Histeria Massal, Folie a Cinq

Kontak by Carl Sagan

Apakah Tuhan ada? Pertanyaan itu mempunyai nuansa yang rumit. Kalau dijawab tidak, apakah itu berarti aku yakin Tuhan tidak ada? Atau aku tidak yakin Tuhan itu ada? Itu dua hal yang berbeda.”

Novel panjang nan melelahkan. Biasanya saya komplain sehabis baca buku kurang bervitamin, buku minim pengetahuan, minim manfaat, atau minim hiburan. Nah, dalam Kontak semua dilibas. Sangat bernutrisi, pengetahuan melimpah terutama terkait astronomi yang setelah selesai-pun masih bikin kerut kening, catat pula buku ini juga ada hiburan. Kejutan surat tahun 1961 mungkin dalam drama Hollywood sudah banyak dibuat, tapi tetap saja ketika diungkap sangat menyentuh hati.

Untuk mencapai Vega dan sebuah penelusuran absurd dibalik pesan yang dikirim, kita butuh berputar melingkar panjang, sungguh melelahkan. Kumulai baca Jumat pagi 3 November sampai Ahad sore 22 November dengan kopi melimpah di teras, dalam balutan bacaan lain, menumpuk. Butuh perjuangan ekstra, sebab jenis buku seperti ini sekalinya diletakkan iseng baca buku lain tertunda seminggu saja, akan sulit dilanjutkan. Makanya harus dipaksakan. Rancang bangun antena dan analisa data.

Selain kecantikan, yang paling penting di dunia ini adalah pendidikan. Tak banyak yang ku bisa lakukan dengan kecantikan, tapi kau bisa melakukan sesuatu dengan pendidikan. Kisahnya mengambil sudut pandang Ellie Arroway, astronot Amerika yang menemukan kontak asing dalam penelitian, lalu pesan itu menjelma mesin, dan mesin itu mengantarnya ke Vega, menemukan jawab akan semesta? Pesan itu berarti intsruksi, cetak biru, sejenis mesin. Kegunaannya masih belum diketahui. Disamping minat utamanya pada matematika, fisika, dan teknik, ia pandai memecahkan kode. Istilah matematikanya existence theorem, sesuatu yang terbukti ada adalah benar. Dalam banyak hal, phi berhubungan erat dengan ketidakbatasan. Sekadar sifat aneh dan tak penting?

Tema novel sangat beragam, astronomi, matematika, agama, sampai sihir. Tak heran Carl Sagan mencampur fiksi dengan teori segalanya, maka setiap bab berganti kita disuguhi kutipan-kutipan keren. Nyaris semuanya wow/ saya kutip dua di mula:

#1. Hatiku bergetar bagaikan dedaunan malang. Planet-planet berpusar-pusar dalam mimpiku. Bintang-bintang mengintai dari jendelaku. Aku berguling dalam tidurku. Tempat tidurku sebuah planet hangat.Marvin Mercer (SD 153, Kelas Lima, Harlem), New York City, NY (1981)

#2.
Lalat kecil,
Keriangan musim panasmu
Tanganku yang tak berotak
Telah menghancurkannya
—-
Apakah aku bukan
Seekor lalat sepertimu?
Atau apakah kau bukan
Seorang manusia sepertiku?
—–
Karena aku pun menari-nari
Dan minum dan bernyanyi
Sampai sebuah tangan tak bermata
Meremukkan sayapku
William Blake, Songs of Experience “The Fly”, Stanza 1-3 (1795)

Kalau kalian penasaran sama kutipan pembuka bab lainnya, mending melahap sendiri. Jelas worth it, jelas nyaman untuk dinikmati. Semakin dalam mereka meneliti ruang angkasa, semakin banyak mereka menemukan sumber gelombang radio dari tempat-tempat jauh di luar Galaxy.

Valerian menekankan betapa kita terperangkap oleh waktu, oleh budaya, oleh struktur biologis. Betapa terbatasnya kita membayangkan makhluk atau peradaban yang secara mendasar sangat berbeda.

Ellie seperti ilmuwan kebanyakan, penasaran berat akan gugus alam semesta yang mahaluas. Kalau kau mengamati cukup banyak bintang di langit, cepat atau lambat akan ada gangguan dari Bumi, atau rangkaian gangguan acak, yang polanya untuk sesaat membuat jantungmu hampir meloncat. “Seperti kehidupan di planet Venus? Itu memang khayalan. Venus sebuah planet neraka. Dan itu cuma satu planet. Di Galaxy ada ratusan miliar bintang. Kau baru mengamati segelintir. Tidakkah terlalu pagi untuk menyerah?”

Dia lalu naik pangkat menjadi direksi di Proyek Argus adalah fasilitas proyek terbesar di dunia yang disediakan khusus untuk mencari peradaban di luar Bumi dengan menggunakan radio. Shannon pernah berkata, “Pesan sandi yang paling efisien adalah yang tidak bisa dibedakan dari suara bising atau noise. Kecuali bila kita sudah mengetahui kunci sandinya terlebih dulu…” Mungkin mereka tidak akan bisa menemukan tanda-tanda kehidupan cerdas lain di alam semesta ini, tapi mereka bisa menarik rahasia-rahasia lain dari kekayaan alam semesta.

Nah, suatu malam mereka menangkap pesan dari langit. “Halo, Ian? Mungkin ini bukan apa-apa, tapi kami menangkap bogey di sini, dan mungkin kalian bisa membantu kami memeriksanya. Frekuensinya sekitar Sembilan gigahertz, dengan lebar frekuensi beberapa ratus hertz…” Lalu pesan itu diumumkan ke pers, yang lalu mencipta histeria massal ke seluruh dunia. Nenek moyang kita berpendapat, kitalah pusat alam semesta.

Maka setiap Negara berbondong-bondong menafsir artinya. Sumber bilangan prima itu bisa dipastikan dari Vega. Sangat banyak planet lain yang menyimpan kemungkinan kehidupan. Mungkin kita bukan satu-satunya makhluk di dunia. Ada semacam kehidupan cerdas di Vega? Kita punya rumus algoritma pemecah sandi, rumus yang ideal untuk itu.

Apesnya, pesan itu berisi sinyal televisi dari Vega itu siaran tahun 1936, Olimpiade Berlin. Siaran itu hanya untuk Jerman, tapi itu siaran televisi pertama yang cukup kuat. Empat puluh juta orang meninggal dunia karena si megalomaniak ini, dan kini ia jadi bintang. Orang-orang luar angkasa menangkap siaran Hitler sebagai berita pertama dari bumi? Mereka menggunakan bahan itu berkali-kali, menuliskan sesuatu di atas tulisan lama, dan hasilnya sesuatu yang disebut palimpsest. Dan setelah telusur panjang nan rumit, kita tahu poinnya adalah instruksi untuk membuat semacam mesin.

Dilemanya, selain biaya mihil, dan kalaupun kita menjawab, jawaban itu akan sampai Vega dua puluh enam tahun lagi, dan dua puluh enam tahun kemudian menerima jawabannya. Maka semua Negara bahu membahu, salah satu sobat Ellie ilmuwan dari Rusia, Vasily Gregorovich Lunacharsky. Berpendapat, “Setiap desa adalah sebuah planet, dan setiap planet adalah sebuah desa.” Tak seorangpun tahu, pesan itu dikirim dengan simbol atau gambar. Beberapa percaya pesan itu dikirim dari Tuhan, dan beberapa percaya itu dari Setan.

Maka hal wajar proyek sangat amat mahal ini menimbulkan ptro-kontra proyek ini merembet ke banyak kalangan, salah satunya berandal berkedok agama, kata Lunacharsky. Orang bisa menghabiskan seluruh masa hidupnya dan tetap tidak bisa memahami keberadaan Tuhan yang Mahakuasa. Para ilmuwan berpendapat, mereka ingin kita meninggalkan iman kita, tetapi mereka memberikan pengganti yang mempunyai nilai spiritual.

Ah kembali ke konfliks lama. Ilmu pengetahuan dan agama, keduanya diciptakan oleh Tuhan jadi keduanya tidak boleh bertentangan. Kalau ada hal-hal yang tampak bertentangan, mungkin di ilmuwan, atau mungkin si ahli agama, atau keduanya tidak melakukan tugasnya dengan baik.

Saya sendiri sangat menghargai pilihan Ellie bahwa di luar sikap patriotism normal, ia tak ingin berkecimpung di politik praktis. Ilmu pengetahuan pada dasarnya meneliti dan membetulkan hipotesis. Agnostik adalah orang yang berpandangan bahwa kebenaran tertinggi (masalah Tuhan) tidak dapat diketahui dan mungkin tidak dapat diketahui. “Kepercayaanku begitu teguh, sehingga aku tidak membutuhkan bukti-bukti…”

Suara dari bintang, makhluk-makhluk asing – bukan manusia, tapi juga bukan dari dewa – yang ditemukan di langit malam. Perasaan heran dan takjub. Kita gembira, kita telah mengambil keputusan ini. Kita saling bertukar data, bertukar khayalan, bertukar impian. Kita semua hidup di planet yang sama, kita semua memiliki kepentingan yang sama. Benda sehari-hari dari peradaban luar bumi yang sudah sangat maju, tidak akan bisa kita bedakan dengan sihir. “Kenikmatannya akan mengurangi hak Anda di surga.”

Bumi adalah sebuah ghetto, perkampungan kumuh. Seluruh umat manusia terperangkap di sini. Samar-samar kita mendengar bahwa di luar perkampungan kumuh ada sebuah kota besar dengan jalan-jalan lebar penuh droshky – kereta kuda Rusia, dan wanita-wanita cantik berparfum wangi mengenakan mantel bulu… Iklan mengajar orang untuk menjadi bodoh.

Proyek itu menjadi proyek umat manusia, Nama Konsorsium Pesan Dunia diganti menjadi Konsorsium Mesin Dunia. “Terlalu banyak yang kita pertaruhkan untuk sesuatu yang tidak pernah kita lihat.” Setelah diperdebat dalam rapat yang panas, akhirnya lima kursi mesin itu diisi oleh para astronot dari Amerika Serikat, China, Rusia, India, Nigeria. Hanya lima kursi menghadap ke dalam, sehingga setiap awak bisa melihat yang lain.

Emosi adalah motivasi untuk menyesuaikan diri dari waktu ketika kita terlalu bodoh untuk tahu apa yang sedang terjadi. Setidaknya harapan kita untuk masa depan itu sama pentingnya dengan penemuan api, atau tulisan, atau pertanian. Ramalan tentang kejadian-kejadian penting rupanya jauh lebih akurat bila tidak pernah dituliskan di atas kertas sebelum kejadian. Bila kitab kita dibaca lagi dengan hati-hati dan menggunakan imajinasi secukupnya, jelaslah kejadian menakjubkan itu tersirat dalam kitab-kitab.

Mereka terpesona sama teknologi sehingga melupakan bahanya. Sikap skeptis merupakan jiwa ilmu pengetahuan. Rasanya seperti ikut ujian tanpa persiapan, tapi jawabannya bisa dicari dari pengetahuan umum yang kau miliki. Bisa membuat kau menangis karena indahnya. “Peter, kenapa kau menatap langit-langit kalau sedang berpikir?”

Amerika, seperti Indonesia selalu curiga pada dua dari sedikit kelompok yang jadi kambing hitam: makhluk luar bumi (tak kasat mata) dan Orang-orang Rusia (komunis). Penerbangan ruang angkasa adalah subvertif. Negara-negara melakukannya untuk kebanggaan Nasional.

Lalu muncullah bencana pasak erbium di Wyoming sangat mengerikan. Awalnya bukan Ellie yang ditunjuk untuk berangkat, naas itu mencipta kematian gurunya, maka iapun melaju. Ia adalah penemu dan pelarian dan akhir dari kesepian.

Telaah agama (besar) hampir disebut semua. Menurut Buddha, Tuhan mereka begitu besar dan agung sehingga tidka perlu ada. Orang Kristen bilang, awal dari segalanya adalah perkataan. Aku satu-satunya penganut materialism di antara kita berlima, dan semua yang kubawa ada di kepalaku. Kalau peradaban luar bumi itu begitu cerdas, mengapa mereka membawa kami melalui begitu banyak lompatan-lompatan kecil?

Di Kompleks Hokkaido Machine segala persiapan akhirnya rampung, dan lima orang siap berangkat: Eda, Ellie, Sukhavati, Vaygay, Xi. Membawa pesan, “… Kalian adalah pahlawan-pahlawan planet bumi. Bicaralah atas nama kami semua. Bersikaplah bijaksana, dan kembalilah.” Mesin itu pergi ke suatu tempat, mesin itu adalah sarana.

Alam semesta ini terus mengembang, dan tidak cukup materi di dalamnya untuk menghentikan pengembangannya. Ada sebelas pesan tersembunyi di balik nilai phi, seseorang berkomunikasi di alam semesta dengan matematika. Nilai phi pasti sama di alam semesta, nilainya sudah terbentuk dan merupakan bagian dari alam semesta. Ia mencoba mencari sumber ketidaktenangannya

Setelah merumit dalam teori astonomi, akhirnya mereka tiba di sebuah pantai misterius. Di sinilah puncak tanya itu dijawab. Kepala Stasiun Cysgus A menciptakan bagi mereka apa yang bisa disebut sebagai cinta mereka yang paling dalam. Mungkin tujuan hanya sebagai menjembatani kesulitan komunikasi dengan makhluk yang sangat berbeda bentuk dan jenisnya. Semua hampir menangis kegirangan.

Dengan kamera merekam ‘makhluk’ yang mereka temui, bercengkerama dan mencipta hidup kenangan indah di masa lampau. Satu-satunya fungsi mesin ini adalah menciptakan ilusi, atau mungkin juga membuat mereka berlima menjadi gila.

