Pemahaman Acak Kehidupan

Pembunuh by Rayni N Massardi

“… Karidun pernah baca koran? Pernah ‘kan? Saya juga terlalu sering dan hampir muntah karena ulah manusia-manusia macam Karidun…”

Dengan kata pengantar oleh maestro sastra kita, Seno Gumira Ajidarma, sesuatu yang sangat menjual dicetak tahun 2005, di mana dunia sedang mengalami proses transisi ke data digital besar-besaran, apa yang disampaikan secara garis besar mewakili kehidupan kaum unban kebanyakan. Wanita karier yang bosan di ibukota, kekejaman vonis keluarga atas nasib tak bagus saudara dalam acara ngumpul rutin, gadis desa yang merantau, keputusan penting jadi mudik ke Indonesia atau menetap di tanah orang, istri yang cerewet atas kesetiaan suami, kehidupan pagi di stasiun kereta, sampai kehidupan rutin di kantor yang mencipta ‘demo’ akan mesin pencatat kehadiran.

Mewakili kehidupan masa itu, 22 cerpen dibuat dari tahun 1982 sampai dibukukan, terasa sekali budaya Indonesia, atau dalam satu kata, ‘kita banget’.

#1. Istri Model Baru

Feminism atau sebuah kecelakaan pikir? Istri yang menggugat kesetiaan suami, didorong untuk selingkuh sebab kepolosan dan segala kebaikan yang melimpah itu racun. Duh! Indah Pranata yang tak tenang, hidup memang membosankan, jadi bagaimana kita mengatasinya dengan bijak. Bukan soal kalah-menang.

Entah, apa saya ini perempuan paling bodoh di dunia, atau yang paling bahagia, tapi saya… menang…!”

#2. Cita-cita

Cita-citanya sederhana, memiliki rumah mungil milik sendiri, bukan numpang di tempat saudara. Keduanya kerja, anak dititip sama Bibi yang sudah tua. Maka, ketika pindah ke perumahan mungil terwujud harapannya, malah Sang Bibi yang keberatan ditinggal sendiri.

“… Bibi musti mengerti betapa berartinya bagi saya memiliki sebuah rumah dari hasil keringat sendiri…”

#3. Nama Saya

Rayni, 25 tahun. Nama yang unik, jelas ini pengalaman sendiri sebab simple-karakternya sama. Dan keinginan-keinginan lagi. ia cinta akan namanya yang telah diberikan dengan tulus oleh kedua orangtuanya.

Kita tidak mungkin bangga akan orang lain, tapi dapat bangga pada diri kita sendiri.”

#4. Nasibku Nasibmu

Saya yang mendiri, terlahir di kota kecil, lalu merantau ke utara kota Jakarta bekerja di pabrik pembuat sepatu karet, bisa mengirim uang buat orangtua dan adik, maka suatu hari saat di stasiun kereta api Gambir, menyaksikan berbagai kejadian di sana memicu ‘klik’ yang membuatnya memutuskan pulang kampung selamanya. Dan nasib anak rantau dilakukan lagi adiknya selepas SMA.

Semir, Oom, semir Tante, Bu, Pak, saya bersihkan sepatunya…”

#5. Dua Senja

Ini mungkin yang terbaik, saya selalu menyukai cerita orang-orang tua menghadapi harinya, sebuah misteri nasib kita yang masih muda, bagaimana menjalani hari senja. Maka kisah ini mengambil sudut pandang sang kakek bernama Sulaso, duda lima puluh tahun, berlibur ke Jakarta. Bertemu dengan Nur Abdullah, janda 49 tahun yang juga berlibur. Keduanya mengenang kenang masa muda yang pernah pacaran, sempat terbesit bakalan ada kesempatan kedua, seolah untuk memperbaiki takdir cinta, bahkan sudah sekamar hotel. Namun tidak begitu fergusso… endingnya yang tenang malah tampak syahdu, dan asyik.

Masa-masa indah ini tidak boleh selesai. Saya menyayanginya, saya tidak mau kehilangan dia. Tapi umur tua dan penyakit ini menjadi penghambat. Kematian mungkin saja tiba-tiba menyerang, menghancurkan kebersamaan kami…”

#6. Pilihan

Ini tentang menghadapi masa depan dan opsi bercabang, semua orang hidup jelas mengalaminya. Sebelum berangkat ke Paris, nasionalisme ditanamkan dalam agar nantinya pulang mengabdi pada Negara. Benar ia pulang setelah kuliah lulus, kerja di ibukota sesuai peta harapan, tapi ternyata ia mendapat pilihan lain yang mendamba ke Paris lagi.

Ini urusan perasaan bukan teknis…!”

#7. Kalau Saja Saya Sanggup

Berat memang menjadi orang miskin, apalagi sebagai perempuan tua yang hidup sendirian. Halimah yang galau di senjakala usia. Dan rasa frustasinya mencapai puncak kala ia kelaparan, tertatih mencari makan, hujan deras, dan akhirnya mati kelaparan. Maka berita ini diliput banyak media, salah satunya Dulam Akhmad yang giat menulisnya dengan gigih, sehingga ia pun menjadi populer dan kaya. Mendapat penghargaan dari Organisasi Penulis Nasional. Hanya itu saja yang dapat kita perbuat. Berpikir, melihat, bicara, dan kalau bisa menulis.

Saya…”

#8. Kereta Jabotabek

Kehidupan pagi di stasiun kereta dengan penjual Koran, penyemir sepatu, penjaja makanan, hingga para penumpang dan masinisnya, semua butuh sarapan ‘kan? Maka muncullah karakter Umin, gadis 13 tahun penjaja makanan. Sejak subuh sudah disiapkan ibunya, jualan nasi bungkus berisi sekerat daging dan acar ketimun, juga kantung berisi the manis. Suatu hari ia sakit dan tak muncul di stasiun…

“… Terlalu banyak beban pikiran yang harus mereka pikul…”

#9. Saya Benci

Saya dan dia yang terpaut 3 tahun, di usia matang akhir tiga puluh tentu pikirannya menuju pelaminan. Namun ia kabur. Sejak sendiri, saya berhenti merokok. Menghadapi hari tanpa emosi berlebih, dan membenci dia lebih dari apapun.

#10. Kartu Absen

Pekerja yang tak punya integritas waktu dipecat, buktinya dari mana? Ya dari kartu kehadiran (bukan ‘absen’ sebab absen artinya tidak hadir) yang tercetak setiap hadir. Pak Piun dan dkk lalu memberontak, melakukan tindakan radikal dengan melakukan pengerusakan di malam hari kala penjaga hanya bertiga. Puas? Bah, malah kesengsaraan yang didapat, sampai akhirnya di masa depan menemukan rongsokan mesin yang ia benci teronggok tak guna.

Jegrek, jekrek…”

#11. Pembunuh

Sebagai judul buku, jelas ini bukan cerpen terbaik. Pembunuhan dilakukan atas dasar kzl, membunuh orang baik yang telah membantu, dan tak tertangkap. Hebat. Tamin, pensiunan PNS yang letih dalam kesendirian. Rutinitas pagi ke toilet baca Koran, kerja serabutan jadi kuli bangunan, kehidupan pas-pasan di masa tua. Lalu ia melawan, melawan ketidakadilan hidup dengan membunuh simbol, ia adalah Karidun, saudaranya sendiri.

“… Saya kecewa hari ini. saya dendam. Saya barusan membunuh orang…!”

#12. Ramalan

Ramalan bahwa kerja tak akan lebih setahun di tempat, awalnya sanksi tapi terbukti tepat. Sebagai pencari berita yang nulisnya ceplas-ceplos. Kejujuranlah yang diutamakan. Raya yang galau, ia pun resign, mudik dan menghabiskan waktu di Bogor, walau akhirnya balik lagi ke Jakarta. Dan ia berhasil melawan ramalan setelah bekerja lewat setahun di tempat yang sama.

Aloha… masuk.”

#13. Troya atau Nakita

Akan saya beri nama siapa dia kelak? Troya? Terlalu gagahkah untuk seorang bayi lelaki? Nakita untuk bayi perempuan, apa tidak terlalu centil?” Proses menuju kelahiran yang mendebarkan, dan Ray yang malang.

#14. Sudirman Berbaju Batik

Ini bukan cerita baru, tapi OK lah. Makan gratis di pesta hajatan orang asing dengan bermodal batik dan amplop kosong, lalu bergaya seolah orang berada, dan mendapat durian runtuh sebab mendapat kepercayaan orang kaya untuk memegang tanggung jawab kerja, Sudirman yang miskin menjadi punya uang, mendapat cinta Susi yang terpesona akan wibawanya, hingga meminta dibawa ke rumahnya. Gmana mau diboyong ke gubuk reot? Dasar…

Dik Susi…, saya mau cerita panjang, nih…”

#15. Awal Baru untuk Salira

Salira sang penjaga perpustakaan Nasional, rutinitas yang mencipta keadaan. Suatu hari ia akan kondangan, dandan cantik sehingga memesona seorang pria di bus, yang mengakibat ilfil. Namun kisah tak seburuk itu.

Mbak masih ingat Rami dan Syamsu di lantai tiga? Mereka menikah, jadi beneran…”

#16. Yang Tersisa

Tohir yang ngambek, sebab bosan mengurus keluarga miskin. Ibu dan adik-adiknya yang terus merongrong gajinya. Ia memutuskan cabut. Mak Sumirah yang malang, anak-anaknya meninggalkannya dalam kesendirian, dan anaknya yang sakit-sakitan.

Sudah lama Emak tidak ketemu, mungkin dia sakit ‘Lik.”

#17. Keluarga Besar

Tania dan suaminya yang memutuskan kabur dari acara keluarga. Dihubungi semua saudara, malah di libur panjang memutuskan ke puncak berdua, sebab mereka belum dikaruniai anak. Bosan sama gunjingan, bosan dengan suara miring. Cus!

“… Walau hanya tiga hari, jarang saya merasa senyaman dan setenang ini…”

#18. Kita Jadi Pergi?

Hehe, pengalaman sendiri? Pasangan tanpa dikaruniai anak dengan rutinitas kerja dan bosan. Memutuskan cabut ke luar negeri, resign. Rininta sebagai penulis harian kolom, dan Taufik yang kerja di bidang komputer. Rininta adalah produk manusia Indonesia yang khas. Pada mulanya mereka berusaha tidak banyak menuntut. Mereka menikmati hidup sebagai warganegara yang manis.

Resiko pekerjaan Rin. Itu tugasmu sebagai pengamat sosial? Sebagai penulis kolom…”

#19. Tuki

Tuki yang mencoba peruntungan dengan merantau ke kota. Hidup di pesisir pantai, lalu dalam pilihan hidup menjadi pembantu keluarga kaya yang baik. Ia malah melakukan blunder, tentang ketidakjelasan masa. Dia menjadi korban keganasan kota besar.

Saya tidak akan melanjutkan sekolah, karena tidak ada biaya…”

#20. Halo Indonesia, Apa Kabar?

Di tahun 1998, Rininta melakukan aktivitas rutin dengan kerjanya di kantor Jakarta, kebiasaannya di rumah, bercengkerama dengan kabar Indonesia. Hiruk pikuk, seperti biasa yang dituang dalam buku harian.

Roti bakar mertega ternyata lebih enak rasanya…”

#21. Disambut Laut

Buni dan tragedi pantai. Sebagai bocah pesisir 10 tahun yang mengais rupiah dengan menjajakan kepada turis, ia bosan lihat laut tapi sama ibunya dinasihati, bahwa banyak orang mendamba hidup dengan alam asli. Tapi suatu ketika melakukan kesalahan yang mengakibat kematian, dalam dekapan airnya laut… penyesalan memang sudah menjadi sambungan terlambat.

Laut… sambutlah aku… Aku Buni dari desa Bandudu…!”

#22. Panas Sekali Hari Ini, Ya?

Karena sebuah rumah tangga adalah salah satu bentuk Negara mini kecil mungil yang tidak sembarangan mengelolanya… sebuah cerpen penutup yang tenang, tentang realita buruh kantor yang tercekik tiap akhir gajian, lalu melalangbuanakan duit, terulang lagi sebab harus bayar cicilan, kebutuhan hidup, dan sebagainya.

Kumpulan cerpen yang lumayan bagus, beberapa memang tampak membosankan, tapi jelas tergambar ditulis dengan ketekunan dan pengalaman nyata. Seperti kata Bung Seno di pembuka yang mengutip Roland Barthes, memandang teks dari segi plaisir (kenikmatan karena mengerti yang dibaca) maupun jouissance (kenikmatan ekstatik karena efek-efek tak terduga dari yang dibacanya) – termasuk misalnya jika pembaca terbosankan.

Maka bertahan dalam kebosanan juga merupakan seni membaca. Kubaca buku ini dalam tiga hari yang padat, langsung selesai. Padahal bersisian dengan Zarathustra yang berat, biografi Bung Karno yang padat, hingga curhat Ronny Pattinasary. Itulah nikmatnya membaca, tiap lembarnya bisa merasuki, termasuk pembunuhan ini…

Pembunuh | by Rayni N Massardi | Penerbit Buku Kompas | Desember 2005 | KMN 31005069 | Ilustrasi cover Hari Budiono | Desain cover A.N. Rahmawanta | Penata letak Chris Verdiansyah | Cet 1, 2005 | xiv + 182 hlm.; 14 cm x 21 cm | ISBN 979-709-235-6 | Skor: 3.5/5

Selalu penuh cinta untuk Bondi, Nakita, Kasih, Noorca, Mami, Ipoel, Papi (Alm).

Karawang, 290121 – Dewa 19 – Bukan Siti Nurbaya

Thx to Ade Buku, Bandung

A Sun: A Perfect

Seize the day, decide your path!”

Film memilukan, suram adalah koentji. Peran utama tentu saja ada di tangan si ragil Chen Jian Ho (Chien-Ho Wu), tapi sejatinya yang menggerakkan segalanya menjadi sangat menakjubkan adalah sang ayah A-Wen (Yi-wen Chen). Ia menjadi titik temu di tengah deru misteri hidup. Sebagai instruktur sopir yang komperhensif, sangat tegas, keras, dan begitu prinsipil, ia malah mengelak fakta bahwa anaknya, yang diakui satu. Tentu saja si sulung A-Hao (Greg Han Hsu) yang berprestasi di banyak hal. Akademi bagus, tampang cakep, sifat kalem, penurut, hingga sifat-sifat ideal anak pada umumnya. Endingnya sendiri malah menjadi titik maaf penuh, pilu dan sungguh pengorbanan orang tua itu tak mengenal batas, cinta kasihnya sepanjang masa.

