A Sun: A Perfect

Seize the day, decide your path!”

Film memilukan, suram adalah koentji. Peran utama tentu saja ada di tangan si ragil Chen Jian Ho (Chien-Ho Wu), tapi sejatinya yang menggerakkan segalanya menjadi sangat menakjubkan adalah sang ayah A-Wen (Yi-wen Chen). Ia menjadi titik temu di tengah deru misteri hidup. Sebagai instruktur sopir yang komperhensif, sangat tegas, keras, dan begitu prinsipil, ia malah mengelak fakta bahwa anaknya, yang diakui satu. Tentu saja si sulung A-Hao (Greg Han Hsu) yang berprestasi di banyak hal. Akademi bagus, tampang cakep, sifat kalem, penurut, hingga sifat-sifat ideal anak pada umumnya. Endingnya sendiri malah menjadi titik maaf penuh, pilu dan sungguh pengorbanan orang tua itu tak mengenal batas, cinta kasihnya sepanjang masa.

Kisahnya dimula dengan sebuah sabetan golok, memutuskan tangan begundal sekolah Oden (Li-Tung Chang). Pembuka yang keren, sadis. Pelaku utama memang Radish (Kuan-Ting Liu), tapi semua bermula dari cerita Ho. Maka keduanya dijebloskan ke dalam penjara remaja. Seolah tak cukup, ada cewek muda hamil Yu (Apple Wu) datang ke keluarga Wen, mengaku ayah bayi dalam kandungannya adalah Ho. Rumit! Ibunya Qin (Samantha Shu-Chin Ko) menerima gadis itu dalam keluarga. Namun Wen tidak, ia muak.

Harapan keluarga memang ada di pundak Hao, terpelajar dan cakap dalam segala hal. Keindahan, dasarnya konsep statis. Kebanggaan orangtua, berteman sama mahasiswi yang jatuh hati Zhen (Chen-Ling Wen). Sabar adalah ketika kita tetap tenang di bawah pukulan-pukulan takdir. Dan formula film bagus digerakkan di sini, Hao bunuh diri, segala chat HP dihapus, dan ia meninggal dunia meninggalkan luka yang teramat dalam. Zhen datang dan membuka beberapa hal. Dari sinilah judul film diambil, puisi dikutip, ditebar, dibacakan. Matahari yang menyinari, menempa segala benda di bumi tanpa memilih. Semesta yang ingin dikemukakan dalam film ini, yaitu kebutuhan manusia akan kesadaran dirinya. Sisi hidup ini, yang pasti adalah kita maju terus, kita tak mungkin kembali lagi ke masa lalu untuk memperbaiki keadaan, meski di depan kita akan ada badai atau angina puyuh, atau segala guratan sedih lain, tidak ada pilihan lain selain maju terus.

Fiksi bersifat konkret, fiksi menghidupkan gambaran nyata tentang perilaku atau serangkaian kejadian yang menyeret orang itu untuk bertindak. Fiksi yang bagus menggambarkan adegan gerak emosi sehingga apa yang ditampilkan masuk logika. Satu adegan menjadi dorongan adegan lain, tak ubahnya kenyataan.

Film lalu fokus ke Ho, tranformasinya setelah keluar penjara. Harapan ayahnya teralih, tapi gengsi mencipta tembok. Ho siap kerja apapun mengingat cap merah masa lalunya, maka Radish mengintai. Memaksanya menjadi kurir narkoba, yang mencipta konseskuensi teramat berat. Pada dasarnya rasa bersalah dan perasaan ditantang adalah dua sisi dari benda yang sama. Rasa bersalah adalah persepsi tentang suatu jurang yang harus diloncati. Berhasil? Uang satu tas adalah limpahan, beberapa gepok adalah anugerah.

Drama keluarga berbobot. Sungguh aduhai menikmati perjalanan umat manusia dalam balutan, ikatan tragedi, dan limpahan kasih. Endingnya sempurna seolah ejawantah kalimat “Masuknya bagian akhir ke dalam bagian awal”, anak-ibu berboncengan naik sepeda dengan kamera menyorot matahari dalam perjalanan kayuh, di sele-sela pohon yang menyilaukan. Presensi istimewa apa yang diucapkan sang ibu di masa lalu, bahwa Ho ketika pertama kali bisa naik sepeda, ia mengayuhnya tak mengenal waktu.
Putusan-putusan penting dalam kehidupan seseorang lebih didasarkan pada naluri dan lain-lain sifat misterius yang terdapat di bawah sadar, jadi bukan semata pada kesadaran, keingingan atau akal budi.