Sayangnya setelah segalanya usai dan mereka kembali di penghujung millenium segala yang disiapkan untuk laporan temuan hilang. Semuanya tidak didukung oleh bukti fisik. Rol memori yang merekam itu seolah tak percaya, sebab mereka yakin sudah menyimpan adegan penelitian. Mereka lalu diinterogasi, seperti Kantor Kejaksaan selalu menanyakan tiga hal, “Apakah dia punya kesempatan, apakah dia punya motif, apakah dia cara?”

Kalau manusia bisa membuat obat-obatan yang menimbulkan fantasi, tidak bisakah teknologi yang jauh lebih maju menimbulkan halusinasi kelompok yang sangat terperinci? Untuk sesaat terasa kemungkinan itu ada. Kembali ke bumi dengan membawa kisah yang aneh, tanpa hal yang bisa digunakan untuk kemiliteran atau politis. Dan kisah itu memiliki implikasi.

Novel ini sungguh bombastis. Panjang berliku, saking banyaknya ilmu yang diserap sampai meluber. Saya lebih suka menyebutnya memimpikan masa lalu yang lebih sederhana. Endingnya jleb dengan pesan membumi untuk Ellie. Ia telah mempelajari alam semesta sepanjang hidupnya, tapi mengabaikan pesannya yang paling jelas. Bagi makhluk-makhluk kecil seperti kita, kebesaran alam semesta hanya bisa dihadapi dengan cinta.

Kita semua haus akan hal-hal yang menakjubkan. Aku seperti seorang murid, menunggu datangnya ilham. Menurut Cervantes, membaca terjemahan seperti melihat bagian belakang permadani. Numinous adalah ‘hal-hal yang di luar jangkauan’, dan reaksi manusia terhadapnya adalah ‘takjub luar biasa’. Setelah menyelesaikan baca Contact, jadi kepikiran film Arrival-nya Dennis tahun 2016. Tentang invasi alien yang menemui kendala bahasa, mereka datang untuk memberika ‘a gift’ dalam bentuk ‘a weapon’ yang mana bahasa menjadi pembentuk budaya. Mirip sekali dengan kontak makhluk luar yang coba membantu bumi. Sebuah inspirasi, yang segaris lurus.

Seperti dialog dimula tentang Tuhan, maka catatan ini saya tutup dengan sang Pencipta. “Kalau Tuhan ingin kita tahu Dia Ada, mengapa tidak meninggalkan pesan yang jelas? Kau berpikir Tuhan itu ahli matematika?”

Kontak | by Carl Sagan | Copyright 1985 | new cover 1997 | Atas izin cover art Warner Bros | Diterjemahkan dari Contact | Alih bahasa Andang H. Sutopo | GM 402 97.851 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Cetakan pertama, Desember 1997 | 592 hlm.; 18 cm | ISBN 979-605-851-0 | Skor: 5/5

Untuk Alexandra, yang hadir menjelang datangnya millenium. Semoga kami memberi generasimu dunia yang lebih baik daripada dunia yang dulu diberikan pada kami.

Karawang, 301120 – The Ink Spots – Java Jive (1940)

Thx to Agoeng S, Bdg

Kisah Hidup Si Kutu Buku

Kisah Hidup A.J. Fikry by Gabrielle Zevin

Aku ingin kau jadi milikku. Aku bisa menjanjikanmu buku, percakapan, dan hatiku seutuhnya, Amy.”

Kebanyakan masalah orang akan terselesaikan seandainya mereka mau memberi kesempatan bagi lebih banyak hal. Seorang kutu buku freak, menyepi di sebuah pulau menjadikan hobi sebagai profesi. Memiliki gelar PhD dalam sastra Amerika sebelum berhenti untuk membuka toko buku. Ia membuka toko buku dan menyikapi kenyataan pahit, sebab istrinya meninggal dunia dalam kecelakaan lalu lintas. Dengan nada negatif memandang hidup, dunia sekitar malah melimpahinya berkah. Dari sebuah kisah yang berpotensi suram malah menjadikannya kisah picisan, segala keberuntungan dan tali jodoh yang baik. Di dunia ini tidak ada orang-orang seperti di perbukuan. Perbukuan adalah urusan pria dan wanita terpelajar.

Setiap bab dibuka dengan kisah buku-buku legendaris, sebagian besar sudah kutahu. Dari Roald Dahl, Bret Harte, Mark Twain, sampai JD Salinger. Suara-suara sang protagist terhadap beberapa karya terpilih yang menurutnya istimewa. Toko buku menarik jenis orang yang tepat. Aku menyukai kertas, aku suka rasanya, dan suka rasa buku terselip di saku belakangku. Aku juga suka aroma buku baru. Island Book – Penyelia Eksklusif Konten Karya Sastra Unggulan di Pulau Alice sejak 1999: Manusia tidak bisa hidup sendiri, setiap buku membuka jendela dunia.

Dibuka dengan kunjungan seorang agen buku dari Knightley Press biasanya diwakili oleh Harvey Rhodes ke toko buku milik A.J. Fikry di Pulau Alice, Harvey meninggal dunia. Kini Amelia menggantikannya, seperti setiap orang freak yang menemui orang baru, tak ada klik di mula, canggung dan menggemaskan. Jadi Fikry adalah duda tanpa anak, ia menjalani hari dengan kenang cinta yang membara. Lebih baik melajang daripada menjalin hubungan dengan orang yang tidak sepaham dan memiliki minat yang sama denganmu, adalah prinsipnya. “Aku tidak suka postmodernism, latar pasca kiamat, narrator yang sudah mati, atau ranah gaib. Aku jarang merespon apa yang konon gaya formal cerdas… aku jarang menyediakan chicklit, debut, puisi, atau terjemahan…”

Adik istrinya Ismay tampak sekali jatuh hati padanya, suaminya Daniel adalah penulis buku, bukunya pernah laris, tapi memang tak konsisten, buku komersial. Ia seorang playboy, suka mempermainkan perempuan, dalam tiap tur promo bukunya. “Seharusnya kau senang buku itu hilang. Aku benci buku koleksi. Orang kelewat sentimental terhadap bangkai kertas.” – Daniel Parish. Pasangan ini juga tak memiliki anak, Ismay yang tampak idealis dan memukau secara isi kepala dan perbuatan, menanggung rasa kesal dan kecewa, seolah protes kenapa jodohnya bukan Fikry yang tampak cocok dalam segala hal? Ia cantik dan cerdas, menjadikan kematiannya suatu tragedi. Ia miskin dan berkulit hitan, yang berarti orang mengatakan itu sudah bisa diduga.
AJ di usia 39 tahun, usia sangat matang untuk kembali jatuh hati. Yang paling menjengkelkan tentang ini adalah setelah seseorang peduli kepada satu hal, ia harus mulai peduli tentang hal lain
Nah konflik utama di sini sangat menarik. Setelah pengenalan karakter dan situasi yang tercipta, Fikry mendapat berkah sekaligus musibah. Buku langka Buku kumpulan puisi karya Edgar Allan Poe yang sangat langka, mahal jadinya, laku empat ratus ribu dolar, dicuri orang. Pencurian adalah kehilangan sosial yang dapat diterima, sementara kematian adalah kehilangan yang mengisolasi. Sungguh aneh ya? Seseorang mencuri buku darimu, orang lain meninggalkan bayi untukmu. Ada bayi yang ditinggal di tokonya saat senja, dengan catatan meminta tolong kepada siapapun untuk merawatnya. Awalnya ia tak mau, sebab tangis bayi dan keriwuehannya merawatnya akan menyita waktunya. Namun setelah coba diumumkan ke pihak berwajib, dan upaya menyerahkan ke dinas gagal, ia memutuskan mengadopsinya. Aku tinggal sendiri. Aku miskin, kau tidak bisa membesarkan bayi dengan buku saja. Penduduk kota sejak dulu menganggapnya angkuh dan dingin, dan rasanya sulit dibayangkan pria seperti itu akan mengadopsi bayi hanya karena bayi itu ditinggalkan di tokonya. Merawatnya dengan kasih, ia beri nama sekarang Maya Fikry. Aku akan memberikan sambutan bagus sekali sebagai wali, jika kau memutuskan untuk menerimanya. Bukan doa, karena aku tahu kau tidak berniat dengan doa.
Kejadian manis kedua adalah, keputusan menikah lagi dengan Amelia. Cewek yang ia judesin di awal itu, pada akhirnya menerima pinangannya, setelah beberapa kali meluangkan waktu bersama. Salah satu pria paling egois dan mementingkan diri sendiri yang pernah ia temui. “Sebaiknya jangan mengubah hidupmu untuk manita mana pun.” Keputusan bersama diambil, ia cabut dari penerbitan dan menjadi seorang istri menjaga toko buku bersama. Tampak romantis, dua orang kutu buku bersatu, dan bayi imut. “Maya, kita adalah kita yang kita cintai. Kita menjadi diri kita karena kita mencintai.”

Konflik batin kedua yang bikin trenyuh adalah cinta Ismay kepada kakak iparnya, yang tak kesampaian. Ia menggerutu kepada takdir, tapi berjalannya waktu ia menerimanya, bahkan setelah keputusan fatalnya, suaminya yang berengsek, dan segala desas-desus di sana dijelaskan dengan gamblang. Penerimaan sang kepala polisi sejatinya rada janggal, tapi hati yang kecewa memang sering tak bisa dilogika. Lamniase tidak merindukan istrinya, sekalipun ia rindu memiliki tempat untuk pulang seusai kerja.

Sang narrator mengungkap, siapa ibu Amelia, Marian Wallace berkulit gelap, 22 tahun, memiliki balita 25 bulan di hari itu ditemukan bunuh diri, jadi jelas sekali siapa ibu kandung Maya. Kejadian lain yang terjadi sore itu, siapa mengambil buku langka, dan pada titik akhir yang manis, kita tahu segala apa yang kita tanam akan kita tuai pada akhirnya. Dan aku tahu orang jahat pantas menerima ganjaran mereka, tapi kita sungguh-sungguh tidak suka kesepian.

Hobi bacanya sudah diselingi olahraga, lari memang menjadi pilihan utama. Jarak yang ditempuhnya pendek, napasnya tersenggal-senggal. Butuh konsistensi, keputusan akhir nasib hidupnya mungkin membuat sendu, tapi jelas ia bahagia. Menggemaskan, terlalu manis. Seberapa langka menemukan seseorang yang seleranya sama denganmu? Kalau kau mencintai semua orang, akhirnya kau akan sering terluka.

Ada sebuah acara promo buku unik The Late Bloomer dari penulis Leon Friedman yang sudah tua dan bukunya laris. Kedua fakta tersebut rasanya tidak bisa memeriahkan pesta. Bukunya romantis namun sangat membuat depresi. Lucu sekali ini bagian, pesta itu janggal sebab sang penulis bahkan tak paham detail bukunya sendiri. Hahaha…
Buku yang template-nya bagus, tentang kutu buku, menjual buku sebagai obsesi hidup, memilih menyendiri di sebuah pulau. Mantab, khas orang-orang yang menjadi buku adalah sebentuk benda ajaib yang menyelimuti. Sayangnya, ini bukan kisah filsafat yang menekuri kehidupan, bukan pula masalah kerumitan tafsir sebuah buku langka, di sini sempat hilang – diungkap dengan Ok sekali, sehingga tema buku yang menarik itu luntur terkikis dengan berjalannya halaman demi halaman. Ini kisah cinta, hidup A.J. Fikry yang idealis itu menjadi berwarna sebab menemukan kekasih, menikahi, menjadikan pendamping seumur hidup, hingga menemani hari-hari terakhir Fikry. So sweet. Ia tidak pernah berbohong dengan buku-buku dalam daftarnya. Ia tidak pernah mengatakan menyukai buku yang tidak disukainya. A.J. Fikry yang freak. Penjual buku di toko buku terpencil di pulau Alice. Sinis, dan memandang hidup dengan banyak pesimistis. Seorang bayi ditinggalkan di tokonya ketika ia berolahraga, cinta bersemi kepada agen penerbit yang cantik, dan usaha trauma menghapus kenangan buruk kematian istrinya. Terlalu manis, seorang kutu buku menjelma menyenangkan berkat kehadiran anak haram dan jodoh yang datang terlambat. Romantis khas John Green. Sulitnya hidup sendirian adalah kau harus membereskan sendiri semua kekacauan yang dibuatnya, tak seorangpun peduli kau kesal.

Kebiasaan orang-orang defensive, saya juga merasakan seperti A.J. Fikry yang mengangguk demi sopan santun, tapi tak memercayai tindakan acak. Ia pembaca, dan yang ia percayai adalah konstruksi naratif. Jika sepucuk pistol muncul di babak pertama, sebaiknya pistol tersebut ditembakkan babak ketiga. A.J. tidak memercayai adanya Tuhan, ia memejamkan mata dan berterima kasih kepada siapa pun, yang mahakuasa dengan segenap hati landaknya.
Mereka hanya membicarakan buku, tetapi apalagi yang lebih personal dari buku? Buku untuk pecinta buku berakhir bahagia, fantasi liar buat kalian, para kutu buku baik nan bijak. Seperti kata Neil Gaiman di American Gods, “Suatu tempat tidak lengkap tanpa toko buku.”

