Aku Cinta Bahasa Indonesia

Membina Bahasa Indonesia Baku (Seri 1) by J.S. Badudu

Contoh paling sering kita dengar adalah, pada zaman dahulu kala….

Di era digital, kita dengan mudah menemukan kata mana baku dan tak baku, tinggal klik di web dan wuuuzzzz… tapi butuh kebiasaan, butuh dipelajari, butuh pengetahuan dasar dalam menentukan kata mana yang benar. Maka saya kembali ke dasar, segala buku bahasa kulahap lagi, dan ini hanya salah satunya.

Asyik sekali menikmati tata bahasa baku yang disodorkan beliau. Di awal EYD (Ejaan Yang Disempurnakan) tahun 1970-an buku ini menerangkan banyak hal yang dirasa umum dalam berbahasa di masyarakat, ternyata banyak yang salah, atau pas disebut: belum tepat. Kembali ke dasar, sungguh bermanfaat berselancar Bahasa Indonesia. Sayangnya ini seri satu, jadi untuk melanjutkan harus kembali berburu seri berikutnya.

Beberapa mungkin sudah sangat kita kenal, seperti penggunaan kata ‘para’ artinya jamak, maka tak boleh menggunakannya untuk banyak orang seperti ‘para orang-orang’. Atau penggunaan kalimat dalam surat resmi, yang benar itu bagaimana. Hal yang mengejutkan adalah, penutup surat yang biasanya berbunyi, “Demikian surat ini saya buat, untuk digunakan sebagaimana mestinya.” Adalah kemubaziran kata-kata. Sebab, jelas surat dibuat ya memang untuk digunakan sesuai fungsinya! Nah lo!

Bahasa daerah yang kita kuasai mempunyai peranan penting dalam perkembangan dan pertumbuhan bahasa Indonesia yang kita gunakan. Pengaruh kebiasaan ini terbawa ke dalam penggunaan bahasa Indonesia. Orang ingin gagah atau hebat. Dianggapnya bahwa kata yang dituliskan atau dilafalkan dengan au itu lebih hebat, lebih bagus.

Kata-kata yang berasal dari bahasa Sanskerta yang berfenom letup berdesah bh, dh, ph, kita hilangkan desahnya (h) sehingga bhakti menjadi bakti, budhi menjadi budi, bhumi menjadi bumi, dharma menjadi darma, sedangkan phala jadilah pahala agar tidak terdapat huruf kembar ph.

Setiap orang bebas menulis namanya sebagaimana yang dikehendakinya, itu haknya, dan tak ada sanksi baginya bila menuliskan namanya berbeda dengan ejaan resmi berlaku. Sejak kita merdeka telah dua kali ejaan diubah, pertama tahun 1947 Ejaan van Ophuysen diganti dengan Ejaan Republik, kedua tahun 1972 tepatnya tanggal 16 Agustus, Presiden RI mengumumkan menjadi Ejaan Baru Yang Disempurnakan. Dengan demikian jika kita menyesuaikan ejaan nama kita dengan ejaan baru tentulah tidak akan kita jumpai lagi orang yang mengeja namanya Soekirno alih-alih Sukirno, atau Sujono alih-alih Suyono. Well, untuk nama orang tidak dianggap salah menuliskan misal Arief dengan ie, walau kata umum yang benar arif. Nama orang kembali ke individu, prerogative hak.

Pusat bahasa telah memutuskan kata ‘anda’ yang dipakai dalam surat untuk menyapa orang yang menerima surat itu sebaiknya kita tuliskan dengan A kapital, jadi ‘Anda’. Walaupun kami tahu kata ‘anda’ itu sejajar sejajar dengan kata engkau (dalam maksa yang lebih halus, hormat).

Pleonasme artinya kata yang berlebih-lebihan, jadi penggunaan kata yang mubazir. Ada tiga macam: dua kata atau lebih yang sama dipakai sekaligus dalam satu ungkapan, dalam ungkapan terdiri atas dua patah kata, dan bentuk data yang dipakai mengandung makna yang sama dengan kata lain yang dipakai bersama-sama.

Dalam buku Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan, ditetapkan bahwa kata sapaan yang kita pakai dalam surat, baik kata sapaan untuk orang kedua (yang disurati) maupun untuk diri sendiri (yang menulis surat) huruf awalnya dituliskan dengan huruf kapital.

