Dewi Keadilan

Nemesis by Agatha Christie

Suatu kehidupan, berapa pun lamanya, merupakan suatu pengalaman yang lengkap… tapi tidakkah Anda berpendapat bahwa suatu kehidupan terasa tak sempurna, karena terputus sebelum waktunya?”

Novel dengan karakter utama perawan tua, sudah sepuh, sering sakit encok, dan keluhan kesemutan. Kiranya cocok membahas penyakit tulang, rematik, pantangan-pantangan dokter, obat-obatan, dari yang manjur rekomendasi dokter sampai tradisional. Maka membayangkan Miss Jane Marple melakukan perjalanan, sebuah tur menikmati arsitektur gedung tua, keindahan alam dengan kebun bunga melimpah, sampai pemandangan bukit yang perlu perjuangan esktra untuk hiking, rasanya sudah sangat melelahkan. Menyebut dirinya sendiri sebagai kucing betina tua. Dan berhubung ini buku Christie, di mana kejahatan menjadi menu utama, keadilan harus ditegakkan, maka apa yang bisa dilakukan nenek Marple untuk meringkus penjahat? Klu pentingnya, jelas main villain nya juga tak muda, berat rasanya membayangkan musuhnya adu jotos. Duh!

Kerjanya hanya merajut, merenung, dan kadang-kadang pergi berjalan-jalan. Kali ini ia kembali terjun ke kasus penting, pembunuhan yang salah sasaran tangkap. Keadilan harus ditegakkan.

Ini salah satu koleksi kasus Marple di usia senja, terbit tahun 1971, di masa-masa akhir pula Christie menulis, maka terasa sekali sangat matang, dan memainkan detail percakapan. Bumbu gosip dan lingkaran pergaulan menjadi menu utama penyelidikan. Metode deduksi jadi andalan, menyambungkan fakta-fakta, menjadikan berbagai kemungkinan lalu memutuskan, nah kan penjahatnya yang itu.

Dibuka dengan santai di teras rumahnya menikmati hari di masa tua dengan teh dan Koran. Dua Koran, membaca berita update Inggris Raya dengan kursi goyang, di semilir angin sembari menonton kebun bunga di halaman rumah. “Itu akan memudahkan. Saya paling suka bunga. Saya kurang suka sayuran.” Marple tinggal di St. Mary Mead, sebuah desa kecil dan asri. Ia mendapati berita suka dan duka di Koran, rasanya terharu membaca, ‘Yang sangat dicintai oleh suami dan anak-anaknya.’ Aduh, manis sekali atau sedih sekali, dari segi mana pun ditinjau.

Ketika muncul berita duka, salah seorang kenalannya Mr. Rafiel, ia teringat pengalamannya memecahkan kasus di masa liburan di kepulauan Bahama. Walau hanya sebagai teman seperjalanan, nama sang jutawan terkenang. Seorang pengusaha yang meninggalkan misteri ini awalnya juga lenyap dalam waktu, hingga suatu hari ia mendapat surat dari London, pengacara almarhum bahwa ada surat wasiat yang diberikan kepadanya. Merasa penasaran ia pun datang, dua pengacara itu lalu menjelaskan bahwa Marple akan mendapat sejumlah warisan dua puluh ribu pound, bebas pajak. Syaratnya berhasil menuntaskan kasus. “Saya hanya sekadar ingin tahu, apakah Anda pernah – eh – punya hubungan dengan kejahatan atau pengusutan atas suatu kejahatan?” Well, kalimat itu membuatku senyum. Ini Marple sang legendaris, ditanya duo pengacara kota. Haha… Petunjuk? Tidak ada sebab ini kasus rumit, bersandi Nemesis, artinya Dewi Keadilan. Proyek yang disanggupi dari Mr. Rafiel ini berhubungan dengan kejahatan.

