Esther dan Buddy, dan Masa Muda Meragu

The Bell Jar by Sylvia Plath

Kalau gangguan syaraf diartikan sebagai menginginkan dua hal yang sama besarnya sekaligus dan pada saat yang sama, kalau begitu aku ini terkena gangguan saraf parah. Aku akan terbang bolak-balik antara dua hal yang sama penting sepanjang hidupku.”

Buku pertama bulan November yang kuselesaikan. Kubaca 1 x 24 jam, mulai Minggu pagi tanggal satu, selesai Senin pagi di tempat kerja sebelum mulai bekerja. Sengaja berangkat sangat pagi untuk menuntaskan kisah Esther. Selang-seling sama Jenazah Lazarus yang mencekam. Mendapat endors dari Penulis kawakan Ahmad Tohari: “Pantas disebut sebagai salah satu novel terbaik yang pernah ditulis.” Hhhmmmm… separuh pertama sepakat. Meliuk-liuk liar, remaja yang tumbuh menjanjikan. Paruh kedua terpuruk terseret kegalauan akut, dan akan terus sampai garis finish. Esensi indah itu terkikis perlahan, memang sulit mempertahankan tempo.

Esther Greenwood dapat kesempatan langka, menerima beasiswa kuliah di jurusan yang ia idamkan di dunia tulis-menulis, memiliki teman-teman yang baik. Pacar yang potensial sukses, kuliah di kedokteran dengan kedua orang tua yang sepenuhnya setuju menjadikannya menantu. Ibunya yang perhatian, tapi ia menjadi yatim saat masih sekolah. Mungkin dari sini mula sakitnya? Ia menderita penyakit mental. Ketika aku berjalan di jalanan New York sendirian sepanjang malam, kemisteriusan dan keagungan kota ini pada akhirnya merasukiku.

Dibuka dengan suasana aneh, Esther dan teman beasiswanya Dareen melancarkan misi cabut dari seminar yang diadakan panitia. Total dua belas mahasiswa, di hotel mewah Amazon, New York. Dareen mengajak cabut untuk menemui cowok-cowok iseng di bar. Berkenalan dengan Lenny seorang DJ dan temannya. Mereka akan kencan. Esther memang turut ke apartemennya, tapi ia pulang lebih awal, pergi meninggalkan temannya berkencan. Laki-laki tidak memiliki setitik pun intuisi. Dareen punya intuisi. Segala yang dikatakannya suatu rahasia yang berbicara langsung dari tulangku sendiri.

Ada sesuatu yang aneh di diri Esther. Ia suka melalangbuanakan pikiran, menelaah hal-hal yang belum pasti itu mengasyikkan sekaligus menakutkan. Ia masih suci, di sini akan sering disinggung, yang artinya ia masih perawan, maka ia ingin menghabiskan malam pertama dengan seseorang yang istimewa. Beberapa kali percobaan kencan dilakukan. Salah satunya ya di pembuka tadi. Keheningan itu membuatku tertekan. Itu bukan keheningan karena hening. Itu adalah keheninganku sendiri.

Percobaan kencan berikutnya masih sama duet Dareen, lagi-lagi ketika temannya berhasil bermalam dengan seorang cowok, Esther malah mengacaukan suasana. Berakhir ricuh dan ancaman. Esther yang aneh dan berpikiran liar ini memiliki kepribadian lain. Ia bekerja, magang di perusahaan penerbitan. Bosnya Jay Cee, yang galak dan keras mengetahui itu, membimbing sang yunior menulis buku. Belajar, menulis, dan bekerja seperti orang gila adalah hal yang kuinginkan, dan itu benar.

Esther memutuskan untuk menghabiskan musim panas dengan menulis novel. Itu akan memperbaiki banyak orang. Setidaknya, ia beruntung bila bisa menulis satu lembar per hari. Pahlawannya adalah dirinya sendiri, hanya saja dengan penyamaran. Dia akan bernama Elaine. Elaine. Ia menghitung huruf-huruf dengan jemari. Dalam nama Esther juga ada enam huruf. Sepertinya membawa keberuntungan. Secara liar, tentu saja kita mengasumsikan Sylvia sendiri yang menulis novel ini, terlalu banyak kemiripan. Apalagi obsesi membunuh diri, persis dengan sang Penulis.

