Love Story a la Sinetron

Nada Tanpa Kata by Mira W.

Aku tidak bisa membenci sesuatu yang kuanggap tidak ada.” – Arista.

=== catatan ini mengandung spoiler ===

Novel yang sama saja, sangat sinetron. Dalam bundel ini sama biasanya. Ini mungkin sudah menjadi gaya beliau. Tak banyak hal menarik yang bisa diceritakan sebab kisahnya datar, cara berceritanya bahkan terlampau picisan.
Kisahnya tentang Alexander Agung yang autis, ia terlahir tanpa pernikahan. Namanya diambil dari Alexander the Great, kaisar dari Macedonia itu. Ibunya Arista Natalia wanita karier yang menjadi selingkuhan dokter Bram Nataladewa. Demi nama baik, ia tak mau menceraikan istrinya, maka Arista memutuskan mandiri, single parent menolak mengugurkan bayinya. Sang dokter dan keluarga tanpa anak lalu merantau, menjauh, bukan antar kota kayak jelata kebanyakan, mereka ke Australia.

Alex diasuh penuh kasih sayang, autis tak menghambat kehebatannya dalam fotografi. “Aku hanya memberinya cinta dan kepercayaan.” Konsultannya Bu Rena sudah bilang IQ-nya normal. Ia berkenalan dalam dunia maya dengan gadis dari Surabaya, Adelana yang lalu menjadi modelnya, lulus sekolah lanjut pendidikan ke Jakarta yang memudahkan bertemu langsung, yang malah menjerumuskan pada seks bebas.
Orang tua Adelana yang tahu pacar anaknya autis menolak, Adelana memutuskan pindah tinggal sama keluarga Arista. Setelah pernikahan dan lahirlah Dion, keluarga ini tampak normal. Kehidupan sehari-hari yang padu. Nenek, suami istri, anak bersama pengasuh. Namun karena dalam sinetron komunikasi menjadi buruk, ambisi kasih meluap-luap dalam ketidakjelasan, harta mejadi tujuan, konfliks yang disodorkan melebar pada perebutan hak asuh Dion.

Arista komplain ke menantunya yang sibuk kerja sebagai model, Alex yang karier fotografinya juga sedang tinggi. Cerai menjadi jalan buruk, Adelana tinggal sama Dion yang diasuh pembantu memakai nama beken Adelana Fortuna Dewi, Arista sendirian, sementara Alex melalangbuana ke Afrika. “Karibu”, selamat datang. Sebuah penyambutan dari suku Masai dalam bahasa Swahili. Cerita memang semakin terasa mengada-ada sebab Alex menemukan cinta lagi di sana. Foto yang bagus adalah foto yang mencapai misinya. Cinta membara di Kenya. “African Message”, ungkapan betapa sakitnya badan terguncang-guncang dalam perjalanan. Lalu ada kalimat annoying begini, ‘… beberapa foto yang tidak dipilih Alex tetapi dianggap bagus dikirim ke beberapa media.’ Hehe, media hanya sebagai rencana cadangan sebab yang beneran bagus diikutkan lomba. Tak perlu rasanya saya menyebutkan nantinya menang enggak-nya. Sudah dapat kalian prediksi.

Berkenalan dengan pemandu Jacob yang menyewakan tempat tinggal, dan gadis 18 tahun yang eksotis bernama Diani. Dengan mudah ditebak, ada cinta di antara mereka. Dan ada benih yang dikandung, ibu dan mantan istrinya terasa jauh. Ini hanya dalam hitungan bulan ya, betapa mudahnya sosok ini melupakan sementara janji suci.
Sebagai dramatisasi, Alex meninggal ketika akan kembali ke Indonesia. Di sebuah mal dalam perjalanan mau ke bandara ada serbuan teroris, peluru menerjang Alex yang juga dalam dramatisasi menyelamatkan bayi. Ia sempat seminggu tanpa identitas di kamar mayat, Jacob yang menemukannya, lalu mengabari ibunya, dan dengan tangis tumpah, abunya dibawa pulang. Firasat seorang ibu tidak pernah salah.

Sementara itu dalam perkembangan kariernya, setelah memutuskan silaturahmi dengan mertua justru Adelana dikisahkan menderita kanker yang tentu saja menghambat kariernya sebagai model. Ia rujuk sama mertuanya, Dion otomatis dibawa serta. Pengobatan coba dilakukan, orangtuanya datang pula, memaafkan masa lalu. Menguatkan anaknya. Adegan yang disaji benar-benar sinetronis. Kzl sama mertua, yang terbayang kayak closed up wajah dengan mata melotot, gaya glamour melempar tas seharga 25 juta ke atas meja, sampai adegan nangis kembali meminta maaf. Persis ‘kan?!

Sementara lagi, sang kekasih gelap Dokter Bram, tiba-tiba datang. Mereka cerai, mantan istrinya menuntut harta gono gini, membuatnya bangkrut. Kunjungannya sepintas memang mengajak damai, dan sempat ditolak. Tapi endingnya, semua memaafkan kesalahan yang pernah ada. Ini agak merusak, sebab yang baik diberi akhir baik, yang jahat menderita dan terpuruk. Hidup tak seperti itu.

Dion diambil keluarga Adelana, Arista kembali sendiri ditinggal anak dan menantunya. Sebuah pemikiran ke pengadilan untuk menggugat anak-ibu agar sang cucu tinggal bersama neneknya? Ide itu saja sudah terdengar konyol sekali. Pada suatu hari, datanglah Jacob membawa anak kecil yang imut, memberitahu bahwa itu anak Alex dari kunjungannya ke Afrika diberi nama Chui yang berarti leopard. Sebagai permintaan terakhir, abu Alex diminta dilarung ke Samudra Hindia sebab ibunya mati bunuh diri ke lautan yang sama, agar mereka bersatu. Begitulah kisah ini ditutup. Padat dan sangat biasa dalam bertutur.

Banyak sekali kejanggalan, banyak sekali keluhan kalau mau dirunut. Cara bercerita buruk, serba kilat gegas. Detail keasyikan bercengkrama dengan kata otomatis hilang. Karakternya juga serba pasti, yang jahat konsisten jahat, yang baik tetap baik, tak ada yang abu-abu. Sikap yang diperlihatkan tiap karakter juga buruk, mencerminkan apa yang jadi konsumsi pencipta menjadi karya. Kehidupan manusia bukan rumus matematika, yang tidak bisa dirubah tidak bisa ditawar. Otak manusia adalah benda aneh yang sulit untuk diduga. Di sini segalanya malah tampak mudah diduga?! Oh why?!

Hal semacam ini terbentuk karena kebiasan, lingkungan, dan hal-hal yang menyelingkupi sang Penulis. Seorang jelata bisa saja menulis ngawang-ngawang tentang kehidupan jetset, kehidupan glamour bak visual-visual sinetron, tapi tak akan mendalam. Apa yang ditampilkan dalam Nada jelas mencerminkan kehidupan menengah atas. Tak mungkin rasanya jelata, ngambek kaburnya ke Auckland, tamasya mencari objek foto ke Kalimanjaro, atau kasus perceraian menyewa pengacara memerebutkan harta. Semua terjadi persis film ibu-ibu di prime time tv kita. Lihatlah, pengaruh karya sangat kental, saling terkait, maka wajar penikmat (buku ataupun film) menuntut kualitas. Mutu itu penting, sebab akan memengaruhi khalayak. Kalimat, “Laki-laki memang gitu, makanya kamu harus pandai-pandai memilih teman.” (h. 340) seolah memang sudah kalimat masyarakat kebanyakan. Padahal kalau aktualnya, tentu saja tak bisa generalisasi.

Dialog ini menampar logika jelata, “Uang yang mama transfer ke Dion sampai?” / “Ada.” / “Bilang kalau kurang ya.” / “Cukup. Dion kan belum sekolah. Baju dan mainannya masih banyak. Saya tidak mau memanjakannya.” (h. 414)

Sebagai penutup saya memberi judul review ini sama: Love Story a la Sinetron sebab ya memang kisah cinta sinetron macam ini yang ditawarkan dan sungguh kurang menarik, tapi skornya turun 0.5. dalam Nada tanpa Kata, bahkan rasa sinetronnya lebih tebal. Aku benci sinetron! Karena hakikat cinta adalah selalu berada bersama dengan orang yang dicintai. Untuk selama-lamanya.
Mira W. adalah nama besar di kancah literasi Nasional. Dua ceritanya yang kubaca ini cukup mengecewakan, saya udah beli lima buku. Pembuka yang buruk. Ini adalah bunbel menyambut 40 Tahun Menulis. Total karyanya sampai 2015, ada 82 buah, terdiri dari 75 novel dan 7 kumpulan novelet dan kumpulan cerpen. Sebagian besar sudah difilmkan. Sejak tahun 1975, tulisan pertama Mira W. cerpen berjudul ‘Benteng Kasih’ yang dimuat di majalah Femina, karyanya bertebaran di media. Well, mungkin ini selera saja. Kisah cinta semacam ini kurang menarik minatku, atau mungkin di buku kedua nanti bisa lebih memukau?

Dunia terasing yang membuatnya nyaman, dunia yang sepi tanpa gangguan.

Nada tanpa Kata | by Mira W. | (satu bundle sama Cinta Sepanjang Amazon) | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | 6 15 1 72 012 | Copyright 2015 (edisi Mira W. – 40 Tahun Menulis) | ISBN 978-602-03-1977-3 | 544 hlm.; 20 cm | Skor: 2.5/5

Dia adalah segala-galanya bagiku. Aku tidak dapat membayangkan hidup tanpa kehadirannya. Tetapi ketika suatu hari dia meninggalkanku. Aku terpaksa tersu melangkah walau dalam hampa.

To my son: I hope sweet dream find their way into your sleep every night. But I give you this book to read for some night when they don’t. you are the best part of me. And to you I dedicated all my love, hopes and dreams. Rendy Marsono.

Karawang, 281220 – Aretha Franklin – I Say a Little Prayer

Thx to Agus Buki, Bandung

Buku ini terdiri dari dua cerita, saya hitung satu dalam rekap tahunan sebab intinya satu buku.

Rajutan Telaah Sepakbola

Merayakan Sepakbola by Fajar Junaedi

Salam satu nyali, wani.”

Sulit memang menulis tentang sepakbola yang memikat. Beberapa buku analisis yang kubaca rerata biasa, kalau tak mau kubilang mengecewakan. Sebab pembaca sekaligus fans sudah tahu banyak seluk beluk dunia bola, mencerita hal-hal yang sudah diketahui khalayak untuk memikat memang sulit, kaliber Cak Mahfud saja bukunya sekadar bagus. Maka Merayakan Sepakbola sama saja, tak sampai meluap, melimpah dalam pujian. Apa yang disajikan malah terkesan membosankan, sebuah penelitian perilaku sosial yang umum dan tak banyak yang mengejutkan. Bagaimana sebuah Koran didistrubusikan sampai ke tangan pembaca, gambaran besarnya kita tahu. Media meliput kerusuhan suporter, bagian-bagian utama yang terlihat juga sudah diketahui, kebobrokan PSSI, menulisnya bisa sampai berjilid-jilid, dari yang professional sampai makian akar rumput juga sudah ada. Lantas apa yang bisa diharapkan dari tulisan tentang bola sepak ini? Well, masih kucari…

Berisi delapan tulisan, yang dari judulnya saja sudah mencerita isinya. Nyaris tak ada kejutan.

#1. Mencari Berita Sepakbola: Pola Distribusi Koran yang Berisi Berita Sepakbola di Tingkat Pengecer dan Perilaku Pembacanya di Kota Sragen

Pembukanya adalah naiknya BBM, hal umum yang sudah diujar dari zaman Soekarno hingga reformasi. Sebab kebutuhan-kebutuhan sekunder salah satunya menikmati Koran menurun, juga bukan barang baru. Tahun 2015, Koran dan majalah menurun, kalau dibilang tahun 2020 barulah drastis perubahannya. Di sebuah kios Sragen, kota kecil strategis antara Solo dan Ngawi geliat tulisan ini disampaikan. Kios milik Winarto sejak 2000 dan beberapa sekitarnya diteliti dari pola distribusi, pelanggan siswa, pegawai, atau umum sampai jenis-jenis minat Koran lokal/nasional.

Konsumen media di Negara-negara Barat lebih memilih untuk memanfaatkan internet dalam mencari berita daripada media cetak (Eisy, 2009: 19).

#2. Konfliks Suporter Sepakbola dalam Wacana Media: Wacana Koran-koran Lokal Yogyakarta dalam Kerusuhan Suporter PSIM Yogyakarta Tanggal 13 Maret 2015

Kerusuhan suporter di Yogyakarta 13 Maret 2015 diambil dari berbagai sudut pandang surat dan masyarakat. PSIM melawat ke PPSM Magelang, dalam perjalanan supporter dihadang warga. Datang suruh, pulang gantian dirusuhi sampai mengambil jalan memutar lewat Wates. Koran-koran menurunkan berita keesokan harinya, dan aksi kerusuhan supporter di Indonesia jelas sudah jadi barang umum yang berulang kali terjadi.

Puncak perhatian media massa di Inggris terjadi tahun 1966 ketika media massa di Inggris mulai menaruh perhatian pada geng anak muda hooligan baik di dalam maupun di luar stadion (William, Dunning dan Murphy, 1986: 365).

#3. Amuk Suporter PSIS dalam Narasi Media

Yang ini agak lucu atau bisa dibilang tragis, supporter PSIS Semarang terjebak dalam kemarahan warga, terkepung sampai ganti hari dan polisi membantu mengamankan hingga bisa pulang. “Malam Mencekam” salah satu judul artikel Koran menggambarkan betapa mengerikan keadaan.

Saya punya teman fans berat PSIS dan ketika kutanyakan langsung, ia dengan fasih bercerita. Ia tak terlibat langsung sebab hari itu ia kebetulan tak menonton ke Purwodadi, tapi dia mendengar kawan-kawannya bagaimana malam itu begitu mencekam. Terjebak dalam ketidakpastian di Godong.

“… mendapatkan pemberitaan Koran sebagai ‘iklan gratis’ untuk membuktikan keperkasaannya sekaligus untuk membuktikan bahwa mereka mampu mengalahkan supporter lawan.” (Williams, Dunning dan Murphy, 1986: 363)

#4. Rusuh Suporter Sepakbola vs Polisi dalam Bingkai Berita: Memersoalkan Akurasi dan Verifikasi Berita

Tahun 2014 sebagai salah stau tahun terburuk timnas kita, prestasi merosot (dah biasa), tapi kekalahan memalukan dari Filipina 4-0 sungguh mengejutkan semua pihak, separah inilah sepakbola kita. Kerusuhan sepanjang tahun 2014, dalam tabel, minimal ada 9 kerusuhan supporter. Terlihat pemberitaan kita sebagian simpang siur, siapa versus siapa, korban meninggal karena apa, sampai pengambilan sumber satu pihak yang rancu. Kerusuhan fans Persis Solo di Manahan mengakibat satu orang meninggal dunia. Duka sepakbola yang tak kunjung usia, bahkan sampai 2020 ini masih saja terjadi. Why?!

#5. Tentang Nama Fans Sepakbola: Maskulinitas dalam Penamaan Komunitas Fans Sepakbola di Indonesia

Penamaan fans jelas bukan barang baru, telaahnya umum pula. Semacam kata ‘nisti’ untuk tim-tim Italia atau ‘fan club’ untuk Inggris yang meluas ke mana-mana. Di dunia yang serba instan ini, penamaan fans mengglobal pula. Intinya, untuk laki-laki olahraga tak perlu menyebut laki-laki, untuk wanita harus disebutkan. Contoh pemain sepakbola terbaik dunia: Ronaldo, tak tertulis pemain terbaik laki-laki. Kalau terbaik wanita, harus ada embel-embelnya. Ini berlaku di banyak hal.

Olahraga merupakan situs kunci untuk identitas maskulinitas (Messner dalam Meale, 2010: 67)

#6. Berawal dari Bonek Liar: Kata “Liar” dalam Subkultur Suporter Sepakbola Indonesia

Ini mungkin yang paling menarik, bagaimana transformasi bonek menjadi kata serapan ‘liar’. Sejarahnya juga sebagian besar sudah tahu, ‘bondo nekat’ ditelusur dari pembentukan tanpa koordinasi sampai yang terdaftar resmi. Hooligan dipakai di Inggris sejak akhir abad 19 yang merujuk pada segerombolan anak muda yang berbuat rusuh. Ada kemungkinan kata itu serapan dari kata ‘Houlihan’, nama keluarga dari Irlandia yang tinggal di London pada masa tersebut yang suka berkelahi (Dunning, 2000: 142).

