Legenda Seniman Senen

…Oh, Film by Misbach Yusa Biran

“… I bukan antiseni dan mutu. Dengan suka ati I sedia masukan seni dalam my picture, asal bisa laku! You seniman, orang pinter, tentu you paham I punya maksud semua…”

Buku tipis yang sebenarnya bisa cepat diselesaikan baca, tapi saya baca santuy jelang tidur. Saya bacakan untuk Hermione satu atau dua bab setiap beberapa malam. Ini adalah buku rekomendasi Sherina Munaf dan berkali-kali cari di Gramedia Karawang nggak ada, maka saat ada yang jual daring, langsung kusambar. Buku yang sejatinya biasa, hanya bercerita kehidupan seputar orang-orang film di Senen, dari sudut pandang para jelata mengais rupiah hanya untuk sekadar bertahan hidup dari bulan ke bulan. Kisah apes yang mengelilingi para kuli film. Judulnya tentu pas sekali, … oh, film!

#1. Berliku-liku ke Bintang

Dibuka tentang Anwar yang menjalani banyak profesi/peranan dalam film, tapi hanya pada kata hampir memegang banyak peranan. Dari bandit, penyanyi, pesuruh, reserse, kepala polisi, dll. Anwar pemalas, sekolah rakyat tidak tamat, di usia 23 tahun, kerja serabutan. Pada akhirnya malah menjadi tukang parkir Gedung Kesenian, tapi ya pada dasarnya malas. Dan saat mendapat kesempatan main film, walau hanya figuran, ia berlatih keras. Namun pada akhirnya, batal jua. Latihan main film itu bagus sekali meningkatkan ketangguhan tukang jaga parkir mobil. Latihan tahan panas, tak gampang bosan, dan tahan dibentak-bentak.

#2. Ke Luar Negeri

Ke luar negeri bagi orang tua, artinya naik haji saja ke Arab berarti, padahal untuk Hasan yang ingin belajar film yang dituju ya Paris, London, dan kota besar lainnya yang menyuguhkan seni. “Seni? Apa itu? Masa belajar yang begitu saja harus keluar negeri?” kata ayahnya. Di Pasar Senen saat ngumpul sama genk, ujaran ke luar negeri itu dijadikan bahan ketawa saat bahas cita-cita. Nantinya apapun yang diambil kesempatan menjalani kehidupan, mereka akan rindu ngopi dan kue putu di Senen ini bersama kawan-kawan seperjuangan.

#3. Bir, Oh Bir!

Reymond Nestapa, seniman dengan pose rambut acak-acakan, penampilan berantakan. Nama aslinya adalah Ramin, orang tuanya hanya berharap ia menjadi juru tulis kelurahan, malah khatam Al Quran dua kali, lalu ke kota yang menciptanya gaul. Lalu ke ibukota, kenal penyair dan jadilah seniman. “Ah… betapa tenangnya langit, mengapa orang bisa tidur di malam berbintang terang seperti ini?”

#4. Bung Close Up

Tentang Imam Kromo yang kesal setiap dipanggil Bung Close Up, sebab ia punya riwayat tak menyenangkan tentang sebuah peran dalam film yang menjanjikan ia tampil close up (CU) lima kali, saat syuting ia begitu bangga dan senang sekali dipanggil itu, faktanya ketika film ‘Satu Jam Kemudian’ tayang adegan yang menampilkan wajahnya kena potong. Jadi, ada kemarahan saat panggilan itu terlontar, tak segan dijotos!

#5. Bintang Film Baru dan Punya Bakat

Emir Sola, nama aslinya Amir dari Solo redaktur yang menjanjikan menampilkan wajah Badri si bintang film baru yang punya bakat, nyatanya Emir malah menulis nada kurang bagus di korannya, Badri yang dari Banten dan bisa bela diri membuat ketar ketir juga, mengancam bacok. Biografi singkat Badri yang salah data pula, ia tertulis dari Bandung! Bakal kena bacok nggak ya? “Saudara kan anak Banten juga, aku harap bisa menolong.”

#6. Maaf, Saya Bukan Sombong

Macan Ketawa” studio film yang terkenal karena kualitasnya karena cerita dan pemain yang dipilih tak sembarangan, mendapat kesempatan main di sana adalah sebuah anugerah untuk menaikkan karier. Amir yang ngebet pengen dapat peran, sering-sering main ke sana, dapat peran kecil-pun tak apa. Si Amir sombong dong, ketika akhirnya dapat, pamer kata sama teman-teman di Pasar Senen.

#7. Samad Filmo Starno

Samad punya nama beken mentereng. Pertentangan produser yang melihat proyek sebagai untung-laba versus sutradara idealis yang mementingkan kualitas ketimbang tiket yang terjual tentu sudah ada sejak lama, sekarang, dan akan datang perdebatan akan ada. Sang bintang Samad yang sudah kadung menyombongkan diri sama teman-teman bakal muncul di film Kecil-Kecil Cabe Rawit mendapati kecewa sebab adegannya kena potong. “Dan apakah saya masih anggota Parfi? Kan sebenarnya saya sudah main film.”

#8. Maaf, Harap Supaya Halaman 22-23 Dianggap Tidak Ada

Jupri yang fotografer asal-asalan tentu bangga saat ada seorang asing menyebutnya professional, kenalan dan foto-fotonya dijanjikan muncul di media. Apes, pemuda brewokan danger itu bernama Brotowali. “Saya akan banyak membutuhkan pertolongan Saudara Wartawan.” Jupri yang menjawab gampang-gampang mulu akhirnya menanggung ancaman, dan harus meminta maaf yang dimuat di majalah edisi berikutnya.

