Setahun Berkebun di Kenya Sebanding dengan Sepuluh Tahun di Inggris

The Constant Gardener by John le Carre

Ah, tetapi jangkauan seorang manusia seharusnya melampaui genggamannya. Atau apa gunanya surga?” – ‘Andrea del Sarto’, oleh Robert Browning

Buku enam ratus lima puluh halaman, yang berbelit dan sangat panjang, serta bukunya lebih lebar. Sangat melelahkan. Bisa saja dramanya bisa selesai separuh bukunya, tapi memang le Carre menjelaskan sangat detail. Dari Kenya, memutar pulang ke Eropa, lalu diakhirnya di tempat yang sama. Kenya yang berbahaya, membusuk, terjarah, bangkrut, dan bekas jajahan Ingris itulah yang telah menggetarkan hatinya lebih daripada sebagian besar penempatannya yang lain.

Kisah mengambil sudut utama Justin Quayle yang mendapati istrinya Tessa Quayle meninggal dunia dibunuh di tepi Danau Turkana, dekat Teluk Allia bersama pula rekannya dokter Arnold Bluhm, sang Apollo berkumis dalam sebuah pesta perjamuan di Nairobi, dokter kharismatik, lucu, dan tampan.. Pengemudinya Mr. Noah Katanga juga tewas. Mrs. Qayle akan dikenang atas pengabdiannya dalam menegakan hak-hak asasi wanita di Afrika. Sebuah pengalaman buruk yang didapatkan Tessa dan Arnold dalam perjalanan lapangan mereka sejenis malapraktik, jenis yang dilakukan oleh perusahaan farmasi.

Sepintas saja, bab pertama bilang ini sebenarnya sudah bisa disimpulkan. Mereka dibunuh karena merongrong Perusahaan besar. Walau sempat diapungkan kemungkinan dibunuh suku pedalaman. Di sana, suku-suku saling mencuri ternak mereka. Itu normal. Hanya saja sepuluh tahun lalu, mereka menggunakan tombak dan kini mereka semua punya senjata AK 47. Tessa dan Arnold pergi ke Loki. Dari Loki, mereka menyebarang ke Turkana bukan untuk tamasya. Jadi jelas, ini hanya pengalihan sementara.

Dia menemukan ketidakadilan sosial yang sangat besar. Kejahatan yang sangat besar. Dua hal itu yang sering disebutnya. Tessa sangat membedakan antara mengamati rasa sakit dan mengalami rasa sakit. Mengamati rasa sakit adalah rasa sakit jurnalistik. Kalau kau tidak melakukan pekerjaanmu, harapan apa lagi yang dapat kami miliki? “Kami yang dibayar untuk melihat apa yang terjadi, tapi lebih senang tidak melakukan apa-apa. Kami yang berjalan melintasi kehidupan dengan menutup mata.”

Kantor embarsy Inggris di Kenya merasa harus melakukan tindakan cepat. Woodrow atasan Justin sadar, walaupun dia sempat meragukannya, kalau dia harus menyelesaikan sebuah skandal sekaligus tragedi. Woodrow masih mengamati Justin. Sebagian dirinya yang pengecut ingin memalingkan wajah, tapi sebagai anak seorang tentara, itu artinya menjatuhkan hukuman kepada seseorang dan tidak muncul ketika eksekusi dijalankan. Jika Afrika adalah Negara yang diterima Tessa Quayle. Woodrow, membaca, maka para wanita Afrika adalah agama yang dianutnya. Peraturan nomor satu: jangan pernah menunjukkan perasaanmu kalaupun ada. Ucapan Ghita sahabat dan rekan kerjanya, dengan nada suara penuh perhatian, seperti seorang asing yang sedang menunjukkan arah jalan. “Nah, lebih baik kau berhati-hati, Sayang. Lelaki yang baru saja ditinggalkan istrinya biasanya nakal.”