Bonek adalah ruang di mana suporter Persebaya menemukan penandaan yang mereka anggap sesuai kultur mereka. Kultur yang mereka pahami bersama adalah nekat untuk mendukung Persebaya (h. 90). Bonek lahir dari proses sosial interaksi para pendukung Persebaya yang melibatkan beragam simbol.

Kelompok fans sepakbola yang dikoordinasi dan dikembangkan secara struktural, di mana umumnya ada organisasi tunggal yang berhak menentukan korwil. Jadi ingat Laziale Indonesia yang ada kepengurusan dan organisasi resminya. Sampai gathering, futsal, kompetisi PS, nobar, sampai plesir ada. Namun ya, saya selalu ada di wilayah luar. Dulu pernah mendaftar, tapi malesi sebab tak banyak guna kartunya, makanya mending di luar, kalau ada acara ngumpul ikut saja, menjadi fans sepakbola tak harus terdaftar resmi. Saya justru terdaftar langsung di Italia, Laziale member Asia jauh, punya kartunya. Hahaha…

#7. Twitter adalah Senjata: Suporter Sepakbola Melawan PSSI

Di era digital, limpahan informasi benar-benar menghantam banyak sekat dan birokrasi rumit atas ke bawah. Sampai sekarang, sudah sepuluh tahun main twitter, dan memang yang paling asyik sebab batasan kalangan artis/selebriti dengan jelata terkadang runtuh. Dengan twitter, pesan diproses dan diproduksi tanpa harus melibatkan tim dan sekaligus dalam distribusinya tidak mengharuskan melibatkan mata rantai dengan banyak orang yang terlibat, namun tetap menjangkau audiens yang luas (h 102).

Donald Ellis menyatakan media yang menonjol pada suatu masa akan membentuk perilaku dan pikiran. Ketika media berubah maka akan berubah pula cara-cara orang berpikir, mengelola informasi dan berhubungan dengan orang lain Raharjo, 2011: 16).

#8. Merayakan Sepakbola, Merawat Sejarah, Memberitakan Kota Bersama BawahSkor

BawahSkor adalah sebuah blog, sama seperti blog review ini. Jadi pengelolaannya bisa lebih personal. Saya ingat pas ISL vs IPL muncul, ya ampun carut marut sepakbola kita. Balapan untuk menjadi yang lebih dulu inilah yang rentan menurunkan akurasi berita sekaligus verifikasi secara cover both side terabaikan.”PSIM warisane simbah”.

Menurut fans sepakbola, menjadi fans sepakbola memberikan tempat di mana kebahagiaan tidak tergapai menjadi hilang, tempat di mana mereka masih bisa berharap (Horby dalam Real, 1996: 53).

Merayakan Sepakbola: Fans, Identitas, dan Media Ediso 2 | by Fajar Junaedi | Copyright 2017 | Editor Sirajudin Hasbi | Desain sampul Fajar Ramadhan | Tata letak Ibnu T | xvi + 130 hlm.; 14 x 12 cm | ISBN 978-602-6751-67-6 | Penerbit Fandom bekerja sama dengan Buku Litera Yogyakarta | Cetakan kedua, 2020 | Skor: 3.5/5

Karawang, 291220 – Kate Bush – The Man with the Child in His Eyes

Thx to Kedai Boekoe, Bekasi

14 Best Books 2020 – Fiksi

Di mana kau sembunyikan sesuatu yang menyerupai laut?”Kitab Para Pencibir (Triyanto Triwikromo).

Mulai tahun ini saya buat dua kategori sebab buku-buku yang kubaca mulai berimbang genre, fiksi/non fiksi, sampai kategori apapun kulahap. Sebelum rekap bacaan, saya pos untuk 14 buku fiksi terbaik. Beberapa ada yang baca ulang: The Stranger (Camus), Koleksi Kasus Sherlock Holmes (Sir Arthur), sampai Riwayat Narnia (C.S. Lewis) tidak saya cantumkan lagi sebab tujuan membaca ulang adalah mereview, jadi masuk ke rekap baca tak masuk ke daftar ini. kecuali Million Dollar Baby (F.X. Toole) sebab nama ini tak pernah kusebut di banyak tempat. Untuk penulis yang sama saya ambil satu, untuk genre tak terlalu mengacu apapun.

Kusaring awal ada 66, lalu dipadatkan masih 30, menjadi 22 kala kupertimbang lokal/non lokal dan akhirnya benar-benar menjadi 14 buku, semoga berkenan. Ini mungkin subjektif sebab penilaian berdasarkan kepuasan pribadi. Tahun terbit saya putuskan tulis dari pertama kali buku terbit, bila terjemahan maka saya catat dari tahun terbit aslinya, sebab identitas terbit menjadi penting dari sisi pengaruh-memengaruhi. Walaupun ketika di Bahasa Indonesia kan banyak versi, saya tulis versi yang saya dari terbitan mana. Kualitas alih bahasa sangat penting, maka patut mendapat apresiasi.

Dari cinta tragis dua sejoli Bandung sampai kisah legenda batu dari Lebanon, dari serbuk bintang penuh sihir sampai kisah-kisah binatang di hutan seratus ekar, dari drama sarung tinju sampai gadis berambut merah fantasi asisten penggali sumur, dari pahlawan galaxy sampai potongan senja di pantai. Dari perjuangan balas dendam dengan gaya pemuda Prancis sampai cerita lucu dalam balutan dagang. Beragam kisah menyelingkupi dalam drama dan belitan hidup umat manusia.

Berikut daftar buku fiksi terbaik yang kubaca tahun 2020 versi LBP – Lazione Budy Poncowirejo:

#14. Always Laila, Hanya Cinta yang Bisa by Andi Eriawan (Gagas Media) – 2004

Ini novel membuatku takjub tahun 2000-an, bukunya Jemy K (teman sekamar di Ruanglain_31, Cikarang) yang turut ditaruh di rak kecilku, dipinjam teman lalu tak tentu arah, entah siapa yang pinjam dan tak kembali. Hiks… Generasi Dilan akan shock ketika tahu ada cerita cinta sejoli Bandung yang mengharu biru dengan belitan romansa jauh lebih berkualitas. Dua kali baca, dua kali pula mewek.

Mencintai tidak butuh alasan, tapi menikahi seseorang membutuhkan alasan.”

#13. Lengking Burung Kasuari by Nunuk Y. Kusmiana (GPU) – 2017

Tampak sekali, penggalan cerita diambil langsung dari pengalaman pribadi, tentunya dengan bumbu imajinasi dan keseruan pemilihan diksi. Salute! Kisahnya mengambil sudut pandang pertama, dan akan terus begitu sampai selesai. Dari anak SD bernama lengkap Kinasih Andarwati, panggilannya Asih, memiliki keluarga harmonis dengan permasalahan yang membumi. Asih adalah anak pertama dari keluarga Tentara yang ditugaskan ke Jayapura tahun 1970, dan ibu yang luar biasa hebat Yatmi yang mengaku keturunan Ponorogo. Memiliki adik yang imut, cerdas, dan sungguh menyenangkan bernama Tutik yang selisih dua tahun. Tutik, bocah cilik bertubuh kuat. Mereka menjalani hari-hari yang panas di bumi Papua, setahun setelah resmi bergabung dengan NKRI. Ada adegan bagus, maksudnya bervitamin. Tentang Pantai Base-G, sejarahnya semasa Perang Pasifik, pantai itu dan seluruh wilayah yang dulu dikenal dengan nama Hollandia menjadi basis pertahanan tentara Sekutu. Wilayah itu dinamai Base-G atau basis pertahanan dengan urutan ke-G. basis pertahanan di atasnya di sebut Bae-F terletak di Hawaii. Jadi ada Base-A sampai E? mungkin di Amerika. Yang jelas Base-G adalah armada ketujuh Amerika Serikat. Wow, serius baru tahu saya.

Ah, gaji tentara. Biar naik juga masih kecil juga.”

#12. Kisah-kisah Perdagangan Paling Gemilang by Ben Sohib (Banana) – 2020

Memang selalu ada yang pertama, dan buku ini cukup menjelaskan bagaimana beliau bercerita, gayanya absurd, diselingi komedi, lalu di akhir – kalau di Stand Up Comedy, muncul punch-line yang menohok. Beberapa cukup bikin tersenyum geram, beberapa belum tune-in sama alur, ujug-ujug sudah kelar, terlalu pendek. Ada dua dari sebelas yang sukses mencipta bahak, lalu berujar, “Ya ampuuun.” Sungguh aneh, sungguh menggelitik, dan hampir semua yang dikisahkan ada di sekitar kita, ada di sekeliling kita dengan budaya Betawi yang kental, khas ente, gue, serta segala akhiran ‘e’ yang termasyur itu.

Nama-nama karakter unik atau dibuat merakyat disertai julukan, kehidupan kaum jelata dengan pemikiran terdalamnya guna bertahan hidup.

Yang setengahnye lagi die janji mau lunasin akhir bulan.”

#11. Stardust by Neil Gaiman (GPU) – 1997

Dengan setting masa Ratu Victoria yang bertakhta sebelum menjadi janda Windsor, Charles Dickens tengah menerbitkan novel Oliver Twist. Mr. Draper baru saja memotret bulan untuk pertama kalinya, membekukan wajah pucatnya pada kertas dingin; Mr. Morse baru-baru saja mengumumkan cara mengirim pesan melalui kawat logam. Dunstan memasuki bazar dengan gadis cantik terikat di karavan, dengan satu ciuman yang menderet asmara mistis. Ciuman gadis dengan bibir yang bercita rasa lumatan arbei hutan. Tak disangka satu malam berkelindan peluk itu mencipta keturunan. Sembilan bulan pasca bazar, di celah desa tembok ada keranjang bayi dengan secarik kertas berpeniti tulisan ‘Tristran Thorn.’ Ini kisah tentang Tristran Thorn.

Dan aku tak bisa menyesali petualanganku sedetikpun, meskipun ada kalanya merindukan tempat tidur yang empuk, dan aku tak akan pernah lagi melihat tikus dengan cara yang sama…”

#10. Ender’s Game by Orson Scott Card (Mizan Fantasi) – 1985

Cerita luar angkasa, tapi tetap bisa membumi. Melibatkan jiwa-jiwa remaja yang labil, dipaksa mengambil keputusan berat. Bukan sekadar membantu teman untuk tetap bertahan, atau sekadar menyelesaikan pekerjaan rumah. Para remaja ini dididik untuk menyelamatkan dunia! Setelah invasi pertama makhluk bugger dari planet misterius berhasil ditumpas oleh legenda Mazer Rackhman, lalu invasi kedua juga berhasil digagalkan. Kali ini mereka akan menghadapi invasi ketiga, tapi kali ini lain. Invasi ketiga ini, justru manusia yang akan menyerang terlebih dulu. Maka disusunlah agenda…

Kita adalah invasi ketiga!

#9. Sepotong Senja Untuk Pacarku by Seno Gumira Ajidarma (GPU) – 2002

Menatap senja adalah suatu cara berdoa yang langsung menjelma, perubahannya dari saat ke saat meleburkan diri seseorang ke dalam peredaran semesta. Senja adalah janji sebuah perpisahan yang menyedihkan tapi layak dinanti karena pesona kesempurnaannya yang rapuh. Dunia senja yang sempurna bagi siapa pun yang memburu senja di pantai seperti memburu cinta yang selalu berubah setiap saat, meraih pesan-pesan dari kesementaraan terindah seantero semesta…

Kamu juga memandang senja?

#8. Contact by Carl Sagan (GPU) – 1985

Novel panjang nan melelahkan. Biasanya saya komplain sehabis baca buku kurang bervitamin, buku minim pengetahuan, minim manfaat, atau minim hiburan. Nah, dalam Kontak semua dilibas. Sangat bernutrisi, pengetahuan melimpah terutama terkait astronomi yang setelah selesai-pun masih bikin kerut kening, catat pula buku ini juga ada hiburan. Kejutan surat tahun 1961 mungkin dalam drama Hollywood sudah banyak dibuat, tapi tetap saja ketika diungkap sangat menyentuh hati.

Apakah Tuhan ada? Pertanyaan itu mempunyai nuansa yang rumit. Kalau dijawab tidak, apakah itu berarti aku yakin Tuhan tidak ada? Atau aku tidak yakin Tuhan itu ada? Itu dua hal yang berbeda.”

#7. The Red-Haired Woman by Orhan Pamuk (Bentang) – 2016

Novel dipecah dalam tiga bagian. Pertama bagian Cem, remaja yang menjadi asisten penggali sumur yang bercita menjadi penulis. Kedua tentang perjuangan Cem meraih mimpi, yang sebagian kandas sehingga membentuknya menjadi sekarang, kaya tapi hampa. Sebuah pengalaman satu malam dengan perempuan berambut merah telah mengubah pola pandangnya. Ketiga mengambil sudut wanita berambut merah, menjelaskan yang tak tampak. Semua diaduk emosi dan gelitik sendu tercipta tiap kejutannya.

Aku ingin tetap meneruskan penggalian di sini.”

#6. Orang-orang Oetimu by Felix K. Nesi (Marjin Kiri) – 2019

Luar biasa, hikayat singkat orang-orang Oetimu dari zaman dahulu sampai tahun 1998, tahun genting peralihan Orde Baru ke Reformasi. Buku ini melibat banyak karakter, dan hampir semua yang ditelusur kisah hidupnya memberi peran signifikan. Membantu menggerakkan plot secara yahud, menjadikan penentu nasib tokoh lain, dan ini hebatnya Bung Felix K. Nesi tak segan-segan menewaskan karakter favorit! Tak ada yang baik konsisten, tak ada pula yang jahat terus, mayoritas sifatnya abu-abu, pas banget dengan kenyataan kehidupan yang fana ini. Eh, kecuali satu karakter yang dungu, nyebelin tak ketulungan. Namun nyatanya, orang bodoh pun dapat durian runtuh gadis jelita yang menjadi impian semua orang. Mengangkang siap diterkam, Hajindul! Asu!

Ia suka membaca buku. Sekali ia duduk di depan buku, tak ada yang bisa bikin ia bangun. Saya yakin ia akan enggan naik ke surga bila dikubur bersama buku.”

#5. Million Dollar Baby by F.X. Toole (Banana) – 2000

Kumpulan cerpen yang panjang. Semua tragis, sangat memesona sebab suram adalah Koentji. Bagian petinju wanita jelas kita sudah tahu semua, adaptasi filmnya meraih Oscar. Ini sebenarnya baca ulang, tapi bener-bener ‘in’ sebab tahun 2011 saya tak terlalu memusingkan pola dan gaya. Ending cerpen yang paling pilu dan sedih maksimal.

#4. Little Women by Louisa May Alcott (Qonita) – 1868

Perjalanan empat bersaudara yang mengasyikkan. Saya baca versi Qonita sebab memakai kover Saoirse Ronan. Sudah sangat banyak versi, tapi memang khusus beli edisi ini. baru sempat kubaca tahun ini, padahal sudah punya Jo’s Boy yang sudah icip beberapa halaman. Filmnya juga sangat bagus dengan penyesuaian beberapa bagian. Apapun yang terjadi, keluarga adalah segalanya.

Itu salah satu selera aristokratisnya, dan sangat pantas, karena wanita terhormat sejati selalu dikenang dari bot, sarung tangan, dan saputangan bersih.”

#3. Cadas Tanios by Amin Maalouf (YOI) – 1993

Menakjubkan sekali, cara berceritanya indah, meliuk-liuk memainkan emosi. Maut, cinta, dan kekuasaan yang membelit menjadikannya epic. Dengan label ‘Pemenang Grand Prix Des Literatures 1996’ di sampul pojok kanan atas. Alurnya runut, dan benar-benar seru sempurna. Paket komplit segala genre. Fantasi terkait legenda batu tempat menghilangnya sang protagonist. Drama percintaan terkait asmara remaja yang kandas lalu meliar di tanah seberang. Wakil aksi ada di masalah perang, pergantian kekuasaan dan segala yang membelit efek kehidupan rakyat. Komedi? Jelas ada, satir sih bapaknya Tanios yang balik kampung karena merasa aman, justru berakhir di tiang gantungan, kena tipu. Sungguh menyenangkan melahap buku beraroma jantan seperti ini. Ada satu hal yang sama sekali lain yang diperlukan, merenung? Berpikir? Lebih dari itu, memurnikan jiwa.

