15 Sastra Klasik Tanah Air

Buku dan Pengarang by Yus Badudu

Tetapi Yusuf, hidup kita ialah kerja.” – Tuti, dalam Layar Terkembang.

Saya sedang menikmati baca ulang buku-buku lama, saya beli buku ini Januari 2008, saya nikmati rangkumannya waktu itu untuk mempelajari Sastra lokal. Sebagian sudah kita ketahui di masa sekolah, hanya sebagian kecil yang benar-benar sudah dibaca tuntas. Lumayan nyaman, menikmati ringkasan dan ulasan singkat tiap buku. Proses kreatif, analisis, dan bagaimana masa itu buku itu terbit. Berisi 15 buku yang sudah diakui hebat, dan status legend Sastra kita. So pasti akan kubaca satu per satu semuanya, hanya masalah waktu saja akan tuntas.

#1. Siti NurbayaMarah Rusli (1922)

Tonggak sejarah sastra tanah air, sebelum Sumpah Pemuda novel Sumatra tentang kasih tak sampai. Semua orang rasanya sudah tahu tentang apa ini, Siti Nurbaya yang menanti Syamsulbahri, dijodohkan sama Datuk Meringgih yang sudah tua karena utang, sampai pada pertentangan budaya lokal. Ini menjadikan terasa klasik sekali, jagoan menang sekaligus meringis.

Roman bertendens sebab yang utama dalam kisah ini bukanlah kisah cinta itu sendiri, melainkan hal-hal mengenai adat istiadat Minangkabau, yang oleh Marah sebagai adat using yang tak sesuai zaman. Novel ini menjadi pelopor sastra baru, meninggalkan sifat-sifat cerita lama yang intanasentris, meninggalkan bentuk dongeng dan hikayat. Memasuki dunia kenyataan, melepaskan diri dari ikatan khayal dan fantasi.

#2. Salah AsuhanAbdul Muis (1928)

Bersama Siti Nurbaya, adalah puncak Generasi Balai Pustaka. Dianggap lebih maju sebab masalah, percakapan dan olahkata lebih menarik. Modernitas yang coba disodorkan kala itu menjadi tema yang penuh sentimen. Zaman Indonesia belum merdeka, segala yang berbau Holland terasa maju dan gaul, maka Hanapi yang dididik untuk lebih beradab memilih gaul sama orang kalangan atas. Sekolah di HIS lalu HBS dengan maksud menjadi orang pandai, modern, tidak seperti anak-anak di kampung. Membentuknya menjadi orang kebarat-baratan. Cintanya kepada Corrie du Bussee blesteran Prancis-Indonesia awalnya bertepuk sebelah tangan, berjalannya waktu kenangan menjadi benalu kuat yang mengikat leher.

Roman tendens yang sejatinya mengalami perubahan ending. Sejatinya Abdul Muis tak bermaksud mengakhiri kisah ini dengan seperti yang kita kenal, tapi akhirnya sang Penulis membiarkan apa adanya tanpa mengungkap lebih. Kawin paksa memang masih menjadi tema tahun 1920-an.

#3. Kasih Tak TerlaraiSuman Hasibuan (1931)

Roman kecil: secara ukuran, persoalan, mutu. Hanya 57 halaman, persoalan tak mendalam, dan semuanya jelas tanpa ending menggantung. Mungkin lebih ke roman picisan, oleh Profesor Teeuw menggolongkan buku ini sebagai bukan ‘kesusastraan’ melainkan ke ‘bacaan lancar dan menyegarkan’. Dan pada akhirnya menjadi bacaan jenaka, untuk hiburan.

Tentang Taram seorang anak angkat batin kampung, agama baru yang masuk kampung Islam, dan di kampung kecil seorang bunga desa Nurhaida yang menimbulkan Taram jatuh hati. Cinta keduanya sih klik, tapi lamaran batin kampung itu ditolak oleh Encik Abbas, orang tua Nurhaida sebab asal-usulnya yang tak jelas.

Maka mereka kawin lari, dan kehidupan baru kedua remaja dimabuk cinta itu dimulai. Penuh teka-teki dan sindiran halus terkait adat dan budaya, kisah ini benar-benar absurd nan jenaka, happy ending yang rada aneh sebab berkali-kali keganjilan tersaji. Kata Sutan Takdir, “Dalam roman dan cerita pendeknya, kita bersua dengan bahasa yang segar dan tidak kaku sedikit jua pun dan yang dapat membayangkan corak perasaan yang sehalus-halusnya.”

#4. Kalau Tak UntungSelasih (1933)

Nama aslinya adalah Sariamin, menggunakan nama pena Selasih atau Seleguri. Tahun 1930-an belum banyak penulis wanita. Kisahnya tentang kehidupan sehari-hari terkait kesedihan batin yang tersembunyi dan karena ia wanita, maka dapatlah dirasakan kehalusannya.

