Dantes: Fitnah, Dengki, Dendam, Dermawan, Pahlawan

Conte Cristo by Alexandre Dumas

Villefort: “Aku seorang penganut kerajaan dan namaku Villefort. Biarkan getah-getah revolusi itu mongering dan mati bersama batang pohonnya yang telah menua, Nyonya, dan lebih baik kita memperhatikan tunas-tunas muda yang tumbuh terpisah, tetapi tidak mempunyai daya bahkan keinginan untuk melepaskan diri sepenuhnya dari induk.”

Mari kita buktikan bahwa kita cukup berharga untuk disayangi orang. Book of the year untuk karya fiksi. Keinginan membacanya sudah sangat lama, baru kesampaian tahun lalu setelah melihat pos jualan. Keinginan baca Sastra Dunia ini setara dengan Anna Karenina yang tebal, dua jilid yang sampai sekarang belum kesampaian. Sastra klasik memang jaminan kualitas, sebab waktu sudah menyaringnya.

Kisahnya tentang Edmond Dantes, pemuda 19 tahun yang menjadi awak kapal Le Pharon yang dimiliki oleh Tuan Morrel. Memiliki kekasih cantik pujaan hati, rencananya setelah mendarat ia akan mendapatkan promosi jabatan kapten, dan menikahi Mercedes. Rencana indah pria baik hati dan tak sombong ini begitu sempurna, sehingga semesta pasti tersenyum pada nasibnya. “Aku tidak angkuh, tetapi aku berbahagia, dan kukira kebahagiaan dapat membuat seseorang menjadi lebih buta daripada angkuh.” Namun bersamaan dengan niat baik, ada iri hati yang menyertai. Takdirnya berbalik 180 derajat berkat orang-orang jahat yang ada di sekelilingnya, dan situasi politik yang memanas kala itu, awal abad 19 Prancis dalam gejolak kekalahan Napoleon Bonaparte. Peribahasa terkenal dalam politik bahwa orang tidak boleh mempercayai kesan pertama. Ia menerapkan peribahasa itu dan mematikan kesan baik yang baru diperolehnya.

Segala sesuatu itu nisbi. Dantes akan diangkat jadi kapten, ya. Akan menikah dengan gadis cantik, ya… lalu segala-galanya ambyar.

Nasib orang polos, benar-benar dimainkan tangan-tangan kotor. Pertama Danglars yang iri sama rencana promosi jabatannya, seorang akuntan korupsi ini lalu menjerumuskannya dalam isu jahat, yang membuat sang pemilik perkapalan ragu. Permintaan seseorang yang berada di ambang kematian selalu bersifat suci, tetapi bagi seorang pelaut permintaan atasannya merupakan perintah yang harus dilaksanakan. “Kalau begitu berangkatlah anak muda, tugas lebih penting dari kami. Penuhi ke mana saja tugas Raja memanggilmu.” Kata Marquis.

Kedua Fernand yang mencinta Mercedes, keinginan merebutnya dari Dantes dengan mengagalkan perkawinannya, mencipta situasi hitam. Dan juga Caderousse yang mengatur siasat jahat. Pandangan hidupku hanya terbatas sampai kepada perasaan-perasaan ini: aku menyayangi Ayah, aku menghargai Tuan Morrel, dan aku mencintai Mercedes…

Ketiga Villefort, seorang wakil jaksa penuntut umum jua politikus yang menjadikan Dantes kambing hitam. Menfitnahnya, menuduhnya menjadi kaki tangan Napoleon dengan alibi pelayaran mampir ke Pulau Elba menemui Sang Kaisar, jadi posisi Dantes langsung berat. Dituduh menghianati Negara, menjadi tahanan politik di Pulau If yang terpencil. Dantes yang tak tahu apa-apa, benar-benar tak belum paham situasi. “Hidupmu, anak muda, masih terlalu pendek untuk dapat mengandung sesuatu yang sangat berarti.”

Di penjara dia hanya dikenal dengan nomor 34, selama beberapa hari ia masih linglung dan tak paham situasi. Kita seandainya di posisi yang sama paling juga blank. Sebagai pembaca kita bisa melihat dari atas, rasa kasihan dan geram menyelimuti kita. Jahat banget. Ia baru sadar setelah berjuang, bertahan, dan akhirnya lewat kerja keras berhasil menghubungkan ruang penjara sebelah dan berkenalan dengan penghuninya yang tua dan cerdas. Padri Faria: “Kalau ingin mengetahui siapa pelakunya, temukan dahulu siapa yang beruntung dari kejahatan itu… Siapa yang beruntung dengan hilangmu dari masyarakat.”

