Pelayaran ke Ujung Akhir Dunia

Petualangan Dawn Treader by C.S. Lewis

Lucy: “Sejak kita mendarat di pulau ini, aku langsung merasa pulau ini penuh sihir. Oh! Apakah menurut kalian kita telah datang ke sini untuk mematahkannya?”

Seri ketiga petualangan Narnia, perjalanan ke Timur jauh dengan kapal Dawn Treader. Raja Caspian mendapatkan bantuan dari London, kali ini Edmund dan Lucy, serta Eustace Scrub, saudara Pevensie. Melalui lukisan kapal di dinding, mereka turut serta dalam pelayaran yang mendebarkan untuk menjelajahi nasib para Lord. Dari danau emas, setiap yang dicelup menjadi emas sampai pulau perbudakan. Dari naga perwujudan manusia sampai buku mantra di pulau para kurcaci. Dari meja makan penuh mistik, dipenuhi nyanyian jazz dan tiga Lord terlelap sampai ke jawaban bahwa bumi itu bulat?

Eustace Clerence Scrubb anak nakal, tidak menyukai sepupu-sepupunya empat Pevensie. Namun saat tahu Lucy dan Edmund datang untuk menginap, ia lega sebab akan dapat ‘anak buah’, sifatnya yang suka memerintah dan semena-mena dapat tersalurkan. Lucy dan Edmund tak suka menginap di rumah bibi Alberta dan Paman Harold selama ayahnya bekerja ke Amerika mengajar selama enam belas minggu di musim panas, ibunya untuk berlibur sebab sudah sepuluh tahun tak liburan jauh. Peter harus belajar untuk mengikuti ujian, belajar sama Profesor Kirke, jadi hanya Susan yang ikut ke seberang, biar lebih hemat.

Suatu sore, saat Edmund dan Lucy ngobrol sembunyi-sembunyi tentang Narnia dan kerinduan untuk kembali berpetualang, Eustace mendengar dan mengejek. Dasar orang aneh! Di kamar Lucy, memandang lukisan kapal yang sedang berlayar, dan lukisan itu lama-kelamaan terasa bergerak, ombak lautan turut bergelombang, lalu semakin lama semakin gemuruh. Eustace merasa ada sihir dan berteriak, “Hentikan ini! Ini pasti tipuan konyol kalian, hentikan atau aku beritahu pada Alberta…” terlambat sobat, air tumpah dan cipratan air asin dan dingin itu membuncah ke penjuru kamar. Dan wuuuzzzz…. Mereka masuk ke Narnia.

Mereka diangkat ke kapal Raja Caspian. Lucy dan Edmund tentu saja sudah familiar, dan menanti petualangan apalagi kali ini, bertemu kembali sobat lamanya dari Drinian, tikus pemberani Reepicheep, Rynelf, dkk. Nah, anggota baru Eustace gemetaran, takut, dan menyebut pulang mulu. Mengancam akan melaporkan kepada ibunya, akan melaporkan ke Pemerintahan Inggris. Sampai segala takut menghadapi dunia asing, bagaimana bisa manusia berkepala manusia menyapanya, pingsan. Dan tikus yang gesit nan humble yang cerewet. Hahaha… ia lalu sering menyendiri di dek pojok, menulis kisah ini di buku hariannya.

Misi kali ini adalah ke Timur, menemukan nasib teman-teman ayahnya Caspian. Ketujuh Lord: Revillian, Bern, Argoz, Mavramorn, Octesian, Restimar, dan Lord Rhoop. Peralatan dan senjata mereka berdua kembali diberikan, ibat dan belati untuk Lucy, dan Edmund mendapatkan pedang Peter. Wow, impian ini. Selama di Narnia ia menjadi bayangan kakaknya kini ia mendapatkan pedang raja itu.

Pelayaran ini menemukan daratan pertama di Lone Island. Di pulau ini terjadi perbudakan, mereka turut ditangkap dan dijual, di penjara malah ketemu salah satu Lord. Bagaimana petualangan mereka, dan akhirnya membebaskan rakyat dari raja yang lalim. “Narnia! Narnia! Panjang umur Narnia!”

Melanjutkan pelayaran, badai berkecamuk, angin meniup ke Timur dalam dayung dan misi panjang. Melalui tulisan tangan Eustace kita menjadi saksi alam liar lautan. Selanjutnya mendarat di pulau gersang, Scrubb yang muak kabur, ngumpet di balik bukit, menemukan emas dan piala dan segala yang berkilau. Gelang, kalung, cincin, luar biasa. Ia mengambil satu gelang dan memakainya, limpahan harta karun ini menjadikannya buta dan bila dibawa ke London sungguh jadi sultan mendadak. Dekat danau, ada gua, ada naga! Dalam gemetar, ia bersembunyi, masuk ke gua. Itulah mula bagaimana justru ia kena kutuk, Eustace menjadi naga! Menyelingkupi pula segala sifatnya, napasnya mendengus, semburan api, bisa terbang, maka saat bertemu pasukan Caspian ia kabur karena ditembak panah dan pedang terhunus. Sedih…

