Kekosongan, Kecemasan, Kesepian

Teori Kepribadian Rollo May by Ina Sastrowardoyo

“… Apakah unsur utama di balik kegelisahan yang menghebat itu?”

Rollo May sangat menekankan eksistensi pribadi manusia. Cita-cita bukanlah murni keinginan sendiri, melainkan yang diperoleh dari orang lain; orang tua, atasan, guru dan pandangan umum lainnya. “Saya hanya merupakan suatu koleksi cermin, yang memantulkan keinginan orang lain.” Keadaan luar itu hanya merupakan gejala dari apa yang tersembunyi di bawah permukaan kehidupan bersama seluruh masyarakat.

Kehidupan kosong dapat terlihat dari manusia yang hidup seperti robot, tiap hari itu-itu saja yang dikerjakan tanpa gairah atau kegirangan seolah-olah dipantau oleh radar di kepala. Buku psikologi yang sangat bagus, dipadatkan dengan bagus dan dijelajah pengertian itu dengan sangat pas. Menjadikan penasaran lagi buku asli karya Rollo May, karena disini didedah dengan sudut yang mengagum. Sumbangan May, mendekatkan manusia kembali pada realitas kehidupan.

Sejarah psikologi pada dasarnya adalah sejarah filsafat akal budi. Filsafat dan psikologi akan selalu berhubungan karena keduanya mencari keterangan tentang fenomena manusia. Sartre ateis tulen bukan karena hal-hal metafisik, tapi keyakinan pada kebebasan manusia begitu besar hingga menurutnya agama apapun tidak benar, orang yang beragama tak memiliki kebebasan lagi. Sartre adalah penganut eksistensialisme paling terkenal. Konsep eksistensialisme menolak konsep sebab-akibat, dualisme anatara tubuh dan budi, serta perpisahan antara pribadi dan lingkungan.

Dengan kebebasan yang besar, mengapa manusia tetap merasakan kecemasan, alienasi, fobia, dan kebingungan lainnya? Ada dua hal, pertama dan paling jelas adalah kebebasan untuk memilih bukan berarti pilihannya itu selalu benar dan bijaksana. Kedua manusia berkodrat untuk mentransendenkan trauma, kesakitan, dan penghinaan yang dirasakan pada waktu yang telah lewat. Namun satu hal yang tak bisa ditransendenkan adalah rasa bersalah.

Kausalitas sama sekali tidak memiliki relevansi dalam tingkah laku manusia, motivasi dan pengertianlah yang menjadi prinsip operasional dalam analisa tingkah laku eksistensial.
Kata Straus (1963), “Manusia yang berpikir bukan otaknya.” Di balik fenomena terletak sesuatu yang menyebabkan fenomena itu terjadi. Psikologi eksistensial curiga pada semua teori, karena teori berpretensi bahwa sesuatu yang tak dapat dilihat dapat mengakibatkan yang dapat dilihat, sedang untuk fenomologi hanya yang dapat dilihat atau dialami sendiri disebut realitas.

Temporalitas menunjukkan berkembangnya dunia dalam sejarah hingga manusia memiliki masa lalu, masa kini, dan masa sekarang. Tiap fenomenon tidak dapat dipisahkan dari keseluruhan yang sudah lalu dan yang akan datang. Manusia adalah totalitas dari sejarahnya, waktu kini dan kemungkinan-kemungkinan di masa datang dalam hubungannya dengan dunianya. Perasaan tidak berdaya atau tidak memiliki kekuasaan sama sekali adalah akar dari kekerasan yang timbul di zaman sekarang. Masyarakat membuat situasi tanpa kekuasaan, disebut pseudo ketidaktahuan sebagai sesuatu kebajikan, karena masyarakat sudah terbiasa memberi konotasi negatif terhadap pengertian kekuasaan. Kekuasaan selalu dihubungkan dengan aggressor dan korbannya.

Kebenaran hanya mempunyai arti bila diterapkan pada subjektif tertentu. Kebenaran yang berarti hanya mungkin disampaikan indirect, tidak pernah secara langsung, karena kebenaran itu timbul dari pengalaman eksistensial pribadi tertentu. Freud bilang, bahwa sadar yang selama ini diabaikan ternyata memiliki potensi yang sangat kuat dalam memengaruhi tingkah laku manusia. Kegunaan utama psikoanalis adalah menterjemahkan bahasa bawah sadar ke bahasa kesadaran. Timbulnya represi, akibat represi adalah frustasi jiwa, akibat frustasi jiwa adalah neurosis.

