Puisi dan Kumpulan Cerita Wayang

Mata dan Riwayat Semesta by Wija Sasmaya

Cinta itu buta

Tapi cinta juga tak pernah salah

Selalu indah pada waktunya

Walau harus kehilangan nyawa

‘— Sri Uning, Mustika Tuban

Buku tipis yang aslinya hanya berisi 75 halaman. Namun menjadi dua kali lipatnya sebab buku ini bilingual, diterjemahkan jua ke dalam Bahasa Inggris. Dicetak bolak-balik, tapi karena saya saat ini nyaman dengan Bahasa Indonesia, dan celetuk, ‘kurasa buat apa membaca Inggris-nya toh, isinya sama’, maka buku ini hanya kunikmati separuh. Separuhnya bagaimana, mungkin suatu hari nanti kubaca lagi, entah kapan, yang jelas bukan dalam waktu dekat. Dua kali saya memiliki dua sejenis ini, yang pertama karya Marga T, versi separuh asing jelas ku-skip. Benar-benar tak rekomendasi deh ide bikin bilingual gini, boros kertas. Kecuali diterjemahkan, lalu dijual terpisah, jelas itu lain soal sebab tak menempel langsung.

Untungnya lumayan bagus, saya suka narasi yang melibat sejarah. Di sini melimpah banyak cerita wayang, walaupun banyak yang sudah kutahu, ternyata detailnya luput. Nama-namanya juga sudah tak asing. Perang Bratayudha yang terkenal antara keluarga Pandawa dan Kurawa, sampai cerita roman dewa-dewi yang perkasa di tanah Jawa. Hal ini didapat dari puluhan kali, bahkan ratusan kali nonton orang ndalang. Apa yang didapat? Mata ngantuk, lupa tidur semalam suntuk. Nilai tambah apa yang diperoleh? Proses hidup manusia. Dari lahir sampai mati yang disimbolkan tokoh-tokoh wayang. Yang diceritakan sang dalang. (h. 35).

Puisinya tak perlu tafsir njelimet, tak pakai metafora berlebih, tak perlu telaah mendalam, bahkan bait-baitnya seakan bercerita. Semisal, Pemilu 2019 yang geger gugat hasil, itu disampaikan secara terbuka dan eksplisit tanpa banyak gaya bahasa, termaktub dalam ‘Legowo dan Ikhlas’, Luber dan Jurdil, atau tentang ‘Masker, Covid-19. Dan Karakter Bangsa’ itu ndelujur aja penyampaiannya, kritik sosial perilaku warga kebanyakan yang norak menghadapi pandemi. Masker ditimbun, saling sikut saudara sendiri, sembako diborong, kunyit, temu ireng, pala disimpan, dst sehingga tak mencerminkan Indonesia, surga kecil yang Tuhan berikan untuk dunia. Bobol cuk!

Dalam ilmu tasawuf, nafsu punya empat warna: Merah disebut amarah, hitam disebut aluamah, kuning itu supi’ah dan putih adalah mutmai’nah. Dan bila ingin menghadap ‘Sang Raja’ Tuhan, manusia harus suci. (h.37)

Kisah paling asyik wayang ada di ‘Petruk Nagih Janji’ di kerajaan Paseban Agung Kerajaan Dwarawati ada perebutan Dewi Wisnuwati yang mendapat dua lamaran. Pertama dari Raja Baladewa yang datang menjadi duta Raja Astina Pura, yakni Duryudana, yang sang mahkota kerjaan Pangerang Sarjo Kusumo resmi menyampaikan lamaran. Kedua sang tokoh punokawan Madukoro, Petruk menagih janji dulu sewaktu ada pemberontakan, Raja Pandu Bergolo Manik, Sri Bathara Krisna menyuruhnya berperang, kelak akan dapat ‘telur’ Dwarawati.

Raja Baladewa murka, menunjuk muka Petruk dan berujar, “Petruk, orang tua tak tahu diri, Cuma punokawan, Cuma pembantu, Cuma rakyat jelata, Cuma kere hore, berani-beraninya melamar putri raja.” Jadi sang putri menjawab bijak, “Saya bersedia dinikahi siapa saja, asalkan pengantin laki-laki bisa membawa tiga pusaka: Jamus Kalimasodo, Tombak Karawelang, dan Songsong Tunggul Nogo. Ketiganya pusaka milik Raja AMarta, yakni Raja Yudistira.” Langsung saja Prabu Baladewa melaju ke Amarta, tapi yang juara adalah Petruk sebab hanya dengan duduk bersila, bersemadi, dan bermeditasi, ketiga pusaka datang sendiri ke hadapannya! Kok bisa, lha Petruk kan anak Kyai Semar Bodronoyo, ya Sang Hyang Ismoyo, dewa yang menyamar jadi kawula alit alias punokawan (h. 45). Kenapa saya suka ini, sebab wong cilik menang, dan karena saya sedang banyak membaca tasawuf, sungguh ilmu pasrah menjadi sangat keren sekarang.

