Kegelapan Jiwa: Kebenaran Melucuti Jubah Waktu

Heart of Darkness by Joseph Conrad

Bumi seolah-olah asing. Kita terbiasa melihat sebentuk belenggu dari sesosok monster yang takluk, tapi di sana – di sana kalian bisa melihat sesuatu yang benar-benar besar dan bebas…

Kurtz artinya pendek dalam bahasa Jerman. Novel yang menawarkan kegetiran, sebuah perjalanan reliji ke jantung kegelapan. Dibagi dalam 3 cerita utama (salah cetak halaman 1, 5, 31), tanpa banyak penjelasan detail, tanpa kisi, semua mengalir bak arungan kapalnya yang tenang. Matahari tenggelam, senja turun pada arus sungai, dan pelita mulai bermunculan sepanjang tepian. Menara suar Chapman, bangunan berkaki tiga yang didirikan di atas pantai berlumpur, bersinar terang.

Kisahnya mengambil setting dalam perjalanan ke belantara Afrika, menyusuri sungai. Bernarasi kalimat langsung, jadi sang tokoh Aku menceritakan kepada para awak kapal, pengalamannya selama perjalanan. Sebagai nahkoda dalam misi menjelajah ke Congo, sebagai wilayah jajahan Belgia. Nah, selama air mengalir mengantar mereka itulah kita disuguhi sisi gelap manusia. Kolonialisme, pemaksaan kehendak demi kepentingan para penjajah, penjualan gelap gading gajah, korupsi, hingga perilaku manusia dalam sisi hitam. Memudiki sungai ini bagaikan melakukan perjalanan kembali ke masa paling awal dunia ini, ketika vegetasi bersuka-ria di bumi dan pepohonan besar bak raja-raja.

Kisah mengambil sudut pandang Marlow, sang Nahkoda. Nyaris semua narasi adalah kalimat langsung. Cerita tentang pelaut mengandung kesederhanaan juga, keseluruhan maknanya berada di balik kulit kacang yang dibelah. Bagi Marlow, arti bagi sebuah episode tidak berada di dalam sebutir biji, melainkan justru di luarnya, membungkus dongeng yang membawanya keluar tepat seperti sinar terang menggiring keluar halimun, serupa pula dengan halo kabut yang kadang-kadang dibuat kasat mata oleh cahaya bulan.

Perjalanan ekspedisi menembus belantara misterius. Banyak hambatan, suku pedalaman yang menyerang, nyamuk-nyamuk yang ganas, sampai serbuan maut. Seperti lautan api di atas daratan, seperti kilasan petir dalam awan, kita hidup kerlap-kerlip – semoga tetap menyala selama bumi tua ini terus berputar. Tetapi kegelapan ada di sini kemarin.

Bagian kedua bagus banget, ketika memutuskan menambatkan kapal, ada serangan fajar dengan panah-panah beracun saat mereka mengangkat jangkar. Ada tewas, dan tindakan tergesa dan darurat diambil. Yang menyelamatkan kita adalah efisiensi – ketepatan pada efisiensi. Kalian tak bisa membayangkan betapa bisa efektifnya suatu percakapan. “Aku tidak sebodoh penampilanku.” Kata Plato pada murid-muridnya.

Di kawasan tropis, orang harus merasa tenang sebelum melakukan sesuatu. Kami berhenti di beberapa tempat lagi dengan nama-nama jenaka, tempat tarian kematian dilakukan secara meriah dan perdagangan perdagangan terjadi secara damai dan atmosfer bumi sepanas katakomba. Penampilannya tentu saja serupa boneka penata rambut, namun di tengah demoralisasi besar-besaran di tanah ini, dia menjaga penampilannya.

Nama yang terasa agung, tuan Kurtz bagi Marlow dia hanya sebuah nama. Dipuja puji bak dewa. Kata ‘gading’ berdering di udara, dibisikkan, didesahkan. Kalian akan mengira mereka sedang mendarasnya. Sebuah dosa dari nafsu sinting berhembus melewati semuanya. Tuan Kurtz, seorang pimpinan Pos Pedalaman. Dia adalah seorang utusan kasih dan ilmu pengetahuan dan kemajuan, dan hanya setan yang tahu sisanya.

Sering sekali narator bersumpah Demi Jupiter! Ilmu pengetahuan tertarik untuk mengamati perubahan mental seorang individu, yang terjadi dalam waktu singkat. Ada noda maut, bumbu kematian dalam dusta – tepat yang kubenci dan kujauhi di dunia ini – yang kulupakan. Karena tak ada hubungan suatu mimpi bisa menyampaikan sensasi-mimpi, yang tercampur baur antara absurditas, kejutan, dan kekaguman dalam sebuah getaran perjuangan pemberontakan. Ini muncul dalam bentuk sebuah mimpi yang rusuh dan rebut.