Kisahnya dimula dengan sebuah sabetan golok, memutuskan tangan begundal sekolah Oden (Li-Tung Chang). Pembuka yang keren, sadis. Pelaku utama memang Radish (Kuan-Ting Liu), tapi semua bermula dari cerita Ho. Maka keduanya dijebloskan ke dalam penjara remaja. Seolah tak cukup, ada cewek muda hamil Yu (Apple Wu) datang ke keluarga Wen, mengaku ayah bayi dalam kandungannya adalah Ho. Rumit! Ibunya Qin (Samantha Shu-Chin Ko) menerima gadis itu dalam keluarga. Namun Wen tidak, ia muak.

Harapan keluarga memang ada di pundak Hao, terpelajar dan cakap dalam segala hal. Keindahan, dasarnya konsep statis. Kebanggaan orangtua, berteman sama mahasiswi yang jatuh hati Zhen (Chen-Ling Wen). Sabar adalah ketika kita tetap tenang di bawah pukulan-pukulan takdir. Dan formula film bagus digerakkan di sini, Hao bunuh diri, segala chat HP dihapus, dan ia meninggal dunia meninggalkan luka yang teramat dalam. Zhen datang dan membuka beberapa hal. Dari sinilah judul film diambil, puisi dikutip, ditebar, dibacakan. Matahari yang menyinari, menempa segala benda di bumi tanpa memilih. Semesta yang ingin dikemukakan dalam film ini, yaitu kebutuhan manusia akan kesadaran dirinya. Sisi hidup ini, yang pasti adalah kita maju terus, kita tak mungkin kembali lagi ke masa lalu untuk memperbaiki keadaan, meski di depan kita akan ada badai atau angina puyuh, atau segala guratan sedih lain, tidak ada pilihan lain selain maju terus.

Fiksi bersifat konkret, fiksi menghidupkan gambaran nyata tentang perilaku atau serangkaian kejadian yang menyeret orang itu untuk bertindak. Fiksi yang bagus menggambarkan adegan gerak emosi sehingga apa yang ditampilkan masuk logika. Satu adegan menjadi dorongan adegan lain, tak ubahnya kenyataan.

Film lalu fokus ke Ho, tranformasinya setelah keluar penjara. Harapan ayahnya teralih, tapi gengsi mencipta tembok. Ho siap kerja apapun mengingat cap merah masa lalunya, maka Radish mengintai. Memaksanya menjadi kurir narkoba, yang mencipta konseskuensi teramat berat. Pada dasarnya rasa bersalah dan perasaan ditantang adalah dua sisi dari benda yang sama. Rasa bersalah adalah persepsi tentang suatu jurang yang harus diloncati. Berhasil? Uang satu tas adalah limpahan, beberapa gepok adalah anugerah.

Drama keluarga berbobot. Sungguh aduhai menikmati perjalanan umat manusia dalam balutan, ikatan tragedi, dan limpahan kasih. Endingnya sempurna seolah ejawantah kalimat “Masuknya bagian akhir ke dalam bagian awal”, anak-ibu berboncengan naik sepeda dengan kamera menyorot matahari dalam perjalanan kayuh, di sele-sela pohon yang menyilaukan. Presensi istimewa apa yang diucapkan sang ibu di masa lalu, bahwa Ho ketika pertama kali bisa naik sepeda, ia mengayuhnya tak mengenal waktu.
Putusan-putusan penting dalam kehidupan seseorang lebih didasarkan pada naluri dan lain-lain sifat misterius yang terdapat di bawah sadar, jadi bukan semata pada kesadaran, keingingan atau akal budi.

Mengumpulkan fakta adalah kerja keras. Misteri hilangnya Radish di akhir sungguh merupakan tindakan kasih ayah terhadap anaknya, fakta ia mencinta keluarga dengan menjauhinya menjadikannya sela penasaran. Menyelamatkan masa depan anak adalah mutlak. Kompromi tidaklah pada tempatnya. Apa pun yang Anda buat, buatlah secara bulat. Nah pengakuan di atas bukit, salah satu adegan pilu sempurna dalam sinema.

Pada dasarnya saya memiliki hati perasa. Menyaksikan kasih sayang keluarga yang hampir rubuh ini, saya merasa turut di titik pilu. Benar-benar hebat, pace yang lambat dan cerita kuat mencipta alur bagaimana mengatasi kepedihan, apalagi ini menyangkut keluarga. Seluruh ‘Nalar Semesta’ tak ada apa-apanya di hadapan sabda Ilahi yang tunggal.

Intensitas adalah energi semantik yang menghubungkan semua unsur cerita yang heterogen menjadi kesatuan makna. Dalam hal ini penonton turut menentukan makna atas dasar pengalaman, perasaan, dan emosi yang dimilikinya. Usia dan segala yang dilintasi berpengaruh terhadap hal-hal yang menyelingkupi. Drama pilu dan bumbu harap seperti ini nyaris selalu berhasil bila dieksekusi dengan benar.
Formula film bagus, beberapa kuperhatikan sama. Kuncinya di sini, ‘matikan orang normal dan baik, biarkan orang aneh dan gila mengambil alih layar’. Sedikit yang langsung kuingat setelah Hao terjun dari gedung adalah: Manchester by The Sea, saudara yang waras tewas dan dua orang frustasi disatukan. Bunuh diri adalah makanan rohani bagi keluarga yang ditinggalkan, apalagi yang bunuh diri manusia baik hati, tampan, dan orang terkasih. Manusia kesayangan semua orang, sungguh sebuah hantaman keras kehidupan. Lantas apakah harus menghantam balik? Ya, dengan memaafkan keadaan. Ia membalas masa dengan ‘melindungi’ si bungsu sebagai pertobatan pilih kasih membesarkan anak.

Di mana pun rezekimu, kamu akan mendapatkannya dan rezeki itu akan mendapatkanmu. Maka Ho jelas menerapkan pertobatan setelah keluar penjara dengan sangat efektif. Mendapat kepercayaan menjadi pekerja cuci mobil, ia melakukan dengan sangat tekun. Sudah punya anak-istri yang harus dinafkahi, bahkan tampak lebih gila sebab malamnya ia melanjutkan kerja menjadi kasir di minimarket! Sebuah iktiar luar biasa. Sebuah perjuangan membalas segala kebaikan keluarga, mencoba menggantikan ‘kakak’-nya yang nyaris sempurna. Sebuah peleburan jiwa memesona, merupakan lembah reliji Jalan menuju Tuhan setelah pengembara menjelajahi lembah penyidikan, cinta, kearifan, kemandirian, tauhid, dan kebingungan. Poin terakhir menjadi titik temu istimewa sebab, Ho menuai hasilnya. Setelah membuat Ho (dan penonton) bingung, Radish hilang pasca transaksi di tengah hujan, yang jelas bukan terseret air (hehe), kita semua lalu diberitahu apa yang terjadi, di atas bukit.

Menjadi manusia berguna bagi orang sekitarnya adalah perkembangan jiwa, seperti halnya obat yang pahit rasanya berguna bagi si sakit, maka Wen ini seolah mendapat kesempatan kedua, kasih adalah api, ia membakar segala sesuatu. Pertama-tama api membakar tahap kesabaran. Maka kesabaran orangtua sejatinya diuji lewat ulah nakal anak-anaknya.

Pada akhirnya manusia menaruh harapan pada hal-hal yang sederhana: keluarga yang stabil, pekerjaan yang stabil, anak-anak yang aman, aman dalam arti sesungguhnya. Biarkan tangan ayah menjadi perpanjangan malaikat maut guna menikam manusia bejat.

Cinta ibu kepada beta sepanjang masa, kasih ayah tak terhingga bagai surya menyinari dunia. Sempurna.

A Sun | 2019 | Directed by Chung Mong-hong | Screenplay Chung Mong-hong, Chang Yao-sheng | Cast Chen Yi-wen, Samantha Ko, Wu Chien-ho, Liu Kuang-ting | Skor: 5/5

Karawang, 290121 – Sheila on 7 – Pria Kesepian

Kutonton tepat tengah malam pergantian tahun 2021. A Sun tayang di Netflix, dan maju ke Oscar tahun ini.

Recomendasi Lee, Thx.

Puisi dan Kumpulan Cerita Wayang

Mata dan Riwayat Semesta by Wija Sasmaya

Cinta itu buta

Tapi cinta juga tak pernah salah

Selalu indah pada waktunya

Walau harus kehilangan nyawa

‘— Sri Uning, Mustika Tuban

Buku tipis yang aslinya hanya berisi 75 halaman. Namun menjadi dua kali lipatnya sebab buku ini bilingual, diterjemahkan jua ke dalam Bahasa Inggris. Dicetak bolak-balik, tapi karena saya saat ini nyaman dengan Bahasa Indonesia, dan celetuk, ‘kurasa buat apa membaca Inggris-nya toh, isinya sama’, maka buku ini hanya kunikmati separuh. Separuhnya bagaimana, mungkin suatu hari nanti kubaca lagi, entah kapan, yang jelas bukan dalam waktu dekat. Dua kali saya memiliki dua sejenis ini, yang pertama karya Marga T, versi separuh asing jelas ku-skip. Benar-benar tak rekomendasi deh ide bikin bilingual gini, boros kertas. Kecuali diterjemahkan, lalu dijual terpisah, jelas itu lain soal sebab tak menempel langsung.

Untungnya lumayan bagus, saya suka narasi yang melibat sejarah. Di sini melimpah banyak cerita wayang, walaupun banyak yang sudah kutahu, ternyata detailnya luput. Nama-namanya juga sudah tak asing. Perang Bratayudha yang terkenal antara keluarga Pandawa dan Kurawa, sampai cerita roman dewa-dewi yang perkasa di tanah Jawa. Hal ini didapat dari puluhan kali, bahkan ratusan kali nonton orang ndalang. Apa yang didapat? Mata ngantuk, lupa tidur semalam suntuk. Nilai tambah apa yang diperoleh? Proses hidup manusia. Dari lahir sampai mati yang disimbolkan tokoh-tokoh wayang. Yang diceritakan sang dalang. (h. 35).

Puisinya tak perlu tafsir njelimet, tak pakai metafora berlebih, tak perlu telaah mendalam, bahkan bait-baitnya seakan bercerita. Semisal, Pemilu 2019 yang geger gugat hasil, itu disampaikan secara terbuka dan eksplisit tanpa banyak gaya bahasa, termaktub dalam ‘Legowo dan Ikhlas’, Luber dan Jurdil, atau tentang ‘Masker, Covid-19. Dan Karakter Bangsa’ itu ndelujur aja penyampaiannya, kritik sosial perilaku warga kebanyakan yang norak menghadapi pandemi. Masker ditimbun, saling sikut saudara sendiri, sembako diborong, kunyit, temu ireng, pala disimpan, dst sehingga tak mencerminkan Indonesia, surga kecil yang Tuhan berikan untuk dunia. Bobol cuk!

Dalam ilmu tasawuf, nafsu punya empat warna: Merah disebut amarah, hitam disebut aluamah, kuning itu supi’ah dan putih adalah mutmai’nah. Dan bila ingin menghadap ‘Sang Raja’ Tuhan, manusia harus suci. (h.37)

Kisah paling asyik wayang ada di ‘Petruk Nagih Janji’ di kerajaan Paseban Agung Kerajaan Dwarawati ada perebutan Dewi Wisnuwati yang mendapat dua lamaran. Pertama dari Raja Baladewa yang datang menjadi duta Raja Astina Pura, yakni Duryudana, yang sang mahkota kerjaan Pangerang Sarjo Kusumo resmi menyampaikan lamaran. Kedua sang tokoh punokawan Madukoro, Petruk menagih janji dulu sewaktu ada pemberontakan, Raja Pandu Bergolo Manik, Sri Bathara Krisna menyuruhnya berperang, kelak akan dapat ‘telur’ Dwarawati.

Raja Baladewa murka, menunjuk muka Petruk dan berujar, “Petruk, orang tua tak tahu diri, Cuma punokawan, Cuma pembantu, Cuma rakyat jelata, Cuma kere hore, berani-beraninya melamar putri raja.” Jadi sang putri menjawab bijak, “Saya bersedia dinikahi siapa saja, asalkan pengantin laki-laki bisa membawa tiga pusaka: Jamus Kalimasodo, Tombak Karawelang, dan Songsong Tunggul Nogo. Ketiganya pusaka milik Raja AMarta, yakni Raja Yudistira.” Langsung saja Prabu Baladewa melaju ke Amarta, tapi yang juara adalah Petruk sebab hanya dengan duduk bersila, bersemadi, dan bermeditasi, ketiga pusaka datang sendiri ke hadapannya! Kok bisa, lha Petruk kan anak Kyai Semar Bodronoyo, ya Sang Hyang Ismoyo, dewa yang menyamar jadi kawula alit alias punokawan (h. 45). Kenapa saya suka ini, sebab wong cilik menang, dan karena saya sedang banyak membaca tasawuf, sungguh ilmu pasrah menjadi sangat keren sekarang.

Saya menemukan nama Raden Ontoseno di sini, nama ini sering dipakai temanku Purwanto Grandong yang menyukai karakter ini. Walau sepintas saja disebut di dalaman 67 dalam sub cerita ‘Sang Penyelamat’: Sementara itu di padang Kurusetra,Prabu Dewa Prawoto mengamuk, para satria Pandawa mundur, kalah semua. Raden Ontorejo, Raden Ontoseno, Raden Abimayu, Raden Setiyaki, mundur dengan mengalami luka bakar. Sebab, begitu Prabu Dewa Prawoto memakai sebuah topeng, yakni Topeng Kencana, semua yang dilihatnya segera hangus, terbakar, menjadi abu!

Wija Sasmaya lahir di dusun kecil Kepek, Gunungkidul, Yogyakarya, 3 Februari 1965. Masa kecil dan remaja dihabiskan di kampung halaman, dan sesudah suka puisi. Djatmikla dan Wanara Bermuja merupakan nama penanya. Setelah menyelesaikan masa sekolah, kuliah di Sekolah Tinggi akutansi Negara (STAN) Jakarta. Lulus, bekerja sebagai Pegawai negeri sipil di Badan Pengawasan Keuanganan dan Pembangunan (BPKP). Buku ini adalah buku kedua setelah kumpulan sajak, Ketika Kata (Tak Lagi) Bermakna, yang terbit tahun 2011. “Lampu itu api, sumber cahaya, penerang di tengah kegelapan, tak boleh padam, lampu itu ibarat semangat, semangat hidup ini tak boleh surut, harus terus menyala, terus berkobar.”

