Sebuah Tafsir Tentang Waktu

Mimpi-Mimpi Einstein by Alan Lightman

Bila matahari cerah, berenang tentu asyik, meski berenang kapan pun tetap asyik.”

First thing first story. Secara cerita buku ini mengecewakan, intinya kurang gereget, hanya labuhan khayal sang ilmuwan yang acak dan tak jelas. Terlihat samar, mencoba merumitkan diri. Ini fiksi sehingga Alan Lightman harusnya punya kreasi bebas untuk melalangbuanakan bualan, sayangnya inti yang coba disampaikan tak jelas. Sepenggal masa-masa tahun 1905 di mana Einstein muda mengajukan tulisan terkait teori waktu, menjadikannya patokan utama, benang merah, dari seratus halaman, sejatinya hanya bagian interlud yang menjadi realitas yang menyenangkan dilahap, sayangnya yang namanya interlud ya sesekali saja muncul. Sementara sebagian besar hanya pecahan kejadian yang bebas dan tak beraturan. Tak kuat secara cerita, tapi memang dasarnya seperti puisi, semua bebas disenandungkan, keras, berisik, dan merdeka. Namun melelahkan sekali…

Orang-orang yang relijius memandang waktu sebagai bukti adanya Tuhan. Tak ada yang tercipta sempurna tanpa adanya Sang Pencipta. Tak ada yang universal yang bersifat ketuhanan. Semua yang mutlak adalah bagian dari Yang Mahamutlak. Di mana ada kemutlakan di situlah waktu berada. Karena itulah, para filsuf menempatkan waktu sebagus pusat keyakinan mereka. Waktu adalah pedoman menilai semua tindakan. Waktu adalah kejernihan untuk melihat salah atau benar.

Jika masa silam berakibat tak menentu pada masa kini, tak usahlah terlalu merenungi masa lalu. Dan, jika masa kini hanya berakibat kecil saja bagi masa depan, tak perlulah terlalu membebani tindakan saat ini. Setiap tindakan adalah salah satu pulau dalam waktu, yang harus dinilai terpisah. Jika orang tidak memiliki ambisi di dunia seperti ini, ia tidak menyadari kalau ia menderita. Jika berambisi, ia tahu bahwa ia menderita, tetapi penderitaan itu berlangsung sangat lambat.

Tentang dunia yang akan berakhir. Umatnya menghitung mundur, dari setahun, sebulan, seminggu, sehari, sejam, semenit, sedetik. Dunia dengan satu bulan tersisa adalah dunia dengan persamaan hak. Semua gagasan masa akhir dipuaskan, dan terasa damai. Karena kehidupan masa silam tidak pernah bisa berbagi dengan masa kini. Setiap orang melekat pada satu waktu, melekat sendirian.

Tafsir waktu yang njelimet, dan memang hakikat waktu memilih jalannya sendiri. Jika waktu adalah anak panah, maka sasarannya adalah keteraturan. Masa depan adalah pola, penataan, kesatuan, sementara masa silam adalah acak, kebingungan, perpecahan, penghilangan. Beberapa orang mengatakan bahwa yang terbaik adalah tidak mendekati pusat waktu. Hidup adalah jambangan kesedihan, tapi adalah lebih terhormat untuk menjalaninya. Tanpa waktu tak ada kehidupan.

Kenangan, ingatan, pori-pori samar apa itu dunia maya yang berkelebat di kepala, di awang-awang. Tanpa ingatan, setiap malam adalah malam yang pertama, setiap pagi adalah pagi pertama, setiap ciuman dan sentuhan adalah yang pertama. Beberapa orang memutuskan untuk sama sekali berhenti membaca. Mereka meninggalkan masa lalu. Apa pun yang terjadi di hari kemarin, kaya atau miskin, terpelajar atau bodoh, congkak atau rendah hati, pernah kasmaran atau patah hati, tak lebih dari angin lembut yang menari-narikan rambut mereka… mereka melepas kemudaan dengan langkah tanpa beban. Merekalah orang-orang yang telah belajar untuk hidup di dunia tanpa ingatan.

Lantas apa artinya meneruskan masa kini bila seseorang telah melihat masa depan?

Merekalah orang-orang yang menghabiskan waktu untuk tidur dan berharap masa depan muncul dalam impian. Pada malam hari, orang-orang bermimpi tentang kecepatan, kemudaan dan kesempatan.

Salah satu tafsir tentang masa lahir bayi. Karena Hermione lahir kala senja bergulir maka kuketik ulang sahaja. Seolah prediksi, benarkan anakku anak seperti gagasan Einstein? Orang yang lahir saat matahari terbenam, menghabiskan separuh hidupnya dalam temaran malam, mempelajari kegiatan yang bisa dilakukan dalam ruangan seperti menenun atau membuat jam, membaca banyak buku, menjadi intelektual, makan sangat banyak, ngeri terhadap kegelapan di luar, mendekap bayang-bayang.

Waktu begitu berharga. Kehidupan adalah satu peristiwa dalam satu musim. Kehidupan adalah satu butiran salju. Kehidupan adalah satu hari di musim gugur. Kehidupan adalah bayangan yang bergerak secepat pintu yang ditutup. Kehidupan adalah gerakan singkat lengan dan kaki.

