Kisah Hidup Si Kutu Buku

Kisah Hidup A.J. Fikry by Gabrielle Zevin

Aku ingin kau jadi milikku. Aku bisa menjanjikanmu buku, percakapan, dan hatiku seutuhnya, Amy.”

Kebanyakan masalah orang akan terselesaikan seandainya mereka mau memberi kesempatan bagi lebih banyak hal. Seorang kutu buku freak, menyepi di sebuah pulau menjadikan hobi sebagai profesi. Memiliki gelar PhD dalam sastra Amerika sebelum berhenti untuk membuka toko buku. Ia membuka toko buku dan menyikapi kenyataan pahit, sebab istrinya meninggal dunia dalam kecelakaan lalu lintas. Dengan nada negatif memandang hidup, dunia sekitar malah melimpahinya berkah. Dari sebuah kisah yang berpotensi suram malah menjadikannya kisah picisan, segala keberuntungan dan tali jodoh yang baik. Di dunia ini tidak ada orang-orang seperti di perbukuan. Perbukuan adalah urusan pria dan wanita terpelajar.

Setiap bab dibuka dengan kisah buku-buku legendaris, sebagian besar sudah kutahu. Dari Roald Dahl, Bret Harte, Mark Twain, sampai JD Salinger. Suara-suara sang protagist terhadap beberapa karya terpilih yang menurutnya istimewa. Toko buku menarik jenis orang yang tepat. Aku menyukai kertas, aku suka rasanya, dan suka rasa buku terselip di saku belakangku. Aku juga suka aroma buku baru. Island Book – Penyelia Eksklusif Konten Karya Sastra Unggulan di Pulau Alice sejak 1999: Manusia tidak bisa hidup sendiri, setiap buku membuka jendela dunia.

Dibuka dengan kunjungan seorang agen buku dari Knightley Press biasanya diwakili oleh Harvey Rhodes ke toko buku milik A.J. Fikry di Pulau Alice, Harvey meninggal dunia. Kini Amelia menggantikannya, seperti setiap orang freak yang menemui orang baru, tak ada klik di mula, canggung dan menggemaskan. Jadi Fikry adalah duda tanpa anak, ia menjalani hari dengan kenang cinta yang membara. Lebih baik melajang daripada menjalin hubungan dengan orang yang tidak sepaham dan memiliki minat yang sama denganmu, adalah prinsipnya. “Aku tidak suka postmodernism, latar pasca kiamat, narrator yang sudah mati, atau ranah gaib. Aku jarang merespon apa yang konon gaya formal cerdas… aku jarang menyediakan chicklit, debut, puisi, atau terjemahan…”

Adik istrinya Ismay tampak sekali jatuh hati padanya, suaminya Daniel adalah penulis buku, bukunya pernah laris, tapi memang tak konsisten, buku komersial. Ia seorang playboy, suka mempermainkan perempuan, dalam tiap tur promo bukunya. “Seharusnya kau senang buku itu hilang. Aku benci buku koleksi. Orang kelewat sentimental terhadap bangkai kertas.” – Daniel Parish. Pasangan ini juga tak memiliki anak, Ismay yang tampak idealis dan memukau secara isi kepala dan perbuatan, menanggung rasa kesal dan kecewa, seolah protes kenapa jodohnya bukan Fikry yang tampak cocok dalam segala hal? Ia cantik dan cerdas, menjadikan kematiannya suatu tragedi. Ia miskin dan berkulit hitan, yang berarti orang mengatakan itu sudah bisa diduga.
AJ di usia 39 tahun, usia sangat matang untuk kembali jatuh hati. Yang paling menjengkelkan tentang ini adalah setelah seseorang peduli kepada satu hal, ia harus mulai peduli tentang hal lain
Nah konflik utama di sini sangat menarik. Setelah pengenalan karakter dan situasi yang tercipta, Fikry mendapat berkah sekaligus musibah. Buku langka Buku kumpulan puisi karya Edgar Allan Poe yang sangat langka, mahal jadinya, laku empat ratus ribu dolar, dicuri orang. Pencurian adalah kehilangan sosial yang dapat diterima, sementara kematian adalah kehilangan yang mengisolasi. Sungguh aneh ya? Seseorang mencuri buku darimu, orang lain meninggalkan bayi untukmu. Ada bayi yang ditinggal di tokonya saat senja, dengan catatan meminta tolong kepada siapapun untuk merawatnya. Awalnya ia tak mau, sebab tangis bayi dan keriwuehannya merawatnya akan menyita waktunya. Namun setelah coba diumumkan ke pihak berwajib, dan upaya menyerahkan ke dinas gagal, ia memutuskan mengadopsinya. Aku tinggal sendiri. Aku miskin, kau tidak bisa membesarkan bayi dengan buku saja. Penduduk kota sejak dulu menganggapnya angkuh dan dingin, dan rasanya sulit dibayangkan pria seperti itu akan mengadopsi bayi hanya karena bayi itu ditinggalkan di tokonya. Merawatnya dengan kasih, ia beri nama sekarang Maya Fikry. Aku akan memberikan sambutan bagus sekali sebagai wali, jika kau memutuskan untuk menerimanya. Bukan doa, karena aku tahu kau tidak berniat dengan doa.
Kejadian manis kedua adalah, keputusan menikah lagi dengan Amelia. Cewek yang ia judesin di awal itu, pada akhirnya menerima pinangannya, setelah beberapa kali meluangkan waktu bersama. Salah satu pria paling egois dan mementingkan diri sendiri yang pernah ia temui. “Sebaiknya jangan mengubah hidupmu untuk manita mana pun.” Keputusan bersama diambil, ia cabut dari penerbitan dan menjadi seorang istri menjaga toko buku bersama. Tampak romantis, dua orang kutu buku bersatu, dan bayi imut. “Maya, kita adalah kita yang kita cintai. Kita menjadi diri kita karena kita mencintai.”

