Di Sana Angin dan Matahari Hanya Membicarakan Kesepian

Summer by Albert Camus

Aku merasa bahwa dewa-dewa yang kehilangan sesuatu begitu lama karena tidak ada yang bangkit menentang mereka. Promethous di Kaukasus, Lucian.

Saya sudah berulang kali mencoba membacanya, kubeli tahun 2015, kucoba baca setidaknya empat kali, tidak kelar. Baru awal tahun 2018 selesai juga, tapi masih bingung sebab beberapa hal masih tanda tanya, barulah bulan Agustus saya tuntaskan sekali lagi. Memang ya, Bapaknya Absurditas ini selalu membuat tulisan yang tak biasa. Setelah ketunda sebulan lebih buat ulas, kalau ku nggak segera tulis takutnya bakalan terbengkelai lagi.

Menulis esai tentang kehidupan sehari-hari di tempat beliau tumbuh kembang. Terlahir di Aljazair, tulisan dalam Summer bercerita tentang kehidupan Camus di sana. Keseharian dan kewajaran yang manusiawi.

Saking banyaknya kutipan keren, saya tulis ulang sahaja. Silakan dinikmati. Well, Camus tak pernah mengecewakan. Makin sayang sama pemikiran beliau yang liar dan memesona.

#1. Minotaur atau Perhentian di Oran (1939)

Untuk Pierre Galindo

Mereka sendirian dan juga tidak sendirian. Namun dua juga bisa berupa kerumunan.

Di sana, saling bertumpuk di atas yang lainnya, kau menemukan anjing pacuan dari pualam, penari balet danau-angsa, Diana Sang Pemburu Wanita dalam lingkaran hijau, pelempar cakram dan perkamen, segalanya yang berguna sebagai hadiah perkawinan atau ulang tahun, keseluruhan populasi yang depresi dengan sosok jin komersial dan pengejek tak henti-hentinya berseru kepada hiasan perapian kita.

Di mana pemiliknya tidak pernah berhenti tersenyum meskipun tempat itu selalu kosong.

Cumbuan di antara keanggunan yang penuh kemenangan, semua kegairahan nyanyian tak peduli yang memudar dengan datangnya malam.
Perkataan Klestakoff: “Kita harus terlibat dalam hal-hal yang lebih bernilai.”

Descartes menulis kepada Balzac, sekarang sudah tua, “Setiap hari aku berjalan-jalan melewati kebingungan sejumlah besar orang dengan kebebasan dan keheningan sebanyak yang kau temui di jalan kecilmu.”

Apa yang menarik dari kekosongan, dari kejemuan, dari langit yang tak peduli? Kesunyian, pasti, dan mungkin juga umat manusia.

Diskusi yang panas disertai dengan letupan berulang dari gabus botol-botol limun dan ratapan yang tak henti-hentinya dari penyanyi Korsika.
Tetangga saya yang gemar bicara tentang semangat keolahragaan, bertepuk tangan pura-pura, membisikan pada saya, sementara itu dengan suara serak karena terlalu banyak berteriak, “Lihat, mereka tidak akan sanggup bicara di bawah sana bahwa warga Oran adalah biadap.”

Perwakilan dari sifat baik mereka yang meyakinkan: La Maison Colon. Dengan menilai dari bangunan ini, sifat baik itu ada tiga jumlahnya: ketegasan cita-rasa, cinta akan kekejaman, dan pengertian sintetis sejarah.

Bahkan kehendak itu tak diragukan lagi, sangat serampangan. Tetapi kewajiban manusialah yang memindahkan benda-benda: ia harus memiliki di antara melakukan hal itu atau tidka melakukan apapun sama sekali.
Ibu kota kebosanan, dikepung oleh kemurnian dan keindahan, dikurung oleh bala tentara yang kaya akan serdadu dan juga batu.

