Tragedi Cinta

Si Lugu by Voltaire

Saya tidak memiliki pendapat apa-apa, kalau pun saya mampu berpikir, itu karena saya berada dalam kekuasaan Yang Maha Abadi, seperti halnya juga planet-planet serta elemen. Dialah yang menciptakan segala yang ada dalam diri kita. Kita hanyalah roda-roda kecil dari suatu mesin raksasa, yang jiwanya adalah Dia… hanya itu yang saya pahami, sisanya bagi saya adalah jurang yang gelap.”

Buku kecil yang luar biasa. Padat, renyah, sesak, dan pace-nya sangat cepat. Kubaca hanya dalam tempo sesingkat-singkatnya pada hari Sabtu pagi, 30 Januari 2021 di teras rumah langsung kelar. Seperti inilah novelet harusnya dibuat, ga bertele-tele, gayanya dapat, plotnya bagus, endingnya nyesek, dan ada motivasi yang bisa dipetik. Paket lengkap setengah hari.

Kisahnya tentang Si Lugu bernama asli L’Ingenu pemuda asli Kanada mengaku ‘Orang Huron’ yang mendarat di pantai Prancis Teluk Rance, mengaku dari Inggris di Bretagne. Berkenalan dengan pastor Kerkabon dan adiknya perawan tua Nona de Kerkabon. Karena tampan, baik, dan keluguannya, ia disambut di rumahnya. Ketika membuka kalung yang diwariskan, betapa terkejutnya mereka sebab ada potret saudara mereka yang berangkat perang ke seberang, maka ia-pun diangkat menjadi saudara.

Ada cewek anak Pastor de Saint-Yves yang jatuh hati, Nona de Saint-Yves. Padahal ia dijodohkan sama ank hakim yang labil, tapi mereka sudah saling cinta sehingga rasanya akan bersatu tanpa banyak halang rintang.

Gelombang Selat Kanal tak lebih dahsyat diombang-ambingkan angin timur dan barat jika dibandingkan dengan hatinya yang diharu-biru oleh gagasan-gagasan yang saling bertentangan. Karena tak punya agama, ia-pun dibaptis sebagai katolik. Nah di sinilah masalah sejatinya timbul. Ketika ada dimandikan, ia tak hadir di gereja. Setelah dicari-cari, ternyata ia menunggu di sungai. Ia berendam menanti Bapa Pastor. Hahaha, saking lugunya ia menaati segala apa yang tertulis di Injil. Dan siapa yang menghantar ke permandian? Adalah sang kekasih! Ini jelas tak boleh, sebab ia ingin menikahi Ibu Permandian.

Ia diberi nama baptis Hercules de Kerkabon. Sambil menangis dikatakanya bahwa sejak upacara pembaptisan kemenakannya telah kerasukan setan.

Lalu Nona de Saint-Yves dikucilkan. ‘ditahan’ di biara. Biara dari bahasa latin convertus yang berarti majelis. Si Lugu tak habis pikir mengapa ia tidak dijinkan masuk ke majelis itu. Ia diberitahu bahwa majelis itu merupakan sejenis penjara di mana gadis-gadis disekap. Hercules yang marah dan frustasi akan aturan hidup. Maka ketika orang-orang Inggris akan kembali, ia tentang dan bunuh, pasukan musuh yang menyerang ia bantai. Ia menjadi pahlawan lokal.

Maka dengan segala piagam, penghargaan, dan penuh puja-puji Hercules diminta menghadap ke Raja guna meminta menjadi panglima perang dan membebaskan kekasihnya yang tertawan di biara. “Aneh juga. Kok air mata bisa menimbulkan rasa lega? Saya kira malahan bisa menimbulkan akibat sebaliknya.”

Tak semudah itu menemui raja, ada birokrasinya, ada lapisan yang disingkirkan. Apes, ia malah dikira pengacau, maka dengan pasukan penuh ia ditahan ke penjara Bastille. Penuh kemarahan dan tanda tanya. Di sana berkenalan dengan Gordon, tahanan politik, seorang penganut jansenisme, sudah dua tahun disekap tanpa pengadilan. Yang Maha Kuasa yang telah menempatkan kita di sini, marilah kita menderita dalam kedamaian, dan usahakan agar kita tetap memiliki harapan.