Seorang ekstrovert adalah tipe individu yang kehidupannya dikuasai aktivitas yang berorientasi ke luar dirinya. Bisnisman atau prajurit, tekanan diletakkan pada aktivitas. Introvert tipe individu yang berorientasi pada data-data subjektif, seperti penyair, filosof, dan pecinta ilmu pengetahuan dalam penelitian. Jung bukan membuat garis demarkasi yang ketat, tiap manusia mempunyai kecenderungan, pemisah keduanya diberikan sebagai kerangka referensi yang memberi bantuan pada penilaian secara umum. Justru Jung merupakan psikoterapist yang paling keras menekan individualitas.

Diri ini oleh Aristoteles disebut ‘entelecheia’, hal-hal yang unik sesuai kodratnya. Jung menyebut tiap manusia membawa di dalam dirinya bentuk hidup masing-masing yang tak pernah bisa diganti orang lain. Secara teoritis, tak ada satupun pengalaman yang hilang, semua disimpan di dalam bawah sadar itu, meskipun sudah lama dilupakan. Mengingat kembali serta melupakan sesuatu adalah juga unsur-unsur bawah sadar. Jadi bawah sadar adalah gudang yang sangat besar berisi segala macam sifat-sifat psikis seperti ketakutan, harapan, keinginan, dan bermacam-macam kecenderungan naluri.

Putusan-putusan penting dalam kehidupan seseorang lebih didasarkan pada naluri dan lain-lain sifat misterius yang terdapat di bawah sadar, jadi bukan semata pada kesadaran, keingingan atau akal budi. Fungsi konselor adalah membantu lagi untuk mendapatkan keberanian untuk menjadi dirinya sendiri, juga membantu pasien dalam menerima dengan senang hati tanggung jawabnya terhadap masyarakat.

Orang yang memiliki kesulitan dengan masyarakat dianggap berpola pikir menyimpang, atau sebaliknya orang yang berhasil dalam masyarakat dianggap telah bisa mengatasi kesulitan-kesulitan hidup. Satu ciri khas neurotik adalah ketidakmampuan menyesuaikan dirinya dengan orang lain. Orang yang seperti ini jelas akan merasa kesepian, terisolasi, dan bagai prajurit yang seorang diri mempertahankan daerahnya di puncak gunung es.

Pada dasarnya rasa bersalah dan perasaan ditantang adalah dua sisi dari benda yang sama. Rasa bersalah adalah persepsi tentang suatu jurang yang harus diloncati. Seperti Adam yang memakan buah dari pohon ‘pengetahuan akan baik dan buruk’, yang melambangkan lahirnya kemampuan untuk melihat perbedaan baik-buruk, Adam merasa bersalah dan malu.

Maka rasa bersalah bukanlah sesuatu yang harus disembunyikan sebagai sikap yang memalukan, perasaan itu bahkan bukti akan kemampuan-kemampuan manusia yang begitu luas, serta bukti akan besarnya nasib yang diharapkan ke depan manusia. Kebutuhan dasariah adalah kebutuhan akan menanggulangi rasa lapar, memenuhi akan cinta, keamanan, harga diri dan sebagainya. Kebutuhan meta adalah kebutuhan akan keadilan, kebaikan, keindahan, keteraturan, dan lainnya. Kebutuhan dasariah adalah pemenuhan yang kurang sedang meta adalah kebutuhan untuk mengembangakn diri. Dasariah harus segera dipenuhi dan dapat diberikan urutan yang mana yang terpenting terlebih dulu, sedang kebutuhan meta sama kuatnya tidak terdapat hierarki tertentu. Sama pentingnya, bila tak terpenuhi individu bisa sakit.

Keacuhan dan sikap masa bodoh adalah senjata ampuh menghadapi frustasi.

Publik adalah otoritas utama, dan otoritas utama ini terdiri dari banyak individu. Pada hakekatnya kita takut pada kekosongan kolektif kita bersama. Kesepian ini dirasakan sebagai suatu perasaan ‘berada di luar’ atau tidak diterima, terisolir, dan dengan kata lain ter-alienasi. Menurut Andre Gide, banyak orang takut akan menemukan bahwa mereka itu berdiri sendiri akibatnya mereka tidak dapat menemukan dirinya sendiri.

Secara kiasan dapat dikatakan bahwa ketakutan itu adalah ketakutan dengan maut, simbol terakhir dari kesepian. Pada masyarakat primitif, seseorang bila dihukum pengucilan lebih senang memilih maut, karena begitu putus asa. Beda sama ketakutan, kecemasan adalah rasa akan bahaya yang tak tampak dan tak jelas yang membuat manusia kehilangan kesadaran akan realitas sehingga tak mengetahui apa yang harus dilakukannya.