Mengumpulkan fakta adalah kerja keras. Misteri hilangnya Radish di akhir sungguh merupakan tindakan kasih ayah terhadap anaknya, fakta ia mencinta keluarga dengan menjauhinya menjadikannya sela penasaran. Menyelamatkan masa depan anak adalah mutlak. Kompromi tidaklah pada tempatnya. Apa pun yang Anda buat, buatlah secara bulat. Nah pengakuan di atas bukit, salah satu adegan pilu sempurna dalam sinema.

Pada dasarnya saya memiliki hati perasa. Menyaksikan kasih sayang keluarga yang hampir rubuh ini, saya merasa turut di titik pilu. Benar-benar hebat, pace yang lambat dan cerita kuat mencipta alur bagaimana mengatasi kepedihan, apalagi ini menyangkut keluarga. Seluruh ‘Nalar Semesta’ tak ada apa-apanya di hadapan sabda Ilahi yang tunggal.

Intensitas adalah energi semantik yang menghubungkan semua unsur cerita yang heterogen menjadi kesatuan makna. Dalam hal ini penonton turut menentukan makna atas dasar pengalaman, perasaan, dan emosi yang dimilikinya. Usia dan segala yang dilintasi berpengaruh terhadap hal-hal yang menyelingkupi. Drama pilu dan bumbu harap seperti ini nyaris selalu berhasil bila dieksekusi dengan benar.
Formula film bagus, beberapa kuperhatikan sama. Kuncinya di sini, ‘matikan orang normal dan baik, biarkan orang aneh dan gila mengambil alih layar’. Sedikit yang langsung kuingat setelah Hao terjun dari gedung adalah: Manchester by The Sea, saudara yang waras tewas dan dua orang frustasi disatukan. Bunuh diri adalah makanan rohani bagi keluarga yang ditinggalkan, apalagi yang bunuh diri manusia baik hati, tampan, dan orang terkasih. Manusia kesayangan semua orang, sungguh sebuah hantaman keras kehidupan. Lantas apakah harus menghantam balik? Ya, dengan memaafkan keadaan. Ia membalas masa dengan ‘melindungi’ si bungsu sebagai pertobatan pilih kasih membesarkan anak.

Di mana pun rezekimu, kamu akan mendapatkannya dan rezeki itu akan mendapatkanmu. Maka Ho jelas menerapkan pertobatan setelah keluar penjara dengan sangat efektif. Mendapat kepercayaan menjadi pekerja cuci mobil, ia melakukan dengan sangat tekun. Sudah punya anak-istri yang harus dinafkahi, bahkan tampak lebih gila sebab malamnya ia melanjutkan kerja menjadi kasir di minimarket! Sebuah iktiar luar biasa. Sebuah perjuangan membalas segala kebaikan keluarga, mencoba menggantikan ‘kakak’-nya yang nyaris sempurna. Sebuah peleburan jiwa memesona, merupakan lembah reliji Jalan menuju Tuhan setelah pengembara menjelajahi lembah penyidikan, cinta, kearifan, kemandirian, tauhid, dan kebingungan. Poin terakhir menjadi titik temu istimewa sebab, Ho menuai hasilnya. Setelah membuat Ho (dan penonton) bingung, Radish hilang pasca transaksi di tengah hujan, yang jelas bukan terseret air (hehe), kita semua lalu diberitahu apa yang terjadi, di atas bukit.

Menjadi manusia berguna bagi orang sekitarnya adalah perkembangan jiwa, seperti halnya obat yang pahit rasanya berguna bagi si sakit, maka Wen ini seolah mendapat kesempatan kedua, kasih adalah api, ia membakar segala sesuatu. Pertama-tama api membakar tahap kesabaran. Maka kesabaran orangtua sejatinya diuji lewat ulah nakal anak-anaknya.

Pada akhirnya manusia menaruh harapan pada hal-hal yang sederhana: keluarga yang stabil, pekerjaan yang stabil, anak-anak yang aman, aman dalam arti sesungguhnya. Biarkan tangan ayah menjadi perpanjangan malaikat maut guna menikam manusia bejat.

Cinta ibu kepada beta sepanjang masa, kasih ayah tak terhingga bagai surya menyinari dunia. Sempurna.

A Sun | 2019 | Directed by Chung Mong-hong | Screenplay Chung Mong-hong, Chang Yao-sheng | Cast Chen Yi-wen, Samantha Ko, Wu Chien-ho, Liu Kuang-ting | Skor: 5/5

Karawang, 290121 – Sheila on 7 – Pria Kesepian

Kutonton tepat tengah malam pergantian tahun 2021. A Sun tayang di Netflix, dan maju ke Oscar tahun ini.

