Buku Istimewa tentang Tasawuf

Dimensi Mistik dalam Islam by Annemarie Schimmel

Pertama-tama kutulis buku-buku dengan seksama – akhirnya kupatahkan penaku dalam kebingungan.”Ghaznawid.

Book of the year. Selesai baca tepat di tanggal 31 Desember 2020, buku penutup tahun yang luar biasa. Saya tak mengenal tasawuf, jelas ini barang baru. Saya tak mengenal Annemarie Schimmel, sebelum memutuskan beli, saya sudah tanya ke grup buku dan serentak sepakat orang hebat dari Jerman, maka ini pengalaman pertamaku yang menakjubkan, akan ada buku-buku beliau yang akan kubaca. Sudah antri, salah satunya berjudul: ‘Rahasia Nama-Nama Islam’. Dan ternyata beliau memang konsen ke area sufisme, di makamnya bahkan tertulis, “Sesungguhnya manusia itu tertidur, dan ketika mereka mati, maka mereka terbangun.” Yang diambil dari Maqolah Ali bin Abi Thalib.

Dibuka dengan dua kutipan yang mewakili isi:

Seseorang bertanya kepada Abu Hafs: “Siapakah sufi?” Ia menjawab: “Seorang sufi tidak bertanya siapa sufi.”

Akbarlah Tuhan Yang tidak bersedia memberikan kepada makhluk-Nya cara-cara untuk mendapatkan pengetahuan tentang-Nya kecuali lewat ketidakmampuan untuk mencapai pengetahuan tentang-Nya.

Butuh perjuangan ekstra untuk menyelesaikannya, fokus tak banyak gangguan baca buku lain, dan kubaca di banyak tempat. Mulai kubaca tanggal 12 Desember, dan sulit lepas walau tetap sesekali baca bareng buku lain saat butuh selingan ringan. Selalu ada di tas walaupun buku berat. Kubaca di ruang meeting sepulang kerja, kunikmati pagi-pagi selepas subuh, kubaca di rumah nenek di lantai satu, kulahap di ruang tunggu kala mengantar istri, kujelajahi di sebuah mushola saat mengantar keluarga ada arisan. Dan dengan kualitas se-wah ini jelas perjuangan itu sebanding. Pengalaman mistik itu sendiri tidak mungkin dianalisis sebab kata-kata tak akan bisa mengukur kedalaman pengalaman tersebut. Tholuck – seorang Protestan yang baik karena tidak mempunyai kecenderungan ke mistik – beranggapan bahwa ‘dokrin sufi dibangkitkan dan harus dijelaskan di laur mistik Muhammad sendiri.’ Dan Tholuck menguasai bermacam-macam manuskrip dan buku sufi.

Persoalan pengaruh menjadi semakin sulit apabila kita memikirkan hubungannya dengan tradisi-tradisi agama di luar Dunia Timur Dekat. Para ahli sufi suka memberikan jawaban-jawaban yang sama. “Paradoks yang disengaja” dan “Kata-kata muluk yang saleh.” Ini mungkin “Dimaksukan untuk membuat tubuh mereka sedikit merinding demi kesehatan mereka.”W.H. Temple Gairner. Bahasa mereka tampil seakan ilmiah, nyatanya bersifat puitis-retoris.

Saya punya tiga buku Rumi, dan satu buku tentang Rumi. Sudah empat tahun, tak tersentuh tuntas. Menyukai rima dan pola-pola irama yang sangat teratur. Memang ada baiknya mendalami teori dan seluk beluknya dulu. Apakah tasawuf itu? Hujwiri pada abad ke-11 menyimpulan, “Beberapa beranggapan bahwa sufi disebut demikian karena ia mengenakan jubah wol (jama-I suf), yang lain mengatakan karena sufi berada di larik depan (saff-I awwal), yang lain mengatakan karena sufi menganggap dirinya termasuk dalam ashab-I Suffa (orang-orang yang duduk di bangku di sekeliling masjib Nabi). Dan yang lain beranggapan bahwa sufi berasal dari safa (kemurnian).”

