Telaah Militer di Masa 1990-an

Bebas dari Militer by Martin Shaw

Militerisme konteporer bukanlah hal yang terdepan, ia terseumbunyi dan terbagi-bagi.” – Mann

Perang melibatkan penggunaan kekuatan, pertempuran, dan pembunuhan, oleh kelompok yang terorganisir. Buku yang sejatinya sangat umum, ditulis tahun 1991, dan kini sudah hampir tiga puluh tahun sudah banyak sekali perubahan militer. Telaahnya tentu saja sudah banyak tidak relevan, memang menikmati buku ini lebih ke nostalgia. Dunia digital meluluhkan segalanya. Membahas istilah saja bisa berlembar-lembar, membahas militer Inggris bisa panjang sekali, lalu telaah nuklir dan konsekuensi, menyelam dalam Perang Teluk yang berlarut, dst. Melelahkan sekali, tapi kalau nggak segera kupaksakan takutnya terbengkelai, maka gegas kutuntaskan. Berhubung militer adalah hal yang awam bagiku, lumayan bervitamin. Seluk beluk dunia militer. Jika perang selalu menjadi anakronisme sosial, masalahnya tidak akan selesai dengan menjadikannya sebagai kambing hitam.

Andrew Ross mencatat bahwa terdapat dua konsep militerisasi yang berbeda: padangan yang lebih terbatas akan ‘bangunan militer’ dan konsep yang lebih luas akan proses yang mengarah pada ‘militerisme’ dalam arti lebih menyukai cara-cara kekerasan dan militer atau ‘militerisme pikiran’. Perang Dunia Kedua jelas telah membentuk dunia tempat tinggal kita, dan perlombaan senjata nuklir jelas membayang-bayanginya, sehingga kita heran akan studi sosial atau budaya yang tak mengakuinya. Secara khusus studi perdamaian jarang sekali bersentuhan dengan napas sejarah dan arus utama ilmu sosial.

Paruh pertama abad 20 menyaksikan hubungan yang belum pernah terjadi sebelumnya antara perkembangan sosial dan militer. Dalam konteks ‘perang total’, masyarakat menjadi termiliterkan (militarized) dan perang tersosialisasikan (socialized), dengan cara baru. Vagts, dalam istilah klasik membatasi istilah militerisme pada jenis ideologi yang secara aktif mengagungkan perang, persiapan perang yang tak melahirkan perang dengan antusiasme ini, tidak termasuk militeris. Persiapan perang menurut istilah adalah ‘militerisme’. Jika bukan ini masalahnya, apakah istilah ‘persiapan perang’ itu memuaskan? Persiapan perang sendiri sekarang disebut kebijakan ‘pertahanan’ atau ‘pencegahan’, tujuannya adalah menghindari perang dan bukan melawannya, jadi menyamakan ‘militer’ dan ‘militerisme’ tidak memiliki dasar.

Lantas perang yang mereda kenapa militer masih ada? Ada kawasan abu-abu (grey areas) seperti batas antara terorisme dan perang sipil, maka harus ada definisi untuk istilah ini. Tentara dibentuk untuk beberapa alasan yang murni militer – persaingan regional antar Negara, pemberontakan dalam negeri, dan perang sipil – tetapi sering kali sebagai alat politik. Militerisme merupakan watak dari organisasi sosial semua masyarakat kelas dan bahwa kapitalisme memproduksi bentuk militerismenya sendiri yang aktif. ‘Partisipasi’ dan ‘mobilisasi’ adalah konsep sisi dua yang penting bagi militerisme dan militerisasi.

Dewasa ini demo buruh dan gejolak UU begitu hangat di berita. Marx melihat kelas pekerja industri modern sebagai kelompok yang mampu melakukan jenis kekerasan revolusioner yang baru yang lebih disiplin dibandingkan dengan kelas-kelas subordinat sebelumnya. Tak ada yang menimbulkan populasi yang lebih terkonsentrasi dna termobilisasi dari masyarakat industri maju di abad ini kecuali perang.

Masa mengubah banyak hal. Militerisme tahun 1930-an berbeda dengan militerisme sebelum tahun 1914, terkait dengan Fasisme, Sosialisme, dan demokrasi: Konflik internasional menyatu menjadi perang ideologis. Tahun 2000-an dan tahun 2010-an saja sudah banyak sekali perbedaan, teknologi benar-benar mengubah perilaku dan kehidupan sosial. Abad nuklir telah melahirkan taruhan besar. Ia mengubah aturan dasar tatanan militer dan cara di mana perang dan persiapan perang memengaruhi masyarakat. Secara khusus, ia meruntuhkan militerisme klasik dan perannya dalam masyarakat.

