Pedoman Dasar Kantian

Dasar-Dasar Filsafat Moral by HB Acton

Jika A sayang kepada B hanya agar B sayang padanya, A sebenarnya tidak sayang pada B tetapi mencari sebuah persetujuan. Cinta bukan demi dirinya sendiri.”

Orang bertindak secara rasional jika orang itu semata-mata mengikuti perintah yang dibuat untuknya. Buku yang padat sekali, tipis tapi saking padat ilmunya (pusingnya juga) sampai terengah-engah, buku bagus memang harus seperti ini, ditelusur sebab-akibat, detail teori moral yang walaupun njelimet dan perlu baca berulang di beberapa bagian, akan sangat berguna sebagai pegangan. Kant hidup, mengajar dan menulis dalam sebuah gerakan intelektual yang disebut sebagai Zaman Pencerahan, yang mungkin dimulai akhir abad ke-17 dengan munculnya tulisan-tulisan yang menyeru pada toleransi agama dan munculnya keraguan terhadap dogma-dogma Kristen.

Nama Kant memang sudah jadi legenda, seorang yang kaku dan ikuti kata hati. Kant adalah orang yang kaku (regoris) karena ia berpikir bahwa klaim atas kewajiban selalu bersifat mutlak berlawanan dengan kecenderungan-kecenderungan dan berlawanan dengan ideal-ideal yang melanggar Hukum Moral. Dia kaku juga di bagian aturan tidak ada pengecualian apa pun pada aturan-aturan moral dasar. Tak memberikan bobot yang seharusnya pada situasi, misalnya. *
Sebelum baca ini, saya hanya baca beberapa kutipan dari buku lain atau sosmed. Otak Pemikir Kant adalah Mr. Olympia dalam semesta para intelektual. Seorang yang berpendapat bahwa cuma kitalah (sejauh yang kita tahu) yang sungguh mampu menyetir kehidupan. Baik Tuhan maupun jiwa yang tak berwujud tak bisa kita ketahui secara ilmiah, tetapi keduanya merupakan kemungkinan-kemungkinan.

Wolff menerima pandangan Stoic bahwa kesempurnaan dapat dicapai dengan bertindak sesuai alam, dan kebahagiaan merupakan buah dari melakukan tindakan itu, tapi kebahagiaan itu sendiri bukan merupakan tujuan tindakan moral. Manusia tidak puas dengan hanya menjadi bahagia semata. Lebih dari itu, manusia ingin berhak untuk menjadi bahagia, dan menganggap diri mereka tunduk pada hukum moral yang melepas dari hasrat-hasrat, yang terlah ditunjukkan dalam pengalaman mereka.

Hukum moral dikatakan ‘murni’, yaitu tidak berisi gagasan-gagasan yang didasarkan pada pengalaman tentang bagaimana sesuatu itu ada, seperti ‘adalah tidak berhati-hati orang yang pelupa’ – banyak orang pelupa malahan bekerja dengan baik. Dalam hukum moral dikatakan a priori, yakni ia tidak diturunkan dari pengalaman kita tentang apa yang cenderung membuat kita bahagia atau tidak. Hukum moral bersifat a priori dan murni, diketahui terlepas dari pengalaman dan tak berisi konsep-konsep yang ditarik dari pengalaman.

Saya jadi ingat sebuah kutipan terkemuka yang kubaca di bukunya Freud, yang bilang bahwa tindak kita mungkin memang tampak tunduk, tapi pertahankan pikiran merdeka! Haha… hebat, gila, tapi ada benarnya. Motif tindakan ada tiga: motif memenuhi perintah a priori dari akal budi yang diungkapkan dalam hukum moral, memuaskan hasrat sebanyak mungkin sehingga mendapat kebahagiaan dalam diri sendiri, dan motif melengkapi hasrat atau kecenderungan irrasional. Jika tindakan itu digerakkan oleh cinta atau benci terhadap seseorang, berarti tindakan itu digerakkan oleh, dalam terminologi Kant, ‘kecenderungan’, dan tindakan ini tidak rasional sama sekali. Fontenelle berkata, saya menunduk di depan seseorang yang sedang berdiri, tetapi pikiran saya tidak menunduk.

Karena hukum logika tidak diketemukan memalui observasi dan eksperimen tetapi diakui menjadi kebenaran yang niscaya, maka menurut Kant, hukum moralitas niscaya sahih, sementara berbagai aturan untuk mencapai kebahagiaan dapat berbeda seandainya manusia dan dunia menjadi berbeda.