Sifat sederhana juga terlihat dalam memberikan tips tanpa alasan jelas. “Aku benci menyerahkan uang kepada orang lain karena melakukan sesuatu yang bisa kulakukan sendiri dengan mudah. Itu membuatku gelisah.” Seperti para porter yang mengangkatkan kopernya, atau pramusaji yang melakukan pelayanan di restoran. Hal-hal yang sederhana dan sebenarnya tak perlu mengeluarkan duit ekstra sejatinya tak ia sukai.

Pacarnya yang annoy, Buddy Willard. Setelah lamaaa berpacaran, pada akhirnya Esther menemukan fakta mengecewakan terkait kejujuran. Kalau lelaki menuntut keperawanan, kenapa wanita nggak? Maka saat ia mengaku telah bercinta, bukan sekali-dua kali dengan seorang pramusaji, saat itulah Esther memutuskan Buddy, hubungan ini tak laik dilanjutkan. Walau secara tak langsung mengucapkannya. Nah, apesnya waktu malah memberi jawaban lain. Buddy menderita TB Paru, sehingga ucapan putus itu secara otomatis. Bahkan ketika dirawat di Rumah Sakit, ayah Buddy mengantar Esther menjenguk, dan ‘memohon’ cucu, pada akhirnya Esther. Kode mudah yang dipecahkan, tapi ia memang bukan gadis biasa.

Menemukan warna baru, beige? Saat dalam pusat rehabilitasi ada narasi yang menjelaskan setting tempat. Dinding berwarna beige, karpet berwarna beige, dan kursi dan bantal serta sofa berwarna beige. Apa itu warna beige?

Selesai baca, di lembar akhir ada sekilas tentang Penulis. Dan ternyata sudah meninggal dunia, bunuh diri. Sama seperti obsesi sang protagonist, sama dengan salah satu rekan terbaiknya yang memutuskan gantung diri di hutan. Ini buku pertama beliau yang kubaca, dan ternyata ini satu-satunya novel yang ditulis. Sylvia lebih banyak menulis puisi, seorang penyair. Coba Penerbit lokal, terjemahkan karya-karya beliau. Kita butuh lebih banyak terjemahan kumpulan puisi klasik dari luar, bukan prosaaaa mulu. “Kau tahu apa itu puisi, Esther? Secuil debu.” Kata Buddy, tapi di-counter langsung sama Esther, bukan hanya puisi! Dunia seisinya adalah setitik debu dalam semesta. Walau secara cerita The Bell Jar terasa monoton di paruh akhir, tetap saja kisah yang disajikan terasa unik. Apalagi endingnya, saat Buddy dan Esther kembali bertemu dan saling sapa. Hiks,…

Kebetulan saya sedang membaca beberapa buku filsafat dan psikologi, sungguh dunia pikiran dan kehidupan yang asing dan liar. Sakit badan bisa terlihat dan bisa diobati dengan hasil yang bisa diprediksi, tapi kalau isi kepala siapa yang tahu? Aku lebih suka ada yang tidak beres dengan tubuhku ketimbang kepalaku.

Tulisan ini saya tutup dengan kutipan ironi buku, bagaimana sahabatnya memiliki cita-cita mulia, menyembuhkan orang-orang yang berpenyakit mental. Joan sobat lamanya yang menemani saat terpuruk. “Aku mau jadi psikiater.” Katanya antusias.

Antusias yang mengharu, dan sakit. Hari esok tak ada yang tahu, misteri untuk orang-orang masa lalu, masa kini, dan untuk generasi berikutnya, entah sampai kapan. Rencana demi rencana melompat-lompat di kepalaku, seperti sekeluarga kelinci kelimpungan. Sampai kapan merenungkan nulis? Waktu yang disediakan Tuhan masih sama 24 jam sehari. Masa yang misterius dalam dunia lonceng yang bergemuruh.

The Bell Jar: Kisah Klasik tentang Kegalauan dan Penemuan Jati Diri | by Sylvia Plath | diterjemahkan dari The Bell Jar | Copyright 1966 | Penerbit Ufuk Publising House | Pewajah sampul Opung Donggala – ufukreatif Design | Pewajah isi Husni Kamal – ufukreatif Design | Penerjemah Kania Dewi | Penyunting Uly Amalia | Cetakan I, Desember 2011 | ISBN 978-602-9346-18-3 | Skor: 4/5

Untuk Elizabeth dan David

Karawang, 03-051110 – Bee Gees – Secret Love

Thx to Rindang Buku (Ari Naicher), Klaten & ADP Book, Surabaya