Mr. Rafiel mewariskan uang yang besar kepada pelayan yang setia, Esther Walters dan tak banyak petunjuk berarti, ia menemuinya. “Sungguh suatu kebetulan, kita bisa bertemu lagi di sini, kecil sekali dunia ini, bukan?” Darinya ia tahu, kehidupan pribadi almarhum. Tiga anaknya mengalami cobaan berat: meninggal, dipenjara seumur hidup, dan menikah lalu merantau jauh ke seberang samudra. Feeling Marple jelas, kasus nomor dua yang diselidiki. Benar saja, ia mendapat surat untuk mendapat tur gratis dari almarhum. Tur ini akan memberi klu lanjutan. Tur Horses and Gardens. Ada enam belas penumpang dalam tur, termasuk Marple beberapa di antaranya sangat berkaitan dengan kasus, sebagian membantu sebagian malah menjerumuskan. “Dalam hidup ini kita tidak akan berhasil, kalau kita tidak berani mengambil risiko.”

Miss Marple selamanya kurang berhasil untuk mengurangi kepicikan pandangannya mengenai orang-orang asing. Dia tak pernah bisa yakin mengenai orang asing. Khas pandangan Zaman Victoria. Sifatnya itu memang agak sulit untuk memulai petualang, tapi sekaligus sebuah sisi bagus untuk mencurigai semua orang. Sedang membiarkan kemungkinan-kemungkinan melintas di pikiran. Setiap kebetulan harus dipikirkan, kelak bisa saja hal itu disingkirkan bila ternyata memang benar-benar suatu kebetulan.
Setelah menyaksi bangunan gereja tua, mereka melaju ke desa, di sana saat bus berhenti di hotel ia disambut seorang wanita yang mengatakan bahwa ia utusan almarhum, Miss Marple diminta menginap dua malam di sana. Mengingat tujuan utama tur ini, tentu saja ia mau. Setiap petunjuk harus disambut. Tak ubahnya suatu perjalanan memancing di mana ikan-ikannya tak mau menggigit umpannya, karena di situ memang tak ada ikan. Atau mungkin juga karena dia tak tahu umpan yang tepat yang harus digunakan.

The Old Manor House. Tuan rumah terdiri dari tiga nama, tiga wanita kakak-beradik yang aneh. Tiga orang yang bahagia – yang sedih – yang menderita – yang ketakutan. Apa dan siapa mereka? Tiga saudari: Clotilde Bradbury-Scott (cantik), Anthea Bradbury-Scott (biasa), dan Lavinia Glynne (aneh). Mengingatkan kita pada cerita Anton Chekov, dari sini mulai terlihat hal-hal ganjilnya. Ia bercakap dan menyelidik, terkait masa lalu yang digali. Saya hanya tahu sedikit tentang beberapa hal yang telah terjadi di sini, semata-mata karena Anda telah menceritakan kepada saya. “Ingatan adalah hal aneh, kadang-kadang orang bisa mengingat suatu suara meskipun sudah bertahun-tahun tak mendengarnya.”

Lalu muncullah kasus pertama, seorang anggota tur Elizabeth Temple mengalami kecelakaan tertimpa batu menggelinding dari bukit. Ia mengalami gegar otak dan luka parah, dilarikan ke rumah sakit. Saat semua peserta kesal, acara mereka terganggu muncullah pria aneh, menyapanya, mengaku sebagai Profesor Wanstead yang mendapat tugas dari Mr. Rafiel. Berdua lalu menelaah kemungkinan, dan jelas Temple, mantan kepala sekolah yang kena musibah tahu suatu hal penting. Mereka langsung menjenguk dan dari Miss Elizabeth Temple kita tahu, gadis itu pernah menjadi muridnya di Fallowfield. Gadis itu bernama Verity Hunt. Miss Temple yang hanya sesekali siuman memberi nama itu, lalu menghembuskan napas terakhir. Tak mungkin pula dia hanya bermaksud untuk mengucapkan kata ‘kebenaran’, sebab kata verity, berarti ‘kebenaran’. Bekal penting ini. “Saya tak mau menderita, terpenjara, tak bebas menjalani hidupnya gara-gara suatu kekeliruan, meskipun kekeliruan itu sangat wajar dan tak menguntungkan.”

