Mabuk Hingga Matahari Terbit, Berbicara tentang Kesusastraan

Bagaimana Aku Menjadi Penulis by Gabriel Garcia Marquez

Sekali menulis menjadi menjadi kejahatan utama dan kenikmatan terbesar, hanya ajal yang bisa mengakhirinya.”

Ini adalah kumpulan esai penulis nomor satu di daftar novel terbaik LBP. Seru sekali membaca curhatan Penulis favorit, seperti saat pertama kalinya melihat dan menyapa dari jarak jauh penulis idola beliau: Ernest Hemingway di Paris. Sekadar teriak woooy… dibalas lambaian tangan saja, sudah bikin hepi. Bayangkan, suatu saat ketemu Seno Gumira Ajidarma lalu diajungi jempol. Hahaha… sedemikian bagus sampai-sampai hal biasa tampak menyenangkan. Atau cerita beliau ketika melakukan wawancara di udara, terdengar menarik sekali, sang narasumber punya waktu sempit, penulis harus menyesuaikan. Terutama sekali cerita beliau saat proses menulis buku paling fenomenalnya, ‘Seratus Tahun Kesunyian’. Mematikan karakter favorit membuatnya menangis tersedu-sedu dalam pelukan istri, betapa mendalam perasaan Sang Penulis terhadap tokoh rekaannya. Dan fakta bahwa ia tak suka fantasi karena segala yang ‘ngawang-awang’ terasa palsu. Jadi semua buku beliau berdasar semacam rekonstruksi kehidupan, tak ada unsur fantasi? Yup, termasuk adegan dramatis ruh yang terbang? Ya. Itu berdasarkan mimpi, ia mengelola sebuah mimpi menjadi adegan yang terlihat nyata. Hhhmmm… menariq.

Berisi delapan tulisan yang diambil dari berbagai sumber. Menarik, Circa mengumpulkan tulisan berserak lalu membundle-nya dalam buku ini.

#1. Tantangan: Seorang Penulis Muda Membuktikan Diri (2003)

Ini tentang pengalaman mula Gabriel Garcia Marquez menjadi penulis, mahasiswa yang berjuang menembus Koran nasional, lalu berbagi kisah bagaimana proses itu mencipta karya. Mendemonstrasikan fakta itu tidak perlu: sudah cukup bagi sang pengarang jika menulis sesuatu agar menjadi benar, tanpa bukti selain dari kekuatan bakatnya dan wibawa suaranya.

Membagi tips mencipta kerangka. Kau harus lebih dulu membayangkan cerita dan baru kemudian gaya. Lalu pilihan bacanya, aku harus membaca karya-karya Yunani secara mendalam dan tidak bias dan bukan hanya Homer.

Dan salah satu ide muncul dalam banyak kemungkinan. Ia ingin ada di dalam badan kucing yang sedang ia elus-elus di pangkuannya. Aku bertanya kenapa, dan ia menjawab: “Karena ia lebih cantik ketimbang aku.” Lalu muncullah cerita berjudul, “Eva di Dalam Badan Kucingnya.” Selanjutnya cerita sebagaimana sebelumnya, diciptakan dari ketiadaan dan dengan alasan serupa – seperti yang biasa dikatakan orang pada zaman itu. Cerita itu mengandung benih-benih kehancurannya sendiri.

#2. Gabriel Garcia Marquez Bertemu Ernest Hemingway (1981)

Ini lucu. “Adiooos, amigo!” hanya kali itulah aku melihatnya. Pengalaman satu kali bertemu idola di Paris, dari jarak jauh dan hanya dilambaikan tangan dengan satu kalimat tersebut. Pengaruh kepenulisan beliau, jelas salah satunya dari Hemingway. Para novelis membaca novel karya novelis lain untuk memahami bagaimana novel itu ditulis.

Dalam wawancara bersejarah George Plimpton di The Paris Review, ia selalu menunjukkan bahwa – bertentangan dengan gagasan Romantik tentang kreativitas – kenyamanan ekonomi dan kesehatan yang baik adalah kondusif untuk menulis; bahwa salah satu kesulitan utama adalah menata kata-kata dengan baik; bahwa saat menulis menjadi sulit, sebaiknya membaca buku kembali karya sendiri untuk mengingat bahwa menulis memang selalu berat.

Benar banget nasehatnya. Kenyamanan ekonomi dan kesehatan tetaplah ada di posisi utama. Pekerjaan seseorang hanya boleh dijeda saat ia tahu tempat untuk memulainya lagi keesokan hari.

#3. Fidel yang Kukenal (2006)

Pendapat beliau tentang Fidel Castro. Hanya berisi dua lembar tulisan. Ajudannya yang paling utama adalah ingatannya dan ia menggunakannya, hingga mencapai kadar menyalahgunakan. “Kau menyembunyikan kebenaran dariku agar tidak membuatku khawatir.”