Recomendasi Lee, Thx.

Puisi dan Kumpulan Cerita Wayang

Mata dan Riwayat Semesta by Wija Sasmaya

Cinta itu buta

Tapi cinta juga tak pernah salah

Selalu indah pada waktunya

Walau harus kehilangan nyawa

‘— Sri Uning, Mustika Tuban

Buku tipis yang aslinya hanya berisi 75 halaman. Namun menjadi dua kali lipatnya sebab buku ini bilingual, diterjemahkan jua ke dalam Bahasa Inggris. Dicetak bolak-balik, tapi karena saya saat ini nyaman dengan Bahasa Indonesia, dan celetuk, ‘kurasa buat apa membaca Inggris-nya toh, isinya sama’, maka buku ini hanya kunikmati separuh. Separuhnya bagaimana, mungkin suatu hari nanti kubaca lagi, entah kapan, yang jelas bukan dalam waktu dekat. Dua kali saya memiliki dua sejenis ini, yang pertama karya Marga T, versi separuh asing jelas ku-skip. Benar-benar tak rekomendasi deh ide bikin bilingual gini, boros kertas. Kecuali diterjemahkan, lalu dijual terpisah, jelas itu lain soal sebab tak menempel langsung.

Untungnya lumayan bagus, saya suka narasi yang melibat sejarah. Di sini melimpah banyak cerita wayang, walaupun banyak yang sudah kutahu, ternyata detailnya luput. Nama-namanya juga sudah tak asing. Perang Bratayudha yang terkenal antara keluarga Pandawa dan Kurawa, sampai cerita roman dewa-dewi yang perkasa di tanah Jawa. Hal ini didapat dari puluhan kali, bahkan ratusan kali nonton orang ndalang. Apa yang didapat? Mata ngantuk, lupa tidur semalam suntuk. Nilai tambah apa yang diperoleh? Proses hidup manusia. Dari lahir sampai mati yang disimbolkan tokoh-tokoh wayang. Yang diceritakan sang dalang. (h. 35).

Puisinya tak perlu tafsir njelimet, tak pakai metafora berlebih, tak perlu telaah mendalam, bahkan bait-baitnya seakan bercerita. Semisal, Pemilu 2019 yang geger gugat hasil, itu disampaikan secara terbuka dan eksplisit tanpa banyak gaya bahasa, termaktub dalam ‘Legowo dan Ikhlas’, Luber dan Jurdil, atau tentang ‘Masker, Covid-19. Dan Karakter Bangsa’ itu ndelujur aja penyampaiannya, kritik sosial perilaku warga kebanyakan yang norak menghadapi pandemi. Masker ditimbun, saling sikut saudara sendiri, sembako diborong, kunyit, temu ireng, pala disimpan, dst sehingga tak mencerminkan Indonesia, surga kecil yang Tuhan berikan untuk dunia. Bobol cuk!

Dalam ilmu tasawuf, nafsu punya empat warna: Merah disebut amarah, hitam disebut aluamah, kuning itu supi’ah dan putih adalah mutmai’nah. Dan bila ingin menghadap ‘Sang Raja’ Tuhan, manusia harus suci. (h.37)

Kisah paling asyik wayang ada di ‘Petruk Nagih Janji’ di kerajaan Paseban Agung Kerajaan Dwarawati ada perebutan Dewi Wisnuwati yang mendapat dua lamaran. Pertama dari Raja Baladewa yang datang menjadi duta Raja Astina Pura, yakni Duryudana, yang sang mahkota kerjaan Pangerang Sarjo Kusumo resmi menyampaikan lamaran. Kedua sang tokoh punokawan Madukoro, Petruk menagih janji dulu sewaktu ada pemberontakan, Raja Pandu Bergolo Manik, Sri Bathara Krisna menyuruhnya berperang, kelak akan dapat ‘telur’ Dwarawati.

Raja Baladewa murka, menunjuk muka Petruk dan berujar, “Petruk, orang tua tak tahu diri, Cuma punokawan, Cuma pembantu, Cuma rakyat jelata, Cuma kere hore, berani-beraninya melamar putri raja.” Jadi sang putri menjawab bijak, “Saya bersedia dinikahi siapa saja, asalkan pengantin laki-laki bisa membawa tiga pusaka: Jamus Kalimasodo, Tombak Karawelang, dan Songsong Tunggul Nogo. Ketiganya pusaka milik Raja AMarta, yakni Raja Yudistira.” Langsung saja Prabu Baladewa melaju ke Amarta, tapi yang juara adalah Petruk sebab hanya dengan duduk bersila, bersemadi, dan bermeditasi, ketiga pusaka datang sendiri ke hadapannya! Kok bisa, lha Petruk kan anak Kyai Semar Bodronoyo, ya Sang Hyang Ismoyo, dewa yang menyamar jadi kawula alit alias punokawan (h. 45). Kenapa saya suka ini, sebab wong cilik menang, dan karena saya sedang banyak membaca tasawuf, sungguh ilmu pasrah menjadi sangat keren sekarang.

