Pemahaman Acak Kehidupan

Pembunuh by Rayni N Massardi

“… Karidun pernah baca koran? Pernah ‘kan? Saya juga terlalu sering dan hampir muntah karena ulah manusia-manusia macam Karidun…”

Dengan kata pengantar oleh maestro sastra kita, Seno Gumira Ajidarma, sesuatu yang sangat menjual dicetak tahun 2005, di mana dunia sedang mengalami proses transisi ke data digital besar-besaran, apa yang disampaikan secara garis besar mewakili kehidupan kaum unban kebanyakan. Wanita karier yang bosan di ibukota, kekejaman vonis keluarga atas nasib tak bagus saudara dalam acara ngumpul rutin, gadis desa yang merantau, keputusan penting jadi mudik ke Indonesia atau menetap di tanah orang, istri yang cerewet atas kesetiaan suami, kehidupan pagi di stasiun kereta, sampai kehidupan rutin di kantor yang mencipta ‘demo’ akan mesin pencatat kehadiran.

Mewakili kehidupan masa itu, 22 cerpen dibuat dari tahun 1982 sampai dibukukan, terasa sekali budaya Indonesia, atau dalam satu kata, ‘kita banget’.

#1. Istri Model Baru

Feminism atau sebuah kecelakaan pikir? Istri yang menggugat kesetiaan suami, didorong untuk selingkuh sebab kepolosan dan segala kebaikan yang melimpah itu racun. Duh! Indah Pranata yang tak tenang, hidup memang membosankan, jadi bagaimana kita mengatasinya dengan bijak. Bukan soal kalah-menang.

Entah, apa saya ini perempuan paling bodoh di dunia, atau yang paling bahagia, tapi saya… menang…!”

#2. Cita-cita

Cita-citanya sederhana, memiliki rumah mungil milik sendiri, bukan numpang di tempat saudara. Keduanya kerja, anak dititip sama Bibi yang sudah tua. Maka, ketika pindah ke perumahan mungil terwujud harapannya, malah Sang Bibi yang keberatan ditinggal sendiri.

“… Bibi musti mengerti betapa berartinya bagi saya memiliki sebuah rumah dari hasil keringat sendiri…”

#3. Nama Saya

Rayni, 25 tahun. Nama yang unik, jelas ini pengalaman sendiri sebab simple-karakternya sama. Dan keinginan-keinginan lagi. ia cinta akan namanya yang telah diberikan dengan tulus oleh kedua orangtuanya.

Kita tidak mungkin bangga akan orang lain, tapi dapat bangga pada diri kita sendiri.”

#4. Nasibku Nasibmu

Saya yang mendiri, terlahir di kota kecil, lalu merantau ke utara kota Jakarta bekerja di pabrik pembuat sepatu karet, bisa mengirim uang buat orangtua dan adik, maka suatu hari saat di stasiun kereta api Gambir, menyaksikan berbagai kejadian di sana memicu ‘klik’ yang membuatnya memutuskan pulang kampung selamanya. Dan nasib anak rantau dilakukan lagi adiknya selepas SMA.

Semir, Oom, semir Tante, Bu, Pak, saya bersihkan sepatunya…”

#5. Dua Senja

Ini mungkin yang terbaik, saya selalu menyukai cerita orang-orang tua menghadapi harinya, sebuah misteri nasib kita yang masih muda, bagaimana menjalani hari senja. Maka kisah ini mengambil sudut pandang sang kakek bernama Sulaso, duda lima puluh tahun, berlibur ke Jakarta. Bertemu dengan Nur Abdullah, janda 49 tahun yang juga berlibur. Keduanya mengenang kenang masa muda yang pernah pacaran, sempat terbesit bakalan ada kesempatan kedua, seolah untuk memperbaiki takdir cinta, bahkan sudah sekamar hotel. Namun tidak begitu fergusso… endingnya yang tenang malah tampak syahdu, dan asyik.

Masa-masa indah ini tidak boleh selesai. Saya menyayanginya, saya tidak mau kehilangan dia. Tapi umur tua dan penyakit ini menjadi penghambat. Kematian mungkin saja tiba-tiba menyerang, menghancurkan kebersamaan kami…”

#6. Pilihan

Ini tentang menghadapi masa depan dan opsi bercabang, semua orang hidup jelas mengalaminya. Sebelum berangkat ke Paris, nasionalisme ditanamkan dalam agar nantinya pulang mengabdi pada Negara. Benar ia pulang setelah kuliah lulus, kerja di ibukota sesuai peta harapan, tapi ternyata ia mendapat pilihan lain yang mendamba ke Paris lagi.

Ini urusan perasaan bukan teknis…!”