Ada masalah internal di sana, Justin gegas pulang sebelum melebar ke mana-mana. ia pulang bukan untuk pensiun, tapi justru malah menelusuri kasus ini. Kematian istrinya yang diduga menyeleweng dengan dokter tak terlalu digubris, ia ingin tahu segala hal dibalik kasus ini. Kisah lalu polanya maju-mundur, bagaimana mereka berkenalan. Ia dosen, Tessa mahasiswi. Dia adalah tipe perempuan setia hasil didikan sekolah swasta dan dia rajin mengirim buletin tentang perkembangannya dan dengan bersemangat mengabarkan berita terbaru mengenai dirinya. Tessa tidak suka selebriti dalam urusan sosial. Keduanya suka berdebat, Induk demokrasi, sekali lagi terbukti adalah hipokrit pembohong yang mengajarkan kebebasan dan hak asasi bagi setiap orang, terutama di tempat yang bisa menghasilkan duit baginya.“Itu bukan dosa, Tessa. Perniagaan bukan dosa. Perdagangan bahkan membantu mereka untuk berkembang…”

Kenangan-kenangan indah itu semakin membuat Justin terluka. Kedua matamu dibanjiri air mata dan berenang-renang di dalamnya sepanjang waktu sejak kematian bayimu. Tulisan pedas mengenai kegagalan PBB melindungi para petugas kemanusiaannya yang cukup berani untuk mempertahankan idealismenya. Demi Tuhan, atas nama kewarasan, kau tidak mungkin menyarankan agar Kerajaan Inggris, dalam hal ini Bernard Pellegrin, mencemarkan nama baik para menteri dalam pemerintahan Kenya. Namun almarhumah yang terkenal vocal geming, harus digugat yang salah, harus diluruskan yang bengkok.

Justin menemukan banyak kejanggalan. Email, surat, dan berkas Tessa coba dihilangkan sebuah pihak. Ia mencoba melindungi filenya. Perjuangan itu akan panjang. Seolah mereka sedang melakukan urusan penting, keputusan penting. Hak pilih, ah perlindungan terhadap hidup dan harta milik… keadilan, kesehatan, dan pendidikan untuk semua… paling tidak dalam tingkat tertentu… kemudian infrastruktur administrasi yang sehat… dan jalan, transportasi, saluran pembuangan, dan lain-lain… Sebuah Negara berhenti menjadi Negara ketika ia berhenti melaksanakan berbagai tanggung jawabnya yang esensial. Apakah jawaban ini secara umum itu memuaskan Anda?

ThreeBees Berdengung untuk Kesehatan Anda’ adalah tagline yang ia dapati. Inilah biangnya, obat yang dikejar Tessa dan Arnold, maka Justin mencoba ungkap. Menjelajah Eropa dengan menyamar sebagai wartawan surat kabar, Peter Paul Atkinson. Dunia sekarang ini lebih kejam daripada saat kita muda dulu. Banyak orang jahat di mana-mana dengan berbagai hal untuk dikejar dan banyak yang kalah, itulah bibit sifat-sifat buruk. “Sandy, tugasku adalah mengabdi untuk Afrika…”

Pertentangan Inggris dan Negara maju lainnya dengan Kenya dan Negara miskin sekitarnya. Afrika seolah memang dijadikan laboratorium manusia, menjadi tempat uji coba obat baru. Apa yang menjadi pengikat bangsa-bangsa belakangan adalah konsep liberalism humanistis. Wazungu (Bahasa Kiswahili), artinya orang kulit putih. Afrika menjadi tempat untuk menguji obat milik kulit putih. “Negara Sudan pada dasarnya adalah sebuah fantasi ahli kartigrafi zaman kolonial…” Kenya dan Sudan, emas dan minyak. Mereka sudah bertarung memperebutkannya.

Segala hal tampak baik-baik saja kalau kau hanya duduk-duduk di kantor PBB yang mewah di Jenewa sana. Baru tampak lain kalau kau berada di lapangan. Dosa asal dalam pendapatku adalah sebuah gagasan mengenai kemurnian. Tapi manakah kemurnian sekarang ini? Obat Dypraxa, obat anti TBC inovasi milik KVH. Setiap obat yang didistribusikan ke Kenya harus melalui kebijakan. Sebuah obat, begitu bisa didistribusikan di sebuah Negara dan orang-orang kesehatan setempat mendukungmu seratus persen.

Aku datang ke sini untuk memintamu tutup mulut mengenai kekeliruan yang terjadi dalam pemerintahan Moi di hadapan setiap orang di Nairobi. Kalau ragu, berbohonglah, begitu janjinya kepada dirinya sendiri. Kalau gawat, berbohonglah. Kalau aku tidak percaya pada siapa pun – bahkan pada diriku sendiri – kalau aku harus setia hanya pada kematian, berbohonglah. Anda sudah empat puluhan, andropouse, berumur, seperti halnya Justin. “Aku harus mendapatkan jaminan bahwa London melindungi kita untuk hal ini.”

