Burung Masuk ke dalam Fiksi Terutama Karena Obsesi

Obsesi Perempuan Berkumis by Budi Darma, dkk

Kau begitu yakin terhadap banyak hal dan kau begitu keliru terhadap banyak hal pula.”Etta Joseph (Dear John Wayne by Alexie Sherman).

Wow, baru tahu dulu pernah ada sebuah buku berjilid Prosa sekeren ini. Ini adalah edisi ketiga entah total ada berapa edisi, isinya luar biasa, padat, sedap, bervitamin. Semacam majalah? Enggak juga. Semacam edisi khusus sastra? Bisa jadi, yang jelas benar-benar keren. Bung Budi Darma menjadi pusat, dengan cerpen panjang, kritik sastra tentang cerpennya, dan wawancara khusus, Bung Yusi juga menyumbang dua tulisan. Bagus semua. Bikin pembaca megap-megap antusias.

Mengubah dunia tentu memerlukan keyakinan, ketetapan, kepastian – dalam bentuk ilham maupun dokrin, dan organisasi dan lain-lain. Berisi tiga jenis tulisan: fiksi,esai, dan dialog. Renyah sekali. Bulan ini saya beli empat buku (Prosa #3 ini) di tempat lain yang kebetulan ready stock, rencana buat giveaway nantinya saat momen sepesial. Tunggu ya…

#I. Fiksi

#1. Fofo by Budi Darma

Saya dilahirkan pada saat awan hitam berarak ke barat. Tanda kemalangan. Dan sejak masih bayi saya selalu membawa sial. Itulah yang akan ibu katakan. Saya tahu.” Cerita pendek yang sangat panjang (22 lembar). Hikayat Fofo yang aneh dan meliar. Bagus sih, tapi lelah rasanya diputar-putar, seolah belalang yang mengamati kehidupan manusia, nempel di punggung satu pindah ke punggung karakter lain, para tokoh yang apes bertakdir. Takdir manusia, tak ada manusia yang tahu.

Barangsaiapa yang mencari pertolongan tidak kepada Tuhan, akan meminta pertolongan kepada laba-laba, binatang yang amat menjijikan.

#2. Taman Api by Fans Nadjira

Keren. Dengan tanya utama, apakah gadis di taman api ini jodohku? Kisahnya mengambil sudut pandang pertama yang merasa ada klik, dan tak biasa ada gadis di tempat ia merenung. Pastinya cantik, walau sedang terluka, si Aku mencoba mengajak berdamai dengan realita, yang di halaman terakhir memberi opsi lagi. lho… “Saliva, Saliva, hatimu, mulutmu, ucapanmu, semuanya berlendir.

#3. Penyair Terkutuk by Linda Christanty

Semua mengambang dalam ruang khayal, menunggu diciduk dan ditata rapi di piring saji puisi. Kata-kata lelaki kumal itu adalah mantra sihir berapi. Muter-muter dengan pilihan diksi yang mbulet. Intinya Sang Penyair yang ragu akan nasibnya. Mencipta karya dengan nyanyian sihir berdengung.

#4. Pulang Malam by Rusdi Rahingrat

Keren (lagi). Bahasa sederhana yang dituturkan dengan nyaman sekali. Walau endingnya tertebak, tapi menempatkan tokoh utama dalam bayang ragu dan tanya malah melibatkan pembaca, turut deg-degan dan sedih, daya yang dikerahkan guna berpikiran positif susah untuk disisipkan. Apa yang menimpa dan keadaan sekitar jelang tengah malam disampaikan dengan gaya yang mudah dipahami tanpa perlu kata-kata rumit. Hebat!

Lalu lantunan lagu Meggy Z terdengar dalam bus yang ngos-ngosan melaju pelan. “Cukup sudah kumengerti apa yang kau harap dariku / aku hanya punya cinta dan tak punya apa-apa / Hohohohooo.”

#5. Dear John Wayne by Sherman Alexie (diterjemahkan oleh Yusi Avianto Pareanom dari kumpulan cerpen, The Toughest Indian in The World).

Seperti sering dikatakan ibu saya dulu, buku adalah kunci pembuka pintu rumah kearifan yang tergembok.”