Kisah Hidup A.J. Fikry | by Gabrielle Zevin | Copyright 2014 | Diterjemahkan dari The Storied Life of A.J. Fikry | 617186016 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Alih bahasa Eka Budiarti | Editor Rosi L. Simamora | Ilustrasi sampul Martin Dima | Cetakan pertama, 2017 | ISBN 978-602-037-581-6 | 280 hlm; 20 cm | Skor: 4/5

Karawang, 271120 – Bill Withers – Something That Turns You On

Thx to Agus Buki, Bandung

Belajar Kelola Kata yang Benar

Buku Pintar Ejaan Bahasa Indonesia by Teguh Trianto & Septi Yulisetiani

Resensi adalah karya jurnalistik yang berisi ulasan mengenai kualitas (kelebihan dan kekurangan) buku atau karya lainnya seperti musik atau film.”

Apa yang bisa saya utarkan dalam ulasan buku Buku Pintar Ejaan Bahasa Indonesia (PU EBI) yang membahas aturan main Bahasa baku? Sederhananya, kalau mau tahu aturan lama yang diubah, atau adanya aturan baru (di cover terbaca gede: Pengganti EYD), kalian harus membaca sendiri. Tak banyak yang bisa kuulas, sebab tak ada alur yang perlu dikritisi, tak ada cerita yang bisa dikupas, tak ada tata cara penyampaian yang ‘seharusnya’ sebab buku ini justru mengatur ‘seharusnya’ bagaimana tata kelola bahasa ditulis, disampaikan, disajikan dengan baku dan supaya rupawan. Textbook sekali isinya, dan ini tak bisa pula saya komplain banyak sebab memang inilah fungsi utamanya. Disusun berdasar Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 50 tahun 2015 ini dilengkapi dengan undang-undang bahasa yang merupakan Bab III dari Undang-Undang RI Nomor 24 tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan.

Berisi pengetahuan basic tentang bahasa Indonesia. EYD, aturan baku, peletakan tanda baca yang tepat, hingga contoh-contoh kalimat yang benar dalam penyusunan naskah. Sekadar pemantaban aturan bahasa. Contoh paling nyata, bagaimana menulis angka yang benar: “1 atau satu dalam kalimat?” atau penggunaan titik koma yang elok itu di mana? setelah tanda ‘)’ apakah perlu titik lagi? Huruf kapitalkah setelah semua tanda baca? dst… Pengetahuan dasar tapi berguna karena menjawab beberapa keraguan.

Baiklah, saya kupas singkat apa yang bisa didapat setelah menikmatinya.

Kalian tentunya sudah kenal Gaya Bahasa. Di sini dijelaskan datu per satu, disertai contoh. Semisal retorika adalah suatu seni/gaya berbicara baik yang dicapai berdasarkan bakat alami dan ketrampilan teknis. Retorika juga diartikan sebagai seni berbicara dalam komunikasi antar manusia mencakup kelancaran, kepadatan, kejelasan, dan kesan yang baik dalam berpidato.

Gaya bahasa ada beberapa jenis; simile, perbandingan secara eksplisit dua hal; metafora: semacam analogi membandingkan dua hal; personifikasi: mempersamakan benda mati dengan sifat manusia; hiperbola: berlebihan atau membesar-besarkan; metonimia: penamaan terhadap benda menggunakan nama terkenal; sinekdoke: menyebut nama bagian sebagai pengganti nama keseluruhan atau sebaliknya; alusi: menunjukkan secara tidak langsung pada suatu tokoh atau peristiwa; asosiasi: membandingkan suatu keadaan dengan keadaan lain sesuai keadaan yang dilukis; eufemisme: berusaha mengungkap sesuatu dengan cara halus; epitet berwujud seseorang atau benda sehingga namanya dipakai untuk menyatakan sifat itu; eponym: pemakaian nama seseorang yang dihubungkan berdasarkan sifatnya; hipalase: menerangkan suatu kata tapi sebenarnya kata tersebut untuk menjelaskan kata lainnya; aliterasi: dibuat dengan mengulang kata-kata di permulaan pada kata berikutnya; anaphora: berwujud perulangan kata pertama dalam kalimat berikutnya; anadiplosis: mengulang kata pertama dari suatu kalimat menjadi kata terakhir; mesodiplosis: repetisi yang mengulang kata di tengah-tengah baris atau kalimat secara beruntun; epanalipsis: pengulangan kata pertama untuk ditempatkan pada akhir baris dari suatu kalimat atau klausa; epizeukis: pengulangan kata yang bersifat langsung secara berturut-turut untuk menegaskan maksud; sinisme: bertujuan menyindir secara kasar; melosis: sindiran merendah dengan tujuan menekankan suatu maksud; sarkasme: penyindiran dengan kata-kat kasar dan keras dengan maksud mengkritik; satire: menolak suatu untuk mencari kebenarannya sebagai suatu sindiran dengan menertawakan; antifrasis: menggunakan kata-kata yang bermakna kebalikannya dan bernada ironis dengan tujuan menyindir; innuendo: sindiran untuk mengecilkan kenyataan sebenarnya; paradox: kata-katanya mengandung pertentangan dengan fakta yang ada; antithesis: menggunakan kata-kata yang menyatakan dua hal yang bertentangan; litotes: mengandung penyataan dikurangi (dikecilkan) dari makna sebenarnya; oksimoron: menyatakan dua hal yang bagian-bagiannya saling bertentangan; histeros prosteron: menyatakan maksud kebalikannya yang dianggap bertentangan dengan kenyataan yang ada; okupasi: pertentangan yang isinya bantahan terhadap suatu tetapi diikuti dengan penjelasan yang mendukung; repetisi: gaya mengulang kata-kata sebagai suatu penegasan terhadap sesuatu yang dimaksud; paralelisme: berusahan mengulang kata atau yang menduduki fungsi gramatikal yang sama untuk mencapai suatu kesejajaran. Hufhh…. Capek juga ketik ulang separagraf ini. Banyak banget kan jenis gaya bahasa. Ini hanya dibahas satu bab. Ada contohnya jadi kita bisa membayangkan, atau mengira-ira ini masuk ke majas apa. Umum, tapi asyik.

Jenis-jenis tulisan di media masa juga dibahas singkat dari resensi, esai, artikel, editorial, opini, feature, kolom, sampai pojok. Ada banyak jenisnya, selama ini mungkin sudah akrab membaca Koran atau majalah, dan jenis tulisan juga ada di atasnya. Namun untuk penjelasan makna, bagi orang awam seperti saya, tentu saja info bernutrisi. Bagus, tinggal diasah lebih tajam aja ya.

Yang paling asyik di sini bagiku mungkin bab: penulisan unsur serapan. Bahwa bahasa Indonesia tuh diserap dari berbagai bahasa lain, yang utama tentu saja Melayu; yang lainnya sangat banyak: Jawa, Sunda, Arab, Sansekerta, Inggris, Cina, Belanda, dst. Ini ada sejarahnya, semisal kata ‘vakuum’ menjadi ‘vakum’, atau ‘schema’ menjadi ‘skema’, ‘aquarium’ menjadi ‘akuarium’, nggak asal menjelma Indonesia. Semua ada aturannya, oo (Belanda) diserap menjadi o, atau hamzah (Arab) di akhir suku kata, kecuali di akhir kata menjadi k. –ty (Inggris), –teit (Belanda) menjadi –tas misalnya university menjadi universitas, dst.

Seperti judulnya, poin utama melahap buku ini adalah belajar kelola kata yang benar. Dan untuk koleksi di taruh rak, yang nantinya sesekali dibuka-baca buat koreksi ketika nulis buku, sangat layak, sebab dengan pedoman yang jelas, kita tak perlu was-was akan salah aturan. Makanya walau isinya standar, buku ini tetap worth it untuk disimpan. Sewayah-wayah butuh referensi kebenar-tidaknya ketikan kita, bisa langsung diedit sendiri.

Hal-hal basic sejenis ini mungkin bagi Sarjana Sastra atau para pendidik S,pd adalah hal biasa. Namun bagiku sangat asyik. Dan kalau kalian perhatikan beberapa buku baru yang kubeli akhir-akhir ini banyak sekali non-fiksi yang menyelingkupi bahas: psikologi, filsafat, dan telaah sastra. Saya sedang menjalani ritual ulang, pembelajaran yang menjadi impian saya, tapi tak bisa kudapat di bangku kuliah. Menikmati segalanya otodidak.

Hipotesis Epicurean menyatakan bahwa setiap bangsa menciptakan bahasanya sendiri untuk menghadapi pengalamannya sendiri. Hipotesis Sapir-Whorf menyatakan bahwa bahasalah yang memberi bentuk kepada pengalaman kita terhadap dunia. Oleh D’Alembert pada awal Encyclopedie, “Beberapa di antaranya bermuara menuju pusat yang sama; dan karena berangkat dari hulu yang sama mustahil untuk mengikuti semua cabangnya sekaligus pilihan itu ditentukan oleh hakikat roh-roh yang berbeda.”

Pasal 39 (tiga puluh Sembilan) ayat 1 (satu): Bahasa Indonesia wajib digunakan dalam informasi melalui media massa.

Buku Pintar Ejaan Bahasa Indonesia | by Teguh Trianto & Septi Yulisetiani | Penyunting Sarah Fia | Layout Rustam Setting | Desain sampul Checklist Studio | Penerbit Checklist | ISBN 978-602-6763-45-7 | vi + 210 halaman; 13 x 19 cm | Cetakan I, 2016 | Skor: 3.5/5

Karawang, 261120 – Roxette – Milk and Toast and Honey

Thx to Gramedia World Karawang

Tekan Tombol Kotak

Replay by Seplia

Nah, jangan salah paham dulu. Aku membawamu masuk bukan berarti kita berdamai. Ada orang di luar, mana bisa aku memamerkan sikap kejamku.”

Kisahnya tentang hubungan keluarga dan persahabatan yang menjelma kekasih. Nada adalah mahasiswi tari yang elok disebutnya Balet kontemporer, ia adalah anak pemilik studio rekaman musik besar, ia ngambek cabut dari rumah sebab ayahnya akan menikah lagi. ayahnya selingkuh sama sekretaris hingga hamil, ibunya meninggal dunia dalam depresi. Dan kabar akan ayahnya menikahi selingkuhannya, Diana membuatnya marah besar.

Ia tinggal di apartemen, tetangganya Apartemen bernomor seratus tujuh bernama Audy seorang mahasiswi psikologi yang obsesi bunuh diri karena pacarnya Nino dikhawatirkan selingkuh. Setiap ia mendengar gosip Nino dekat sama cewek lain, ia mengupaya meninggalkan dunia yang fana ini. Aneh, seorang calon psikolog obsesi depresinya berbahaya. Namun tak aneh sekali juga menurutku, sebab saya punya teman beberapa orang jurusan itu, depresinya justru ngeri-ngeri. Semakin baik keadaan yang kita dapat, semakin parah pula keputusasaan yang melanda kita. Itulah paradox kemajuan. Dan barangkali ini bisa diringkas dalam satu fakta mengagetkan: semakin kaya dan aman wilayah yang Anda tinggali, semakin mungkin Anda melakukan bunuh diri.
Nah, Nada apesnya dekat sama Nino, ia adalah lead vokalis band kampus yang tamvan, keren, romantis, dst. Sering kali mereka bertemu, sering pulang malam dari apartemen pacarnya yang otomatis dekat, juga dalam sebuah adegan memergoki Nada latihan tari di lantai atas kampus yang sepi. Perkenalan dan kedekatan mereka tentu menjadi belati bagi Audy. Was-was, di tengah-tengah. Kesetiaan kadang beda tipis dengan keterpaksaan.

Hubungan Nada-Nino semakin dekat. Saling silang dalam bantu. Tari Nada diiringi lagu ciptaan Nino, dalam rekaman CD sebagai lagu pengiring, barang sepenting itu ketinggalan, terendam dalam player, hahahahahahaha…. Maka tampil sang pahlawan. Memainkan piano live untuk Nada, kurang sempurna apa coba? “Cinta adalah kekuatan bagi musisi untuk menulis lagu. Baik sedang mekar apalagi sedang patah (hati).”

Band Nightfall mengikuti audisi band, sempat kena diskualifikasi sebab fase dua tak hadir setelah dipanggil tampil. Berkat negosiasi Nada kepada ayahnya, band-nya Nino melaju, bahkan sampai final three yang rasanya tak perlu dipertanya juara tidaknya. Haha… nama-nama anggota band jua keren, walau nama aslinya ndeso jua. Ken, Rendi, Alex… Menganggap Audy sebagai mami, sebab sering menyiapkan makanan, membantu mendata keperluan, support saat latihan atau pas tampil. Dan yang utama, fan nomor satu Nighfall. “Kumohon jangan pergi dari sisiku. Bantu aku lepas dari hukuman ini.” Ialah kalimat pas untuk Nino, lhaa ia memang karakter berengsek ‘kan, nganu anak orang hingga depresi berat. Manusia sebenarnya adalah makhluk yang diboncengi perasaan bersalah yang parah.

Sampai di sini jelas, sudah bisa ditebak. “Menyukai hal yang sama memang bisa membuat orang bisa dekat, tapi tak lantas bisa membuat keduanya saling jatuh cinta.” Nada yang menemukan klik sama Nino akan bersatu. Semua mengarah ke sana, Pertengkaran membutuhkan dua orang yang saling peduli, mereka tarik-ulur hubungan, yang pada akhirnya menautkan bibir kita tahu, novel picisan akan menyatukan dua insan. Lha gmana dengan Audy? Prediksi mati menjadi kenyataan, agar tak ada rasa salah berlebih, dibuat sama kecelakaan di palang pintu kereta api. Duh! Lantas hubungan keluarga, sama calon ibu tiri akan membaik, akan berdamai dengan kenyataan sebab dengan bertambahnya usia maka, bertambah pula memahami pahitnya hidup. Prediksi ini pun terwujud, manis sekali kakak. Kuliah mereka lancar, band mereka menjelma hebat, uang melimpah. Bahagia selama-lama-lama-lamanya…

Hufh, beginilah kualitas novel remaja kita. Young adult yang muncul sebab kebiasaan dan tempaan sinetron. Saya sempat berharap ada kejutan, semisal yang tewas di jalur kereta adalah Nino, ini akan memutus kemanisan fakta, ternyata enggak. Duh! Saya sempat berharap band mereka amburadul, memalukan tampil di umum sehingga ayahnya marah besar ketika diberi kesempatan kedua, ternyata enggak. Duh! Saya jua sempat berharap, Diana menguasai harta dengan melakukan pembunuhan rapi bak kisah kriminal Agatha Christie, dan tentu saja enggak. Ini kisah sinetron yang asyik-asyik sahaja.

