14 Best Books 2020 – Non Fiksi

Meskipun sudah berusaha untuk tidak salah mengerti pemikiran dasar Anthony Giddens, saya tetap jauh dari keyakinan bahwa saya tidak keliru memahaminya yang begitu luas memang bagaikan mengejar kawanan gejala modernitas yang selalu berlarian tunggang-langgang.”Anthony Giddens: Suatu Pengantar (B. Herry Priyono).

Mulai tahun ini saya buat terbaik-terbaik dalam dua kategori sebab buku-buku yang kubaca mulai berimbang genre, fiksi/non fiksi, kategori apapun kulahap. Sebelum merekap baca 2020, sudah saya sarikan terbaik fiksi di sini. Total ada 38 buku non fiksi yang kunikmati. Kusaring dengan mudah menjadi 21 buku, lalu dipadatkan dengan mudah pula menjadi angka sakral 14. Kenapa kubilang lebih mudah, sebab non-fiksi dan perjalanan menyusun best books adalah mainan baru, dan mainan itu tak lebih dari 50.

Dari kumpulan teori sastra sampai cara-cara menulis yang kreatif, dari segala harapan dan ke-ambyaran-nya sampai dunia sufi yang misterius, dari bualan dan kebenaran menyemai tulisan sampai cerita musim panas di Aljazair, dari tuturan bahasa yang rumit sampai teori penelitian sastra, dari seorang CEO iklan ternama sampai teori humanistik. Tahun yang sangat berwarna, semua genre disikat.

Berikut daftar buku non-fiksi terbaik yang kubaca tahun 2020 versi LBP – Lazione Budy Poncowirejo:

#14. Confesions Of An Advertising Man by David Ogilvy (Pustaka Tangga) – 1963

Semakin banyak informasi dalam iklan Anda, semakin persuasif iklan itu jadinya. Buku bagus. Sungguh menyenangkan menyantap ujaran-ujaran baik bagaimana beriklan dengan baik dan menyenangkan. Saking seringnya kalimat ini diucapkan seolah menjadi jargon, “Anda tidak dapat memaksa orang untuk membayar produk Anda; Anda hanya dapat membuat mereka agar tertarik membelinya.”

Selama ini kita dijejali iklan di berbagai sudut ruang dan platform, kita tak tahu bagaimana detail iklan itu dicipta. Di sini banyak hal dikupas, dari negosiasi, tata kelolanya, sampai iklan itu tampil. Dibuat oleh orang yang sangat kompeten, Pengakuan Orang Iklan jelas disampaikan berdasarkan pengalaman pahit manisnya. Lebih seperti memoar, tapi lebih banyak menyorot profesinya, sungguh beruntung saya mendapatkan buku ini di masa yang tepat. Ketika saya menulisnya, orang-orang periklanan masih berkiblat pada Madison Avenue sebagaimana kaum muslim berkiblat ke Mekkah. Sekarang banyak agen-agen periklanan Amerika berkiblat ke London.

#13. Creative Writing by A.S. Laksana (Banana) – 2020

Banyak buku menyaji tips-tips menulis, saya baru baca 4-5 buku, termasuk ini. Sebelum menikmati, jargon Penulis Stephen King selalu kupegang, kuncinya satu: “Tulis, tulis, tulis.” Karena hanya mantra itu yang cocok untuk menjadi penulis. Action menulis adalah langkah utama yang tak bisa dibantah, setiap kali menikmati tata-cara entah namanya apa, termasuk saat menikmati Creative Writing. Lalu latihan terus menerus yang akan mengasahnya. Seperti pemain bola yang pandai bikin gol, itu tak serta merta, itu butuh latihan yang keras, ditempa dengan darah dan keringat. Menurut William Blake, penyair Inggris hasrat saja tanpa ada tindakan akan membiakkan penyakit. Oke, menulislah sekarang juga. Dan ‘menulislah yang buruk’. Beberapa tips usang, beberapa terasa baru.

Berisi 24 tips, dengan berbagai level nasihat. Dari yang dasar sekali, bagaimana keinginan yang kuat dan niat yang level dewa tak akan jadi tulisan nyata jika tak praktek, tak action. Sampai level intermediate yang menanamkan efektivitas kata, penggunaan diksi yang pas, sampai cara-cara mencipta metafora. Dituturkan oleh penulis yang terbukti sudah mencipta karya bagus, saya sudah baca dua bukunya kumpulan cerpen: Bidadari Mengembara, dan Murjangkung. Sudah pengalaman mengajar jua di Jakarta School. Jadi rasanya terasa sekali sharing pengalaman.