Semester yang ingin dikemukakan dalam buku ini, yaitu kebutuhan manusia akan kesadaran dirinya. Sisi hidup ini yang pasti adalah kita maju terus, kita tak mungkin kembali lagi, manusia sekarang merupakan generasi yang tidak dapat balik, meski di depan kita akan ada badai dan bahaya lain, tidak ada pilihan lain selain maju terus!

Tak ada perbedaan antara hewan dan manusia yang baru lahir, keduanya merupakan kesatuan dengan rahim yang memberi hidup. Sekitar usia empat tahun, barulah tampak perbedaan perkembangan pada diri anak, perkembangan radikal yang terpenting adalah lahirnya makhluk manusia menjadi pribadi. Sebuah kesadaran diri inilah ciri unik manusia, kemampuan untuk melihat diri sendiri dari jauh, seolah dari luar diri sendiri. Untunglah proses bayi menjadi dewasa cukuplah lama dibanding organisme lain, mematangkan manusia untuk tugas itu. Hewan tak mampu mengalami hal ini, dan otomatis pula hewan tak terlanda perasaan frustasi yang mengganggu. Dan kesadaran diri inilah kemampuan tertinggi manusia, kemampuan yang mendasari pikiran manusia dalam membedakan ‘aku’ dengan dunia luar.

Manusia bisa berpikir secara abstrak, dapat berpikir tentang keindahan, penalaran, kebaikan… dan perasaan empati untuk merasakan penderitaan orang lain. Memikirkan diri sendiri sebagai suatu pribadi tersendiri saja, merupakan satu pengalaman kesadaran diri. Manusia mengalami dirinya sebagai satu unit yang berpikir, berintuisi, berperasaan. Kesadaran diri adalah pengalaman unik, tak ada dua orang yang mengalami sama.

Kepuasan ini adalah tujuan manusia, bukan semata-mata kebahagiaan, karena kepuasan itu adalah emosi yang diperoleh dalam melakukan apa yang ditanamkan oleh semesta dalam ciptaannya yang disebut manusia. Tingkat tertinggi dalam perkembangan kodrat manusia. Kesombongan dan keangkuhan diri merupakan tanda manusia out kosong dan meragukan dirinya, penampilan sombong sering kali digunakan untuk menutupi satu kecemasan.

Seperti dalam lukisan yang baik, latar belakang merupakan bagian yang integral dari seluruh lukisan.

Kata Spinoza kebahagiaan bukanlah hasil dari tindakan berbuat baik, melainkan tindakan berbuat baik itu sendiri. Empati secara harfiah berarti merasakan ke dalam, adalah perasaan atau pengertian yang begitu mendalam antara dua orang sehingga terjadi identifikasi pada tingkat tertentu antara keduanya.

Apakah ada sesuatu di dalam tubuh dan batin manusia yang menjalankan dan mengontrol seluruh kegiatan manusia. Konsepsi yang paling populer adalah konsepsi tentang jiwa. Dalam religi makan konsepsi jiwa ini abadi dan kekal, bebas dan berasal dari Tuhan. Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan psikologi sebagai ilmu empiris yang menggunakan metoda positif idea tentang dewa dan lainnya ditolak. Tuhan tidak akan menipu ciptaan-Nya.

Terapis harus terbuka, tidak menyembunyikan diri dibalik topeng pemisah, terapis harus menemui kliennya dengan perasaan dan batin yang terbuka pula. Dalam Behaviorisme mengemukakan teori bahwa semua aktivitas manusia adalah reaksi otomatis terhadap stimuli dan bukan sesuatu yang berhubungan dengan kesadaran. May berujar bahwa konseling merupakan seni, yang dapat dikembangkan lebih besar dari seni lain misalnya melukis atau seni musik. Orang yang memandang objek seni, bahkan dapat mengidentifisir dirinya dengan objek seni itu.

Teori Kepribadian Rollo May | by Ina Sastrowardoyo | Penerbit Balai Pustaka | BP no. 3661 | Cetakan pertama, 1991 | 126 hlm.: Bibl.; 21 cm | ISBN 979-407-330-X | Gambar Kulit B.L. Bambang Prasodjo | Skor: 5/5

Karawang, 191020 – Fred Astaire – They Can’t Take Away From Me (1952)

Thx to Lumbung Buku