Love Story a la Sinetron

Nada Tanpa Kata by Mira W.

Aku tidak bisa membenci sesuatu yang kuanggap tidak ada.” – Arista.

=== catatan ini mengandung spoiler ===

Novel yang sama saja, sangat sinetron. Dalam bundel ini sama biasanya. Ini mungkin sudah menjadi gaya beliau. Tak banyak hal menarik yang bisa diceritakan sebab kisahnya datar, cara berceritanya bahkan terlampau picisan.
Kisahnya tentang Alexander Agung yang autis, ia terlahir tanpa pernikahan. Namanya diambil dari Alexander the Great, kaisar dari Macedonia itu. Ibunya Arista Natalia wanita karier yang menjadi selingkuhan dokter Bram Nataladewa. Demi nama baik, ia tak mau menceraikan istrinya, maka Arista memutuskan mandiri, single parent menolak mengugurkan bayinya. Sang dokter dan keluarga tanpa anak lalu merantau, menjauh, bukan antar kota kayak jelata kebanyakan, mereka ke Australia.

Alex diasuh penuh kasih sayang, autis tak menghambat kehebatannya dalam fotografi. “Aku hanya memberinya cinta dan kepercayaan.” Konsultannya Bu Rena sudah bilang IQ-nya normal. Ia berkenalan dalam dunia maya dengan gadis dari Surabaya, Adelana yang lalu menjadi modelnya, lulus sekolah lanjut pendidikan ke Jakarta yang memudahkan bertemu langsung, yang malah menjerumuskan pada seks bebas.
Orang tua Adelana yang tahu pacar anaknya autis menolak, Adelana memutuskan pindah tinggal sama keluarga Arista. Setelah pernikahan dan lahirlah Dion, keluarga ini tampak normal. Kehidupan sehari-hari yang padu. Nenek, suami istri, anak bersama pengasuh. Namun karena dalam sinetron komunikasi menjadi buruk, ambisi kasih meluap-luap dalam ketidakjelasan, harta mejadi tujuan, konfliks yang disodorkan melebar pada perebutan hak asuh Dion.

Arista komplain ke menantunya yang sibuk kerja sebagai model, Alex yang karier fotografinya juga sedang tinggi. Cerai menjadi jalan buruk, Adelana tinggal sama Dion yang diasuh pembantu memakai nama beken Adelana Fortuna Dewi, Arista sendirian, sementara Alex melalangbuana ke Afrika. “Karibu”, selamat datang. Sebuah penyambutan dari suku Masai dalam bahasa Swahili. Cerita memang semakin terasa mengada-ada sebab Alex menemukan cinta lagi di sana. Foto yang bagus adalah foto yang mencapai misinya. Cinta membara di Kenya. “African Message”, ungkapan betapa sakitnya badan terguncang-guncang dalam perjalanan. Lalu ada kalimat annoying begini, ‘… beberapa foto yang tidak dipilih Alex tetapi dianggap bagus dikirim ke beberapa media.’ Hehe, media hanya sebagai rencana cadangan sebab yang beneran bagus diikutkan lomba. Tak perlu rasanya saya menyebutkan nantinya menang enggak-nya. Sudah dapat kalian prediksi.

Berkenalan dengan pemandu Jacob yang menyewakan tempat tinggal, dan gadis 18 tahun yang eksotis bernama Diani. Dengan mudah ditebak, ada cinta di antara mereka. Dan ada benih yang dikandung, ibu dan mantan istrinya terasa jauh. Ini hanya dalam hitungan bulan ya, betapa mudahnya sosok ini melupakan sementara janji suci.
Sebagai dramatisasi, Alex meninggal ketika akan kembali ke Indonesia. Di sebuah mal dalam perjalanan mau ke bandara ada serbuan teroris, peluru menerjang Alex yang juga dalam dramatisasi menyelamatkan bayi. Ia sempat seminggu tanpa identitas di kamar mayat, Jacob yang menemukannya, lalu mengabari ibunya, dan dengan tangis tumpah, abunya dibawa pulang. Firasat seorang ibu tidak pernah salah.

Sementara itu dalam perkembangan kariernya, setelah memutuskan silaturahmi dengan mertua justru Adelana dikisahkan menderita kanker yang tentu saja menghambat kariernya sebagai model. Ia rujuk sama mertuanya, Dion otomatis dibawa serta. Pengobatan coba dilakukan, orangtuanya datang pula, memaafkan masa lalu. Menguatkan anaknya. Adegan yang disaji benar-benar sinetronis. Kzl sama mertua, yang terbayang kayak closed up wajah dengan mata melotot, gaya glamour melempar tas seharga 25 juta ke atas meja, sampai adegan nangis kembali meminta maaf. Persis ‘kan?!

Sementara lagi, sang kekasih gelap Dokter Bram, tiba-tiba datang. Mereka cerai, mantan istrinya menuntut harta gono gini, membuatnya bangkrut. Kunjungannya sepintas memang mengajak damai, dan sempat ditolak. Tapi endingnya, semua memaafkan kesalahan yang pernah ada. Ini agak merusak, sebab yang baik diberi akhir baik, yang jahat menderita dan terpuruk. Hidup tak seperti itu.

