Catatan Bahasa: “Indah, Anggun, Ekspresif”

Bahasa dan Kegilaan by Umberto Eco

Yang menjadi sumber energi bahasa bukan lagi otonomi bahasa itu melainkan keberadaan kekuatan asli dan ilahiah Sang Kata.”

Bagi masing-masing orang, dalam derajat yang berbeda-beda, sebagian panggung sejarah adalah ilusi. Luar biasa. Ini salah satu buku kecil dengan ide besar yang benar. Menohok hingga tepar, Buku pertama Umberto Eco yang kubaca ini sangat cantik dan liar. Teori bahasa dalam tampilan lugas nan istimewa. Teori-teorinya, gagasannya, analisisnya. Jos banget. Klasik, jadul, memikat. Santo Thomas dalam Queaestio Quodlibet alias XII, 14 menyatakan ‘utrum veritas sit fortiori inter vinum et regem et mulierem’ yang memunculkan pertanyaan mengenai mana yang lebih kuat, lebih meyakinkan, dan lebih membatasi: kekuasaan raja, pengaruh anggur, pesona wanita, atau kekuatan kebenaran? Jawaban Aquinas halus dan fasih: anggur, raja, wanita, dan kebenaran tidak dapat dibandingkan mereka tidak dalam kategori yang sama. Semuanya dapat menggerakkan hati manusia untuk melakukan tindakan tertentu. Keren ya jawaban filsuf ini.

Kisah kesalahan yang lain, yang perlahan-lahan dibangun oleh pikiran modern sekuler: mencemarkan pemikiran relijius. Kesalahan pun dapat menimbulkan efek samping yang menarik. Kita sedang berhadapan dengan suatu penemuan khas Borges: penemuan atas penemuan. Pembaca juga tahu bahwa Borges tidak pernah menemukan apa pun: cerita-cerita yang paling paradoksal lahir dari pembacaan ulang sejarah. Ceritanya terlalu memesona untuk dikeluarkan dari relnya oleh fakta.

Bahasa yang paling luhur haruslah alamiah. Kemampuan berbicara adalah ciri khusus manusia yang tidak dimiliki malaikat, binatang, atau iblis. Berbicara melibatkan kemampuan mengeksternalisasi pemikiran-pemikiran tertentu manusia, malaikat sebaliknya memiliki kapasitas yang tak terlukiskan. Bagaimanapun, manusia yang bukan malaikat atau setan dipandu oleh akal dan membutuhkan kemampuan tertentu yang memungkinkan mereka untuk mengkesternalisasi intelektualnya dalam tanda-tanda yang terlihat.

Sejarah kita diilhami oleh banyak kisah yang sekarang kita akui palsu harus membuat kita waspada, siap untuk terus-menerus mempertanyakan detail kisah-kisah yang kita yakini benar karena kriterium kebijaksanaan komunitas didasarkan pada kesadaran yang tetap bahwa pengetahuan kita mungkin untuk difalsifikasi. Kita akan bijaksana kalau tetap menjaga pikiran segar yang terbuka terhadap momen ketika komunitas para ilmuwan menetapkan bahwa ide mengenai alam semesta adalah ilusi, sama seperti bumi datar atau Rosicrucian.

Tuhan berkata, ‘Fiat lux’ (jadilah terang). Vernacular adalah bahasa pertama manusia, “Meskipun terbagi-bagi oleh kata-kata dan aksen-aksen yang berbeda.” Kata pertama yang diucapkan Adam pastilah nama Tuhan, El. Tidak diberitahukan kepada kita dalam bahasa apa Tuhan berbicara pada Adam. Bagi Dante, berbicara berarti ekesternalisasi gagasan-gagasan yang ada di pikiran – rujukan kepada berbicara menyiratkan dialog lisan. Semua keturuannya sampai pembangunan menara Babel yang ditafsirkan sebagai menara kebingungan. Perubahan ini tepat karena adat istiadat manusia fana seperti dedaunan pada sepotong ranting: yang satu pergi yang lain datang.