Luar biasa, dicerita dengan pola mundur, bagaimana seorang nenek berusia seabad lebih, mengaku sebagai keturunan terakhir suku Indian Spokane, melalui wawancara menceritakan skandal aktor kenamaan John Wayne yang terkenal abad 20. Bertanggal 28 Februari 2052 di Panti Wreda St. Tekawitha di Spokane, Washington. Pewawancara Spencer Cox, narasumber nenek tabah Etta Joseph usianya lebih dari seabad.

Bagaimanapun sebagian besar orang idiot, tak peduli umurnya. Seorang Indian harus menjaga rahasianya, atau ia tidak lagi menjadi seorang Indian. Tapi seorang Indian yang jauh lebih pintar dari aku satu kali pernah mengatakan hal ini: Jika ini karangan, maka ini sebaiknya benar-benar terjadi. Luar biasa…

#6. Risalah Tentang Teks by Arif Bagus Prasetyo

Ambisi trompe l’oeil pun estetika Futurisme, ujung-ujungnya harus menyerah pada solusi ilusionisme. Padahal ilusi dekat dengan kebohongan. Dan segala bohong itu, diyakini A, hukumnya haram.

Mbulet nan merumitkan diri, poin utama sebuah makalah dengan diksi tinggi sedang dibuat dan akan disandingkan, lalu kritik sastra membuatnya berprasangka, dan begitulah. Penyair Z dan Penulis A saling silang dalam pikiran.

II. Esai

#7. Sastra Kabur dan “Kritikus Adinan” by Yoseph Yapi Taum

Keren (lagi-lagi). Karena saya belum membaca cerpen Kritikus Adinan saya hanya bisa meraba saja ini tentang apa, yang jelas saya sudah menamatkan The Trial-nya Franz Kafka. Kritikus Adinan memang mengandung begitu banyak hal kabur dan ambigu, baik dalam hal struktur maupun isi. Dari ringkasan dan analisis ini, memang sangat mirip. Dari sini juga saya jadi lebih tahu, cara nulis kritik sastra ternyata detail dan fokus ke satu-dua karya dengan analisis mendalam. Pengadilan adalah sebuah jagat yang penuh ketidakpastian, ancaman yang menakutkan.

Ada empat entitas sastra mainstream kita menjelang akhir abad 20: sastra sub-kebudayaan, sastra feminis, sastra yang mengacu pada realitas sosial, dan sastra kabur.

Ini membahas detail dan meliar sastra jenis yang terakhir. Sastra kabur agaknya adalah sejenis sastra absurd, sastra yang penuh dengan ‘ketidakjelasan’. Menurut Budi Darma, sastra kabur adalah yang dilandasi oleh filsafat atau pemikiran tertentu mengenai hakikat manusia dan kemanusiaan. Bahwa manusia berada di jagat irasional dan tanpa makna. Secara esensial situasi manusia absurd dan kehilangan tujuan. Situasi batas yang irasional inilah dasar bagi eksistensi manusia yang secara hakiki bersifat kabur, absurd, tanpa makna dan tujuan.

Semakin banyak orang yang menjadi terpelajar, semakin banyak sastra kabur diminati, karena karya semacam ini membutuhkan internalisasi estetik dan intelektual yang lebih luas dan dalam dibandingkan karya sastra biasa.

Kalau kau ingin hidup bebas seperti saya janganlah berbuat jujur seperti kau.” – Pemilik warung.

#8. Indian Tanpa Panah Tanpa Kemah by Yusi Avianto Pareanom

Jadi sedikit tahu latar masa lalu Bung Yusi. Alexie adalah anak yang mendewakan ayahnya, maka kegemaran (membaca) ayahnya menular. Ia membaca dengan kesenangan dan kesengsaraan yang setara. Ia mencintai buku karena, buku menyelamatkan hidupnya.

Ini keren banget. Baru tahu Bung Yusi ternyata mempelajari lebih dalam Sherman Alexie, penulis Indian bahkan pernah belajar langsung ke sana. Terjemahan Indonesia-nya The Lone Ranger and Tonto Fistfight in Heaven sudah sering banget muncul di toko buku daring langganan lima atau enam tahun lalu. Tahu betapa perjuangan dibalik alih bahasa sedemikian seru, mungkin langsung kubeli kala itu. Moga masih ready stock Dema.