Dion diambil keluarga Adelana, Arista kembali sendiri ditinggal anak dan menantunya. Sebuah pemikiran ke pengadilan untuk menggugat anak-ibu agar sang cucu tinggal bersama neneknya? Ide itu saja sudah terdengar konyol sekali. Pada suatu hari, datanglah Jacob membawa anak kecil yang imut, memberitahu bahwa itu anak Alex dari kunjungannya ke Afrika diberi nama Chui yang berarti leopard. Sebagai permintaan terakhir, abu Alex diminta dilarung ke Samudra Hindia sebab ibunya mati bunuh diri ke lautan yang sama, agar mereka bersatu. Begitulah kisah ini ditutup. Padat dan sangat biasa dalam bertutur.

Banyak sekali kejanggalan, banyak sekali keluhan kalau mau dirunut. Cara bercerita buruk, serba kilat gegas. Detail keasyikan bercengkrama dengan kata otomatis hilang. Karakternya juga serba pasti, yang jahat konsisten jahat, yang baik tetap baik, tak ada yang abu-abu. Sikap yang diperlihatkan tiap karakter juga buruk, mencerminkan apa yang jadi konsumsi pencipta menjadi karya. Kehidupan manusia bukan rumus matematika, yang tidak bisa dirubah tidak bisa ditawar. Otak manusia adalah benda aneh yang sulit untuk diduga. Di sini segalanya malah tampak mudah diduga?! Oh why?!

Hal semacam ini terbentuk karena kebiasan, lingkungan, dan hal-hal yang menyelingkupi sang Penulis. Seorang jelata bisa saja menulis ngawang-ngawang tentang kehidupan jetset, kehidupan glamour bak visual-visual sinetron, tapi tak akan mendalam. Apa yang ditampilkan dalam Nada jelas mencerminkan kehidupan menengah atas. Tak mungkin rasanya jelata, ngambek kaburnya ke Auckland, tamasya mencari objek foto ke Kalimanjaro, atau kasus perceraian menyewa pengacara memerebutkan harta. Semua terjadi persis film ibu-ibu di prime time tv kita. Lihatlah, pengaruh karya sangat kental, saling terkait, maka wajar penikmat (buku ataupun film) menuntut kualitas. Mutu itu penting, sebab akan memengaruhi khalayak. Kalimat, “Laki-laki memang gitu, makanya kamu harus pandai-pandai memilih teman.” (h. 340) seolah memang sudah kalimat masyarakat kebanyakan. Padahal kalau aktualnya, tentu saja tak bisa generalisasi.

Dialog ini menampar logika jelata, “Uang yang mama transfer ke Dion sampai?” / “Ada.” / “Bilang kalau kurang ya.” / “Cukup. Dion kan belum sekolah. Baju dan mainannya masih banyak. Saya tidak mau memanjakannya.” (h. 414)

Sebagai penutup saya memberi judul review ini sama: Love Story a la Sinetron sebab ya memang kisah cinta sinetron macam ini yang ditawarkan dan sungguh kurang menarik, tapi skornya turun 0.5. dalam Nada tanpa Kata, bahkan rasa sinetronnya lebih tebal. Aku benci sinetron! Karena hakikat cinta adalah selalu berada bersama dengan orang yang dicintai. Untuk selama-lamanya.
Mira W. adalah nama besar di kancah literasi Nasional. Dua ceritanya yang kubaca ini cukup mengecewakan, saya udah beli lima buku. Pembuka yang buruk. Ini adalah bunbel menyambut 40 Tahun Menulis. Total karyanya sampai 2015, ada 82 buah, terdiri dari 75 novel dan 7 kumpulan novelet dan kumpulan cerpen. Sebagian besar sudah difilmkan. Sejak tahun 1975, tulisan pertama Mira W. cerpen berjudul ‘Benteng Kasih’ yang dimuat di majalah Femina, karyanya bertebaran di media. Well, mungkin ini selera saja. Kisah cinta semacam ini kurang menarik minatku, atau mungkin di buku kedua nanti bisa lebih memukau?

Dunia terasing yang membuatnya nyaman, dunia yang sepi tanpa gangguan.

Nada tanpa Kata | by Mira W. | (satu bundle sama Cinta Sepanjang Amazon) | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | 6 15 1 72 012 | Copyright 2015 (edisi Mira W. – 40 Tahun Menulis) | ISBN 978-602-03-1977-3 | 544 hlm.; 20 cm | Skor: 2.5/5

Dia adalah segala-galanya bagiku. Aku tidak dapat membayangkan hidup tanpa kehadirannya. Tetapi ketika suatu hari dia meninggalkanku. Aku terpaksa tersu melangkah walau dalam hampa.

To my son: I hope sweet dream find their way into your sleep every night. But I give you this book to read for some night when they don’t. you are the best part of me. And to you I dedicated all my love, hopes and dreams. Rendy Marsono.

Karawang, 281220 – Aretha Franklin – I Say a Little Prayer

Thx to Agus Buki, Bandung

Buku ini terdiri dari dua cerita, saya hitung satu dalam rekap tahunan sebab intinya satu buku.

Satu komentar di “Love Story a la Sinetron

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s