Orang tua Rasmani tergolong miskin, tapi untuk pendidikan anak-anaknya mereka berikan yang terbaik. Masrul adalah teman sepermainannya, selepas lulus sekolah ia menjadi juru tulis dan sempat akan dijodohkan Aminah sebelum berangkat ke Painan, tapi menolak sebab ia buta huruf. Ia memberi waktu untuknya asal Aminah selama tiga tahun diajar baca tulis. Selama di perantauan Rasmani surat-menyurat walau tak ada kata cinta, dan bisa ditebak mereka saling jatuh hati, tapi akhirnya karam. Di masa depan ada gejolak, begitulah kisah cinta semestinya dituturkan.

#5. Katak Hendak Menjadi LembuNur St. Iskandar (1935)

Ini bisa jadi paket lengkap, berhasil secara cerita dan hiburan. Suria seorang mantra di Sumedang. Sombong, gila hormat, egois, boros. Gajinya yang tak seberapa, tapi gayanya tinggi. Ayahnya yang kaya memang membuatnya bisa bermewah, tapi sampai kapan? Istrinya Zubaedah menanggung kepahitan. Utang, kegagalan karier, membawa kabur kas, niat nikah lagi, runyam sejak dalam pikiran. Sebuah gambaran sempurna peribahasa, ‘besar pasak daripada tiang’.

#6. Kehilangan Mestika Hamidah (1935)

Satu-satunya buku karya Hamidah, nama pena dari Nyonya Fatimah Hasan Delais. Terasa ke-aku-an sebab mengambil sudut pandang orang pertama, sehingga terasa sekali ini seperti memoar dibalut sedikit imaji. Cerita ‘Aku’, karakter tanpa nama adalah guru (sama seperti Penulisnya) ditinggal mati ibunya saat berusia empat tahun. Bersetting di Mutok (Pulau Bangka), Palembang dan Jakarta. Kisah cinta ‘Aku’ mengalami pasang surut dengan Idrus tunangannya. Sebuah protes seorang wanita pada tindakan masyarakat pada umumnya.

#7. Layar TerkembangSt. Takdir Alisyahbana (1936)

Bisa jadi ini adalah novel yang paling sering dibahas di buku Bahasa Indonesia, sebab dari SD, SMP, SMA ada bahasan cinta yang ditukar ini. Walau hanya penggalan paragraf atau sekadar kutipan, kisah pilu Maria akan selalu melekat semua anak didik. Ini merupakan puncak Roman Bertendens Pujangga Baru, yang disusul Belenggu.

Terbagi dalam dua bagian, pertama tentang Yusuf, mahasiswa Fakultas Kedokteran berteman dengan Tuti dan Maria, anak Wedana pensiunan R. Wiriaatmaja. Berjalannya waktu ada benih cinta antara Yusuf dan Maria, di Dago keduanya resmi berpacaran. Tuti yang idealis dan liberal menasehati adiknya agar jangan terlalu mengumbar kasih, agar lelaki tak memandang rendah wanita. Dan yah, kalian pasti sudah hapal akhirnya. Adegan di rumah sakit dan pemakaman nan haru.

#8. I Swasta Setahun di BendahuluIGN Panji Tisna (1938)

Bali yang indah dalam intrik istana. Peranan karma dalam kehidupan manusia. Setiap manusia memiliki karmanya masing-masing. Setiap perbuatan jahat yang dilakukan seorang selama hidupnya akan dirasakan pembalasannya oleh Sang Hyang Widhi selama hidupnya terhadap dirinya sendiri atau setelah matinya terhadap keturunannya. Itu pasti dan tak dapat tidak.

I Swasta alias I Emarawima, hulubalang raja. Ni Nogati, pengasuh putra baginda Maharaja Udayana, dia kekasih hulubalang raja I Lastya. I Jadara, juga hulubalang raja. Mereka bertiga tinggal serumah. Arya Bera, menteri busuk yang tergila-gila sama Ni Nagoti. Dan pembunuhan harimau memulai drama ini.

#9. Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck Hamka (1938)

Satu-satunya buku yang sudah kuulas di blog. Duo buku Hamka sudah punya, memang memikat meletakkan cinta suci dalam cerita, menjadikan tragedi saat cinta itu tak bertautan, bukan karena tak saling mencinta tapi lebih ke miss-komunikasi. Teknologi mungkin bisa mengubah tradisi, tapi isi hati tetaplah misteri untuk orang lain. Hayati yang menuruti kemauan jodoh orang tua mencipta belenggu janji mati Zainudin, dan itu malah menyakiti relung terdalam. Kata-kata puitik yang disaji sungguh indah.

Orang bersuku berhindu berkaum kerabat, bukan sembarang orang.” Kasih tak sampai dengan budaya Minang yang kental. Agama, adat menjadi tameng untuk hati yang patah. Permatanya yang hilang.

#10. BelengguArmijn Pane (1940)

Gaya realistis cenderung naturalistis. Ini gaya baru, masyarakat belum pernah membaca novel lokal dengan gaya semacam ini, makanya Balai Pustaka yang pertama disodori naskah meminta revisi beberapa bagian, sama Pane ditolak sehingga terbit oleh Pustaka Rakyat. “Kalau keyakinan sudah menjadi pohon beringin, robohlah segala pertimbangan lain-lain. Perahu tumpangan keyakinanku, berlayarlah engkau jangan enggan menempuh angin rebut, tiupan badai, ke tempat pelabuhan yang hendak engkau tuju. Berlayarlah engkau ke dunia baru.”