Karakternya cakep semua. Hobinya keren semua. “Biasanya kalau mood-ku buruk, mendengarkan musik. Kamu mau mendengarkan lagu? Siapa tahu bisa membuat mood-mu membaik.” One Direction! Semua kaya, minimal tidak memusingkan materi untuk bertahan hidup dari bulan ke bulan sebagai mahasiswa. Lha, tinggal di apartemen, rumah dilengkapi dengan kolam renang di dalam. Di waktu senggang pergi ke salon, lalu ke mal untuk hang out. Ya tentu saja belanja, masak Cuma lihat banderol harga, diem kelian kaum papa! Kemana-mana naik mobil, persis yang digambarkan sinetron kita. Beberapa tingkah mengesalkan seperti volume audio maksimal menemani dalam mobil, di tengah kemacetan! Dikira keren apa, ini mungkin sosok-sosok yang kita sebalin ketika di jalan. Ngaya bak sultan. Lirik lagunya? Inggris dong, mau go International woy, cap cip cus-lah seolah mencipta lagu keren secepat lempar kartu domino. Komplit amburadul, eh tapi tapi atau jangan-jangan saya nya aja yang nggak gaul perkembangan dunia remaja generasi milenial saat ini ya? Hhhmmm…

Novel remaja lagi, ini bukti bahwa saya membaca segala genre dan jenis bacaan. Jelas pula jenis ini ekspektasi tidak tinggi, sebab salah besar kalau menaruh harapan menikmati sastra mutu untuk sebuah buku yang blink-blink macam ini. Ekspektasi itu tentu saja berakhir persis. Nyaris tak ada kejutan, semua mengalir bak sinetron tv swasta yang tayang di jam utama. Karakter kaya, cantik dan ganteng, tak ada kepeningan memikirkan materi, berbakat, cinta yang diagungkan, dan happy ending. Semua itu benar-benar tersaji, bahkan beberapa kali kubaca sambil ngelus dodo, khawatir akan dunia remaja saat ini dan masa depan, hhhmmm… atau lebih tepatnya kesal. Jelas ini bukan konsumsi untuk jelata, bukan untuk mayoritas warga Negara Indonesia. Persis seperti sinetron yang tak layak tonton, Replay jelas jua tak layak baca (apalagi koleksi), kecuali kalian gemar duduk depan kotak ajaib saat sandiwara sinetron nggak jelas itu disajikan di prime-time. Tipikal ngeselin-lah.

Sejatinya saya sudah tak heran. Lantas apa yang mau ditelusur dan didiskusikan lebih lanjut? Ini sekadar iseng, seperti yang kubilang, beberapa kali saya memang keluar jalur, beberapa kali berhasil memukau saat menyesatkan diri di bacaan antah, tapi sering kali memang mengecewakan. Poinnya, dalam rimba baca antah itu selalu dua: puas akan kukejar baca buku lainnya, kecewa, say bye! Replay, mau dinikmati lagi? Nope, tekan tombol kotak di masa baca halaman pertama mending di-skip baca saja, bisa nggak Bund?

Harapan pada akhirnya menghancurkan diri sendiri sekaligus mengekalkan-dirinya-sendiri.

Replay | by Seplia | 6 15 51 013 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Desain smapul Orkha Creative | ISBN 978-602-03-2319-0 | 216 hlm.; 20 cm | Skor: 2/5

Karwang, 251120

Thx to @iyamaul

Cogito Ergo Sum

Diskursus & Metode by Rene Descartes

Mulai saat itu saya menganggap semua pendapat saya salah, untuk mengujinya kembali, saya yakin bahwa jalan terbaik adalah mengikuti orang-orang yang paling bijaksana.”

Buku pertama Rene Descartes yang kubaca, filsuf dan matematikawan Prancis, yang sering disebut sebagai Bapak Filsafat dan Matematika Modern. Riwayat hidupnya tentu sudah sering kita lihat di berbagai literasi, terutama filsafat. Dari Buku Diskusus dan Metode ini, kita mendapati pemikiran beliau yang menarik, alasan-alasan menulis sampai semacam menyelamatkan kebenaran. Di atas sesuatu yang demikian rapuh, tidak mungkin dibangun sesuatu yang kokoh.

Terdiri atas enam bagian. Pertama tentang ilmu pengetahuan. Sebab memiliki daya nalar yang baik tidaklah cukup, yang lebih penting adalah menggunakannya dengan baik. Orang-orang yang bernalar tinggi mampu melakukan hal-hal yang menakjubkan. Yang kasat mata, kasat pikir itulah reasonable, maka itu pula yang bisa disebut benar.

Kedua tentang kaidah pokok perihal metode yang diteliti pengarang. Dengan memakainya saya yakin telah menggunakan nalar saya dalam segala sesuatu, kalau tidak secara sempurna, setidaknya sebaik mungkin. Dengan menerapkan metode ini, daya pikir saya sedikit demi sedikit terbiasa melihat objek-objeknya secara teliti dan lebih jelas.

Ketiga tentang kaidah moral yang didasarkan atas metode tersebut. Rumus kaidah moral ada tiga: Pertama, mematuhi undang-undang dan adat istiadat negeri saya, dan berpegang teguh agama yang dianut sejak kecil.

Kedua, Bersikap setegas dan semantab mungkin dalam tindakan saya, dan mengikuti pendapat yang paling meragukan secara sama mantabnya sebagaimana mengikuti pendapat yang sangat meyakinkan. Saya menjadi bebas dari segala rasa sesal dan kecewa yang biasanya menggoncang pikiran orang yang bernalar lemah dan bimbang.

Ketiga, berusaha mengalahkan diri sendiri daripada menunggu nasib; mengubah keinginan-keinginan sendiri, dan bukannya merombak tatanan dunia. Tidak ada satu pun yang berada di bawah kekuasaan kita sepenuhnya kecuali pikiran kita. Semua kebaikan yang ada di luar kita pun berada diluar jangkauan kemampuan kita.

Keempat tentang penalaran-penalaran yang membuktikan keberadaan Tuhan dan jiwa manusia. Tentu saja gagasan tentang Tuhan dan jiwa tidak akan pernah dicercap oleh indera. Jiwa manusia secara kodrati tidak tergantung pada badan, sehingga tidak mungkin mati bersama dengan kematian badan. Tidak ada sebab-sebab lain yang menghancurkan jiwa, dengan sendirinya manusia akan berpendapat bahwa jiwa itu abadi. Ketidakbenaran dan ketidaksempurnaan berasal dari Tuhan sama kontradiktifnya dengan pendapat yang mengatakan bahwa kebenaran atau kesempurnaan berasal dari ketiadaan. Kodrat berpikir berbeda dengan kodrat badaniah. Saya adalah subtansi yang seluruh esensi atau kodratnya hanyalah berpikir dan untuk keberadaannya tidak memerlukan ruang sedikit-pun, dan tidak bergantung pada benda materi apa pun.

Kelima tentang urutan masalah fisika yang ditelitinya. Diperlukan latihan panjang dan meditasi yang lama dan teratur untuk membiasakan diri memandang segala sesuatu dari sudut pandang itu (sehat dan baik). Bukan berdasarkan penalaran yang lemah melainkan berdasarkan penalaran yang jelas dan pasti. Meditasi, begitu abstrak dan di luar kelaziman. Indera kadang kala menipu kita, apa yang biasa dibayangkan oleh indera kita itu sebenarnya tidak ada.

Keenam tentang prasyarat untuk lebih maju dalam penelitian alam, dan alasan-alasan yang mendorongnya untuk menulisnya. Pikiran-pikiran yang datang dari mimpi lebih tidak benar daripada pikiran lain, padahal pikiran dalam mimpi seringkali lebih hidup dan nyata. Apakah kita terjaga atau tertidur, sekali-kali kita tidak boleh yakin kecuali atas dasar kejelasan nalar. Setiap orang harus memberikan sebanyak mungkin yang dimilikinya untuk kesejahteraan orang lain, dan kita sebetulnya tidak bernilai jika tidak berguna bagi siapapun.

Kelebihan atau kekurangannya hanyalah menyangkut hal-hal sekunder, dan sama sekali tidak terletak dalam subtansi, atau kodrat individu-individu dari jenis yang sama. Jika di antara kegiatan manusia yang murni sebagai manusia ada satu yang benar-benar baik dan perlu, saya berani berpendapat bahwa itu adalah kegiatan yang telah saya pilih. Boleh saja Anda sebut dongeng yang mengandung contoh-contoh yang tidak patut ditiru.

Buku yang berisi ilmu yang menarik perhatian atau langka, yang kebetulan jatuh ke tangan saya. Membaca buku yang baik itu bagaikan mengadakan percakapan dengan cendikiawan yang paling cemerlang dari masa lampau – yakni pengarang-pengarangnya itu – bahkan percakapan berbobot karena dalam buku itu menuangkan gagasan-gagasan terbaik.

Sejumlah besar undang-undang seringkali memberikan keringanan kepada kejahatan, sebuah Negara akan jauh lebih teratur apabila undang-undangnya sedikit tapi dipatuhi dengan ketat. Ketaatan pada beberapa prinsip yang telah saya pilih itu memberikan begitu banyak kemudahan dalam menyelesaikan segala persoalan yang tercakup oleh kedua ilmu itu.

Saya harus lebih berpegang pada apa yang mereka lakukan daripada apa yang mereka katakan, bukan saja karena hanya sedikit orang yang mau mengatakan apa mereka yakini, beberapa orang mungkin tidak tahu apa yang mereka yakini.

Mungkin karena kualitas terjemahan yang kurang, atau memang ini sekadar risalah untuk tiga buku pentingnya: Dioptrics, Meteorology, dan Meditations. Diskursus terasa standar, beberapa memang masuk dan bagus banget terutama membahas esensi Tuhan dan jiwa, tapi berkali-kali Rene berujar kekhawatirannya akan terbitnya buku. Beberapa bahkan diminta terbit ketika sudah meninggal. Dalam riwayat yang pernah kubaca, masa hidup beliau yang bersama Galileo, pernah dihukum sebab bukunya kontroversial, Rene terlihat menjaga diri, begitu berhati-hati dalam bertindak, atau menulis sehingga seolah ada sebuah batu berat yang dibebankan, sulit untuk bebas ekspresi, tidak loss plong menelurkan gagasan. Kebenaran ini – saya berpikir, karena itu saya ada – begitu kokoh dan meyakinkan, sehingga anggapan-anggapan kaum skeptik yang paling berlebihan sekalipun tidak akan mampu menggoyahkan. Ini prinsip pertama dari filsafat saya. Saya meragukan segala sesuatu justru membuktikan dengan jelas dan pasti bahwa saya ada.

Bertindak hati-hati dalam segala hal sehingga meskipun saya hanya maju sedikit sekali, paling tidak saya tidak jatuh terperosok. Ditemukan typo tahun, sang filsuf menenggelamkan diri dalam kesenangan dunia: berkelana, berjudi, berduel di tahun 1960-an? Dengan melihat sejarah hidupnya kita tahu maksudnya tentu tahun 1620-an. Lalu di akhir Kata Pengantar di halaman yang sama: Descartes menderita pneumonia awal Februari 1950, dan setelah lebih dari seminggu menderita penyakit itu, ia meninggal dunia pada tanggal 11 Februari. Mungkin terlihat sederhana, tapi jelas fatal untuk penelusuran sejarah. Karena biasanya yang ekstrem cenderung jelek. Pemikiran-pemikiran serupa yang muncul pada waktu kita sadar juga datang ketika tidak sadar.

Musim dingin di Jerman. Descartes berbaring menatap langit-langit, salju yang melimpah di luar, cocok untuk mencari inspirasi. Saat itu 10 November 1619, dan perang masih berkecamuk. Hari itu persis setahun setelah bertemu matematikawan Belanda, Issac Beeckman. Ia gelisah dalam pembaringan, Rene muda bermimpi tiga kali berturut-turut dan bersambungan. “Quad vitae sektabor iter?” – “Hidup apa yang akan kau ikuti?”

Bila terlalu banyak waktu yang digunakan untuk berkelana, seseorang akan asing di negerinya sendiri. Seperti yang Rene bilang, ia mempelajari filsafat agar ketenangan jiwa sempurna yang didambakan terwujud.

Diskursus & Metode | by Rene Descartes | Diterjemahkan dari Discourse on Method | Penerjemah Ahmad Faridl Ma’aruf | Tata sampul Ferdika | Tata isi Violet V. | Pracetak Antini, Dwi, Wardi | Cetakan pertama, Januari 2015 | Penerbit IRCiSoD | Sumber gambar Cover http://www.allgraf.com | ISBN 978-602-255-770-8 | 132 hlm.; 14 x 20 cm | Skor: 4.5/5

Karawang, 241120 – Bill Withers – Who Is He (And What Is He to You)

Thx to Lifian, Jkt

Dewi Keadilan

Nemesis by Agatha Christie

Suatu kehidupan, berapa pun lamanya, merupakan suatu pengalaman yang lengkap… tapi tidakkah Anda berpendapat bahwa suatu kehidupan terasa tak sempurna, karena terputus sebelum waktunya?”