Tasawuf didasarkan pada delapan sifat yang dicontohkan oleh delapan rosul: kedermawanan Ibrahim yang mengorbankan putranya; kepasrahan Ismail yang menyerahkan diri pada perintah Tuhan dan menyerahkan hidupnya; kesabaran Ayub yang dengan sabar menahan penderitaan penyakit gatal dan kecemburuan Yang Maha Pemurah; perlambangan Zakaria yang menerima sabda Tuhan, “Kau tak akan berbicara dengan manusia selama tiga hari kecuali dengan mempergunakan lambang-lambang.” (Surah 3: 36) dan juga “Tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara lembut” (surah 19:2); keasingan Yunus yang merupakan orang asing di negerinya sendiri dan terasing di tengah-tengah kaumnya sendiri; sifat penziarah Isa yang begitu melepaskan keduniawian sehingga hanya menyimpan sebuah mangkuk dan sebuah sisir – mangkuk itu pun dibuangnya ketika ia melihat seseorang minum dari telapak tangannya, dan juga sisirnya ketika melihat seseorang menyisir rambut dengan jari-jarinya; pemakaian jubah wol oleh Musa; dan kemelaratan Muhammad, yang dianugerahi kunci segala harta yang ada di muka bumi oleh Tuhan, sabda-Nya, “Jangan menyusahkan diri sendiri, tapi nikmati setiap kemewahan dengan harga ini,” namun jawabannya, “Ya Allah, hamba tidak menghendakinya biarlah hamba sehari kenyang sehari lapar.”

Kaum sufi adalah orang-orang yang lebih suka kepada Tuhan daripada apa pun dan Tuhan lebih suka kepada mereka daripada apapun. Junayd dan Nuri menyatakan bahwa tasawuf tidak tersusun dari praktek dan imu, tetapi merupakan akhlak. Dan siapapun yang melebihimu dalam nilai akhlak, berarti melebihimu dalam tasawuf.

Hujwiri menyimpulkan sikap awal sufi terhadap ilmu dan teologi dalam pengamatan tajam: “Pengetahuan itu luas, tetapi hidup singkat: oleh karenaya tidaklah wajib mempelajari semua ilmu… cukup yang ada hubungannya dengan hukum agama.” Bukankah Tuhan mengutuk ilmu yang tak ada gunanya?

Kearifan sejati yakni kearifan Yang Tunggal tidak bisa dicapai lewat buku-buku. “Buku, kau memang pandu utama, tetapi konyol sekali kalau masih merepotkan diri dengan pandu kalau tujuan sudah tercapai.” Para sufi menyatakan bahwa seluruh kearifan tercantum dalam huruf alif, huruf pertama dalam abjad dan lambang Allah.

Justru saya sudah membaca banyak buku filsafat. Jenis dan detailnya banyak sekali. Betapa terkejutnya saya pas membaca bagian ini: Sasaran kritik utama sufi adalah filsafat, yang dipengaruhi oleh filsafat Yunani, “Tak ada yang lebih jauh dari hukum rasul Hasyimit tinimbang seorang filsuf.” Wah mereka dua besi sembrani sama kutub! Seluruh ‘Nalar Semesta’ tak ada apa-apanya di hadapan sabda Ilahi yang tunggal.

Yahya Ibn Mu’adh dari Parsi memperingatkan rekan-rekannya, “Hindari bergaul dengan tiga golongan ini – sarjana yang tak pedulian, pembaca Al-Quran yang munafik, dan mereka yang pura-pura terhadap tasawuf.”

Ilmunya sendiri memang butuh telaah lebih dalam. Sama seperti filsafat yang ragamnya juga lebar. Doa menjadi senjata utama, sementara makanan menjadi dasar utama yang lainnya. Tentunya lebih mudah mengemis makanan di depan pintu orang kaya dengan imbalan doa daripada mencari mata pencaharian dengan bekerja.

Siapapun yang memahami Al Quran, boleh dikatakan berada dalam Kebangkitan. Sejarah tasawuf, luarnya merupakan sejarah gerakan-gerakan rohani, teologi, dan sastra dalam Islam. Al Quran merupakan ‘leksikon unik’, ‘buku teks inti bagi segala ilmu, kunci ke arah Weltanshauung’ bagi setiap muslim, terutama kaum mistik. – Louis Massignon.

