Cinta Oliver: Dimula Central Park, Berakhir di Hongkong

Kisah Oliver by Erich Segal

Maut mengakhiri kehidupan, tapi tak mengakhiri pertalian batin, yang masih terus berkecamuk di benak orang yang ditinggalkan dalam mencari suatu pemecahan yang mungkin tak pernah ditemukan. Robert Anderson, I Never Sang for My Father

===tulisan ini mengandung spoiler===

Katakan sesuatu yang menenangkan, Oliver,” kata Marcie. “Aku juga gugup,” kataku.

Kisah cinta lanjutan. Memang sulit melanjutkan cerita wow, atau setidaknya menyamai. Sekuel yang mengalami penurunan kualitas, tapi masih bagus sebab endingnya pahit, cara berceritanya bagus, pemilihan plotnya lumayan juga. Tak seperti kebanyakan cerita romantis yang mellow. Sesuai harapan, untung sekali mereka ambyar. Walau alasannya terlalu politis, terlalu kurang alami, sekalipun itu terkait aturan birokrasi, menentang prinsip hidup, idealism yang dipegang, sebagai Sarjana Hukum ia jelas menentang eksploitasi anak-anak untuk bekerja, tapi kisah ini jadinya malah muluk, dan adegan Hongkong itu jauh dari kesan asyik seperti eksekusi di Rumah Sakit, ending luluh lantak sebelumnya. Seperti kata Jimi Hendrix waktu Woodstock, “Keadaan cukup buruk dan dunia ini perlu dibersihkan.

Kisahnya tentang dukacita Oliver Barret IV setelah ditinggal mati istrinya terkasih Jenny. Kisah langsung nyambung, ending di Rumah sakit itu langsung melompat dua minggu, setelah pemakaman, ia lebih dekat sama mertua, Bapa Philip yang juga duda. Setelah itu, waktu meluncur dua tahun kemudian, dan mereka tetap akrab. Sang mertua justru meminta Oliver segera menikah lagi, dukacita sudah cukup, ia harus gegas memperbaiki masa. Orang yang pernah menikah bahagia, tahu persis apa yang dibutuhkan dan yang tak dibutuhkan. Tapi tak adil menuntut seseorang yang belum pernah mempunyai seorang… teman yang bisa dipercaya.

Kesibukan sebagai pengacara, seseorang yang berkecimpung di bidang hukum, membela hak-hak terdakwa, menjadi partner kerja biro, menyibukkan diri. Kata Marchall McLuhan, ‘Manusia seutuhnya selalu bekerja.’ Awalnya selalu cuek masalah asmara, lalu teman-teman dekat, kerabat, dan orang terdekat menyarankan mencari kenalan. Memperbaiki hubungan dengan sekitar. Terbaru malah dijodohkan, melalui makan malam di rumah Mr. Stein, sobatnya dalam acara main musik, ia diperkenalkab dengan rekan lainnya seorang Dokter cantik Joanna. Keluarga ini mencintai musik, maka kencan pertamanya menonton pentas musikal, hiburan kalangan atas. Sempat ada percikan, tapi Oliver menarik diri. Mereka berteman, tapi dari untaian plot, jelas Oliver sejatinya terkesan, Joanna juga menaruh hati. Namun, siapa yang mau menjadi cadangan? Tak ada yang mau. “Kalau pikiran seksi harus dihukum, maka aku akan dihukum seumur hidup.”

Oliver lari ke dokter jiwa, psikolog Dokter London untuk mendengarkan keluh kesah. Kau masih sangat terikat dengan Jenny, kau tak ingin hubungan baru dengan siapa pun! Lalu narasi diambil dari dua sudut. Sang Dokter menjadi pendengar dan memetakan jalan keluar, dan satu kisah cinta sesungguhnya dalam sekuel ini. Suatu sore di Central Park dalam acara lari buat refreshing, ia berkenalan dengan wanita cantik, menarik hatinya yang kosong. Ia memperkenalkan diri sebagai Pancho B. Gonzales, sang gadis bernama Marcie Nash. Cewek hobi tenis, yang sepakat main jam 06:00 pagi besoknya di lapangan sewa The Gotham Tennis Club. Mereka bertaruh, siapa kalah membayar traktir makan malam, yang menang menentukan tempatnya. “Seorang wanita New York bukan apa-apa kalau tidak bawa bola.”

Oliver menang, dan kalau sudah kena klik gini sejatinya sudah ketebak, perkenalan dengan orang baru paling susah hanya dimula, hanya di awal sekali menemukan kesempatan berbicara, selanjutnya lebih lancar. Menjalin hubungan baru dalam proses pengungkapan emosimu. Sejatinya sama saja, siapapun yang memulai, dasarnya sama-sama membutuhkan. Traktiran mahal itu membuat Oliver ga enak ati, berniat membayar eh si cewek malah memanggil sang pramusaji dan dibayar kredit tagihkan atas nama dia. Ini berarti ada dua hal pasti: Dia kaya dan sudah akrab sama resto ini. Dan walaupun saya sudah berjanji tak akan bertanya, saya akhirnya bertanya. “Kau pernah ke sini sebelumnya?”

