Ganti Rugi

Ganti Rugi

Bro buddy uda tau dari bbrp bulan yang lalu, punya feeling dia. Makanya boronf buku terus. Buat pelaria (ikon senyum semu, tangan menutup mulut)…” Jacky Sjarif (BM)

Sekadar cerita apa yang terjadi hari ini.

Hari ini dimulai biasa saja, tak ada yang istimewa, sampai akhirnya di area gudang beberapa saat setelah adzan Asar, kubaca sebuah notifikasi twitter. Sebelum matahari menampakkan diri, dengan ketergesaan setelah subuh dengan segelas kopi pahit dan memulai baca novel John Grisham: The King of Torts (diterjemahkan GPU menjadi ‘Ganti Rugi’) yang baru dibuka #Ciprut semalam. Tumben, Hermione ikut subuh, doa-doa baik untuk keluarga dan keinginan ia kuliah beasiswa ke London (saya revisi setelah keinginannya ke Jerman, dan dia sepakat ke London saja karena Winnie the Pooh dan Harry Potter, serta Pevensie Bersaudara dicipta di sana). Lalu selama ia menonton kartun Keluarga Somad di tv, istri membaca doa pagi-sore di sofa, saya seperti biasa, seperti cara memulai hari sebelum-sebelumnya, menikmati empun pagi dengan novel dan kopi, yang janggal HP Redmi 9 kutaruh di rak, lazimnya baca buku sambil dengar mp3: Sherina Munaf. Apakah mungkin karena kegagalan menang pulsa Saha, memakai tripel kapten Kane, tapi semalam Bamford dan Koch gagal menuai poin banyak, Leeds kalah pula, sehingga gagal menggeser puncak duo Srikandi Poolian FOC? Siska dan Iin lagi yang memang, bah bah bah. Yang cabut Bung Christ, langsung didepak Lelur dari grup The Last Manager. Hebat duo CIMB masih bertahan. Papa Jordan ngompori, sentimen warga keturunan, dan Mbah Yudi juga masih saja sher berita politik miring. Mending sher jelita aja ketimbang isu panas DKI yang absurd. Hiks, sia-sia tripel-ku hanya menuai total poin 50-an. Kalau sekadar lawan Mbah Jabo, kapten bek juga menang. Hal lumrah, tak ada hal yang mencurigakan.

Pun, saat akan berangkat kerja. Memakai sepasang kaos kaki yang sudah sobek dan longgar, hari ini tumben sewarna, biasanya asal ambil di jemuran beda warna: hitam-putih, sepatu yang sudah bolong pula. Punya dua sepatu, dua-duanya sudah rusak, yang satu bolong lebar di depan, yang satu bawahnya sudah tak ada lapisan alas, sehingga tiap jalan kaki, yang kuinjak adalah gerigi bawah sepatu. Kali ini yang kusambar yang bolong depan, sepatu merah pemberian bapak. Tak ada perasaan apapun yang mengganjal, kecuali bensin SiKusi yang habis, sampai nyaris kosong, memang sudah tak ada tanda indikatornya, sudah mati lima tahun yang lalu. Tumben, biasanya saya isi bensin tiap Jumat atau Kamis sore, isi bensin berdasarkan feeling, mampir beli sarapan di pinggir jalan, yang anehnya batagor itu terjatuh di polisi tidur Cidomba jelang jembatan tol. Biasanya yang terjatuh hanya kuncinya yang memang sudah rusak, lubang kunci soak lebar sehingga tiap ada ganjalan akan lepas, makanya saya ikat di cantolan, kali ini bungkusan makan turut bergolak hingga terjerebab sendiri. Sempat ragu saya ambil atau lewat saja untuk beli makanan lagi di depan, akhirnya setelah beberapa detik berhenti di pinggir jalan, saya putar balik untuk memungut seplastik makanan yang untungnya tak terlindas kendaraan lain. Jalanan Karawang pagi yang riuh, seperti biasa. Tak ada hal-hal istimewa rasanya.

Cek suhu yang konsisten di angka 36,1 – 36.2, cuci tangan di wastafel otomatis, masuk lorong spray anti covid, di depan ada karyawan mau masuk, saya tegur. ‘Woy… saya mau masuk lorong, jangan berdua di dalam semprotan!’ Dia cuma ngengir, maaf. Hufh… masih tak ada yang aneh hari ini.