Muhammad merupakan mata rantai pertama dalam rangkaian rohani tasawuf, dan mikroj-nya lewat berlapis-lapis langit ke hadapan Ilahi. Kata Aisyah, “Kalau matanya tertidur, hatinya terjaga.” Pedoman klasik tasawuf mengandung sejumlah besar ucapan Nabi yang mendesak orang-orang salah agar setiap saat dalam hidupnya berdoa dan mengingat Tuhan.

Dasarnya jelas, ada tiga sikap sufi: islam, iman, ihsan. Ihsan berarti kau menyembah Allah seakan-akan kau melihatNya, sebab meskipun manusia tidak dapat melihat Allah, Allah senantiasa melihat manusia. Sufi: “Kadang-kadang kebenaran mengetuk hatiku selama empat puluh hari, tetapi aku tidak mengizinkannya masuk kecuali kalau ia membawa dua saksi. Quran dan hadis Nabi.”

Buku ini banyak mengutip dan menjelaskan para sufi, dari era pasca Nabi SAW sampai abad 20. Darani pernah bilang, “Kenikmatan pujian dan kepasrahan hati yang bisa dirasakan bujangan tidak akan bisa dihayati orang yang kawin.” Ibrahim ibn Adham mengungkapkan hal serupa, “Ketika seorang lelaki kawin, ia naik perahu; kalau anaknya lahir, perahu itu karam.Dhun-Nun percaya bahwa penderitaan sangat diperlukan bagi perkembangan rohani manusia; ia merupakan ‘garam bagi orang yang beriman dan juga garam berkurang, orang beriman itu pun membusuk’.

Sayangnya jelajah arah, dari Timur Tengah dan Eropa Timur, detail itu terhenti di India-Pakistan, tak sampai Indonesia. Padahal sudah kutunggu, setelah itu ke arah Melayu: Indonesia – Malaysia. Ternyata buku ditutup di Indo-Pakistan. Niffari pernah berkata, “Pikiran terkandung dalam huruf-huruf, dan khayalan terkandung dalam pikiran; ingatan yang tulus kepada-Ku tidak terjangkau oleh pikiran dan huruf, dan Nama-Ku berada di luar jangkauan ingatan. Jangan bicara, sebab ia berusaha mencapai-Ku tidaklah berbicara”

Banyak kehebatan para sufi yang dijabarkan. Muhasibi menyatakan bahwa ia memiliki saraf di ujung jarinya yang memberinya peringatan apabila makanan yang dihidangkan haram. Junayd memuji kemiskinan, faqr yang merupakan ‘samudra penderitaan, namun penderitaannya merupakan kejayaan sempurna.’ Berbahaya untuk membicarakan secara terbuka mengenai rahasia terdalam iman di hadapan orang-orang awam. Ahli teolog Protestan dari Jerman F.A.D. Tholuck; sarjana itu menyebut Hallajsufi paling terkenal karena ketenaran dan nasibnya.’ Pada tanggal 26 Maret 922, Sufi Hallaj dihukum mati sebab disebut menyebar bi’ah. Dalam ungkapan, “Mawar yang dilemparkan oleh sahabatnya terasa lebih menyakitkan daripada batu yang mana pun.” Yang lalu menjadi peribahasa Turki. Kata-kata terakhirnya, ‘hasb al-wajid ifrad al-wahid lahu’ yang artinya keberadaanya harus disingkirkan daro jalan cinta.

Siapapun yang mempelajari puisi Parsi akan mengetahui bahwa para penyair telah memilih kisah serangga dan api sebagai kiasan kesukaan mereka untuk mengungkapkan nasib pecinta sejati. Doa-doa Kharaqani membara dengan cinta dan damba yang mendalam, terbukti ketika ia bersumpah tidak akan menyerahkan jiwanya ke malaikat maut, karena ia menerimanya dari Tuhan dan ia akan mengembalikannya kepada-Nya.