Apa yang hendak kita lakukan adalah membantu satu sama lain, dan mencoba untuk membantu bahkan musuh-musuh kita. Terlibat dalam tindakan-tindakan kedermawanan dan kemurahhatian. Kewajiban bermurah hati, menurut Kant bukan masalah perasaan, tapi dilakukan di bawah bimbingan kehendak rasional. Kecenderungan, entah baik entah buruk, itu buta dan memperbudak, dan ketika moralitas dibicarakan, akal budi tidak harus berperan sebagai penjaga kecenderungan semata. Segala sesuatu yang dilakukan manusia pada dasarnya tunduk pada penjelasan ilmiah dalam hubungannya dengan sebab-sebab ilmiah. Demikianlah manusia tampak di hadapan seorang pengamat.

Nilai suatu tindakan tidak berasal dari akibat yang ditimbulkannya, tetapi dari apa yang dinamakan Kant, ‘maksim’ yaitu semacam tindakan yang dikehendaki dan diniatkan oleh pelaku. Tindakan yang diniatkan baik secara moral adalah tindakan yang keluar ‘karena kewajiban’. Tindakan ini memiliki ‘nilai dalam’ (inner worth). Di antara orang-orang yang berperadaban nilai moral sebuah tindakan lebih bergantung pada nilai ketimbang pada apa yang menjadi hasil akhir ketika tindakan dengan niat baik atau tindakan dengan niat benar-benar dilakukan.

Penghormatan (reverence/respect/achtung), sebuah perasaan yang dimiliki oleh makhluk rasional yang sadar akan hukum moral. Imperaktif-imperaktif Hipotesis terdiri dari ‘keharusan’ (oughts) atau ‘kewajiban’ (obligations) atau ‘keniscayaan’ (necessitations) yang bukan merupakan ‘tugas’ (duties) dan moral. Dibagi dua: Peraturan Keahlian (Rules of skill), dan Nasihat Bijaksana (Counsels/ Recommendations of Prudence).

Setiap orang dapat mengadopsi maksim tentang menyentuh kepalanya paling tidak sekali dalam sehari tidak dapat disimpulkan bahwa ada kewajiban moral untuk melakukannya, bahwa maksim-maksim yang bertentangan dengan hukum moral tidak dapat diuniversalkan.

Jika tidak ada seorang pun yang sayang kepada siapa pun tanpa menuntut kasih sayang balik, tidak ada orang yang sayang sama sekali, karena kasih sayang adalah kemauan memberi tanpa menuntut balasan.

Maksim adalah prinsip subjektif tindakan. Maksim adalah kepunyaanku atau kepunyaannya, hukum berlaku untuk setiap orang. Maksim kepentingan-diri sebagaimana yang dinyatakan dan diuniversalkan, mengantar menuju kontradiksi-diri, atau akan menghasilkan sebuah bentuk masyarakat yang kurang lebih tidak dapat diterima oleh makhluk manusia yang berpikir dan merasa. Nilai moral sebuah tindakan tergantung pada niat dari orang yang melakukan tindakan itu, tindakan itu mempunyai nilai moral jika hanya tindakan itu dilakukan ‘karena kewajiban’.

Sebuah tindakan bisa sesuai dengan kewajiban jika dilakukan karena takut akan hukuman atau dengan maksud demi keuntungan orang lain, tetapi tindakan itu tidak mempunyai nilai moral. Hukum dikatakan murni jika ia tidak berisi konsep-konsep empiris. Adapun hukum moral yang mengharamkan tindakan membunuh dan mencuri berisi konsep empiris.

Akal budi memberi pedoman antara tipe-tipe hasrat dan tindakan, karena akal budi melarang hasrat dan tindakan yang tidak dikehendaki oleh setiap orang dan menghendaki dilakukannya kewajiban-kewajiban pemenuhan janji, kedermawanan, dan lain-lain. Orang-orang yang melakukan pekerjaan sukarela tidak bertindak sebagaimana orang-orang yang rasional yang mempunyai kepentingan-diri jika mereka tidak berlaku lebih dari sekadar menghubungkan keuntungan-keuntungan (mungkin, mungkin dalam kehormatan sosial atau kepuasan hasrat mereka akan kekuasaan).