Di akhir buku ada tulisan lima halaman oleh Agus Rois, teman lama. Dulu tetangga kos tahun 2009. Ia menjadi epilog buku, menyampaikan kesan-kesan selama bersahabat. Sejak menjadi tetangga kamar, malam-malam hening menjelma alunan wayang sampai subuh, suaranya cukup nyaring, bergema di tembok-tembok. “Saya harus mulai membiasakan diri menyukai suara-suara sumbang dan cerita-cerita wayang yang seringnya tak masuk akal itu. Saya tak bisa terus-terusan meratapi.” Suatu hari beliau meminjamkan buku 10 Laku Hidup Bahagia karya John Powell SJ dan sejarah dengan gambar Sukarno yang ditulis Peter Dale Scott, Amerika Serikat dan Penggulingan Sukarno 1965-1967, yang pertama terbit tahun 2007.

Dari Agus Rois kita tahu, Pak Wija ternyata pensiun dini tahun 2015, ia kembali menekuri hobi berpuisinya setelah 30 tahun mengabdi, ia menyepi ke kampung halaman, btw sebenarnya ia sebenarnya diterima Sastra Prancis di UGM, tapi malah ambil STAN. Maka terbitlah buku ini. ia memiliki tekad kuat, konsisten menulis puisi di tengah kondisi tubuhnya yang payah dan penyakitan. Meski jantungnya bermasalah, ia menolak jantungnya dipasangi ring dan kabur dari RS di Surabaya. Ia memasukkan tulisan-tulisannya di blog (entah blognya apa, saya belum cari dan tak tercantum di sini), “Jika terluka, menulislah!

Buku ini dicetak September, dikirim buat giveaway oleh Kedai Boekoe Desember, selesai baca bulan ini. sungguh update sekali bacaan, terima kasih. Semoga Inter Milan juara Serie A atau Lazio scudetto. Siapapun, asal bukan Juventus.

Hidup itu ibarat cuma mampir minum, dan sebaik-baiknya minum tentu minum air jernih yang menyejukkan jiwa.”

Mata dan Riwayat Semesta | by Wija Sasmaya | Sampul dan Tata letak Kreasi Rehal dengan Canva | Penerjemah Desi Noviyani | Lombok Barat, Penerbit Rehal | Cetakan pertama, September 2020 | xvi + 148; 14 x 20 cm | ISBN 978-623-93861-3-9 | Skor: 3.5/5

Karawang, 280121 – Dewa 19 – Sounds From The Corner Live

Thx to Kedai Boekoe, Bekasi

Cinta Oliver: Dimula Central Park, Berakhir di Hongkong

Kisah Oliver by Erich Segal

Maut mengakhiri kehidupan, tapi tak mengakhiri pertalian batin, yang masih terus berkecamuk di benak orang yang ditinggalkan dalam mencari suatu pemecahan yang mungkin tak pernah ditemukan. Robert Anderson, I Never Sang for My Father

===tulisan ini mengandung spoiler===

Katakan sesuatu yang menenangkan, Oliver,” kata Marcie. “Aku juga gugup,” kataku.

Kisah cinta lanjutan. Memang sulit melanjutkan cerita wow, atau setidaknya menyamai. Sekuel yang mengalami penurunan kualitas, tapi masih bagus sebab endingnya pahit, cara berceritanya bagus, pemilihan plotnya lumayan juga. Tak seperti kebanyakan cerita romantis yang mellow. Sesuai harapan, untung sekali mereka ambyar. Walau alasannya terlalu politis, terlalu kurang alami, sekalipun itu terkait aturan birokrasi, menentang prinsip hidup, idealism yang dipegang, sebagai Sarjana Hukum ia jelas menentang eksploitasi anak-anak untuk bekerja, tapi kisah ini jadinya malah muluk, dan adegan Hongkong itu jauh dari kesan asyik seperti eksekusi di Rumah Sakit, ending luluh lantak sebelumnya. Seperti kata Jimi Hendrix waktu Woodstock, “Keadaan cukup buruk dan dunia ini perlu dibersihkan.

Kisahnya tentang dukacita Oliver Barret IV setelah ditinggal mati istrinya terkasih Jenny. Kisah langsung nyambung, ending di Rumah sakit itu langsung melompat dua minggu, setelah pemakaman, ia lebih dekat sama mertua, Bapa Philip yang juga duda. Setelah itu, waktu meluncur dua tahun kemudian, dan mereka tetap akrab. Sang mertua justru meminta Oliver segera menikah lagi, dukacita sudah cukup, ia harus gegas memperbaiki masa. Orang yang pernah menikah bahagia, tahu persis apa yang dibutuhkan dan yang tak dibutuhkan. Tapi tak adil menuntut seseorang yang belum pernah mempunyai seorang… teman yang bisa dipercaya.

Kesibukan sebagai pengacara, seseorang yang berkecimpung di bidang hukum, membela hak-hak terdakwa, menjadi partner kerja biro, menyibukkan diri. Kata Marchall McLuhan, ‘Manusia seutuhnya selalu bekerja.’ Awalnya selalu cuek masalah asmara, lalu teman-teman dekat, kerabat, dan orang terdekat menyarankan mencari kenalan. Memperbaiki hubungan dengan sekitar. Terbaru malah dijodohkan, melalui makan malam di rumah Mr. Stein, sobatnya dalam acara main musik, ia diperkenalkab dengan rekan lainnya seorang Dokter cantik Joanna. Keluarga ini mencintai musik, maka kencan pertamanya menonton pentas musikal, hiburan kalangan atas. Sempat ada percikan, tapi Oliver menarik diri. Mereka berteman, tapi dari untaian plot, jelas Oliver sejatinya terkesan, Joanna juga menaruh hati. Namun, siapa yang mau menjadi cadangan? Tak ada yang mau. “Kalau pikiran seksi harus dihukum, maka aku akan dihukum seumur hidup.”

Oliver lari ke dokter jiwa, psikolog Dokter London untuk mendengarkan keluh kesah. Kau masih sangat terikat dengan Jenny, kau tak ingin hubungan baru dengan siapa pun! Lalu narasi diambil dari dua sudut. Sang Dokter menjadi pendengar dan memetakan jalan keluar, dan satu kisah cinta sesungguhnya dalam sekuel ini. Suatu sore di Central Park dalam acara lari buat refreshing, ia berkenalan dengan wanita cantik, menarik hatinya yang kosong. Ia memperkenalkan diri sebagai Pancho B. Gonzales, sang gadis bernama Marcie Nash. Cewek hobi tenis, yang sepakat main jam 06:00 pagi besoknya di lapangan sewa The Gotham Tennis Club. Mereka bertaruh, siapa kalah membayar traktir makan malam, yang menang menentukan tempatnya. “Seorang wanita New York bukan apa-apa kalau tidak bawa bola.”

Oliver menang, dan kalau sudah kena klik gini sejatinya sudah ketebak, perkenalan dengan orang baru paling susah hanya dimula, hanya di awal sekali menemukan kesempatan berbicara, selanjutnya lebih lancar. Menjalin hubungan baru dalam proses pengungkapan emosimu. Sejatinya sama saja, siapapun yang memulai, dasarnya sama-sama membutuhkan. Traktiran mahal itu membuat Oliver ga enak ati, berniat membayar eh si cewek malah memanggil sang pramusaji dan dibayar kredit tagihkan atas nama dia. Ini berarti ada dua hal pasti: Dia kaya dan sudah akrab sama resto ini. Dan walaupun saya sudah berjanji tak akan bertanya, saya akhirnya bertanya. “Kau pernah ke sini sebelumnya?”

Dari makan malam pertama akan melanjutkan ke pertemuan-pertemuan lain. Dari mercedez ke BMW. Pengungkapan identitas asli Oliver yang kaya raya, lalu dibalas pengungkapan identitas asli yang ternyata juga wanita kaya raya bernama Marcie Binnandale. Ia cerai sebab ada cekcok harta, hidup memang kadang tak sesuai harapan. Duda dan janda, ah sudahlah. Lantas apa menariknya mencerita duo orang kaya bercengkrama? Muak adanya ‘kan, lihat televisi, kalian pantas mematikannya ketika keluarga Rafi Ahmad berpamer ria kekayaan bersama Gigi dan Rafathar. Kzl kan, maka ketika saya ketahui keduanya melimpah harta, saya langsung drop ekspektasi. Harapanku hubungan ini ambyar, kalau sampai jadian, dah apa yang bisa saya komentari, laiknya sinetron kita. Meminjam istilah media massa, mereka ini pasangan modern. Yang pria bekerja, yang perempuan bekerja. Saling berbagi tanggung jawab, atau saling tak punya tanggung jawab. Saling menghormati, mungkin tak punya anak.

Nyatanya, opsi hati yang remuk dipilih. Detailnya panjang, tapi saya ingin sedikit menyampaikan. Setelah jadian, makan bareng, olahraga bareng, termasuk di kasur, mereka lalu melangkah lebih jauh dengan mencoba mengenalkan pada teman, keluarga, kerabat. Yang pasti tanda-tanda menjadi tua adalah mulai peduli pada siapa pun yang menang dalam pertandingan Havard-Yale.

Dalam keluarga Oliver tradisi adalah pengganti cinta. Ada empat tradisi pesta tahunan: Natal, Paskah, Thanksgiving, dan upacara suci setiap Musim Gugur: Minggu Kudus. Petaka mula, saat acara makan malam keluarga di Thanksgiving, Marcie memesona kedua orang tua Oliver. Jelas sang gadis bisa menempatkan diri di keluarga papan atas ini, toh dia juga konglomerat. Ibunya terpukau, ayahnya lega. Hingga akhirnya, ibunya jalan berdua sama Marcie untuk ngobrol, dan Oliver berdua sama ayahnya, menjelaskan detail keluarga latar sang gadis. Dari keluarga perancang busana, yang tanpa dijelaskan sebab aslinya, sang ayah memiliki masa lalu yang pahit di era Great Depression.

Oliver tentu saja tak mundur, penyebab utama mereka pecah kongsi adalah saat tamasya ke Hongkong, koloni Inggris di China ini mencipta kejelasan asal mula busana produk Binnandale’s diproduksi. Acara malam syahdu, jalan-jalan romantis, makan malam dengan lilin, dst yang direncana ambyar. Oliver, lulusan sarjana hukum Havard tentu tahu aturan usia pekerja, gaji minimal yang wajib dibayarkan, hingga remunerasi yang harusnya disepakati. Walau ada Serikat Pekerja, hal ini memuakkan. Dramatis? Enggak juga, dibuat keren? Enggak juga, hal-hal semacam ini malah mencipta kalimat, ‘lhaaa…. Kok’. Memang apa yang diharapkan Oliver (dan Penulis) dari proses kreatif busana dari Dunia Ketiga? Proses produksi canggih dengan robot? Faktor yang menentukan adalah Tuhan dan regu bertahan.

Oliver memutuskan pulang sendiri lebih awal, dan melupakan kisah cintanya yang kandas. Mencoba merekat kembali dengan Dokter Joanna, dalam pertemuan ngopi di kafe, ia ternyata sudah berencana pindah kota, lalu menikahi pria seprofesinya. Ia sendiri kini kembali jomblo, beberapa tahun kemudian terdengar kabar Marcie menikah dengan pria lain, punya anak, dan tampak bahagia, kisah Oliver menemui titik buntu. Ia mudik ke Boston, memtuskan melanjutkan Perusahaan bapak dan berdamai dengan kenyataan, pulang dalam pelukan ayah-ibunya yang sudah tua. Aku kembali berlari dalam gelap, mengenang masa lalu sekadar untuk melewatkan waktu. Lalu seolah kembali ke babak pertama, aku hanya merasa kesepian.

Freud pernah bilang, untuk melakukan hal-hal kecil dalam hidup ini kita harus bertindak dengan akal sehat kita. Tapi untuk hal-hal besar, kita harus mendengar hati nurani kita. Paradoks: kata semua orang para suami punya khayalan untuk menjadi bujangan. Mungkin kenangan pun bisa menyakitkan. “Selamat tidur, Pangeran manis.”

Kisah Oliver | by Erich Segal | Diterjemahkan dari Oliver’s Story | Copyright 1995 by Ploys Inc. | Alih bahasa Ade Dina | GM. 402 96.425 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Jakarta, Oktober 1996 | 304 hlm.; 18 cm | ISBN 979-605-425-6 | Skor: 4/5

Untuk Karen, Amor mi mosse

Karawang, 270121 – Sheila On 7 – Pejantan Tangguh

Thx to Lumbung Buku, Bandung

Buku-buku Baru Desember 2020

Tak seperti manipulasi-manipulasi lain yang saya sebut tadi, rasanya senang dan bahagia yang ditimbulkan oleh sepakbola tidak didirikan di atas sejenis moralitas, tidak dibangun dengan mengatasnamakan kebenaran. Itulah kenapa sepakbola jadi terasa menyenangkan dan membahagiakan… sayangnya dipersembahkan oleh iklan rokok.” Mahfud Ikhwan dalam ‘Dari Kekalahan ke Kematian’

Bulan Desember, sampai saat ini bukunya ada yang belum kubuka paketnya. Total 7 penjual buku yang kuhubungi. Bacaan bulan sebelum-sebelumnya belum kekejar, sudah datang lagi. Dan buku bulan Januari juga sudah mulai berdatangan, total ada 9 penjual buku yang sudah transaksi, satu lagi pending. Jadi bisa dibayangkan, buku-buku baru makin tinggi dan rak sudah tak muat.

Inilah kenikmatan dunia dan segala isinya. Tuhan, ampuni hambamu yang lemah ini. Facebook yang sungguh menggoda, berat…

@I. Kedai Boekoe, Bekasi

Ini dua buku giveaway, teman di twitter yang menjual buku-buku bagus tapi sejauh ini belum pernah transaksi. Penjual buku yang update terus sepakbola, Interisti dan MU Lover. Terima kasih.

#1. Merayakan SepakbolaFajar Junaedi

Tentang sepakbola yang meriah, ini penelitian. Sosial, budaya, politik. Indonesia dalam kemeriahan pertandingan.

#2. Eyes and the History of the Universe Wija Sasmaya

Kumpulan puisi dan cerita pendek Wayang. Penyair senior yang pensiun dari PNS.