Kesalahan – tidak selalu dalam kebohongan, tetapi pasti kekeliruan – telah memotivasi kejadian sejarah. Saya harus bersandar pada kriterium kebenaran. Fantasi geografis berangsur-angsur menghasilkan proyek politik. Derma Kontantin mungkin tidak dibuat sebagai penipuan yang terang-terangan, tetapi sebagai suatu retoris yang baru belakangan dianggap serius. Sebagai narasi, mereka masuk akal, lebih dari kenyataan sehari-hari atau realitas historis yang jauh lebih kompleks dan kurang bisa dipercaya.

Borges menyimpulkan bahwa tak ada klasifikasi dalam alam semesta dan itu bukanlah hal yang serampangan atau bersifat terkaan. Tetapi jika harus serampangan dna terkaan, mengapa malah menyisakan ruang untuk proyek satire utopia linguistik yang mewah? Rafaelle Simone menyarankan bahwa banyak pencarian untuk bahasa sempurna yang berasal dari semacam kegelisahan neurotic karena orang ingin menemukan di dalam kata-kata suatu ungkapan mengenai cara kerja dunia.

Plato dalam Cratylus membahas apakah kata-kata bersumber dari alam dengan meniru langsung benda-benda, atau bersumber dari hukum melalui konvensi. Dengan begitu pemecahannya tetap dilakukan secara puitis. Dua puluh dua huruf Ibrani mewakili suara ideal yang telah memimpin penciptaan tujuh puluh bahasa lainnya.

Perdebatan yang menggelitik disajikan dalam perdebatan, seorang anak bila dibiarkan tak terkontaminasi bahasa, bagaimana jadinya? Seorang anak tanpa diajari secara otomatis akan mulai berbicara dalam bahasa Ibrani, anak itu tidak akan menyadari konversi. Ada yang bilang bakal menggunakan Bahasa Ibrani adalah bahasa nenek moyang (protlanguages), ada juga yang bilang dari Zerakhya dengan sinis menegaskan pada Hilleh bahwa suara-suara pertama yang dikeluarkan seorang anak tanpa pendidikan lingustik akan menyerupai gonggongan anjing. Maka wajar manusia punya potensi lingustik, tetapi potensi itu bisa diaktifkan dengan hanya pendidikan organ vokal.

Saat remaja kita mencari jati diri. Kenikmatan dilambangkan dengan angka 16 karena (diduga) kegiatan seksual dimulai pada usia enam belas. Namun karena dibutuhkan dua manusia untuk bersetubuh dilambangkan dengan dua anka 16.

Kisah-kisah penaklukkan dari Barat ke Asia, Afrika, sampai seberang jauh Amerika memberi konsekuen logis. Penaklukan, penjarahan budaya, dan pertukaran adalah model-model abstrak yang kenyataannya lebur pada beberapa kasus. Lalai memberi beberapa komentar standar khas moralis atau pintasan alkitab. Menjalin hubungan dengan China bukan penaklukan, tapi pertukaran di mana Eropa memerankan utama karena ia adalah pembawa agama sejati. Kircher pergi ke China bukan untuk menemukan sesuatu yang berbeda, tetapi menemukan hal yang sudah ia ketahui. China lebih unggul dari Eropa sejauh menyangkut keagungan hidup, prinsip-prinsip ertika, dan politik. Sedang Eropa unggul di ilmu-ilmu matematika abstrak dan metafisika. Saat itu Leibniz menyimpulkan bahwa kalkulus memiliki landasan metafisis karena mencerminkan dialektika antara Tuhan dan ketiadaan.

Hieroglif dianggap sebagai simbol-simbol inisiasi. Simbol-simbol bersifat inisiatoris karena dibungkus dalamteka-teki yang tak tertembus dan tak terbaca untuk melindunginya dari keingintahuan yang malas dari orang-orang banal. Seluruh hieroglif menunjukkan sesuatu tentang dunia alamiah yang senantiasa menghalanginya untuk menemukan jalur yang tepat.