Tentang Tini dan Tono yang absurd, polanya acak.

#11. Sedih dan GembiraUsmar Ismail (1948)

Tiga buah drama: Citra, api, dan Liburan Seniman. Mengandung propaganda Dai Nippon tentang semangat kerja, harus berswasembada pangan, penanaman kapas agar tak impor, seniman harus membantu pemerintah memberi semangat kerja rakyatnya dan menyelesaikan peperangan melawan Sekutu dengan join barisan ‘jibaku’ untuk tanah air (nyatanya menjadi budak Jepang).

#12. AtheisAchdiat Kartamiharja (1949)

Roman jiwa dengan menekankan pergolakan jiwa Hasan yang terombang-ambing. Menjadinya pelamun, goyah pendirian, ragu pada panutan, akhirnya kebimbangan pula yang menjerumuskannya pada kehancuran. Tak ada kawin paksa, ini tentang adat yang mengukung kebebasan kaum muda, bicara emansipasi wanita, tentang isme yang mendesak dari Barat. Hasan yang seorang Islam Ortodoks goyah imannya oleh Marxisme dan atheisme.

Ada tiga manusia di sini, theis sungguh yang percaya pada Tuhan sebulat-bulatnya percaya, di sini ada Raden Wiradikarta, ayah Hasan. Atheis yang tak percaya Tuhan digambarakan oleh Rusli yang berpanutan Marxisme dan Anwar yang anarkis. Dan jenis ketiga ya Hasan, terombang-ambing diantara atheis dan theis, ragu dan bimbang.

#13. Mekar Karena MemarAlex L. Tobing (1959)

Berisi dua cerita: ‘Perkenalan dengan Harga Manusia’ dan ‘Pudar Menjelang Kilau’. Keduanya menampilkan tokoh-tokoh mahasiswa kedokteran. Terbagi dalam empat bagian: Con brio (dengan giat), Con sentiment (dengan perasaan), Con dolore (dengan dukacita), dan Con spiritio (dengan semangat). Pengarang menulis buku ini adalah wakil si ‘ahli bedah’ sehingga menggunakan kata ‘aku’.

Ini adalah satu-satunya novel karangan beliau, sempat kurang sreg sama bukunya ia seharusnya lebih bisa nulis berbobot sebagai dokter, justru nasib mengantarnya jauh dari dunia buku. Tahun 1973 ia ke Amerika dan menetap di sana sebagai dokter spesialis psikiatri.

#14. Hati yang DamaiNH Dini (1960)

Nama lengkapnya Nurhayati Suhandini. Tentang Dati, istri penerbang Wija. Pernikahan bukan berlandas cinta. Cinta Dati tertambat sama teman sekolahnya Sidik, gitaris semasa sekolah. Sementara Nardi sahabat Sidik jatuh hati sama Dati, tapi Dati yang sudah memilih hati Sidik tak kuasa menerima sebab akan menghancurkan persahabatan mereka, makanya ia pergi dari keduanya dan memilih Wija.

Di masa depan yang jauh, ketiga menjadi pribadi dengan takdir masing-masing. Kenangan, sekali lagi menjerat leher para penyimpannya. “Kau tak perlu takut, aku sudah lama mengetahuinya.

#15. Pagar Kawat Berduri Trisnoyuwono (1961)

Herman dan Toto yang diberi tugas mencari Kapten Krisna sama markas untuk menyusup ke daerah penduduk tertangkap. Ia disiksa di habis-habisan oleh markas IVG Salatiga oleh tentara Belanda, sersan Michel Jayusman. Dalam siksaan dipaksa mengaku bahwa mereka adalah gerilyawan pejuang Indonesia. Dalam tahanan bertemu Suparman, dan menduga inilah yang mereka cari.
Komandan kamp Letnan De Groot kejam dan tak berperikemanusiaan, lalu diganti Sersan Mayor Koenen yang lebih lembut dan penyayang, mereka mengisi waktu main catur. Dan pertaruhan bertahan hidup, sampai kapan? Terdengar tembakan di luar. Tawanan dan penjaga gempar, inilah sisi terdalam manusia ketika dalam pilihan antara hidup mati, terkadang logika nggak jalan. Baik Belanda, pribumi, tak ada sisi pasti. Hati manusia yang abu-abu menggelayut dalam kehidupan yang fana ini.

Buku dan Pengarang | by Yus Badudu | Copyright 2008 | Perancang sampul Nasya Badudu | Pengatur tata letak Sari Badudu | ISBN 979-17710-0-6 | Cetakan pertama setelah revisi, Maret 2008 | Penerbit Khazanah Bahari | Skor: 4/5

Karawang, 271020 – Ozzy Osbourne – Goodbye To Romance