Penulis Denmark Isak Dinesen (1885-1962) berujar ke Paris Review, “Mula-mula saya merasakan dorongan kuat untuk menulis sebuah cerita. Kemudian datanglah karakter-karakter, dan merekalah yang membangun cerita. Dari gerak karakter-karakter itulah, muncul plot.”

#12. Metodologi Penelitian Sastra by Suwardi Indraswara (Medpress) – 2003

Penelitian, kritik, resensi, dan esai sastra seluruhnya bermuara pada upaya memahami karya sastra secara komprehansif. Buku yang sangat bervitamin. Yang suka sastra wajib melahapnya, benar-benar melimpah ruah nustrisinya. Megap-megap bacanya. Beruntung saya sudah berpengalaman membaca ribuan karya sastra sehingga langsung klik atas segala teori penelitian, seolah dengan membacanya saya mendapat ajaran teori yang berfungsi meluruskan hal-hal yang selama ini abu-abu. Penelitian yang mengikuti proses verifikasi melalui pengukuran dan analisis yang dikualifikasikan, menggunakan data statistik model matematika, sedangkan penelitian kualifikatif dilakukan dengan tidak mengutamakan angka-angka, tetapi mengutamakan kedalaman penghayatan terhadap interaksi antar konsep yang sedang dikaji secara empiris.

Memang belum ada pedoman khusus penulisan resensi sastra dengan baik. Satu cabang penelitian yang unik adalah Feminisme, dan kalau ngomongin ini selalu ingat pepatah Jawa yang terkenal: ‘perempuan adalah swarga nunut nraka katut.’

#11. Cerita, Bualan, Kebenaran by Mahfud Ikhwan (Tanda Baca) – 2020

Lucu, ironi, dan poin pentingnya eheemmmm…. tidak sombong. Tentang betapa merasa benar sangat tipis jaraknya dengan kesombongan. Biasanya saya manggil pria di blog ini dengan sebutan Bung untuk segala usia, tapi karema kita berteman di facebook dan sebagian besar sobat Dawuk memanggilnya Cak, saya turut serta di mayoritas itu. Untuk manusia penerima penghargaan Sastra tertinggi di tanah air, bahkan menyandingkan piala dari Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) dan Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK), Cak Mahfud terbaca humble. Bayangkan, dua dari tiga novelnya menang! Wow banget ‘kan.

Ini buku tentang curhatnya, pengalaman menulis yang disarikan dalam warta asyik sekali. “Saya menulis apa yang saya tahu, saya pahami, dan saya kuasai.”

#10. Bagaimana Aku Menjadi Penulis by Gabriel Garcia Marquez (Circa) – 2019

Kumpulan esai penulis nomor satu di daftar novel terbaik LBP. Seru sekali membaca curhatan Penulis favorit, seperti saat pertama kalinya melihat dan menyapa dari jarak jauh penulis idola beliau: Ernest Hemingway di Paris. Sekadar teriak woooy… dibalas lambaian tangan saja, sudah bikin hepi. Bayangkan, suatu saat ketemu Seno Gumira Ajidarma lalu diajungi jempol. Hahaha… sedemikian bagus sampai-sampai hal biasa tampak menyenangkan. Atau cerita beliau ketika melakukan wawancara di udara, terdengar menarik sekali, sang narasumber punya waktu sempit, penulis harus menyesuaikan. Terutama sekali cerita beliau saat proses menulis buku paling fenomenalnya, ‘Seratus Tahun Kesunyian. Mematikan karakter favorit membuatnya menangis tersedu-sedu dalam pelukan istri, betapa mendalam perasaan Sang Penulis terhadap tokoh rekaannya. Dan fakta bahwa ia tak suka fantasi karena segala yang ‘ngawang-awang’ terasa palsu. Jadi semua buku beliau berdasar semacam rekonstruksi kehidupan, tak ada unsur fantasi? Yup, termasuk adegan dramatis ruh yang terbang? Ya. Itu berdasarkan mimpi, ia mengelola sebuah mimpi menjadi adegan yang terlihat nyata. Hhhmmm… menariq.

Berisi delapan tulisan yang diambil dari berbagai sumber. Circa mengumpulkan tulisan berserak lalu membundle-nya dalam buku ini. Dan nasihat utamanya buat para penulis: “Satu-satunya saran adalah terus menulis dan melanjutkan menulis.”