@II. Maulana, Surabaya

Buku-bukunya bagus, tebal, murah, fresh. Kebanyakan buku agama, sudah dua kali beli di sini.

#3. SaljuOrhan Pamuk (beli 2 buku)

Awalnya beli satu, eh rebutan sama pembeli lain, stok dua langsung kuambil saja. Nama Orhan Pamuk yang menjamin kualitas.

@III. Dema Buku, Jakarta

Apalagi yang bisa saya komentari Dema Buku? Langganan!

#4. Aku dan India Melawan Dunia (Buku I)Mahfud Ikhwan

#5. Dari Kekalahan ke KematianMahfud Ikhwan

Lagi koleksi buku-buku beliau. Jaminan mutu, sejauh ini fresh semua ratingnya. Bulan ini beli lagi, dong. Bulan depan atau depannya pasti beli lagi, sebab dapat bocoran sekuel Dawuk segera tayang, plus kurang satu lagi koleksi yang belum punya, seri dua Aku dan India vs Dunia.

@IV. Korner Book, Depok

Awalnya dicuekin di Tokopedia, chat lama ga dibalas. Lambat sekali responnya, ketika dibalas, saya minta segera proses, dan benar saja akhirnya transaksi kedua kulakukan lagi. Sebab bukunya ori harganya miring.

#6. Bung Karno, Penyambung Lidah RakyatCindy Adams

Akhirnya punya buku ini, edisi revisi. Sudah pengen banget menuntaskan riwayat hidup sang Proklamator.

#7. Ulid, Tak Mau Ke MalaysiaMahfud Ikhwan

Karena pengen koleksi lengkap buku-buku Cak Mahfud. Apalagi, buku ini cetak ulang di Shira Media bulan ini, saya dapat terbitan awal warna kuning, yang kata beliau di buku Dari Kekalahan, warna sial bendera Malaysia.

@V. Bagus, Jakarta

Pertama beli di sini, buku-bukunya banyak tentang tasawuf. Terpesona sama koleksinya. Salah satunya, sudah kubaca bulan lalu. Wow… hanya harganya saja yang kurang bersahabat. Ada barang ada harga sih.

#8. Rahasia Nama-Nama Islam – Annemarie Schimmel

Ini dia nama baru yang akan melekat di kepalaku, Annemarie Schimmel kini menjadi idolaku. Akan kukejar semua buku-buku beliau.

#9. Thesesu dan Oedipus Andre Gide

Diterjemahkan Eka Kurniawan, salah satu penulis terbaik di era kita. Berinteraksi di twitter mencipta kekaguman daftar baca beliau, maka tanpa ragu terjemahan-terjemahannya pun laik dinikmati.

@VI. Ade Buku, Bandung

Beli ketiga kalinya, buku-buku berkualitas. Bulan ini beli lagi ke sini, dan jelas ini bukan yang terakhir. Lihat koleksi beliau, keren-keren.

#10. Mandi Api Gde Aryantha Soethama

Pemicu utamanya adalah ini, pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa. Ketika muncul, di pos Facebook, langsung kusambar.

#11. PembunuhRayni N. Massardi

Ini dijadikan satu paket, sama-sama terbitan Kompas. Kumpulan cerpen, novel apapun bentuknya, siapapun penulisnya rasanya laik dilahap.

#12. Mencari Setangkai Daun SurgaAnton Kurnia

Kumpulan tulisan Bung Anton Kurnia, trial beberapa sih Ok. Moga konsisten sampai 400 halaman akhir.

#13. Maharani WuShan Sa

Kudapat di reveiw Goodreads, bahasanya ganas. Oh, baik mari kita coba seganas apa.

#14. Cubek di Rimba Raya Jef Last

Ini buku klasik, langka dan laik koleksi.

#15. Invisible Man H.G. Wells

Buku ketiga Wells yang akan kubaca, jelas lebih akrab film-film adaptasinya ketimbang bukunya.

@VII. Haritsson, Yogya

Pertama kali pula beli di sini, buku-buku baru harga miring, asyik dapat langganan lagi. Awalnya ada paket Pak SBY yang memikat, harganya benar-benar murah, lalu sastra luar yang tipis-tipis juga murah, maka jadilah serangkaian panjang. Dan bulan ini beli banyak lagi.

#16. Paket buku SBYWisnu Nugroho

Berisi lima buku buku Pak Beye dan segala aktivitasnya. Presiden yang gemilang di periode pertama bersama Demokrat, tapi luluh lantak di periode kedua.

#17. Paket buku Sastra Klasik

Empat karya klasik tipis, sepertinya bakal dinikmati sambil lalu.

#18. Dendam di Bumi Mangir Antonius Darmasto

Tebal banget, beli karena diskon aja. Dan nama Mangir yang mengingatkanku pada Pram.

Bisa jadi Desember adalah bulan yang beli buku sedikit, tapi tetap percobaan rem belanja buku ini harus kuapresiasi sebab bulan Januari saya kalah lagi. Insya Allah bulan depan rem darurat kan kutarik. Kuselesaikan dulu buku-buku yang numpuk itu, yah minimal berkurang banyak dulu. Bismillah…

Karawang, 260121 – The Cranberries – Linger

*Buku baru Januari sudah berdatangan…

**kecup istri yang dipaksa kasih budget

Rasa Takut dan Akal Sehat Berebut Menemukan Jawaban

Kisah Pi by Yann Martel

Apa gunanya cerita?”

“Ceritaku tentang makanan.”

“Kata-kata tidak mengandung kalori.”

“Carilah makanan di mana bisa ditemukan.”

Fantasi atau fakta? Ada dua cerita, yang pertama bersama sesekoci sama macan yang tak bisa dilogika, yang kedua bersama pembunuh yang terbunuh. Endingnya udah dijelaskan, tapi tetap absurd. Begini seharusnya cerita sebuah perjalanan dibuat. Kalau kita, para warga negara, tidak memberikan dukungan kepada seniman-seniman kita, berarti kita telah mengorbankan imajinasi kita di altar realitas yang kejam, dan pada akhirnya kita jadi tidak percaya pada apa pun, dan mimpi-mimpi kita tidak lagi berarti. Jelas novel yang laik didiskusikan lanjut.

Terbagi dalam tiga bagian. Bagian Satu: Toronto dan Pondicherry, pengantar yang Ok banget. Laksmi artinya dewa kekayaan. Bagian dua: Samudra Pasifik, perjalanan. Berangkat tanggal 2 Juli 1977 dengan menumpang kapal Tsimtsum, kapal dagang Jepang berbendera Panama., bertahan selama 227 hari di samudra, mendarat di pantai Meksiko tanggal 14 Februari 1978. Waktu hanyalah ilusi yang membuat kita terengah-engah. Waktu menjadi jarak bagiku, seperti halnya bagi semua makhluk fana – kuarungi kehidupan ini. Bagian tiga: Rumah sakit Benito Juarez, Tomatlan, Meksiko. Segmen wawancara kocak sama dua orang Jepang yang khawatir makan siangnya disikat Pi. “Menang lotere sangat sedikit kemungkinan menang, tapi selalu ada yang menang.”

Kisahnya tentang Piscine Molitor Patel, 16 tahun yang terombang-ambing di samudra Pasifik. Hidup bahagia bersama kedua orang tuanya, dan kakaknya yang maniak kriket. Kebun Binatang Pondicherry merupakan sumber kesenangan sekaligus penyebab sakit kepala bagi Mr. Santosh Patel, pendiri, pemiliki, direktur, pimpinan staf berjumlah lima puluh tiga orang, sekaligus ayahku. Kehidupan binatang liar sangatlah sederhana, mulia, dan penuh makna, begitulah mereka bayangkan.

Aku bukan orang yang suka memproyeksikan sifat-sifat dan emosi-emosi manusia pada binatang. Sebab begitulah binatang: konservatif, malah bisa dikatakan reaksioner. Binatang punya sifat territorial. Itulah kunci untuk memahami mereka. Hanya di dalam teritorinya yang mereka kenal binatang bisa memenuhi dua keharusan yang tak bisa ditawar: keharusan menghindari musuh, dan keharusan memperoleh air dan makanan. Rumah merupakan teritori yang dipadatkan, di mana kebutuhan-kebutuhan dasar kita bisa dipenuhi dengan mudah dan aman. Begitu juga kebun binatang. Dalam batas-batas alami mereka, mereka menerima saja apa yang ada.

Sedari mula kita disuguhi tema teologi. Pi sendiri memeluk tiga agama. Aku tahu kebun binatang tidak mendapat tempat di hati orang, sama halnya dengan agama. Memercayai semuanya. Tuhan satu dan yang lain ia yakini, ibadahnya ia lakukan semua. Yesus, Maria, Muhammad, Wisnu. Menjadi penyelamat. Ada gurunya yang ateis, yang memercayakan kekuatan alam tapi bukan Tuhan. Rasa takut dan akal sehat berebut menemukan jawabannya. Begitulah Allah, cemerlang, perkasa, dan kuasa.

Tema utamanya adalah keyakinan, sebuah prinsip dasar eksistensi yakni kasih. Ingatan manusia bagai samudra, dan ia timbul-tenggelam naik-turun di permukaannya.

Ibu tampak cantik, berdandan layak sebab ia akan meninggalkan India yang panas dan berhujan, sawah-sawahnya, dan sungai Cauvery, garis-garis pantainya, dan kuil-kuilnya dari batu, gerobak-gerobak sapi dan truk-truk warna-warni, teman dan para pemilik toko yang sudah dikenalnya… Burung-burung camar menjerit-jerit di atas kepala, aku merasa begitu bergairah. Ternyata segala sesuatunya tak sesuai harapan, tapi apa yang bisa kita lakukan? Kita mesti menerima apa-apa yang diberikan ini kepada kita, dan berusaha menjalaninya sebaik mungkin.

Kapal itu karam, semua luluh lantak, yang selamat hanya sebuah sekoci dengan Pi di sana bersama beberapa binatang dan alat darurat seadanya. Harimau sangat tergantung pada indra pengelihatan, mata mereka sangat tajam terutama dalam mendeteksi gerakan. Pendengaran bagus, penciuman biasa. Ketika senja semakin mendekat, kecemasanku pun bertambah. Aku selalu takut menghadapi penghujung hari. Di malam hari aku akan sulit dilihat oleh kapal yang mungkin lewat.

Oh betapa bahagianya bermandikan harapan. Harapan menghasilkan harapan.

Kalau nyawa kita terancam, kemampuan kita berempati menjadi tumpul oleh hasrat egois untuk bertahan hidup. Aku merasa iba, setelah itu ya sudah. Di hadapan predator paling superior, kita sama-sama berstatus mangsa. Membuat rakit dengan jarak Sembilan meter dari sekoci, jarak itu sudah untuk dua ketakutanku: takut terlalu dekat dengan Richard Parker, dan takut terlalu jauh dari sekoci.

Binatang yang terluka lebih berbahaya daripada binatang yang sehat.

Secercah harapan berkerlap-kerlip di hatiku, seperti cahaya lilin di malam hari. Aku punya rencana bagus. Kita sudah lupa pada faktor-faktor yang mestinya menjadi andalan terakhir, yaitu harapan dan keyakinan. Jangan sampai patah semangat, boleh merasa kecil hati tapi jangan menyerah. Ingat semangat sangat penting, melebihi lain-lainnya. Kalau Anda memiliki kemauan untuk hidup, Anda pasti bisa bertahan.

Makin lama makin berpengalaman sebagai pemburu. Aku makin berani dan lebih cekatan. Instingku berkembang, naluriku bekerja, dan aku tahu apa-apa yang harus dilakukan. Orang takkan mati karena mual, tapi rasa mual dapat menguras semangat hidup habis-habisan. Memadamkan rasa takut yang berkobar-kobar di hatiku.

Kehidupan di sekoci bukanlah seperti kehidupan. Rasanya seperti permainan catur yang hampir berakhir, menyisakan satu bidak, elemennya sangat sederhana. Kelangkaan air tawar menjadi kecemasan tersendiri. Ternyata aku tidak sinting, Richard Parker-lah yang berbicara denganku. Aku senang sekali bisa bercakap-cakap dengan harimau.

Ada dua rasa takut yang tidak bisa kita buang dalam diri kita: reaksi terkejut karena mendengar suara berisik yang tak disangka, dan vertigo. Kutambahkan satu lagi, rasa takut karena ada pembunuh yang mendekat dengan cepat tanpa tedeng aling-aling.

Bab paling menakjubkan ada di nomor 92. Tentang misteri pulau predator. Pulau ini bukan pulau biasa, bukan sebongkah daratan kecil yang menempel di dasar samudra. Melainkan merupakan organisme yang mengapung bebas, segumpal ganggang raksasa yang luar biasa besar. Mendapatkan kenyamanan fisik, tapi mati secara spiritual.

Akhirnya sudah pasti tahu, selamat. Namun setelah bersama selama berbulan-bulan tak ada pamitan yang layak. Sangat menyedihkan perpisahan tanpa ucapan selamat tinggal, aku orang yang menghargai tata cara dan keselarasan aturan. Sedapat mungkin kita harus memberi makna pada segala hal.

Saya sudah nonton filmnya, dan menang Oscar untuk sutradara terbaik. Tak perlu nonton dulu, sebenarnya pembaca akan tahu nasib Pi, sebab ada keterangan jelas di akhir Bagian I bahwa akhir kisah ini bahagia. Buku dibagi dalam tiga bagian, per bab-nya tak memakai lembar kosong, dilanjut di halaman yang sama di tiap pergantiannya. Ada 100 bab, sesuai keinginan Pi. Ada dua ‘Aku’ di sini, yang bergaris miring berarti Sang Penulis, yang ternyata sedang mencari ide tulisan, satu lagi Aku sang tokoh utama, Pi yang menuturkan kisah. Satu lagi adalah wawancara, kocak sekali duo orang Jepang sebagai pemilik kapal yang tenggelam mencari penyebab karamnya, lalu meminta logika di sekoci tanpa binatang.

Begini seharusnya kisah perjalanan dibuat, detail sekali di tempat mula, mendebarkan sangat di tengahnya, gejolak dan riak kesimpulan di tempat tujuan. Pembuka tahun yang luar biasa. Jadi ini fantasi atau fakta?