Konflik batin kedua yang bikin trenyuh adalah cinta Ismay kepada kakak iparnya, yang tak kesampaian. Ia menggerutu kepada takdir, tapi berjalannya waktu ia menerimanya, bahkan setelah keputusan fatalnya, suaminya yang berengsek, dan segala desas-desus di sana dijelaskan dengan gamblang. Penerimaan sang kepala polisi sejatinya rada janggal, tapi hati yang kecewa memang sering tak bisa dilogika. Lamniase tidak merindukan istrinya, sekalipun ia rindu memiliki tempat untuk pulang seusai kerja.

Sang narrator mengungkap, siapa ibu Amelia, Marian Wallace berkulit gelap, 22 tahun, memiliki balita 25 bulan di hari itu ditemukan bunuh diri, jadi jelas sekali siapa ibu kandung Maya. Kejadian lain yang terjadi sore itu, siapa mengambil buku langka, dan pada titik akhir yang manis, kita tahu segala apa yang kita tanam akan kita tuai pada akhirnya. Dan aku tahu orang jahat pantas menerima ganjaran mereka, tapi kita sungguh-sungguh tidak suka kesepian.

Hobi bacanya sudah diselingi olahraga, lari memang menjadi pilihan utama. Jarak yang ditempuhnya pendek, napasnya tersenggal-senggal. Butuh konsistensi, keputusan akhir nasib hidupnya mungkin membuat sendu, tapi jelas ia bahagia. Menggemaskan, terlalu manis. Seberapa langka menemukan seseorang yang seleranya sama denganmu? Kalau kau mencintai semua orang, akhirnya kau akan sering terluka.

Ada sebuah acara promo buku unik The Late Bloomer dari penulis Leon Friedman yang sudah tua dan bukunya laris. Kedua fakta tersebut rasanya tidak bisa memeriahkan pesta. Bukunya romantis namun sangat membuat depresi. Lucu sekali ini bagian, pesta itu janggal sebab sang penulis bahkan tak paham detail bukunya sendiri. Hahaha…
Buku yang template-nya bagus, tentang kutu buku, menjual buku sebagai obsesi hidup, memilih menyendiri di sebuah pulau. Mantab, khas orang-orang yang menjadi buku adalah sebentuk benda ajaib yang menyelimuti. Sayangnya, ini bukan kisah filsafat yang menekuri kehidupan, bukan pula masalah kerumitan tafsir sebuah buku langka, di sini sempat hilang – diungkap dengan Ok sekali, sehingga tema buku yang menarik itu luntur terkikis dengan berjalannya halaman demi halaman. Ini kisah cinta, hidup A.J. Fikry yang idealis itu menjadi berwarna sebab menemukan kekasih, menikahi, menjadikan pendamping seumur hidup, hingga menemani hari-hari terakhir Fikry. So sweet. Ia tidak pernah berbohong dengan buku-buku dalam daftarnya. Ia tidak pernah mengatakan menyukai buku yang tidak disukainya. A.J. Fikry yang freak. Penjual buku di toko buku terpencil di pulau Alice. Sinis, dan memandang hidup dengan banyak pesimistis. Seorang bayi ditinggalkan di tokonya ketika ia berolahraga, cinta bersemi kepada agen penerbit yang cantik, dan usaha trauma menghapus kenangan buruk kematian istrinya. Terlalu manis, seorang kutu buku menjelma menyenangkan berkat kehadiran anak haram dan jodoh yang datang terlambat. Romantis khas John Green. Sulitnya hidup sendirian adalah kau harus membereskan sendiri semua kekacauan yang dibuatnya, tak seorangpun peduli kau kesal.

Kebiasaan orang-orang defensive, saya juga merasakan seperti A.J. Fikry yang mengangguk demi sopan santun, tapi tak memercayai tindakan acak. Ia pembaca, dan yang ia percayai adalah konstruksi naratif. Jika sepucuk pistol muncul di babak pertama, sebaiknya pistol tersebut ditembakkan babak ketiga. A.J. tidak memercayai adanya Tuhan, ia memejamkan mata dan berterima kasih kepada siapa pun, yang mahakuasa dengan segenap hati landaknya.
Mereka hanya membicarakan buku, tetapi apalagi yang lebih personal dari buku? Buku untuk pecinta buku berakhir bahagia, fantasi liar buat kalian, para kutu buku baik nan bijak. Seperti kata Neil Gaiman di American Gods, “Suatu tempat tidak lengkap tanpa toko buku.”

Kisah Hidup A.J. Fikry | by Gabrielle Zevin | Copyright 2014 | Diterjemahkan dari The Storied Life of A.J. Fikry | 617186016 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Alih bahasa Eka Budiarti | Editor Rosi L. Simamora | Ilustrasi sampul Martin Dima | Cetakan pertama, 2017 | ISBN 978-602-037-581-6 | 280 hlm; 20 cm | Skor: 4/5

Karawang, 271120 – Bill Withers – Something That Turns You On

Thx to Agus Buki, Bandung