Di sinilah, Eustace merasa sepi dan takut, dan terlihat ia cerdas. Karena ia memberi kode, ia bisa mendengar semua kata-kata teman-temannya, ia hanya tak bisa bicara. Dikira mula sang Lord, bukan. Kau makan bangsawan Narnia, bukan. Kau Eustace? Sang naga mengangguk-angguk. Wow… dari sinilah sikap dan perilakunya terlihat berubah. Tak sombong lagi membaur, dan siap membantu petualangan. Ia menjadi sangat bersahabat. Di Pulau Naga itulah, Caspian lalu menuliskan kekuasaannya. Pelayaran terus ke timur…. Dst

Mereka ke pulau yang airnya menjadikan segala yang tersentuh menjadi emas. Semuanya! Kau celupkan kayu, kayu itu jadi emas, kau celupkan pedang, pedang itu jadi emas! Awalnya mau jadi Pulau Emas, tapi melihat patung emas sang Lord di dasar danau justru pulau ini dijuluki pulau Kematian.
Lalu ke pulau bisikan-bisikan, mereka tak melihat orang-orang, tapi jelas ada suara-suara. Ada makhluk membal-membal yang mengancam? Di sebuah gedung ada jamuan makan, lalu kita tahu bahwa ada penyihir yang menjadikan mereka tak terlihat, sihir akan musnah bila ada seorang cewek membacakan mantranya, dan karena Lucy satu-satunya maka ialah yang ke lantai atas, membaca mantra tolak samar. Segala yang tak terlihat akan terlihat, lalu muncullah Aslan. Ia mematuhi apa yang menjadi aturan, dipeluknya. Lucy sempat kepincut sama mantra cantik, ia ingin seperti Susan yang anggun dan jelita. Sempat pula disobeknya lembar mantra itu, yah kita tahu: nasihat bijak selalu sama, jadilah diri sendiri. Pengelihatan dua teman sekolahnya menyadarkannya.

Di pulau ada meja makan dengan tiga Lord mematung, ada Ramandu, mantan bintang jatuh, dan putrinya yang jelita, ada nyanyian surga yang menyelingkupi, setelah Pulau Ramandu, ke timur lagi dengan perahu kecil dan pamit sama Caspian dan pasukan, ketiga warga Inggris bersama si Tikus sampaikan mereka di ujung Timur. Kapal Dawn Treader memenuhi misi, sampai ke Ujung Akhir Dunia. Bulat? Oh tentu tidak… Narnia bukan bumi yang berputar mengelilingi matahari, Narnia memiliki aturannya sendiri. Menembus horizon, menyentuh cakrawala, Aslan bersabda.

Ini akhir petualangan Pevensie, kalian terlalu tua. Eustace sebagai penerus kisah akan kembali ke Narnia, sang domba sudah memberi spoiler untuk ‘Kursi Perak’, lalu dalam sekejap sudah di Cambrigde. “Kau tidak akan pernah mengenalinya sebagai anak lelaki yang sama lagi.”

Sebagai novel terpanjang, kisah yang ditawarkan yang paling tak mendebarkan. Kita pasti sudah dapat meramalkan tujuan pelayaran ini bakalan selamat semua, menemukan para Lord dan karena ketiga warga London ini dipanggil, perannya tak sekrusial dalam pertempuran. Dalam dua seri sebelumnya kita bisa lihat, mereka bertarung dengan sangat mendebarkan. Di sini tak ada, dan karena Pevensie pamit, terutama Lucy maka ia mendapat porsi sangat banyak.
Dalam film, ada teriakan ibunya Eustace bahwa Jill Pole menunggu di depan. Sebuah titik kecil untuk buku keempat. Sayangnya setelah sepuluh tahun lebih, tak ada kabar. Justru muncul di serial Netflix yang akan tayang tahun ini… saying sekali. Padahal acting Will Poulter keren sekali.

Buku ini kubacakan untuk Hermione yang antusias tinggi, saat ini sudah dapat dua bab mula lanjutannya. Yah, pasti ketujuhnya akan selesai baca tahun ini. Sudah jadi kebiasaan, setelah baca bukunya nonton filmnya, sudah tiga kali. Lalu bagaimana nantinya setelah selesai kubacakan Kursi Perak, filmnya menggantung.

Selalu menyenangkan menghabiskan waktu baca dongeng jelang tidur bersama anak. Huge, huge…

The Chronicles of Narnia: Petualangan Dawn Treader | by C.S. Lewis | Diterjemahkan dari The Chronicles of Narnia #5: The Voyage of the Dawn Treader | Copyright © CS Lewis Pte Ltd. 1950-an | Cover art Cliff Nielsen | Inside illustrations Pauline Baines | Alih bahasa Indah S. Pratidina | GM 106 05.016 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Desember 2005 | Cetakan ketiga: Maret 2006 | 344 hlm, ilustrasi, 18 cm | ISBN 979-22-1748-7 | Skor: 4.5/5

Untuk Geoffrey Barfield

Karawang, 130121 – ABC – The Look of Love

*) Dibeli di Mal Lippo Cikarang, – : Hasrat utk tidak bertahan, Chelsea 3-2 Liverpool

**) Dibaca ulang sebagai dongeng jelang tidur untuk Hermione Budiyanto, tiap malam dua bab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s