Kisah Pi | by Yann Martel | Diterjemahkan dari Life of Pi | Copyright 2001 | Penerjemah Tanti Lesmana | Design dan Ilustrasi sampul Martin Dima | 617186010 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | November 2004 | Cetakan kesembilan, Juli 2017 | 448 hlm.; 20 cm | ISBN 9789792289008 | Skor: 5/5

A mes parents et a mon frere

Karawang, 210121 – The Isley Brothers – Summer Breeze

Thx to Ari Naicher (Taman Baca Rindang), Klaten

Buku pertama yang selesai kubaca tahun ini, dari tanggal 8-18 Jan 2021, di sebuah masjid di Bogor sampai di ruang baca Greenvillage, Karawang.

Terbata Mengucap Cinta pada Timnas

Dari Kekalahan ke Kematian by Mahfud Ikhwan

Saya tak ingat betul kapan kita terakhir kalah sebanyak ini, Bung.” Kata Bung Towel. “Tanpa ragu saya katakan,” timpal Bung Tris dengan suara tercekat, “ini memalukan!”

Tipis. Mungil. Cepat sekali bacanya, di sela Pi dan Zarathursta yang bahkan sampai separuh bulan baru dapat separuh perjalanan. Ku #unboxing hari Minggu, 17 Januari kuselesikan baca dua hari kemudian. Buku ngomong ngalor ngidul dari hati Cak Mahfud untuk pecinta Tim Nasional Indonesia. Curhatan, makian, ratapan adalah bukti bahwa publik sepakbola Indonesia masih bernyawa.

Mahfud Ikhwan memang jaminan, salah satu penulis hebat di zaman kita. Ini buku kedua darinya tentang sepakbola yang kunikmati, jelas lebih baik ketimbang rangkuman review per pekan sepakbola Eropa dalam ‘Sepakbola Tak Akan Pulang’. Kali ini fokus ke cerita lokal, mayoritas diangkut dari blog-nya belakanggawang.blogspot.com yang diampu bersama Bung Darmanto Simaepa. Sobatnya tersebut, ternyata sobat kental beberapa kali disebut menjadi teman curhat dan nonton bareng. Setara Grandong yang jadi sobat misuhi Liverpool dengan kepleset Gerard-nya. Masih ingat review buku Tamasya Bola? Kata Pengantarnya keren sekali oleh Cak Mahfud, di Dari Kekalahan, dibalik. Pengantarnya oleh Darmanto, panjang meliuk-liuk liar, dan muatan isi bukunya segaris lurus. “Barangkali sepakbola unik karena ia bisa memberikan harapan berulang kali.”

Setengah abad menjadi pecundang menjadi pengantar panjang itu, bagaimana timnas kita seolah pendulum yang tak pernah menyentuh puncak lagi sejak tahun 1991. Berputar bak gasing di dasar dalam kebingungan, kekonyolan berulang, dan senyum busuk politikus. Kita bisa berjilid-jilid menulis makian ke PSSI dan segala kroni-nya. Berisi 16 tulisan, semuanya tentang sepakbola kita, mayoritas timnas, beberapa klub lokal. Hebat. Saya bisa bercerita sampai sisi dalam kulitnya pemain Biancoceleste, detail seolah papan iklan di Olimpico bisa diraba. Namun sulit menelusur sepakbola sendiri, debu-debu Mandala Krida lebih jarang kutemui di layar TV ketimbang gemerlap Nou Camp.

Lebih istimewa, catatan di sini tampak beda. Bukan ulasan pertandingan, pandangan laga sepanjang menit seolah teks tabloid Bola, atau terjemahan La Gazetta Dello Sport, bahasanya terasa bebas sekali, tulisan blog memang personal, bukan olahan berita yang formal. Makanya terbaca bagus sekali, dengan ke’saya’an melimpah Cak Mahfud bercerita pengalaman, sedari kecil, sedari mondok, sedari merantau. Seperti saya, diksi saya lebih terdengar hormat ketimbang aku. Patah hati berulang kali, mengucap cinta pada cewek cantik dah biasa, apapun balasannya hal lumrah sebab targetnya laik; mengucap sayang pada cewek jelex, ia terbata-bata. Hiks, sedih…

Tak banyak buku tentang sepakbola yang kubaca, dari sedikit itu rata-rata mengecewakan atau katakanlah biasa. Sulit memang menulis tentang bola yang bagus, ada yang muluk-muluk sampai bikin muntah sebab nyebut sains sesering Neymar kepleset. Ada yang bernarasi dari menit ke menit menjelaskan bola bergerak seolah kita tak tahu keyword guna searching di Youtube. Maka lebih bijak memang mengambil sudut pandang orang pertama, yang dikupas momen penting, sehingga tampilan kata-nya stabil asyik.

Seperti AFF 1997, bagaimana Sang Penulis bilang digebuki sarung sama ustaz-nya sebab nonton semifinal di jam ngaji bersamaan pula magrib, berbarengan dengan acara pondok. Ia bercerita, seolah dua momen itu penting. Kenapa? Kita jelas tahu Indonesia ke final, lalu luluh lantak, yang jelas kita tak tahu bagaimana ia menikmatinya, dan menyakitkannya. Uang makan melayang. Tjakep! Kisah semacam ini setara dengan narasi-ku ketika menonton final Copa Italia tahun 2013. Saya menjelujur kata bagaimana rencana nobar Lazio Indonesia ke Jakarta, kunci motorku diumpetin istri karena tak boleh keluyuran dini hari ke Ibukota, sempat ngambek kucari tumpangan ke Laziale lainnya, pada udah cabut, juga berbarengan pula rekan nonton dari Lazio Cikarang terjebak macet dalam perjalanan arus balik, dan bagaimana saya berteriak sendirian memandang Lu71c di layar TVRI di rumah. Narasi satu sudah diketahui banyak orang, narasi kedua bukan sekadar sisipan, tapi malah menjadikan info bagus kefanatikan. Walaupun Lazio menang, Indonesia kalah, jelas cara bernarasi saya kalah telak sama Cak Mahfud, ‘Kisah Tiga Pelanggaran dan Narasi Kekalahan’. Manusia semacam Pak Amrozi, Mayistri tersayang yang galaknya minta ampun kalau audit koleksi buku dan bola–, dan pengganggu-pengganggu cara menikmati kulit bundar selalu ada di sekeliling kita.

Seperti bagaimana proses Indonesia kalah menyakitkan tahun 2010, momen bangsat nomor seribu itu, kita sudah di puncak permainan ketika kaki menapaki garis final. Berlanjut antiklimaks Sea Games bercumbu lagi sama Malaysia, dan bagaimana kekalahan itu menewaskan dua supporter. Asyik cara nulisnya, dibagi dua babak laiknya sepakbola: sebelum kekalahan bercerita proses nonton dengan bantingan antena berulang kali, dan setelah kekalahan cuma sekalimat. Hahaha… kok kepikiran ya.

Seperti kisah-kisah dystopia kebanyakan yang fantastis, Sang Penulis memiliki angan-angan gila, mencipta tokoh seorang ilmuwan yang berhasil menciptakan alat pembunuh massal di Indonesia. Setiap manusia yang memiliki pikiran dalam kepala mengenai sepakbola, mati. Percobaan me-reset pola pikir dan olahraga asyik ini. Oh, ok. Endingnya? Diberi dua alternatif: Pertama, Sang sarjana biokimia mencipta benthik yang diajarkan ke anak-anak yang ia temui pertama. Yang kedua, semua tewas termasuk si ilmuwan gila ini sebab gagal cipta penangkal, semua orang-orang sepakbola tewas tak tersisa, kecuali orang-orang PSSI dan beberapa bos klub, kenapa? Sebab kata ‘sepakbola’ bahkan tak terbesit di kepala mereka. Hahahahahaha… jleb-jleb-jleb. Benar-benar kocak, fakta pula. Ini jelas kupilih terbaik ada di judul ‘Sepakbola Indonesia: Sebuah Cerita Distopia.’

Seperti iklan rokok yang kerap muncul bersama sepakbola, saya sepakat sekali. Saya tak merokok lagi setelah Muhammadyah mengharamkannya, saya melihat hal-hal yang ditulis dalam ‘Peringatan Saya: (Iklan) Rokok Bisa Menimbulkan Masyarakat yang Sehat, Bahagia, dan Penuh Harapan.’Tak seperti manipulasi-manipulasi lain yang saya sebut tadi, rasanya senang dan bahagia yang ditimbulkan oleh sepakbola tidak didirikan di atas sejenis moralitas, tidak dibangun dengan mengatasnamakan kebenaran. Itulah kenapa sepakbola jadi terasa menyenangkan dan membahagiakan… sayangnya dipersembahakn oleh iklan rokok.” Asem, musiknya Gloomy Sunday cuy. Saya lebih nyaman merenung libur bersama Bill Withers saja, Lean on Me.

Seperti ketika AFF edisi 2016, Sang Penulis ‘muak’ sama bola tapi ternyata timnas bisa melaju juga dari sergapan grup. Ini mengenai Riedl yang terharu, dengan skuat seadanya karena kompetisi sedang berjalan, setiap tim hanya boleh diambil dua pemain. Timnas bisa melaju, mengalahkan Singapura. Saya mengalami era ini, tapi kok saya lupa-lupa ingat ya? Saking bobroknya roda kompetisi, saya memang sempat ‘cuek’, dan hal yang sama juga dilakukan Sang Penulis. Ia baru tahu skornya justru dari ayahnya, bukan langsung menatap layar. Dengan judul ‘Kembali (Mencoba) Berharap’, memang harapan itu melayang bersama bom telur, meledak dalam kekonyolan, busuk dan buruk.

Seperti komentarnya tentang Nurdin Halim yang muncul di banyak layar, padahal suporter muak. Dan kata-kata Sang Penulis yang menyindir langsung betapa Johar Arifin lebih buruk dari pendahulunya, kalimat yang dikutip juga jleb, “Saya masih memberi kesempatan kepada klub-klub untuk kembali ke kompetisi yang resmi. Paling tidak sampai Senin ini. Ya, paling lambat Senin malamlah.” Lihat, betapa memuakkan boneka ini. Pengen muntah rasanya, dolanan bal dadi sembelit politik dan kekuasaan.

Dan seperti-seperti yang lain, jelas Cak Mahfud mewakili banyak hal. Mewakili uneg-uneg ratusan juta pecinta sepakbola, timnas pada khususnya. Dan seperti buku sebelumnya yang memicuku untuk nulis tentang bola, saya jadi terpicu lagi untuk turut nulis uneg-uneg.Sepakbola Tak Akan Pulang’ membuat gebu, walau nyatanya setelah sembilan bulan baru nulis satu artikel yang dipos ke fandom.id; niat ini memang harus dibakar terus. Baik, nanti saya coba lagi ke Fandom atau ke Pandit sekalian. Nulis bola memang butuh keuletan, butuh konsistensi tebal ketimbang review film, atau buku.

Mengenal bola, saya sedikit lebih baru. Baru klik sepakbola tahun 1998, kala Vieri join Lazio. Timnas momen paling menyakitkan bagiku ya tahun 2004 kala era Bejo Sugiantoro dkk kalah pinalti dan tahun 2010-11 dua kali dipecundangi tetangga. Muntab, patah hati berkali-kali, dan seperti kata Cak Mahfud, saya tetap juga mencintai tim rombeng ini.

Catatan penutup mengharukan sebab teruntuk Bapak, orang yang berjasa mengenalkan sepakbola, yang mencintainya dengan penuh, dari tim antah sampai tim elit dilibas, dari era radio sampai satelit, dari kekalahan satu ke kekecewaan lain. Jadi ingat almarhum Ayahku, mencintai Arsenal dengan Petit-nya. “Seng dikucir koyo jaran, mlayune kenceng tenan.”

Ok Cak, monggo cari solusi ideal timnas ini, bikin koalisi buat geruduk tahun 2024! Hehehe, ‘tuyo-tuyo kloyongan!’

Dari Kekalahan ke Kematian: Keluhan, Makian, Ratapan, alih-alih Catatan, Seorang Pencinta Sepakbola Indonesia yang Putus Asa | by Mahfud Ikhwan | EA Books. 2018 | Cetakan pertama, Mei 2018 | xxvi + 140 hlm., 12×19 cm | ISBN 978-602-50222-9-6 | Pemeriksa aksara Margareth Ratih Fernandez | Tata letak isi Mawaidi D. Mas | Desain sampul Azka Maula | Penerbit EA Books bekerja sama dengan Fandom.id | Skor: 4/5

Karawang, 210121 – Boyzone – Everyday I Love You

*) Thx to Dema Buku, Jakarta

**) Review khusus menyambut buku ‘Menumis itu Gampang’ yang baru saja terbit

Selongsong Waktu dalam Tenet

Begitu kecilnya ketidaksinambungan waktu, maka satu detik bisa diperbesar dan diurai menjadi seribu bagian, dan tiap bagian menjadi seribu keping lagi. Begitu kecilnya ketidaksinambungan waktu, maka jarak antarsegmen sama sekali tidak terlihat. Tiap kali waktu berputar, maka dunia baru tampak seperti yang lama.”Alan Lightman dalam ‘Mimpi-Mimpi Einstein’.

Komentar May: Bagian bandara, kok, kok pada mundur. Bagian kejar-kejaran mobil wow wow wow. Bagian bandara lagi, keren keren keren. Wooooow. Bagian strategi 10 menit, banyak tanda tanya dan spekulatif. Lalu warna merah dan biru dar der dor… yah, film apaan sih, ga jelas. Z z z z…

Komentar saya? Mari sedikit kupas, ===catatan ini mungkin mengandung spoiler===

Akhirnya saya menyerah juga, film yang paling ditunggu di bioskop ini kusaksikan di layar TV bersama orang terkasih, tetap di pergantian hari di malam libur jelang Derby Della Capitale. Kepastian di bioskop IMAX tak menemui titik temu setelah kasus corona kembali naik Desember lalu. Untuk baginda Nolan, menunggu memang worth it, tapi sabar itu disusupi banyak komentar bocor, dan di era digital luapan info banjir di banyak platform.

Kisahnya tentang penyelamatan dunia, tema kepahlawanan dalam balutan sains, seolah cerita spy yang sudah ada kurang ilmiah. Maka Nolan memasukkan teori-teori rumit itu dalam film aksi. Di Kiev, di sebuah gedung opera, konser baru saja dimulai, terjadi serangan teroris. Tim penyelamat tiba, ada penyusup dalam tim, salah satunya The Protagonist (John David Washington). Pasukan CIA berkejaran, lalu ada penyusup lain bertanda merah di lengan yang menyelamatkan jagoan, tanda tanya itu menggantung setelah misi selesai. Di sebuah lajur dua kereta, The Protagonist dan salah satu agen dicatut giginya guna memaksa membocorkan informasi, pil bunuh diri palsu, serta rangkaian penjelasan tak tuntas.