Sebab ia harus merasa bahwa setiap saat ia berada di hadirat Tuhan, meskipun ketika sedang melakukan kegiatan yang paling duniawi sekalipun, dan ia harus siap selalu menemui Tuhan setiap saat. Pembagian tiga dalam agama Kristen menjadi via purgative, via comtemplativa, dan via illuminative dalam arti tertentu sama dengan batasan dalam agama Islam menjadi syariat, tarekat, dan hakikat.

Para sufi sepakat, ‘Bila seseorang tak punya guru, maka Iblis-lah gurunya.’ Tasawuf modern sepakat pula, ‘Dunia ini adalah pembibitan untuk akhirat.’ Karena kekuatan Ilahi mencakup segalanya, manusia harus percaya penuh kepada kekuatan-Nya. Kesimpulan sama akan dicapai kalau masalahnya didekati dari sudut takdir.

Ada kritik sosial, bagaimana penguasa adalah orang-orang yang harus dihindari, karena kekuasaan jelas mengandung unsur duniawi. Makanan atau apa saja yang merupakan milik atau berasal dari golongan yang berkuasa dipandang sebagai tak dapat dipercaya. Cara-cara utama untuk menjinakkan dan melatih nafsu dari dulu hingga kini adalah puasa dan tidak tidur. Malam hari sembahyang dengan berdiri, siang hari menjalankan puasa terus menerus. “Di mana pun rezekimu, kamu akan mendapatkannya dan rezeki itu akan mendapatkanmu.”

Junayd berkata, “Cara mencari nafkah yang betul ialah dengan berkarya di bidang yang mendekatkan kita kepada Tuhan, dan melaksanakannya dengan sikap kejiwaan seakan kita mengerjakan hal yang meningkatkan batin kita, bukan dengan pikiran, bahwa itu untuk mencari makan atau keuntungan.”

Tikar pandang yang menjadi tempat tidur sufi sering merupakan satu-satunya harta miliki dunianya, dalam puisi Persia zaman kemudian menjadi lambang kekayaan rohani. Meminta berarti menggantungkan diri pada suatu makhluk dan menerima berarti membebani jiwa dengan rasa terima kasih terhadap pemberi, beban yang berat dan merepotkan. Bagi attar kemiskinan dan peleburan merupakan lembah yang ketujuh dan terakhir dalam Jalan menuju Tuhan setelah pengembara menjelajahi lembah penyidikan, cinta, kearifan, kemandirian, tauhid, dan kebingungan.

Tempat utama yang diberikan kepada kebahagiaan dalam kemiskinan di antara sufi yang merupakan nihil habentes, Omnia persedentes, yang artinya tidak mempunyai apa-apa tetapi memiliki semuanya. Sabar adalah ketika kita tetap tenang di bawah pukulan-pukulan takdir. “Bersabar di hadapan perintah Tuhan adalah lebih utama daripada puasa dan salat.”

Takut dan harap adalah dua sayap penggerak; tanpa itu terbang mustahil dilakukan.” Atau menurut pandangan Sahl: takut adalah unsur jantan, harap adalah unsur betina, keduanya sama-sama menumbuhkan realitas keimanan yang sedalam-dalamnya. Berpikir baik tentang Tuhan artinya percaya pada janji-Nya akan mengampuni orang yang berdosa.

Para ahli mistik suka sekali menyepakatkan dua keadaan yang bertentangan.

Kepatuhan dalam makna sufi adalah penyerahan diri sepenuhnya – menerima kehendak sang kekasih baik dalam bentuk keramahan maupun kemarahan. Cinta tak berkurang karena kekejaman dan tak bertambah karena keramahan. Cinta yang mereka alami bukanlah hasil usaha mereka sendiri, melainkan diciptakan oleh aktifitas Tuhan. Cinta adalah anugerah, bukan suatu hasil usaha, cinta berasal dari Tuhan.

Hujwiri melukiskan berbagai tipe sufi menurut sikap mereka mengenai salat: ada yang menganggapnya suatu jalan untuk mengundang kehadirat Tuhan; ada pula yang menganggapnya sebagai jalan untuk mencapai ketiadaan.

