Rajutan Telaah Sepakbola

Merayakan Sepakbola by Fajar Junaedi

Salam satu nyali, wani.”

Sulit memang menulis tentang sepakbola yang memikat. Beberapa buku analisis yang kubaca rerata biasa, kalau tak mau kubilang mengecewakan. Sebab pembaca sekaligus fans sudah tahu banyak seluk beluk dunia bola, mencerita hal-hal yang sudah diketahui khalayak untuk memikat memang sulit, kaliber Cak Mahfud saja bukunya sekadar bagus. Maka Merayakan Sepakbola sama saja, tak sampai meluap, melimpah dalam pujian. Apa yang disajikan malah terkesan membosankan, sebuah penelitian perilaku sosial yang umum dan tak banyak yang mengejutkan. Bagaimana sebuah Koran didistrubusikan sampai ke tangan pembaca, gambaran besarnya kita tahu. Media meliput kerusuhan suporter, bagian-bagian utama yang terlihat juga sudah diketahui, kebobrokan PSSI, menulisnya bisa sampai berjilid-jilid, dari yang professional sampai makian akar rumput juga sudah ada. Lantas apa yang bisa diharapkan dari tulisan tentang bola sepak ini? Well, masih kucari…

Berisi delapan tulisan, yang dari judulnya saja sudah mencerita isinya. Nyaris tak ada kejutan.

#1. Mencari Berita Sepakbola: Pola Distribusi Koran yang Berisi Berita Sepakbola di Tingkat Pengecer dan Perilaku Pembacanya di Kota Sragen

Pembukanya adalah naiknya BBM, hal umum yang sudah diujar dari zaman Soekarno hingga reformasi. Sebab kebutuhan-kebutuhan sekunder salah satunya menikmati Koran menurun, juga bukan barang baru. Tahun 2015, Koran dan majalah menurun, kalau dibilang tahun 2020 barulah drastis perubahannya. Di sebuah kios Sragen, kota kecil strategis antara Solo dan Ngawi geliat tulisan ini disampaikan. Kios milik Winarto sejak 2000 dan beberapa sekitarnya diteliti dari pola distribusi, pelanggan siswa, pegawai, atau umum sampai jenis-jenis minat Koran lokal/nasional.

Konsumen media di Negara-negara Barat lebih memilih untuk memanfaatkan internet dalam mencari berita daripada media cetak (Eisy, 2009: 19).

#2. Konfliks Suporter Sepakbola dalam Wacana Media: Wacana Koran-koran Lokal Yogyakarta dalam Kerusuhan Suporter PSIM Yogyakarta Tanggal 13 Maret 2015

Kerusuhan suporter di Yogyakarta 13 Maret 2015 diambil dari berbagai sudut pandang surat dan masyarakat. PSIM melawat ke PPSM Magelang, dalam perjalanan supporter dihadang warga. Datang suruh, pulang gantian dirusuhi sampai mengambil jalan memutar lewat Wates. Koran-koran menurunkan berita keesokan harinya, dan aksi kerusuhan supporter di Indonesia jelas sudah jadi barang umum yang berulang kali terjadi.

Puncak perhatian media massa di Inggris terjadi tahun 1966 ketika media massa di Inggris mulai menaruh perhatian pada geng anak muda hooligan baik di dalam maupun di luar stadion (William, Dunning dan Murphy, 1986: 365).

#3. Amuk Suporter PSIS dalam Narasi Media

Yang ini agak lucu atau bisa dibilang tragis, supporter PSIS Semarang terjebak dalam kemarahan warga, terkepung sampai ganti hari dan polisi membantu mengamankan hingga bisa pulang. “Malam Mencekam” salah satu judul artikel Koran menggambarkan betapa mengerikan keadaan.

Saya punya teman fans berat PSIS dan ketika kutanyakan langsung, ia dengan fasih bercerita. Ia tak terlibat langsung sebab hari itu ia kebetulan tak menonton ke Purwodadi, tapi dia mendengar kawan-kawannya bagaimana malam itu begitu mencekam. Terjebak dalam ketidakpastian di Godong.

“… mendapatkan pemberitaan Koran sebagai ‘iklan gratis’ untuk membuktikan keperkasaannya sekaligus untuk membuktikan bahwa mereka mampu mengalahkan supporter lawan.” (Williams, Dunning dan Murphy, 1986: 363)

#4. Rusuh Suporter Sepakbola vs Polisi dalam Bingkai Berita: Memersoalkan Akurasi dan Verifikasi Berita

Tahun 2014 sebagai salah stau tahun terburuk timnas kita, prestasi merosot (dah biasa), tapi kekalahan memalukan dari Filipina 4-0 sungguh mengejutkan semua pihak, separah inilah sepakbola kita. Kerusuhan sepanjang tahun 2014, dalam tabel, minimal ada 9 kerusuhan supporter. Terlihat pemberitaan kita sebagian simpang siur, siapa versus siapa, korban meninggal karena apa, sampai pengambilan sumber satu pihak yang rancu. Kerusuhan fans Persis Solo di Manahan mengakibat satu orang meninggal dunia. Duka sepakbola yang tak kunjung usia, bahkan sampai 2020 ini masih saja terjadi. Why?!