Kekuatan segera tergantung kekuatan ekonominya dan untuk memobilisasinya secara penuh, Negara perlu memobilisasi masyarakatnya dalam bidang budaya, politik, dan ideologi. Perubahan sosio-ekonomi yang ditimbulkan oleh lahirnya kapitalisme, dan menyusul kemudian industrialisme, jelas melibatkan militerisme Negara-bangsa ini. Pengeluaran yang besar untuk militer telah menciptakan masalah ekonomi yang memaksa para pemimpin politik mencari jalan untuk menguranginya. Teknologi lebih penting ketimbang manpower dalam perang modern.

Perang bisa dilihat sebagai ‘kelanjutan dari kebijakan dengan cara-cara lain’ (meskipun, sebagaimana yang dipahami oleh Clausewitz, ia lebih dari sekadar perluasan politik). Pada umumnya anggaran militer Dunia Ketiga tetap kurang dari seperlima keseluruhan anggaran dunia, bahkan anggaran-anggaran Negara-negara paling kuat tidak bisa menyamai menyamai angka anggaran Negara-negara besar Barat, apalagi superpower.

Dengan tidak adanya langkah-langkah efektif dalam upaya gencatan senjata, yang dijanjikan oleh Negara-negara pemilik nuklir pada saat penandatanganan Non-Proliferation Treaty, banyak Negara-negara baru melihat senjata nuklir sebagai simbol status international. Namun demikian, banyak Negara yang mempunyai kemampuan senjata nuklir adalah Negara yang terlibat konflik regional aktif. ‘Independesi’ pertahanan Inggris lebih pada simbol politik daripada realitas militer, menentukan peran khusus Inggris dalam blok Barat dan mengimbangi inferioritas ekonominya dari Jerman dan Prancis dan perannya yang marjinal dalam masyarakat Eropa.

Militer pada dasarnya tetap dibawah naungan politik, dan militer itu kuat karena AS dan Soviet adalah Negara superpower yang terjebak dalam persaingan militer. Perang nuklir yang kecil sekalipun akan menjadi malapetakan besar bagi keseluruhan peradaban industri. Hubungan yang jelas antara timbulnya perang dan pembentukan Negara Dunia Ketiga. Perang sipil bukan hanya watak dari periode colonial, tetapi harus menjadi karakter di banyak Negara merdeka, di mana tantangan etnis, nasional. regional masih tetap ada.

Munculnya AS sebagai superpower yang memiliki bom atom, telah mendorong berbagai masalah militer ke pusat sistem kekuasaan, sebagai masalah yang menentukan bagi semua kelompok elit kekuasaan. Sosiologi militer umumnya difokuskan pada organisasi militer, menurut Jacques von Doornsosiologi militer’ sebagai ‘suatu disiplin yang difokuskan pada institusi sosial yang bersifat khusus’.

Militer tidak lagi menjadi sumber pengaruh dalam masyarakat secara luas, melampaui wilayah yang telah ditetapkan oleh masyakarat. Jerman dan Jepang merupakan pewaris militerisme klasik yang paling kuat. Tetapi pada dasarnya dilarang mereproduksi kembali berdasarkan konstitusi yang ditetapkan AS dan Negara-negara pemenang perang lainnya setelah PD II.

Untuk beberapa generasi, yang masih hidup hingga saat ini, jika bukan berupa pengalaman perang nyata, menjadi pengalaman fundamental akan menjadi pengalaman transisi menuju kedewasaan. Wajib militer, tujuan akhirnya adalah pertahanan psikis, bukannya menghapus hak Negara untuk mobilitas warganya. ‘Ancaman’ adalah umum dan abstrak karena tidak terdapat ancaman invasi atau penyerbuan yang benar-benar nyata.

Kenangan perang, terutama tahun 1938-1945 ditanamkan media massa. Film-film perang lama, Amerika yang kurang ajar dan Inggris yang ugal-ugalan masih menjadi sajian utama televisi. Hiburan ‘adegan perang’ dalam film menunjukkan ambivalensi pada pesta pora pembunuhan yang mencapai puncak. Organisasi militer biasanya otoriter, personil yang berpangkat lebih rendah mempunyai resiko mendapatkan perlakuan sewenang-wenang oleh, atau mendapat sanksi, perwira yang lebih tinggi pangkatnya.

Pada masa konfrontasi diganti dengan kerja sama, maka hanya akan terjadi sedikit persolan pada soal pertahanan – yang mana, dengan demikian hanya dibutuhkan tentara yang lebih kecil, periode tugas militer yang lebih pendek, kerja militer yang lebih sedikit dan anggaran yang dikeluarkan untuk keperluan pertahanan yang juga lebih kecil.

