Manusia, Makhluk yang Diboncengi Perasaan Bersalah

Kasus Dendam Membara by Erle Stanley Gardner

Hubungan antara seorang ibu dan putrinya sangat sensitif. Anda bisa dengan mudah kehilangan kasih sayang putri Anda. Jika Anda menegur, mereka mungkin akan menjawab dengan sopan, tapi cinta mereka pada Anda sudah hilang.”

Kisah detektif dengan sudut pandang seorang pengacara. Pengalaman pertamaku menikmati cerita serial Perry Mason. Lumayan memuaskan. Pembunuhnya tak tertebak, atau memang saya tak menebak, hanya mengikuti arus. Menyenangkan sekali dikejutkan fakta-fakta. Lewat tengah malam, seorang ibu menjadi saksi pembunuhan playboy yang menggoda anak tunggalnya. Berusaha menyingkirkan semua bukti, justru ia yang menjadi tersangka. Perry Mason sedang liburan di pegunungan itu, dan menjelma pembela yang hebat.

Carlotta, remaja tujuh belas tahun menjadi harapan keluarga, ibunya Belle Adrian sudah memintanya untuk tak bergaul dengan begundal desa Arthur B. Cushing. Anak bankir, orang kaya yang banyak gaya, suka hura-hura dan foya-foya. Laiknya orang kaya broken home, cinta remaja dipermainkan. Dan laiknya remaja yang mengalami cinta buta, kata-kata orang tuanya sambil lalu saja. Maka tengah malam itu, Mrs. Adrian kesal anaknya belum pulang juga. Ia ke rumah Arthur sebab ada kegaduhan di lantai atas untuk menjemput putrinya, yang ditemukan di sana sungguh mengejutkan, mayat Arthur Cushing terduduk di kursinya, ada noda darah bekas tembakan, masih menetes yang berarti baru saja terjadi. Di bawah kursi ada kotak bedak dengan cermin pecah bulat milik Carlotta, kado ulang tahun. Setelah beberapa lama berdiri terdiam, ia bertindak membersihkan TKP, menjauhkan hubungan pembunuhan ini dari anaknya. Tindakan yang memberinya konsekuensi panjang dalam kisah ini.

Sam Burris membangunkan istrinya karena mendengar suara rebut di rumah Arthur, suara kaca pecah dan tembakan. Istrinya yang suka gosip sekitar langsung terjaga. Rumah Cushing yang berisik dan mengganggu kenyamanan tetangga ini dulunya merupakan tanah milik Sam, dijual karena butuh uang. Ada nada penyesalan sebab ternyata sang pembeli adalah tetangga rebut yang suka hura-hura. Melalui teropong mereka melihat jendela vila, terlihat Nyonya Belle membersihkan TKP dan bergegas. Menemukan klik dengan adegan mula.
Nyonya Adrian pulang dan menemukan garasi masih kosong yang berarti putrinya belum pulang, wah berat, kalau putrinya benar-benar membunuh si bajingan dan langsung kabur tentu pola seperti ini sudah umum dalam kasus kriminal. Hit and run. Namun betapa terkejutnya ia karena ketika di kamarnya menemukan Carlotta tidur. Dibangunkan dan ditanya kemana saja? Padahal sudah lama, lhaa kok garasi kosong? Pas pulang, ban mobilnya bocor maka ditinggalkan di jalan, ia jalan kaki. Waah kalau begitu apa yang terjadi jelang tengah malam menjadi misteri.

Lantas siapa yang membunuh Arthur?

Kita sudah tahu jawaban pasti bukan Belle dan Carlotta Adrian sebab kita mengambil sudut pandang padanya. Walau segala bukti mengarah pada Belle, apalagi ada saksi Sam dan istri melihatnya gegas pergi beberapa saat setelah kejadian, kita bisa pastikan bukan, kecuali sudut pandang itu menipu kita, pembaca dikelabui dengan godaan polos, bahwa ia menyembunyikan fakta. Di sinilah kisah menjadi sangat menarik. “Astaga! Matikan semua lampu. Jangan sampai ada yang tahu bahwa kita belum tidur. Naiklah ke ranjangku, dan kita bicarakan hal ini.”

