Little Big Women: Pengakuan, Pengakuan, Kerelaan

Shoying: “Menjadi suami istri memang harus seumur hidup.”

Kisahnya dibuka dengan muram, saya suka. Kabar duka menyelingkupi keluarga. Chen Bochang (Han Chang) meninggal dunia meningggalkan masalah dalam reuni hitam. Setelah pergi lama, ia meninggal di saat sang istri sedang akan merayakan ulang tahunnya yang ke-70. Pesta dibatalkan? Oh tentu tidak, karaoke di restoran bersama orang-orang terkasih di tengah kabar duka. Selama prosesi pemakaman lebih bermasalah lagi, sebab tata cara dan hubungan apa di baliknya menyeret banyak poin, menyangkut hati dan kepercayaan.

Lin Shoying (Shu-Fang Chen) membesarkan ketiga anaknya sendiri, hubungan dengan suaminya rumit, apa dan bagaimana, nah film ini banyak menyorotnya, sabar nanti dikulik. Kenangan, ingatan, pori-pori samar apa itu dunia maya yang berkelebat di kepala, di awang-awang. Tanpa ingatan, setiap malam adalah malam yang pertama, setiap pagi adalah pagi pertama, setiap ciuman dan sentuhan adalah yang pertama. Namun tidak, kita semua tak bisa memilah mana yang melekat di kepala mana yang bisa begitu saja terlupa, dunia memang terasa ganjil kalau bicara ingatan.

Ching (Ying-Hsuan Hsieh) memiliki masalah kesehatan, kanker yang dideritanya sudah sembuh, tapi di saat ayahnya meninggal, ia berobat dan ternyata kambuh. Kali ini kanker ganas, harus segera operasi yang bisa memperpanjang umurnya kira-kira lima tahun. Worth it or not? Sementara suaminya menolak tanda tangan surat cerai, sebinal dan senakal apapun ia mencintai Ching. Sementara, sobat lamanya muncul menjadi penengah hubungan ini. Muncul adegan pedih saat surat cerai ditawarkan di depan Ching dilihat semua keluarga, dan aib-aib diungkap. Sang ibu menasehati, jika nanti usia senja kamu akan sengsara jika janda, dan dengan jleb dibalas: “Saya tak akan mencapai usia itu!” Apalagi saat ‘pamit’ ke adiknya nantinya untuk menggenggam tangannya saat ajal tiba.

Yu (Vivian Hsu) yang sudah menikah, lulusan kedokteran ternama seolah adalah kebanggan keluarga, seorang anak ideal di mata keluarga, apalagi ambisi dan sifatnya paling mirip sang ibu. Masing-masing dari kita, ada kalanya, suka memperdaya diri sendiri dengan percaya bahwa apa yang baik untuk kita pasti juga baik untuk semua orang. Putrinya Clementine (Buffy Chen) menjadi harapan keluarga, dekat sekali sama neneknya, dan berencana disekolahkan ke Amerika. Anak kedua ini tampak istimewa, sempurna. Namun tidak, saat ia mengatur masa depan anaknya, dan Clementine membantah, jelas ada masalah di sana.

Jia-jia (Ke-Fang Sun) si bungsu yang menemani kehidupan tua ibunya berjualan di restoran milik keluarga di Tainan, dibesarkan dengan perjuangan dari kaki lima hingga sekelas resto. Memiliki masalahnya sendiri memeluk teologi, masih lajang di usia matang. Seperti kebanyakan keluarga, bila tinggal seatap maka sering berantem, sering seteru padahal justru yang paling disayang. Dan ia adalah penghubung utama dengan almarhum, bahkan mengenal dekat Wanita Lain. Terlihat jelas dengan pemberian bingkisan makanan sejenis tahu yang diminta ayahnya, tapi tak sempat dikasih. Hiks.

Polemik pertama diangkat, bagaimana tata cara perhormatan terakhir almarhum, dengan cara penghormatan ala Tao sebagai pegangannya sejak kecil atau cara Buddha dikremasi sesuai pegangannya. Si bungsu mengajak jamaah mengirim doa-doa sutera saat persemayaman, yang ditentang sang istri sehingga secara bersamaan memanggil pemuka Zhaungzi guna mengirim doa, sungguh aduhai menyaksikan dua kepercayaan tempur di depan jenazah, entah ritual siapa yang menyangkut. Apalagi nantinya saat secara dramatis muncul kecoa di dekat, membuat histeris lalu refleks dibantai. Gmana kalau itu reinkarnasi almarhum? Oh hidup ini ya… Agama dan kepercayaan itu tahan banting karena sifatnya supranatural tidak pernah bisa dibuktikan keberadaannya atau dibuktikan ketiadaannya.