Tembok Berlin runtuh bukan karena negosiasi Timur-Barat, melainkan akibat aksi rakyat di jalan-jalan Leipzig, Berlin dan kota lain. Runtuhnya Tembok Berlin yang membuka visi akan Eropa bersatu akan didasarkan atas perdamaian, demokrasi, dan kerja sama ekonomi dengan membangun hubungan baru dengan Amerika Utara serta Soviet. “Pengeluaran militer pasti merusak kesejahteraan ekonomi meskipun ia memiliki keuntungan ekonomi yang positif.” Orang-orang muda bisa bebas dari kekhawatiran mati muda dalam medan perang yang menghantui generasi sebelumnya. Perbaikan kesehatan dan standar hidup memungkinkan untuk menyongsong kehidupan masa depan yang damai yang berlaku bagi semua orang tanpa kecuali.

Perang di sebagian besar masyarakat dipahami sebagai hak prerogatif laki-laki, dan sifat suka perang (warlikeness) adalah lambing kejantanan. Feminitas sebaliknya, dikaitkan dengan perdamaian, sekaligus kepasifan. Pada tahun 1990-an setelah dua perang dunia dan Vietnam, warisan kekecewaan perang menimpa militerisme, dan ini dibarengi dengan demobilisasi angkatan perang untuk memperkuat demiliterisasi masyarakat.

Keluhan utama adalah jilid yang buruk, baru mulai baca, kertas pada rontok. Lemnya nggak bagus, sehingga udah lepas kover luarnya. Lalu satu per satu lembar dalam juga turut terburai. Padahal saya kalau baca buku khusus selalu hati-hati, untuk terbitan PP ini dengan Penulis beken dari luar, saya sudah upayakan tidak sambil tiduran, tidak sembarangan naruh, tapi memang dasarnya lem lemah. Menjual nama Anthony Giddens, yang beberapa bulan lalu kubaca sangat bagus, menjadi tertarik pada ilmu sosioligi.

Karya ini berdasarkan atas asumsi bahwa perang melibatkan seperangkat proses sosial yang berkaitan dengan proses-proses lain dalam masyarakat. Perpektif diambil dalam kajian masalah perang secara umum adalah perpektif sosiologis.

Terlalu tergesa-gesa meramalkan senjata nuklir tidak akan dipakai, dalam konteks perang besar di Dunia Ketiga, ketika kekuatan yang mampu menggunakan nuklir merasa terancam oleh kekalahan senjata konvensional. Pasar, kapitalisme, dan industrialism tumbuh dalam kerangka sistem Negara internasional, dimana sudah terdapat konflik militer.

Fans Timnas Inggris pada tahun 1988 mengeluh, “Dulu kalian dianggap patriot di Perang Falklands dan segala macamnya. Tetapi (aku) tidak ingin tahu, sekarang ini (zamannya) adalah sepakbola.” Betul juga, Liga Inggris mengambilalih dunia militer, damai yang dicita-cita secara nir-kekerasan fisik bisa mungkin terwujud.

Kemunduran militerisme bisa dibandingkan dengan kemunduran agama resmi dan budaya serta ideologi politik yang berbasis kelas yang mana keduanya menjadi karakter yang mencolok dari masyarakat Inggris dalam beberapa dekade terakhir. Militer tetap menjadi agen ‘upaya terakhir’ dalam pertahanan internal Negara. Dan ini semacam, hanya pertahanan namanya sudah pas Kementerian Pertahanan, bukan untuk perang besar berikutnya, tapi defend, bertahan. Pantas Prabowo nggak jelas kerjanya, kamera tak menyorot beliau. Eh eh… gmana?

Setiap masalah bisa dipecahkan jika teknologi dan dana digunakan dengan dosis yang tinggi. Argumen Ross bahwa apa yang sering kali dideskripsikan sebagai militerisasi di Dunia Ketiga (atau ‘militerisasi global’) lebih merupakan bangunan militer daripada militerisasi sosial. Nah kan?!

Bebas dari Militer: Analisis Sosiologis atas Kecenderungan Masyarakat Modern | by Martin Shaw | Diterjemahkan dari Post-Military Society: Militerism, Demilitarization and War at the End of the Twentieth Century | Terbitan Polity Press bekerja sama dengan Basil Blackwell, 1991 | Penerjemah Imam Baehaqie | Editor Kamdani | Cetakan I, Januari 2001 | PP. 2001.03 | Desain cover Si Ong (Harry Wahyu) | Tata Letak Dwi Agus M. | Penerbit Pustaka Pelajar | ISBN 979-9289-54-8 | Skor: 4/5

Karawang, 301020 – Linkin Park – P5hng Me A’wy

Kubaca mulai di Sabtu pagi, 24 Oktober selesai Kamis pagi, 29 Oktober saat libur Maulid NAbi SAW. Thx to Buku Vide, Yogya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s