Apa yang telah kau pelajari sudah cukup. Percayalah pada pengalamanku. Jika kau terlalu banyak belajar, kau tidak dapat lagi tahan hidup di antara keluargamu. Kau harus mempelajari apa yang kau perlukan saja untuk memenuhi tugasmu. Itulah yang disebut kearifan.”

#2. Winnie-the-Pooh by A. A. Milne (Noura) – 1926 | Buku 1 | Buku 2

Dongeng jelang tidur yang kusampaikan ke Hermione (5 tahun) ini mewakili segala wow yang disampaikannya. Dengan ilustrasi ciamik, dengan sepuluh bab (cerita) tiap bukunya, kita diajak berkelana di hutan seratus ekar. Persahabatan, permainan, sampai hal-hal esensi dasar saling membantu.

Oh ya ampuun…”

#1. The Count of Monte Cristo by Alexandre Dumas (KPG) – 1844

Luar biasa tebal, luar biasa indah, luar biasa melelahkan. Untuk membalas dendam dengan gaya Edmond Dantes yang dibohongi, dijerat, dipenjara tanpa pengadilan, menyusun sebuah misi yang luar biasa. Terpesona dengan gaya, kejutan, cara penyampaian kisah, dan tentu saja ceritanya. Menakjubkan, dalam satu kata.

Karawang, 300120 – Roy Brown – Good Rockin’ Tonight (1947)

Penyuluhan dan Tata Cara Pelaksaannya yang Ideal

Penyuluhan by E.A Munro, R.J. Manthel, J.J. Small

“… yang perlu diingat ialah pentingnya melaksanakan kegiatan hanya pada suasana yang benar-benar mengandung kemungkinan keberhasilan yang besar. Kemungkinan kegagalan juga harus didiskusikan, karena tidak mungkin penyuluh untuk menjamin keberhasilan dari yang direncanakan.”

Jika ada orang berbicara kepada Anda, dengarkanlah. Sedang mencoba membaca dan memelajari buku-buku manajemen penunjang kerja. Ini salah satunya, selain leadership, komunikasi sampai psikologi, konseling menjadi konsen saja sebab dalam jobdesk saya diwajibkan melakukannya. Buku meliputi teknik dan metode yang dapat digunakan dalam membantu klien memahami dirinya sendiri secara lebih baik dan lebih efektif. Teknik-teknik hubungan tatap muka antardua orang, yaitu penyuluh dan klien. Di buku ini lebih ke umum, artinya ga fokus ke karyawan. Beberapa bahkan untuk pelajar.

Syarat-syarat dasar etika penyuluhan: (1) kerahasiaan, (2) kesukarelaan, dan (3) pengambilan keputusan oleh klien sendiri. Penyuluhan harus menjaga agar suasana tidak dipengaruhi oleh hubungan lain yang telah ada sebelumnya, misalnya hubungan teman, hubungan atasan dan bawahan, dan sebagainya. Untuk dapat berhasil dengan baik, penyuluh hendaknya mempunyai kecakapan melakukan apa yang direncanakan yaitu segala sesuatu yang dilakukan itu tidak lepas dari hasil pengalaman, latihan, dan penguasaan pengetahuan tentang penyuluhan.

Sejujurnya saya tak paham teorinya, pendidikan akademiku tak menyertakannya. Maka buku ini jelas potensial memberi banyak nutrisi. Penyuluh hendaknya tidak hanya memiliki pengetahuan yang luas tentang orang lain, tapi juga tentang dirinya sendiri. Sekurang-kurangnya ada dua etika lagi yang perlu dipertimbangkan. Pertama, perlu diperhatikan bahwa ketrampilan-ketrampilan itu terbatas hanya mempengaruhi orang lain melalui pembicaraan, cara lain misal pengobatan, pemeriksaan melalui ujian berbagai alat hanya sebagai alat. Kedua, karena penyuluhan adalah suatu usaha yeng berkenan dengan orang lain, maka ketrampilan tidak mungkin bersifat netral atau bebas nilai. Hubungan manusia, antar pribadi dan usaha mempengaruhi orang lain.

Saya mengandalkan pengalaman. Bila ada karyawan yang hadir ke meja konseling, saya akan lebih banyak mendengarkan. Dan di sini tepat, sebab kemampuan mendengar sangat penting. Mendengar yang benar-benar mendengar. Tugas penyuluhan ialah mendengarkan, menyimak, memahami,, dan memberikan tanggapan yang sejauh mungkin berguna bagi klien. Setiap klien mengharapkan adanya sikap empati, penghargaan, dan kepekaan dari penyuluh.

Di sini disebut penyuluh dan klien. Pemahaman tentang proses, masalah, dan pelaksanaan penyuluhan daripada teorinya. Dalam aspek teorinya, penyuluhan seyogyanya merupakan suatu batang tubuh pengetahuan yang dibentuk dari berbagai sumber, seperti penelitian tentang pengaruh teknik-teknik tertentu, peninggian derajat dan penghargaan terhadap unsur-unsur pribadi yang bersifat subjektif, pemahaman tentang perkembangan manusia, dan pengetahuan tentang masyarakat.

Saya juga bukan orang psikologi, saya belajar otodidak semuanya. Pada dasarnya saya pelahap segala jenis bacaan. Faktor pribadi sangat penting dan bersifat amat menentukan dalam hubungan penyuluhan, penyuluhan yang bersifat mekanis dan tidak sungguh-sungguh karang sekali dapat mencapai hasil yang baik, malahan merugikan klien. Berusaha keras untuk menyadari faktor-faktor yang ikut mempengaruhi proses, mustahil penyuluh sepenuhnya objektif dan rasional. Pengetahuan penyuluh tentang dirinya sama pentingnya dengan pengetahuan tentang klien dan penyuluhan.

Saya juga suka baca tentang komunikasi. ‘Bicara Dapat Mengubah hidup Anda’ karya Dorothy Sarnoff bahkan sudah say abaca lebih dari sedekade lalu, salah satu buku favorit saya. Kemampuan interpersonal ini sangat penting di sini. Meyakinkan klien dia bebas untuk mengemukakan isi pembicaraan apa pun yang dimauinya. Dorongan minimal adalah semua isyarat, anggukan, sepatah kata atau suara tertentu, gerakan badan, atau pengulangan kata-kata kunci yang menunjukkan penyuluh mempunyai perhatian dan ikut serta dalam pembicaraan. Mendengarkan merupakan dasar bagi semua wawancara. Kegiatan ini menghendaki agar penyuluh lebih banyak diam dan menggunakan inderanya menanggap semua pesan. Suasana hangat penting, dan diam kadang-kadang sama artinya dengan berbicara.

Diam kita bisa banyak makna. Setiap ucapan, isyarat, dan keadaan diam akan mengubah corak hubungan antara penyuluh dan klien. Keadaan diam itu dapat merupakan peluang bagi penyuluh dan klien untuk berpikir. Keadaan ini menumbuhkan kepercayaan dan bahkan akhirnya mendorong klien untuk mau berterus terang dalam membukakan dirinya.

Tata caranya dijelaskan detail. Idealnya bagaimana, bahkan di sini dibuatkan daftar latihan. Penyuluh sebaiknya duduk berhadapan dengan klien dalam suasana bebas, santai dengan jarak cukup memadai untuk memungkinkan klien merasa senang. Tangan penyuluh hendaknya tetap diam dan wajahnya menunjukkan suasana yang bersahabat. Penyuluh harus bertekad mengembangkan dirinya baik melalui latihan maupun kehidupan nyata, mengingat perkembangan pribadi adalah suatu proses tanpa henti. Peningkatan pengenalan tentang diri sendiri dan dorongan-dorongan yang ada pada dirinya akan memungkinkan penyuluh dapat bekerja efektif dengan orang-orang lain.

Dengan tema yang sangat umum, saya beberapa kali baca cepat, terutama kala bagian sekolah yang menjelaskan Guru BP (Bimbingan Konseling) dengan siswa, sebab sudah tak relate. Seorang penyuluh yang sungguh-sungguh harus mau menerima tanggung jawab dan ketidakpastian, siap menempatkan diri dalam posisi yang mengandung resiko, baik resiko pribadi, resiko yang menyangkut perasaan, resiko yang menyangkut hubungan dengan orang lain, maupun resiko jabatan. Penyuluh harus sebagai pribadi utuh dan terbuka tanpa topeng serta tidak melaksanakan tugas semata-mata berdasarkan aturan permainan yang telah disiapkan terlebih dulu saja.

Penyuluh telah siap mendengarkan apa yang akan dikemukakan oleh klien dan siap untuk memberikan bantuan. Hendaknya penuh kehangatan, dengan nada dan kata-kata yang bersifat menerima klien. Semua ini harus dilakukan secara wajar, tidak dibuat-buat. Kata-kata ‘khawatir’, ‘sulit’, ‘masalah’ harus dipakai hati-hati dan kalau perlu tidak dipakai sama sekali, kecuali kalau klien sendiri memakainya. Penggunaan pengarahan yang terlalu cepat atau terlalu sering terhadap klien yang enggan malahan dapat mengakibatkan timbulnya suasana risi (tidak tenang) atau menjengkelkan pada diri klien dan penyuluh tampak kurang peka terhadap suasana kejiwaan klien.

Setidaknya penyuluh memiliki sifat luwes, hangat, dapat menerima orang lain, terbuka, dapat merasakan penderitaan orang lain, mengenal diri sendiri, tidak berpura-pura, menghargai orang lain, tidak mau menang sendiri, dan objektif. Mengurai sifat penyuluh yang paling baik adalah dengan memadukan hasil-hasil penelitian, pendapat para ahli, pengalaman pribadi, dan akal sehat. Sifat penyuluh sebagai model, hubungan penyuluhan, dan keberanian penyuluh untuk melakukan penyuluhan. Tiga unsur pokok yang penting di dalam menumbuhkan dan mengembangkan hubungan penyuluhan ialah empati, penghargaan, dan kesegaran.

Keberhasilan penyuluh sangat ditentukan oleh anggapan-anggapan klien terhadap tingkah laku dan tindakan penyuluh. Klien akan menyadari dan memberikan tanggapan terhadap kontak mata, gerak-gerik, isyarat, dan sikap penyuluh. Penyuluh yang berbicara terlalu banyak dapat mengakibatkan klien menjadi kerdil karena merasa bahwa gagasan-gagasan yang dimilikinya seolah-olah tidak penting. Demikian selaan-selaan bicara yang sedikit mungkin akan lebih memberanikan klien untuk berbicara. Penting, klien dapat merasakan bahwa ia diterima, berguna, dan bebas untuk berbicara.

Dari buku ini saya belajar untuk lebih sering melihat diri sendiri. Pikirkanlah cara-cara yang mungkin itu, pilihlah salah satu yang paling baik dan laksanakanlah. Melihat diri sendiri seperti orang lain melihat diri Anda adalah suatu cara yang baik untuk mempelajari diri sendiri. Bagaimana trust itu sangat penting. Kepercayaan klien tumbuh karena klien menganggap penyuluh akan merahasiakan keterangan yang diungkap. Penyuluh tidak menimbulkan kesan bagi para anggota kelompok bahwa dia memihak salah seorang atau sebagian anggota kelompok.

Sedikit hal perlu saya perlu perbaiki tentang nilai adalah pesan bahwa penyuluh tak boleh memaksakan nilai-nilai yang dianutnya kepada klien. Beberapa kali saya konseling menunjuk contoh yang ideal dalam perilaku, dan itu kurang bagus. Sebab ideal bagiku belum tentu bagus buat klien. Contoh-contoh pribadi dapat mengalihkan perhatian dari klien dan memperlemah kedudukan klien sebagai titik pusat dalam hubungan penyuluhan.

Teknik komunikasi yang baik sangat diperlukan. Pertanyaan terbuka atau tertutup sangat menentukan respon klien. Dalam banyak kasus jawaban yang langsung dan sederhana adalah paling baik, meskipun jawaban itu berupa penolakan untuk mengemukakan informasi yang dimaksudkan. Termasuk respon kita, nasihat hendaknya diberikan sesedikit mungkin, diberikan bila benar perlu dan diminta. Pemberian nasihat merupakan ketrampilan yang mudah disalahgunakan. Nasihat terbuka seolah ia ahli, dan lambat laun akan mencipta salah.

Termasuk poin rahasia. Selama ini saya ternyata kurang rapat menjaga hal-hal yang boleh dan tak boleh dibagikan kepada teman. Baiklah, saya akan jaga mulai hari ini. Anda adalah bebas, sebebas-bebasnya, Anda tidak terikat oleh keadaann jasmaniah atau rohaniah, Anda adalah kendaraan lautan kedamaian dan ketenangan. Tetaplah dalam keadaan ini untuk setidak-tidaknya selama lima menit. Hak klien agar keterangan yang dikemukakan dirahasiakan oleh penyuluh adalah sifat mendasar agar hubungan sungguh akrab dan hangat.

Merumuskan tujuan ialah mendorongnya untuk memikirkan beberapa kemungkinan cara bertindak atau bertingkah laku. Hal ini mengajak klien untuk berpikir praktis. Contoh, pertanyaan, “Apakah yang ingin Anda lakukan jika Anda ingin mengubah tingkah laku?” Dia harus memastikan bahwa ia bersungguh-sungguh kepada dirinya sendiri untuk mencapai tujuan yang diinginkannya dan dengan demikian dia bersedia pula menerima tanggung jawab.

Membuat catatan merupakan usaha sederhana tetapi sangat penting karena kegiatan ini mempunyai andil besar di dalam rencana pengubahan tingkah laku. Latihan penenangan dapat digunakan untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi suasana khusus yang menegangkan, seperti wawancara, ujian, atau pertemuan penting. Dengan memadu teknik membayangkan sesuatu, kesadaran jasmaniah, dan bermain peran.

Penyuluhan biasanya bekerja dalam batas kewenangan lembaganya. Setiap lembaga memiliki nilai-nilai tertentu yang harus ditaati oleh penyuluh, baik nilai tertulis atau tidak. Tugas penyuluh adalah membantu klien untuk mendapatkan akal sehatnya dalam mengenali nilai-nilai yang dianut, mengambil keputusan dan menetapkan identitasnya sendiri.

Akhirnya tujuan akhir dan meraih kesimpulan penyuluhan sangat penting. Ketika penyimpulan, penyuluh harus berusaha menggarisbawahi hal-hal yang sangat menonjol, menyatakan dalam bahasa yang mudah dimengerti dan sederhana, dan akhirnya memberikan tanggapan terhadap sampai sejauh mana ketepatan kesimpulan yang dibuat. Dan perlu diperhatikan ada empat jenis nilai dalam penyuluhan: moral, sosial, undang-undang, dan agama. Sebagaimana usaha pengarahan lain, maka pemberian penafsiran dapat mengandung aspek-aspek negatif. Keefektifan penyuluh hendaknya tidak diukur dengan ketepatan dan banyaknya penafsiran yang diberikan.

Penyuluhan bukanlah satu-satunya cara yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah. Kegiatan seperti musik, drama, olahraga, pengobatan, dan sebagainya adalah juga tak kalah pentingnya untuk digunakan dalam membantu mengatasi masalah klien. Persoalan nilai merupakan hal yang sangat pokok dalam penyuluhan.

Setelah menyelesaikan baca buku ini, saya semakin penasaran tentang konseling sebab akan melebar ke mana-mana. Ada banyak teknik, ada banyak teori yang perlu dipelajari, kebetulan kemarin saya dapat (dan juga beli) buku Psikologi Konseling. So, here we go! Menghargai orang lain adalah nilai yang tingkatannya tinggi, sedangkan cara berpakaian dan cara-cara memelihara rumah merupakan nilai yang tidak begitu tinggi derajatnya. Sepakat!

Mari ngobrol dan ngopi.