Intisari doa mistik ialah tidak meminta dan tidak menuntut: intisarinya ialah puji dan puja sepanjang waktu. Daqqaq, guru Qushayri menggolongkan doa menjadi tiga: meminta, mendoa, dan memuji. Doa Nabi Musa: “Ya Allah, Engkau memerintahkan agar aku bersyukur atas rahmat-Mu, dan bersyukurku sendiri adalah rahmat-Mu.”

Dzikir merupakan pedang untuk menakuti musuhnya dan Tuhan akan melindungi siapa pun yang ingat akan Dia pada saat dalam kesusahan dan bahaya. Dzikir adalah makanan spiritual ahli sufi.

Dzikir dibagi dua cabang: dzikir dengan lidah (dhikr jail, jahri, ‘analiya, lisan) dan dzikir dalam hati (dhikr khafi, qalbi), yang kedua lebih utama, bahkan ada hadis yang menekankan nilainya lebih tinggi. Shibli bilang, “Dzikir sejati ialah bila kau melupakan dzikirmu.” Karena kata atau pikiran “Ya Allah” pun mengandung arti bahwa subjek atau objek memiliki kesadaran; maka rahasia terakhir daripada dzikir adalah sunyi sempurna.

Malafalkan syahadah sebanyak 7.000 kali dapat menyelamatkan siapa pun dari neraka.

Sebuah hadis qudsi menegaskan, “Aku bersama dengan mereka yang patah hatinya demi Aku.” Pernyataan Junayd bahwa, “Tuhan dinyatakan terutama dengan Tiada daripada Ada.” Patah itu perlu untuk suatu permulaan baru. Kemurkaan Tuhan adalah kemurahan di balik malapetaka dan bahwa kesaktian dan hukuman yang Ia kenakan kepada mereka yang mencintai-Nya berguna bagi perkembangan jiwa mereka – seperti halnya obat yang pahit rasanya berguna bagi si sakit.

Salah satu ciri-ciri karya hagiografi sufi ialah mereka berbicara tentang firasa ‘kardiognosia’ (membaca batin) seorang guru. “Hati-hatilah terhadap firasat (kearifan) seorang yang beriman”. Dikatakan, “Karena ia melihat dengan penerangan Tuhan.”

Guru-guru umum menganggap keajaiban-keajaiban sebagai godaan-godaan dalam menuju tuhan. Ketika Nabi melihat sekuntum mawar ia menciumnya dan ditempelkannya di matanya dan berkata, “Bunga mawar merah adalah bagian dari keagungan Tuhan.”

Dalam hubungan sosial, sufi berpedoman dengan hadis Nabi: “Orang-orang mukmin adalah cermin bagi sesamanya.” Jika kamu tidak dapat melayani kaummu sebagaimana mestinya, bagaimana kamu dapat melayani Tuhan? Segala sesuatu itu memiliki abdi, dan perilaku benar adalah abdi agama. Yang dinamakan wali adalah mereka yang membaur dengan penduduk, makan, tidur bersama mereka, jual beli di pasar, berperan serta di dalam hubungan masyarakat, dan tak pernah lupa kepada Tuhan sejenak pun.

Abdu’l Qadir al-Gilani (1088-1166) dari laut Kaspia, mungkin ia adalah wali yang paling terkenal di dunia Islam, namanya diliputi legenda. Hikam adalah kumpulan pepatah sejumlah 262, sebuah jenis yang tak asing di dunia tasawuf abad ke-12 dan 13, diikuti oleh perjanjian-perjanjian pendek dan beberapa doa. Bahkan jika mereka diperkenankan membaca ayat dari selain Quran di dalam salat, pasti mereka membaca Hikam.

Ahli mistik gemar akan keadaan qabd, sikat menahan diri terhadap segala sesuatu. Qabd dianggap lebih tinggi dari bast karena manusia sama sekali pasif, menanggalkan kemauannya sendiri dan bertindak hanya sejauh yang Tuhan kehendaki. Mengucapkan terima kasih dalam setiap tarikan napasnya untuk kebaikan-Nya.