Nama itu lalu dilempar ke Tiga Saudari. Penasaran akan reaksi mereka. Apakah nama itu akan seperti batu yang jatuh ke dalam air, yang menimbulkan riak dan bunyi ‘plung’, atau sesuatu yang lain? Nah, dari reaksi itulah Marple gegas membuktikan temuannya. Malam itu sebelum tidur segalanya berkelebat. “… bila kita memikirkan sesuatu sesaat sebelum tidur, sering-sering kita bisa memperoleh gagasan. Mungkin itu jalan keluar.”

Mengapa dia tak jadi menikah? Gadis itu meninggal. Verity Hunt adalah gadis yang dibunuh, sepupu dan keponakan Tiga Saudari, nama itu menggema lalu melucuti trauma. Semuanya meluncur, dan nama Michael Rafiel diapungkan, ia dipenjara seumur hidup sebab didakwa membunuh Verity. Dari Temple, kita tahu sang mantan murid itu akan menikah, karena Temple juga dibunuh, maka fakta itu diketahui Marple dari wakil Pendeta, yang ternyata adalah sang baptis Verity. Gereja, adalah tujuan tur berikutnya. Pola itu segalanya menjelaskan motif. “Menyedihkan sekali kalau kita pikir betapa banyak kematian, dan hal itu baru kita sadari bila kita melihat tulisan-tulisan pada batu nisan di pekuburan.”

Yang mengejutkanku bukanlah siapa pelaku pembunuhan sang gadis, tapi justru fakta penting bahwa peserta tur ada dua orang detektif yang disewa Mr. Rafiel. Betapa jeniusnya almarhum, merancang penyelidikan dengan detail istimewa.

Semenjak identitas korban diungkap, saya sudah curiga siapa pelakunya. Sebab biasanya korban sering kali adalah orang-orang terdekat, maka langsung mengerucut tebakan. Banyak pembunuh adalah orang-orang yang kelihatannya sangat baik, dan menyenangkan, dan mereka membuat orang-orang sekitarnya terkejut. Awalnya saudara ketiga yang tingkah lakunya aneh, yang jelas bukan nomor dua. Saat saat berkali-kali pula Marple bilang ‘Cinta, adalah kata yang paling mengerikan di dunia. Cinta, suatu kata yang menakutkan.’ maka jelaslah sudah. Kisah-kisah Christie memang berpola, semakin sering kit abaca semakin mudah kita menelusur dan menebak kemungkinan pelaku. Dalam nemesis, sempat berharap kasus ini hasilnya tetap seperti hukum yang ditegakkan setelah sang jagoan dan co. menyelidik, nyatanya enggak ada kejutan sebab keyakinan sang ayah terhadap kasus anaknya yang minta keadilan ditegakkan menemui klik. Kalau boleh menyebut kekurangan kisah-kisah Christie, nyaris semua happy ending, minimal belasan yang kubaca, kecuali tentu saja … And Then There Were None, makanya saya sebut yang terbaik. “Adalah sulit menafsirkan dengan cepat sesuatu yang tak beres dalam suatu peristiwa.”

Mereka jatuh cinta pada pemuda-pemuda bejat, mereka yakin sekali bahwa mereka akan bisa mengubah pemuda-pemuda itu. Dan calon suami yang manis, yang baik hati, yang mantab bisa diandalkan, hanya dianggap saudara saja.

Nemesis tipikal Christie, pembaca dibuat bingung, lalu petunjuk disebar. Yakinlah, endingnya selalu sama. Miss Marple membutuhkan kerja keras dan keberuntungan, dia harus berpikir dan menimbang. Selalu saja ada tragedi di masa lalu yang tersimpan dalam ingatan para pembantu rumah tangga.

Nemesis | by Agatha Christie | Diterjemahkan dari Nemesis | Copyright 1971 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | GM 402 01 13 0038 | Alih bahasa Ny. Suwarni A.S. | Desain dan ilustrasi Staven Andersen | Pertama terbit 1990 | Cetakan keenam, Mei 2014 | ISBN 978-979-22-9329-6 | 376 hlm.; 18 cm | Skor: 4/5

Karawang, 231120 – Sarah Vaughan – Summertime (1950)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s