Penyuluhan | by E.A Munro, R.J. Manthel, J.J. Small | Judul asli Counseling: A Skill Approach. | Penerbit Methuen Publications (N2) Ltd. Edisi pertama tahun 1979 | Alih bahasa Drs. Erman Amti | Penyunting Dr. Prayitno, M. Sc. Ed. | Penerbit, Percetakan, Toko buku Ghalia Indonesia, Safar 1404 / November 1983 | Perancang kulit sampul Thilun S | Cetakan kedua, Zulhijjah 1405 / September 1985 | Skor: 3.5/5

Karawang, 281220 – Al Green – Let’s Stay Together

Thx Dede Hidayat, Bandung

Buku Panduan Kesusastraan Istimewa

Teori Kesusastraan by Rene Welleck & Austin Warren

Setiap kehidupan – walaupun tak ada artinya, jika diceritakan secara jujur, pasti akan menarik… Setiap sastrawan baru harus menciptakan citarasa baru untuk dinikmati publik.”Coleridge

Sastra adalah kegiatan kreatif, sebuah karya seni. Luar biasa. Book of the year. Seperti inilah sebuah teori harus ditulis. Detail, cocok buat kaum awam, akan merasuk pula untuk para expert. Terbagi dalam dua khazanah pendekatan utama: Pendekatan ekstrinsik yakni pendekatan yang mengait karya sastra dengan bidang lain (psikologi, masyarakat, biografi), dan instrinsik, yakni pendekatan dengan mengkhususkan diri pada unsur-unsur kritik sastra, teori, sejarah, sastra nasional, sastra perbandingan, dst. Bagi saya yang awam, ini sungguh mengasyikkan. Saking melimpahnya vitamin yang disajikan, say abaca perlahan, baca ulang di banyak bagian, takut terlewat, dan kalau sudah nemu buku semacam ini, jelas laik dikoleksi, dibaca ulang di lain hari, dijadikan rujukan. Jelas ini buku panduan kesusastraan yang istimewa.

Sastra boleh dibaca, dinikmati, ditelaah. Karya sastra tidak dapat ditelaah, diuraikan kekhasannya, dan dinilai tanpa dukungan prinsip kritik sastra. Makanya saya saat ini saya beli banyak buku yang berlabel ‘sastra’, termasuk tema kritiknya. Sebagai penikmat buku, mereview buku di blog memang menjadikan rutinitas. Namun sejujurnya saya tak menempuh pendidikan formal di bidang ini. Segalanya otodidak. Apresiasi, selera, dan antusiasme adalah urusan pribadi. Intuisi mengarah pada apreasiasi yang bersifat emosional, jelas lebih subjektif. Saya benar-benar menikmati kegiatan membaca, urusan ulasan terasa sebisanya, maka buku semacam ini sangat membantu, setidaknya dasarnya tahu. Contoh, yang perlu kita telaah adalah kekhasan Shakepeare, dan apa yang membuat Shakepeare menjadi Shakepeare, yang perlu digarisbawahi adalah tak ada karya yang 100% unik, kalau ada maka karya sastra itu tak akan dipahami sama sekali.

Menilik sejarah sastra memang akan mengantar kita menelaah jauh ke berbagai Negara. Semua pemerintahan modern membantu dan melindungi sastra negaranya masing-masing dalam tingkatan yang berbeda-beda. Perlindungan ini termasuk juga control dan pengawasan. Tangan pemerintah jelas juga menentukan ke arah mana sastra. Orde Baru misal, di masa itu kita terbelenggu secara militer dan terbatasi secara sosial, ini tentu membentuk jenis bacaan masyarakat. Kebenaran adalah wilayah para pemikir sistematis. Pengarang bukan pemikir, meskipun mereka bisa menjadi pemikir, kalau tidak ada karya pemikir lain yang dapat mereka pakai dalam karya sastra. *
Batasan sastra adalah segala yang tertulis atau tercetak, tapi karena luas maka batasan dipersempit menjadi segala yang tertulis lebih berkualitas, atau kritikus menulisnya mahakarya, buku-buku yang dianggap menonjol, karena bentuk dan ekspresinya istimewa, sastra sejatinya juga meliputi sastra lisan. Bahasa sastra penuh ambiguitas atau homonym, apa yang disampaikan tersirat. Bahasa sastra mencoba memengaruhi, membujuk, akhirnya mengubah sikap dan pandangan pembaca. Bahasa sastra penuh simbolisme suara, tanda dari kata-kata. Bahasalah yang memberi muatan puitis pada kata-kata yang digores pengarang.

Saya membaca senyaman mungkin tanpa banyak memusingkan telaah sebab memang intinya menikmati hidup. Keahlian membaca memang sangat diperlukan dan menjadi dasar untuk membudayakan apresiasi sastra dalam masyarakat, juga pilihan baca harus ke arah buku-buku bermutu. Pembaca novel paling picisan sekalipun haus akan pengetahuan. Dengan seringnya membaca, saya jadi lebih tahu mana buku berkualitas dan tidak.

Menghibur sama dengan tidak membosankan Lebih nyaman dan sering jelas jenis novel, sebab Puisi sifatnya lebih universal dan liar. Puisi semata-mata permainan bunyi dan citra. Makanya tiap tahun, bagian prosa yang terus saya kejar di penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK). Minatnya pada puisi tidak berdasarkan penilaian estetis, tapi selera pribadi, seperti halnya hobi main catur atau mengisi teka-teki silang.

Dokrin ‘seni untuk seni’ berkembang jika satrawan merasakan: ‘suatu kontradiksi yang sangat parah antara tujuan mereka dengan tujuan masyarakat. Seniman pasti bersikap bermusuhan terhadap masyarakatnya dan merasa tidak mungkin dapat mengubahnya.’Georgo Plekhanov. Perbedaan antara seni dan tidak seni sangat cair.

Jika kita memperlakukan sastra atau puisi secara serius, seharusnya ada fungsi atau manfaat sastra yang hanya cocok untuk sastra sendiri. Sastra dapat dijadikan sejarawan sebagai dokumen sosial. Manfaat dan keseriusan puisi terletak pada segi pengetahuan yang disampaikannya. Puisi lebih folosofis dari sejarah karena sejarah berkaitan dengan hal-hal yang telah terjadi, sedang puisi berkaitan dengan hal-hal yang umum dan mungkin terjadi. Puisi menjadi semacam barang kerajinan. Puisi memiliki banyak kemungkinan fungsi, fungsi utamanya adalah kesetiaan pada sifat-sifatnya sendiri.

Dulu saya sangat tertarik sama label ‘best seller’ sebab akan memengaruhi pergaulan literasi, bahwa saya update. Sekarang bukan kujadikan patokan utama. Jumlah cetakan suatu edisi buku dapat memberi gambaran tentang sukses atau reputasi pengarang, tapi tidak secara kualitas. Tere Liye tiap tahun panen, tak sebanding lurus sama mutu baca, contohnya. Manfaat kedua akan diperoleh jika fungsi utamanya habis. *
Perenungan yang diberikan seni lebih dahsyat dari perenungan yang dapat dilakukan sendiri oleh masing-masing penikmat seni Novelist tidak memiliki jalan pintas. Contoh penemuan nilai persepsi atau kualitas estetis baru. Setiap filsafat hidup tentu memiliki secercah kebenaran. Pengarang bukan penemu, tetapi pemasok kebenaran. Sebutan pembuat propaganda yang bertanggung jawab kedengarannya mengandung pertentangan, tetapi sebutan ini masuk akal jika dilihat sebagai suatu ketegangan antara dua kutub.

Jenis buku juga sangat berpengaruh dalam keputusan beli. Komik dan sejenisnya paling enggak minat punya, apalagi koleksi. Terlalu banyak ilustrasi memang terasa mengganggu, pengarang cukup memberi gambaran umum yang skeptis dan tak perlu detail. Memang selalu ada pengecualian, Winnie The Pooh salah satunya, novel dengan ilustrasi ciamik ini diperuntukkan untuk anak-anak, menawan orang dewasa. Tokoh novel muncul dari kalimat-kalimat yang mendeskripsikannya, dan kata-kata yang diletakkan di bibirnya oleh sang pengarang, di luar itu tokoh tidak memiliki masa lalu, masa depan, atau kontinuitas kehidupan.

Penilaian adalah hal yang penting, tidak dapat disanggah. Saya me-rate skor 0-5 bintang di blog ini. Walau terasa subjektif, sebab setiap orang jelas unik. Banyak faktor yang dipertimbangkan. Tidak ada satu data pun dalam sejarah sastra yang sepenuhnya netral. Sampai sekarang belum ditemukan metode kritik teks yang objektif. Perbedaan gaya pengarang pun sulit dilacak.
Fungsi sastra menurut sejumlah teoritikus, adalah untuk membebaskan pembaca dan penulisnya dari tekanan emosi. Emosi mereka sudah diberi fokus dalam karya sastra dan lepas pada akhir pengalaman estetis mereka sehingga mereka mendapatkan ‘ketenangan pikiran’.

Kita tak bisa membaca karya Homer atau karya Chaucer seperti orang membaca karya itu pada zaman ketika kedua pengarang itu masih hidup atau menjadi penonton Teater Dyonius di Athena atau Teater Globe di London. Pasti ada perbedaan besar antara rekontruksi imajinatif dan sudut pandang orang-orang yang betul-betul mengalami masa lampau. Makna baru dan interpretasi baru yang diberikan oleh generasi sesudahnya. Dalam praktiknya, kita sukar memilih antara sudut pandang sejarah dan sudut pandang kekinian. Kita perlu mengaitkan karya sastra dengan nilai zamannya dan nilai sesudah zamannya.

Di era digital, kita dengan lebih mudah terkoneksi sama pengarang. Satu-satunya alasan yang bisa diterima untuk tidak memelajari pengarang yang masih hidup adalah karena ilmuwan tidak dapat melihat keseluruhan karya si pengarang. Karena kita hidup sezaman dengan pengarang, kita mengenal latar tempat dan waktu yang diacu, kita dapat berkenalan langsung, membuat wawancara atau berhubungan melalui surat (email) dengan pengarang. Meskipun ada karya sastra yang erat kaitannya dengan kehidupan pengarangnya, ini bukti bahwa karya sastra merupakan fotokopi kehidupan. Penjelasan tentang kepribadian dan kehidupan pengarang adalah metode tertua dan paling mapan dalam studi sastra. Kita tak bisa menarik suatu kesimpulan yang absah dari pernyataan yang bersikap rekaan.

Hubungan karya dan hidup pengarang tidak dapat dijelaskan dengan pertalian sebab-akibat yang sederhana. Karya sastra membentuk satu kesatuan dan berada pada tingkatan yang berbeda. Karya sastra berbeda dengan buku memoar, buku harian, atau surat dalam kaitannya dengan kenyataan. Sebuah karya sastra lebih sebagai perwujudan mimpi si pengarang daripada hidupnya. Mungkin merupakan ‘topeng’, ‘pribadi berlawanan’ yang tersembunyi di balik pengarang. Dramatisasi.

Thomas Moore mengaku mencucurkan air mata ketika mengarang karya-karyanya. Puisi tetap hidup,sedangkan air mata dan perasaan penciptanya sudah lenyap – tak bisa dan tak perlu direkonstruksi. Sejak zaman Yunani, kejeniusan dianggap disebabkan oleh semacam ‘kegilaan’ dari tingkat neurotic sampai psikosis. Penyair adalah orang yang ‘kesurupan’. Penyair adalah pelamun yang diterima masyarakat. Ia tak perlu mengubah kepribadiannya, ia boleh meneruskan dan mempublikasi lamunannya.

Carl Jung berkata bahwa alam bawah sadar manusia – daerah masa lalu, masa kekanaak-kanak dan masa bayi yang tertekan ke bawah sadar – ada ‘kesadaran kolektif’, yakni daerah masa lalu umat manusia dan masa sebelum manusia ada. Proses kreatif meliputi seluruh tahapan, mulai dari dorongan bawah sadar yang melahirkan karya sastra sampai pada perbaikan terakhir yang dilakukan pengarang. Bagi sejumlah pengarang, justru bagian akhir ini merupakan tahapan yang paling kreatif.

Tiap periode memiliki konsepsi penilaian dan konversi sastra yang berbeda-beda. Setiap zaman merupakan satu kesatuan dengan tipe puisi yang khas, dan tak bisa dibandingkan dengan zaman lain. Aliran Klasik (diwakili Pope) dan aliran Romantik (diwakili Wordsworth), yang pertama membuat puisi yang menyatakan dan yang kedua membuat puisi yang menyiratkan. Kesusastraan bukan suatu seri karya yang unik dan tak punya kesamaan satu sama lain, dan bukan pula sejumlah karya yang terkurung lingkungan waktu seperti zaman Klasik atau Romantik.

Setiap karya seni yang ada tentu boleh disimak oleh siapa pun dan merupakan masalah artistik yang menarik untuk dipecahkan. Sastra lisan merupakan studi integral studi sastra tulisan. Karya seni adalah hasil dari penciptanya secara pribadi, jadi dalam hal ini sastra harus dipelajari melalui biografi dan psikologi pengarangnya.

Bagi seorang pelukis yang menggunakan teknik apa pun, setiap impresi juga dibentuk oleh hasil pelukisnya, karena pelukis belajar dari pengalaman yang tuntas. ‘Inspirasi’ adalah sebutan tradisional untuk faktor bawah sadar dalam proses penciptaan. Inspirasi dianggap datang tiba-tiba dan di luar control. Penggunaan malam hari (waktu kontemplasi, mimpi, dan alam bawah sadar) adalah tradisi Romantik. Tapi ada juga tradisi Romantik lain yang mengagungkan pagi hari (keseragam masa kanak-kanak) seperti mereka yang dapat menulis pada musim-musim tertentu.

Proses kreatif membutuhkan waktu, dan mayoritas mengata sabar adalah sebanding dengan mutu. Karya-karya sastra ini bukan studi psikologi atau eksposisi dari teori psikologi, melainkan drama atau melodrama. Kita dapat mengumpulkan informasi tentang latar belakang sosial, latar belakang keluarga, dan posisi ekonomi pengarang. Kita dapat menunjukkan apa peran kelompok bangsawan, kaum borjuis, dan kaum proletar dalam sejarah sastra.

Membicarakan tiap generasi, otomatis kita akan menjelaskan keadaan sosial di tiap masa. Sastrawan dipengaruhi dan memengaruhi masyarakat: seni tidak hanya meniru kehidupan, tetapi juga membentuknya. Banyak orang meniru gaya hidup tokoh-tokoh dunia rekaan. Bagaimana cara kita menentukan pengaruh sebuah buku terhadap pembacanya? Apakah pengaruh Dickens menyebabkan perbaikan keadaan penjara, sekolah anak laki-laki, dan asrama anak-anak miskin?

Sastra Eropa modern ditulis oleh kelompok kelas menengah karena kelompok bangsawan selalu mencari waktu bersantai, sedangkan baum kelas bawah hanya mempunyai kesempatan yang sangat terbatas untuk memperoleh pendidikan. Tenaga ahli yang terorganisasi dalam gilda-gilda puisi. Bertumbuhnya masyarakat pembaca, munculnya majalah resensi buku, membantu sastra menjadi institusi mandiri.

Tentang para tokoh sastra, saya jelas sangat terpengaruh. Anak pertama saya nukil dari artis Irlandia setelah terpesona menonton film berdasarkan novel klasik. Anak kedua, Hermione. Rasanya tak perlu kujelaskan apa dan bagaimana tokoh sihir dari London ini. Anak ketiga, pula kuambil dari tokoh fiktif kisah sihir karya Neil Gaiman.

Selain hubungan asosiasi kata dengan kata yang lain, ada juga asosiasi pikiran dengan objek. Secara sadar mengontrol masuknya imaji-imaji yang dalam reservoir (‘sumur’ alam bawah sadar). Semakin banyak dan berbeda-beda watak tokohnya, semakin tidak jelas sosok penulisnya. Yang kita dapatkan hanyalah sejumlah alternatif yang bisa menjelaskan mutu teks yang ditulis paling akhir.

Karya penyair tidak akan beredar kalau tidak secara langsung menyenangkan masyarakat. Anak-anak muda lebih langsung dan lebih mudah terpengaruh bacaan ketimbang orang tua dan bahwa pembaca yang kurang berpengalaman memperlakukan sastra secara lebih naïf.

Reputasi juga berkaitan dengan masalah tanggapan pembaca. Tanggapan pembaca dari satu periode diselidiki melalui sejumlah pernyataan resmi yang dianggap mewakili pendapat umum. Jadi masalah ‘selera yang berubah-ubah’ bersifat ‘sosial’, dan dapat diletakkan pada dasar sosiologi yang jelas. Hubungan karya dan publik tertentu dapat ditelusuri melalui sejumlah edisi dan buku yang terjual.

Sastra adalah gudang adat istiadat, buku sumber sejarah peradaban, terutama sejarah bangkit dan runtuhnya kesatuan. Saingan sastra adalah pengetahuan. Sastra memberikan pengetahuan dan filsafat. Sastra bisa dianggap lebih umum dari sejarah dan biografi, tapi lebih khusus dari psikologi dan sosiologi. E.M. Forster (Aspect of the Novel) mengatakan bahwa sedikit sekali orang yang kita kenal jalan pikiran dan motivasinya. Oleh karena itu, novel sangat berjasa mengungkapkan kehidupan batin tokoh-tokohnya.