Dia belajar sama penghuni lama yang luar biasa hebat. Untuk melakukan hal itu, diperlukan lebih banyak keberanian daripada kemurahan hati semata karena menolong ayah seorang Bonapartis yang berbahaya seperti Dantes, sekalipun di ranjang kematian, ketika itu dianggap sebagai suatu kejahatan. Belajar kehidupan, setelah menguras habis daya kemanusiaan, barulah ia berpaling kepada Tuhan. Untuk orang yang berada dalam kesenangan, doa hanyalah merupakan rangkaian kata tanpa makna, sampai pada suatu saat kesedihan dan kepedihan datang menerangkan makna kata-kata agung yang ditunjukkan kepada Tuhan.

Aku ini Padri Faria, aku berada di penjara If sejak tahun 1811, tapi sebelumnya aku dipenjara di Benteng Fenestrella selama tiga tahun. Sebab dipenjara tahun 1807 melontarkan gagasan yang ternyata dicoba oleh Napoleon. Seperti kata Machiavelli, aku cenderung memandang kekaisaran sebagai suatu yang agung dan berwibawa.

Keakraban dan kepercayaan itu tumbuh dalam rasa senasib dan sepenanggungan. Selama itu, Sang Padri menulis buku penelitian berjudul ‘Uraian tentang Kemungkinan Sebuah Kerajaan Tunggal di Italia’. Orang ini begitu cerdas, begitu terampil, begitu mendalam, bahkan sanggup menembus kegelapan rahasia nasib buruknya sendiri. Dantes sendiri tak pernah memahaminya. Selama berdiam diri seperti bersemedi yang seakan-akan hanya berlangsung beberapa detik itu, ia telah membuat keputusan yang mengerikan dan sumpah yang menakutkan.

Salah satu kunci kesuksesan kisah ini ada di kalimat ini, “Sekarang, engkau telah mengetahui rahasia ini sebanyak pengetahuanku sendiri. Kalau kita berhasil melarikan diri, setengah dari kekayaan itu adalah milikmu; apabila aku mati di sini dan engkau berhasil lari, semuanya menjadi milikmu… engkau adalah anakku, engkaulah anakku yang lahir dari pengasinganku… ternyata Tuhan mengirimkan engkau kepadaku sebagai satu-satunya penghibur dalam menjalani kehidupan yang hancur ini…” kata Faria. Dan seolah memberi cahaya ke masa depan. Aku mesti menghukum musuh-musuhku dulu sebelum mati, dan aku pun perlu membalas budi sahabat-sahabatku…

Kematian adalah satu-satunya hal penting dalam hidup kita ini yang patut menjadi bahan renungan. Kematian Faria justru memberi opsi kemungkinan kabur, dengan sangat elegan dan berkelas kematiannya mencipta Dantes lulus dari penjara, caranya mungkin sudah kalian lihat dalam salah satu serial Prison Break, dan betapa leganya… “Karena dengan itu aku telah menanamkan dalam hatiku sebuah perasaan yang tidak pernah ada sebelumnya: pembalasan!”

Ia menekan kepalanya dengan kedua belah tangan, seakan-akan ingin mencegah jangan sampai pikiran warasnya menghilang dari kepalanya… kemudian mengucap doa syukur yang hanya akan dipahami oleh Tuhan sendiri. “Ya, aku suka sekali mempelajari watak-watak setiap manusia dan berpendapat bahwa akan lebih mudah mempelajari dahulu watak manusia secara umum lalu menjurus kepada watak perorangan dibanding dengan sebaliknya.”

