Belajar Kelola Kata yang Benar

Buku Pintar Ejaan Bahasa Indonesia by Teguh Trianto & Septi Yulisetiani

Resensi adalah karya jurnalistik yang berisi ulasan mengenai kualitas (kelebihan dan kekurangan) buku atau karya lainnya seperti musik atau film.”

Apa yang bisa saya utarkan dalam ulasan buku Buku Pintar Ejaan Bahasa Indonesia (PU EBI) yang membahas aturan main Bahasa baku? Sederhananya, kalau mau tahu aturan lama yang diubah, atau adanya aturan baru (di cover terbaca gede: Pengganti EYD), kalian harus membaca sendiri. Tak banyak yang bisa kuulas, sebab tak ada alur yang perlu dikritisi, tak ada cerita yang bisa dikupas, tak ada tata cara penyampaian yang ‘seharusnya’ sebab buku ini justru mengatur ‘seharusnya’ bagaimana tata kelola bahasa ditulis, disampaikan, disajikan dengan baku dan supaya rupawan. Textbook sekali isinya, dan ini tak bisa pula saya komplain banyak sebab memang inilah fungsi utamanya. Disusun berdasar Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 50 tahun 2015 ini dilengkapi dengan undang-undang bahasa yang merupakan Bab III dari Undang-Undang RI Nomor 24 tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan.

Berisi pengetahuan basic tentang bahasa Indonesia. EYD, aturan baku, peletakan tanda baca yang tepat, hingga contoh-contoh kalimat yang benar dalam penyusunan naskah. Sekadar pemantaban aturan bahasa. Contoh paling nyata, bagaimana menulis angka yang benar: “1 atau satu dalam kalimat?” atau penggunaan titik koma yang elok itu di mana? setelah tanda ‘)’ apakah perlu titik lagi? Huruf kapitalkah setelah semua tanda baca? dst… Pengetahuan dasar tapi berguna karena menjawab beberapa keraguan.

Baiklah, saya kupas singkat apa yang bisa didapat setelah menikmatinya.

Kalian tentunya sudah kenal Gaya Bahasa. Di sini dijelaskan datu per satu, disertai contoh. Semisal retorika adalah suatu seni/gaya berbicara baik yang dicapai berdasarkan bakat alami dan ketrampilan teknis. Retorika juga diartikan sebagai seni berbicara dalam komunikasi antar manusia mencakup kelancaran, kepadatan, kejelasan, dan kesan yang baik dalam berpidato.

Gaya bahasa ada beberapa jenis; simile, perbandingan secara eksplisit dua hal; metafora: semacam analogi membandingkan dua hal; personifikasi: mempersamakan benda mati dengan sifat manusia; hiperbola: berlebihan atau membesar-besarkan; metonimia: penamaan terhadap benda menggunakan nama terkenal; sinekdoke: menyebut nama bagian sebagai pengganti nama keseluruhan atau sebaliknya; alusi: menunjukkan secara tidak langsung pada suatu tokoh atau peristiwa; asosiasi: membandingkan suatu keadaan dengan keadaan lain sesuai keadaan yang dilukis; eufemisme: berusaha mengungkap sesuatu dengan cara halus; epitet berwujud seseorang atau benda sehingga namanya dipakai untuk menyatakan sifat itu; eponym: pemakaian nama seseorang yang dihubungkan berdasarkan sifatnya; hipalase: menerangkan suatu kata tapi sebenarnya kata tersebut untuk menjelaskan kata lainnya; aliterasi: dibuat dengan mengulang kata-kata di permulaan pada kata berikutnya; anaphora: berwujud perulangan kata pertama dalam kalimat berikutnya; anadiplosis: mengulang kata pertama dari suatu kalimat menjadi kata terakhir; mesodiplosis: repetisi yang mengulang kata di tengah-tengah baris atau kalimat secara beruntun; epanalipsis: pengulangan kata pertama untuk ditempatkan pada akhir baris dari suatu kalimat atau klausa; epizeukis: pengulangan kata yang bersifat langsung secara berturut-turut untuk menegaskan maksud; sinisme: bertujuan menyindir secara kasar; melosis: sindiran merendah dengan tujuan menekankan suatu maksud; sarkasme: penyindiran dengan kata-kat kasar dan keras dengan maksud mengkritik; satire: menolak suatu untuk mencari kebenarannya sebagai suatu sindiran dengan menertawakan; antifrasis: menggunakan kata-kata yang bermakna kebalikannya dan bernada ironis dengan tujuan menyindir; innuendo: sindiran untuk mengecilkan kenyataan sebenarnya; paradox: kata-katanya mengandung pertentangan dengan fakta yang ada; antithesis: menggunakan kata-kata yang menyatakan dua hal yang bertentangan; litotes: mengandung penyataan dikurangi (dikecilkan) dari makna sebenarnya; oksimoron: menyatakan dua hal yang bagian-bagiannya saling bertentangan; histeros prosteron: menyatakan maksud kebalikannya yang dianggap bertentangan dengan kenyataan yang ada; okupasi: pertentangan yang isinya bantahan terhadap suatu tetapi diikuti dengan penjelasan yang mendukung; repetisi: gaya mengulang kata-kata sebagai suatu penegasan terhadap sesuatu yang dimaksud; paralelisme: berusahan mengulang kata atau yang menduduki fungsi gramatikal yang sama untuk mencapai suatu kesejajaran. Hufhh…. Capek juga ketik ulang separagraf ini. Banyak banget kan jenis gaya bahasa. Ini hanya dibahas satu bab. Ada contohnya jadi kita bisa membayangkan, atau mengira-ira ini masuk ke majas apa. Umum, tapi asyik.

