Senja dalam Sajak

Senja dalam Masa by Andri VB

Pagi dalam tanya hati / yang galau menghadapi hari / yang resah melawan sepi / hanya ada satu yang pasti / rindu padaMu yang menyatu dalam hati – Jakarta, 2005 (halaman 58)

Tulisan pertama tahun ini adalah ulasan kumpulan puisi. Saya sedang mendalami syair-syair, sedang menikmati irama rima syahdu. Demi Tuhan, Lancarkanlah! Dalam halaman tentang penulis dijabarkan buku ini mencerita seseorang yang berada dalam relung perjalanan, di suatu masa menyadari bahwa masa dapat dan telah mengubah banyak hal, masa meluruhkan apa yang ada menjadi tiada dan yang tiada menjadi ada namun masa pula yang dapat membuktikan bahwa cinta dapat bertahan sepanjang masa.

Dibuka dengan ungkapan langit dalam kanvas yang mengarti alam yang memesona, tak kunjung usai rindu yang menerpa. Tema yang disajikan sesungguh beragam, bebas dan sederhana tanpa ungkapan yang rumit. Tema cinta sangat universal, maka tentu saja di sini ada, melimpah pula. Tema masa yang terus berlalu, sampai analogi sepi kursi di taman. Makna-makna ini terkadang tak bercabang, lurus tanpa perlu telaah lebih lanjut, bening tanpa keruhan tanya. Tanjung Perak Saat Senja contohnya, di senja kala kumenunggumu di ujung dermaga. Tak perlu penafsiran aneh-aneh bukan?

Halaman 32 tentang cinta LDR, berjudul ‘Cintamu Jauh’, saya kutip satu bait:

Cintamu jauh / begitu sering airmatamu jatuh / sampai matamu sembab biru / begitu sering senyummu jadi sendu / sampai bibirmu kelu / kau korbankan segalanya demi sebuah penantian / kau korbankan usiamu demi sebuah kesetiaan / doamu khusuk dilubuk hati kerelaan.

Asyik ya, menunggu adalah tindakan bijak, tapi pertanyaannya worth it kah? Sebab kasih jauh di sana akankan bisa diandalkan? Dan kembali lagi, waktu akan membukti.

Judul buku diambil dalam larik puisi ini:

Senja ini kau duduk lagi di atas kursi batu itu / tempat dulu janji kita dipadu / dan di sampingmu kita duduk berlima / senyummu mengambang dalam temaran / karena cinta itu ternyata punya makna / walaupun ditempa masa

Tema humanis tentang masa depan, sudah umum pula kan. Ada di halaman 53 berjudul ‘Meninggalkan Derita’ saya kutip sebagian:

Kasihan sekali anak cucu kita / mau hidup dimana mereka nanti / dipadatnya kota, digersangnya desa / seperti taka da lagi yang tersisa / sekolah, kerja dan rumah / air, makanan sampai pasangan hidup / semua harus berebut / begitulah nantinya hidup / semua berharap / namun sedikit yang dapat / begitulah jadinya bumi / yang sudah tua renta dan ringkih.

Terasa sederhananya, namun bait berikutnya yang kurasa malah janggal dan tak kuterima:

Kasihan sekali anak cucu kita / mungkin lebih baik tidak beranak / biar tidak meninggalkan derita.

Nah, kan ide tentang keturunan dan kekhawatiran masa depan sebenarnya sah saja, tapi keputusan untuk bilang ‘(mungkin) lebih baik tidak beranak’ jelas kontra dengan pemikiran khalayak, seberat apapun, mayoritas manusia mengingin keturuan, menikah, punya anak, menemani hari tua dalam keceriaan cucu, dst. Sah saja walau bilang mungkin, tapi jelas saya tak setuju. Kerusakan alam sudah terjadi beradab-abad lalu, dan kekhawatiran yang sama akan dirasa pula seabad nanti, dunia semacam perulangan sejarah.

Puisi pendek ditulis di Bali berjudul ‘Hati’: Perlu hati untuk mengerti / perlu nurani untuk memahami / kalau hanya menuruti emosi / tak perlu lagi ada hati dan nurani.

Semacam permainan kata, rima ‘i’ di empat baris, hati-hati dengan hati sebab setiap hati itu unik, jangan menuruti emosi, ya kalian mengerti?