Sesampai di kantor, sarapan di ruang makan dengan gegas demi saving belasan menit jelajah kata bersama Grisham, terhenti sebab jam kerja bordering, sampai di bab enam ketika pengacara Clay Carter dalam kebimbangan mengambil kasus pembunuhan warga kulit hitam. Pembunuhan tanpa motif, pecandu narkoba yang lelah? Remaja kulit hitam menembak remaja kulit hitam lain, sebuah hal biasa di DC? Selalu ada kejutan, kalau kalian familiar kisah pengadilan Grisham. Olahraga pagi senam sehat, saya selalu bersemangat menyongsong pagi, sembari mengusap peluh berjalan ke meja kerja. Hari ini Selasa, 3 November 2020 rutinitas mencari nafkah resmi dimulai. Masih tak ada firasat apapun.

Laporan bulanan di awal bulan dalam ketikan sebentar, karena setengah kemudian ada seminar online dari kantor pusat dengan tema: “Managing Your Emotions as a Leader”. Isinya bagus, terkait cara me-manage tim agar tetap perform, bagaimana kondisi senang sebuah tim bisa membuat produktifitas meningkat. Teori-teori leadership dipaparkan, gagasan-gasan bagus dibedah. Saya kutip satu saja, “Jika Anda ingin melakukan perjalanan jauh dan cepat, lakukan perjalanan yang ringan. Tanggalkan semua iri hati, cemburu, sikap tidak dapat memaafkan, egois, dan AIR MATA.” Glen Clark. Training online dengan zoom yang memang rutin dilakukan pusat, bagus, padat, dan sangat bermanfaat. Walau beberapa kali harus meninggalkan meja karena keperluan kerja, zoom class seperti ini merefresh pikiran. Jelang tengah hari, justru tak ada firasat aneh. Sama sekali.

Istirahat, saya sempatkan menikmati kelanjutan kisah proses pengadilan Tequila Watson sepuluh menit sebelum ke lantai atas untuk makan siang. Menunya mungkin biasa saja, karena lapar terasa nikmat. Memang, makanan terenak adalah lapar, seperti biasa pilih menu ikan kalau ada. Banyak teman komplain komposisi makan siang yang disajikan catering, saya heran apanya yang dipermasalahkan? Menu lengkap, empat sehat lima sempurna. Bahkan susu seteko ada, buah yang segar. Sungguh beruntung Perusahaan menyediakan makan siang selezat ini! Sambil buka HP update skuat Fantasi Champion League, jual dua pemain cedera, ambil pemain antah tim lain. Lazio tetap tiga pemain, walau Strakosha meragukan, hanya kucadangankan saja. Saat waktu masih setengah jam, saya manfaatkan telpon Hermione, video call memberi asupan semangat. Dia cerita semangat dari bangun tidur sampai makan siang, “Setelah nonton Somad, tidak tidur lagi Yah, sekloah online.” Lalu memperlihatkan gambar keluarga: Ayah, Bunda, Ciprut. Dan celoteh khas anak kecil lainnya. Menyenangkan, di tengah padatnya kesibukan, masih bisa menyediakan waktu bersama orang terkasih.

Masih sepuluh menit, salat Dhuhur dan tiduran bentar di mushola. Cek bentar harga saham Unilever sudah hijau lagi. Kata Harris trend masih berlanjut. Saat alarm menyala, rutinitas kerja tahap kedua dalam sehari telah kembali. Hari ini memang jadwal keliling pabrik, seharusnya sebelum Dhuhur, karena ada training makanya kita jadwalkan jam 13:30-an. Sebelum mulai, kubuka IPOT Go, saham ASRI sudah hijau, langsung klik sell (happy cuan!), menyisakan tiga lot yang memang jadi kenang-kenangan saham pertama yang kubeli, saran Mbah Iwan begitu. Bersama FM, Prod Mng, dan Teman baik Ross. Mengenakan masker, face shield, dan coat baju GMP, kita muterin pabrik. Ke line produksi dan gudang, gemba memastikan keselamatan, kondisi bagus, sampai hal-hal yang perlu diperbaiki. Kurang lebih dua jam. Feeling itu tiba-tiba muncul, saat kuperhatikan lantai gudang yang berlubang sebab kelindas forklift dalam rutinitas. Kuperhatikan, sepertinya ada yang janggal. Kuambil serpihan semen dan pasir, kugosok dua-tiga kali dengan jempol dan telunjuk, wah harus segera ditambal. Semen yang wajarnya berwarna abu-abu terang, kali ini hitam pekat. Aneh ada pasir hitam di area pabrik yang tertutup rapat? Jiwa Holmes ku sempat menyala. Lalu HP-ku bergetar.