Saya menemukan nama Raden Ontoseno di sini, nama ini sering dipakai temanku Purwanto Grandong yang menyukai karakter ini. Walau sepintas saja disebut di dalaman 67 dalam sub cerita ‘Sang Penyelamat’: Sementara itu di padang Kurusetra,Prabu Dewa Prawoto mengamuk, para satria Pandawa mundur, kalah semua. Raden Ontorejo, Raden Ontoseno, Raden Abimayu, Raden Setiyaki, mundur dengan mengalami luka bakar. Sebab, begitu Prabu Dewa Prawoto memakai sebuah topeng, yakni Topeng Kencana, semua yang dilihatnya segera hangus, terbakar, menjadi abu!

Wija Sasmaya lahir di dusun kecil Kepek, Gunungkidul, Yogyakarya, 3 Februari 1965. Masa kecil dan remaja dihabiskan di kampung halaman, dan sesudah suka puisi. Djatmikla dan Wanara Bermuja merupakan nama penanya. Setelah menyelesaikan masa sekolah, kuliah di Sekolah Tinggi akutansi Negara (STAN) Jakarta. Lulus, bekerja sebagai Pegawai negeri sipil di Badan Pengawasan Keuanganan dan Pembangunan (BPKP). Buku ini adalah buku kedua setelah kumpulan sajak, Ketika Kata (Tak Lagi) Bermakna, yang terbit tahun 2011. “Lampu itu api, sumber cahaya, penerang di tengah kegelapan, tak boleh padam, lampu itu ibarat semangat, semangat hidup ini tak boleh surut, harus terus menyala, terus berkobar.”

Di akhir buku ada tulisan lima halaman oleh Agus Rois, teman lama. Dulu tetangga kos tahun 2009. Ia menjadi epilog buku, menyampaikan kesan-kesan selama bersahabat. Sejak menjadi tetangga kamar, malam-malam hening menjelma alunan wayang sampai subuh, suaranya cukup nyaring, bergema di tembok-tembok. “Saya harus mulai membiasakan diri menyukai suara-suara sumbang dan cerita-cerita wayang yang seringnya tak masuk akal itu. Saya tak bisa terus-terusan meratapi.” Suatu hari beliau meminjamkan buku 10 Laku Hidup Bahagia karya John Powell SJ dan sejarah dengan gambar Sukarno yang ditulis Peter Dale Scott, Amerika Serikat dan Penggulingan Sukarno 1965-1967, yang pertama terbit tahun 2007.

Dari Agus Rois kita tahu, Pak Wija ternyata pensiun dini tahun 2015, ia kembali menekuri hobi berpuisinya setelah 30 tahun mengabdi, ia menyepi ke kampung halaman, btw sebenarnya ia sebenarnya diterima Sastra Prancis di UGM, tapi malah ambil STAN. Maka terbitlah buku ini. ia memiliki tekad kuat, konsisten menulis puisi di tengah kondisi tubuhnya yang payah dan penyakitan. Meski jantungnya bermasalah, ia menolak jantungnya dipasangi ring dan kabur dari RS di Surabaya. Ia memasukkan tulisan-tulisannya di blog (entah blognya apa, saya belum cari dan tak tercantum di sini), “Jika terluka, menulislah!

Buku ini dicetak September, dikirim buat giveaway oleh Kedai Boekoe Desember, selesai baca bulan ini. sungguh update sekali bacaan, terima kasih. Semoga Inter Milan juara Serie A atau Lazio scudetto. Siapapun, asal bukan Juventus.

Hidup itu ibarat cuma mampir minum, dan sebaik-baiknya minum tentu minum air jernih yang menyejukkan jiwa.”

Mata dan Riwayat Semesta | by Wija Sasmaya | Sampul dan Tata letak Kreasi Rehal dengan Canva | Penerjemah Desi Noviyani | Lombok Barat, Penerbit Rehal | Cetakan pertama, September 2020 | xvi + 148; 14 x 20 cm | ISBN 978-623-93861-3-9 | Skor: 3.5/5

Karawang, 280121 – Dewa 19 – Sounds From The Corner Live

Thx to Kedai Boekoe, Bekasi