Kita hidup, sebagaimana bermimpi. Sendirian. Gerombolan ekspedisi penuh dedikasi ini menyebut diri sebagai Ekspedisi Eksplorasi Eldorado. Bagi pelaut, menggoreskan dasar kapal yang seharusnya yang mengapung sepanjang waktu di bawah pengawasannya adalah dosa yang tak terampuni.

Pohon, pohon, jutaan pohon, bagai raksasa, tak habis-habis, berlarian tinggi ke atas; dan pada kaki-kaki mereka, memeluk tepi sungai melawan arus, menyelinap ke sela-sela kapal-uap kecil yang tercemar, seperti lalat lambat yang merayap di atas lantai portik yang megah. Pemandangan ini membuatmu merasa sungguh kecil, perasaan yang tersesat jauh, walaupun belum semuanya.

Banyak sekali dituturkan dengan nada puitik. Indah menggambarkan alam. Subuh dimeriahkan oleh memudarnya kesunyian yang membeku; para pembelah kayu, api mereka menyala rendah; berkah sebatang ranting akan membangunkan kalian. Kami adalah pengembara di muka bumi prasejarah, di muka bumi yang mengenakan penampilan suatu planet tak dikenal.

Pikiran manusia toh sanggup mencapai apapun – karena segalanya ada di dalam situ, semua masa lalu sebagaimana juga semua masa depan. Di sebuah pos Marlow menemukan buku yang bagus. Judulnya: Sebuah Penyelidikan dalam Beberapa Pokok Pelayaran, oleh seseorang bernama Towser atau Towson, Nahkoda dalam Angkatan Laut Kerajaan. Memberi petunjuk seperti apa Kurtz ini.

Ketika halaman mendekati akhir, mendekat pula tujuan kapal ini. Mendekati Kurtz ternyata dikepung oleh sekian banyak bahaya seolah-olah dia adalah seorang putri yang memesona di dalam kastel menakjubkan. ‘Gadingku, impianku, gadingku, posku, sungaiku – segala sesuatu adalah miliknya.’ Kalian tak bisa bayangkan tempat lain yang lebih mematikan ketimbang kapal karam.

Baik omonganku atau diamku, tindakan apapun dariku, akan sia-sia belaka. ‘Tapi mumpung masih muda, orang harus melihat banyak hal, mengumpulkan pengalaman, gagasan; memperluas wawasan. Di sini kau tak pernah bisa tahu, di sinilah aku bertemu Tuan Kurtz.’

Aku terpikat ke dalam semacam kekaguman – seperti kecemburuan. Daya tarik mendesaknya ke atas, daya pikat menjaganya dari cedera. Dia jelas tak menginginkan apapun dari belantara selain ruang untuk bernapas dan dorongan kuat. Di depan ilusi kebesaran yang menyelamatkan, yang bersinar dengan kemilauan khayali di tengah kegelapan, di tengah kegelapan yang Berjaya, yang dari situlah aku tak bisa membela dia – dari situlah aku bahkan tak bisa membela diriku sendiri.

Aku berbaring di sini dalam gelap menanti maut.

Buku ini sempat akan kubeli dulu di toko buku Kharisma, KCP Karawang. Berkali-kali kutimang, selalu gagal dibawa ke kasir. Nah, suatu malam di bulan Oktober 2017, saya lihat di beranda sosmed betapa bagus novelnya, maka sepulang kerja, kuniatkan beli. Ternyata pas pula toko bukunya tutup. Hufh… butuh tiga tahun untuk mewujudkannya. Kubaca dalam tiga hari (29, 30, 31 Oktober 2020) bersama novel tebal John le Carre. Joseph Conrad adalah orang Polandia, bekerja di kapal perserikatan Inggris, banyak bergaul dengan orang Inggris, dan berkomunikasi dengan berbagai bangsa juga dalam bahasa Inggris.

Aku melihatnya, aku mendengarnya. Aku melihat misteri tak terpahami dari satu jiwa yang tak mengenal batasan, keyakinan, dan ketakutan, namun masih berjuang membabi buta mengasihi dirinya…”

Kegelapan Jiwa by Joseph Conrad | Diterjemahkan dari Heart of Darkness | Copyright 1899 | Penguins Popular Classic, 1994 | Penerbit Liris | Penerjemah Dian Vita ellyati | Editor bahasa Sandiantoro | Tata letak Meta Fauziah | Desain sampul Andy FN | Pemeriksa aksara Indri Tjajani | ISBN 978-602-95980-3-2 | Cetakan I, September 2010 | Skor: 4.5/5

Karawang, 021120 – Sherina Munaf – Lihatlah Lebih Dekat

Thx to Buku Vide, Yogya