Memoar Libero Terbaik Indonesia

Biografi Ronny Pattinasarany by Andreas J. Waskito

Ada yang lebih berharga dari uang dan harta, yaitu kasih sayang.”

Memoar yang berkesan, jadi tahu detail era emas Timnas Indonesia-pun penuh intrik politik. Bagaimana ia dilarang merokok, tak mau nurut dicoret dari skuat, lalu hukuman lama itu dikurangi menjadi beberapa bulan. Buku ini gambaran umum saja, dari karier bolanya yang cemerlang dari Makassar, Surabaya, hingga Jakarta. Bagaimana ia menjadi pegawai Bank BNI, menjadi pencari bakat, lalu musibah kanker yang dialami. Sepertiga akhir adalah masa sulit, pengobatan ke China hingga akhir hidupnya. Lalu sebelum epilog sang istri, kita menyimak pendapat beberapa rekan, keluarga, dan bosnya. Buku yang padat dan emosional.

Sejak kecil memang bercita-cita menjadi pemain sepakbola. Ini berkat lingkungan yang membentuk. Ingin menjadi pemain sepakbola yang dikagumi banyak orang. Seperti sang idola Suardi Arland. Sedangkan dari luar negeri, terinspirasi oleh penampilan George Best.

Ayahnya pernah menjadi asisten pelatih kesebelasan PSM, banyak perlengkapan di rumah, di antaranya 20 buah bola dari kulit, dan bertugas menyemirnya sampai mengkilap sepulang sekolah dan sehabis makan. Ketika PSM main, menjadi anak gawang. Sebuah kesempatan langka karena bisa melihat langsung pemain-pemain top Indonesia kala itu, seperti Aang Witarsa, Omo, Wowo, Isak Udin, Fatah Hidayat, atau palang pintu Sunarto. Mereka adalah beberapa pemain yang memperkuat timnas kala melawan Uni Soviet di penyisihan Olimpiade di Melbourne, Australia.

Ronny menjadi pemain bola sejak junior, bergabung dengan klub Persatuan Sepakbola Anak Mawas (PSAM) dilatih langsung oleh Anwar Rampang. Tak ada batasan umur, yang dipakai adalah batasan tinggi badan, standarnya tak boleh lebih dari 1.45 meter. Pada kompetisi PSAM melaju ke final, kalah sama Mamajang, tapi Ronny dinobatkan sebagai pemain terbaik kompetisi.

Ayahnya menentang ia jadi pemain bola, sebab trauma kakaknya meninggal dunia. Maka setelah pulang, rasa bangga itu remuk sebab pialanya justru dibanting ayahnya. Ternyata sesuatu yang baik buat saya, belum tentu juga baik buat orang lain.

Postur tubuh kecil, kerempeng. Menurut pandangan banyak orang ini postur tubuh yang tak ideal untuk pemain bola, maka ayah berpesan untuk menutupi kelemahan ini, harus punya skill dan teknik yang yang sempurna. Harus berlatih lebih keras lagi. tahun 1966 ia pun masuk tim senior PSM, masih ada pemain legendaris Ramang dan pelatihnya Suardi Arland. Dua idola yang menempa.

Saat bergabung di PSAD, kariernya menanjak sebab pengelolaan yang bagus, semua pemain diasramakan, diberi makanan yang bergizi menurut standar atlet, gaji bulanan, di samping fasilitas lainnya seperti diberi sepeda merek Simking untuk tiap pemain. Tangan dingin Pak Sajidiman mendatangkan hasil, PSAD juara III di kejuaraan antar klub se-Indonesia di bawah klub Jayakarta dan Assyabaab.

Tahun 1972 di usia 23 tahun, debut timnas senior dalam PSSI Selection untuk berlaga di Anniversary Cup, turnamen yang dipersiapkan untuk HUT Jakarta. Dari sinilah, kariernya terus benar-benar tak terbendung. Dipanggil ke banyak turnamen berkelas internasional.

Salah satu pengalaman tak terlupa tentu saja bersua Franz Beckenbauer saat Cosmos menang lawan Timnas, idola Bung Ronny. Juga saat vs Santos 3-2 ketemu Pele. Dari ajang inilah ia menjadi libero, yang melekat sampai kini, hingga berjuluk ‘Beckanbauer Indonesia’ atau ‘Beckanbauer-nya Asia’. Istilah libero menjadi terkenal sebab permainan legendaris Franz di Timnas Jerman Barat.