Banyak lukisan yang tidak berbau ilmiah dan berbau dongeng, beberapa gambar dalam buku Geography karya Ptolomeus edisi tahun 1551 terasa ganjil, agak sureal memperlihatkan Kicher memberikan pengarahkan kepada penggambarnya berdasarkan informasi yang dia terima seperti Marco Polo dan pengelana lain.

Apa arti antropologi budaya yang sehat? Tidak ada aturan untuk penafsiran sebab salah tafsir pun membutuhkan aturan. Menurut Eco ada kriteria intersuvjektif untuk mengatakan jika suatu tafsiran adalah tafsiran yang buruk maka masalah utama bukan pada aturan-aturan melainkan dorongan abadi di dalam diri kita yang mengira bahwa aturan-aturan kitalah yang paling bagus.

Hipotesis Epicurean menyatakan bahwa setiap bangsa menciptakan bahasanya sendiri untuk menghadapi pengalamannya sendiri. Hipotesis Sapir-Whorf menyatakan bahwa bahasalah yang memberi bentuk kepada pengalaman kita terhadap dunia. Oleh D’Alembert pada awal Encyclopedie, “Beberapa di antaranya bermuara menuju pusat yang sama; dan karena berangkat dari hulu yang sama mustahil untuk mengikuti semua cabangnya sekaligus pilihan itu ditentukan oleh hakikat roh-roh yang berbeda.”

Karena secara lingustik sulit untuk menunjukkan bahwa ada hubungan di antara kata-kata dan esensi benda-benda (paling tidak karena pluralitas bahasa), jalan yang diikuti para monogenetisis tidak berbeda jauh dari para etimolog fantastis masa lalu yang dikepalai oleh Isodore dari Seville.

Kesepakatan antara akal, wahyu, dan semua tradisi manusia ini menggambarkan suatu kemapanan sehingga hanya dapat disangkal oleh kata-kata. Para penyair dapat menemukan metafora yang ulung untuk menamai fenomena yang fundamental bagi pengalaman manusia. Setiap bahasa memiliki kejeniusannya, suatu kejeniusan yang unik, oleh karena itu kita harus menyisakan gagasan apa pun mengenai komposisi, mengenai formasi serampangan, dan mengenai konvensi yang mendahuluinya.

Ada catatan lucu bahwa Marco mempunyai gambaran unicorn dalam pelayarannya, dikiranya melihat benar makhluk itu, padahal yang dilihatnya Badak Ujung Kulon. “Apa yang disebut kemurahan hati dalam perhatian mereka lebih menyerupai permainan yang dimainkan anjing dan tikus.”

Bahasa adalah setua dengan bangsa penuturnya. Buku ini kubeli tahun lalu, saat pre-order. Baru kubaca bulan lalu, menumpuk sama daftar lainnya. Sangat menyenangkan, sudah punya In the Name of Rose, tapi malah buku ini dulu yang kutuntaskan. Tipis, keren. Betapa rumitnya proses terbentuknya bahasa, jadi bertanya-tanya sejak mula bagaimana Adam berkomunikasi dengan Tuhan, jadi malah penasaran, akankah saat Adam turun ke Bumi adalah anugerah, sebab di Surga yang serba enak malah tak memajukan pikir? Yah, semacam itulah. Bahasa sungguh tak sesederhana yang kita ucap.

Menghasilkan komunikasi khayalan. Cara mengidentifikasi bahasa yang benar-benar khayali. Wah, malah kepikiran sejarah manusia. Ilmu yang meliar, menggila. Cocok banget judulnya, … dan kegilaan!

Bahasa dan Kegilaan | by Umberto Eco | Diterjemahkan dari Serendipities: Language and Lunacy, Columbia; University Prees, New York; 1998 | Penerjemah Saut Pasaribu | Penyunting Prima Hidayah | Penata letak da nisi Koverboi | Gambar sampul Istimewa | ix, 153 hlm.; 12 x 18 cm | Cetakan pertama, Agustus 2019 | ISBN 978-623-90721-5 | Skor: 5/5

Karawang, 231020 – Edith Piaf – La vien en Rose (1946)

Gajian Day