Mungkin agak terlambat membaca ini, tapi tak pernah ada kata terlambat untuk mengejar karya-karya bermutu – baik fiksi atau non. Buku ini mengajarkan bahwa dasar sastra sangat perlu dipelajari untuk menjadi peng-kritik/penilai/pemberi ulasan buku sastra, sangat amat rekomendasi. Ya Allah, betapa saya cinta kesusastraan. Terima kasih untuk teori literasi ini. Bobot mutunya terjamin. Sebagai penyataan penutup, saya kutip dari Longitus, seorang kritikus sastra berpengaruh yang pernah menyusun peringkat sastra klasik pernah bilang, “Sastra terbuka untuk dinilai semua orang, tetapi ‘semua’ di sini dibatasi untuk ‘semua penilai yang kompeten.’”

Nah ‘kan! Mari membaca lebih banyak lagi biar kompeten. (

Teori Kesusastraan | by Rene Welleck & Austin Warren | Judul asli Theory of Literature | Harcourt Brace Jovanovich Publisher, San Diego, New York, London, 1977 | GM 616202050 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Februari 1898 | Cetakan keenam (cover baru), September 2016 | Penerjemah Melani Budianta | Desain sampul Suprianto | Pewajah isi Fitri Yuniar | ISBN 978-602-03-3428-8 | Skor: 5/5

Karawang, 111220 – 171220 – Yusuf Cat Steven Wild World (Live Festival de Vina 2015)

The Power of Sugestive

Mind and Body by William Atkinson

Bagi Hippocrates, “Alam adalah dokter dari semua penyakit.” Ambrose Pare menorehkan kata-kata ini di sekolah kedokteran Ecole de Medicine di Paris, “Je le ponsez et Dieu le guarit”, yang artinya, “Aku terluka, dan Tuhan yang menyembuhkan.”

Buku yang berisi cara-cara penyembuhan dengan pikiran, optimism dan segala hal pemainan mindset. Dari sejarah panjang pengobatan tradisional, benda-benda yang dijadikan perantara menyakinkan pasien, sampai adegan mistis di era modern yang tetap dimanfaatkan. Tubuh dan pikiran ada keterkaitan, itu jelas, tapi pengobatan dengan membuat pasien meyakini bahwa penyakitnya bisa disikat dengan kata-kata, terdengar aduhai. Terapi, konseling, coaching, sampai hal remeh temeh ngobrol curhat, bisa dilaksanakan. Segalanya mungkin, dan perlu mengeluarkan uneg-uneg. Teori muncul dan lenyap, tetapi fakta-fakta akan selalu ada.

Kondisi fisik adalah melulu pantulan dari keadaan mental. Kondisi mental memengaruhi kondisi fisik, sehingga kita melihat kondisi fisik akan memengaruhi keadaan kondisi mental. Adalah segi dari sesuatu yang lebih besar dari yang lain – kutub-kutub yang berlawanan dari Realitas yang sama. Pikiran sadar memiliki tiga kualitas kehendak, intelek, emosi, sementara pikiran bawah sadar memiliki kualitas sangat penting nutrisi, atau memelihara tubuh secara umum.

Iritasi batuk tidak memiliki penyebab mekanis, secara permanen dapat ditekan oleh kehendak. Dengan mempertimbangkan bermacam-macam kinerja yang dilakukan Pikiran Bawah Sadar, kita tidak boleh beranggapan bahwa pikiran ini terletak di otak, tetapi tersebar di seluruh tubuh secara fisik, ada di setiap sel, setiap organ, setiap otot, setiap saraf – di setiap bagian tubuh.

Intinya, penyembuhan bawah sadar itu sangat penting. Ada empat metode utama di buku ini: keyakinan, imajinasi, kepercayaan dan sugesti dan psikoterapi. Pikiran bawah sadar harus digunakan tanpa sadar, dengan kata lain, tak ada selain kekuatan mental bawah sadar yang dapat mengendalikan, memandu, dan menentukan fungsi organ tubuh. Tak ada bagian di tubuh manusia yang tidak menunjukkan adanya sel, semua sel ini intinya berada di tengah-tengah yang hidup seperti kuning telur. Saat seorang manusia sanggup mengontrol kehidupan dan kematian selnya, dia menjadi pencipta.

Berkali-kali menganggukkan kepala sebab sepakat sekali, terapi adalah dari dalam. Semua penyembuhan tubuh harus melibatkan penyembuhan sel, yaitu memulihkan sel yang aktivitas normal dan fungsi sel tersebut. Tubuh dapat dibandingkan dengan Negara komunis atau koloni sosialis, setiap anggota dengan riang mengabdikan hidup untuk bekerja, dan sering untuk hidupnya sendiri, serta untuk kebaikan bersama. Sel otak tentu saja yang paling terorganisasi, dan yang paling sangat dibedakan.

Kebetulan di kantor ada sesi terapi, ada metode untuk menyembuhkan karyawan yang sakit, tak hanya mental kadang yang sakit fisik-pun kita terapi. Maaf bukan kita, tapi atasan kita yang memiliki sertifikat terapis. Tak kala tubuh dipenuhi dengan zat gizi, sistem secara umum akan berkembang dengan baik, dan pikiran akan aktif, pekerjaan perbaikan akan berlangsung dengan cepat. Ungkapan dalam kedokteran adalah vis vita atau vis medicatrix nature artinya ‘kekuatan alami penyembuhan’, upaya ampuh dalam penyembuhan penyakit jika dilakukan sebagai mana mestinya.

Saya sendiri sering menjadi coach, atau konsultan untuk meningkatkan kinerja karyawan. Ekperimen-ekperimen biologi menunjukkan bahwa sel-sel mampu mengalami kejutan, kesenangan, dan rasa takut. Mereka juga mengalami derajat perasaan yang berbeda, dan bereaksi ketika menanggapi rangsangan. Professor Bascom berpendapat, “Kehidupan bukan paksaan; ia adalah gabungan kekuatan. Kehidupan adalah produk dari kehidupan pikiran. Sejauh mana pikiran bisa dimanfaatkan sebagai penyebab gerakan yang memiliki tujuan pada organisme adalah persoalan yang sulit dijawab…”

Setiap konseling, karyawan selalu kuajak ngobrol dengan solusi kembali ke karyawan sendiri. Terutama karyawan yang memiliki absen banyak, sering sakit dan izin ke klinik. Penyakit adalah kegagalan sel-sel dalam mengelola zat buangan mereka, atau melaksanakan tugas mereka sepenuhnya. “Perbaikan sel adalah proses intelektual… sel bukanlah mesin belaka, melainkan sebuah entitas yang hidup, melakukan segala sesuatu yang tidak dilakukan tubuh… ini adalah proses intelektual yang dilakukan secara tak sadar.”

Carpenter bilang, “Konvertibilitas kekuatan fisik dan korelasinya dengan alat vital berkat adanya hubungan antara aktivitas mental, dan aktivitas fisik yang rumit sulit untuk dianalisis, seluruhnya mengarah pada satu kesimpulan – sumber dari segenap kekuatan pikiran. Kesimpulan secara fisik adalah puncak piramida yang memiliki landasan dalam naluri primitif manusia.”

Komunitas besar ini, atau bangsa sel ini, dibagi menjadi banyak komunitas kecil, di antaranya merupakan organ utama tubuh, semisal perut, usus, hati, ginjal, limpa, dan lain-lain. Semuanya dapat berjalan sesuai dengan aturan umum, masing-masing organ koloni ini memiliki ‘pikiran kolektif’, yaitu pikiran koloni besar yang dikenal sebagai Pikiran Bawah Sadar.

Proses penyembuhan dengan menggunakan Sugesti atau Penyembuhan dengan keyakinan. Yang terjadi adalah terapis memperbaiki ide dalam pikiran pasien dengan memberinya sugesti. Sugesti adalah manifestasi asas operasi universal dalam segala bentuk penyembuhan mental, di bawah kedok apa pun, yang bisa disajikan dengan penerapan metode apa pun. Sejauh ini kita akan melihat bahwa teori-teori metafisikan, kepercayaan-kepercayaan, dan dogma-dogma khusus hanyalah topeng lahiriah sugesti. Dokter John Hunter mengatakan, “Keadaan pikiran mampi menghasilkan penyakit, sedangkan keadaan yang lain adalah hasil dari efek obat.”

Dr. Murphy mengatakan bahwa ‘vitalitas’ atau ‘kekuatan vital’ hanyalah aksi dari Pikiran Bawah Sadar yang beroperasi melalui sistem simpatetik, organ pikiran, dan sel pikiran. Semua energi vital, pada akhirnya adalah energi mental. Kesehatan adalah hasil dari fungsi normal dari Pikiran Bawah Sadar, begitu juga penyakit akibat fungsi abnormal. Kekuatan penyembuhan sejati harus datang sendiri melalui Pikiran Bawah Sadar, walau dapat dirangsang, dibangun, dan diarahkan oleh pelbagai kekuatan luar.

Sejujurnya banyak nama asing di buku ini, atau malahan nyaris semua asing. Kutipan dari para dokter atau professor di bidang kesehatan sangat dominan dan banyak sekali dibicarakan. Di mulai dari masa lampau sampai update di abad 20. Sedikit orang bisa dipengaruhi oleh emosi kuat, yang lain sangat dipengaruhi oleh emosi yang lemah. Itu sebabnya, harus selalu ada perbedaan besar dalam hasil metode penyembuhan melalui keyakinan iman. Penyakit yang paling bisa menerima iman menyembuhkan rasa gugup.

Mesmer menyatakan bahwa di Alam ada gaya magnet universal yang memiliki efek terapi yang kuat jika diterapkan secara benar, bahwa magnet yang universal tersebut dapat mengalir dari besi ke tubuh pasien, dia menyebutnya cara ‘magnetisme makhluk.’ Zaman itu disebut zaman Mesmerisme, lalu muncul Hipnotisme modern yang diprakarsai oleh Franz Anton Mesmer, salah satu muridnya. Hipnotis sejatinya hanya perlu menghadirkan keadaan mental ‘perhatian yang mengandung harapan’ ke tubuh pasien. Lalu muncul Terapeutik Sugestif, “Ini semua soal sugesti, pasien-pasien saya disugesti untuk tidur, dan penyakit mereka disugesti untuk keluar. Ini sangat sederhana, sesudah Anda memahami hukum-hukum sugesti.” Kata dokter Liebault.

Dr. Haygarth di London mengajukan gagasan bahwa kehebatan sebenarnya metode penyembuhan ini terletak pada pikiran, kepercayaan dan imajinasi si pasien, bukan terletak pada traktor besi (media). Kesembuhan adalah hasil dari keadaan mental yang diproduksi oleh pasien, bukan kualitas logam peralatan.

Dalam proses penyembuhan penyakit, ada pengaruh tindakan dari keadaan mental harapan, iman, dan imajinasi pasien, terlepas dari setiap kebajikan yang terkandung dalam metode atau sistem itu sendiri. Singkatnya, semua obat ini termasuk kategori keyakinan yang menyembuhkan. Seluruh tubuh terdiri dari konfederasi entitas cerdas, masing-masing melakukan fungsi dengan kecerdasan yang persis disesuaikan dengan pelaksanaan tugas khusus sebagai anggota konfederasi tersebut.

Dr. Tuke menyimpulkan, “Pemikiran kuat diarahkan ke tiap bagian yang cenderung meningkatkan ke arah vaskulariasi, dan berdampak pada sensibilitas.” Kepribadian dokter serta sikap dan minat pasien jauh lebih ampuh ketimbang obat-obatan. Dunia tak akan kekurangan omong kosong.

Fakta bahwa pencernaan seseorang akan terluka atau sakit setelah dia menerima kabar buruk, dan langsung kehilangan nafsu makan. Proses kinerja tubuh terhambat, dan seluruh sistem di dalam tubuh merasakan efek impuls gelombang mental dan spiritual menyedihkan yang bisa menurunkan suhu tubuh vital. Kabar buruk tidak hanya menghambat fungsi pencernaan, tapi juga menghambat pembentukan sekresi pada pencernaan. Kabar buruk mendadak bisa melumpuhkan organ jantung di luar pemulihan, sedang berita menyenangkan, menenangkan, dan tak menghentak bisa menggairahkan sistem granular secara keseluruhan, meningkatkan sekresi, membantu pencernaan, mengirim getaran gembira untuk sensorium (pusat sensasi).

Dr F. W. Southworth mengatakan, “Ketakutan adalah penyakit menular dan kadang-kadang memantul dari pikiran ke pikiran yang lain dengan kecepatan tinggi…” Emosi bahagia yang menyenangkan, menghasilkan senyawa kimia bergizi yang dapat merangsang sel untuk menghasilkan energi.

Sir George Pager, M.D. menyatakan, “Dalam banyak kasus, saya melihat alasan-alasan untuk percaya bahwa kanker berasal dari kecemasan yang berlarut-larut.”

Kuselesaikan baca Jumat pagi (11/12/20) saat cuti mau servis mobil, buku ini kubaca santuy di sela bacaan lain yang lebih berat. Kukira akan mengupas kekuatan pikiran dan tata caranya, ternyata lebih banyak menyodorkan data-fakta, dan kutipan para penyembuh. Memang tak tinggi ekspektasi, tapi tetap saja sajiannya terlampau melimpah kutipan tak bagus. Buku pertama berlabel ‘Greatest Self-Improvemnet Books Series’ yang kulahap, buku kedua terbitan Bright bersampul putih yang kunikmati, yang pertama isinya pure kutipan para penulis dunia yang kusebut sebagai buku terburuk tahun lalu.

Kukira buku ini akan berisi mindset dan seluk beluk koneksi fisik dan mental. Ternyata lebih banyak pola dan metode penyembuhan penyakit. Kesimpulannya adalah, ada rantai tak berujung berupa aksi dan reaksi antara Pikiran dan Tubuh – antara Tubuh dan Pikiran. Melankolia berasal dari bahasa Yunani yang berarti ‘empedu hitam’, dan histeria berarti ‘rahim atau saluran rahim’. Profesor Halleck, “Pikiran sepenuhnya tergantung pada sistem syaraf, seperi halnya tanaman tergantung pada matahari, hujan, dan udara…”

Saya mungkin tak sampai bisa menerapi orang dengan membuatnya terlelap sebab saya lebih banyak konseling, ngobrol sama karyawan. Namun inti buku ini memang kekuatan mental. Melakukan terapi dengan menempatkan orang yang sakit dengan cara memanipulasi orang tersebut ke dalam tidur buatan.

Menguap diproduksi oleh gagasan murni tentang kelelahan, nah kuy. Mari ngopi, yang penting hepi.

>.<

Mind and Body: Bagaimana Menyeimbangkan Pikiran dan Tubuh | by William Atkinson | Penerjemah Sushela M. Nur | Penyunting Zulkarnaen Ishak | Penyelaras akhir Reddy Suzayzt | Tata letak Werdiantoro | Ilustrasi sampul Sekar Bestari | Perancang sampul Katalika Project | Penerbit Bright Publisher | Cetakan I, 2020 | ISBN 978-623-7778-08-0 | x + 134 hlm.; 13.5 x 20 cm | Skor: 3.5/5

Karawang, 161220 – Celine Dion – The Power of Love

Thx to CHR Indf

Pedoman Dasar Kantian

Dasar-Dasar Filsafat Moral by HB Acton

Jika A sayang kepada B hanya agar B sayang padanya, A sebenarnya tidak sayang pada B tetapi mencari sebuah persetujuan. Cinta bukan demi dirinya sendiri.”

Orang bertindak secara rasional jika orang itu semata-mata mengikuti perintah yang dibuat untuknya. Buku yang padat sekali, tipis tapi saking padat ilmunya (pusingnya juga) sampai terengah-engah, buku bagus memang harus seperti ini, ditelusur sebab-akibat, detail teori moral yang walaupun njelimet dan perlu baca berulang di beberapa bagian, akan sangat berguna sebagai pegangan. Kant hidup, mengajar dan menulis dalam sebuah gerakan intelektual yang disebut sebagai Zaman Pencerahan, yang mungkin dimulai akhir abad ke-17 dengan munculnya tulisan-tulisan yang menyeru pada toleransi agama dan munculnya keraguan terhadap dogma-dogma Kristen.