Ketiadaan tidak lagi ada dalam genggaman kita seperti halnya kemutlakan. Tetapi karena kita menerimanya sebagai bukti keanggunan, tanda-tanda abadi yang muncul atau penderitaan manusia yang bisa melanda kita, mari kita juga tidak menolak undangan untuk tidur yang jarang ini, yang dianugerahkan kepada kita oleh bumi. Yang kedua sama benarnya dengan yang pertama.

#2. Pohon Buah Badam (1940)

Kita tidak tahu apakah itu kejahatan, namun kita tahu itu kenyataan.

Manusia tidak pernah berhenti tumbuh dalam penegetahuan mengenai nasibnya.

Kita tahu bahwa kita hidup dalam kontradiksi ini dan
Memang benar kita hidup di zaman tragis. Namun terlalu banyak orang keliru antara tragedi dan putus asa. Tragedi kata Lawrence, ‘bisa menjadi sentakan yang indah pada penderitaan’.

Ini gagasan yang sehat dan bisa dipergunakan dengan segera.

Dalam satu malam, satu malam yang dingin dan murni di bulan Februari, pohon-pohon buah badam di Valle des Consuls akan penuh dengan bunga-bunga putih.

Kita tidak boleh memperjuangkan kebahagiaan kita dengan simbol. Kita memerlukan sesuatu yang lebih berbobot.

Dunia ini teracuni oleh penderitaan, dan sepertinya berkubang di dalamnya. Dunia telah benar-benar menyerah kepada kejahatan itu yang disebut Nietzsche spirit of heaviness. Mari kita tidak berkontribusi padanya. Sia-sialah untuk menangisi pikiran, cukuplah untuk bekerja baginya.

#3. Prometheus di Dunia Bawah Sadar (1946)

Prometheus adalah pahlawan yang cukup mencintai manusia untuk memberinya api dan kebebasan, teknologi, dan seni.

Apakah kita tertinggal di belakang, ataukah kita maju ke depan? Akankah kita memiliki kekuatan untuk membuat bunga heather tumbuh kembali?

Jerit Prometheus, “Kau melihat aku diciptakan untuk menderita”.

Mitos tidak bisa hidup dengan sendirinya. Mitos menunggu kita membangunkannya untuk bangkit.
Kita harus mengawetkan mitos ini, dan meyakinkan bahwa masa tidurnya tidak berlangsung selamanya, sehingga kebangkitannya kembali menjadi mungkin.

#4. Panduan Singkat Untuk Kota Tanpa Masa Lalu (1947)

Ketika jam tidur siang membawa kejemuan di kota itu, tidak terdapat keharuan maupun melankoli dalam kesedihannya.

Maka matahari membuat mata mereka sayu seperti hewan yang indah. Dalam hal ini pantai Oran adalah yang terindah, karena alam dan perempuannya lebih liar di sana.

Kau akan sanggup menghargai superioritas sebenarnya dari orang Aljazair terhadap orang Prancis, yaitu kemurahan hatinya yang tak terbatas dan keramahannya yang alami.
Bagaimanapun, cara terbaik untuk berbicara mengenai apa yang kau suka adalah dengan membicarakannya secara ringan.

Semua orang kemudian berdiri merenung di tepi pantai, dan kerumunan berpisah ke dalam seribu kesepian. Kemudian mulailah malam Afrika yang agung, pengasingan raja, dan kemegahan keputusasaan yang menunggu kelana yang kesepian.

Ada nyala api yang menunggu di Aljazair.

#5. Pengasingan Helen (1948)

Sebuah cuplikan yang bertalian dengan Heraclitus menyatakan secara sederhana, ‘Kepongahan, menghambat kemajuan’.

Bagaimana kita dapat memahami keseimbangan yang lebih tinggi ini di mana alam menyeimbangkan sejarah, keindahan dan kebaikan, dan membawakan keindahan puisi bahkan ke dalam tragedi berdarah? Kita menolak alam, kita malu akan keindahan. Tragedi menyedihkan kita berbau busuk perkantoran, dan darah yang dialirkannya memiliki warna tinta yang kotor.