Pil itu ternyata hanya untuk mengetes loyalitas, ia lalu direkrut dalam Tim Tenet dan berkenalan sama agen Inggris Neil (Robert Pattison). Dalam misi ke India, melalui penyergapan penuh gaya, jumping dengan tali melompat dan mengayun di gedung-gedung bak Spiderman, mereka mendapatkan info penting dari Priya (Dimple Kapadia) bahwa ada teknologi Pembalik-Waktu yang dikuasai oleh seorang Rusia bernama Andrei Sator (Kenneth Branagh) yang bisa berkomunikasi sama manusia masa depan.

Dalam misinya, ia bertemu istri Sator, Kat (Elizabeth Debicki) yang menjelaskan ada lukisan di bandara yang dijaga dengan ketat lukisan yang mengaitkan dengan sang suami, untuk mendapatkannya berdua menyusup dan agen lainnya menabrakkan pesawat agar bisa leluasa ’10 detik’ dalam penjebolan. Tak dinyana, ada dua elit bermasker menyerang, menggunakan Pembalik-Waktu di mana retakan dan ruang yang ada sejatinya belum terjadi, dalam gerak mundur bergumul, interograsi dan niat membunuh musuh misterius itu tak terjadi.

Misi selanjutnya mengambil plutonium dalam mobil, tak biasa sebab mobil itu kejar-kejaran dalam laju mundur, ada penyusup dan rentetan tembak terjadi. Kat mencintai anaknya, jelas. Mengorbankan segalanya demi sang putra, jelas. Termasuk membunuh sang suami? Kenapa tidak?! Ketika ia terluka, parah dan harapan kecil untuk bertahan, maka berdua lalu pergi ke masa lalu untuk ‘mengubah’ sesuatu, melalui bandara Oslo lagi, dan terungkap identitas sebenarnya manusia bermasker. Ini memang wow, tapi bukan barang baru. Masih ingat adegan danau di Harry Potter and Prisoner of Azkaban? Rusa jelmaan itu bukan orang lain.

Tenet memiliki misi sejati menyelamatkan dunia, mulia sekali Nolan, ia mencoba mencegah kiamat. Bertiga merencana, rencananya sangat sederhana, pengaturan waktunya sempurna. Sepuluh menit itu dibagi dalam dua frame: di Siberia penuh ledakan guna membatalkan kiamat, dan di yatch dimana pembunuhan harus dilakukan setelah klik, Sator tak boleh mati sebelum dapat kode. Merah maju, biru mundur, catet! Seperti dalam lukisan yang baik, latar belakang merupakan bagian yang integral dari seluruh lukisan. Maka ledakan itu terasa hambar. Opini seni gambar harusnya dilakukan sedetail mungkin. Ini gambar gerak yang melibatkan Boeing-737, Booom! Happy ending. Hiburan ‘adegan perang’ dalam film menunjukkan ambivalensi pada pesta pora pembunuhan yang mencapai puncak.

Tidaklah mungkin bagi orang dalam profesi subjektif seperti Protagonist ini untuk merasa yakin tentang apapun juga. Samar memang menjadi bumbu kisah spionase, dan segala plot-sub-plot kegemaran Nolan. Senyum Neil di ending mungkin bikin cewek-cewek lunglai bahagia, tapi tak memberi makna banyak. Kehidupan nyata tidak serapi dan seteratur fiksi. Dalam kehidupan nyata, istri yang benci sama suami posesif bisa gegas kabur lalu menyusun kehidupan baru, dalam fiksi kemudahan dicerabut banyak. Aku mati, kamu juga. Aku cinta, kamu harus juga cinta. Yuk, oleskan krim di punggung. Jadi teringat The Invisibleman, obsesi suami gila menjadi rempah-rempah teknologi. Tenaga ahli sekarat ini mengorganisasi kejahatan, seolah gilda-gilda puisi!

Orang bisa saja menjelaskan maksud endingnya, yang kita dapatkan hanyalah sejumlah alternatif yang mana mutu permainan waktu kali ini terlihat sepertinya berbeda, mungkin karena naskah ditulis setelah konsultasi sama ilmuwan fisika, jadi tampak ilmiah, katanya teknologi ini tampak mungkin dicipta. Bos, kau bisa yakin banyak hal masalah permainan waktu, bercerita menjelaskan sampai berbuih-buih, dan kau tentu saja berpeluang begitu keliru banyak hal pula.

Masa depan adalah pola, penataan, kesatuan, sementara masa silam adalah acak, kebingungan, perpecahan, penghilangan. Beberapa orang mengatakan bahwa yang terbaik adalah tidak mendekati pusat waktu. Seperti kata Neil, yang terjadi ya tetaplah terjadi. Lantas rencana kiamat, dan pembatalan pembunuhan itu bagaimana?

Masa depan adalah masa lalu, masa lalu adalah satu-satunya alternatif nyata terhadap kemungkinan. Apapun tema cerita time-traveling, aturan logika sang penulis yang memiliki tanggung jawab. Pada kenyataannya waktu tidak berlalu, kita yang berlalu. Waktu sendiri merupakan sebuah varian. Waktu adalah waktu. Maka masa lalu dan masa depan bukanlah dua tempat yang terpisah seperti Karawang dan Bandung. Dan karena masa lalu bukan lokasi, kau tidak bisa bepergian ke sana. Laci Doraemon, Kalung Turning Time, Lemari Narnia, Mobil kena petir, dst… fantasi kita melimpah ruah.

Kata tenet aslinya dinukil dari sebuah mitologi. Kotak Sator-Rotas dengan center TeneT itu ungkapan latin Sajak yang bisa dibaca dengan beberapa cara, digunakan untuk menandakan pola. Bukanlah kode, tetapi simbol untuk memperingatkan para ahli bahwa bagan yang lebih besar telah diperoleh. Semacam teka-teki terdiri lima huruf dalam lima line: SATOR, AREPO, TENET, OPERA, dan ROTAS. Nolan jelas menggunakan kelimanya, walau sebagian seolah tempelan, tak memberi peran. Seperti Rotas, nama kantor sekuritinya. Atau nama antagonisnya Sator, ga relate sama teka-teki apapun. Seperti game Sudoku, semua angka memiliki peran, di film ini semua kata hanya tempelan. Saking asyiknya eksekusi waktu di ending, TEN maju dan TEN mundur menjadi TENET. Nah, kalian puas?

Yang mencuri perhatian tentu saja tokoh Kat, Elizabeth Debicki tergolong pemain baru ternyata. Berkarier sejak tahun 2011, CV-nya kutengok, baru kutonton satu filmnya The Great Gatsby, perannya tak signifikan. Di sini dominan, wanita cantik natural khas gadis Paris. Blonde menawan, cantik, langsing, dan bernyawa. Mungkin karena dialah, saya bisa bertahan lama tanpa menguap bosan.

Plato bilang bahwa seseorang harus membangun karakter melalui aneka bentuk penyangkalan diri, ketimbang melalui pe-manjaan diri. Kata ide sendiri datang dari dia – jadi, kalian boleh berkata bahwa ia menciptakan ide tentang ide. Oh Nolan, mencoba mencipta karya dengan nyanyian sihir berdengung. Bahwa seorang penulis naskah mahir seharusnya bekerja seperti seorang pemain bilyar ulung: meski mengincar bola biru, ia justru menyodok bola putih, yang lalu menumbuk bola hitam, yang kemudian menabrak bola merah, yang pada akhirnya bola menerjang target akhir: si bola biru. Boom! Gue kasih bocoran, si Protagonist dan Neil berhasil menyelamatkan dunia, (mana tepuk tangannya?) – hanya saja, caranya menumbuk warna bola di banyak ledakan.

Setiap orang memiliki kemampuan melawan kejahatan. Nolan memberi kita gambaran tema kepahlawanan. Terdengar seksi bukan? Untung skoring-nya bagus, saya benci happy ending.

Tenet | 2020 | Directed by Christopher Nolan | Screenplay Christopher Nolan | Cast Juhan Ulfsan, John David Washington, Robert Pattison, Dimple Kapadia, Michael Caine, Elizabeth Debicki, Kenneth Branagh | Skor: 4/5

Karawang, 190121 – Padi – Begitu Indah

Buku-buku yang Kubaca 2020

“Saya menulis apa yang saya tahu, saya pahami, dan saya kuasai.” Mahfud Ikhwan dalam Cerita, Bualan, Kebenaran.

129 buku kubaca dan kuulas, SEMUANYA! Tahun yang luar biasa sibuk. Makin matang, makin variatif bacaan. Kalau dulu saya fokus ke fiksi, sekarang sudah kukembangkan ke segala bacaan. Riliji, sastra, remaja, klasik, psikologi, filsafat, tasawuf, olahraga, sosial, detektif, sampai fantasi imaji, genre utama yang memang jadi acuan segalanya. Mulai saat ini, saya buat daftar terbaik-terbaik dalam dua versi: Fiksi dan Non-Fiksi.

Baru tiga terakhir bacaan saya rekap, dalam tiga tahun, tahun 2020 adalah rekap baca paling banyak. Tahun 2018 dan 2019 di angka 110. Tak ada target baca, tak ada event yang kuikuti oleh komunitas atau apalah, benar-benar ngalir saja. Kecuali momen #30HariMenulis #ReviewBuku yang memang sudah lama kulakoni tiap Juni.

Dunia memang sudah menggila; buku bagus, secangkir kopi, dan alunan jazz membuatku tetap waras.

#1. The Woman in BlackSusan Hill
Tentang keterpencilan dan hal-hal gaib di sana.

#2. A Fair Lady & Fine GentlemanJane Austen
Tentang kutipan-kutipan sang maestro roman klasik.

#3. ZiarahIwan Simatupang
Tentang ketakteraturan plot, karakter, diksi, segalanya.

#4. Agnes GreyAnne Bronte
Tentang cinta komitmen Agnes akan kebijaksanaan.

#5. RafilusBudi Darma
Tentang kematian dua kali manusia besi.

#6. FiestaErnest Hemingway
Tentang festival matador, semburan anggur, dan kafe-kafe nyaman.

#7. The Red-Haired WomanOrhan Pamuk
Tentang sumur, kenangan, dan dosa lama yang menghantui.

#8. Million Dollar BabyF.X. Toole
Tentang tinju dan segala keambyaran.

#9. Cacing dan Kotoran KesayangannyaAjahn Brahm

#10. Dunia SaminSoesilo Toer

Tentang kemasyarakatan yang ideal, kebersamaan.

#11. Closed CasketSophie Hannah
Tentang warisan dan pembunuhan, telaah kejahatan di tengah buku-buku perpustakaan pribadi.

#12. Monte Cristo Alexandre Dumas
Tentang dendam yang membara sekaligus kepahlawanan di era pasca Sang Kaisar.

#13. Segala-galanya AmbyarMark Manson | 1 | 2
Tentang harapan yang remuk redam, kesepian.

#14. Cinta Satu PennyAnne Hampson
Tentang keromantisan dalam sepeting penny.

#15. Babad Kopi ParahyanganEvi Sri Rejeki
Tentang metodelogi kopi di Bandung dan sekitarnya.

#16. Seorang Gembala Yang Tertidur Panjang di Akhir ZamanA. Mustofa
Tentang waria tobat dan segala yang menghalanginya.

#17. Kitab Para PencibirTriyanto Triwikromo
Tentang makhluk ciptaan-Nya yang menekur.

#18. The Book of MirrorE.O. Chirovici
Tentang kasus pembunuhan yang diungkap kembali setelah puluhan tahun tak terdeteksi.

#19. All the Bright PlacesJenniver Niven
Tentang jiwa remaja labil yang ingin bunuh diri.

#20. Ender’s GameOrson Scott Card
Tentang serangan bug di luar angkasa dan tata cara melawan dulu.

#21. Mengukir Masa DepanNidhoen Sriyanto
Tentang impian remaja di Ode Baru yang indah-indah.

#22. A Monster Calls – Patrick Ness
Tentang monster pohon yang muncul tiap jam 00:07 lalu berkisah.

#23. Winnie-the-Pooh – A. A. Milne
Tentang dunia binatang di hutan Seratus Ekar, serta Christopher Robin.

#24. Ateisme FreudHan Kung
Tentang Freud dan ideologinya.

#25. Dilarang Gondrong!Aria Wiratma Yudhistira
Tentang larangan berambut panjang di Orde Baru, bersinggungan dengan politik itu nggak enak.

#26. Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya 3!Ajahn Brahm
Tentang petuah-petuah bijak menurut Buddha.

#27. Ritus-Ritus PemakamanHannah Kent
Tentang hukuman mati dan nurani terkoyak.

#28. AngelologiDanielle Trussoni
Tentang malaikat dalam relung sejarahnya, ada singgung mitosnya.

#29. Sang Golem dan Sang JinHelena Wecker
Tentang cinta makhluk ciptaan manusia yang mistik.

#30. Crystal Stopper Maurice LeBlanc
Tentang sumbat Kristal memicu hukuman mati pencuri pembunuhan.

#31. Cadas TaniosAmin Maalouf
Tentang cinta kandas remaja, pengorbanan ayah, politik dan agama di Lebanon.

#32. Silence Shusaku Endo
Tentang penyebaran agama Kristen di Jepang, akar tak bis atumbuh di bebatuan.

#33. Lengking Burung KasuariNunuk Y. Kusmiana
Tentang kehidupan Jayapura pasca integrasi dalam sudut pandang anak-anak.

#34. The Chronicles of Narnia: The Lion, The Witch, and the WardrobeC.S. Lewis
Tentang empat Pevensie yang masuk ke dunia ajaib lewat lemari.

#35. Pooh at the Corner A. A. Milne
Tentang dunia binatang di hutan Seratus Ekar, serta Christopher Robin, sertapula si menbal-menbal Tigger.

#36. Sepakbola Tidak Akan PulangMahfud Ikhwan
Tentang catatan sepakbola semusim di Eropa.

#37. Little WomenLouisa May Alcott
Tentang empat cewek bersaudara di Amerika di masa perang.

#38. The High Mountains of Portugal Yann Martel
Tentang waktu dan pengobatan kematian orang terkasih.