#4. Gabriel Marquez tentang Hugo Chavez (2014)

Pendapat beliau tentang Hugo Chavez. Ia menggunakan kata konspirasi hanya dalam pengertian figuratif, yaitu menarik orang agar berkumpul demi sebuah tujuan bersama yang disepakati bersama.

Wawancara ini terjadi tahun 1999, dua minggu sebelum pelantikannya, di atas pesawat Angkatan Udara Venezuela dari Havana ke Caracas. Bercerita banyak tentang masa muda sang Presiden, bagaimana Venezuela berkembang stagnan, dan keinginan melakukan perubahan radikal.

#5. Kenapa Allende Harus Mati (2013)

Menasionalkan perusahaan milik asing dengan tema ‘Cilenisasi’, membeli sahamnya 51% dari property pertambangan yang dikuasai AS. Pengalaman terlambat mengajarinya bahwa sebuah sistem tidak dapat diubah oleh pemerintah yang tak punya kekuasaan. Tunduk dengan nyaman kepada para perebut kekuasaan; membeli kebebasan partai-partai oposisi yang telah menjual jiwanya kepada fasisme.

Presiden Allende memang bilang, rakyat memegang pemerintahan, tetapi tidak memegang kekuasaan. Dan Allende mati dalam baku tembak melawan gerombolan, beberapa saat setelah ia berteriak ‘Penghianat’ kepada jenderal Augusto Olivares lalu menembak tangannya.

#6. Wawancara dengan Gabriel Garcia Marquez (1980)

Yang sangat penting, jurnalisme adalah sebuah cara hidup, untuk mencari uang saat menulis. Ini tulisan paling keren. Disusun runut dalam bentuk wawancara antara Advocate dan sang Penulis. Isinya padat dan bervitamin, seru sehingga kita banyak mengetahui pandangan dan hal-hal yang patut dinikmati sebagai pecinta sastra. Jika hidup tidak memberi saya fakta, saya tidak mampu menciptakan fakta. Para penulis, formula literer terbaik adalah kebenaran.

Beberapa saya ketik ulang jawabannya. Saya punya kesan bahwa setiap buku adalah latihan megang untuk buku berikutnya. Ada satu buku yang terbaik, dan itu adalah ‘Tak Ada yang Menulis Surat Pada Kolonel’, kadang saya berkata sambil bergurau, tetapi saya memercayainya bahwa saya harus menulis Seratus Tahun Kesunyian agar orang bersedia membaca ‘Tak Ada yang Menulis Surat Pada Kolonel’

Pada dasarnya keduanya punya tema yang sama; keduanya monolog tentang seonggok mayat. Sebuah formula yang memungkinkan Anda untuk mengenali karakter tanpa harus mengungkapkan namanya. Yang individual berakhir dengan maut, tetapi jika Anda berpikir tentang spesies, Anda menyadari bahwa itu abadi.

Sartre berkata bahwa kesadaran kelas bermula saat kita menyadari bahwa kita tidak bisa berubah kelas, kita tidak bisa pindah dari satu kelas ke kelas lain.

Kesusastraan Amerika Latin merupakan cabang kesusastraan Spanyol. Kami semua pada akhirnya merupakan anak-cucu Cervantes dan pewaris perpuisian Spanyol. Perhatian utama setiap penulis besar adalah apa yang terjadi pada manusia. Nilai utama kesusastraan berbahasa Spanyol adalah pencarian akan identitas.

Kesusastraan merupakan produk sosial, bahkan walaupun elaborasinya bersifat individual. Dalam konteks Amerika Latin, yang paling saya kagumi adalah orang yang paling sedikit menulis dan itu adalah Juan Rulfo dari Meksiko. Dan nasehat utamanya buat para penulis: “Satu-satunya saran adalah terus menulis dan melanjutkan menulis.

#7. Gabriel Garcia Marquez tentang Menulis 1988)

Menulis adalah sebuah kesenangan. Anda juga pernah berkata bahwa menulis juga merupakan penderitaan murni. Seiring waktu, tindak menulis itu menjadi menyakitkan. Menulis pada malam hari, dan empat puluh batang rokok sehari.

Ini adalah curhat proses kreatif yang diambil dari The Fragrance of Guava: Conversations with Gabriel Garcia Marquez. London: Faber & Faber. Kereeen… beberapa kisah di balik karya. Apakah Anda butuh waktu lama untuk menulis sebuah novel? Jawabnya, “Bukan benar-benat menulisnya. Itu proses yang cukup cepat. Saya menulis Seratus Tahun Kesunyian kurang dari dua tahun. Namun, saya menghabiskan lima belas atau enam belas tahun memikirkan tentang buku itu sebelum saya duduk di depan mesin ketik.”