Ketika ketidaktaatan hukum menimbulkan hukuman, maka bisa jadi orang yang menaati hukum itu dalam rangka menghindari hukuman. Dalam kasus ini motivasinya adalah keselamatan atau kenikmatannya sendiri, dan dengan demikian, tindakannya itu, meskipun legal, tidak baik secara moral sebab tindakan itu sesuai dengan kewajiban tetapi tidak dikerjakan demi kewajiban. Oleh karena itu, ketaatan terhadap hukum moral adalah ketaatan demi hukum, dan bukan karena ketakutan, yang dilakukan dengan bebas. Maka ditegaskan, hukum moral adalah ‘hukum kebebasan’, menaati Tuhan karena takut neraka atau demi mendapat surga bukanlah bertindak secara moral sama sekali. Orang yang bertindak karena kewajiban, berarti melakukan apa yang dianggapnya masuk akal. Apa yang masuk akal bukan semata-mata apa yang memajukan kepentingan orang itu sendiri tetapi apa yang akan membawa tindakannya ke dalam keharmonisan dengan tindakan-tindakan yang dilakukan orang lain sepanjang hidup tindakan-tindakan itu masuk akal juga.

Kant mengajukan argumentasi bahwa tidak ada bukti-bukti teoritis yang dapat diberikan untuk menunjukkan bahwa Tuhan itu ada, bahwa kehendak itu bebas dan bahwa jiwa itu abadi, tapi bahwa hal ini tidak dapat dibuktikan juga tidak mungkin. Pengetahuan empiris tentang Tuhan, kebebasan, dan imortalitas, karena semua itu melampaui segala sesuatu yang tampak oleh indera. Ini bersifat super-natural dan problematik.

Utilitarian berargumen bahwa prinsip tertinggi moralitas adalah peningkatan kebahagiaan semua manusia, dan bahwa ini merupakan sesuatu yang menjadi kepedulian bagi setiap orang kecuali idiot dan psikopat.

Hukum Moral itu a priori, maksudnya tidak hanya bahwa hukum itu ditulis oleh kita untuk kita semua – walaupun ini merupakan bagian apa yang Kant maksudkan – tetapi juga bahwa akan menjadi tidak rasional untuk tidak melakukan demikian.

Kesimpulan akhir bisa jadi ditarik lebih sederhana: Kita diberi nasihat untuk memperhatikan kesehatan kita, bersahaja dalam segala hal, ramah secara wajar, dll. Kewajiban dan kehendak baik merupakan dasar moralitas. Kehendak baik yang merupakan sesuatu yang esensial dalam tindakan moral bukan harapan semata tetapi ‘kumpulan dari semua sarana sejauh sarana tersebut berada dalam kekuasan kita’. Jika tindakan merupakan buah dari hasrat-hasrat, akal budi tidak akan memungkinkan kita untuk memutuskan tindakan-tindakan yang harus dilakukan.

Beruntung saya mendapatkan, menikmati, membaca buku tipis ini. Setidaknya pemikiran dasar kaum Kantian teraba, teori-teori Kant kuketahui, walaupun hanya kulitnya saja sebab buku asli beliau belum satupun kulahap. Dalam moralitas ada juga unsur perasaan dan emosi. Yah, setiap tindakan kita tak ada yang kebetulan, semua digerakkan sebuah tangan yang otak perintahnya dalam kepala. Kehendak baik yang disetujui secara moral oleh orang pada umumnya adalah kehendak rasional, akal budi praktis yang murni a priori. Dinantikan terjemahan Indonesia buku-buku asli Kant sebanyak mungkin, biar revolusi mental yang jadi cita-cita bangsa ini terwujud, banyak membaca buku tentang moralitas.

Hukum Moral berlaku bagi siapa pun, setiap tempat dan waktu. Semoga kita semua dalam jiwa yang merdeka. Allahu akbar!

Dasar-Dasar Filsafat Moral: Elaborasi Terhadap Pemikiran Etika Emmanuel Kant | by HB Acton | Diterjemahkan dari Kant’s Moral Philosophy | Library of Congress catalog card No. 71-108405, Macmillan and Co Ltd, 1970 | Penerbit Pustaka Eureka | Cet. Pertama: Juni 2003 | Penerjemah Muhammad Hardani | Penyunting Sufyanto | Desain cober Rano | ISBIN: 979-95412-6-3 | Skor: 4.5/5

Karawang, 101220 – Roxette – Spending My Time

Thx to Buku Vide, Yogyakarya

Buku-buku Kant: Critique of Judgment (1790), Critique of Pure Reason (1781), Critique of Practical Reason (1788), Groundwork of the Metaphysic of Morals (1785), The Metaphysic of Morals (1797).

3 komentar di “Pedoman Dasar Kantian

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s