#39. The GatesJohn Connolly
Tentang serbuan makhluk neraka ke dunia, dalam konsumsi komedi.

#40. StardustNeil Gaiman
Tentang bintang jatuh di dunia ajaib berbatasan tipis dengan realita.

#41. Love Story Erich Segal
Tentang cinta sejati yang luluh lantak.

#42. BleachersJohn Grisman
Tentang pemakaman pelatih legendaris, memicu reuni hitam.

#43. Corona Ujian TuhanQuraish Shihab
Tentang sanggahan-sanggahan, penjelasan masuk akal, sampai hal-hal yang patut dilakukan di masa pandemi.

#44. Reportase-Reportase TerbaikErnest Hemingway
Tentang laporan Koran di Prancis tahun 1910-1920-an oleh Penulis fenomenal Amerika.

#45. Pena Sudah Diangkat, Kertas Sudah MengeringHasan Ashari
Tentang kematian dan sejenisnya dalam larik sajak.

#46. The Fault is Our StarsJohn Green
Romantika duka dua remaja, impian ke Amsterdam menyata, kematian juga.

#47. The Chronicles of Narnia: Prince CaspianC.S. Lewis
Tentang perebutan takhta, paman versus keponakan di dunia fantasi. Dibantu empat warga London.

#48. Suatu Pengantar: Anthony Giddens B. Herry – Priyono
Tentang sosialisme yang didaur ulang di sudut pandang Giddens.

#49. Persepolis Marjane Satrapi
Tentang kehidupan Timur Tengah, Iran v Irak tahun 1960-an dalam panel komik.

#50. Cala IbiNukila Amal
Tentang naga yang melintas di cakrawala katulistiwa.

#51. Pintu Masuk ke Dunia FilsafatDr. Harry Hamersma
Tentang filsafat dasarnya saja, di pintunya aku memandang.

#52. The Devil Wears PradaLauren Weisberger
Tentang tata kelola majalah fashion, begitu kejam.

#53. The Mozart’s JourneyEduard Morike
Tentang perjalanan sang maestro, mampir ke keluarga bangsawan.

#54. Bulan Kertas Arafat Nur
Tentang cinta remaja yang aneh, menemui titik temu duka.

#55. Bukan Pasar MalamPramoedya Ananta Toer
Tentang perjalanan mati, perjalanan religi untuk berdamai dengan orang-orang tersayang.

#56. Creative WritingA.S. Laksana
Tentang tips-tips menulis efektif, dan menulislah dengan jelek.

#57. Kisah-kisah Perdagangan Paling GemilangBen Sohib
Tentang perdaganagn gagal disertai kekonyolan setelahnya.

#58. No ManyoonEndang Rukmana
Tentang parody New Moon, tahan muntah.

#59. The Stranger Albert Camus
Tentang pembunuhan tak sengaja, hukuman mati, dan ketenangan jiwa menghadapi kenyataan.

#60. Martin Luther KingAnom Whani Wicaksana
Tentang perjalanan King menyamakan hak sipil.

#61. Sepotong Senja Untuk PacarkuSeno Gumira Ajidarma
Tentang surat Sukab ke Alina yang ganjil.

#62. Cocktail for ThreeMadelaie Wickham (Sophie Kinsella)
Tentang tiga wanita paruh baya galau menemukan cinta dan bualan.

#63. Aisya Putri: Operasi Milenia Asma Nadia
Tentang remaja Islami dalam aktivitas seharinya.

#64. The Partner John Grisman
Tentang uang besar dibawa kabur, tertangkap, dan polemik setelahnya.

#65. Menggapai Hati yang Rindu Violet Winspear
Tentang cinta mellow meratap.

#66. Cinta RahasiaAnne Mather
Tentang palakor yang diromantisisasi.

#67. Ricuhnya Hidup Bersama AdamAnne Mather
Tentang cinta kepada saudara sendiri yang membuncah.

#68. Suami-suami Hollywood 1Jackie Collins
Tentang glamour Hollywood, sisi gelap hubungan manusia.

#69. 21 Qualities of a LeaderJohn C. Maxwell
Tentang dasar-dasar kualitas pemimpin.

#70. Perempuan itu Bersama AnickTitie Said
Tentang narkorba dan genk jahat di Jakarta Utara.

#71. The Da Peci CodeBen Sohib
Tentang cinta beda agama dalam peci miring.

#72. Dosa TurunanAbdullah Harahap
Tentang drakulaku adalah istriku.

#73. Suami-suami Hollywood 2Jackie Collins
Tentang kesempatan kedua di gemerlang Hollywood.

#74. The Storied Life of A.J. FikryGabrielle Zevin
Tentang pecinta buku di pulau terpencil menemukan cinta.

#75. Perry Mason: Kasus Dendam MembaraErle Stanley Gardner
Tentang pembunuhan dini hari, diungkap jitu oleh Pengacara.

#76,5. Cinta Sepanjang AmazonMira W
Tentang mahasiswi kere menikah dengan mahasiswa kaya, remuk.

#76,5. Nada tanpa KataMira W.
Tentang fotografer handal yang tewas di Afrika, cinta ibu sepanjang masa, dan sebaliknya.

#77. Always Laila, Hanya Cinta yang BisaAndi Eriawan
Tentang ketakjuban laki-laki kepada teman sekolahnya, dan jodoh yang remuk redam.

#78. Teori KesusastraanRene Wellek & Austin Warren
Tentang dunia sastra, luas merentang dalam teori.

#79. Bagaimana Aku Menjadi PenulisGabriel Garcia Marquez
Tentang memoar legenda di proses karya.

#80. Bahasa dan Kegilaan – Umberto Eco
Tentang linguistik dari Adam hingga Marcopolo.

#81. Rahasia Selma Linda Christanty
Tentang puluhan kura-kura di taman dan rahasia yang tergantung di sebelah tembok.

#82. Membina Bahasa Indonesia Baku (seri 1)JS Badudu
Tentang Bahasa kita yang baku.

#83. SummerAlbert Camus
Tentang esai di Aljazair, peran sertanya dalam masyarakat.

#84. Buku dan PengarangJS Badudu
Tentang 14 sastra lama kita.

#85. Pengarang Tidak Mati Maman S. Mahayana
Tentang warisan penulis untuk kini dan masa yang akan datang.

#86. Buku Pintar Ejaan Bahasa IndonesiaTeguh Trianton & Septi Yulisetiani
Tentang pelajaran Bahasa Indonesia.

#87. Tentang Menulis Bernard Batubara
Tentang menulis, pengalaman menulis.

#88. Born to WinPromod Batra, MBA
Tentang sikap positif mengahadapi hidup.

#89. Burung KayuNiduparas Erlang
Tentang kebudayaan Mentawai digempur modernitas dari luar.

#90. Surat-Surat Lenin Endrou Maywin Dwi-Asmara
Tentang surat-surat pasien dan efeknya.

#91. La MuliNunuk Y. Kusmiana
Tentang dinding toilet, politik lokal dan lautan Papua.

#92. Rab(b)i Kedung Darma Romansha
Tentang dunia pelacuran, nama baik Pak Haji, dan selubung hubung sahabat.

#93. Kawi Matin di Negeri AnjingArafat Nur
Tentang nasib apes warga Negara Indonesia.

#94. Leak Tegal SirahI Gusti Putu Bawa Samar Gantang
Tentang dendam terbalas kepada eksekutor 1965/1966.

#95. Orang-orang OetimuFelix K. Nesi
Tentang final Piala Dunia 1998, dan sejarah panjang sejak zaman Belanda.

#96. Pandemik!Slavoj Zizek
Tentang Corona, efek, penanganan, harapan.

#97. Heart of Darkness Joseph Conrad
Tentang perjalanan kapan di sungai Afrika yang liar.

#98. Makan Siang OktaNurul Hanafi
Tentang cinta remaja yang tumbuh saat makan siang.

#99. Kiat Bermain Saham Surono Subekti
Tentang saham di era pasca Reformasi.

#100. Apa yang Harus Saya Lakukan?Drs. R.I. Suhartin
Tentang curhat dan tanggapan anak muda zaman dulu.

#101. …Oh FilmMisbach Yusa Biran
Tentang orang-orang Seni di Senen.

#102. Ketua Klub Gosip dan Anggota Kongsi KematianYetti A. KA
Tentang dana duka yang dikumpulkan beserta gosip tetangga.

#103. Cerita, Bualan, KebenaranMahfud Ikhwan
Tentang hari-hari mencipta karya, isnpirasi tak bertepi.

#104. Koleksi Kasus Sherlock HolmesSir Arthur Conan Doyle
Tentang masa senja Sherlock Holmes.

#105. Bebas dari Militer Martin Shaw
Tentang dunia militer yang lunglai setelah Perang usai.

#106. Mimpi-Mimpi EinsteinAlan Lightman
Tentang dunia Einstein dalama kepala

#107. Teori Kepribadian Rollo MayIna Sastrowardoyo
Tentang eksistensi manusia dan tata kramanya.

#108. The Constant Gardener John le Carre
Tentang penyalahgunaan obat, pembunuhan aktivis, cinta terlarang.

#109. Obsesi Perempuan Berkumis Budi Darma dkk.
Tentang Budi Darma, dkk.

#110. The Bell Jar Sylvia Plath
Tentang obsesi dan khayal meliar sepasang kasih.

#111. The King of TortsJohn Grisman
Tentang tuntutan ganti rugi massal, uang melimpah dilibatkan.

#112. SheilaTorey Hayden
Tentang anak istimewa di sekolah luar biasa.

#113. Ya atau TidakSpencer Johnson, M.D
Tentang petualangan ke bukit di akhir pekan.

#114. Furin Kazan Yasushi Inoue
Tentang klan-klan yang berseteru di Jepang.

#115. NemesisAgatha Christie
Tentang Ratu Keadilan dalam pembunuhan tak terungkap.

#116. ContactCarl Sagan
Tentang kontak alien ke Bumi, kegegeran setelahnya.

#117. Diskursus & Metode Rene Descartes
Tentang akar pikiran manusia.

#118. ReplaySeplia
Tentang band mahasiswa yang kocak.

#119. Jenazah LazarusDorothy Scarborouh, Ph. D.
Tentang bangkit dari kematian, lunglai.

#120. Dasar-dasar Filsafat Moral KantHB Acton
Tentang moral kesetaraan hak makhluk Tuhan.

#121. The Chronicles of Narnia: The Voyage of Dawn Treader C.S. Lewis
Tentang pelayaran ke Timur.

#122. Mind and BodyWilliam Atkinson
Tentang keterkaitan pikiran dan tubuh.

#123. PenyuluhanE.A Munro, R.J. Manthel, J.J. Small
Tentang konseling, penyuluh dan klien.

#124. Merayakan SepakbolaFajar Junaedi
Tentang metodologi sepakbola kita.

#125. Pengakuan Orang IklanDavid Ogilvy
Tentang iklan yang tumbuh dan pupuk yang pas.

#126. Metodologi Penelitian SastraSuwardi Indraswara
Tentang sastra, seluk beluknya.

#127. Perry Mason: Kasus Gadis KembarErle Stanley Gardner
Tentang pagi aneh bersama roti panggang.

#128. Dunia Mistik dalam IslamAnnemarie Schimmel
Tentang sufi dan segala kata-katanya dalam diam.

#129. Kumpulan Puisi: Senja dalam MasaAndri VB
Tentang senja yang digores sajak.

Sepertinya tahun 2020 adalah tahun paling banyak membaca buku, dan mengulasnya. Juga tahun paling banyak belanja buku. Sampai tanggal 18 ini saya belum menyelesaikan baca satu buku pun, sebab permulaan adalah buku berat 400 halaman. Tak muluk-muluk tahun ini, ngalir saja. Dan memang selalu begitu sih…

Kututup ringkas baca ini dengan nasihat seorang Sufi, Hujwiri yang menyimpulkan sikap awal sufi terhadap ilmu dan teologi dalam pengamatan tajam: “Pengetahuan itu luas, tetapi hidup singkat: oleh karenaya tidaklah wajib mempelajari semua ilmu… cukup yang ada hubungannya dengan hukum agama.” Bukankah Tuhan mengutuk ilmu yang tak ada gunanya?

Karawang, 170121 – Steve Goodman – The Dutchman

Dantes: Fitnah, Dengki, Dendam, Dermawan, Pahlawan

Conte Cristo by Alexandre Dumas

Villefort: “Aku seorang penganut kerajaan dan namaku Villefort. Biarkan getah-getah revolusi itu mongering dan mati bersama batang pohonnya yang telah menua, Nyonya, dan lebih baik kita memperhatikan tunas-tunas muda yang tumbuh terpisah, tetapi tidak mempunyai daya bahkan keinginan untuk melepaskan diri sepenuhnya dari induk.”

Mari kita buktikan bahwa kita cukup berharga untuk disayangi orang. Book of the year untuk karya fiksi. Keinginan membacanya sudah sangat lama, baru kesampaian tahun lalu setelah melihat pos jualan. Keinginan baca Sastra Dunia ini setara dengan Anna Karenina yang tebal, dua jilid yang sampai sekarang belum kesampaian. Sastra klasik memang jaminan kualitas, sebab waktu sudah menyaringnya.

Kisahnya tentang Edmond Dantes, pemuda 19 tahun yang menjadi awak kapal Le Pharon yang dimiliki oleh Tuan Morrel. Memiliki kekasih cantik pujaan hati, rencananya setelah mendarat ia akan mendapatkan promosi jabatan kapten, dan menikahi Mercedes. Rencana indah pria baik hati dan tak sombong ini begitu sempurna, sehingga semesta pasti tersenyum pada nasibnya. “Aku tidak angkuh, tetapi aku berbahagia, dan kukira kebahagiaan dapat membuat seseorang menjadi lebih buta daripada angkuh.” Namun bersamaan dengan niat baik, ada iri hati yang menyertai. Takdirnya berbalik 180 derajat berkat orang-orang jahat yang ada di sekelilingnya, dan situasi politik yang memanas kala itu, awal abad 19 Prancis dalam gejolak kekalahan Napoleon Bonaparte. Peribahasa terkenal dalam politik bahwa orang tidak boleh mempercayai kesan pertama. Ia menerapkan peribahasa itu dan mematikan kesan baik yang baru diperolehnya.

Segala sesuatu itu nisbi. Dantes akan diangkat jadi kapten, ya. Akan menikah dengan gadis cantik, ya… lalu segala-galanya ambyar.