Nama Kant memang sudah jadi legenda, seorang yang kaku dan ikuti kata hati. Kant adalah orang yang kaku (regoris) karena ia berpikir bahwa klaim atas kewajiban selalu bersifat mutlak berlawanan dengan kecenderungan-kecenderungan dan berlawanan dengan ideal-ideal yang melanggar Hukum Moral. Dia kaku juga di bagian aturan tidak ada pengecualian apa pun pada aturan-aturan moral dasar. Tak memberikan bobot yang seharusnya pada situasi, misalnya. *
Sebelum baca ini, saya hanya baca beberapa kutipan dari buku lain atau sosmed. Otak Pemikir Kant adalah Mr. Olympia dalam semesta para intelektual. Seorang yang berpendapat bahwa cuma kitalah (sejauh yang kita tahu) yang sungguh mampu menyetir kehidupan. Baik Tuhan maupun jiwa yang tak berwujud tak bisa kita ketahui secara ilmiah, tetapi keduanya merupakan kemungkinan-kemungkinan.

Wolff menerima pandangan Stoic bahwa kesempurnaan dapat dicapai dengan bertindak sesuai alam, dan kebahagiaan merupakan buah dari melakukan tindakan itu, tapi kebahagiaan itu sendiri bukan merupakan tujuan tindakan moral. Manusia tidak puas dengan hanya menjadi bahagia semata. Lebih dari itu, manusia ingin berhak untuk menjadi bahagia, dan menganggap diri mereka tunduk pada hukum moral yang melepas dari hasrat-hasrat, yang terlah ditunjukkan dalam pengalaman mereka.

Hukum moral dikatakan ‘murni’, yaitu tidak berisi gagasan-gagasan yang didasarkan pada pengalaman tentang bagaimana sesuatu itu ada, seperti ‘adalah tidak berhati-hati orang yang pelupa’ – banyak orang pelupa malahan bekerja dengan baik. Dalam hukum moral dikatakan a priori, yakni ia tidak diturunkan dari pengalaman kita tentang apa yang cenderung membuat kita bahagia atau tidak. Hukum moral bersifat a priori dan murni, diketahui terlepas dari pengalaman dan tak berisi konsep-konsep yang ditarik dari pengalaman.

Saya jadi ingat sebuah kutipan terkemuka yang kubaca di bukunya Freud, yang bilang bahwa tindak kita mungkin memang tampak tunduk, tapi pertahankan pikiran merdeka! Haha… hebat, gila, tapi ada benarnya. Motif tindakan ada tiga: motif memenuhi perintah a priori dari akal budi yang diungkapkan dalam hukum moral, memuaskan hasrat sebanyak mungkin sehingga mendapat kebahagiaan dalam diri sendiri, dan motif melengkapi hasrat atau kecenderungan irrasional. Jika tindakan itu digerakkan oleh cinta atau benci terhadap seseorang, berarti tindakan itu digerakkan oleh, dalam terminologi Kant, ‘kecenderungan’, dan tindakan ini tidak rasional sama sekali. Fontenelle berkata, saya menunduk di depan seseorang yang sedang berdiri, tetapi pikiran saya tidak menunduk.

Karena hukum logika tidak diketemukan memalui observasi dan eksperimen tetapi diakui menjadi kebenaran yang niscaya, maka menurut Kant, hukum moralitas niscaya sahih, sementara berbagai aturan untuk mencapai kebahagiaan dapat berbeda seandainya manusia dan dunia menjadi berbeda.

Apa yang hendak kita lakukan adalah membantu satu sama lain, dan mencoba untuk membantu bahkan musuh-musuh kita. Terlibat dalam tindakan-tindakan kedermawanan dan kemurahhatian. Kewajiban bermurah hati, menurut Kant bukan masalah perasaan, tapi dilakukan di bawah bimbingan kehendak rasional. Kecenderungan, entah baik entah buruk, itu buta dan memperbudak, dan ketika moralitas dibicarakan, akal budi tidak harus berperan sebagai penjaga kecenderungan semata. Segala sesuatu yang dilakukan manusia pada dasarnya tunduk pada penjelasan ilmiah dalam hubungannya dengan sebab-sebab ilmiah. Demikianlah manusia tampak di hadapan seorang pengamat.

Nilai suatu tindakan tidak berasal dari akibat yang ditimbulkannya, tetapi dari apa yang dinamakan Kant, ‘maksim’ yaitu semacam tindakan yang dikehendaki dan diniatkan oleh pelaku. Tindakan yang diniatkan baik secara moral adalah tindakan yang keluar ‘karena kewajiban’. Tindakan ini memiliki ‘nilai dalam’ (inner worth). Di antara orang-orang yang berperadaban nilai moral sebuah tindakan lebih bergantung pada nilai ketimbang pada apa yang menjadi hasil akhir ketika tindakan dengan niat baik atau tindakan dengan niat benar-benar dilakukan.

Penghormatan (reverence/respect/achtung), sebuah perasaan yang dimiliki oleh makhluk rasional yang sadar akan hukum moral. Imperaktif-imperaktif Hipotesis terdiri dari ‘keharusan’ (oughts) atau ‘kewajiban’ (obligations) atau ‘keniscayaan’ (necessitations) yang bukan merupakan ‘tugas’ (duties) dan moral. Dibagi dua: Peraturan Keahlian (Rules of skill), dan Nasihat Bijaksana (Counsels/ Recommendations of Prudence).

Setiap orang dapat mengadopsi maksim tentang menyentuh kepalanya paling tidak sekali dalam sehari tidak dapat disimpulkan bahwa ada kewajiban moral untuk melakukannya, bahwa maksim-maksim yang bertentangan dengan hukum moral tidak dapat diuniversalkan.

Jika tidak ada seorang pun yang sayang kepada siapa pun tanpa menuntut kasih sayang balik, tidak ada orang yang sayang sama sekali, karena kasih sayang adalah kemauan memberi tanpa menuntut balasan.

Maksim adalah prinsip subjektif tindakan. Maksim adalah kepunyaanku atau kepunyaannya, hukum berlaku untuk setiap orang. Maksim kepentingan-diri sebagaimana yang dinyatakan dan diuniversalkan, mengantar menuju kontradiksi-diri, atau akan menghasilkan sebuah bentuk masyarakat yang kurang lebih tidak dapat diterima oleh makhluk manusia yang berpikir dan merasa. Nilai moral sebuah tindakan tergantung pada niat dari orang yang melakukan tindakan itu, tindakan itu mempunyai nilai moral jika hanya tindakan itu dilakukan ‘karena kewajiban’.

Sebuah tindakan bisa sesuai dengan kewajiban jika dilakukan karena takut akan hukuman atau dengan maksud demi keuntungan orang lain, tetapi tindakan itu tidak mempunyai nilai moral. Hukum dikatakan murni jika ia tidak berisi konsep-konsep empiris. Adapun hukum moral yang mengharamkan tindakan membunuh dan mencuri berisi konsep empiris.

Akal budi memberi pedoman antara tipe-tipe hasrat dan tindakan, karena akal budi melarang hasrat dan tindakan yang tidak dikehendaki oleh setiap orang dan menghendaki dilakukannya kewajiban-kewajiban pemenuhan janji, kedermawanan, dan lain-lain. Orang-orang yang melakukan pekerjaan sukarela tidak bertindak sebagaimana orang-orang yang rasional yang mempunyai kepentingan-diri jika mereka tidak berlaku lebih dari sekadar menghubungkan keuntungan-keuntungan (mungkin, mungkin dalam kehormatan sosial atau kepuasan hasrat mereka akan kekuasaan).

Ketika ketidaktaatan hukum menimbulkan hukuman, maka bisa jadi orang yang menaati hukum itu dalam rangka menghindari hukuman. Dalam kasus ini motivasinya adalah keselamatan atau kenikmatannya sendiri, dan dengan demikian, tindakannya itu, meskipun legal, tidak baik secara moral sebab tindakan itu sesuai dengan kewajiban tetapi tidak dikerjakan demi kewajiban. Oleh karena itu, ketaatan terhadap hukum moral adalah ketaatan demi hukum, dan bukan karena ketakutan, yang dilakukan dengan bebas. Maka ditegaskan, hukum moral adalah ‘hukum kebebasan’, menaati Tuhan karena takut neraka atau demi mendapat surga bukanlah bertindak secara moral sama sekali. Orang yang bertindak karena kewajiban, berarti melakukan apa yang dianggapnya masuk akal. Apa yang masuk akal bukan semata-mata apa yang memajukan kepentingan orang itu sendiri tetapi apa yang akan membawa tindakannya ke dalam keharmonisan dengan tindakan-tindakan yang dilakukan orang lain sepanjang hidup tindakan-tindakan itu masuk akal juga.

Kant mengajukan argumentasi bahwa tidak ada bukti-bukti teoritis yang dapat diberikan untuk menunjukkan bahwa Tuhan itu ada, bahwa kehendak itu bebas dan bahwa jiwa itu abadi, tapi bahwa hal ini tidak dapat dibuktikan juga tidak mungkin. Pengetahuan empiris tentang Tuhan, kebebasan, dan imortalitas, karena semua itu melampaui segala sesuatu yang tampak oleh indera. Ini bersifat super-natural dan problematik.

Utilitarian berargumen bahwa prinsip tertinggi moralitas adalah peningkatan kebahagiaan semua manusia, dan bahwa ini merupakan sesuatu yang menjadi kepedulian bagi setiap orang kecuali idiot dan psikopat.

Hukum Moral itu a priori, maksudnya tidak hanya bahwa hukum itu ditulis oleh kita untuk kita semua – walaupun ini merupakan bagian apa yang Kant maksudkan – tetapi juga bahwa akan menjadi tidak rasional untuk tidak melakukan demikian.

Kesimpulan akhir bisa jadi ditarik lebih sederhana: Kita diberi nasihat untuk memperhatikan kesehatan kita, bersahaja dalam segala hal, ramah secara wajar, dll. Kewajiban dan kehendak baik merupakan dasar moralitas. Kehendak baik yang merupakan sesuatu yang esensial dalam tindakan moral bukan harapan semata tetapi ‘kumpulan dari semua sarana sejauh sarana tersebut berada dalam kekuasan kita’. Jika tindakan merupakan buah dari hasrat-hasrat, akal budi tidak akan memungkinkan kita untuk memutuskan tindakan-tindakan yang harus dilakukan.

Beruntung saya mendapatkan, menikmati, membaca buku tipis ini. Setidaknya pemikiran dasar kaum Kantian teraba, teori-teori Kant kuketahui, walaupun hanya kulitnya saja sebab buku asli beliau belum satupun kulahap. Dalam moralitas ada juga unsur perasaan dan emosi. Yah, setiap tindakan kita tak ada yang kebetulan, semua digerakkan sebuah tangan yang otak perintahnya dalam kepala. Kehendak baik yang disetujui secara moral oleh orang pada umumnya adalah kehendak rasional, akal budi praktis yang murni a priori. Dinantikan terjemahan Indonesia buku-buku asli Kant sebanyak mungkin, biar revolusi mental yang jadi cita-cita bangsa ini terwujud, banyak membaca buku tentang moralitas.

Hukum Moral berlaku bagi siapa pun, setiap tempat dan waktu. Semoga kita semua dalam jiwa yang merdeka. Allahu akbar!

Dasar-Dasar Filsafat Moral: Elaborasi Terhadap Pemikiran Etika Emmanuel Kant | by HB Acton | Diterjemahkan dari Kant’s Moral Philosophy | Library of Congress catalog card No. 71-108405, Macmillan and Co Ltd, 1970 | Penerbit Pustaka Eureka | Cet. Pertama: Juni 2003 | Penerjemah Muhammad Hardani | Penyunting Sufyanto | Desain cober Rano | ISBIN: 979-95412-6-3 | Skor: 4.5/5

Karawang, 101220 – Roxette – Spending My Time

Thx to Buku Vide, Yogyakarya

Buku-buku Kant: Critique of Judgment (1790), Critique of Pure Reason (1781), Critique of Practical Reason (1788), Groundwork of the Metaphysic of Morals (1785), The Metaphysic of Morals (1797).

Cekam dalam Sunyi

Jenazah Lazarus by Dorothy Scarborough, Ph. D

Aku mencari ke mana-mana untuk membuktikan realitas, hingga akhirnya aku mengerti bahwa standar realitas telah berubah…”

Kompilasi kisah misteri dari berbagai penulis terkemuka dunia. Para hantu adalah makhluk abadi sejati, di mana yang mati ‘dihidupkan’ sepanjang masa. Hantu-hantu memiliki vitalitas yang lebih besar pada masa kini daripada sebelumnya. Semakin hari semakin banyak, semakin variatif bentuknya. Para hantu yang menyatroni kesusastraan, dan akan selalu seperti itu. Seolah para hantu tak pernah habis atau mati.

Semakin manusia mengenal hukum alam, semakin tekunlah manusia mencari tahu masalah supranatural. Bisa saja mengklaim tak percaya takhayul, tapi tak benar-benar meninggalkannya. Sekalipun telah meninggalkan dunia sihir dan alkimia, ia masih memiliki waktu yang melimpah dalam penelitian yang bersifat psikis. Bahkan hantu orang yang begitu lama terlupakan menguap, merenggangkan tulang belulang, dan pergi dari kuburnya untuk menakuti.

Kita menyebutnya hantu modern, semakin rumit jenisnya. Dulu mana ada hantu suster ngesot? Atau hantu panggilan telepon? Salah dua jenis hantu yang muncul dekade 2000-an, hantu-hantu baru yang lebih demokratis, sehingga memiliki ketertarikan dan bersinggungan dengan manusia. Pada dasarnya efisiensi neraka dan ilmu pengetahuan merupakan teror terburuk yang menjadi momok. Ilmu pengetahuan sendiri merupakan hal supranatural, gaib dan perlu telusur lebih dalam.

Hantu-hantu masa kini memiliki ketertarikan aktif bukan hanya dalam masalah publik, tapi juga seni. Para penulis selalu mengambil keuntungan dari keyakinan bahwa hantu tidak bisa membalas menulis, belakangan mereka mengembangkan tulisan yang lebih menggigit. Kehadiran sosok hantu yang tidak terlihat oleh jauh lebih mengerikan dari hantu yang bisa dilihat dan berusaha menghindar.

#1. Pepohonan WillowAlgernon Blackwood

Salah satu dari kami melakukan ini, dan pastinya itu bukan aku.”

Pembuka yang ngeri, tak ada hantu di sini, hanya angin mendesis, gesekan dengan daun-daun, di pulau terpencil, pesisir sungai, dua orang mendayung dalam perahu cekam. Mengerikan, bikin merinding. Sampai-sampai saya kerjap mata berkali-kali dalam setiap lembarnya. Horor yang bagus memang harus seperti ini, sungguh mengintimidasi. Tawaran cekam tak perlu bombastis, hanya dua orang bermalam dalam kesunyian. Desis hawa dingin, udara membelai nyiur pohon-pohon willow! Cerpen terbaik ada di mula. Melihat kano dibalik di samping tenda, ketika bangun tidur saja sudah paranoid. Aku segera memandang ke sekitarku, suatu pandangan ketakutan yang mendekati rasa panik, sia-sia memperhitungkan cara untuk lolos.

Sebuah sungai yang meluap, mungkin selalu menunjukkan sesuatu yang tidak menyenangkan. Dua orang naik perahu, menyusuri sungai di hutan asing, saling curiga, saling tak percaya, ada makhluk tak kasat mata memantau, menyenggol, menghantui mereka. Penyibakan rahasia alam yang besar, tentu saja, selalu mengesankan dan tidak aneh dengan perasaan seperti itu.

Suatu dunia yang asing, suatu dunia yang hanya dihuni pepohonan willow dan jiwa-jiwa pohon willow. Mereka selalu berbicara sendiri, tertawa kecil, menjerit melengking, kadang kala menghela napas… Pembagian dunia di sini begitu tipis sehingga entah bagaimana ia bisa bocor. Pohon-pohon willow besenandung, karena di sini pohon willow menjadi simbol dan kekuatan yang melawan kita.

Ketakutan yang merasuki adalah ketakutan besar yang belum pernah kukenali atau pernah kurasakan sebelumnya, yang menimbulkan rasa ngeri dan bertanya-tanya dalam diriku mengenai bagaimana cara menghadapi efek buruknya. Lebih bijaklah kalau kita tidak membicarakannya, atau bahkan memikirkannya, karena apa yang dipikirkan akan terucap, dan apa yang terungkap akan terjadi.

Kesepian di tempat kemah di Danube, dapatkah aku melupakannya?

Seluruh pengalaman yang pinggirannya kami sentuh ini sama sekali tidak dikenal umat manusia, ini suatu pengalaman yang baru, dan memang menakutkan. Satu-satunya peluang kita adalah bersikap setenang mungkin. Keremehan diri kita mungkin menyelamatkan kita. Kita harus menjaga pikiran kita tetap tenang. Pikiran kitalah yang mereka rasakan. Kita harus mengontrol pikiran kita, atau semuanya berakhir.