Perenungan berpusat di sekitar hadis yang berbunyi, “Tuhan telah membuatku mencintai tiga hal: wangi-wangian dan wanita, hiburan hatiku ada di dalam doa.” Memasukkan manusia sebagai objek kasih akan membawa ke konsekuensi yang tak dapat diterima dan bahwa mengancam akan mengotori kemurnian perasaan.

Tiga benda yang menyenangkan untuk dipandang: tetumbuhan yang hijau segar, wajah yang elok, dan air yang mengalir. Dalam hadis lain mengatakan, Muhammad membuktikan. “Saya melihat Tuhanku dalam wujud seorang pemuda rupawan, dengan tutup kepalanya miring.”

Keindahan, dasarnya konsep statis. Tidak mempunyai arti penuh tanpa kekaguman dan kasih, dan yang dikasih membutuhkan kekasih untuk kesempurnaanya sendiri. Untuk memperoleh ilmu kebatinan, alat-alatnya adalah kepatuhan yang sungguh-sungguh dan tetap, dan selalu mengingat-ingat Tuhan dan ‘pemimpin batin’. Sedikit makan, sedikit tidur, sedikit bicara, menghindari manusia…

Fariduddin menjalani laku tapabrata yang amat berat, chilla ma’kusa, menggantung diri secara terbalik di dalam sumur selama empat puluh hari sambil membaca doa-doa dan hapalan-hapalan lain yang sudah ditentukan.

Naqshabandiyya memulai perjalanan rohani yang dikenal dengan, “Masuknya bagian akhir ke dalam bagian awal.” Rumi pernah bilang, “Kejatuhanku yang pertama dan terakhir adalah gara-gara wanita.” Bagi Rumi sama’ merupakan makanan rohani.

Ad-din nasiha artinya agama adalah nasihat yang baik, sesuai hadis Nabi. Saking tebalnya, ada 28 lembar daftar pustaka dan index. Ingatan terbaik adalah melupakan ingatan dalam bayangan. Kebesaran Tuhan yang melimpah ruah, mengajak manusia untuk berdoa.

Doa sejati adalah terus menerus, tak dapat dibatasi dalam sejumlah rakaat dan ayat Quran, melainkan ia meresap dalam segenap jiwa manusia. Sang sufi harus mendoakan orang tua, orang yang dicintai, dan mereka yang dengan sadar atau tidak, telah membantu dia dalam perjalannya menuju kesempurnaan.

Jelas ini adalah dunia yang asing bagiku. Luar biasa indah, sebab manusia ini dari mana dan mau ke mana masih menjadi misteri. Dunia tasawuf memberi alternatif yang masuk akal. Segala yang gaib pantas direnungkan, segala yang mistik perlu dikaji lebih dalam. Ini adalah buku tasawuf pertama yang kubaca dan langsung terkesan, kumasukkan sebagai buku terbaik non-fiksi yang kubaca tahun 2020. Kejutan kecil, penerjemahnya adalah almarhum penyair Sapardi Djoko Damono. Luar biasa, sang idola besar ini ternyata sudah mengalihbahasakan buku indah bersama rekan-rekannya. Saya sah jadi penggemar Annemarie Schimmel. Allahu Akbar!

Kasih adalah api, ia membakar segala sesuatu. Pertama-tama api membakar tahap kesabaran.

Dimensi Mistik dalam Islam | by Annemarie Schimmel | Diterjemahkan dari Mystical Dimension of Islam | The University of North Carolina Press, Chapel Hill 1975 | Penerbit Pustaka Firdaus | Penerjemah Sapardi Djoko Damono, Achadiati Ikram, Siti Chasanah Buchari, Mitia Muzhar | Editor Sapardi Djoko Damono | ISBN 979-541-137-3 | Pustaka Firdaus, 2000 | Pendesain kulit muka: Susthanto | Cetakan keempat: Agustus 2018 | Skor: 5/5

Kepada Para Wali di Shiraz

Karawang, 070121 – 110121 – Fred Astaire – They Can’t Take Away

Thx to Latifah, Yogyakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s