#7. Kalau Saja Saya Sanggup

Berat memang menjadi orang miskin, apalagi sebagai perempuan tua yang hidup sendirian. Halimah yang galau di senjakala usia. Dan rasa frustasinya mencapai puncak kala ia kelaparan, tertatih mencari makan, hujan deras, dan akhirnya mati kelaparan. Maka berita ini diliput banyak media, salah satunya Dulam Akhmad yang giat menulisnya dengan gigih, sehingga ia pun menjadi populer dan kaya. Mendapat penghargaan dari Organisasi Penulis Nasional. Hanya itu saja yang dapat kita perbuat. Berpikir, melihat, bicara, dan kalau bisa menulis.

Saya…”

#8. Kereta Jabotabek

Kehidupan pagi di stasiun kereta dengan penjual Koran, penyemir sepatu, penjaja makanan, hingga para penumpang dan masinisnya, semua butuh sarapan ‘kan? Maka muncullah karakter Umin, gadis 13 tahun penjaja makanan. Sejak subuh sudah disiapkan ibunya, jualan nasi bungkus berisi sekerat daging dan acar ketimun, juga kantung berisi the manis. Suatu hari ia sakit dan tak muncul di stasiun…

“… Terlalu banyak beban pikiran yang harus mereka pikul…”

#9. Saya Benci

Saya dan dia yang terpaut 3 tahun, di usia matang akhir tiga puluh tentu pikirannya menuju pelaminan. Namun ia kabur. Sejak sendiri, saya berhenti merokok. Menghadapi hari tanpa emosi berlebih, dan membenci dia lebih dari apapun.

#10. Kartu Absen

Pekerja yang tak punya integritas waktu dipecat, buktinya dari mana? Ya dari kartu kehadiran (bukan ‘absen’ sebab absen artinya tidak hadir) yang tercetak setiap hadir. Pak Piun dan dkk lalu memberontak, melakukan tindakan radikal dengan melakukan pengerusakan di malam hari kala penjaga hanya bertiga. Puas? Bah, malah kesengsaraan yang didapat, sampai akhirnya di masa depan menemukan rongsokan mesin yang ia benci teronggok tak guna.

Jegrek, jekrek…”

#11. Pembunuh

Sebagai judul buku, jelas ini bukan cerpen terbaik. Pembunuhan dilakukan atas dasar kzl, membunuh orang baik yang telah membantu, dan tak tertangkap. Hebat. Tamin, pensiunan PNS yang letih dalam kesendirian. Rutinitas pagi ke toilet baca Koran, kerja serabutan jadi kuli bangunan, kehidupan pas-pasan di masa tua. Lalu ia melawan, melawan ketidakadilan hidup dengan membunuh simbol, ia adalah Karidun, saudaranya sendiri.

“… Saya kecewa hari ini. saya dendam. Saya barusan membunuh orang…!”

#12. Ramalan

Ramalan bahwa kerja tak akan lebih setahun di tempat, awalnya sanksi tapi terbukti tepat. Sebagai pencari berita yang nulisnya ceplas-ceplos. Kejujuranlah yang diutamakan. Raya yang galau, ia pun resign, mudik dan menghabiskan waktu di Bogor, walau akhirnya balik lagi ke Jakarta. Dan ia berhasil melawan ramalan setelah bekerja lewat setahun di tempat yang sama.

Aloha… masuk.”

#13. Troya atau Nakita

Akan saya beri nama siapa dia kelak? Troya? Terlalu gagahkah untuk seorang bayi lelaki? Nakita untuk bayi perempuan, apa tidak terlalu centil?” Proses menuju kelahiran yang mendebarkan, dan Ray yang malang.

#14. Sudirman Berbaju Batik

Ini bukan cerita baru, tapi OK lah. Makan gratis di pesta hajatan orang asing dengan bermodal batik dan amplop kosong, lalu bergaya seolah orang berada, dan mendapat durian runtuh sebab mendapat kepercayaan orang kaya untuk memegang tanggung jawab kerja, Sudirman yang miskin menjadi punya uang, mendapat cinta Susi yang terpesona akan wibawanya, hingga meminta dibawa ke rumahnya. Gmana mau diboyong ke gubuk reot? Dasar…

Dik Susi…, saya mau cerita panjang, nih…”

#15. Awal Baru untuk Salira

Salira sang penjaga perpustakaan Nasional, rutinitas yang mencipta keadaan. Suatu hari ia akan kondangan, dandan cantik sehingga memesona seorang pria di bus, yang mengakibat ilfil. Namun kisah tak seburuk itu.