Kita berkemah di sebuah titik di mana wilayah mereka menyentuh kita, di mana tirai di antara kita semakin tipis. Menakutkan! Pepohonan willow menyembunyikan yang lain, tetapi yang lain itu merasakan keberadaan kita. Jika kita membiarkan pikiran kita membukakan rasa takut kita, kita akan habis. Benar-benar habis. Pikiran kita naik ke dunia mereka. Kita harus membuat mereka tidak bisa membaca pikiran kita sama sekali jika memungkinkan.

Bagian cekam itu hanya berupa narasi, penggambaran lingkungan di keterasingan. “Kami berbaring di sana, menjaga api tetap hidup, berbicara tanpa tentu arahnya, mengamati kerimbunan semak pepohonan willow di sekeliling kami, mendengarkan deru angin dan sungai, keterpencilan tempat ini benar-benar meliputi diri kami, dan keheningannya terlihat alami, karena bisikan suara kami menjadi sedikit tidak nyata dan dipaksakan…”

#2. Bayangan di DindingMary E. Wilkins Freeman

Kisah yang lebih biasa. Kematian saudara yang memunculkan bayangan di dinding, semacam arwah. Lalu mengajak saudara yang lain untuk menyatu dalam bayang. Berdua lebih baik. Edward lebih dulu, dan saudara-saudaranya menjadi saksi bayangan, Henry menyusul. Kata-katanya didektekan oleh ketakutan, ketakutan yang telah begitu lama ia lawan, tetapi akhirnya mencengkramnya juga.

#3. Si Pembawa PesanRobert W. Chambers

Itu pertanda buruk, kau tahu pepatah Morbihan, ‘Saat burung laut berpaling dari laut, kematian tertawa di hutan, dan penduduk hutan yang bijak membuat perahu.” Rada ambigu, sebab narasinya sering melompat kaget. Buku kronik Jacques Sorgue tergeletak di atas meja, sudah membuat ngeri, ngengat kepala tengkorak merayap di atas permadani manjadi saksi kemunculan hantu lama, menuntut balas keturunan. “Kematian adalah anugerah Tuhan. Aku tidak takut kematian saat kita bertemu, namun sendirian, oh suamiku, aku takut Tuhan akan mengambilmu dariku.”

#4. LazarusLeonid Andreyev

Dalam hidup ini ada kehidupan dan keindahan; di luarnya,… kematian, yang merupakan teka-teki.” Orang yang secara ajaib dibangkitkan dari kematian. Sebagai kisah yang dipilih sebagai judul, ceritanya rada aneh. Lazarus yang sudah mati, bangkit lagi. tak seperti Lazarus semasa masih hidup yang ceria, periang, dan suka menolong, senang tertawa dan melontarkan lelucon, Lazarus yang bangkit dari kematian ini linglung dan agak limbung. Orang-orang kabur, dan takut atas tingkah lakunya. Hal yang wajar sebab manusia yang sudah pernah mengunjungi alam kubur ini tampak mengerikan, tiga hari tiga malam berada di kuasa maut yang penuh misteri. Lautan seperti suatu padang belantara, dan kedalamannya bisu dan kosong.

Jika kau berbohong, dan aku benci kebohonganmu, dan jika kau mengatakan kebenaran, aku benci kebenaranmu. Kalah, tetapi tidak tertaklukkan.

#5. Monster Berjari Lima W. F. Harvey

Tentang Adrian Borlsover, pria mengagumkan di masa hidup yang menjadi legenda setelah kematiannya. Ahli perabukan anggrek dan mati dalam tua. Hobinya dalam botani, kehilangan pengelihatan, dan rabaan jemarinya lalu menjelma semacam ‘hantu’ sebab wasiatnya meminta tangannya dibalsem, diawetkan. Cahaya bulan dan ranting-rantingnyalah yang membuat gambaran ini terbayang dalam imajinasiku.

Ponakannya Eustace Borlsover dan saudara lainnya yang mendapati warisan rumah berserta isinya lalu dicekam teror, tangan merayap seolah ada yang belum tuntas di masa hidupnya. Dan benar saja, sebuah sulut api di perapian menghabisi ketamakan manusia. Berhubungan dengan pikiran, dan semakin sedikit kita memikirkannya semakin besarlah kesempatan kita untuk lolos. Di atas segalanya, jangan berpikir, apa pun yang menurutmu akan terjadi.

#6. Misa BayanganAnatole France

Kisah dalam kisah. Catherine Fontaine, si perawan tua dan legenda kekasih di masa lalu. “Sepanjang hidupnya bekerja sebagai penggali makam, dia memiliki watak yang menyenangkan, tentunya hasil daro pekerjaan yang dijalaninya, karena sering kali dikatakan bahwa orang yang bekerja di pemakaman memiliki sikap periang.”

Aku tahu bahwa mereka biasa kembali pada apa yang mereka kasihi.

#7. Apa Itu?Fitz-James O’Brien

Ini kisah dendam juga, rumah tua yang dianggap angker sulit dijual sebab dikata ada hantu yang menunggu. Kebahagiaan spiritual yang tak terbayangkan, yang tidak akan kuserahkan demi takhta sekalipun. Dalam spekulasi sura, akhirnya memang ditempati, pelayan mereka tak betah, akhirnya resign. Dan malam duel yang aneh. Hammond yang sungguh lelah. “Dan kau, semoga bermimpi bertemu dengan hantu setan, dan penyihir.”

Hal seperti itu tidak pernah terjadi sejak dunia diciptakan.

#8. Jari Tengah Kaki KananAmbrose Bierce

Duel Dalam Gelap. Ini juga tentang rumha tua Manton berhantu. Memang harus berhati-hati dalam berkata, “Aku tidak takut akan apa pun.” Jelas terdengar sombong. Dalam petarung di gelap malam, ada sosok lain yang membantu. Endingnya keren, satu kalimat yang jreng mengungkap sebuah dendam: ‘Gertrude adalah nama almarhumah Nyonya Manton, saudari Tuan Brewer.’

#9. Cangkang PerasaanOlivia Howard Dunbar

Hidup begitu ringan dan menyenangkan tanpa emosi yang menghancurkan. “Pernahkah kau memikirkan betapa kesepian dan menyedihkannya keadaan bagi seseorang yang baru mati? Kasihanilah dia, Allah. Kita yang masih hidup, seharusnya mengasihinya.”

Memang sulit mematikan persepsi. Pasangan Theresa dan Allan yang dihantui kenangan. Kebahagiaanku adalah kebahagiaan tidak terbatas yang berada di luar pengertian manusia.

#10. Perempuan di Seven BrothersWilbur Daniel Steele

Sejatinya ini menjadi inspirasi film The Lighthouse yang dibintangin Edward Cullen dan Green Goblin. Terlalu banyak kemiripan. Bagaimana dua orang penjaga mercusuar mengalami kejenuhan, halusinasi, horor sepi. Masturbasi dengan cewek bayangan seorang putri duyung.

Di Kingdom Come, mercusuar di pantai.Fedderson sudah 23 tahun di sana, Ray sang junior. Kau akan sangat malas di mercusuar. Seberapa pun banyak waktu yang kau habiskan untuk bermain-main, masih ada banyak waktu yang tersisa. Plek, sama The Lighthouse!

#11. Di Depan Gerbang Myla Jo Closser

Tentang anjing Bull-Terrier Inggris yang mencium keanehan pada bayang. Menemui hantu anjing tua yang ternyata adalah anjing lama sang tuan rumah, jadi mereka saling sapa dan berceloteh bagaimana menjadi anjing penjaga. Bagaimana tuan rumah merindukan anjing almarhum.

#12. LigeiaEdgar Allan Poe

Pernah baca cerpen ini di buku kumpulan Cerpennya Poe. Jadi ini tentang rasa kehilangan irang terkasih. Legeia yang meninggal dunia, suaminya berlarut dalam duka. Setelah masa dukacita lewat, ia menikah lagi dengan Lady Rowena Trevanion dari Tremaine yang merasa hantu sang mendiang istri masih tinggal di rumah. Tekatan batin, dan rasa cinta yang tertinggal itu mencipta horor, hingga ia ada di masa trace yang dikira mati. Ketika secara mengejutkan bangkit, ia bukan Lady Rowena ia adalah Ligeia yang kembali!

Hembusan yang tidak teratur, dan berbagai sosok yang bergerak sangat halus di dinding hanyalah efek alami dari angin yang biasanya berhembus.

#13. Kebun Buah BerhantuRichard le Gallienne

Misteri sebuah kotak kecil. Sekali lagi tentang rumah tua yang sunyi dengan piano tua, kebun buah yang aneh yang buat berbaring di musim panas di bawah pohon apel. Menjadi tempat baca buku-buku tua yang di rumah itu juga, lalu dalam keadaan sadar tak sadar ia bertemu hantu. “Anak malang! Ceritakanlah kesedihanmu kepadaku, jadi mungkin aku bisa membnatu agar hatimu yang sedih beristirahat…”

#14. Para PemanahArthur Machen

Para prajurit yang saleh, berderap dalam doa. Inggris melawan Jerman di Perang Dunia Pertama, di kota Sedan pasukan Jerman berjumlah ribuan bisa dikalahkan sebab peluru meriam berisi gas beracun yang tak dikenal. Dan anggapan St. George membawa para pemanah Agincount-nya telah membantu mereka.

St George demi kejayaan England!”

#15. Sesosok HantuGuy de Maupassant

Ditutup dengan bagus pula. Dari penuturan si tua Marquis de la Tour-Samuel di depan perapian. Tentang hantu masa lalu, tahun 1827 bulan Juli ia bertugas di resimen di Rouen, bertemu kawan lama, dan kawannya dalam keadaan hancur hatinya. Keesokan harinya mereka membuat janji bertemu, dan dua surat misterius mengungkap kejanggalan. Endingnya menggantung karena selama 56 tahun pun rahasia dalam ruangan itu hanya diungkap secuil.

Kumpulan cerpen yang keren sekali. Sayang sekali banyak sekali typo, entah bagaimana Penerbit Grup Gramedia bisa meloloskan tulisan typo semelimpah ini, seolah tak ada proof reader, tak ada cek and recheck ketat. Benar-benar mengganggu. Namun memang pada dasarnya buku bagus, klasik memukau. Seolah pizza disajikan dengan nampan buruk.

Sang penulis Dorothy Scarborough, Ph. D (1878-1935) menyelesaikan program masternya di Columbia dengan disertasi berjudul The Supernatural in Modern English Fiction (1917). Sylvia Ann Grider, penulis feminis Let’s Hear It menyatakan bahwa disertasinya begitu meyakinkan para professor dan kolega sehingga diterbitkan menjadi karya referensi. Karya paling terkenalnya The Wind yang sudah diadaptasi ke film dengan Lilian Gish sebagai pemeran utamanya.

Aku tak pernah mendengar suara seperi itu, tipis dan tegang seperti benang!”

Jenazah Lazarus | by Dorothy Scarborough, Ph. D | Diterjemahkan dari Famous Modern Ghost Stories | Selected with an introduction by Dorothy Scarborough, Ph. D | Maret 1921 | Penerjemah Peusy Sharmaya, Ph. D | Copyright 2011 | Penerbit Elex Media Komputindo | EMK 777110466 | ISBN 9788-979-27-9555-4 | Skor: 4.5/5

Untuk Ashley Horace Thorndike, Litt. D., Dosen bahasa Inggris, Columbia University: Yang menuntun studi awalku dalam bidang Suptanatural

Karawang, 081220 – Bill Withers – Heartbreak Road / Cat Yusuf Steven – Words

Thx to Buku Vide, Yogya

Buku Baru November 2020

Aku rasa pikiranmu begitu terbuka, sampai otakmu tercecer.” Carl Sagan.

Sebenarnya sudah kuniatkan jor-joran beli buku berakhir bulan Oktober, lantas kenapa November ini kembali membludak buku baru lagi? Entahlah… sempat uninstall FB, IG, dan beberapa platform jual online, pada akhirnya kembali lagi. Yo wes, ngalir saja. Sampai mana kita lihat saja, sejauh mana saya membelanjakan buku.

Inilah kenikmatan dunia dan segala isinya.

@I. Azi Mut, Bandung

Pertama kali beli di sini, sebenarnya masuk budget bulan lalu tapi malah mundur terus, sampai pertengah bulan baru selesai transaksi. Buku-bukunya rerata klasik, berbahasa Inggris. Hiks, jadinya hanya pesan dua setelah pilih pilah dengan jeli.

#1. The Girl with The Dragon Tattoo Steig Larsson

Filmnya bagus banget, baik yang versi Swedia atau Hollywood. Dengan label ‘D’ di sampul, akan kita lihat seberapa banyak darah mencuat.

#2. Rasputin’s DaughterRobert Alexander

Kata Rasputin mungkin yang menggerakan beli, dan terbitan Serambi.

@II. De Sar, Jakarta

Pertama kali pula belanja buku di sini, setelah inbox-an lama, saling chat beberapa kali, akhirnya ada incaran juga buat pemicu belinya.

#3. Aruna dan LidahnyaLaksmi Pamuntjak

Inilah novel pemicunya, novel edisi lawas dengan harga Ok. Walaupun filmnya terasa biasa, pamornya naik pula sebab duo AADC.

#4. MockingjaySuzanne Collins

Lengkap sudah trilogy ini. Sudah baca-ulas pinjam teman, kali ini kutata buat koleksi aja.

#5. Magical World of NarniaDavid Colbert

Sudah punya buku David Colbert versi Harry Potter, ini melengkapi.

#6. BuddhaDeepak Chopra

Review-nya bagus.

#7. NationTerry Pratchett

Sudah punya buku Terry Pratchett lain, tapi sekuel makanya tidak bisa kumulai baca. Mungkin ini akan jadi yang pertama.

#8. Winnie The PoohDisney Kartun

A.A. Milne hanya mencipta dua Pooh, segala produk selain itu hanya turunannya. Dibaca setengah jam sama Hermione langsung kelar. Tertawa ngakak dia.

#9. Buddha 4 –Osamu Tezuka
#10. Buddha 5 – Osamu Tezuka
#11. Buddha 6 – Osamu Tezuka
#12. Buddha 8 – Osamu Tezuka

Efek Deepak Chopra, ditawari edisi lain langsung kuambil. Sayangnya ini komik, dan mulai di angka 4. Wah…

@III. Taman Baca Rindang (Ari Naicher), Klaten

Teman lama, sudah langganan. Sudah pernah kopdar, pulang dari Yogya mampir dua tahun lalu. Bukunya bagus-bagus, murah, dan sangat bersahabat. Rekomendasi banget.

#13. Tips Meresensi Buku di KoranN. Mursidi

Ini buku bulan lalu, kepending sebab lebih dikit dari dua kilo, awalnya juga nggak kutarget beli lagi, ternyata ada incaran lama yang tertera di obral. Yo wes, gass… sedang mendalami segala sastra dan poin-poin penting di baliknya.

#14. GOT #3: Amukan BajaGRR Martin

Ini dia incaran lama yang sudah sangat ingin kumiliki. Sudah baca Game of Thrones, kirain ini seri dua. Hehehe… ternyata harusnya Clash of the King dulu. Duh! Yo wes, disimpan dulu di rak.

#15. Negeri SenjaSeno Gumira Ajidarma

Semua pemenang KSK dalam incaran. Ada dua versi di sana, saya ambil yang murah, selisih 10k.

#16. Wanita Muda di Sebuah Hotel MewahHamsad Rangkuti

Sempat bingung antara ini atau Kuntowijoyo, akhirnya ambil buku Hamsad Rangkuti pertama yang akan kubaca. Pak Kunto malah ambil di toko lain, beda judul.

#17. Tanah TabuAnindita S. Thayf

Tulisan sampul sebagai pemenang DKJ menggerakkan hati untuk membawanya pulang. Ini pelengkap ongkir dua kilo sahaja, tapi sangat menjanjikan.

@IV. Jojo Merdeka, Bekasi

Setelah lama memantau postingannya, akhirnya klik ‘mau’ juga di komen. Hanya di Bekasi, sekitar satu jam dari rumah. Pertama kali belanja di sini.

#18. Menunggu Godot Samuel Bechett

Tiga tahun lalu pernah memasukkan keranjang di belanja Gramedia Karawang, yang entah kenapa saya ganti Little Prince. Akhirnya memiliki, buku yang sudah sangat tenar.