Novel dengan karakter utama perawan tua, sudah sepuh, sering sakit encok, dan keluhan kesemutan. Kiranya cocok membahas penyakit tulang, rematik, pantangan-pantangan dokter, obat-obatan, dari yang manjur rekomendasi dokter sampai tradisional. Maka membayangkan Miss Jane Marple melakukan perjalanan, sebuah tur menikmati arsitektur gedung tua, keindahan alam dengan kebun bunga melimpah, sampai pemandangan bukit yang perlu perjuangan esktra untuk hiking, rasanya sudah sangat melelahkan. Menyebut dirinya sendiri sebagai kucing betina tua. Dan berhubung ini buku Christie, di mana kejahatan menjadi menu utama, keadilan harus ditegakkan, maka apa yang bisa dilakukan nenek Marple untuk meringkus penjahat? Klu pentingnya, jelas main villain nya juga tak muda, berat rasanya membayangkan musuhnya adu jotos. Duh!

Kerjanya hanya merajut, merenung, dan kadang-kadang pergi berjalan-jalan. Kali ini ia kembali terjun ke kasus penting, pembunuhan yang salah sasaran tangkap. Keadilan harus ditegakkan.

Ini salah satu koleksi kasus Marple di usia senja, terbit tahun 1971, di masa-masa akhir pula Christie menulis, maka terasa sekali sangat matang, dan memainkan detail percakapan. Bumbu gosip dan lingkaran pergaulan menjadi menu utama penyelidikan. Metode deduksi jadi andalan, menyambungkan fakta-fakta, menjadikan berbagai kemungkinan lalu memutuskan, nah kan penjahatnya yang itu.

Dibuka dengan santai di teras rumahnya menikmati hari di masa tua dengan teh dan Koran. Dua Koran, membaca berita update Inggris Raya dengan kursi goyang, di semilir angin sembari menonton kebun bunga di halaman rumah. “Itu akan memudahkan. Saya paling suka bunga. Saya kurang suka sayuran.” Marple tinggal di St. Mary Mead, sebuah desa kecil dan asri. Ia mendapati berita suka dan duka di Koran, rasanya terharu membaca, ‘Yang sangat dicintai oleh suami dan anak-anaknya.’ Aduh, manis sekali atau sedih sekali, dari segi mana pun ditinjau.

Ketika muncul berita duka, salah seorang kenalannya Mr. Rafiel, ia teringat pengalamannya memecahkan kasus di masa liburan di kepulauan Bahama. Walau hanya sebagai teman seperjalanan, nama sang jutawan terkenang. Seorang pengusaha yang meninggalkan misteri ini awalnya juga lenyap dalam waktu, hingga suatu hari ia mendapat surat dari London, pengacara almarhum bahwa ada surat wasiat yang diberikan kepadanya. Merasa penasaran ia pun datang, dua pengacara itu lalu menjelaskan bahwa Marple akan mendapat sejumlah warisan dua puluh ribu pound, bebas pajak. Syaratnya berhasil menuntaskan kasus. “Saya hanya sekadar ingin tahu, apakah Anda pernah – eh – punya hubungan dengan kejahatan atau pengusutan atas suatu kejahatan?” Well, kalimat itu membuatku senyum. Ini Marple sang legendaris, ditanya duo pengacara kota. Haha… Petunjuk? Tidak ada sebab ini kasus rumit, bersandi Nemesis, artinya Dewi Keadilan. Proyek yang disanggupi dari Mr. Rafiel ini berhubungan dengan kejahatan.

Mr. Rafiel mewariskan uang yang besar kepada pelayan yang setia, Esther Walters dan tak banyak petunjuk berarti, ia menemuinya. “Sungguh suatu kebetulan, kita bisa bertemu lagi di sini, kecil sekali dunia ini, bukan?” Darinya ia tahu, kehidupan pribadi almarhum. Tiga anaknya mengalami cobaan berat: meninggal, dipenjara seumur hidup, dan menikah lalu merantau jauh ke seberang samudra. Feeling Marple jelas, kasus nomor dua yang diselidiki. Benar saja, ia mendapat surat untuk mendapat tur gratis dari almarhum. Tur ini akan memberi klu lanjutan. Tur Horses and Gardens. Ada enam belas penumpang dalam tur, termasuk Marple beberapa di antaranya sangat berkaitan dengan kasus, sebagian membantu sebagian malah menjerumuskan. “Dalam hidup ini kita tidak akan berhasil, kalau kita tidak berani mengambil risiko.”

Miss Marple selamanya kurang berhasil untuk mengurangi kepicikan pandangannya mengenai orang-orang asing. Dia tak pernah bisa yakin mengenai orang asing. Khas pandangan Zaman Victoria. Sifatnya itu memang agak sulit untuk memulai petualang, tapi sekaligus sebuah sisi bagus untuk mencurigai semua orang. Sedang membiarkan kemungkinan-kemungkinan melintas di pikiran. Setiap kebetulan harus dipikirkan, kelak bisa saja hal itu disingkirkan bila ternyata memang benar-benar suatu kebetulan.
Setelah menyaksi bangunan gereja tua, mereka melaju ke desa, di sana saat bus berhenti di hotel ia disambut seorang wanita yang mengatakan bahwa ia utusan almarhum, Miss Marple diminta menginap dua malam di sana. Mengingat tujuan utama tur ini, tentu saja ia mau. Setiap petunjuk harus disambut. Tak ubahnya suatu perjalanan memancing di mana ikan-ikannya tak mau menggigit umpannya, karena di situ memang tak ada ikan. Atau mungkin juga karena dia tak tahu umpan yang tepat yang harus digunakan.

The Old Manor House. Tuan rumah terdiri dari tiga nama, tiga wanita kakak-beradik yang aneh. Tiga orang yang bahagia – yang sedih – yang menderita – yang ketakutan. Apa dan siapa mereka? Tiga saudari: Clotilde Bradbury-Scott (cantik), Anthea Bradbury-Scott (biasa), dan Lavinia Glynne (aneh). Mengingatkan kita pada cerita Anton Chekov, dari sini mulai terlihat hal-hal ganjilnya. Ia bercakap dan menyelidik, terkait masa lalu yang digali. Saya hanya tahu sedikit tentang beberapa hal yang telah terjadi di sini, semata-mata karena Anda telah menceritakan kepada saya. “Ingatan adalah hal aneh, kadang-kadang orang bisa mengingat suatu suara meskipun sudah bertahun-tahun tak mendengarnya.”

Lalu muncullah kasus pertama, seorang anggota tur Elizabeth Temple mengalami kecelakaan tertimpa batu menggelinding dari bukit. Ia mengalami gegar otak dan luka parah, dilarikan ke rumah sakit. Saat semua peserta kesal, acara mereka terganggu muncullah pria aneh, menyapanya, mengaku sebagai Profesor Wanstead yang mendapat tugas dari Mr. Rafiel. Berdua lalu menelaah kemungkinan, dan jelas Temple, mantan kepala sekolah yang kena musibah tahu suatu hal penting. Mereka langsung menjenguk dan dari Miss Elizabeth Temple kita tahu, gadis itu pernah menjadi muridnya di Fallowfield. Gadis itu bernama Verity Hunt. Miss Temple yang hanya sesekali siuman memberi nama itu, lalu menghembuskan napas terakhir. Tak mungkin pula dia hanya bermaksud untuk mengucapkan kata ‘kebenaran’, sebab kata verity, berarti ‘kebenaran’. Bekal penting ini. “Saya tak mau menderita, terpenjara, tak bebas menjalani hidupnya gara-gara suatu kekeliruan, meskipun kekeliruan itu sangat wajar dan tak menguntungkan.”

Nama itu lalu dilempar ke Tiga Saudari. Penasaran akan reaksi mereka. Apakah nama itu akan seperti batu yang jatuh ke dalam air, yang menimbulkan riak dan bunyi ‘plung’, atau sesuatu yang lain? Nah, dari reaksi itulah Marple gegas membuktikan temuannya. Malam itu sebelum tidur segalanya berkelebat. “… bila kita memikirkan sesuatu sesaat sebelum tidur, sering-sering kita bisa memperoleh gagasan. Mungkin itu jalan keluar.”

Mengapa dia tak jadi menikah? Gadis itu meninggal. Verity Hunt adalah gadis yang dibunuh, sepupu dan keponakan Tiga Saudari, nama itu menggema lalu melucuti trauma. Semuanya meluncur, dan nama Michael Rafiel diapungkan, ia dipenjara seumur hidup sebab didakwa membunuh Verity. Dari Temple, kita tahu sang mantan murid itu akan menikah, karena Temple juga dibunuh, maka fakta itu diketahui Marple dari wakil Pendeta, yang ternyata adalah sang baptis Verity. Gereja, adalah tujuan tur berikutnya. Pola itu segalanya menjelaskan motif. “Menyedihkan sekali kalau kita pikir betapa banyak kematian, dan hal itu baru kita sadari bila kita melihat tulisan-tulisan pada batu nisan di pekuburan.”

Yang mengejutkanku bukanlah siapa pelaku pembunuhan sang gadis, tapi justru fakta penting bahwa peserta tur ada dua orang detektif yang disewa Mr. Rafiel. Betapa jeniusnya almarhum, merancang penyelidikan dengan detail istimewa.

Semenjak identitas korban diungkap, saya sudah curiga siapa pelakunya. Sebab biasanya korban sering kali adalah orang-orang terdekat, maka langsung mengerucut tebakan. Banyak pembunuh adalah orang-orang yang kelihatannya sangat baik, dan menyenangkan, dan mereka membuat orang-orang sekitarnya terkejut. Awalnya saudara ketiga yang tingkah lakunya aneh, yang jelas bukan nomor dua. Saat saat berkali-kali pula Marple bilang ‘Cinta, adalah kata yang paling mengerikan di dunia. Cinta, suatu kata yang menakutkan.’ maka jelaslah sudah. Kisah-kisah Christie memang berpola, semakin sering kit abaca semakin mudah kita menelusur dan menebak kemungkinan pelaku. Dalam nemesis, sempat berharap kasus ini hasilnya tetap seperti hukum yang ditegakkan setelah sang jagoan dan co. menyelidik, nyatanya enggak ada kejutan sebab keyakinan sang ayah terhadap kasus anaknya yang minta keadilan ditegakkan menemui klik. Kalau boleh menyebut kekurangan kisah-kisah Christie, nyaris semua happy ending, minimal belasan yang kubaca, kecuali tentu saja … And Then There Were None, makanya saya sebut yang terbaik. “Adalah sulit menafsirkan dengan cepat sesuatu yang tak beres dalam suatu peristiwa.”

Mereka jatuh cinta pada pemuda-pemuda bejat, mereka yakin sekali bahwa mereka akan bisa mengubah pemuda-pemuda itu. Dan calon suami yang manis, yang baik hati, yang mantab bisa diandalkan, hanya dianggap saudara saja.

Nemesis tipikal Christie, pembaca dibuat bingung, lalu petunjuk disebar. Yakinlah, endingnya selalu sama. Miss Marple membutuhkan kerja keras dan keberuntungan, dia harus berpikir dan menimbang. Selalu saja ada tragedi di masa lalu yang tersimpan dalam ingatan para pembantu rumah tangga.

Nemesis | by Agatha Christie | Diterjemahkan dari Nemesis | Copyright 1971 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | GM 402 01 13 0038 | Alih bahasa Ny. Suwarni A.S. | Desain dan ilustrasi Staven Andersen | Pertama terbit 1990 | Cetakan keenam, Mei 2014 | ISBN 978-979-22-9329-6 | 376 hlm.; 18 cm | Skor: 4/5

Karawang, 231120 – Sarah Vaughan – Summertime (1950)

Manusia, Makhluk yang Diboncengi Perasaan Bersalah

Kasus Dendam Membara by Erle Stanley Gardner

Hubungan antara seorang ibu dan putrinya sangat sensitif. Anda bisa dengan mudah kehilangan kasih sayang putri Anda. Jika Anda menegur, mereka mungkin akan menjawab dengan sopan, tapi cinta mereka pada Anda sudah hilang.”

Kisah detektif dengan sudut pandang seorang pengacara. Pengalaman pertamaku menikmati cerita serial Perry Mason. Lumayan memuaskan. Pembunuhnya tak tertebak, atau memang saya tak menebak, hanya mengikuti arus. Menyenangkan sekali dikejutkan fakta-fakta. Lewat tengah malam, seorang ibu menjadi saksi pembunuhan playboy yang menggoda anak tunggalnya. Berusaha menyingkirkan semua bukti, justru ia yang menjadi tersangka. Perry Mason sedang liburan di pegunungan itu, dan menjelma pembela yang hebat.

Carlotta, remaja tujuh belas tahun menjadi harapan keluarga, ibunya Belle Adrian sudah memintanya untuk tak bergaul dengan begundal desa Arthur B. Cushing. Anak bankir, orang kaya yang banyak gaya, suka hura-hura dan foya-foya. Laiknya orang kaya broken home, cinta remaja dipermainkan. Dan laiknya remaja yang mengalami cinta buta, kata-kata orang tuanya sambil lalu saja. Maka tengah malam itu, Mrs. Adrian kesal anaknya belum pulang juga. Ia ke rumah Arthur sebab ada kegaduhan di lantai atas untuk menjemput putrinya, yang ditemukan di sana sungguh mengejutkan, mayat Arthur Cushing terduduk di kursinya, ada noda darah bekas tembakan, masih menetes yang berarti baru saja terjadi. Di bawah kursi ada kotak bedak dengan cermin pecah bulat milik Carlotta, kado ulang tahun. Setelah beberapa lama berdiri terdiam, ia bertindak membersihkan TKP, menjauhkan hubungan pembunuhan ini dari anaknya. Tindakan yang memberinya konsekuensi panjang dalam kisah ini.