Dengan kedok investasi, modal Barat akan menghancurkan lingkungan setempat dan menyuburkan kleptokrasi. Bantuan untuk Dunia Ketiga merupakan bentuk eksploitasi dengan nama lain. Itu adalah sesuatu yang saya sebut telah diterima. Anda menyangka Anda sedang menyelamatkan masalah-masalah dunia, padahal sebenarnya Andalah masalah itu. Pikirannya berputar-putar melewati labirin keanehan di kepalanya. “Dia mengakui suara hatinya, aku melakukan pekerjaanku. Itu adalah perbedaan yang tidak bermoral…”

Gema dari suaranya sendiri yang merambat ke lantai atas. Untuk bertindak tetapi tidak bergerak, untuk menjadi sesabar orang suci, dan sesopan anak kecil. Untuk mematikan identitasnya sendiri dan memperbarui identitas Tessa, untuk membunuh Justin dan menghidupkan Tessa kembali. Pemain kunci dengan cepat mendapatkan nama panggilan. KVH menjadi Giant, Dypraxa menjadi Pill, sementara Lorbeer menjadi Goldmaker. “Sebuah perusahaan kecil bernama Bell, Baker & Benjamin, dikenal dengan sebutan ThreeBees…”

Rencananya sangat sederhana, pengaturan waktunya sempurna. Rencananya adalah menguji Pill di Afrika sesama dua atau tiga tahun, sebuah perhitungan waktu yang dibuat KVH bahwa TBC akan menjadi masalah besar di Barat. Kau tidak akan mengeluarkan ancaman pembunuhan kepada orang-orang yang tidak mengancammu. “Tessa adalah makhluk langka, dia adalah pengacara yang percaya pada keadilan. Tess punya masalah dengan orang-orang farmasi itu.”

Jadi, kalau kau tahu semua ini, Demi Tuhan, kenapa menanggungnya sendiri? Desaknya pada laut, kepada langit, dan kepada angin malam yang menggigit. Tutup mulut saja. Karena aku punya janji-janji yang harus kupegang. Setiap orang tahu bahwa Afrika adalah sampahnya farmasi dunia dan ThreeBess adalah salah satu distributor utama produk farmasi di sana. “Opini ilmiah yang tidak bisa dibeli semakin sulit ditemukan.”

Karena kau seorang pengacara dan kalau berhubungan dengan rahasia – seperti yang biasa dikatakan Tessa – dibandingkan denganku, kuburan adalah di tukang ngoceh. Dia menunggu ucapan ‘Kasihan kau, sayang’, tapi yang didapatkannya hanyalah keheningan yang samar. Mereka bertindak normal, menunggu suatu alasan untuk melakukan apa yang telah mereka rencanakan tanpa mereka sadari itu. Mirip bunuh diri. Seseorang menyampaikan lelucon ringan… dan dor, mereka menarik picunya.

Sebuah benda distorsi yang dirancang secara brilian untuk mengubah fakta menjadi monster tetapi membuatnya tetap terlihat seperti fakta. Mata-mata berbohong dengan kata-kata bersayap dan menunggu. Menteri kesehatan Rusia tiba dengan lada, dan pergi dengan Mercedes. Lelucon kesukaan Lorbeer. “Bagaimana menerjemahkan waghalsig?” tanya Brigit / “Ceroboh kukira. Nekat mungkin. Kenapa?” / “Kalau begitu aku juga waghalsig.” Kata Brigit.

Di dunia orang-orang yang berkuasa, hal ini normal. Bagi seorang humanis, Tuhan adalah sebuah alasan agar kita menjadi humanis. Menjadi orang jahat dengan nurani yang baik. Aku sudah lulus dengan rasa sakit. Dirinya bekerja untuk sistem bukan berarti membuatnya menerima kebohongan-kebohongan sistem tersebut. Lebih baik berada dalam sistem lalu melawannya, daripada di luar sistem lalu meneriakinya. “… Jika kau memutuskan menyembunyikan kebenaran, maka hal pertama yang harus kau lakukan adalah memberikan kebenaran yang berbeda kepada orang-orang untuk mendiamkan mereka, kalau tidak mereka akan bertanya-tanya apakah kebenaran yang sejati disembunyikan di suatu tempat dan itu takkan berhasil.”