Dan tak lengkap puisi tanpa membicarakan misteri waktu. Ada di halaman 72 berjudul ‘Waktu’:

Waktu tak pernah menunggu / bergulir dan melaju / waktu tak pernah berseteru / berjalan saja seperti tak mau tahu / siapa yang bisa berhentikan waktu / siapa yang mampu tunda waktu / kebahagiaan begitu saja berlalu / kepedihan seperti tak mau berlalu

Waktu tak pernah menunggu / hanya kita yang berharap dapat ditunggu / dari dulu

Tak ada hal baru, waktu tentu saja akan terus bergulir tak peduli suka/duka atau muda/tua semenit akan sama dengan 60 detik hari ini atau seribu tahun lagi, suka cita terasa cepat, duka cita terasa lambat. Yah, tak ada yang bisa menghentikan waktu, sudah banyak syair berujar itu, banyak lagu meneriakkan sang waktu. Tema umum nan abadi.

Saya mudah terpesona sama ilustrasi dalam buku, di sini diselipkan beberapa gambar dengan ciamik. Gambar-gambar benda mati yang seolah menjadi saksi perubahan zaman, seperti rumah dengan judul ‘Sudut Jalan Menuju Rumah’ (halaman 11) misalnya tanpa banyak gegas kata, bisa mencerita bagaimana benda-benda itu disapu masa. Peranan rumah dalam peradaban. Begitu juga gambar kursi dengan judul ‘Waktu’ (halaman 73), hanya kursi sendiri dan betapa kesepiannya. Namun ilustrasi paling ciamik ada di ‘Masa’ (halaman 19), dengan sosok mendekap, sketsa manusia yang ditempa masa.

Kumpulan puisi lagi, buku penutup tahun kulalui malam pergantiannya di lantai satu Blok H dengan tumpukan buku dan sederet film. Tak ada perayaan kembang api, tak ada acara jalan-jalan, hanya menyepi tenang. Kebetulan buku ini menjadi buku baca yang terakhir tahun 2020. Memang sulit menikmati puisi, butuh telaah dan ketenangan pikiran, butuh aliran syahdu dalam pemaknaan kata demi kata. Mau dari penyair terkenal, mau dari karya yang melegenda, mau dari penulis dan karya antah, semua sama susahnya. Susah bukan berarti tak bisa, saya tak pernah menyerah, lihatlah tumpukan beli buku baru, kumpulan puisi (walau tak sebanyak novel) tetap ada tiap bulannya.

Senja dalam Masa ditulis di berbagai kota, bukti bahwa Bung Andri menyisihkan waktu sesaat demi sesaat dalam perjalanannya. Dari Tokyo, Frankfurt, Palembang, Kuta, Manado, Trawas, Surabaya sampai Jakarta. Dan sekali lagi, nama-nama kota yang dijelajahi sebagai tempat menumpahkan kata-kata tak selalu segaris lurus dengan kualitas. Ditulis dengan rentang waktu yang lama, dari 2001 sampai tahun terbitnya 2005.

Andri VB telah menulis dua kumpulan puisi (2005) termasuk ini, karya perdananya ‘Ketika Tiba’. Lahir di Jakarta di bulan Januari, lulusan sarjana teknik sipil yang bergerak di bidang engineering. Puisi baginya adalah darah hidupnya, tiap desah napas baginya adalah suatu puisi dan puisi merupakan rekaman hidup yang diekspresikan dengan seluruh emosi dan naluri.

Terakhir, memang membaca puisi paling enak nyaring. Jangan deh dalam hati laiknya membaca prosa, sebab letupan emosinya terasa akan sangat berbeda. Saya merampungkan baca dalam menit-menit pergantian tahun, nyaring dalam letupan kembang api di langit kota. Dan ada ‘feel’ yang menyertainya. Walau, tentu benang merah kumpulan puisi tetap sulit kutarik. Setiap larik ganti judul seringkali tak berkelanjutan, sehingga butuh pemahaman lebih.

Tahun ini akan lebih banyak kunikmati puisi, sudah kuniatkan dalam hati. Ada rekomendasi?

Senja dalam Masa | by Andri VB | copyright 2005 | email: andrivb@yahoo.com | Penyunting Anjar | Kulit muka dan ilustrasi dalam FX Widyatmoko | Desain buku M. Arifin Ciptadi | Penerbit Malka | cetakan I: Desember 2005 | ISBN 979-96528-8-X | Skor: 3/5

Buat Ayahanda dan Ibunda tercinta, VB dan VC

Karawang, 040121 – Bill Withers – Tender Things

Thx to Ade Somantri, Bdg