Seusai gemba, beberapa saat keluar gudang menuju lobi depan, kubuka HP. Saat itu selintas lewat adzan Asar berkumandang. Getaran itu sudah kutahu dari Sher, berisi sebuah notifikasi twitter. Satu-satunya akun twit yang kunyalakan Sherina Munaf. Awalnya nggak nggeh, langsung ku Retwit sebaris kalimat Sherina dan gambar ia memamerkan cincin, berdua. Baru nggeh setelah Asar. Setelah dizkir di mushola depan, dan doa-doa umum yang sangat hapal saking seringnya diucap. Saya kembali buka HP, dan sebuah Grup Film BM membagikan sebuah berita menghebohkan itu, mengguncang iman. Dari detikcom, dibagikan oleh sang panutan Lee pada pukul 14:54 berjudul: ‘Sherina dan Baskara Mahendra Resmi Menikah’. Lhaaa… Gangan gercep mengganti PP FOC grup, atas usulan Imunk.

Apa yang saya rasakan? Entahlah… saya hanya perlu menenangkan diri beberapa menit. Pertama nyamperin teman baik Rani Skom, menyampaikan berita ini, hiks. Lalu masuk ke ruangan, kututup, ac kunyalakan, memeluk ikon senyum yang tergambar di selembar kertas. Samar-samar kudengar di ruangan pada bahas Sher, dan beberapa kenangan lalu bagaimana Sher menemani lama bersama HP BB Pink, full lagu Sherina selalu berkumandang di ruangan. Beberapa mencerita, betapa idola juga manusia. Lalu pindah ke ruangan ATK menyendiri lagi, beberapa teman yang sudah tahu kabarnya menguatkan, lalu muncul ilham giveaway buku-buku preloved, ada Sembilan yang kuberikan gratis. Setelah kuis bola #ForzaLazio (langsuung dua dibuka), dan buku di grup film (padahal saya belum menghitung totalnya). Mari menghitung beberapa kemungkinan.

Buku, bagaimanapun adalah barang kesukaan terdepan. Membagikannya berarti membagikan kebahagiaan ke teman-teman. Silakan bagi teman-teman yang berminat. Sementara hanya dilakukan di facebook.

Sore ini juga saya langsung mengajukan cuti, ditanya bos kenapa mendadak. “Keperluan pribadi. Saya seumur hidup belum pernah mengajukan cuti mendadak (memelas). Saya selalu taat pada aturan seminggu sebelumnya. Kali ini saja Pak, saya mau istirahat di rumah.” Ketika ditanya ada apa, dengan curiga. Saya melanjutkan, “Nggak ada apa-apa Pak. Saya jamin, saya tak akan keluar kota (saat ini dilarang, kalau tetap melakukan wajib swab mandiri seharga satu setengah juta!), saya hanya di rumah saja besok. Beneran nggak ke mana-mana….” akhirnya di-approve.

Baiklah, kini (bung) Takdir pasangan sudah menyapa. Selamat Sher, semoga yang terbaik. Hari yang paling ditunggu, menjawab segala tanya sepanjang hidup ini, akhirnya terjadi juga. Sherina sudah 30 tahun, saya sudah 30-an tahun. Usia matang untuk menghitung probabilitas sisa napas. Usia Nabi SAW 63 tahun, umatnya tak akan jauh dari itu. Yang berarti separuh perjalanan kita sudah dilalui. Kalau takdir sudah berkata ‘fiat lux’, yang terjadi adalah terang benderang sekalipun di gelap malam yang pekat. Masihkah bisa (kita) menghitung kemungkinan?

Mulai hari ini, SB (sebuah inisial yang beberapa kali kupakai sebagai coretan di buku) bukan berarti Sherina Budy lagi. Kalian tahu maksudku, ‘kan. Ada sesuatu yang bernilai di sana, artinya Anda masih memiliki harapan.

Karawang, 031120 – Tak Ada Lagu Yang Menemani

*diketik sepulang kerja, tanpa lagu, tanpa kopi.

*Novel The King of Torts (Ganti Rugi) yang masih dalam proses baca, saya masukkan ke dalam giveaway