Mbak masih ingat Rami dan Syamsu di lantai tiga? Mereka menikah, jadi beneran…”

#16. Yang Tersisa

Tohir yang ngambek, sebab bosan mengurus keluarga miskin. Ibu dan adik-adiknya yang terus merongrong gajinya. Ia memutuskan cabut. Mak Sumirah yang malang, anak-anaknya meninggalkannya dalam kesendirian, dan anaknya yang sakit-sakitan.

Sudah lama Emak tidak ketemu, mungkin dia sakit ‘Lik.”

#17. Keluarga Besar

Tania dan suaminya yang memutuskan kabur dari acara keluarga. Dihubungi semua saudara, malah di libur panjang memutuskan ke puncak berdua, sebab mereka belum dikaruniai anak. Bosan sama gunjingan, bosan dengan suara miring. Cus!

“… Walau hanya tiga hari, jarang saya merasa senyaman dan setenang ini…”

#18. Kita Jadi Pergi?

Hehe, pengalaman sendiri? Pasangan tanpa dikaruniai anak dengan rutinitas kerja dan bosan. Memutuskan cabut ke luar negeri, resign. Rininta sebagai penulis harian kolom, dan Taufik yang kerja di bidang komputer. Rininta adalah produk manusia Indonesia yang khas. Pada mulanya mereka berusaha tidak banyak menuntut. Mereka menikmati hidup sebagai warganegara yang manis.

Resiko pekerjaan Rin. Itu tugasmu sebagai pengamat sosial? Sebagai penulis kolom…”

#19. Tuki

Tuki yang mencoba peruntungan dengan merantau ke kota. Hidup di pesisir pantai, lalu dalam pilihan hidup menjadi pembantu keluarga kaya yang baik. Ia malah melakukan blunder, tentang ketidakjelasan masa. Dia menjadi korban keganasan kota besar.

Saya tidak akan melanjutkan sekolah, karena tidak ada biaya…”

#20. Halo Indonesia, Apa Kabar?

Di tahun 1998, Rininta melakukan aktivitas rutin dengan kerjanya di kantor Jakarta, kebiasaannya di rumah, bercengkerama dengan kabar Indonesia. Hiruk pikuk, seperti biasa yang dituang dalam buku harian.

Roti bakar mertega ternyata lebih enak rasanya…”

#21. Disambut Laut

Buni dan tragedi pantai. Sebagai bocah pesisir 10 tahun yang mengais rupiah dengan menjajakan kepada turis, ia bosan lihat laut tapi sama ibunya dinasihati, bahwa banyak orang mendamba hidup dengan alam asli. Tapi suatu ketika melakukan kesalahan yang mengakibat kematian, dalam dekapan airnya laut… penyesalan memang sudah menjadi sambungan terlambat.

Laut… sambutlah aku… Aku Buni dari desa Bandudu…!”

#22. Panas Sekali Hari Ini, Ya?

Karena sebuah rumah tangga adalah salah satu bentuk Negara mini kecil mungil yang tidak sembarangan mengelolanya… sebuah cerpen penutup yang tenang, tentang realita buruh kantor yang tercekik tiap akhir gajian, lalu melalangbuanakan duit, terulang lagi sebab harus bayar cicilan, kebutuhan hidup, dan sebagainya.

Kumpulan cerpen yang lumayan bagus, beberapa memang tampak membosankan, tapi jelas tergambar ditulis dengan ketekunan dan pengalaman nyata. Seperti kata Bung Seno di pembuka yang mengutip Roland Barthes, memandang teks dari segi plaisir (kenikmatan karena mengerti yang dibaca) maupun jouissance (kenikmatan ekstatik karena efek-efek tak terduga dari yang dibacanya) – termasuk misalnya jika pembaca terbosankan.

Maka bertahan dalam kebosanan juga merupakan seni membaca. Kubaca buku ini dalam tiga hari yang padat, langsung selesai. Padahal bersisian dengan Zarathustra yang berat, biografi Bung Karno yang padat, hingga curhat Ronny Pattinasary. Itulah nikmatnya membaca, tiap lembarnya bisa merasuki, termasuk pembunuhan ini…

Pembunuh | by Rayni N Massardi | Penerbit Buku Kompas | Desember 2005 | KMN 31005069 | Ilustrasi cover Hari Budiono | Desain cover A.N. Rahmawanta | Penata letak Chris Verdiansyah | Cet 1, 2005 | xiv + 182 hlm.; 14 cm x 21 cm | ISBN 979-709-235-6 | Skor: 3.5/5

Selalu penuh cinta untuk Bondi, Nakita, Kasih, Noorca, Mami, Ipoel, Papi (Alm).

Karawang, 290121 – Dewa 19 – Bukan Siti Nurbaya

Thx to Ade Buku, Bandung