Bung Ronny juga pernah bekerja di Bank BNI 1946, penghasilan tak menentu pemain bola menjadikan BUMN menjadi tempat support pemain, selain BNI ada Pertamina dan Bulog. Tapi kegiatan ini memberi dilemma, tetap ikut BNI atau dicoret dari timnas, akhirnya tetap demi kepul nasi di rumah ramai-ramai mengundurkan diri dari timnas. BNI 1946 sudah memberikan segalanya. Namun tetap saja, dia adalah kunci permainan, bahkan muncul kata ‘Ronny Depending’. Sebagai libero, Bung Ronny bisa bertahan di timnas selama 13 tahun. Rentang yang lama, apalagi banyak dilemma di dalamnya. PSSI sejak dulu memang bermasalah, dan politik selalu merongrong. Legenda besar sepakbola kita.

Dalam memoar ini ia menulis email sebagai jawaban atas beberapa pertanyaan sang Penulis. Dilakukan ketika ia dalam perawatan di China. Seperti pengakuannya ketika diagnosa muncul, “Satu hal yang membuat saya heran, meski termasuk perokok berat, justru sakitnya bukan disebabkan rokok. Begitu pula ginjal, ternyata yang kena malah pankreas karena pola makan yang tak sehat.”

Sebenarnya buku tak tuntas sebab terputus dalam prosesnya, maka muncullah banyak pendapat orang-orang terdekat. Dari orang-orang PSSI, teman seperjuangan semasa aktif bermain dan melatih, dan tentu saja keluarga. Semua anaknya, baik yang kandung atau yang angkat diminta isi. Dengan penutup sang istri Stella Pattinasarany.

Berikut beberapa pendapat mereka:

Papa memang orangnya pantang menyerah dan memiliki integritas.” Kata anaknya.

Prestasi terbesar papa adalah ‘meninggalkan karier untuk keluarga’. Padahal, saat itu papa pelatih terbaik dengan bayaran termahal id Indonesia. Papa sedang di puncak karier. Papa sedang berada dalam mimpinya. “Kalaupun anak saya meninggal, dia meninggal dalam kasih sayang saya. Saya rela menghilangkan harga diri, popularitas, hidup… tapi saya tidak pernah rela kehilangan kasih sayang saya kepada keluarga.”

Dia memang framboyan di lapangan dan di luar. Dia pandai membaca permainan, dengan umpan-umpan yang terukur.”

Yang patut diteladani adalah pengabdian dan kepedulian terhadap perkembangan sepakbola Indonesia. Hampir sepanjang hidupnya dihabiskan untuk memikirkan pembinaan usia dini. Masa depan prestasi sepakbola nasional sebenarnya bergantung dari sini. “Suksesnya sepakbola Indonesia adalah suksesnya pembinaan usia muda. Masa depan sepakbola Indonesia adalah suksesnya pembinaan usia muda.”

Yang paling mengesankan, walaupun pimpinan saya tapi bila menyuruh mengerjakan sesuatu selalu dengan kata ‘tolong’.”

Ronny meninggal pada Minggu pagi dalam pelukan keluarga pada 9 Maret 2008 setelah berjuang sejak bulan November 2007 ketika ia didiagnosa kanker pankreas. Berjuang berbulan-bulan, awalnya diprediksi hanya bertahan sebulan. Sosok relijius itu berpulang.

Pertandingan diselesaikan papa dengan luar biasa, seperti pahlawan yang pulang kepada penciptanya, dengan penuh penghargaan penuh dari segenap bangsa Indonesia. Dari kepala Negara sampai tukang pijit, memberi penghormatan yang terbaik buat papa.

Pria yang hebat adalah pria yang memiliki integritas. Pahlawan selalu datang dan pergi, pahlawan tidak pernah mati.

Memoar Sang Legenda Sepak Bola: Ronny Pattinasarany – Dan, Saya pun Telah Menyelesaikan Pertandingan Ini | by Andreas J. Waskito | Penerbit Sarana Bobo | Copyright 2009 | Editor M.H. Giyarno | Desain sampul Cita Pattinasarany | Layout dan Pewajah isi Nelis Pertina | Foto sampul Valent Hartadi | Foto-foto Dokumen Keluarga | ISBN 979-969-484-8 | Skor: 4/5

Karawang, 040221 – Linkin Park – Point of Authority (Live in Texas)

Thx to Joseph, Ciamis