#19. The Last DonMario Puzo

The Godfather (filmnya) keren banget, bukunya belum baca. Kata Lee di twitter ini buku bagus banget, tanpa baca seri sebelumnya juga nggak apa-apa, nggak ada hubungannya? Serius Om?!

@V. Joseph Siahaan, Ciamis

Pertama kali pula belanja buku di sini, bukunya bagus-bagus pula. Ada platform belanja sehingga memangkas ongkir dan transfer beda bank.

#20. Artemis Fowl: The Artic IncidentEoin Colfer
#21. Artemis FowlEoin Colfer

Terpesona sama seri satunya, seri lainnya dalam antrian.

#22. Bilangan FuAyu Utami

Pemenang KSK lainnya. Jaminan mutu Ayu Utami, setelah kedahsyatan Saman, rasanya buku-buku beliau lainnya wajib antisipasi. Buku hard cover!

#23. Dan, Saya Sudah Menyelesaikan Pertandingan IniRonny Pattinasarani

Memoar legenda pesepakbola Nasional.

@VI. Mas Udi, Yogyakarta

Preloved dari koleksinya, beli bukunya sebab ada pos di twitter sama teman Impian Novita, lalu japri lalu milih. Keduanya kebetulan incaran, terutama yang pertama.

#24. Mencari Titik Pusat: Dua NarasiNV Naipaul

Pemenang Nobel Sastra, belum pernah baca karyanya. Ini akan jadi pengalaman pertama.

#25. Seekor Anjing Mati di Bala MurghabLinda Christiany

Rahasia Selma dan efeknya.

@VII. Ade Buku, Bandung

Kedua kalinya belanja di sini. Beli cepat karena nemu incaran di sesi akhir jelang transfer tutup buku.

#26. BlissKathryn Littlewood
#27. A Dash of Magic Kathryn Littlewood

Sudah baca seri satu, buku lalu kuberikan ke teman. Ada kesempatan beli lagi, kali ini sekalian seri dua.

#28. Garis Besar Geografi Amerika

Seperti Garis Besar Sastra Amerika, ini seri lainnya.

#29. CenthiniElizabeth D. Inandiak

Kisah Jawa ditulis oleh orang Prancis? Patut dinanti.

#30. Psikologi Konseling Prof. Dr. Zulfan Saam, M.S.

Buku penunjang kerja, segala tentang psikologi dan konseling dalam proses lahap sebanyak mungkin, senyaman mungkin.

#31. Senja Dalam MasaAndri VB

Kumpulan puisi, semakin asing nama penulisnya semakin tertarik bersyair.

@VIII. Mahira Kamila, Jakarta

Pertama kali belanja di sini, sering bersaing di komen, gila cepat sekali bila beliau komen di post jualan. Sering kewalahan, hehe… kali ini saya berkesempatan membeli di tempatnya, dalam bundel. Rerata John Grisham yang sudah kumiliki, nantinya buat giveaway saja sebab incaran sebenarnya adalah Gone With The Wind.

#32. Gone with the Wind 1 – Margaret Mitchell
#33. Gone with the Wind 3 – Margaret Mitchell
#34. Gone with the Wind 4 – Margaret Mitchell

Sudah baca nomor satu, susah sekali cari lanjutannya. Ini nemu-pun nomor 1, 3, 4. Jadi masih belum bisa mulai baca. Hahaha…

#35. The Street LawyerJohn Grisham
#36. The TestamentJohn Grisham
#37. The Client John Grisham
#38. The Runaway JuryJohn Grisham
#39. The Last JurorJohn Grisham
#40. Skipping ChristmasJohn Grisham
#41. The BrethrenJohn Grisham
#42. The Summons (dua buku)John Grisham
#43. The Pelican BriefJohn Grisham

Wow, melimpah ruah. Penuh Grisham dan antrian baca kasus beliau makin panjang.

#44. Ocean Girl – Peter Hepworth

Mana antah, sekadar bonus. English pula.

#45. EclipseStephenie Meyer
#46. New Moon Stephenie Meyer

Sudah punya komplit. Tapi pas kucari di rak nggak nemu seri dua dan empat, indikasi dipinjam dan tak kembali. Kalau diingat-ingat banyak sekali bukuku dipinjam lalu entah kemana. Yo wes, tumpuk aja.

@IX. Latifah Litera, Yogyakarta

Beli kedua kalinya, Jejak Langkah belum kubaca, hehehe… Daftar bukunya bagus-bagus, sampai bingung pilihnya. Keputusan beli karena lihat harga buku pemicunya hanya 80k, dari harga aslinya 150k. Dan rasanya ingin menikmati tasawuf.

#47. Dimensi Mistik dalam Islam Annemarie Schimmel

Setelah tanya teman-teman dan grup Buku, akhirnya kuputuskan beli. Penulis Jerman yang banyak sekali menulis tentang Islam, ini bakalan jadi buku perdana beliau yang kubaca.

#48. Far From the Madding CrownThomas Hardy

Ini buntut sahaja, tebal, sudah difilmkan, dan buku klasik selalu menarik.

#49. Wasripin & SutinahKuntowijoyo

Ini additional terakhir, yang jelas saya akan menikmati buku Pak Kunto yang kudapat rekomendasi dari Cak Mahfud, kebetulan bukunya yang ini. Buku pertama selalu memberi debar dan efek lanjut baca buku lainnya ataukan stop. Here we go…

Tak banyak yang bisa kukomentari lagi, niat ‘cukup’ belanjanya sulit sekali dilaksanakan. Bahkan Desember ini sudah beli lagi. Hiks, godaan dunia memang berat kawan…

Karawang, 071220 – Eric Clapton – Fall Like Rain

*Jelang Pilkada 2020

Merekonstruksi Masa Depan

Timeline by Michael Crichton

Profesor Johnston ada di abad keempat belas. Kami ingin kalian kembali ke sana, untuk membawanya kembali dari sana.

Masa depan adalah masa lalu, masa lalu adalah satu-satunya alternatif nyata terhadap sejarah? Buku tahun 2018 yang panjang dan melelahkan, enam ratus halaman luar biasa capek. Makanya seusai baca langsung kuletakkan, karena liukan petualangan masa lalunya benar-benar letih. Baru ingat semalam, wah belum ulas. Makanya langsung kuketik sekenanya, sebab buku bagus harus disiarkan ke seluruh penjuru dunia, dan saya merencana membaca buku Crichton lainnya Congo awal tahun ini. Buku kumulai baca di saat akan mudik di ruang tunggu bus sore, kubaca di banyak sekali tempat. Saat bangun tidur di Palur, saat mengantar Wildan tes ke Yogyakarta di sebuah rumah sakit, di sebuah masjid di Solo saat sedang menggelandang, dan akhirnya selesai baca ketika kembali ke Karawang, tempat baca nyaman di teras di bulan September 2018. Kujamin. Kami tidak menginginkan fantasi. Kami menginginkan rekontruksi lokasi yang akurat berdasarkan sejarah.

Agak nyentil bahwa Amerika tak memiliki budaya asli. “Kau tahu, ada yang menganggap orang Amerika hanya merusak kebudayaan, karena tidak memiliki kebudayaan sendiri?” sebelum masuk ke dimensi, kita disuguhi kenyataan ilmu pengetahuan di akhir milennium dua. Bagaimana seratus tahun lalu, orang mencemooh transfer data, lalu muncullah Infra Red, Bluetooth, sosmed. Seratus tahun sebelumnya, orang akan tertawa bahwa ada aliran listrik medan magnet yang bisa dikembangkan menjadi sumber daya, lalu muncullah mesin uap, lalu penemuan electron, dan kini menjadi konsumsi seluruh warga. Maka di akhir tahun 1990-an prediksi teknologi kuantum, semisal komputer bisa berpikir, jarak diciutkan, sampai kemungkinan teleport! Jangan tertawa, karena tahun 2099 segalanya masih sangat mungkin. Jangan jadi pencemooh massal, jangan pula bilang, ‘ah mustahil…’ anak cucu kita yang akan jadi saksi teknologi kuantum itu berhasil atau tidaknya.

Kisahnya tentang perjalanan ke masa lalu. Dibuka dengan telaah teori-teori ilmiah, di akhir ada daftar pustaka banyak sekali yang dijadikan referensi, jelas untuk mendapatkan gambaran teori waktu kita butuh banyak rujukan. Ada tiga kutipan bagus dimula, dan nantinya tiap bab ada kutipan pula. Saya ketik yang awal saja. #1. “Semua kerajaan besar di masa depan akan berupa kerajaan pikiran.”Winston Churchill, 1953 #2. “Orang yang tidak tahu sejarah, berarti tidak tahu apa-apa.” – Edward Johnson, 1990 #3. “Aku tidak tertarik masa depan, aku tertarik pada masa depannya masa depan.”Robert Doniger, 1996.

Tahun 1200 merupakan awal Abad Pertengahan Tinggi – masa pertumbuhan, di mana kebudayaan berkembang pesat. Saya sudah nonton filmnya, gambarannya agak kabur sebab detailnya bagaimana melintas zaman tak terbayangkan. Bahkan setelah bacapun masih agak rancu. Hahaha… Empat orang di akhir abad kedua puluh: Kate, Chris, David Stern, Andre diminta untuk kembali ke abad 14 untuk membawa pulang sang profesor. Kita akan pergi ke biara Sainte Mere, di sungai Dordogne, sebelah barat daya Prancis, kita akan tiba di sana pukul 08:04 pagi hari Kamis, 7 April 1357. Karena hari itu ada turnamen di Castelgard, maka kehadiran kita tak akan mencolok keramaian. “Aku berdoa Tuhan menyertai perjalanan Anda dan membawa kembali Anda dengan selamat.”

Orang-orang seperti ini merasa yakin bahwa masa kinilah yang paling penting, dan bahwa apa pun yang terjadi sebelumnya bisa diabaikan dengan aman. Dunia modern begitu mengagumkan, dan baru dan masa lalu tidak mempunyai pengaruh di sana. Pasar merupakan alasan utama kehadiran kota. Kau bisa memahami dengan jelas, tata letak kota yang dibangun. Lihat gereja di sebelah sana. Di era itu perkamen merupakan barang berharga di zaman pertengahan.

Seandainya kuizinkan kau pergi dan kau tiba di tahun 1357, lalu kau menyadari bahwa kau menderita kesalahan transkripsi yang begitu serius, dan kau begitu berani kembali karena kau tidak berani mengambil resiko mengakumulasi kesalahan. Pada kenyataannya waktu tidak berlalu, kita yang berlalu. Waktu sendiri merupakan sebuah varian. Waktu adalah waktu. Maka masa lalu dan masa depan bukanlah dua tempat yang terpisah seperti New York dan Paris. Dan karena masa lalu bukan lokasi, kau tidak bisa bepergian ke sana. Seperti kata Gordon, “Katakan saja pada dunia biasa, kita punya kepercayaan sebab-akibat, sebab timbul lebih dulu, akibat belakangan. Tetapi susunan kejadian seperti itu tidak selalu timbul dalam dunia kuantum. Akibat bisa muncul secara simultan dengan sebab, dan akibat bisa muncul lebih dulu sebelum sebab…”

Kenyataannya, rencana mereka tak mulus. Sesampai di sana ada wabah penyakit, ada pembunuhan, dan apesnya itu selang tak lama setelah mesin waktu terbuka. Kau sudah kehilangan dua orang, tiga kalau Trub dihitung. “Karena kau seketika direkonstruksikan pada saat yang sama kau dihancurkan, bagaimana bisa dikatakan mati? Kau tidak mati, kau hanya pindah ke tempat lain.”

Di abad dua puluh kita terbiasa mendengarkan suara, sehingga kesunyian ini begitu menyeramkan. Dengarkan nasihat anggota militer tua ini. Selalu makan hidanganmu. Karena kau tidak tahu kapan kau bisa makan lagi. Kami tidak lagi memeriksa transmisi benda, tak ada gunanya mencoba. Kami meneliti transmisi antar-semesta.

Mungkin karena tidak ada polusi udara, bahwa di awal abad, orang-orang bisa melihat planet Venus di siang hari seperti kita bisa melihat Bulan di masa kini. Apakah arkeologi proses mengutamakan sejarah atau arkeologinya, apakah kriteria formalis mengalahkan kriteria objektifitis, apakah dokrin derivasionis menutupi komitmen normatif?

Keluhan-keluhan yang biasa dilontarkannya, sikap pemilih dan tidak pastinya tiba-tiba tidak relevan. Sebagai gantinya ia menemukan bahwa dirinya memiliki sumber energi tanpa batas – semangat hampir agresif yang seingatnya belum pernah dialaminya. “Di dunia nyata kalau kau berhenti untuk membantu si miskin di dalam hutan, dia dan teman-temannya akan mencuri kudamu dan membunuhmu. Itu sebabnya tak ada yang mau melakukannya.”

Kalimat filsuf disebar di banyak halaman. Kau cuma sehelai daun yang tidak tahu bahwa dirimu merupakan bagian dari sebuah pohon. Banyak pula pertanyaan tak terjawab, teori waktu yang tak beraturan. Kita semua diatur oleh masa lalu, sekalipun tidak ada yang memahami masa lalu. Tidak ada yang mengenali kekuatan masa lalu.

Endingnya sendiri agak absurd, bagaimana mereka memiliki pilihan lain di masa lalu sebab menemukan cinta. Jiaahh…. Ada tema asmara di sini. Karena masa lalu berubah, salah satu personil memutuskan bertahan di sana, maka masa kini-pun turut berubah, bisa dilihat di sebuah benda sejenis prasasti yang dengan mudah mereka temukan dalam penelitian. Seolah ada gema suara, “Akan kuhitung setiap waktu kau tidak ada di sini, dan merindukanmu dengan segenap hatiku.”

Dalam abad kita, mereka ingin dihibur. Ketakutan terbesar bukan kepada penyakit atau kematian, tetapi terhadap kebosanan. Perasaan bahwa waktu ada di tangan kita, perasaan bahwa tidak ada yang harus dilakukan. Perasaan bahwa kita tidak terhibur. Novel ini dibuat tahun 1999, jelang bergantinya milennium, apa yang disampaikan Crichton beberapa menjadi nyata. Setelah dua puluh satu tahun, jelas kita seolah terperangkap akan dunia melimpah hiburan, yang malah membuat kita tak terhibur, yang karena banyaknya opsi menghabiskan waktu, kita malah bosan, atau lebih pasnya, mudah bosan!

Bagaimana rasanya menghabiskan seluruh hidupmu di dunia seperti ini. Hidup dan bercinta, terus menerus dalam ketegangan, menghadapi penyakit dan kelaparan, kematian dan pembunuhan. Hidup di dunia ini. Menghabiskan setiap detik dalam kubangan ria, sebuah opsi yang menghentak akan keaslian menikmati hidup sejati.

Keaslian adalah menjadi kata kunci abad dua puluh satu. Dan apa keaslian itu? Apa pun yang tidak dikendalikan perusahaan. Apa pun yang tidak dirancang dan distruktur untuk menciptakan laba. Apa pun yang ada karena memang ada, yang membentuk dirinya sendiri. Dan apa yang paling asli dari semuanya? Masa lalu. Karena masa lalu adalah satu-satunya alternatif lain dari perusahaan di masa kini. “Waktunya masih cukup, bila kita bekerja bagai dikejar setan.”

Sejarah memberitahu kita apa yang penting dalam dunia kita, dan bagaimana terjadinya. Sejarah memberitahukan kenapa sesuatu yang kita hargai adalah hal-hal yang seharusnya kita hargai. Dan sejarah memberitahukan apa yang harus diabaikan, atau dibuang. Itulah kekuatan untuk mendefinisikan masyarakat secara keseluruhan.

Kalau dipikir lagi, masa lalu lebih penting daripada masa kini. Kesimpulan dari buku ini bisa saja kembali ke pribadi masing-masing, yang jelas perjalanan waktu sepenuhnya hanya ada dalam alam khayal belaka. Tuhan sedang tersenyum pada kalian. “Aku tidak bermaksud begitu, perjalanan waktu mustahil dilakukan. Semua orang tahu itu.”

Mesin Waktu | by Michael Crichton | Copyright 1999 | Diterjemahkan dari Timeline | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | GM 402 01 12 0073 | April 2000 | Cetakan ketiga, Juli 2012 | 672 hlm.; 18 cm | ISBN 978-979-22-8628-1 | Skor: 5/5

Untuk Taylor

Karawang, 181120 – 041220 – Sheila on 7 – Pejantan Tangguh

Thx to Taman Baca Rindang, Klaten