Dari makan malam pertama akan melanjutkan ke pertemuan-pertemuan lain. Dari mercedez ke BMW. Pengungkapan identitas asli Oliver yang kaya raya, lalu dibalas pengungkapan identitas asli yang ternyata juga wanita kaya raya bernama Marcie Binnandale. Ia cerai sebab ada cekcok harta, hidup memang kadang tak sesuai harapan. Duda dan janda, ah sudahlah. Lantas apa menariknya mencerita duo orang kaya bercengkrama? Muak adanya ‘kan, lihat televisi, kalian pantas mematikannya ketika keluarga Rafi Ahmad berpamer ria kekayaan bersama Gigi dan Rafathar. Kzl kan, maka ketika saya ketahui keduanya melimpah harta, saya langsung drop ekspektasi. Harapanku hubungan ini ambyar, kalau sampai jadian, dah apa yang bisa saya komentari, laiknya sinetron kita. Meminjam istilah media massa, mereka ini pasangan modern. Yang pria bekerja, yang perempuan bekerja. Saling berbagi tanggung jawab, atau saling tak punya tanggung jawab. Saling menghormati, mungkin tak punya anak.

Nyatanya, opsi hati yang remuk dipilih. Detailnya panjang, tapi saya ingin sedikit menyampaikan. Setelah jadian, makan bareng, olahraga bareng, termasuk di kasur, mereka lalu melangkah lebih jauh dengan mencoba mengenalkan pada teman, keluarga, kerabat. Yang pasti tanda-tanda menjadi tua adalah mulai peduli pada siapa pun yang menang dalam pertandingan Havard-Yale.

Dalam keluarga Oliver tradisi adalah pengganti cinta. Ada empat tradisi pesta tahunan: Natal, Paskah, Thanksgiving, dan upacara suci setiap Musim Gugur: Minggu Kudus. Petaka mula, saat acara makan malam keluarga di Thanksgiving, Marcie memesona kedua orang tua Oliver. Jelas sang gadis bisa menempatkan diri di keluarga papan atas ini, toh dia juga konglomerat. Ibunya terpukau, ayahnya lega. Hingga akhirnya, ibunya jalan berdua sama Marcie untuk ngobrol, dan Oliver berdua sama ayahnya, menjelaskan detail keluarga latar sang gadis. Dari keluarga perancang busana, yang tanpa dijelaskan sebab aslinya, sang ayah memiliki masa lalu yang pahit di era Great Depression.

Oliver tentu saja tak mundur, penyebab utama mereka pecah kongsi adalah saat tamasya ke Hongkong, koloni Inggris di China ini mencipta kejelasan asal mula busana produk Binnandale’s diproduksi. Acara malam syahdu, jalan-jalan romantis, makan malam dengan lilin, dst yang direncana ambyar. Oliver, lulusan sarjana hukum Havard tentu tahu aturan usia pekerja, gaji minimal yang wajib dibayarkan, hingga remunerasi yang harusnya disepakati. Walau ada Serikat Pekerja, hal ini memuakkan. Dramatis? Enggak juga, dibuat keren? Enggak juga, hal-hal semacam ini malah mencipta kalimat, ‘lhaaa…. Kok’. Memang apa yang diharapkan Oliver (dan Penulis) dari proses kreatif busana dari Dunia Ketiga? Proses produksi canggih dengan robot? Faktor yang menentukan adalah Tuhan dan regu bertahan.

Oliver memutuskan pulang sendiri lebih awal, dan melupakan kisah cintanya yang kandas. Mencoba merekat kembali dengan Dokter Joanna, dalam pertemuan ngopi di kafe, ia ternyata sudah berencana pindah kota, lalu menikahi pria seprofesinya. Ia sendiri kini kembali jomblo, beberapa tahun kemudian terdengar kabar Marcie menikah dengan pria lain, punya anak, dan tampak bahagia, kisah Oliver menemui titik buntu. Ia mudik ke Boston, memtuskan melanjutkan Perusahaan bapak dan berdamai dengan kenyataan, pulang dalam pelukan ayah-ibunya yang sudah tua. Aku kembali berlari dalam gelap, mengenang masa lalu sekadar untuk melewatkan waktu. Lalu seolah kembali ke babak pertama, aku hanya merasa kesepian.

Freud pernah bilang, untuk melakukan hal-hal kecil dalam hidup ini kita harus bertindak dengan akal sehat kita. Tapi untuk hal-hal besar, kita harus mendengar hati nurani kita. Paradoks: kata semua orang para suami punya khayalan untuk menjadi bujangan. Mungkin kenangan pun bisa menyakitkan. “Selamat tidur, Pangeran manis.”

Kisah Oliver | by Erich Segal | Diterjemahkan dari Oliver’s Story | Copyright 1995 by Ploys Inc. | Alih bahasa Ade Dina | GM. 402 96.425 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Jakarta, Oktober 1996 | 304 hlm.; 18 cm | ISBN 979-605-425-6 | Skor: 4/5

Untuk Karen, Amor mi mosse

Karawang, 270121 – Sheila On 7 – Pejantan Tangguh

Thx to Lumbung Buku, Bandung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s