Kusala Sastra Khatulistiwa 2020: Tepuk Tangan Untuk Am Siki

Pandemi dan efek panjang tagar #DiRumahAja. Tahun ini jauh lebih mudah diprediksi, karena hanya menampilkan satu buku dengan lima bintang. Tahun lalu saya meleset tebak, duel Teh versus Tango berakhir dengan kemenangan Bung Iksana Banu.

Sejatinya saya lebih suka satu cerita dalam satu buku, maka kumpulan cerpen dirasa terpenggal-penggal. Namun tetap, toh keduanya lima bintang jadi sangat layak menang, apalagi ini kemenangan kedua beliau dekade ini, jadi terasa familiar. Kunikmati penantian pengumuman di warung bakso dan kopi bersama teman kerja selepas Magrib (Apa kabar Pak David?).

Tahun ini terjadi pandemi, kejadian yang tak pernah kubayangkan akan mengalami langsung. Pandemi sebelumnya, hanya kubaca di buku-buku sejarah, atau kalau pun sudah abad ini, terjadi di belahan bumi lain. Oscar tahun ini mencetak sejarah, memenangkan film Korea, pertama kalinya Asia menyabet piala tertinggi. Parasite hebat! Setelahnya tak banyak yang bisa dicerita sampai Oktober, sebab korona membatasi gerak. Saya tak keluar kota Karawang sama sekali. Dan beruntungnya kita di era digital, kesepuluh buku dikirim bertahap dari dua toko buku.

Kisah-kisah Perdagangan Paling Gemilang bersama Creative Writing dari Banana, dikirim bulan Juni dari Dema Buku dan langsung kulahap di bulan yang sama, otomatis langsung kuulas dalam event #30HariMenulis #ReviewBuku. Sudah kuprediksi Kisah Perdagangan masuk KSK dengan catatan penutup Goodluck for KSK20. Saat diumumkan seluruh nominasi, saya belum baca Sembilan. Tahun ini lebih mudah mendapatkannya karena dominasi Penerbit Basa-Basi, tokonya memberi paket tiga buku dalam sekali kayuh. Enam lainnya kubeli dalam tiga kali klik dari toko buku langganan Dema Buku bersama Pandemik! dan Cerita, Keberanan, Bualan. Selesai kubaca semua Sabtu malam (10/10/20).

Berikut ulasan singkatnya, disusun berdasarkan urutan baca.

#1. Kisah-kisah Perdagangan Paling Gemilang by Ben Sohib

Tentang para pedagang yang apes digelitik takdir. Jualan batik, malah yang dipesan beli surat cetak. Jualan tanah, Yohannes Soekatja sang calon pembeli malah koit. Jualan tanah lainnya, lapangan yang tampak baik-baik saja menjelma danau dadakan berkat hujan deras. Jualan benang, ditinggal pergi eh baliknya sudah buat mainan layangan anak-anak. Sungguh gemilang, dan bagaimana upaya pembaca menahan tawa komedi Betawi. “Yang setengahnye lagi die janji mau lunasin akhir bulan.”

#2. Burung Kayu by Nudiparas Erlang

Tentang kehidupan suku pedalaman menahan gempuran modernitas. Suku-suku di Mentawai memiliki konfliks internal, masuklah pembaruan sekaligus masalah eksternal: kebudayaan baru, agama baru, tatanan baru dari Pemerintah Indonesia. Bagaimana burung kayu di puncak pohon menjadi simbol perlawanan. “Mengapa dendam dan pertikaian tak berkesudahan?”

#3. La Muli by Nunuk Y. Kusmiana

Tentang gotong royong membangun tembok kamar mandi di Papua. Tak semudah itu mencipta tempat tertutup terbatas. Orang-orang malah bergunjing dan kekerasan terjadi. Bagaimana La Muli menjadi ketua RT (dirasa) memunculkan banyak masalah baru sebagai nelayan yang tamasya rutin ke laut tiap malam. “Mengapa ada orang yang tega mengurusi bagaimana caranya orang mandi?”

#4. Rab(b)i by Kedung Darma Romansha

Tentang lingkaran sosial dunia telembuk, dangdut sawer, pak kaji yang wibawa, pak ustaz galau, sampai kasinoman. Ada satu cerita yang menjawab tanya terkait kematian Mak Dayem, legenda kisah di Telembuk. Diambil sudut dari sisi yang sang korban. Siapa yang sanggup menjawab rahasia mimpi-mimpi? “Semua orang takut sama kakakmu, tapi rasa cintaku lebih besar dari rasa takutku.”

#5. Kawi Matin di Negeri Anjing by Arafat Nur

Tentang perjuangan rakyat miskin, kekurangan fisik, nasib apes menyelingkupi sepanjang hidup. Kalau suram adalah koentji maka ini adalah kunci super yang kodenya canggih sebab Kawi Matin memenuhi perjalanan tadir penuh kesedihan. Bagaimana ia mencoba mengangkat senjata demi kesumat. “Berjuang untuk kemerdekaan atau berperang untuk balas dendam, apa bedanya?”

