak sejauh mana omongan Fran nantinya. Ya, saya marah karena saya tak berdaya mengubah orang-orang (bermasalah itu). Fran adalah kita, Fran adalah (mewakili) saya.

Pretend It’s a City | 2021 | Episode 1 | Directed by Martin Scorsese | Cinematography Ellen Kuras | Cast Fran Lebowitz, Spike Lee, Alec Balwin, Olivia Wilde, Martin Scorsese | Skor: 5/5

Karawang, 160221 – Bill Withers – Harlem

Pretend It’s a City sudah tayang di Netflix