Yang tua memiliki banyak pengalaman, sedangkan si pemuda mempunyai keinginan belajar. Dalam sebulan ia telah belajar geometri, lalu fisika karya Rohault… ternyata imajinasi dan perasaan kita hanyalah mengelabui kita saja. Jadi benda-benda sama sekali tidak membentuk gagasan-gagasan kita dan kita sendiri tidak kuasa memberikannya sendiri. Lebih mudah menghancurkan daripada membangun.

Maka dalam penjara segalanya menjadi terang. Si Lugu belajar banyak sekali, semua buku dilahap, diskusi filsafat, diskusi misteri hidup. Ucapan orangtua itu membuatnya merenung. “Malebranche yang Anda sukai itu telah menulis setengah bukunya dengan logika, sedangkan setengahnya lagi dengan imajinasi dan prasangka.”

Dengan membaca buku pikiran berkembang dan seorang sahabat mampu menghibur pikiran yang kalut. Menurut perkiraan saya cukup lama keadaan bangsa-bangsa di dunia ini mirip dengan keadaan saya. Mereka sangat terlambat belajar.

Sementara di Notre Dame De la Montagne karena berbulan-bulan tak ada kabar, mereka berbondong-bondong ke Paris untuk mencari tahu nasib keponakan terkasih mereka. Dan Nona de Saint-Yves juga turut serta kabur dengan kuda menuju ke sana, atau ke Versaille. Ketika diketahui nasibnya bahwa Si Lugu dipenjara, maka birokrasi pelepasan diminta. Betapa bikin muak lapis penguasa administrasi. Pada seorang gadis rasa cinta membuat cerdik dan berani, kesannya lebih kuat dari persahabatan yang dirasakan pamannya yang tua serta bibinya yang sudah lewat umur 45 tahun. Asal ada yang mendorong sedikit saja, seorang gadis yang dimabuk cinta dapat menjadi sangat berani.

Paling mual ya permintaan melepas sang kekasih, Yang Mulia Saint-Pouange, asisten menteri meminta tubuh Saint-Yves. Apakah demi kekasih ia rela berkorban? Bahkan ketika meminta nasehat seorang Jesuit malah makin runyam. Ataukah ada jalan lain?

Sejarah Cina Kuno, saya mengaguminya karena tak ada unsur keajaiban di dalamnya. Seandainya kita membutuhkan keajaiban, hendaklah cerita-cerita itu merupakan cermin kebenaran. “Kebenaran bersinar dengan cahayanya sendiri, dan kita tidak dapat menerangi pikiran dengan nyala api pembakaran. Pikiran hanyalah bisa diterangi dengan nyala api pembakaran, dan kebenaran tidak dapat terpancar dengan cahayanya sendiri…”

Secara keseluruhan, jelas ini novel tragedi cinta. Memikat penuh kritik tajam politik. Sesuai prinsip hidup yang dianut Voltaire. Si Lugu mewakili banyak hal, seperti ucapannya, “Kalau begitu Anda sekalian ini orang-orang yang tidak jujur, sehingga memerlukan demikian banyak peraturan untuk mencegah kejahatan.” Relate sampai sekarang ‘kan. Makin terhormat seseorang, maka makin wajib ia tunduk pada peraturan-peraturan. Mereka harus menjadi teladan bagi yang jahat, agar menghormati rem yang ditimbulkan oleh rasa benar dan salah itu. “Itu yang mengherankan, semua orang malang yang pernah bertemu saya menderita gara-gara Paus…”

Atau sindiran pada hakim. Hakim yang suka banyak bertanya daripada mengambil tindakan. “Aku selalu ketakutan karena biasa bergulat dengan prasangka, sedang anak ini hanya mengandalkan alam saja. Kita bertanggungjawab atas keselamatan rohaninya. Karena tak pernah belajar apa-apa sejak kecil, ia tak mengenal prasangka.”

Covernya bagus banget. Dengan ilustrasi berwarna hijau untuk menggambarkan dalam penjara. Cocok banget sama adegan pelajaran hidup selama disekap. Ada dua pegangan hidup saya, kemerdekaan dan objek cinta saya. Keduanya dirampas, maka sungguh aduhai cara penyampaian ilustrasi sederhana tapi mengena.

Jabatan yang paling rendah sampai yang paling tinggi hanya diberikan berdasarkan imbalan yang dipaksakan terhadap Anda. Pangkat-pangkat militer yang tertinggi dapat dilamar dengan cinta, dan pos tersebut didapat oleh suami wanita yang paling cantik. Aku dikelilingi perangkap, mungkin inilah saat aku akan terjerumus ke lembah kesengsaraan. Gadis-gadis lebih mudah belajar merasakan daripada laki-laki yang berpikir.