Jenis-jenis tulisan di media masa juga dibahas singkat dari resensi, esai, artikel, editorial, opini, feature, kolom, sampai pojok. Ada banyak jenisnya, selama ini mungkin sudah akrab membaca Koran atau majalah, dan jenis tulisan juga ada di atasnya. Namun untuk penjelasan makna, bagi orang awam seperti saya, tentu saja info bernutrisi. Bagus, tinggal diasah lebih tajam aja ya.

Yang paling asyik di sini bagiku mungkin bab: penulisan unsur serapan. Bahwa bahasa Indonesia tuh diserap dari berbagai bahasa lain, yang utama tentu saja Melayu; yang lainnya sangat banyak: Jawa, Sunda, Arab, Sansekerta, Inggris, Cina, Belanda, dst. Ini ada sejarahnya, semisal kata ‘vakuum’ menjadi ‘vakum’, atau ‘schema’ menjadi ‘skema’, ‘aquarium’ menjadi ‘akuarium’, nggak asal menjelma Indonesia. Semua ada aturannya, oo (Belanda) diserap menjadi o, atau hamzah (Arab) di akhir suku kata, kecuali di akhir kata menjadi k. –ty (Inggris), –teit (Belanda) menjadi –tas misalnya university menjadi universitas, dst.

Seperti judulnya, poin utama melahap buku ini adalah belajar kelola kata yang benar. Dan untuk koleksi di taruh rak, yang nantinya sesekali dibuka-baca buat koreksi ketika nulis buku, sangat layak, sebab dengan pedoman yang jelas, kita tak perlu was-was akan salah aturan. Makanya walau isinya standar, buku ini tetap worth it untuk disimpan. Sewayah-wayah butuh referensi kebenar-tidaknya ketikan kita, bisa langsung diedit sendiri.

Hal-hal basic sejenis ini mungkin bagi Sarjana Sastra atau para pendidik S,pd adalah hal biasa. Namun bagiku sangat asyik. Dan kalau kalian perhatikan beberapa buku baru yang kubeli akhir-akhir ini banyak sekali non-fiksi yang menyelingkupi bahas: psikologi, filsafat, dan telaah sastra. Saya sedang menjalani ritual ulang, pembelajaran yang menjadi impian saya, tapi tak bisa kudapat di bangku kuliah. Menikmati segalanya otodidak.

Hipotesis Epicurean menyatakan bahwa setiap bangsa menciptakan bahasanya sendiri untuk menghadapi pengalamannya sendiri. Hipotesis Sapir-Whorf menyatakan bahwa bahasalah yang memberi bentuk kepada pengalaman kita terhadap dunia. Oleh D’Alembert pada awal Encyclopedie, “Beberapa di antaranya bermuara menuju pusat yang sama; dan karena berangkat dari hulu yang sama mustahil untuk mengikuti semua cabangnya sekaligus pilihan itu ditentukan oleh hakikat roh-roh yang berbeda.”

Pasal 39 (tiga puluh Sembilan) ayat 1 (satu): Bahasa Indonesia wajib digunakan dalam informasi melalui media massa.

Buku Pintar Ejaan Bahasa Indonesia | by Teguh Trianto & Septi Yulisetiani | Penyunting Sarah Fia | Layout Rustam Setting | Desain sampul Checklist Studio | Penerbit Checklist | ISBN 978-602-6763-45-7 | vi + 210 halaman; 13 x 19 cm | Cetakan I, 2016 | Skor: 3.5/5

Karawang, 261120 – Roxette – Milk and Toast and Honey

Thx to Gramedia World Karawang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s