Dunia telah dengan sengaja menyisihkan dirinya dari apa yang memberinya keabadian: alam, lautan, perbukitan, renungan malam. Kesadaran sekarang hanya dapat ditemukan di jalanan, karena sejarah hanya ada di jalanan. Begitulah yang disabdakan.

Tikus mondok sedang merenung.

Yang berlebihan itu bisa menjadi api, menurut Heraclitus. Api itu mendapatkan tanah; Nietzsche telah mengambilalih. Eropa berfilosofi tidak lagi dengan pukulan martil namun dengan tembakan meriam.

Baik semangat sejarah maupun seniman berusaha mencipta ulang dunia. Namun seniman, sesuai dengan kewajiban alamiahnya, mengenali batasan yang diabaikan oleh pikiran sejarah.

Aku membenci zamanku.” Kata Saint-Exupery sebelum kematiannya.
Tetapi ini adalah zaman kita dan kita tidak bisa hidup dengan membenci diri sendiri. Zaman kita telah terpuruk begitu rendah karena berlebihan dalam kebaikan-kebaikannya dan juga kerena besarnya kesalahan-kesalahannya.

Kuda Patroclus menangis untuk tuannya, mati dalam pertempuran.
Dengan mengakui ketidaktahuan kita, menolak untuk menjadi fanatik, mengenali batas-batas manusia dan dunia melalui wajah-wajah yang kita cintai, pendeknya melalui keindahan, kita akan bergabung dengan bangsa Yunani.

Jiwanya tenang seperti gelombang yang tak terganggu’, keindahan Helen.

#6. Teka-Teki (1950)

Di mana absurditas dunia? Di dalam kemenangan yang cemerlang ini, atau dalam kenangan dari ketiadaannya?

Bagaimana dengan begitu banyak matahari dalam kenangan, aku dapat bertaruh pada omong kosong?
Kemudian aku keberatan, bukankah benda-benda menghilang ketika mereka mendapat nama?

Seorang laki-laki selalu memiliki dua karakter miliknya sendiri, dan karakter yang dikira oleh istrinya dimilikinya. Apabila kita mengganti istrinya dengan masyarakat, kita akan mengerti bagaimana sebuah ungkapan tertentu digunakan oleh seorang penulis untuk menggambarkan seluruh konteks emosi.
Tak seorangpun tidak bisa menulis tentang ketidakbahagiaan sebenarnya, atau saat-saat kebahagiaan tertentu, dan aku tidak seharusnya melakukan itu di sini.

Mari kita mengaguminya, tetapi tidak memercayainya.

Semua kejayaan di dunia ini lenyap seperti asap.

Tidak ada orang yang bisa percaya dalam kesusastraan keputusasaan. Bagaimanapun kau juga dapat menulis tentang inses tanpa perlu mengganggu saudara perempuanmu yang malang.

Gagasan bahwa setiap penulis pasti menulis tentang dirinya sendiri dan menggambarkan dirinya sendiri dalam buku-bukunya adalah salah satu gagasan konyol yang kita warisi dari Romantisme.

Terutama bahwa karyanya adalah otobiografi, padahal tak ada orang yang pernah berani menggambarkan dirinya sendiri sebagaimana adanya.

Apa yang disebut sebagai penulis yang objektif adalah penulis yang memilih tema tanpa membuat dirinya sendiri sebagai objek.

Lebih tepat untuk memanfaatkan klise daripada nuansa. Mereka memilih klise, maka aku memilih absurd seperti sebelumnya.

Kehidupan paling tidak memiliki relatif. Sebenarnya apa yang disebut kesusastraan keputusasaan?

Keputusasaan adalah diam. Lebih dari itu bahkan dalam kediaman itu berarti jika matamu berbicara. Kesusastraan keputusasaan adalah sebuah kontradiksi dalam istilah.