#9. Interviu Bintang Film

Ramli harus wawancara bintang baru Zus yang terkenal galak dan cerewet. Sang Aku diajak menemani karena agak takut. Setiap wawancara si bintang kelihatan dodolnya, si Ramli banyak mengoreksi seperti bacaan Zus apa? Ga jelas. Maka disebutkan nama-nama John Steinbeck, Gore Vidal, William Sayoran, Faulkner, O’Hendy, Gogol, dst. Si Zus yang nggak paham, iya iya saja, asal image cerdas dan bagus yang didapat. Yah, gmana sih!? Cantik bodoh.

#10. Cara Bikin Cerita Film

Penulis cerita, sutradara, produser, sampai bintang film semua memiliki kepentingan. Semua film yang dibintangi Johan laku, kualitas nomor sekian yang penting untung. Diskusi panjang lebar keempatnya menarik, yang jelas yang bikin cerita yang sejatinya mumet sebab harus menuruti banyak usulan yang pada akhirnya kualitas lagi-lagi dibanting. “Habis mau pigimana lagi?”

#11. What is Really Good Picture for Me

Dakhlan yang menulis scenario berhari-hari, berlembar-berlembar, berjuang begitu keras demi cerita bermutu. Sang Aku menemaninya ke studio setelah jerih payahnya, sayang dihargai murah dan ceritanya terlalu berat. Saya kira kalau hanya sekadar mengetik saja scenario yang Cuma enam puluh halaman itu pun tiga hari sudah selesai. Yang lama adalah bermenung-menungnya. Naskahnya ditolak! “… kalau kita ingin mancing ikan, tentu kita harus menaruh umpan yang ikan doyan, bukan yang kita sukain to…”

#12. 2-0-1-1 Potongan Rambut Eddie Polo

Kenal Eddie Polo? Tidak? Saya juga. Ia adalah frame idola masa 1932-an yang dijadikan patokan tukang cukur, model paling ikonis kala itu. Tukang cukup di kampung Mang Jen melaksanakan tugasnya, Cep sang aku diminta cukur sama ayahnya. Sambil ngobrol ngalor-ngidul, pangkas rambut berjalan lancar dan betapa kesalnya Cep. Model apaan ini? “Yang pantas berambut gondrong Cuma professor dan orang gila saja.”

#13. Kacamata Siapa?

Lucu. Di kala itu untuk beli kacamata saja harus nabung, kaca mata second pula. Model hitam dengan style Hollywood. Badrun mengidolai Lee Straberg, memandangi gambarnya dengan antusiasme buta. Rol peran yang diperankan Badrun adalah bandit, dengan kaca mata hitam ia pun turut pula saat premier di Art Theater. Sayangnya ia tak tampak jelas di film, makanya setelah selesai pemutaran banyak penonton tak mengenalnya, ia pun akting spontan ‘kacamata siapa?’ dan apesnya kacamata loakan itu diaku orang. Hahaha…

#14. Oom Yan: “What is Eigenlijk een Mooie Film”

Ini kisah tentang orang bergaya, orang intelek sok Barat ala Belanda. Kalau film nggak kualitas luar negeri mending nggak. Selektif, idealis. Ada lokal yang jadi patokan kualitas, film Tiga Sekawan. Maka Yuli ingin mengundang beliau, dengan susah payah. Film Kasih Mesra ternyata tak bisa memuaskannya. Memang sulit memuaskan orang special.

#15. Wartawan Film

Darwis yang mengaku wartawan film, mengajak aku untuk melakukan wawancara. Setelah dinasehati ayahnya ketika merantau jangan dekat-dekat wartawan atau petugas pajak, ia terpaksa membantu temannya, inikah hanya wartawan film, dalam benaknya. Ramli yang jatuh hati sama bintang film baru Zus, mengaku orang penting media. Maka ketika kesempatan wawancara ia pun berjanji memuji dan memuatnya. Sang aku hanya menemani, juga meminjami duit si wartawan kere. Bukan saja untuk ongkos perjalan ia bahkan berniat mentraktir si bintang baru. Si Aku dijanjikan separuh uang komisi, tapi ini kisah apes.

#16. Dulu

Penutupnya paling selow, cerita masa lalu para seniman Senen. Bagaimana mereka melewatkan masa lalu dengan kenangan seru, yang pahit jadi seru ketika diungkit bareng dengan kopi dan teman lama. Pak Uyung yang cerita pengalaman bikin film, Pak Hasan dengan pengalaman memancingnya, ‘Lioooong….’

Kisahnya lebih sederhana dan membumi, ini buku berdasarkan pengalaman sang penulis yang berkecimpung di dunia film sejak 1954 sebagai anggota PERFINI. CV filmnya sangat banyak, jasanya dalam seni di Indonesia tentunya melimpah. Tahun 2008 beliau menerima Bintang Budaya Parama Dharma, bintang tertinggi dari Pemerintah RI di bidang budaya.
Kalau tak perlu betul janganlah kau dekat-dekat dengan pegawai pajak atau wartawan, apalagi membuka mulut sembarangan di depan mereka.

…Oh, Film | by Misbach Yusa Biran | KPG 224-2008-82-S | Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) | Cetakan pertama, 1973 oleh Pustaka Jaya | Cetakan pertama edisi tambahan, September 2008 | Penyunting Candra Gautama | Perancang sampul Rully susanto | Penataletak ledham Fitrianjaya Nugroho | ix + 149 hlm.; 13 x 19 cm | ISBN-13: 978-979-91-0128-0 | Skor: 4/5

Karawang, 221020 – Stan Gets & Astrud Gilberto (Cover by Elise) – The Girl From Ipanema

Thx to Lumbung Buku, Bandung