#5. Tentang Nama Fans Sepakbola: Maskulinitas dalam Penamaan Komunitas Fans Sepakbola di Indonesia

Penamaan fans jelas bukan barang baru, telaahnya umum pula. Semacam kata ‘nisti’ untuk tim-tim Italia atau ‘fan club’ untuk Inggris yang meluas ke mana-mana. Di dunia yang serba instan ini, penamaan fans mengglobal pula. Intinya, untuk laki-laki olahraga tak perlu menyebut laki-laki, untuk wanita harus disebutkan. Contoh pemain sepakbola terbaik dunia: Ronaldo, tak tertulis pemain terbaik laki-laki. Kalau terbaik wanita, harus ada embel-embelnya. Ini berlaku di banyak hal.

Olahraga merupakan situs kunci untuk identitas maskulinitas (Messner dalam Meale, 2010: 67)

#6. Berawal dari Bonek Liar: Kata “Liar” dalam Subkultur Suporter Sepakbola Indonesia

Ini mungkin yang paling menarik, bagaimana transformasi bonek menjadi kata serapan ‘liar’. Sejarahnya juga sebagian besar sudah tahu, ‘bondo nekat’ ditelusur dari pembentukan tanpa koordinasi sampai yang terdaftar resmi. Hooligan dipakai di Inggris sejak akhir abad 19 yang merujuk pada segerombolan anak muda yang berbuat rusuh. Ada kemungkinan kata itu serapan dari kata ‘Houlihan’, nama keluarga dari Irlandia yang tinggal di London pada masa tersebut yang suka berkelahi (Dunning, 2000: 142).

Bonek adalah ruang di mana suporter Persebaya menemukan penandaan yang mereka anggap sesuai kultur mereka. Kultur yang mereka pahami bersama adalah nekat untuk mendukung Persebaya (h. 90). Bonek lahir dari proses sosial interaksi para pendukung Persebaya yang melibatkan beragam simbol.

Kelompok fans sepakbola yang dikoordinasi dan dikembangkan secara struktural, di mana umumnya ada organisasi tunggal yang berhak menentukan korwil. Jadi ingat Laziale Indonesia yang ada kepengurusan dan organisasi resminya. Sampai gathering, futsal, kompetisi PS, nobar, sampai plesir ada. Namun ya, saya selalu ada di wilayah luar. Dulu pernah mendaftar, tapi malesi sebab tak banyak guna kartunya, makanya mending di luar, kalau ada acara ngumpul ikut saja, menjadi fans sepakbola tak harus terdaftar resmi. Saya justru terdaftar langsung di Italia, Laziale member Asia jauh, punya kartunya. Hahaha…

#7. Twitter adalah Senjata: Suporter Sepakbola Melawan PSSI

Di era digital, limpahan informasi benar-benar menghantam banyak sekat dan birokrasi rumit atas ke bawah. Sampai sekarang, sudah sepuluh tahun main twitter, dan memang yang paling asyik sebab batasan kalangan artis/selebriti dengan jelata terkadang runtuh. Dengan twitter, pesan diproses dan diproduksi tanpa harus melibatkan tim dan sekaligus dalam distribusinya tidak mengharuskan melibatkan mata rantai dengan banyak orang yang terlibat, namun tetap menjangkau audiens yang luas (h 102).

Donald Ellis menyatakan media yang menonjol pada suatu masa akan membentuk perilaku dan pikiran. Ketika media berubah maka akan berubah pula cara-cara orang berpikir, mengelola informasi dan berhubungan dengan orang lain Raharjo, 2011: 16).

#8. Merayakan Sepakbola, Merawat Sejarah, Memberitakan Kota Bersama BawahSkor

BawahSkor adalah sebuah blog, sama seperti blog review ini. Jadi pengelolaannya bisa lebih personal. Saya ingat pas ISL vs IPL muncul, ya ampun carut marut sepakbola kita. Balapan untuk menjadi yang lebih dulu inilah yang rentan menurunkan akurasi berita sekaligus verifikasi secara cover both side terabaikan.”PSIM warisane simbah”.

Menurut fans sepakbola, menjadi fans sepakbola memberikan tempat di mana kebahagiaan tidak tergapai menjadi hilang, tempat di mana mereka masih bisa berharap (Horby dalam Real, 1996: 53).

Merayakan Sepakbola: Fans, Identitas, dan Media Ediso 2 | by Fajar Junaedi | Copyright 2017 | Editor Sirajudin Hasbi | Desain sampul Fajar Ramadhan | Tata letak Ibnu T | xvi + 130 hlm.; 14 x 12 cm | ISBN 978-602-6751-67-6 | Penerbit Fandom bekerja sama dengan Buku Litera Yogyakarta | Cetakan kedua, 2020 | Skor: 3.5/5

Karawang, 291220 – Kate Bush – The Man with the Child in His Eyes

Thx to Kedai Boekoe, Bekasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s