#9. Pandemic! COVID-19 Shakes the World by Slavoj Zizek (Independen) – 2020

Buku tipis yang padat nasihat, atau setidaknya informatif karena kesimpulan akhir kembali ke pribadi. Untuk kelangsungan hidup, umat manusia dalam peranannya bertahan dari gempuran penyakit, musibah, atau petaka lain. Virus bukan musuh yang mencoba untuk menghancurkan kita – ia hanya mereproduksi-diri dengan otomatisme buta. Kukira judulnya Panik!, ternyata ada huruf ‘dem’ di insert ‘I’ sehingga jadi Pandemik! Termasuk buku terbitan luar update, aslinya dari OR Books yang terbit tahun ini. Makanya sungguh beruntung kita hidup di era digital, menikmati karya bisa dalam waktu rentang bentar dari aslinya! Kita memperlakukan alam semesta sekadar sebagai mitra dalam komunikasi.
Dampak nyata di depan kita adalah ekonomi, banyak sektor terpuruk. Pekerjaan yang membutuhkan perjalanan, kumpul-kumpul, atau potensi memunculkan potensi penularan dipenggal seketika.

#8. Discourse on Method by Rene Descartes (IRCiS0D) – 1626

Buku pertama Rene Descartes yang kubaca, filsuf dan matematikawan Prancis, yang sering disebut sebagai Bapak Filsafat dan Matematika Modern. Riwayat hidupnya tentu sudah sering kita lihat di berbagai literasi, terutama filsafat. Dari Buku Diskusus dan Metode ini, kita mendapati pemikiran beliau yang menarik, alasan-alasan menulis sampai semacam menyelamatkan kebenaran. Di atas sesuatu yang demikian rapuh, tidak mungkin dibangun sesuatu yang kokoh. Terdiri atas enam bagian yang panjang.
Rene muda bermimpi tiga kali berturut-turut dan bersambungan. “Quad vitae sektabor iter?” – “Hidup apa yang akan kau ikuti?”

#7. Everything is F*cked by Mark Manson (Grasindo) – 2019 | Bagian 1 | Bagian 2

Setelah heboh dengan debut Sebuah Seni Bersikap Bodo Amat, Mark Manson melanjutkan buku motivasi yang terasa lebih rapi dan tak meletup-letup. Lebih bagus, dan syahdu. Ini blogger yang menjelma motivator, yang masih bodo amat sama keadaan yang menanungi. Sungguh beruntung saya membacanya berselang tak lama setelah alih bahasa. Harapan dan keambyaran, kombinasi keren dalam rangkaian hidup yang fana ini. Tulisan yang bagus adalah tulisan yang mampu berbicara dan merangsang kedua otak pada saat yang sama.

Formula Kemanusiaan berbunyi, “Bertindaklah dengan mendudukan kemanusiaan, senantiasa sebagai tujuan, bukan hanya sebagai sarana.”

#6. Summer by Albert Camus (Liris) – 1954

Menulis esai tentang kehidupan sehari-hari di tempat beliau tumbuh kembang. Terlahir di Aljazair, tulisan dalam Summer bercerita tentang kehidupan Camus di sana. Keseharian dan kewajaran yang manusiawi.
Secara garis besar, Camus memainkan majas personifikasi, membaurnya dalam puisi yang naratif, memancing tanya pembaca dalam spekulasi, membawa serta mitos Yunani, kehidupan sederhana Afrika Utara tampak dalam padang gersang. Matahari, musim panas, hingga bicara cuaca menjadi asyik rasanya bila disampaikan oleh sang Penulis. Jelas, ini salah satu kumpulan tulisan hebat, sangat worth it untuk dinikmati penggemar sastra. Bukan, lebih baik saya sebut bagi semua orang. Tak perlu kotak-kotak untuk dapat melahap nikmati Summer (Finn).

Perkataan Klestakoff: “Kita harus terlibat dalam hal-hal yang lebih bernilai.”

#5. Teori Kepribadian Rollo May by Ina Sastrowardoyo (Balai Pustaka) – 1991

Rollo May sangat menekankan eksistensi pribadi manusia. Cita-cita bukanlah murni keinginan sendiri, melainkan yang diperoleh dari orang lain; orang tua, atasan, guru dan pandangan umum lainnya. “Saya hanya merupakan suatu koleksi cermin, yang memantulkan keinginan orang lain.” Keadaan luar itu hanya merupakan gejala dari apa yang tersembunyi di bawah permukaan kehidupan bersama seluruh masyarakat.
May berujar bahwa konseling merupakan seni, yang dapat dikembangkan lebih besar dari seni lain misalnya melukis atau seni musik. Orang yang memandang objek seni, bahkan dapat mengidentifisir dirinya dengan objek seni itu.