Sam Burris membangunkan istrinya karena mendengar suara rebut di rumah Arthur, suara kaca pecah dan tembakan. Istrinya yang suka gosip sekitar langsung terjaga. Rumah Cushing yang berisik dan mengganggu kenyamanan tetangga ini dulunya merupakan tanah milik Sam, dijual karena butuh uang. Ada nada penyesalan sebab ternyata sang pembeli adalah tetangga rebut yang suka hura-hura. Melalui teropong mereka melihat jendela vila, terlihat Nyonya Belle membersihkan TKP dan bergegas. Menemukan klik dengan adegan mula.
Nyonya Adrian pulang dan menemukan garasi masih kosong yang berarti putrinya belum pulang, wah berat, kalau putrinya benar-benar membunuh si bajingan dan langsung kabur tentu pola seperti ini sudah umum dalam kasus kriminal. Hit and run. Namun betapa terkejutnya ia karena ketika di kamarnya menemukan Carlotta tidur. Dibangunkan dan ditanya kemana saja? Padahal sudah lama, lhaa kok garasi kosong? Pas pulang, ban mobilnya bocor maka ditinggalkan di jalan, ia jalan kaki. Waah kalau begitu apa yang terjadi jelang tengah malam menjadi misteri.

Lantas siapa yang membunuh Arthur?

Kita sudah tahu jawaban pasti bukan Belle dan Carlotta Adrian sebab kita mengambil sudut pandang padanya. Walau segala bukti mengarah pada Belle, apalagi ada saksi Sam dan istri melihatnya gegas pergi beberapa saat setelah kejadian, kita bisa pastikan bukan, kecuali sudut pandang itu menipu kita, pembaca dikelabui dengan godaan polos, bahwa ia menyembunyikan fakta. Di sinilah kisah menjadi sangat menarik. “Astaga! Matikan semua lampu. Jangan sampai ada yang tahu bahwa kita belum tidur. Naiklah ke ranjangku, dan kita bicarakan hal ini.”

Kebetulan di vila dekat danau kelabu itu menginap sang pengacara legendaris Perry Mason. Sebagai debut buku beliau yang kubaca, jagoan baru disebut di bab empat terasa mengesampingkan urgenitas. Memberi narasi adegan dengan template kasus terdengar janggal. Seharusnya kita curiga, orang terlihat berniat baik belum tentu menolong. Tetangga Belle mendatanginya, menyampaikan detail kejadian dan menyarankan segera mencari pengacara sebab sheriff sudah menuju ke rumahnya, dengan segala dalih pun surat penangkapannya sudah ada. Maka gegas pula Belle menemui sang pengacara. “Setiap usaha berbohong akan berakibat sangat fatal.”

Perry Mason adalah pengacara yang baik, pengguna jasanya banyak kalangan bawah, bahkan kalau sedang merasakan angina baik, ia rela tak dibayar. Maka ketika siang itu ia mendengarkan detail Belle Adrian, ada kejanggalan dalam alur kejadian malam itu, ia menerima kasusnya.

Sheriff Elmore dan tim mulanya menginterogasi Nyonya Adrian, janda yang menyayangi putrinya dan bertekad melindunginya sesalah apapun. Segala bukti penyelidikan menguat tertuduh itu bisa mereka berdua, tapi karena kesaksian Sam begitu menyakinkan bahwa malam tengah itu yang terlihat di jendela adalah Nyonya Adrian maka, kasus ini menyeretnya ke meja tersangka.

Berikutnya adalah permainan detail, penelusuran benang merah bagaimana hal-hal yang tak dicerita tiga bab mula akan dikupas oleh detektif Drake, rekan Perry Mason. Sebagai pembela tersangka ia mencari hal-hal yang terlewat, bukti sebab ban bocor, menit-menit malam itu, dan bagaimana kronologi kematian sang playboy dikupas dengan sangat meyakinkan.

Dan pada akhirnya buku ini menjelma kisah pengadilan kasus pembunuhan. Kalau biasanya kita diposisi jaksa yang coba menyeret sang tersangka ke bui maka kali ini, kita ada menjadi sang pembela. Dengan dasar sangat kuat kliennya tak bersalah maka guliran kata itu menemui titik akhir yang sungguh mengejutkan. Perhatikan lingkar karakter mula, bila kalian menyangka pembunuh adalah orang asing yang belum disebut atau baru disebut setelah separuh jalan, tentu salah.

Sebagai buku pertama koleksi kasus Perry Mason, saya terkesan. Saya beli trial satu buku, tiba dari Jakarta tanggal 27 Juni, novel ini selesai baca bahkan sebelum bulan berganti. Karena percobaan pertama sukses, seperti biasa saya berburu buku lainnya, dan Lifian, teman penjual buku dengan senang hati mengirim lagi empat novel lainnya. Yes, kii masuk antrian.

Tak terlalu muluk ekspektasiku akan kisah proses dijelaskan dengan deduksi penyelidikan tinggi macam Sherlock atau Poirot, jauh sekali. Karena karakter utama adalah pengacara maka ia memang menempatkan diri sebagai pembela sejati. Menarik sekali nantinya saat kliennya adalah pelaku utama kejahatan, makanya langsung kubeli buku seri lain. Ayooolah kejutkan aku, Mason!

Ketika pengadilan tampak begitu mudah untuk menentukan pelaku utama, jari yang sepertinya sudah bisa dengan mudah memutuskan, hakim yang tinggal ketuk palu, seolah sidang ini formalitas, sampai ada celetuk pendengar sidang , “Tampaknya kasus ini bisa diselesaikan dengan cepat.” Haha, tunggu dulu. Kalian harusnya dengan senang hati menikmati riak-riak kelabu itu. Ketahuilah sang pembunuh telah merencanakan kriminal ini, dan hati-hati sama orang yang sok peduli, sebab kata-kata seringkali mengelabui. Jangan lupa, kisah detektif akan terasa kurang tanpa kehadiran kesaksian pembantu rumah tangga, di banyak sekali kisah justru profesi inilah yang menjadi kunci banyak kasus. Termasuk di sini…

“… Tempat yang paling aman bagi pengacara saat ini adalah di kantornya.

Kasus Dendam Membara | by Erle Stanley Gardner | Judul asli Angry Mourner | Alih bahasa Ivonne S. | Penerbit Alice Saputra Communication | Copyright 1993 | Cetakan pertama 1995 | Skor: 4/5

Karawang, 201120 – Bill Withers – Harlem

Thx to Lifian, Jkt

Ulid, Kambing, Dawuk

Cerita, Bualan, Kebenaran by Mahfud Ikhwan

Kebanyakan para penulis prosa kita seringkali mengorbankan cerita demi mencapai puncak tertinggi diksi…”

Lucu, ironi, dan poin pentingnya eheemmmm…. tidak sombong. Tentang betapa merasa benar sangat tipis jaraknya dengan kesombongan. Biasanya saya manggil pria di blog ini dengan sebutan Bung untuk segala usia, tapi karema kita berteman di facebook dan sebagian besar sobat Dawuk memanggilnya Cak, saya turut serta di mayoritas itu. Untuk manusia penerima penghargaan Sastra tertinggi di tanah air, bahkan menyandingkan piala dari Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) dan Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK), Cak Mahfud terbaca humble. Bayangkan, dua dari tiga novelnya menang! Wow banget ‘kan.

#1. Pengujung Desember

Sebuah kegagalan memenuhi target menjadi pembuka buku ini, sebuah pengakuan yang patut dicermati buat para penulis mula bahwa untuk menelurkan debut butuh perjuangan berdarah-darah. Bahkan untuk seorang Cak Ikhwan. Di suatu masa di akhir tahun, beliau cuti kerja untuk kebut menuntaskan novel Ulid, nyatanya tenggat yang digaris tak sesuai ekspektasi. Butuh extra time, kesabaran dan kerja keras adalah sahabat baik sebuah mutu.

Dan teman nulis yang disuka adalah metal cadas System of a Down. Wew… Generasi Linkin Park hormat!

#2. Saya dan Kampung Halaman, dan Bagaimana Saya Menulisnya

Dalam sebuah wawancara daring dengan Toko Buku Santa, Jakarta yang disiarkan live via instagram, Cak Mahfud mendendangkan pengalaman, dan seluk beluk panjang tentang desa dan habit yang terbentuk di dalamnya. Saya yang belum ‘klik’ sebab belum melahap Ulid beberapa kali menguap, dan setelahnya baru baca buku ini. Well, karena tema yang disodorkan memang promo Cerita Bualan, materi kampung halaman memang melimpah.

Dibuka dengan pengalaman baca Camus, mengingatkanku pada Summer yang berkelindan di Aljazair, menjadi setting utama The Stranger pula. Kampung halaman mencipta kenang yang jika dituturkan dalam fiksi sungguh meriah.

Saya belum membaca Pater Pancali, tapi saya sudah menuntaskan riwayat Apu. Begitupula Bukan Pasar Malam yang berkisah tentang kampung halaman Blora tapi ditulis di Jakarta enam tahun setelahnya. Bukti bahwa tempat-tempat yang pernah kita tinggali, singgahi menyeruak ingat untuk dituturkan, dirombak menjelma prosa. Obah akan mamah!

Jangan lupa, ada kritik sosial di sini dalam kutip: “Kekuasaan bergandengan tangan dengan agama akan memperlihatkan sisi buruk manusia.” Kenyataan pahit yang digeluti Negara tercinta ini. Nyaris semua foto calon penguasa, baik daerah atau nasional mengenakan identitas agama.

#3. (Sekali Lagi) Tentang Desa dan Kota Bagi Cerita-Cerita Saya

Di desa di kota tumbuh dengan gelisah / Seperti kembang dalam belukar / Seperti mata air kehilangan sungai.Frank Sahilatua & Jane Sahilatua, “Seperti Mata Air Kehilangan Sungai”

Cerpen di mula Cak Mahfud berlatar urban. Dan ketiga novelnya tak akan ada tanpa memikirkan kampung halaman, memunguti cerita, mitos, hingga persoalan-persoalan riil, yang lama maupun yang baru. Dan mengolahnya. Setiap penulis memiliki metode dan caranya masing-masing. Namun beliau membayangkan hal yang samalah yang kiranya membuat Pram menulis Cerita dari Blora di Jakarta, Kayam menulis tentang Wanagalih di New York, dan Frank McCout tentang Limerick di New York.

Well, bulan ini saya sudah punya novel Angela’s Ashes yang sulit dicari itu. Mungkin bulan depan masuk target baca.

#4. Pak Kunto (– dan Saya)

Saya belum baca satupun buku karya Bung Kuntowijoyo, namanya memang termasyur di kalangan klub buku. Berkali-kali incar, gagal bawa pulang, muncul di beranda media sosial dengan harga OK, tapi sampai detik ini belum kebeli. Terutama Pasar, banyak jenis edisinya; muncul di pajangan. Ternyata menjadi panutan Cak Mahfud, menjadikannya guru spiritual mencipta karya. Dan, Buku Pasar edisi jadul ternyata sudah masuk buku langka, mahal-mahal harganya.

Aku yang bukan tokoh utama ini membuat cerita-cerita Kunto jadi seperti mendongeng, dan ini menurut saya cocok untuk kisah-kisah berlatar rural.
Dari tulisan ini saya menyatakan berburu: Pater Pancali dan Belajar Mencintai Bunga-Bunga. Pater Pancali nyaris seperti kitab suci kepenulisan! Wow…

#5. Menulis Kambing dan Hujan: Sebuah Pengalaman

Hal menarik dalam kumpulan cerpen Pak Kunto: 1) latar ruralnya; 2) konfliks kontestasi sehari-hari masyarakat yang hidup di dalamnya; 3) Persinggungan intens antara Islan dan Jawa (atau sebaliknya). Menyentil idola Seno Gumira Ajidarma dan Putu Wijaya, maka membelok ke Pak Kunto. Mungkin terdengar umum, maka beberapa kali ketika orang menyebut novel terbaik adalah milik Pram, kini sudah terasa umum. Kita butuh selera snob untuk mengimbangi!

Eureka! Latar ’65 juga terasa umum untuk sejarah kita, tapi kalau dibuat unik memang kata ‘umum’ itu bisa ditimbang kembali.

#6. Cerita-Cerita di Masa Kecil dan Kambing Itu

Cerita-cerita itu memang tidak benar… namun dnegan menjadi tidak benar, cerita-cerita itu membuatnya merasakan dan mengetahui kebenaran bahwa ada kebenaran yang tidak bisa diceritakan kepadanya…” – Salman Rushdie

Dari tulisan nomor enam ini kita tahu, semua orang bisa jadi apa saja selama ada kemauan dan tekad, dan mungkin juga bakat. Cak Mahfud terbaca agak terlambat mungkin menekuni dunia kepenulisan, tapi ada pola yang dibentuk dari kecil, dan kita tahu beliau terlahir dalam kehidupan reliji kuat. Bagus bos, salut. Tak ada kata terlambat, dan ta-daa… beruntungnya sampeyan mengambil tantangan hidup, melepas rutinitas kerja kantor demi bergelut dengan impian. Salute!

Hea hea…

#7. Tentang Bagaimana Kambing Disajikan: Beberapa Penjelasan dan Pengakuan

Nama sampeyan kini sudah ngetrend Mas, sudah sejajar sama nama-nama yang disebut di sini. Semua penulis punya ‘guru’ dalam kepenulisan. Pak Kunto mungkin salah satunya, seolah menjadi seorang pengekor yang obsesif. Namun kurasa enggak juga, ada benang merah yang kuat dan bisa tegak bernama ketekunan.

Dan tak ada penghiburan di antara yang rutin kecuali melanggar kerutinan.

