Clash of Clans in Japan

Furin Kazan by Yasushi Inoue

Ya, siapapun yang menentangmu Tuanku, harus diperangi.”

Tanpa tahu ini tentang apa, siapa Inoue, dan segala awam yang menyelimuti, kunikmati lembar demi lembarnya. Terkadang memang saya membeli ke-awam-an buku, sebagai selingan atau pengen iseng petualang ke sebuah area antah. Dibaca sehari selesai, dimulai Jumat pagi (13/11) selesai Sabtu paginya (14/11), hari libur memang liar. Lumayan bagus, mengingatkanku pada Game of Throne, pertarungan antar klan memperebutkan kekuasaan. Terbit tahun 1950-an, apakah G.R.R.Martin sudah melahapnya? Tokoh utama, si ahli strategi Kansuke bertubuh pendek, pincang, mata satunya rusak, akalnya panjang yang tentu saja mengingatkan kita pada si cebol hebat di Perebutan Takhta. Endingnya ketebak, walau ada nada sedih disenandungkan, pada akhirnya tersenyum.

Kisahnya tentang Yamamoto Kansuke, seorang samurai yang sudah tak muda lagi, kepala lima. Selama Sembilan tahun mengabdi pada kerajaan, tapi nggak segera mendapat kerja tetap. Dia dicerita cerdik, suka membual, pernah berpetualang ke banyak daerah. Dan jago main pedang, maka di pembuka kita disajikan sebuah sekongkol. Menyelamatkan Itagaki, sandiwara yang mengantarnya menjadi orang kepercayaan raja Harunobu. Jadi bab pertama kita mengambil sudut pandang sang pemeras Aoki Daizen, ia mendatangi rumah Kansuke untuk meminta uang rutin sebagai biaya tutup mulut.

Nah, saat itulah ia mendengar nama seorang samurai kepercayaan raja akan melintas daerah situ, maka disusunlah strategi. Daizen nanti pura-pura merampok, lalu muncullah Kensuke menyelanatkan. Tak ada nyawa melayang, hanya sandiwara. Dan taktik ini pasti berhasil sebab utang nyawa akan selalu dihargai kepercayaan tinggi. Ternyata ini sebuah jebakan buat Daizen, sebab sandiwara dijalankan, ia terjebak dan meminta dihentikan, Sensuke malah membunuhnya. Dari sinilah sudut pandang bab dua berubah ke sang tokoh utama. Pembuka yang secara langsung bilang, ia cerdik, serta novel ini akan melibatkan banyak nyawa melayang. Bukan ratusan lagi, ribuan pasukan akan berperang. Beginilah cerita perang antar klan harus disajikan. “Selain dalam pertempuran, tidak baik menghilangkan nyawa seseorang.”

Kensuke menguasai aliran pedang Gyoryu ditantang melawan aliran pedang Shintoryu dalam duel latihan, kukira hanya bualan ternyata bisa. Maka setelah beberapa waktu Kansuke dipanggil menghadap Harunobu. Ia dites oleh seorang samurai utusan, dikira hanya memakai pedang kayu, nggaklah langsung pedang beneran yang mengakibat nyawa melayang. Ini menegaskan sekali ia mencabut pedang dan berniat membunuh, pasti tak pernah gagal. Tenggoret-tenggoret sedang mengerik menandai era baru kehidupannya. Ia ditunjuk sebagai penasehat jenderal muda Takeda Harunobu.

Maka ujian pertama sesungguhnya adalah dari klan Suwa yang dipimpin Yorishige Suwa. Aku sama sekali tidak tahu akibat-akibatnya kelak, namun justru itu yang menjadi alasan kenapa aku bertahan. Ketika ia diutus ke sana menyampaikan salam damai, disambut sang jenderal yang lalu melakukan kunjungan balasan. Ketika sang tamu dan pengiringnya tiba di wilayah Kofu, dalam rapat terbatas berbagai usulan muncul, dan saat sang jenderal menanyakan kepada Sansuke ia meminta empat mata, usulnya jelas: bunuh Yorishige sebelum ia menyerang kita. Maka eksekusi langsung dilakukan, mereka menyerang klan musuh tanpa komando dan dalam waktu singkat menguasainya.

Dalam kewajaran, keluarga jenderal yang kalah biasanya melakukan ritual seppuku (bunuh diri), Putri Huu tidak. Ia ingin bertahan hidup dan rela menjadi selir sang jenderal yang membunuh ayahnya. Ia tahu ada dendam berkobar, tapi setidaknya harapan selalu ada selama napas masih bisa dihela. Ia mendapatkan keyakinan atas kejujuran, kepercayaan diri, dan cara berpikir positif.

Perang berikutnya lebih banyak dan rumit. Cara Kensuke menunggang kuda agak aneh, tubuh kecilnya duduk di punggung seekor kuda besar. Membungkuk begitu dekat dengan leher kuda. Dalam masa perang itu, ia menemui banyak hal tapi memang yang pertama selalu istimewa. Kensuke belajar pertama kalinya tentang cinta dan kebencian bisa muncul pada saat bersamaan tanpa logika sama sekali. Ia jatuh hati sama Putri Huu, cinta yang mustahil terwujud sebab janji setia sebagai samurai yang takkan menghianati tuannya.

Zaman perang Sengoku Jidai dan akan ada perang terus-menerus selama bertahun-tahun. Panji Furin Kazan tak pernah tinggal di Kofu lebih dari setengah tahun. “Jangan biarkan saya di sini menjaga rumah. Itu sangat membosankan.” Sampai diucapkan sang samurai, karena perang memang manjadi tujuannya bergabung.