Nasib orang polos, benar-benar dimainkan tangan-tangan kotor. Pertama Danglars yang iri sama rencana promosi jabatannya, seorang akuntan korupsi ini lalu menjerumuskannya dalam isu jahat, yang membuat sang pemilik perkapalan ragu. Permintaan seseorang yang berada di ambang kematian selalu bersifat suci, tetapi bagi seorang pelaut permintaan atasannya merupakan perintah yang harus dilaksanakan. “Kalau begitu berangkatlah anak muda, tugas lebih penting dari kami. Penuhi ke mana saja tugas Raja memanggilmu.” Kata Marquis.

Kedua Fernand yang mencinta Mercedes, keinginan merebutnya dari Dantes dengan mengagalkan perkawinannya, mencipta situasi hitam. Dan juga Caderousse yang mengatur siasat jahat. Pandangan hidupku hanya terbatas sampai kepada perasaan-perasaan ini: aku menyayangi Ayah, aku menghargai Tuan Morrel, dan aku mencintai Mercedes…

Ketiga Villefort, seorang wakil jaksa penuntut umum jua politikus yang menjadikan Dantes kambing hitam. Menfitnahnya, menuduhnya menjadi kaki tangan Napoleon dengan alibi pelayaran mampir ke Pulau Elba menemui Sang Kaisar, jadi posisi Dantes langsung berat. Dituduh menghianati Negara, menjadi tahanan politik di Pulau If yang terpencil. Dantes yang tak tahu apa-apa, benar-benar tak belum paham situasi. “Hidupmu, anak muda, masih terlalu pendek untuk dapat mengandung sesuatu yang sangat berarti.”

Di penjara dia hanya dikenal dengan nomor 34, selama beberapa hari ia masih linglung dan tak paham situasi. Kita seandainya di posisi yang sama paling juga blank. Sebagai pembaca kita bisa melihat dari atas, rasa kasihan dan geram menyelimuti kita. Jahat banget. Ia baru sadar setelah berjuang, bertahan, dan akhirnya lewat kerja keras berhasil menghubungkan ruang penjara sebelah dan berkenalan dengan penghuninya yang tua dan cerdas. Padri Faria: “Kalau ingin mengetahui siapa pelakunya, temukan dahulu siapa yang beruntung dari kejahatan itu… Siapa yang beruntung dengan hilangmu dari masyarakat.”

Dia belajar sama penghuni lama yang luar biasa hebat. Untuk melakukan hal itu, diperlukan lebih banyak keberanian daripada kemurahan hati semata karena menolong ayah seorang Bonapartis yang berbahaya seperti Dantes, sekalipun di ranjang kematian, ketika itu dianggap sebagai suatu kejahatan. Belajar kehidupan, setelah menguras habis daya kemanusiaan, barulah ia berpaling kepada Tuhan. Untuk orang yang berada dalam kesenangan, doa hanyalah merupakan rangkaian kata tanpa makna, sampai pada suatu saat kesedihan dan kepedihan datang menerangkan makna kata-kata agung yang ditunjukkan kepada Tuhan.

Aku ini Padri Faria, aku berada di penjara If sejak tahun 1811, tapi sebelumnya aku dipenjara di Benteng Fenestrella selama tiga tahun. Sebab dipenjara tahun 1807 melontarkan gagasan yang ternyata dicoba oleh Napoleon. Seperti kata Machiavelli, aku cenderung memandang kekaisaran sebagai suatu yang agung dan berwibawa.

Keakraban dan kepercayaan itu tumbuh dalam rasa senasib dan sepenanggungan. Selama itu, Sang Padri menulis buku penelitian berjudul ‘Uraian tentang Kemungkinan Sebuah Kerajaan Tunggal di Italia’. Orang ini begitu cerdas, begitu terampil, begitu mendalam, bahkan sanggup menembus kegelapan rahasia nasib buruknya sendiri. Dantes sendiri tak pernah memahaminya. Selama berdiam diri seperti bersemedi yang seakan-akan hanya berlangsung beberapa detik itu, ia telah membuat keputusan yang mengerikan dan sumpah yang menakutkan.

Salah satu kunci kesuksesan kisah ini ada di kalimat ini, “Sekarang, engkau telah mengetahui rahasia ini sebanyak pengetahuanku sendiri. Kalau kita berhasil melarikan diri, setengah dari kekayaan itu adalah milikmu; apabila aku mati di sini dan engkau berhasil lari, semuanya menjadi milikmu… engkau adalah anakku, engkaulah anakku yang lahir dari pengasinganku… ternyata Tuhan mengirimkan engkau kepadaku sebagai satu-satunya penghibur dalam menjalani kehidupan yang hancur ini…” kata Faria. Dan seolah memberi cahaya ke masa depan. Aku mesti menghukum musuh-musuhku dulu sebelum mati, dan aku pun perlu membalas budi sahabat-sahabatku…

Kematian adalah satu-satunya hal penting dalam hidup kita ini yang patut menjadi bahan renungan. Kematian Faria justru memberi opsi kemungkinan kabur, dengan sangat elegan dan berkelas kematiannya mencipta Dantes lulus dari penjara, caranya mungkin sudah kalian lihat dalam salah satu serial Prison Break, dan betapa leganya… “Karena dengan itu aku telah menanamkan dalam hatiku sebuah perasaan yang tidak pernah ada sebelumnya: pembalasan!”

Ia menekan kepalanya dengan kedua belah tangan, seakan-akan ingin mencegah jangan sampai pikiran warasnya menghilang dari kepalanya… kemudian mengucap doa syukur yang hanya akan dipahami oleh Tuhan sendiri. “Ya, aku suka sekali mempelajari watak-watak setiap manusia dan berpendapat bahwa akan lebih mudah mempelajari dahulu watak manusia secara umum lalu menjurus kepada watak perorangan dibanding dengan sebaliknya.”

Empat belas tahun sudah sejak Dantes ditangkap, ia baru berusia Sembilan belas tahun, sekarang tiga puluh tiga tahun umurnya… sekarang tahun 1829… Dantes menjelma sosok baru, dengan harta melimpah, dan rencana-rencana. Segalanya lalu disusun dengan matang dan menakjubkan. Monte Cristo adalah nama sebuah pulau kecil yang sering aku dengan dalam percakapan-percakapan awak kapal. Sebuah pulau pasir di tengah-tengah kepulauan Mediterania. Maka ia menjadi Comte Monte Cristo yang kembali ke Paris dengan runutan dendam. Sumpah vendetta yang berarti sumpah membalas dendam. Kebencian adalah buta, amarah membuat kita dungu, dan barang siapa melampiaskan nafsu balas dendamnya, akan menghadapi bahaya menelan pil yang lebih pahit.

Empat belas tahun, tentu banyak perubahan. “Terima kasih ya Tuhan, setidak-tidaknya Engkau tidak memukul yang lain selain aku.” Kata Morrel, mantan bosnya kini terlilit urtang dan masalah. Ia bantu dengan tanpa menyebut nama lamanya, Dantes sudah dianggap mati oleh orang-orang terdekatnya. Ia juga menjelma saudagar, Orang-orang Timur hanya menghargai dua perkara dalam dunia ini, keindahan kuda dan kecantikan wanita. “Karena hatiku penuh dengan racun kebencian, sekarang aku memerlukan penawarnya.

Prinsip hidupnya: Aku hanya memiliki tiga macam lawan, yang pertama dan kedua adalah jarak dan waktu. Tetapi dengan kegigihan dan ketekunan, aku dapat mengatasi keduanya. Yang ketiga adalah yang paling mengerikan, yaitu bahwa aku tidak kekal. Hanya itu yang bisa menghentikanku sebelum mencapai tujuan. “Aku menjaga dan mempertahankan kehormatanku terhadap manusia mana pun juga, tetapi melepaskannya di hadapan Tuhan yang telah menjadikanku dari tiada menjadi seperti sekarang.”

Rekan kerjanya yang menjerumuskan, hidup lebih baik, tapi tetap materi menjadi tujuan. “Aku pernah akan menjadi gila, dan Tuan tentu mengenal dalil ‘non bis in idem’ dalam ilmu hukum yang berarti sebuah perkara tidak boleh diadili dua kali, jadi aku tidak akan menjadi gila dua kali.” Maka mutiara/permata menjadi daya tariknya sebagai umpan.

Termasuk nasib akhirnya yang dibuat sungguh aduhai. Seorang kapitalis yang risau sama dengan sebuah bintang berekor. Ia memberikan pertanda akan datangnya suatu malapetaka. “Seperti Tuan ketahui, seorang bankir tidak percaya sesuatu yang tidak tertulis.”

Yang paling kucintai setelah dirimu, Mercedes, adalah diriku sendiri. “Maafkan aku, Edmond, maafkan demi Mercedes yang masih mencintaimu!” Ya bagian kekasihnya yang menikah dengan orang lain, lalu anaknya yang mengajak duel dan sang mantan meminta maaf dan tolong itu benar-benar bagian paling sulit diterima akal sehat. Sedih sekali, sakit sekali. “Banyak orang yang bersedia menderita dan menelan air matanya dengan ringan hati dan mengharapkan Tuhan menghiburnya di surga nanti. Tetapi mereka yang berkemauan keras berjuang membalas pukulan takdir itu.”

Menurut hukum, surat wasiat akan sah bila dibaca di hadapan tujuh orang saksi, disetujui isinya oleh pemberi wasiat, lalu disegel oleh notaris di hadapan semua. Lalu diperkuat untuk kemudian hari tidak menggugat. “Janganlah kita terlalu memperturutkan kebiasaan yang selalu menghambat si lemah membangun masa depan yang kokoh.”

Apa yang dicari keluargaku dari perkawinan ini adalah kehormatan, yang kucari adalah kebahagiaan. Engkau tidak percaya kepada Tuhan, padahal yang Tuhan harapkan darimu hanyalah sebuah doa, sepatah dia, atau setitik air mata penyesalan agar engkau diampuni. Kata Albert, “Tuan mungkin tidak akan mengerti mengapa beberapa kalimat dalam sebuah surat kabar dapat mengantarkan seseorang kepada keputusasaan. Bacalah ini, Tuan. Tetapi harap setelah aku pergi.”

Kami tidak dapat membiarkannya lepas dari tangan kami. Sekarang, setelah tembakan dilepaskan, gemanya akan menggaung di seluruh Eropa. Orang-orang memang berwatak baik senantiasa siap untuk memberikan rasa simpatinya kalau kecelakaan yang menimpa musuhnya itu sudah melampaui batas kebencian. Aku tinggal terasing dari masyarakat di rumah pelindungku yang mulia, Aku hidup secara demikian karena kau menyenangi keheningan dan kesunyian yang dapat memberiku kesempatan berpikir dan mengenang masa lampau.

Ia mengarahkan mata ke langit-langit, lalu secara cepat menurunkannya kembali, seakan-akan ia merasa takut langit-langit akan terbelah lalu pandangannya akan beradu dengan Hakim yang Mahaadil. Seandainya engkau masih merasa bersahabat, seperti yang engkau katakana, tolonglah aku menemukan tangan yang menghantamkan pukulan ini. “Apabila seseorang bermaksud menikahkan anak perempuannya, aku rasa ia mempunyai hak untuk menyelidiki latar belakang keluarga calon menantunya, bahkan bukan hanya merupakan hak, melainkan kewajiban.”

Terbitan KPG untuk seri #SastraDunia banyak ditemukan typo, salah ketik. Untuk buku setebal 700 halaman, typonya ada puluhan. Seri sastra dengan kover polos, dengan warna biasa, judul lebih besar ketimbang penulisnya, dulu pas pertama muncul rangkaian KPG ini, sudah mematik hati untuk mengoleksi. Terutama tentu yang belum baca versi lain. Sudah punya belasan, dan sejauh ini buku ini yang terbaik.

Novel ini jelas memengaruhi banyak generasi berikutnya. Beberapa yang terbesit adalah, film The Shawsank Redemption yang menjadikan penghuni penjara Andy Dufresne berhasil kabur setelah perjuangan ekstra kerasnya membuahkan hasil. Ikonik sekali ekspresinya ketika ia menengadah di bawah guyuran hujan dalam keadaan bebas. Kedua, novel Kura-Kura Berjanggut, novel lokal tahun 2018 yang memenangkan Kusala Sastra Khatulistiwa ini ada bagian panjang, bagaimana sang raja Lamuri berjuang kabur dari penjara, belajar sama ahlinya yang terkurung lama dan gila. Ketiga, saya harus menyebut The Next Three Day, film balas dendam dengan alur harus keluar dari penjara dulu, berkelas jua.

Ada sebuah sajak yang cocok menggambarkan kehidupan yang hilang selama belasan tahun Dantes, yaitu Sajak Pindar:

Remaja adalah bunga

Berubah menjadi buah,

Cinta.

Bahagia ia yang memelihara,

Dan memetiknya ketika masanya tiba.”

Buku yang menguras air mata, sebab kehidupan indahnya direnggut oleh tangan-tangan kotor dan ia yang polos terlambat sadar. Untuk setiap kejahatan ada dua macam obat: waktu dan diam. ‘Oh Tuhan, lindungilah ingatanku.’

Kekayaan merupakan amanat suci dari Tuhan. Uang akan kita tinggal pula, gunakan dengan bijak. Tak memegang erat, tak pula menentengnya dengan angin. Untuk beberapa orang tertentu, bekerja merupakan obat yang mujarab untuk menghilangkan kesedihan. Apa pun kata orang-orang bijaksana, uang selalu merupakan hiburan yang utama. “Tabahkanlah hati dan berusaha tetap hidup, karena akan datang suatu hari di mana engkau akan merasa berbahagia dan menghargai hidup.”

Bertindaklah menurut kemauanmu, anakku, dan aku akan menyerahkan diri kepada keinginan Tuhan.”

Conte Cristo | by Alexandre Dumas | Judul asli Le Comte de Monte-Cristo | KPG 59 16 01235 | Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) | Cetakan pertama, Agustus 2016 | Sebelumnya pernah diterbitkan oleh PT. Dunia Pustaka Jaya | Cetakan pertama, 1980; cetakan kedua, 1992 | Penerjemah Ermas | Perancang sampul Deborah Amadis Mawa, Teguh Tri Erdyan | Penataletak Landi A. Handwiko | iv + 754 hlm.; 14 x 12 cm | ISBN 978-602-424-116-2 | Skor: 5/5

Karawang, 140121 – Ella Fitzgerald – Ev’ry Time We Say Goodbye

Thx to Fatihah Book Store, Yogya