Ini semacam biografi singkat Sherman Alexie dari mula menekuni penulis (dimulai dengan puisi), mencipta karya dengan produktif. Sebagai pembaca rakus keturunan Indian, ia begitu antusias.

#III. Dialog

#9. Obsesi, Burung Ganjil, Perempuan Berkumis by Budi Darma

Ini wawancara, atau di sini disebut dialog. Bukan tatap muka, tapi via email sebab Bung Budi Darma yang super sibuk sedang di Singapura. Bercerita tentang katya-karya beliau, baik fiksi atau non fiksi. Berhubung saya baru baca satu bukunya, Rafillus saya belum klik langsung ketika mencerita sebagian proses dan latar dan berbagai kemungkinan proses kreatif itu terjadi. Bagian Rafillus yang bilang, setting-nya Surabaya tapi memang tak ketara detailnya, karena mau ditempatkan di Jakarta, atau Karawang, hasilnya bisa saja selama ada rel kereta api membujur. Menikmati sekali tulisan akhir ini, pandang, sedap, asyik banget. Wawancara dilakukan oleh Sony Karsono, dengan pertanyaan-pertanyaan panjang.

Kita dapat menganalisis sejumlah novel ini (novel Nigeria) dari segi sosilogi, atau kolonialisme, atau estetika, dan lain-lain sesuai hakikat sejumlah novel tersebut. Mendongeng adalah senjata kita, maka hasil analisis kita dari berbagai aspek akan sama, yaitu ringkasan teori dan ringkasan isi novel. Yang membedakan satu analisis dengan analisis lain adalah ringkasan teorinya.

Karya sastra, sementara itu, tidak mungkin melepas diri dari dongeng. Tidak mungkin, misalnya, novel tanpa plot, sebab plot adalah kaki karya sastra, yang memungkinkan karya sastra benar-benar tetap membumi. Justru di sinilah letak kesukaran proses kreatif: karya sastra bukan esai yang semata berisi pemikiran, namun dongeng yang berisi pemikiran.

The Daily Currant, Koran harian pertama di dunia terbit di London bulan Maret 1703. Raja William sementara memutuskan makan angina dengan naik kuda. Pepatah, “Kuda yang gagah harus berjodoh dengan penunggang yang gagah.”

Nostalgia adalah salah satu kunci penting dalam merapatkan hubungan karya sastra dan pembacanya. Menulis, sementara itu, hanya akan berjalan dengan lancar, manakala suasana menyenangkan untuk menulis tidak terganggu-ganggu.

Dalam antologi Sejumlah Esai Sastra, bahwa seorang penulis mahir seharusnya bekerja seperto seorang pemain bilyar ulung: meski mengincar bola biru, ia justru menyodok bola putih, yang lalu menumbuk bola hitam, yang kemudian menabrak bola merah, yang pada akhirnya bola menerjang target akhir: si bola biru.

Hukum alam berbeda dengan hukum takdir, kendati mereka kadang-kadang mereka bergandeng tangan.

Rasanya tersentil. Saya melahap ratusan buku per tahun, merangkum dan mengulasnya di blog. Namun memang ada yang kurang sebagai kutu buku. Pembaca sejati – pembaca yang sakti – adalah dia yang juga menulis. Nah kan, hiks…

Obsesi Perempuan Berkumis | by Budi Darma | Prosa 3 – 2003 | Redaksi Sitok Srengenge (ketua); Hasif Amini, Arif Bagus Prasetyo, Sisi Arsianti (Sekretaris) | Desain Muhmmad Roniyadi | Penerbit PT Metafora Intermedia Indonesia | Lukisan Sampul dan Isi Jeffrey Sumampouw | Skor: 5/5

Rumah Emas Agus, Cikarang, 311020 – Robert Johnson – Hellhound on My Trail (1937)

Thx to MasMasBuku Reborn (buku Jarang)

Ngopi sore sama Bung Yudi, Emas Agus, Pak Widi, dan Ikhsan 👍