Jika menyangkut masalah penaklukan benteng atau pertempuran, ia mampu melihat segala sesuatunya dengan jelas, layaknya kabut pagi menghilang seiring terbit matahari. Namun jika sudah soal laki-laki dan perempuan, ia tak mampu melihat apa pun di hadapannya. Otaknya begitu jernih memikirkan perang yang akan segera terjadi. Sang Putri lalu mendapat seteru dengan selir lain, Puteri Ogoto. Terdengar jenaka, ia diombang-ambing sama kedua selir itu, dan sang jenderal-pun tak jujur pula. Pusing. Maka ketika Putri Huu mengancam, ia meminta sang jenderal dan ia meninggalkan kehidupan duniawi dan mengubah nama, sang jenderal kini bernama Tadeka Shingen. “… Ya aku benar-benar mengerti. Meninggalkan keduniawian, menjadi seorang rahib, dan menyerahkan diri pada kehendak langit.”

Itu hanya strategi, ia mendapat ucapan selamat dan gelar namun pasukan Takeda terus melakukan invasi. Mereka berkuda ke berbagai penjuru, bertempur menang, dan kembali ke Kofu. Ia merasa akan hidup lebih lama, jika kematian tidak segera menjemputnya, ia ingin mengendalikan takdir sendiri. Setiap manusia memiliki sendiri waktu untuk mati. Saking seringnya perang, diskusi ini disampaikan sambil santuy. “Nah, berikutnya apa yang kita lakukan?” / “Mari kita menyerbu Joshu.” / “Bagaimana dengan Bushu?” / “Baik, kita juga akan menyerang Bushu.”

Penggambaran zaman dulu yang realistis, terdengar keji tapi memang perang memang sadis. Sampai akhirnya Kansuke di masa letih. Aku sedang menghadapi masa paling sulit dalam hidupku. Akhir-akhir ini aku memikirkan dengan sungguh-sungguh berbagai hal, tapi tetap saja tak bisa memecahkan masalah. Tujuan klan Takeda membentuk persekutuan tiga keluarga: Imagawa, Hojo, dan Takeda sudah terwujud, lalu invasi terbesar disiapkan. Musuh utama Murakami Yoshikiyo bisa dikalahkan, pada dasarnya puncak pertempuran besar berikutnya adalah melawan Uesugi Kenshin Kagetora yang melibatkan ribuan pasukan. Penaklukan benteng paling sulit ini menjadi ending novel ini.

Keinginan melihat Kampanye perang Pengeran muda Katsuyori yang berusia 16 tahun (anak Putri Huu) terwujud walau terdengar rumit dalam pelaksanaan. Maklum pangeran muda yang perlu bimbingan.

Dalam cerita berlatar Jepang yang menjadi sulit dalam bayang adalah timeline. Karena di sini tak dijelaskan tahun Masehi hanya tahun ke berapa Tenbu, lalu saat pergantian era kita sudah sampai pada tahun ke-4 Koji lalu terjadi pergantian era lagi menjadi Eiroku ke-1, dst. Perlu belajar segala masa di Jepang siapa saja yang berkuasa.

Dengan usia 51 tahun ketika dimulai mengabdi, ia termasuk sebagai protagonist tua, kondisi fisik yang kurang, samurai nganggur lalu menjelma ahli strategi kisah ini potensial meledak. Suram adalah koentji, latarnya sudah memenuhinya. Sayangnya narasinya malah kurang detail, mematikan orang dengan sangat mudah. Menyebut pasukan ratusan hingga ribuan dengan mudah, penyerbuan dan menempatkan posisi perang juga kurang masuk. Sempat berharap ada asmara dengan Putri Huu malah merasa hambar, benar-benar kakek samurai sejati. Sisi cintanya dimatikan demi mengabdi kepada sang raja. Yamamoto Kensuke dikuasai oleh gagasan. Tubuhnya bersimbah keringat.

Sumpahnya ada tiga, dan sejak disampaikan jelas akan terpenuhi. Tiga orang yang ia cintai jenderal Harunobu, Putri Huu, dan sang Pangeran, semuanya menempatkan akhir yang pas. Putri Huu yang perfectionist mengalami goncangan batin, tapi pada akhirnya tersingkir. Dan anak tunggalnya, Pengeran Katsuyori menjadikan kampanye perang pertamanya sesuai pemicu, sudah sesuai alur.

Coba perhatikan perancang sampulnya. Adalah penulis kini menyandang dua kali pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa kategori prosa. Gambarnya keren dengan Panji Furi Kazan berkibar-kibar dengan latar seorang samurai bertopeng. Panjinya sendiri dicetak luks sehingga lebih lembut jika diraba. Dominasi biru di belakang para prajurit di markas utama

Akhirnya, mau diambil dari sudut manapun kita mendapati bahwa perang antar klan ini tak ada yang salah-dan benar. Persis seperti dalam Game of Throne, mau menjago atau menaruh simpati pada siapapun, mereka hanya terjebak di era yang salah. Era kekerasan di mana pedang diayunkan menebas leher serutin cangkul dikayuh di ladang.

Karena kami di sini juga atas perintah tuanku.”

Furin Kazan | by Yasushi Inoue | Copyright 1953 by The Heirs of Yasushi Inoue | Penerjemah Dina Faozi & Fatmawati Djafri | Penerbit Mahda Books | Penyunting Tim Kansha Books | Pewajah sampul Iksaka Banu | Pewajah isi Call Izmi | Cetakan I : Juli 2010 | ISBN 978-602-97196-0-4 | Skor: 4/5

Karawang, 181120 – Linkin Park – Pushing Me Away

Thx to Lifian, Jkt

Satu komentar di “Clash of Clans in Japan

  1. Ping balik: Buku-buku yang Kubaca 2020 | Lazione Budy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s