Tekan Tombol Kotak

Replay by Seplia

Nah, jangan salah paham dulu. Aku membawamu masuk bukan berarti kita berdamai. Ada orang di luar, mana bisa aku memamerkan sikap kejamku.”

Kisahnya tentang hubungan keluarga dan persahabatan yang menjelma kekasih. Nada adalah mahasiswi tari yang elok disebutnya Balet kontemporer, ia adalah anak pemilik studio rekaman musik besar, ia ngambek cabut dari rumah sebab ayahnya akan menikah lagi. ayahnya selingkuh sama sekretaris hingga hamil, ibunya meninggal dunia dalam depresi. Dan kabar akan ayahnya menikahi selingkuhannya, Diana membuatnya marah besar.

Ia tinggal di apartemen, tetangganya Apartemen bernomor seratus tujuh bernama Audy seorang mahasiswi psikologi yang obsesi bunuh diri karena pacarnya Nino dikhawatirkan selingkuh. Setiap ia mendengar gosip Nino dekat sama cewek lain, ia mengupaya meninggalkan dunia yang fana ini. Aneh, seorang calon psikolog obsesi depresinya berbahaya. Namun tak aneh sekali juga menurutku, sebab saya punya teman beberapa orang jurusan itu, depresinya justru ngeri-ngeri. Semakin baik keadaan yang kita dapat, semakin parah pula keputusasaan yang melanda kita. Itulah paradox kemajuan. Dan barangkali ini bisa diringkas dalam satu fakta mengagetkan: semakin kaya dan aman wilayah yang Anda tinggali, semakin mungkin Anda melakukan bunuh diri.
Nah, Nada apesnya dekat sama Nino, ia adalah lead vokalis band kampus yang tamvan, keren, romantis, dst. Sering kali mereka bertemu, sering pulang malam dari apartemen pacarnya yang otomatis dekat, juga dalam sebuah adegan memergoki Nada latihan tari di lantai atas kampus yang sepi. Perkenalan dan kedekatan mereka tentu menjadi belati bagi Audy. Was-was, di tengah-tengah. Kesetiaan kadang beda tipis dengan keterpaksaan.

Hubungan Nada-Nino semakin dekat. Saling silang dalam bantu. Tari Nada diiringi lagu ciptaan Nino, dalam rekaman CD sebagai lagu pengiring, barang sepenting itu ketinggalan, terendam dalam player, hahahahahahaha…. Maka tampil sang pahlawan. Memainkan piano live untuk Nada, kurang sempurna apa coba? “Cinta adalah kekuatan bagi musisi untuk menulis lagu. Baik sedang mekar apalagi sedang patah (hati).”

Band Nightfall mengikuti audisi band, sempat kena diskualifikasi sebab fase dua tak hadir setelah dipanggil tampil. Berkat negosiasi Nada kepada ayahnya, band-nya Nino melaju, bahkan sampai final three yang rasanya tak perlu dipertanya juara tidaknya. Haha… nama-nama anggota band jua keren, walau nama aslinya ndeso jua. Ken, Rendi, Alex… Menganggap Audy sebagai mami, sebab sering menyiapkan makanan, membantu mendata keperluan, support saat latihan atau pas tampil. Dan yang utama, fan nomor satu Nighfall. “Kumohon jangan pergi dari sisiku. Bantu aku lepas dari hukuman ini.” Ialah kalimat pas untuk Nino, lhaa ia memang karakter berengsek ‘kan, nganu anak orang hingga depresi berat. Manusia sebenarnya adalah makhluk yang diboncengi perasaan bersalah yang parah.

Sampai di sini jelas, sudah bisa ditebak. “Menyukai hal yang sama memang bisa membuat orang bisa dekat, tapi tak lantas bisa membuat keduanya saling jatuh cinta.” Nada yang menemukan klik sama Nino akan bersatu. Semua mengarah ke sana, Pertengkaran membutuhkan dua orang yang saling peduli, mereka tarik-ulur hubungan, yang pada akhirnya menautkan bibir kita tahu, novel picisan akan menyatukan dua insan. Lha gmana dengan Audy? Prediksi mati menjadi kenyataan, agar tak ada rasa salah berlebih, dibuat sama kecelakaan di palang pintu kereta api. Duh! Lantas hubungan keluarga, sama calon ibu tiri akan membaik, akan berdamai dengan kenyataan sebab dengan bertambahnya usia maka, bertambah pula memahami pahitnya hidup. Prediksi ini pun terwujud, manis sekali kakak. Kuliah mereka lancar, band mereka menjelma hebat, uang melimpah. Bahagia selama-lama-lama-lamanya…