Polemik sesungguhnya ada di sini. Masa muda Chen tak bagus, ia bermasalah dengan keluarga besar sebab utang dan perjuangan yang diambil mengakibat bangkrut. Maka ia mengajukan surat cerai, yang baru kita ketahui di akhir ternyata tak mau ditandatangani sang istri. Ia kabur ke Taipe, hidup bersama kekasih barunya Nona Tsai Meilin (Ding Ning), catat ya statusnya masih suami orang. Secara umum, jelas kita di kubu Lin Shoying sang Little Big Women, sang istri sah sebab berjuang membesarkan tiga anak itu tak mudah. Namun tahan dulu, ada hal luar biasa di akhir yang patut didiskusikan, apa makna baik hati itu, apa yang disampaikan mungkin akan mengubah persepsi kita, tapi tetap saja, ini masalah hati, apalagi saat Lin memutuskan mencari Nona Tsai, rasa penasaran bisa membuatmu demam! Maka saat yang dicari malah datang untuk memberi penghormatan terakhir tanpa sepengetahuannya, ia dengan polos bertanya sama rombongan bu-ibu, “Kenapa Nona Tsai tak hadir?” Hahaha….

Kita tahu, Chen adalah seorang romantis, mantan polisi yang jago ngegombal bak pujangga. Dari surat-surat masa muda yang dibuka dalam kotak kaleng Lin yang disimpan rapat sama kenangan lain; foto-foto, benda bersejarah, surat cinta. Bagaimana keputusan di masa muda akan berdampak akan nasib manusia di hari tua. Segala desas-desus dan fakta akhirnya bersatu, saat sang perlente sudah tiada. Beberapa laki-laki menjadi gila saat memasuki usia empat puluh tahun, krisis paruh baya membuat mereka mendorong mencari istri baru, atau kembali ke teman-teman sekolah, atau minimal lingkaran pertemanan baru dengan tetangga yang cantik. Chen melebarkan telunjuknya ke seberang, dan ia bukan duda.

Banyak adegan haru, ini bisa jadi pecah di akhir. Penuh pengakuan, betapa kita ternyata tak banyak curhat sama orang-orang terdekat. Penuh kelegaan, setelah menandatangani, lalu mengirim boks kenang itu ke nirwana, seolah inilah yang seharusnya dilakukan dari dulu, mengalah bisa jadi adalah kemenangan hati, tak ada yang abadi, segalanya akan lebur oleh waktu. Duh! Betapa fana manusia. Sampai akhirnya saat hari H, keputusan yang melegakan. Merelakan dalam arti sesungguhnya.

Saat akhirnya sang protagonist bertemu dengan sadar sama wanita yang selama ini menemani suaminya jelang akhir hayat, terlihat suaranya lebih lirih, dan bergetar. Karena masa lalu itu belum lengkap, masa yang akan datang sulit dibayangkan. Rencana masa depan rasanya tak mungkin dibuat selama bayang-bayang masa lampau masih bergerak di belakang sana. Lin tak akan membicarakan intim masa depan bila masalah lama suaminya tak dibereskan. Dan benar juga, musik adalah obat mujarab yang dengan bijak kita sebut pelarian pas, apalagi endingnya. Dalam laju tenang sebuah mobil, sumbangsih lagu bersama orang terkasih. Itu adalah buah kerelaan. Perasaan lega itu terasa hebat, sehingga ia ingin menangis.

Setiap keputusan dilapisi ironi, saat sang ibu marah anaknya tak mencerita masalah besarnya. Sang anak bisa dengan liar membalas, sang ibu juga menyimpan rahasia lainnya. Lebih-lebih sang bungsu yang ketika disodori nama Mei, ia malah jadi yang terakhir tahu. padahal selama ini dialah yang menemani hari tua ibunya. Begitulah hidup fana ini, setiap manusia punya rahasia.

Sesuatu harus memiliki makna karena tanpa ada sesuatu yang bermakna, maka tidak ada alasan untuk terus menjalani hidup ini. kegelisahan merupakan masalah emosi. Ikhlas, ya aku ikhlas. Segalanya biarkan mengalir… Terhadap masa lampau kita harus berterima kasih, mengetahui bahwa kita berutang. Terhadap masa depan kita harus terbuka: siap untuk menghadapinya memeluk, menerima takdirNya.

Manusia memang makhluk yang selalu diboncengi perasaan bersalah. Pengakuan-pengakuan rahasia, dan tameng kuasa akan kehendak membentuk kekuatan untuk pasrah, sudahlah segalanya sudah berjalan semestinya, seharusnya. Kejujuran lebih penting ketimbang mendapatkan apa yang Anda inginkan atau meraih suatu target atau keinginan. Kejujuran pada dasarnya adalah baik dan bernilai, dalam situasi apa pun. Relakanlah… Perasaan lega yang menghasilkan delusi, halusinasi, dan bentuk-bentuk yang barangkali, secara fundamental merupakan makna pencarian hidup: bahagia.

Little Big Women | Year 2020 | Taiwan | Directed by Joseph Chen-Chieh Hsu | Screenplay Joseph Chen-Chieh Hsu, Maya Huang | Cast Shu-Fang Chen, Ying-Hsuan Hsieh, Vivian Hsu, Ke-Fang Sun, Buffy Chen, Ning Ding | Skor: 4/5

Karawang, 110221 – Boyzone – Words

Rekomendasi Lee, Thx Lee