Empat belas tahun sudah sejak Dantes ditangkap, ia baru berusia Sembilan belas tahun, sekarang tiga puluh tiga tahun umurnya… sekarang tahun 1829… Dantes menjelma sosok baru, dengan harta melimpah, dan rencana-rencana. Segalanya lalu disusun dengan matang dan menakjubkan. Monte Cristo adalah nama sebuah pulau kecil yang sering aku dengan dalam percakapan-percakapan awak kapal. Sebuah pulau pasir di tengah-tengah kepulauan Mediterania. Maka ia menjadi Comte Monte Cristo yang kembali ke Paris dengan runutan dendam. Sumpah vendetta yang berarti sumpah membalas dendam. Kebencian adalah buta, amarah membuat kita dungu, dan barang siapa melampiaskan nafsu balas dendamnya, akan menghadapi bahaya menelan pil yang lebih pahit.

Empat belas tahun, tentu banyak perubahan. “Terima kasih ya Tuhan, setidak-tidaknya Engkau tidak memukul yang lain selain aku.” Kata Morrel, mantan bosnya kini terlilit urtang dan masalah. Ia bantu dengan tanpa menyebut nama lamanya, Dantes sudah dianggap mati oleh orang-orang terdekatnya. Ia juga menjelma saudagar, Orang-orang Timur hanya menghargai dua perkara dalam dunia ini, keindahan kuda dan kecantikan wanita. “Karena hatiku penuh dengan racun kebencian, sekarang aku memerlukan penawarnya.

Prinsip hidupnya: Aku hanya memiliki tiga macam lawan, yang pertama dan kedua adalah jarak dan waktu. Tetapi dengan kegigihan dan ketekunan, aku dapat mengatasi keduanya. Yang ketiga adalah yang paling mengerikan, yaitu bahwa aku tidak kekal. Hanya itu yang bisa menghentikanku sebelum mencapai tujuan. “Aku menjaga dan mempertahankan kehormatanku terhadap manusia mana pun juga, tetapi melepaskannya di hadapan Tuhan yang telah menjadikanku dari tiada menjadi seperti sekarang.”

Rekan kerjanya yang menjerumuskan, hidup lebih baik, tapi tetap materi menjadi tujuan. “Aku pernah akan menjadi gila, dan Tuan tentu mengenal dalil ‘non bis in idem’ dalam ilmu hukum yang berarti sebuah perkara tidak boleh diadili dua kali, jadi aku tidak akan menjadi gila dua kali.” Maka mutiara/permata menjadi daya tariknya sebagai umpan.

Termasuk nasib akhirnya yang dibuat sungguh aduhai. Seorang kapitalis yang risau sama dengan sebuah bintang berekor. Ia memberikan pertanda akan datangnya suatu malapetaka. “Seperti Tuan ketahui, seorang bankir tidak percaya sesuatu yang tidak tertulis.”

Yang paling kucintai setelah dirimu, Mercedes, adalah diriku sendiri. “Maafkan aku, Edmond, maafkan demi Mercedes yang masih mencintaimu!” Ya bagian kekasihnya yang menikah dengan orang lain, lalu anaknya yang mengajak duel dan sang mantan meminta maaf dan tolong itu benar-benar bagian paling sulit diterima akal sehat. Sedih sekali, sakit sekali. “Banyak orang yang bersedia menderita dan menelan air matanya dengan ringan hati dan mengharapkan Tuhan menghiburnya di surga nanti. Tetapi mereka yang berkemauan keras berjuang membalas pukulan takdir itu.”

Menurut hukum, surat wasiat akan sah bila dibaca di hadapan tujuh orang saksi, disetujui isinya oleh pemberi wasiat, lalu disegel oleh notaris di hadapan semua. Lalu diperkuat untuk kemudian hari tidak menggugat. “Janganlah kita terlalu memperturutkan kebiasaan yang selalu menghambat si lemah membangun masa depan yang kokoh.”

Apa yang dicari keluargaku dari perkawinan ini adalah kehormatan, yang kucari adalah kebahagiaan. Engkau tidak percaya kepada Tuhan, padahal yang Tuhan harapkan darimu hanyalah sebuah doa, sepatah dia, atau setitik air mata penyesalan agar engkau diampuni. Kata Albert, “Tuan mungkin tidak akan mengerti mengapa beberapa kalimat dalam sebuah surat kabar dapat mengantarkan seseorang kepada keputusasaan. Bacalah ini, Tuan. Tetapi harap setelah aku pergi.”