Di pusat semestanya, kita tidak menemukan omong kosong yang tak berwujud melainkan teka-teki, yaitu sebuah arti yang sukar untuk diuraikan karena itu memesona kita.

#7. Kembali ke Tipasa (1953)

Yang aku tahu hanyalah bahwa orang-orang ini pernah muda ketika aku muda, dan sekarang bahwa tidak lagi muda.

Apabila harus pergi ke masa mudamu, dan mencoba menghidupkan kembali, pada usia empat puluh tahun, hal-hal yang pernah kau cintai atau sangat nikmati pada usia dua puluh tahun.
Kita harus bersepakat dengan malam: keindahan siang hari hanyalah kenangan. Dan di Tipasa yang berlumpur ini, kenangan itu sendiri menjadi suram. Sekarang jangan berbicara mengenai keindahan, kelengkapan, atau masa muda!

Dunia telah menjadi tua dalam sesaat, sekejap mata, dan kita bersamanya.
Cinta tak akan ada tanpa kemurnian. Setelah menjadi murni ke dalam ketidaktahuan, kita sekarang tanpa sengaja menjadi bersalah: semakin banyak kita tahu, semakin besar misterinya.

Dari Chenoua kokok ayam jantan yang jauh sendirian memuji-muji keagungan hari yang rapuh, seolah-olah hari berdiri dengan diam.

#8. Lautan yang Dekat (1953)

Aku dikagumi karena menemukan kata yang tepat. Namun aku tak berguna dalam hal ini: aku menunggu.

Terbangun sepenuhnya aku mengenali angin di pepohonan dan gumaman sedih kota yang kosong.

Mereka yang mencintai dan terpisah dapat hidup dalam penderitaan, namun ini bukan keputusasaan: mereka tahu bahwa cinta itu ada.

Mereka meninggalkan keheningan dan kesedihan pada air yang primitif.
Hidup ini memberontak pada kelupaan, memberontak pada kenangan, seperti yang dibicarakan oleh Stevenson.

Mereka mencintai satu sama lain, namun tanpa pengampunan.

Menjelang malam, selama jam demi jam, kami didahului oleh lagu yang tak terlihat. Aku pergi tidur di rumah.
Yang tertinggal hanyalah angkasa, membentang menuju perjalanan yang tak bergerak.

Laut luas, selalu perawan dan selalu diarungi, agamaku bersama malam.
Setiap gelombang membawa janjinya, selalu sama.

Cinta yang sekonyong-konyong, karya besar, tindakan yang pasti, pikiran yang mengubah romannya, semua ini pada saat-saat tertentu memberi kecemasan sama yang tak tertahankan, bertaut dengan pesona yang tak mungkin ditolak.

Secara garis besar, Camus memainkan majas personifikasi, membaurnya dalam puisi yang naratif, memancing tanya pembaca dalam spekulasi, membawa serta mitos Yunani, kehidupan sederhana Afrika Utara tampak dalam padang gersang. Matahari, musim panas, hingga bicara cuaca menjadi asyik rasanya bila disampaikan oleh sang Penulis. Jelas, ini salah satu kumpulan tulisan hebat, sangat worth it untuk dinikmati penggemar sastra. Bukan, lebih baik saya sebut bagi semua orang. Tak perlu kotak-kotak untuk dapat melahap nikmati Summer (Finn).

Musim Panas | by Albert Camus | Diterjemahkan dari Summer | Copyright 1954 | Penguin Books, 1970 | Penerjemah Anna Karina | Editor bahasa Sandiantoro | Tata letak Metta Fauziyah | Desain sampul Andy FN | ISBN 978-602-95980-6-3 | Cetakan I, Desember 2010 | Penerbit Liris | Skor: 5/5

Karawang, 261020 – Take Over X John Paul Ivan – Jangan Bersedih