#8. Kita Adalah Bangsa yang Menyimpan Amarah: Wawancara Proses Kreatif Dawuk

Ini mungkin tulisan terbaik, disajikan di akhir. Mungkin pula karena saya mengenal Cak Mahfud dari Dawuk dan terkesan lalu merebet ke karya lain, maka tulisan akhir yang pernah tayang di jurnalruang ini terasa memukau. Ditulis dengan pola wawancara. Satu kutipan yang menurutku keren banget adalah ini, “Saya menulis apa yang saya tahu, saya pahami, dan saya kuasai.” Maka enyahlah kalian penulis ngawang-awang tak jelas.

Dengan dalih karakter dalam Dawuk yang menjadi penyambung lidah sang Penulis, “Warto Kemplung yang bercerita untuk mendapatkan tokok dan kopi, dan sedikit perhatian, saya rasa tujuan saya menulis Dawuk, tak jauh-jauh amat dari hal semacam itu….” Bisa ditemukan di Dawuk, orang yang paling beragama di antara kita boleh jadi adalah orang yang paling buruk perangainya.

Dan kritik komunitas yang kurasa bagus banget, dan di dunia digital grup-grup macam itu menjamur luber ke jalanan. “Terlalu dominannya suatu gaya dan kelompok tertentu dalam sastra kita…”

Mungkin pula, ini jadi pemicu saya harus menikmati Aku dan India. Ah, semuanya saja. Dengan tiga buku bagus plus satu Cerita Bualan ini yang juga bagus, rasanya semua buku Cak Mahfud laik sekali dilahap, dan tentu saja dikoleksi. Layak jadi idola. Kunanti sekuel Dawuk dengan tak sabar…

Kebetulan ini buku kedua tahun 2020 dari Tanda Baca yang kubaca, Tentang Menulis-nya Bernard Batubara yang gagal memenuhi harap, sekadar curhat pengalaman beliau mencipta karya, tak dalam, sangat biasa, dan benar-benar (maaf) tak bervitamin. Sempat terbesit sepintas, jangan-jangan ini buku ala kadar juga? Sama-sama tipis dan berkutat dalam proses kreatif. Namun tentu saya rasa was-was itu bisa dienyahkan seketika, jelas Cak Mahfud punya kualitas, punya standar yang menggaris, mana yang laik dicetak dan mana yang sebaiknya tetap tersimpan dalam komputer. Kedelapan tulisan di sini sungguh ciamik, mengingatkanku pada curhat Mario Vargas Llosa dalam ‘Matinya Penulis Besartentang proses kreatif dan pengalaman beliau di dunia sastra. Nah, mirip sekali ‘kan. Jangan-jangan 20 atau 30 tahun lagi, Cak Mahfud mendunia juga, siapa tahu Man Booker Award dalam intaian. Selama kualitas dijaga, nggak ada yang mustahil toh. Kalau dituturkan dengan irama merdu gini, kurasa sangat perlu dibuat lebih banyak lagi kisah-kisah dibalik karya, terutama tentu saja karya yang sudah dikenal rakyat, dikenal pembaca dengan akrab. Dengan sudah membaca tiga buku sebelumnya, Cerita Bualan beliau langsung bisa nyetel, klik sejak di akhir tahun cuti yang lucu itu.

Dengan dominan menggunakan kata ‘saya’ ketimbang ‘aku’ saja tampak lebih sopan. Jangan terlalu merendahkan diri karena pengaruh feodalisme yang sudah berurat berakar. Saya dalam bahasa Indonesia sama/setaraf dengan kata ik dalam bahasa Belanda, I dalam bahasa Inggris, dan ana dalam bahasa Arab. Lantas kenapa kita lalu menganggap kurang hormat menggunakan kata ‘saya’? Pengaruh daerah atau foedalisme? Mungkin karena diambil dari kata sahaya yang berarti ‘budak’. Atau ‘hamba’, sejatinya kalau mau merendahkan diri serendah-rendahnya pakailah patik atau hamba. Jadi pemilihan kata ‘saya’ bagiku lebih nyaman dan terasa lebih respect walaupun sejatinya sama saja dengan ‘aku’. Dalam novel-novel terjemahan Agatha Christie banyak kita temui, wah jangan-jangan karena pola pilihan baca kita sehingga tercipta kewajaran dan kenyamanan?

Seperti Sang Penulis bilang, saya menyukai kesederhanaan Pak Kunto dalam menulis. Maka saya juga bisa bilang, “Saya menyukai kesederhanaan Cak Mahfud dalam menulis…”

Cerita, Bualan, Kebenaran | by Mahfud Ikhwan | Cetakan pertama, September 2020 | Edisi perdana buku ini berseri 1-500 (Buku ini berseri 363) | vi + 144 hlm.; 12 x 19 cm | ISBN 978-623-93977-1-5 | Penerbit Tanda Baca | Editor Ageng Indra | Perancang sampul Fitiana Hadi | Layout MS Lubis | Skor: 4.5/5

Karawang, 191020 – 191120 – Roxette – Listen to your Heart

Thx to Dema Buku, Rani Skom

*) draf sudah selesai pas sebulan lalu, buku ini malah ketlisut di rak buku dan tumpang tindih susah kucari, sampai mandi keringat di cuaca ekstrim Karawang akhir-akhir ini. Kulanjutkan ulas justru tak sengaja, kebetulan cari buku Sheila yang akan ku giveaway kan, malah ketemu. Duh, hea hea…

Clash of Clans in Japan

Furin Kazan by Yasushi Inoue

Ya, siapapun yang menentangmu Tuanku, harus diperangi.”

Tanpa tahu ini tentang apa, siapa Inoue, dan segala awam yang menyelimuti, kunikmati lembar demi lembarnya. Terkadang memang saya membeli ke-awam-an buku, sebagai selingan atau pengen iseng petualang ke sebuah area antah. Dibaca sehari selesai, dimulai Jumat pagi (13/11) selesai Sabtu paginya (14/11), hari libur memang liar. Lumayan bagus, mengingatkanku pada Game of Throne, pertarungan antar klan memperebutkan kekuasaan. Terbit tahun 1950-an, apakah G.R.R.Martin sudah melahapnya? Tokoh utama, si ahli strategi Kansuke bertubuh pendek, pincang, mata satunya rusak, akalnya panjang yang tentu saja mengingatkan kita pada si cebol hebat di Perebutan Takhta. Endingnya ketebak, walau ada nada sedih disenandungkan, pada akhirnya tersenyum.

Kisahnya tentang Yamamoto Kansuke, seorang samurai yang sudah tak muda lagi, kepala lima. Selama Sembilan tahun mengabdi pada kerajaan, tapi nggak segera mendapat kerja tetap. Dia dicerita cerdik, suka membual, pernah berpetualang ke banyak daerah. Dan jago main pedang, maka di pembuka kita disajikan sebuah sekongkol. Menyelamatkan Itagaki, sandiwara yang mengantarnya menjadi orang kepercayaan raja Harunobu. Jadi bab pertama kita mengambil sudut pandang sang pemeras Aoki Daizen, ia mendatangi rumah Kansuke untuk meminta uang rutin sebagai biaya tutup mulut.

Nah, saat itulah ia mendengar nama seorang samurai kepercayaan raja akan melintas daerah situ, maka disusunlah strategi. Daizen nanti pura-pura merampok, lalu muncullah Kensuke menyelanatkan. Tak ada nyawa melayang, hanya sandiwara. Dan taktik ini pasti berhasil sebab utang nyawa akan selalu dihargai kepercayaan tinggi. Ternyata ini sebuah jebakan buat Daizen, sebab sandiwara dijalankan, ia terjebak dan meminta dihentikan, Sensuke malah membunuhnya. Dari sinilah sudut pandang bab dua berubah ke sang tokoh utama. Pembuka yang secara langsung bilang, ia cerdik, serta novel ini akan melibatkan banyak nyawa melayang. Bukan ratusan lagi, ribuan pasukan akan berperang. Beginilah cerita perang antar klan harus disajikan. “Selain dalam pertempuran, tidak baik menghilangkan nyawa seseorang.”

Kensuke menguasai aliran pedang Gyoryu ditantang melawan aliran pedang Shintoryu dalam duel latihan, kukira hanya bualan ternyata bisa. Maka setelah beberapa waktu Kansuke dipanggil menghadap Harunobu. Ia dites oleh seorang samurai utusan, dikira hanya memakai pedang kayu, nggaklah langsung pedang beneran yang mengakibat nyawa melayang. Ini menegaskan sekali ia mencabut pedang dan berniat membunuh, pasti tak pernah gagal. Tenggoret-tenggoret sedang mengerik menandai era baru kehidupannya. Ia ditunjuk sebagai penasehat jenderal muda Takeda Harunobu.

Maka ujian pertama sesungguhnya adalah dari klan Suwa yang dipimpin Yorishige Suwa. Aku sama sekali tidak tahu akibat-akibatnya kelak, namun justru itu yang menjadi alasan kenapa aku bertahan. Ketika ia diutus ke sana menyampaikan salam damai, disambut sang jenderal yang lalu melakukan kunjungan balasan. Ketika sang tamu dan pengiringnya tiba di wilayah Kofu, dalam rapat terbatas berbagai usulan muncul, dan saat sang jenderal menanyakan kepada Sansuke ia meminta empat mata, usulnya jelas: bunuh Yorishige sebelum ia menyerang kita. Maka eksekusi langsung dilakukan, mereka menyerang klan musuh tanpa komando dan dalam waktu singkat menguasainya.

Dalam kewajaran, keluarga jenderal yang kalah biasanya melakukan ritual seppuku (bunuh diri), Putri Huu tidak. Ia ingin bertahan hidup dan rela menjadi selir sang jenderal yang membunuh ayahnya. Ia tahu ada dendam berkobar, tapi setidaknya harapan selalu ada selama napas masih bisa dihela. Ia mendapatkan keyakinan atas kejujuran, kepercayaan diri, dan cara berpikir positif.

Perang berikutnya lebih banyak dan rumit. Cara Kensuke menunggang kuda agak aneh, tubuh kecilnya duduk di punggung seekor kuda besar. Membungkuk begitu dekat dengan leher kuda. Dalam masa perang itu, ia menemui banyak hal tapi memang yang pertama selalu istimewa. Kensuke belajar pertama kalinya tentang cinta dan kebencian bisa muncul pada saat bersamaan tanpa logika sama sekali. Ia jatuh hati sama Putri Huu, cinta yang mustahil terwujud sebab janji setia sebagai samurai yang takkan menghianati tuannya.

Zaman perang Sengoku Jidai dan akan ada perang terus-menerus selama bertahun-tahun. Panji Furin Kazan tak pernah tinggal di Kofu lebih dari setengah tahun. “Jangan biarkan saya di sini menjaga rumah. Itu sangat membosankan.” Sampai diucapkan sang samurai, karena perang memang manjadi tujuannya bergabung.

Jika menyangkut masalah penaklukan benteng atau pertempuran, ia mampu melihat segala sesuatunya dengan jelas, layaknya kabut pagi menghilang seiring terbit matahari. Namun jika sudah soal laki-laki dan perempuan, ia tak mampu melihat apa pun di hadapannya. Otaknya begitu jernih memikirkan perang yang akan segera terjadi. Sang Putri lalu mendapat seteru dengan selir lain, Puteri Ogoto. Terdengar jenaka, ia diombang-ambing sama kedua selir itu, dan sang jenderal-pun tak jujur pula. Pusing. Maka ketika Putri Huu mengancam, ia meminta sang jenderal dan ia meninggalkan kehidupan duniawi dan mengubah nama, sang jenderal kini bernama Tadeka Shingen. “… Ya aku benar-benar mengerti. Meninggalkan keduniawian, menjadi seorang rahib, dan menyerahkan diri pada kehendak langit.”

Itu hanya strategi, ia mendapat ucapan selamat dan gelar namun pasukan Takeda terus melakukan invasi. Mereka berkuda ke berbagai penjuru, bertempur menang, dan kembali ke Kofu. Ia merasa akan hidup lebih lama, jika kematian tidak segera menjemputnya, ia ingin mengendalikan takdir sendiri. Setiap manusia memiliki sendiri waktu untuk mati. Saking seringnya perang, diskusi ini disampaikan sambil santuy. “Nah, berikutnya apa yang kita lakukan?” / “Mari kita menyerbu Joshu.” / “Bagaimana dengan Bushu?” / “Baik, kita juga akan menyerang Bushu.”

Penggambaran zaman dulu yang realistis, terdengar keji tapi memang perang memang sadis. Sampai akhirnya Kansuke di masa letih. Aku sedang menghadapi masa paling sulit dalam hidupku. Akhir-akhir ini aku memikirkan dengan sungguh-sungguh berbagai hal, tapi tetap saja tak bisa memecahkan masalah. Tujuan klan Takeda membentuk persekutuan tiga keluarga: Imagawa, Hojo, dan Takeda sudah terwujud, lalu invasi terbesar disiapkan. Musuh utama Murakami Yoshikiyo bisa dikalahkan, pada dasarnya puncak pertempuran besar berikutnya adalah melawan Uesugi Kenshin Kagetora yang melibatkan ribuan pasukan. Penaklukan benteng paling sulit ini menjadi ending novel ini.

Keinginan melihat Kampanye perang Pengeran muda Katsuyori yang berusia 16 tahun (anak Putri Huu) terwujud walau terdengar rumit dalam pelaksanaan. Maklum pangeran muda yang perlu bimbingan.

Dalam cerita berlatar Jepang yang menjadi sulit dalam bayang adalah timeline. Karena di sini tak dijelaskan tahun Masehi hanya tahun ke berapa Tenbu, lalu saat pergantian era kita sudah sampai pada tahun ke-4 Koji lalu terjadi pergantian era lagi menjadi Eiroku ke-1, dst. Perlu belajar segala masa di Jepang siapa saja yang berkuasa.