#4. Pengarang Tidak Mati by Maman S. Mahayana (Nuansa Cendikia) – 2012

Buku yang keren banget. Jelas ditulis dengan telaah mendalam, ditulis oleh orang yang berkecimpung di bidangnya. Dibagi dalam tiga bagian panjang, dengan dua lampiran tulisan dari Michel Foucault dan Roland Barthes. Kata Ernst Cassirer, sastra sekadar berfungsi mimetis, peniruan atas segala yang terjadi dalam kehidupan manusia. Produk budaya sebuah komunitas.
Membaca karya sastra sebagai kegiatan membuang-buang waktu. Mereka membaca karya sastra dicap sebagai pemalas. Inilah pandangan sebagian besar masyarakat kita mengenai profesi sastrawan dan memperlakukan karya sastra sebagai karya tidak mendatangkan manfaat apa-apa. Buku yang padat sekali teori kesusastraan Indonesia. Ditelaah dari sastra mula Nasional sampai yang terbaru (ketika buku terbit). Tajam dan menyenangkan. Ditulis oleh seorang yang sudah expert di bidang sastra: Munsyi sastra dan kritikus. Sebuah produk kreativitas berupa tulisan, abadi tak lekang ditelan zaman, tak punah dilindas usia.

Kreativitas harus menjadi tanda perubahan mentalitas yang sangat berarti dalam diri makhluk manusia. Para pencipta adalah kaum yang lebih tinggi.” Kata Nietzsche.

#3. Serendipities: Language and Lunacy by Umberto Eco (Circa) – 1998

Buku pertama Umberto Eco yang kubaca ini sangat cantik dan liar. Teori bahasa dalam tampilan lugas nan istimewa. Teori-teorinya, gagasannya, analisisnya. Jos banget. Klasik, jadul, memikat. Santo Thomas dalam Queaestio Quodlibet alias XII, 14 menyatakan ‘utrum veritas sit fortiori inter vinum et regem et mulierem’ yang memunculkan pertanyaan mengenai mana yang lebih kuat, lebih meyakinkan, dan lebih membatasi: kekuasaan raja, pengaruh anggur, pesona wanita, atau kekuatan kebenaran? Jawaban Aquinas halus dan fasih: anggur, raja, wanita, dan kebenaran tidak dapat dibandingkan mereka tidak dalam kategori yang sama. Semuanya dapat menggerakkan hati manusia untuk melakukan tindakan tertentu. Keren ya jawaban filsuf ini,
Apa yang disebut kemurahan hati dalam perhatian mereka lebih menyerupai permainan yang dimainkan anjing dan tikus.”

#2. Theory of Literature by Rene Wellek & Austin Warren (GPU) – 1977

Seperti inilah sebuah teori harus ditulis. Detail, cocok buat kaum awam, akan merasuk pula untuk para expert. Terbagi dalam dua khazanah pendekatan utama: Pendekatan ekstrinsik yakni pendekatan yang mengait karya sastra dengan bidang lain (psikologi, masyarakat, biografi), dan instrinsik, yakni pendekatan dengan mengkhususkan diri pada unsur-unsur kritik sastra, teori, sejarah, sastra nasional, sastra perbandingan, dst. Bagi saya yang awam, ini sungguh mengasyikkan. Saking melimpahnya vitamin yang disajikan, saya baca perlahan, baca ulang di banyak bagian, takut terlewat, dan kalau sudah nemu buku semacam ini, jelas laik dikoleksi, dibaca ulang di lain hari, dijadikan rujukan. Jelas ini buku panduan kesusastraan yang istimewa.
Sastra terbuka untuk dinilai semua orang, tetapi ‘semua’ di sini dibatasi untuk ‘semua penilai yang kompeten.’

#1. Mystical Dimension of Islam by Annemarie Schimmel (Pustaka Firdaus) – 1975

Seseorang bertanya kepada Abu Hafs: “Siapakah sufi?” Ia menjawab: “Seorang sufi tidak bertanya siapa sufi.” Sebagai buku penutup tahun, buku 500 halaman yang padat dan penuh perenungan. Saya tak mengenal tasawuf, jelas ini barang baru. Saya tak mengenal Annemarie Schimmel, sebelum memutuskan beli, saya sudah tanya ke grup buku dan serentak sepakat orang hebat dari Jerman, maka ini pengalaman pertamanya yang menakjubkan, akan ada buku-buku beliau yang akan kubaca. Sudah antri.

Kadang-kadang kebenaran mengetuk hatiku selama empat puluh hari, tetapi aku tidak mengizinkannya masuk kecuali kalau ia membawa dua saksi. Quran dan hadis Nabi.”

Karawang, 070121 – Bill Withers – Soul Shadow