Ia memasukkan tanggal pernikahannya, dan hampir pingsan karena kesakitan setiap kali dia memasukkan nomor kunci. Swiss adalah impian kanak-kanak, menemui Dr. Lara Emrich untuk mengejar fakta sungguh dilematis. Kami bertengkar seperti sepasang kekasih. Khawatir telah kehilangan perasaannya terhadap waktu. Cantik dan bernyawa, dan terobsesi pada dirinya sendiri. Kalau itu bukan kejahatan terorganisasi, lalu apa? Seorang bangsat Rusia merampok PBB di Nairobi, itu anarki. Apa yang tidak dicapai kekeringan, dicapai oleh perang saudara dan juga sebaliknya. “Kau akan kasihan pada Lorbeer.” Kata Lara sebagai kalimat perpisahan.

Akhirnya saya menyelesaikan baca buku tebal ini. Kubeli tahun 2011 sebagai buku pertama yang kutaruh di rak setelah menikah, mampir ke Lippo Cikarang sepulang kerja lalu lanjut nonton Three Musketeer sendirian, kucoba baca di tahun yang sama, gagal selesai. Malah kutonton filmnya dengan bintang Liam Neeson (biasa banget, lupa intinya), lalu kucoba lagi baca tahun 2012, tetap saja gagal selesai. Dan akhirnya mangkrak di rak. Baru deh, beberapa bulan lalu saat menata buku, nemu buku ini dan sadar belum kutuntaskan. Maka saat ambil cuti sehari pada tanggal 10 Juli 2020, kucoba lahap ulang. Namun tetap saja sehari nggak selesai, setengah harinya malah baca buku leadership-nya John Maxwell yang langsung selesai baca sekali duduk. The Constant sempat nangkring lagi di rak dalam posisi terhenti di halaman 187, saya tulis di bab 8: ‘stop press; cuti’. Bulan Oktober lalu kembali kucoba lanjutkan, kembali terhenti di tengah bulan. Akhir bulan, tepat tanggal 31 Oktober saat libur, selepas subuh, kucoba tuntaskan. Akhirnya selesai juga. Enam ratus lima puluh tujuh halaman yang sangat melelahkan… salah satu buku yang sulit diselesaikan. Salah satu buku benar-benar butuh perjuangan ekstra untuk menuntaskan. Hufh… memang bukan buku biasa. Terlampau panjang, dengan detail-detail di luar plot yang meliar dan meluas ke mana-mana. Worth it untuk yang suka kisah penyelidikan, yang suka kisah dengan perjalanan rumit. Namun akan kecewa, atau biasa saja untuk orang yang mencintai cerita yang utama. Ceritanya mungkin berakhir datar, di mulai di danau, di akhiri pula di tempat yang sama.

Masalah obat ini adalah: pertama berbagai efek sampingnya ditutupi demi meraih keuntungan. Kedua masyarakat termiskin di dunia digunakan sebagai kelinci percobaan oleh masyakarat terkaya di dunia. Ketiga debat ilmiah yang sah mengenai masalah ini diberangus oleh intimidasi korporat. Apa yang benar selalu kekal. Para bedebah ini tidak memikirkan apa pun selain keuntungan yang sangat besar, dan itulah kebenaran. Dyraxa bukan obat yang buruk, itu obat bagus hanya belum menuntaskan uji cobanya. Tidak semua dokter bisa dirayu, tidak semua perusahaan farmasi itu ceroboh dan tamak. Tessa dan Bluhm telah dibunuh karena mengetahui tentang kesepakatan jahat yang dilakukan perusahaan farmasi. Tessa adalah korban dari konspirasi internasional.

Kebetulan saya baru selesai baca The King of Torts-nya John Grisham yang juga tentang kesalahan Perusahaan farmasi. Apesnya di Amerika sana, dijadikan ajang gugatan di pengadilan. Di Inggris, The Contant malah menjadi seteru panjang. Poinnya sama, obat gagal yang terlanjur dipasarkan. Memang benar sekali, keselamatan dan kesehatan adalah yang utama. Di atas segala kepentingan yang ada di dunia, termasuk berkebun tentu saja. “Aku suka menyetir. Tidak ada yang lebih kusuka selain membuka jendela mobil dan membiarkan debu beterbangan.”

The Constant Gardener | by John le Carre |copyright 2001 | Diterjemahkan dari The Constant Gardener | Penerjemah Lulu Fitri Rahman | Penyunting Vitri Mayastuti | Pewajah isi Siti Qomariyah | Penerbit Serambi | Cetakan I, September 2007 | ISBN 978-979-1112-79-6 | Skor: 4.5/5

Untuk Yvette Pierpaoli Yang hidup dan mati demi kepedulian

Karawang, 041120 – 101120 – Eric Clapton – Fall Like Rain