Di dunia tanpa masa depan, setelah kekinian adalah kehampaan, orang-orang beruntung pada masa kini bagai bergelayut pada tepi tebing.

Jadi, konfliklah yang menjaga harapan kita. Beberapa orang merasa takut meninggalkan saat-saat yang membahagiakan. Mereka memilih berlambat-lambat, berjingkat melintasi waktu, mencoba mengakrabi kejadian demi kejadian. Yang lain berpacu menuju masa depan tanpa persiapan, memasuki perubahan yang cepat dari peristiwa-peristiwa yang melintas.

Begitu kecilnya ketidaksinambungan waktu, maka satu detik bisa diperbesar dan diurai menjadi seribu bagian, dan tiap bagian menjadi seribu keping lagi. begitu kecilnya ketidaksinambungan waktu, maka jarak antarsegmen sama sekali tidak terlihat. Tiap kali waktu berputar, maka dunia baru tampak sepeti yang lama.

Waktu juga diukur berdasarkan detak jantung, irama kantuk dan tidur, rasa lapar, datang bulan bagi perempuan, masa kesepian. Waktu hadir, tapi tak bisa diukur. Teori waktu sebegitu mustahilnya sampai mungkin saja justru akan berhasil. “…Saat terkenal nanti, kau akan teringat bahwa kau pertama kali menjelaskan padaku, di perahu ini.

Bagian interlud yang bagus itu berkisah Einstein bersama sahabatnya Besso. Tentang makan malam, dan beberapa cuplikan sederhana kehidupan rumah tangganya bersama Mileva dan anaknya. Keseharian di Zurich, menikmati senja di Sungai Aare, menatap Alpen, menelusuri jembatan Nudegg, mendengar gemericik air di Pancuran Zahringen di Kramgasse, kehidupan manusia di Spitalgasse, kunjungan ke Berne, jamuan makan di Hotel San Murezzan di St. Moritz, sampai aura reliji di menara Katedral St. Vincent. Semuanya adalah potongan-potongan, seperti mimpi yang samar, dunia berlandas asas perkiraan.

Ruang dan waktu adalah apa yang kita sebut sebagai ‘konstanta universal’. Salah, Einstein menjawab, kecepatan cahaya-lah yang merupakan konstanta universal, sesuatu yang dipakai untuk mengukur segala hal lain. Kita semua bergerak, sepanjang waktu, dan semakin kita mendekati kecepatan cahaya, semakin ‘melambat’ gerak waktu, dan ruang pun semakin mengerut.

Cerita masa lalu menentukan jati diri manusia. Cerita dari masa depan menentukan harapan. Dan kemampuan manusia untuk memasuki narasi-narasi tersebut lalu menghayati cerita-cerita, demi membuat narasi-narasi itu menjadi nyata, adalah yang memberikan makna pada kehidupan.

Buku ini sudah berkali-kali masuk daftar incar. Berbagai kover sudah kulihat, setelah bertahun-tahun akhirnya kumiliki edisi cetakan kesepuluh dengan kover kuning mentereng. Penerjemahnya adalah Penulis Raden Mandasia yang terkenal itu. Saya tak terlalu banyak komplain terkait alih bahasa, karena memang rerata bila dikerjakan dengan serius hasilnya bagus. Kembali di kalimat pembuka, yang utama adalah cerita, dan Mimpi-Mimpi Einstein ceritanya kurang OK, mencoba bermewah kata, menawarkan syair-syair puisi kehidupan masyarakat di sekitar pegunungan Alpen. Mimpi-mimpi itu pada akhirnya menghancurkan diri sendiri sekaligus mengekalkan-dirinya-sendiri.

Karena satu-satunya hal yang bisa menghancurkan sebuah mimpi adalah dengan mendapatkannya. Mending sekalian baca kumpulan puisi. Nah!

Mimpi-Mimpi Einstein | by Alan Lightman | Diterjemahkan dari Einstein’s Dream | KPG 901 12 0575 | Cetakan pertaman, Juli 1999 | Cetakan Kesepuluh, Juli 2012 | Penerjemah Yusi Avianto Pareanom | Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) | Penyunting Candra Gautama, Sri Sutyoko | Perancang sampul B. Esti W.U. | x + 137 hlm,; 13.5 cm x 20 cm | ISBN 978-979-91-0481-6 | Skor: 3/5

Karawang, 221020 – Bee Gees – To Love Somebody

Thx to Vide Buku, Yogya

2 komentar di “Sebuah Tafsir Tentang Waktu

  1. Memang bukan dari cerita tapi di kalimat2 puitisnya novel Alan Lightman.

    Ternyata masih dicetak ulang sama KPG. Pernah baca curhatnya Yusi kalau ada masalah pembayaran/royalti novel ini. Salah satu alasan kenapa dia bikin penerbit Banana. Saya lebih suka novel Lightman yg judulnya “Reuni”, masih terjemahan Yusi dan diterbitkan penerbit itu.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s