Jadi kecantikan dan kebenaran merupakan pesona tanpa tanding yang mampu menumbangkan pintu besi, dan meluluhkan hati tembaga. Di balik jabatan ada dosa dan bahaya yang khusus bertalian dengannya. Dari pangeran sampai pengemis yang terendah sekalipun, semuanya menentang alam. Kesedihan yang mendalam biasanya merupakan akibat dari keserakahan yang tak terhingga. Mereka hanyut dalam harapan yang dengan mudah dirangsang oleh secercah kecil kebahagiaan.

Otak, yang kabarnya merupakan pusat kesadaran, mendapat serangan yang sama gencarnya dengan jantung, yang kata orang pusat perasaan. Bagaimana mungkin suatu pikiran sedih dapat mengganggu aliran darah? Dan bagaimana darah mengalir tak teratur memengaruhi kesadaran manusia? Apakah sebenarnya benda cair tak dikenal, yang kehadirannya nyata, dan dapat memengaruhi seluruh jaringan hidup dalam sekejap mata, lebih sigap dan lebih aktif dari cahaya? Ia dapat juga memproduksi perasaan, ingatan, kesedihan, dan kegembiraan, akal sehat, atau kekeruhan pikiran serta bisa pula dengan sangat menjengkelkan mengingatkan kita pada hal-hal yang ingin dilupakan, dan dapat membuat makhluk berpikir ini menjadi sasaran kekaguman, atau rasa kasihan serta air mata?

Ini buku pertama Voltaire yang kubaca, padahal sudah sangat ingin sama Candice yang terkenal itu. Nama aslinya Francois-Marie Arouet, lahir 21 November 1649 di Paris. Meninggal di Paris, 30 Mei 1778. Dikenal sebagai pemikir, ahli filsafat, penulis karya sastra, dan seorang pembenci kezaliman, kefanatikan, dan kekejaman. Ia mencintai dan memperjuangkan keadilan baik dalam karya maupun kehidupan nyata. Dalam karya, ia lebih menyukai tragedy yang merangsang ‘rasa ngeri, terutama rasa kasihan’ yang bisa membuat pembaca menangis ketimbang karya yang menimbulkan kekaguman.

Saya sungguh tak bisa menangkap maksud-maksud baik Tuhan atas diri orang-orang ini. Sungguh mengherankan, setelah membicarakan sedemikian banyak malapetaka yang bertebaran di muka bumi ini, bobot penderitaan sendiri serasa menjadi berkurang. Bahkan mereka pun tidak berani mengeluh lagi, manakala menyadari bahwa semuanya menderita. Sesungguhnya sejarah hanyalah rangkuman kejahatan dan kemalangan. Sejumlah besar orang yang tak bersalah dan cinta perdamaian selalu lenyap di arena sandiwara yang maha luas ini. yang menjadi tokoh-tokoh tak lain hanyalah orang-orang yang ambisius yang keji.

Bagaimana pun juga ini masalah selera. Mungkin selera saya belum terbentuk dengan baik, pendapat saya mungkin keliru. Pendapat orang sering memengaruhi ilusi, mode atau tingkah sesat. Buku ini kubeli 280818 di Solo pas mudik, baru sempat baca kemarin. Banyak tumpukan buku yang belum kubaca, mungkin ini saatnya menghentikan belanja buku dengan mengurangi tumpukan dulu. Pada hakekatnya kita ini hanyalah mesin-mesin ciptaan Tuhan.

Catatan ini kututup dengan potongan puisi berjudul Henriade karya Voltaire tentang penjara Bastille. “Puri yang mengerikan itu, istana pembalasan dendam. Yang sering berisi penjahat dan orang tak berdosa.”

Si Lugu | by Voltaire | Diterjemahkan dari L’Ingenu | Penerbit Yayasan Obor Indonesia | YOI 77.6.26.88 | Penerjemah Ida Sundari Husen | xi + 118 hlm.: 11 x 17 cm | ISBN 979-461-032-1 | Edisi pertama: Januari 1989 | Edisi kelima: Juni 2003 | Desan sampul Sylvia Yudhira | Skor: 5/5

Karawang, 020221 – The Cranberries – Promises

Thx to Susanto Book Store, Solo