Kami tidak dapat membiarkannya lepas dari tangan kami. Sekarang, setelah tembakan dilepaskan, gemanya akan menggaung di seluruh Eropa. Orang-orang memang berwatak baik senantiasa siap untuk memberikan rasa simpatinya kalau kecelakaan yang menimpa musuhnya itu sudah melampaui batas kebencian. Aku tinggal terasing dari masyarakat di rumah pelindungku yang mulia, Aku hidup secara demikian karena kau menyenangi keheningan dan kesunyian yang dapat memberiku kesempatan berpikir dan mengenang masa lampau.

Ia mengarahkan mata ke langit-langit, lalu secara cepat menurunkannya kembali, seakan-akan ia merasa takut langit-langit akan terbelah lalu pandangannya akan beradu dengan Hakim yang Mahaadil. Seandainya engkau masih merasa bersahabat, seperti yang engkau katakana, tolonglah aku menemukan tangan yang menghantamkan pukulan ini. “Apabila seseorang bermaksud menikahkan anak perempuannya, aku rasa ia mempunyai hak untuk menyelidiki latar belakang keluarga calon menantunya, bahkan bukan hanya merupakan hak, melainkan kewajiban.”

Terbitan KPG untuk seri #SastraDunia banyak ditemukan typo, salah ketik. Untuk buku setebal 700 halaman, typonya ada puluhan. Seri sastra dengan kover polos, dengan warna biasa, judul lebih besar ketimbang penulisnya, dulu pas pertama muncul rangkaian KPG ini, sudah mematik hati untuk mengoleksi. Terutama tentu yang belum baca versi lain. Sudah punya belasan, dan sejauh ini buku ini yang terbaik.

Novel ini jelas memengaruhi banyak generasi berikutnya. Beberapa yang terbesit adalah, film The Shawsank Redemption yang menjadikan penghuni penjara Andy Dufresne berhasil kabur setelah perjuangan ekstra kerasnya membuahkan hasil. Ikonik sekali ekspresinya ketika ia menengadah di bawah guyuran hujan dalam keadaan bebas. Kedua, novel Kura-Kura Berjanggut, novel lokal tahun 2018 yang memenangkan Kusala Sastra Khatulistiwa ini ada bagian panjang, bagaimana sang raja Lamuri berjuang kabur dari penjara, belajar sama ahlinya yang terkurung lama dan gila. Ketiga, saya harus menyebut The Next Three Day, film balas dendam dengan alur harus keluar dari penjara dulu, berkelas jua.

Ada sebuah sajak yang cocok menggambarkan kehidupan yang hilang selama belasan tahun Dantes, yaitu Sajak Pindar:

Remaja adalah bunga

Berubah menjadi buah,

Cinta.

Bahagia ia yang memelihara,

Dan memetiknya ketika masanya tiba.”

Buku yang menguras air mata, sebab kehidupan indahnya direnggut oleh tangan-tangan kotor dan ia yang polos terlambat sadar. Untuk setiap kejahatan ada dua macam obat: waktu dan diam. ‘Oh Tuhan, lindungilah ingatanku.’

Kekayaan merupakan amanat suci dari Tuhan. Uang akan kita tinggal pula, gunakan dengan bijak. Tak memegang erat, tak pula menentengnya dengan angin. Untuk beberapa orang tertentu, bekerja merupakan obat yang mujarab untuk menghilangkan kesedihan. Apa pun kata orang-orang bijaksana, uang selalu merupakan hiburan yang utama. “Tabahkanlah hati dan berusaha tetap hidup, karena akan datang suatu hari di mana engkau akan merasa berbahagia dan menghargai hidup.”

Bertindaklah menurut kemauanmu, anakku, dan aku akan menyerahkan diri kepada keinginan Tuhan.”

Conte Cristo | by Alexandre Dumas | Judul asli Le Comte de Monte-Cristo | KPG 59 16 01235 | Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) | Cetakan pertama, Agustus 2016 | Sebelumnya pernah diterbitkan oleh PT. Dunia Pustaka Jaya | Cetakan pertama, 1980; cetakan kedua, 1992 | Penerjemah Ermas | Perancang sampul Deborah Amadis Mawa, Teguh Tri Erdyan | Penataletak Landi A. Handwiko | iv + 754 hlm.; 14 x 12 cm | ISBN 978-602-424-116-2 | Skor: 5/5

Karawang, 140121 – Ella Fitzgerald – Ev’ry Time We Say Goodbye

Thx to Fatihah Book Store, Yogya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s