Kita menulis dengan sangat baik saat kita dikelilingi semua bentuk kenyamanan. Ini profesi paling terpencil di dunia. Tak ada yang bisa membantu Anda menulis apa yang sedang Anda tulis. Pulau gurun pasir pada pagi hari dan kota besar pada malam hari.

William Faulkner berkata, “Tempat sempurna untuk seorang penulis adalah rumah bordir karena sangat tenang pada pagi hari, tetapi setiap malam ada pesta di sana.” Hemingway mengajari Anda banyak hal, bahkan dalam mengapresiasi bagaimana seekor kucing muncul di tikungan.

Kita tidak bisa menciptakan atau mengimajinasikan apa pun yang Anda suka karena Anda akan menghadapi risiko tidak mengungkapkan kebenaran dan dusta itu itu lebih serius dalam sastra ketimbang dalam kehidupan nyata/ Anda bisa membuang rasionalisme, tetapi Anda akan tercebur ke dalam chaos total dan irasionalitas.

Anda harus mempelajari kerajinan menulis – teknik, cara menyusun struktur, persendian tersembunyi yang cermat – saat Anda masih muda. Kami para penulis ini seperti burung beo, kami tidak belajar bicara saat sudah tua. Solusi literer cukup berbeda dari solusi sinematografis. Anda ingin menulis sesuatu, semacam ketegangan resiprokal terbangun antara Anda dan tema Anda. Jadi, Anda bisa memacu tema dan tema pun memacu Anda. Realitas yang direpresentasikan melalui suatu kode rahasia. Realitas yang Anda hadapi dalam novel itu berbeda dari kehidupan nyata walaupun berakar di dalamnya. Begitu juga mimpi. Realitas tidak berbatas hanya pada harga tomat dan telur.

Anda hanya perlu membuka surat kabar untuk melihat hal-hal luar biasa yang terjadi pada kami setiap hari.

#8. Perjalanan Kembali ke Sumber: Wawancara dengan Gabriel Garcia Marquez (2005)

Untuk ketiga kalinya sekaligus penutup buku ini adalah wawancara, kali ini dari VQR, A National Journal of Literature and Discussion, 24 Juni 2005. Ia biasanya terus terang mengenai pendidikannya yang terputus, masa kemiskinan, masa muda yang dihabiskan di rumah-rumah bordil, dan sembuh dari penyakit bisulan lantaran menulis. Saya tidak punya pendidikan literer, bahwa saya menulis dari pengalaman personal, bahwa sumber saya adalah Faulkner, Hemingway, dan para penulis asing lain.

Pengaruh saya, terutama di Kolombia, adalah ektra-literer. Saya menyimak musik jurang dari dua jam dalam sehari. Itulah satu-satunya yang membikin saya santai, menempatkan saya dalam mood yang tepat. Latar belakang saya pada dasarnya adalah puisi, tetapi Puisi yang buruk karena hanya melalui puisi yang buruk Anda memperoleh puisi yang baik.

Hal-hal paling liar, dengan cara yang paling alami.

Anda tidak bisa menjadi penulis tanpa punya trik. Yang penting adalah legitimasi trik-trik itu, sampai titik mana digunakan dan hingga berapa kadarnya. Mungkin cerita terbaik yang pernah saya tahu punya nada tertentu, tidak menimbulkan derau.

.
Buku ini saya beli pas pre-order Agustus tahun lalu. Sempat mengendap lama dalam rak, akhirya kesempatan baca muncul dua bulan lalu bareng Emberto Eco. Menyenangkan sekali melahap potongan-potongan yang disaji Penulis Besar. Kita tak akan menemukannya dalam fiksi karya mereka, dengan munculnya buku-buku proses kreatif, esai, wawancara, dst seperti ini kita akan belajar betapa menulis memang membutuhkan kekuatan hebat, sabar, dan eheemmm… prinsip kuat. Kami akan mabuk hingga matahari terbit, berbicara tentang kesusastraan.

Bagaimana Aku Menjadi Penulis | by Gabriel Garcia Marquez | Diterjemahkan dari berbagai sumber | Penerbit Circa | Penerjemah An Ismanto | Penyunting Anis Mashlihatin | Perancang sampul dan Isi Agus Teriyana | vi + 140 hlm; 13 x 19 cm | Cetakan pertama, Juli 2019 | ISBN 978-623-90087-6-5 | Skor: 4.5/5

Karawang, 291020 – Woody Guthrie – This Land is Your Land (1944)

Thx to Dema Buku