Kebetulan di vila dekat danau kelabu itu menginap sang pengacara legendaris Perry Mason. Sebagai debut buku beliau yang kubaca, jagoan baru disebut di bab empat terasa mengesampingkan urgenitas. Memberi narasi adegan dengan template kasus terdengar janggal. Seharusnya kita curiga, orang terlihat berniat baik belum tentu menolong. Tetangga Belle mendatanginya, menyampaikan detail kejadian dan menyarankan segera mencari pengacara sebab sheriff sudah menuju ke rumahnya, dengan segala dalih pun surat penangkapannya sudah ada. Maka gegas pula Belle menemui sang pengacara. “Setiap usaha berbohong akan berakibat sangat fatal.”

Perry Mason adalah pengacara yang baik, pengguna jasanya banyak kalangan bawah, bahkan kalau sedang merasakan angina baik, ia rela tak dibayar. Maka ketika siang itu ia mendengarkan detail Belle Adrian, ada kejanggalan dalam alur kejadian malam itu, ia menerima kasusnya.

Sheriff Elmore dan tim mulanya menginterogasi Nyonya Adrian, janda yang menyayangi putrinya dan bertekad melindunginya sesalah apapun. Segala bukti penyelidikan menguat tertuduh itu bisa mereka berdua, tapi karena kesaksian Sam begitu menyakinkan bahwa malam tengah itu yang terlihat di jendela adalah Nyonya Adrian maka, kasus ini menyeretnya ke meja tersangka.

Berikutnya adalah permainan detail, penelusuran benang merah bagaimana hal-hal yang tak dicerita tiga bab mula akan dikupas oleh detektif Drake, rekan Perry Mason. Sebagai pembela tersangka ia mencari hal-hal yang terlewat, bukti sebab ban bocor, menit-menit malam itu, dan bagaimana kronologi kematian sang playboy dikupas dengan sangat meyakinkan.

Dan pada akhirnya buku ini menjelma kisah pengadilan kasus pembunuhan. Kalau biasanya kita diposisi jaksa yang coba menyeret sang tersangka ke bui maka kali ini, kita ada menjadi sang pembela. Dengan dasar sangat kuat kliennya tak bersalah maka guliran kata itu menemui titik akhir yang sungguh mengejutkan. Perhatikan lingkar karakter mula, bila kalian menyangka pembunuh adalah orang asing yang belum disebut atau baru disebut setelah separuh jalan, tentu salah.

Sebagai buku pertama koleksi kasus Perry Mason, saya terkesan. Saya beli trial satu buku, tiba dari Jakarta tanggal 27 Juni, novel ini selesai baca bahkan sebelum bulan berganti. Karena percobaan pertama sukses, seperti biasa saya berburu buku lainnya, dan Lifian, teman penjual buku dengan senang hati mengirim lagi empat novel lainnya. Yes, kii masuk antrian.

Tak terlalu muluk ekspektasiku akan kisah proses dijelaskan dengan deduksi penyelidikan tinggi macam Sherlock atau Poirot, jauh sekali. Karena karakter utama adalah pengacara maka ia memang menempatkan diri sebagai pembela sejati. Menarik sekali nantinya saat kliennya adalah pelaku utama kejahatan, makanya langsung kubeli buku seri lain. Ayooolah kejutkan aku, Mason!

Ketika pengadilan tampak begitu mudah untuk menentukan pelaku utama, jari yang sepertinya sudah bisa dengan mudah memutuskan, hakim yang tinggal ketuk palu, seolah sidang ini formalitas, sampai ada celetuk pendengar sidang , “Tampaknya kasus ini bisa diselesaikan dengan cepat.” Haha, tunggu dulu. Kalian harusnya dengan senang hati menikmati riak-riak kelabu itu. Ketahuilah sang pembunuh telah merencanakan kriminal ini, dan hati-hati sama orang yang sok peduli, sebab kata-kata seringkali mengelabui. Jangan lupa, kisah detektif akan terasa kurang tanpa kehadiran kesaksian pembantu rumah tangga, di banyak sekali kisah justru profesi inilah yang menjadi kunci banyak kasus. Termasuk di sini…

“… Tempat yang paling aman bagi pengacara saat ini adalah di kantornya.

Kasus Dendam Membara | by Erle Stanley Gardner | Judul asli Angry Mourner | Alih bahasa Ivonne S. | Penerbit Alice Saputra Communication | Copyright 1993 | Cetakan pertama 1995 | Skor: 4/5

Karawang, 201120 – Bill Withers – Harlem

Thx to Lifian, Jkt

2 komentar di “Manusia, Makhluk yang Diboncengi Perasaan Bersalah

  1. Ping balik: Pagi yang Membingungkan | Lazione Budy

  2. Ping balik: Buku-buku yang Kubaca 2020 | Lazione Budy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s