Saya menemukan nama Raden Ontoseno di sini, nama ini sering dipakai temanku Purwanto Grandong yang menyukai karakter ini. Walau sepintas saja disebut di dalaman 67 dalam sub cerita ‘Sang Penyelamat’: Sementara itu di padang Kurusetra,Prabu Dewa Prawoto mengamuk, para satria Pandawa mundur, kalah semua. Raden Ontorejo, Raden Ontoseno, Raden Abimayu, Raden Setiyaki, mundur dengan mengalami luka bakar. Sebab, begitu Prabu Dewa Prawoto memakai sebuah topeng, yakni Topeng Kencana, semua yang dilihatnya segera hangus, terbakar, menjadi abu!

Wija Sasmaya lahir di dusun kecil Kepek, Gunungkidul, Yogyakarya, 3 Februari 1965. Masa kecil dan remaja dihabiskan di kampung halaman, dan sesudah suka puisi. Djatmikla dan Wanara Bermuja merupakan nama penanya. Setelah menyelesaikan masa sekolah, kuliah di Sekolah Tinggi akutansi Negara (STAN) Jakarta. Lulus, bekerja sebagai Pegawai negeri sipil di Badan Pengawasan Keuanganan dan Pembangunan (BPKP). Buku ini adalah buku kedua setelah kumpulan sajak, Ketika Kata (Tak Lagi) Bermakna, yang terbit tahun 2011. “Lampu itu api, sumber cahaya, penerang di tengah kegelapan, tak boleh padam, lampu itu ibarat semangat, semangat hidup ini tak boleh surut, harus terus menyala, terus berkobar.”

Di akhir buku ada tulisan lima halaman oleh Agus Rois, teman lama. Dulu tetangga kos tahun 2009. Ia menjadi epilog buku, menyampaikan kesan-kesan selama bersahabat. Sejak menjadi tetangga kamar, malam-malam hening menjelma alunan wayang sampai subuh, suaranya cukup nyaring, bergema di tembok-tembok. “Saya harus mulai membiasakan diri menyukai suara-suara sumbang dan cerita-cerita wayang yang seringnya tak masuk akal itu. Saya tak bisa terus-terusan meratapi.” Suatu hari beliau meminjamkan buku 10 Laku Hidup Bahagia karya John Powell SJ dan sejarah dengan gambar Sukarno yang ditulis Peter Dale Scott, Amerika Serikat dan Penggulingan Sukarno 1965-1967, yang pertama terbit tahun 2007.

Dari Agus Rois kita tahu, Pak Wija ternyata pensiun dini tahun 2015, ia kembali menekuri hobi berpuisinya setelah 30 tahun mengabdi, ia menyepi ke kampung halaman, btw sebenarnya ia sebenarnya diterima Sastra Prancis di UGM, tapi malah ambil STAN. Maka terbitlah buku ini. ia memiliki tekad kuat, konsisten menulis puisi di tengah kondisi tubuhnya yang payah dan penyakitan. Meski jantungnya bermasalah, ia menolak jantungnya dipasangi ring dan kabur dari RS di Surabaya. Ia memasukkan tulisan-tulisannya di blog (entah blognya apa, saya belum cari dan tak tercantum di sini), “Jika terluka, menulislah!

Buku ini dicetak September, dikirim buat giveaway oleh Kedai Boekoe Desember, selesai baca bulan ini. sungguh update sekali bacaan, terima kasih. Semoga Inter Milan juara Serie A atau Lazio scudetto. Siapapun, asal bukan Juventus.

Hidup itu ibarat cuma mampir minum, dan sebaik-baiknya minum tentu minum air jernih yang menyejukkan jiwa.”

Mata dan Riwayat Semesta | by Wija Sasmaya | Sampul dan Tata letak Kreasi Rehal dengan Canva | Penerjemah Desi Noviyani | Lombok Barat, Penerbit Rehal | Cetakan pertama, September 2020 | xvi + 148; 14 x 20 cm | ISBN 978-623-93861-3-9 | Skor: 3.5/5

Karawang, 280121 – Dewa 19 – Sounds From The Corner Live

Thx to Kedai Boekoe, Bekasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s