Hufh, beginilah kualitas novel remaja kita. Young adult yang muncul sebab kebiasaan dan tempaan sinetron. Saya sempat berharap ada kejutan, semisal yang tewas di jalur kereta adalah Nino, ini akan memutus kemanisan fakta, ternyata enggak. Duh! Saya sempat berharap band mereka amburadul, memalukan tampil di umum sehingga ayahnya marah besar ketika diberi kesempatan kedua, ternyata enggak. Duh! Saya jua sempat berharap, Diana menguasai harta dengan melakukan pembunuhan rapi bak kisah kriminal Agatha Christie, dan tentu saja enggak. Ini kisah sinetron yang asyik-asyik sahaja.

Karakternya cakep semua. Hobinya keren semua. “Biasanya kalau mood-ku buruk, mendengarkan musik. Kamu mau mendengarkan lagu? Siapa tahu bisa membuat mood-mu membaik.” One Direction! Semua kaya, minimal tidak memusingkan materi untuk bertahan hidup dari bulan ke bulan sebagai mahasiswa. Lha, tinggal di apartemen, rumah dilengkapi dengan kolam renang di dalam. Di waktu senggang pergi ke salon, lalu ke mal untuk hang out. Ya tentu saja belanja, masak Cuma lihat banderol harga, diem kelian kaum papa! Kemana-mana naik mobil, persis yang digambarkan sinetron kita. Beberapa tingkah mengesalkan seperti volume audio maksimal menemani dalam mobil, di tengah kemacetan! Dikira keren apa, ini mungkin sosok-sosok yang kita sebalin ketika di jalan. Ngaya bak sultan. Lirik lagunya? Inggris dong, mau go International woy, cap cip cus-lah seolah mencipta lagu keren secepat lempar kartu domino. Komplit amburadul, eh tapi tapi atau jangan-jangan saya nya aja yang nggak gaul perkembangan dunia remaja generasi milenial saat ini ya? Hhhmmm…

Novel remaja lagi, ini bukti bahwa saya membaca segala genre dan jenis bacaan. Jelas pula jenis ini ekspektasi tidak tinggi, sebab salah besar kalau menaruh harapan menikmati sastra mutu untuk sebuah buku yang blink-blink macam ini. Ekspektasi itu tentu saja berakhir persis. Nyaris tak ada kejutan, semua mengalir bak sinetron tv swasta yang tayang di jam utama. Karakter kaya, cantik dan ganteng, tak ada kepeningan memikirkan materi, berbakat, cinta yang diagungkan, dan happy ending. Semua itu benar-benar tersaji, bahkan beberapa kali kubaca sambil ngelus dodo, khawatir akan dunia remaja saat ini dan masa depan, hhhmmm… atau lebih tepatnya kesal. Jelas ini bukan konsumsi untuk jelata, bukan untuk mayoritas warga Negara Indonesia. Persis seperti sinetron yang tak layak tonton, Replay jelas jua tak layak baca (apalagi koleksi), kecuali kalian gemar duduk depan kotak ajaib saat sandiwara sinetron nggak jelas itu disajikan di prime-time. Tipikal ngeselin-lah.

Sejatinya saya sudah tak heran. Lantas apa yang mau ditelusur dan didiskusikan lebih lanjut? Ini sekadar iseng, seperti yang kubilang, beberapa kali saya memang keluar jalur, beberapa kali berhasil memukau saat menyesatkan diri di bacaan antah, tapi sering kali memang mengecewakan. Poinnya, dalam rimba baca antah itu selalu dua: puas akan kukejar baca buku lainnya, kecewa, say bye! Replay, mau dinikmati lagi? Nope, tekan tombol kotak di masa baca halaman pertama mending di-skip baca saja, bisa nggak Bund?

Harapan pada akhirnya menghancurkan diri sendiri sekaligus mengekalkan-dirinya-sendiri.

Replay | by Seplia | 6 15 51 013 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Desain smapul Orkha Creative | ISBN 978-602-03-2319-0 | 216 hlm.; 20 cm | Skor: 2/5

Karwang, 251120

Thx to @iyamaul

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s