Jangan terlalu merendahkan diri karena pengaruh feodalisme yang sudah berurat berakar. Saya dalam bahasa Indonesia sama/setaraf dengan kata ik dalam bahasa Belanda, I dalam bahasa Inggris, dab ana dalam bahasa Arab. Lantas kenapa kita lalu menganggap kurang hormat menggunakan kata saya? Pengaruh daerah atau foedalisme? Mungkin karena diambil dari kata sahaya yang berarti ‘budak’. Atau ‘hamba’, sejatinya kalau mau merendahkan diri serendah-rendahnya pakailah patik atau hamba.

Menyingkat-nyingkat kata dalam surat memberikan kesan penulisnya malas.

Ada tida kata depan utama: di, ke, dari. Gunakan pada tempatnya! Dalam berpuisi diperbolehkan sebab biasanya kepada penyair diberikan semacam kebebasan dalam menggubah puisi yaitu kebebasan yang disebut licencia poetica. Kadang justru penyair malah sengaja melanggar kaidah bahasa untuk keperluan sajak dan irama puisi, yang pasti dalam prosa tidak dibenarkan.

Sangat sering orang mengatakan ‘sesuai keputusan rapat…’; seharusnya dikatakan ‘sesuai dengan keputusan rapat…’ kata ‘dengan’; mengeksplisitkan hubungan antara sesuai dan keputusan, jangan dihilangkan. Jadi haruslah dikatakan.

Pemakaian kata ‘oleh’ sifatnya fakultatif, artinya boleh dipakai boleh tidak.

Hubungan gatra diperuntukkan dengan fakir miskin dalam kalimat seolah-olah menjadi lepas. Kita dengar penggunaan kata acuh seperti dalam kalimat Dia acuh saja yang berarti ‘dia tidak peduli saja’. Jika kita buka kamus bahasa Indonesia, akan kita lihat bahwa acuh berarti peduli. Aku tidak mengacuhkannya berarti ‘aku tidak dipedulikannya’ atau tidak dihiraukan. Jadi kata acuh sebagai yang digunakan umum jika didasarkan kamus, jelas tidak tepat sebab sejatinya berarti ‘dia peduli saja’. Namun kata acuh dalam kalimat memang sama dengan tidak acuh yang sering dipakai umum. Itulah sebabnya syair lagu yang buat mereka itu senagaja kata tak pada tak usah kaukenang lagi dihilangkan dengan makna yang tidak berubah.

Bersimaharajalela atau merajalela berarti ‘berbuat sekehendak hati’ atau ‘berbuat semau-maunya.’ Tidak ada satupun bahasa di dunia ini yang murni, tiap bahasa dipengaruhi oleh bahasa lain. Penghilangan fonem di tengah kata seperti bahasa menjadi basa itu termasuk dalam gejala sinkop. Bandingkan dengan cahaya menjadi caya, baharu menjadi baru, sahaya menjadi saya.

Kata nun berarti ‘di sana’ atau ‘sana’. Jadi pemakaian nun di sana yang biasa kita jumpai dalam bahasa sastra merupakan gaya bahasa pleonasme oleh karena kedua kata itu sama artinya. Kata lugas sebenarnya agak lama ada dalam bahasa Indonesia, diciptakan orang sebagai pemadan kata yang berasal dari bahasa Belanda zakelijk. Lugas mengandung arti ‘objektif, yang perlu dan penting saja, tidak dibumbui dengan hal-hal lain yang tidak benar-benar terpaut.’

Penggunaan kata ‘Para hadirin yang saya hormati…’ Penggunaan para di depan kata hadirin itu sifatnya pleonastik (berlebih-lebihan). Ungkapan selalu mengandung makna kiasan. Kalau dikatakan Anak itu keras kepala, jelas maksudnya suka membangkang atau tidak patuh, bukan kepalanya keras seperti batu. Kata-kata asing yang sudah terserap ke dalam bahasa Indonesia ejaannya harus disesuaikan dengan ejaan Indonesia. Misal team, survey, research. Lafalnya pun juga harus jadi lokal. Tidak usah khawatir bahwa kata tim yang berarti kelompok akan dikacaukan orang maknanya dengan kata tim dalam frase nasi tim.

Terakhir, nasehat sang Penulis: berhematlah dengan kata-kata dan gunakan bahasa dengan cermat.

Membina Bahasa Indonesia Baku (Seri 1) | by J.S. Badudu | Seri PP. 011| Penerbit CV Pustaka Prima (Bandung) | Cetakan ketiga: Juni 1980 | Skor: 4/5

Karawang, 111120 – Billkiss – Aku Kamu Tahu

Thx to Dede Hidayat, Bandung

Happy Anniversary 9 Years Wedding: Meyka & Budi – 111111 – 111120 untuk selamanya