Dengan usia 51 tahun ketika dimulai mengabdi, ia termasuk sebagai protagonist tua, kondisi fisik yang kurang, samurai nganggur lalu menjelma ahli strategi kisah ini potensial meledak. Suram adalah koentji, latarnya sudah memenuhinya. Sayangnya narasinya malah kurang detail, mematikan orang dengan sangat mudah. Menyebut pasukan ratusan hingga ribuan dengan mudah, penyerbuan dan menempatkan posisi perang juga kurang masuk. Sempat berharap ada asmara dengan Putri Huu malah merasa hambar, benar-benar kakek samurai sejati. Sisi cintanya dimatikan demi mengabdi kepada sang raja. Yamamoto Kensuke dikuasai oleh gagasan. Tubuhnya bersimbah keringat.

Sumpahnya ada tiga, dan sejak disampaikan jelas akan terpenuhi. Tiga orang yang ia cintai jenderal Harunobu, Putri Huu, dan sang Pangeran, semuanya menempatkan akhir yang pas. Putri Huu yang perfectionist mengalami goncangan batin, tapi pada akhirnya tersingkir. Dan anak tunggalnya, Pengeran Katsuyori menjadikan kampanye perang pertamanya sesuai pemicu, sudah sesuai alur.

Coba perhatikan perancang sampulnya. Adalah penulis kini menyandang dua kali pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa kategori prosa. Gambarnya keren dengan Panji Furi Kazan berkibar-kibar dengan latar seorang samurai bertopeng. Panjinya sendiri dicetak luks sehingga lebih lembut jika diraba. Dominasi biru di belakang para prajurit di markas utama

Akhirnya, mau diambil dari sudut manapun kita mendapati bahwa perang antar klan ini tak ada yang salah-dan benar. Persis seperti dalam Game of Throne, mau menjago atau menaruh simpati pada siapapun, mereka hanya terjebak di era yang salah. Era kekerasan di mana pedang diayunkan menebas leher serutin cangkul dikayuh di ladang.

Karena kami di sini juga atas perintah tuanku.”

Furin Kazan | by Yasushi Inoue | Copyright 1953 by The Heirs of Yasushi Inoue | Penerjemah Dina Faozi & Fatmawati Djafri | Penerbit Mahda Books | Penyunting Tim Kansha Books | Pewajah sampul Iksaka Banu | Pewajah isi Call Izmi | Cetakan I : Juli 2010 | ISBN 978-602-97196-0-4 | Skor: 4/5

Karawang, 181120 – Linkin Park – Pushing Me Away

Thx to Lifian, Jkt

Apakah Saya Mengejar Kebutuhan Sesungguhnya?

Ya atau Tidak by Spencer Johnson, M.D.

Orang yang paling berhasil selalu mengejar apa yang mereka butuhkan.”

Kisah akhir pekan dengan sudut pandang Aku dalam proses pendakian bersama sang pemandu dan enam karakter yang memberi pertanyaan esensial tentang kehidupan, dan perbaikan proses kehidupan. Terasa sekali menggurui, karena sang pembelajar menggunakan ke-aku-an dengan lawan bicara orang-orang sukses – secara finansial- maka kita dihadapkan pada orang yang menerima petuah. Bagaimana mereka belajar begitu banyak dalam waktu yang begitu singkat?

Sebuah kisah, jadi ini cerita semacam pendakian (hiking) dari Jumat sore sampai Minggu pagi. Mendaki, memandang alam, mencari kayu bakar, mendirikan kemah, sampai renungan malam. Selama perjalanan itulah, kita bertanya kepada diri sendiri enam buah pertanyaan yang berharga. Lalu kita diam. “Mungkin Anda tidak selalu perlu mengambil keputusan yang terbaik. Agar hal-hal menjadi lebih baik, kita hanya perlu membuat keputusan yang lebih baik… bahwa dengan berusaha membuat keputusan yang lebih baik, pada akhirnya Anda akan berhasil.”

Sistem ‘Ya’ atau ‘Tidak’ merupakan kumpulan dari beberapa wawasan dan enam pertanyaan: tiga pertanyaan praktis dan tiga pertanyaan pribadi. “Perlu keberanian untuk melepaskan suatu kebiasaan yang sudah dikenang. Tetapi sesungguhnya hal itu merupakan cara yang lebih aman dan terpercaya untuk memperoleh hasil yang lebih baik.”

Enam orang dan pertanyaan dasar itu adalah:

1) Franklin Neal, pria berpostur tegap dari Chicago menyodorkan pertanyaan, ‘Apakah saya mengejar kebutuhan sesungguhnya?’

2). Hiro Tanaka, usahawan yang memiliki pabrik berukuran sedang dari Tokyo: ‘Apakah saya telah mengetahui pilihan saya?’

3) Ingrid Bauer, wanita cemerlang yang memimpin sebuah perusahaan konsultan internasional: ‘Apakah saya memikirkan hal ini secara mendalam untuk mencapai hasil yang lebih baik?’

4) Angelo Cuvero, remaja yang berkepribadian manrik dari Brasilia, bersama ayahnya Santo Cuvero. “Apakah saya benar-benar telah mengatakan kebenaran kepada diri sendiri?”

5) Peter Golden, eksekutif periklanan. Intuisi adalah pengetahuan bawah sadar Anda yang didasarkan atas pengalaman Anda, sesuatu yang Anda rasakan tepat bagi Anda. “Apakah keputusan ini tepat bagi saya?”

6). Nigel ‘Wings’ Macleod, seorang Australia yang tinggi, gagah, berambut agak merah, pendiri dan ketua sebuah maskapai penerbangan besar. “Apakah tindakan saya menunjukkan keyakinan saya bahwa saya berhak mendapatkan yang lebih baik.”

Semakin baik sistem, semakin mudah menghindari kesalahan dan semakin baik hasil yang diperoleh. Setiap perhentian kita diajak berdiskusi. W.E. Deming pernah bilang: orang yang sistemnya berjasa terhadap kemajuan ekonomi Jepang – ‘Delapan puluh lima persen dari seluruh kegagalan terletak pada sistemnya.’ “Kuncinya adalah memakai sistem yang lebih baik. Karena sistem itu secara konsisten menghasilkan hasil yang lebih baik kendati kesalahan kadang-kadang masih dilakukan. Kesalahan terletak bukan pada orangnya melainkan pada sistem pemikiran yang dipakainya.”

Suatu keinginan adalah suatu harapan, suatu keperluan adalah suatu keharusan. Kuncinya adalah memumpunkan diri pada kebutuhan yang sesungguhnya. Memumpunkan berarti melihat dari segi hasil yang benar-benar Anda butuhkan secara jelas dan rinci sehingga Anda dapat melihat sendiri mencapai hal itu. Jadi memumpunkan diri adalah merasakan hasil-hasil yang diperlukan dengan sangat jelas sehingga saya tidak akan membiarkan hal-hal lain mengalihkan perhatian saya. “Orang yang tegas mengetahui dengan jelas apa kebutuhan yang sebenarnya…

Mengambil sedikit kutipan, menelaah pengalaman. Apabila saya hanya mengejar kebutuhan yang sesungguhnya, saya akan bersikap lebih tegas dan membuat keputusan yang lebih baik. “Kita menginginkan banyak hal, tetapi kita membutuhkan sedikit.”

Pepatah Jepang berbunyi: Semakin lambat kita jalan, semakin cepat kita sampai tujuan. Artinya waktu yang dibutuhkan untuk membuat sebuah keputusan yang benar jauh lebih sedikit daripada untuk mengoreksi keputusan yang salah. Cara terbaik untuk memperoleh informasi adalah dengan mengamati.

Ada satu kisah Ford yang bagus banget. Henry Ford mengundang makan ketiga manajernya kemudian memilih salah satunya untuk dijadikan manajer umum. Yang terpilih lalu menanyakan alasannya, “Andalah satu-satunya yang mencicipi makanan terlebih dulu sebelum menambahkannya dengan garam. Dan saya suka dengan orang yang mengumpulkan informasi terlebih dulu sebelum mengambil keputusan.”

Informasi lebih dari sekadar kumpulan kenyataan. Di dalamnya juga termasuk bagaimana orang merasakan tentang kenyataan itu. “Jika Anda ingin tahu lebih banyak, amati lebih baik.”

Apabila saya mendapatkan informasi yang diperlukan saya menemukan lebih banyak pilihan. Ketika kita berhenti mengasihi dirinya sendiri dan melihat kemungkinan nyata yang lain, ia menyadari bahwa ia dapat mengembangkan berbagai pilihan. Semuanya bergantung pada dirinya sendiri. Yang jelas kita menyadari bahwa kita mungkin mempunyai beberapa pilihan yang tidak disadari. Apa yang saya pikirkan, kita akan siap menghadapi. “Sebuah ilusi adalah fiksi yang kita yakini karena kita menginginkannya, kendati akhirnya ternyata palsu.”

Keyakinan merupakan suatu masalah pribadi, jadi mungkin Anda tidak ingin menceritakan kepada orang lain. Namun Anda mungkin perlu memeriksanya. Pertanyaan yang berharga berfungsi sebagai lonceng alarm yang akan membangunkan kita. Keputusan kita mengungkapkan keyakinan kita. “Karakter Anda adalah kumpulan keyakinan Anda dan bagaimana Anda bereaksi terhadapnya.”

Orang yang berkarakter kuat akan membuat keputusan yang baik, terutama orang yang berintegrasi, berintuisi, dan berwawasan. Integritas karena orang yang mempunyai integritas tidak akan membodohi dirinya sendiri dalam menghadapi situasi. Mereka mampu memasuki inti permasalahannya dengan cepat. Intuisi, karena yang telah belajar mempercayai intuisinya tidak akan mencari orang lain untuk mengambil keputusan yang tepat. Mereka bergantung pada dirinya sendiri dan sebaliknya direktur utama dapat bergantung pada mereka. Wawasan, karena jika orang tidak menyadari bahwa ia dapat menyabot hasilnya sendiri, perusahaan sendirilah yang akhirnya harus menanggung akibatnya. “Melihat pada karakter kita sendiri seringkali membuat kita merasa tidak enak, tetapi jangan cemas, hal itu sangat membantu.”

Kenyataan adalah segala sesuatu yang nyata. Kebenaran adalah kejelasan dari kenyataan tsb. Integritas adalah memberitahu diri sendiri tentang kebenaran itu, kejujuran adalah memberitahu orang lain akan kebenaran itu. Cara termudah bagi saya untuk menemukan kebenaran ialah dengan mencari ketidakbenaran yang ingin saya percayai. “Apabila Anda menemukan orang yang memiliki sifat-sifat ini, Anda harus mempekerjakannya dan membayarnya dengan baik, karena mereka layak mendapatkannya.”

Persoalan dasar dapat segera tertanggulangi sewaktu muncul, biayanya akan lebih murah daripada membiarkannya berlarut-larut. Kata-kata mutiara dari Buckminster Fuller yang berbunyi Integritas adalah sumber segala keberhasilan. “Bila mau menggunakan intuisi Anda, penting untuk memperlihatkan bagaimana perasaan Anda saat Anda mengambil keputusan itu.”

Intuisi berasal dari bahasa Latin ‘tueri’ yang artinya ‘menjaga’. Pada abad pertengahan ‘tuicion’ berarti melindungi, sekarang berarti mengajar. Jadi intuisi saya melindungi saya dengan cara mengajar berdasarkan atas apa yang telah berhasil dengan baik di waktu lampau dan apa yang mungkin berhasil bagi saya sekarang ini. Bila ‘tuition’ berarti mengajar, intuisi adalah sesuatu yang mengajar kita dari dalam, jadi intuisi yang lebih baik ialah yang ada ‘di luar’ kita. “Apakah saya mengambil keputusan dengan cara antusias atau ragu-ragu?” ‘antusias’ berasal dari bahaya Yunani berarti ‘Tuhan di dalam’.

Dengan mempercayai intuisi saya, setiap orang pasti mempunyai ‘pemandu pribadi’, semacam penasehat di dalam yang bijaksana. “Orang lain biasanya lebih mudah melihat kesalahan kita daripada kita sendiri.”

Kunci pengambil keputusan lebih baik adalah secara sadar memilih dan mempercayai bahwa diri kita patut lebih dihargai dan bertindak berdasarlkan kepercayaan itu. “Perasaan saya sering meramalkan hasil keputusan saya kelak.”

Buku ini kubaca kilat di Minggu sore (15/11/20/) menit-menit akhir libur akhir pekan. Kebetulan Hermione dan May sedang jalan-jalan sama keluarga, saya sedang malas keluar sehingga menuntaskan baca dalam sekali duduk di antara baca novel tebal Contact-nya Sagan dan permulaan baca Nemesis-nya Agatha Christie. Asyik sebenarnya sore sampai adzan Magrib. Poin utamanya perlu ketegasan dalam mengambil keputusan. Sistem ‘Ya’ atau ‘Tidak’ hanya akan berjalan jika Anda memakainya. “Dalam diri kita masing-masing tinggal ‘seorang pemandu’, seorang mentor pribadi yang diberikan kepada kita untuk menunjukkan kebijaksanaan kita sendiri.”

Ya atau Tidak | by Spencer Johnson, M.D. | Diterjemahkan dari Yes or No | Harper Collins Publishers, 1992 | Alih bahasa Dra. Med Meitasari Tjandrasa | Penerbit Binarupa Aksara, 1993 | Cetakan pertama, 1993 | Skor: 3.5/5

Karawang, 171120 – Train – I Got You

Thx to Dede Hidayat, Bdg