#6. Surat-Surat Lenin Endrou by Maywin Dwi-Asmara

Tentang kehidupan keluarga, pasangan yang mendapati surat-surat pasien, dan tebaran masalah remeh temeh. Kenapa daun berbisik? Lumpuh yang merambati mimpi, tawa setan, dst. Bagaimana kombinasi aneh membuat konfliks yang juga malah makin aneh. “Betapa menyenangkan melihat kau menikmati makananmu.”

#7. Leak Tegal Sirah by I Gusti Putu Bawa Samar Gantang

Tentang pembersihan PKI dan segala yang berhubungan pasca G30S. Bali dengan segala mistis relijiusnya. Magis menghanyutkan. Koran lokal lalu menulis tentang leak tegal sirah gentayangan, dua puluh arwah penampakan tanpa kepala yang menenteng kepala sendiri. Bagaimana memberi ending yang melegakan? Dendam yang dituntaskan. “Menurut kepercayaan leluhur kita, suara gagak tunggal itu pertanda…”

#8. Orang-orang Oetimu by Felix K. Nesi

Tentang Am Siki dan turunan tidak langsung, tentang Nona Silvy dan pilihan pasangan hidup, tentang Romo Yosef yang melakukan rombak birokrasi sekolah, tentang orang-orang Oetimu menghadapi perubahan zaman. Hingga akhirnya final Piala Dunia 1998, dua sundulan Zidane mengantar nasib buruk Sang Sersan di belahan bumi jauh di Timur sana, saat gerombolan pasukan dendam memenggal kepala pengantar tuan rumah. “Tidak boleh dibunuh, sekalipun itu orang jahat. Ingat? Tidak boleh diperkosa, sekalipun itu kuda…”

#9. Makan Siang Okta by Nurul Hanafi

Tentang kunjungan teman SD dengan motif meminjam buku. Okta sedang makan siang, ibu sedang mengupas kentang, dan Tendy sang tamu yang memerangkap momen. Begaimana gemuruh percakapan dalam kepala lebih riuh daripada ungkapan kata secara langsung. “Buku kok isinya gambar semua.”

#10. Ketua Klub Gosip dan Anggota Kongsi Kematian by Yetti A. KA

Tentang peran serta sosial dan hembusan isu. Mertua yang menjabat ketua klub gosip, suami yang menjadi orang yang menarik dana duka cita, dua anak yang harus selalu dilindungi dari bahasan kemerosotan moral para tetangga. Bagaimana sejatinya hal-hal sederhana itu diramu menjadi narasi asyik. Menjadi tua, ya kita akan tua semua, merajut, memotong kuku, dan obrolan genting tetangga yang miring. “Saila, nama itu terlalu bagus untuk seorang pengemis.”

KSK 20 saya rasa kental sisi etnografis. Kalau mau direkap: Nomor satu Betawi, dua Mentawai, tiga Papua, empat Indramayu, lima Aceh, enam daerah antah, tujuh Bali, delapan Nusa Tenggara Timur, Sembilan daerah antah bernama ruang tamu haha, sepuluh lebih antah lagi dalam balutan psikologi. Lihat, ada tujuh yang meletakkan setting tempat khusus untuk bercerita. Kecuali Surat Lenin, yang lainnya masuk daftar pendek.

Mari kita telusur. Skor terendah ada di Surat Lenin, saya tak suka cerita nyawang-nyawang, kalau kata Cak Mahfud, “Penulis prosa kita seringkali mengorbankan cerita demi mencapai puncak tertinggi diksi.” Kisah Perdagangan adalah kebaliknya, cerita yang utama, diksi tak muluk-muluk, (hampir) semua cerpennya sungguh kocak, sangat layak melaju,. Sayang satu cerpen tentang Don Quixote agak menurunkan harap. Banana luar biasa, seperti biasa menerbitkan karya dengan jaminan kualitas. Pada akhirnya, hanya emosilah yang menggerakkan kita untuk bertindak. Burung Kayu jelas tak nyaman, jelas ada yang dirasa kurang. Tema suku pedalaman menahan gempuran modernitas, bukan barang baru, dan juara sastra harus memiliki keintiman kisah lebih dari itu. Kemajuan, menurut pendapat mereka, terus bergulir, tanpa putus, di sepanjang sejarah modern. Rab(b)i adalah kesempatan kedua Bung Kedung ke daftar pendek. Tahun 2017 nyaris sekali Telembuk menang, sama bagusnya dengan Dawuk. Apes terbit di tahun yang berdekatan. Kalaupun Rab(b)i menang, saya tentu sangat setuju karena memang sangat bagus mendeskripsikan dunia pelacuran dalam lingkup orang-orang bawah. Namun, sekali lagi tahun ini jelas milik Orang-orang Oetimu yang powerful!

Ketika saya terhenti sejenak di angka delapan, pada sebuah malam minggu (26/09/20) saat itu dapat separuh baca, saya kirim chat ke Takdir: ‘Juara tahun ini Orang Orang Oetimu, baru separuh baca tapi terasa keren. Buku kedelapan sejauh ini paling bagus. Ke 9 dan 10 otw. Pengalaman baca jadi bisa tahu mana bagus mana jelex…’ Minggu paginya kuselesaikan separuhnya, dan memang benar-benar istimewa. Siangnya muncul pengumuman daftar pendek, buku ke 9 dan 10 otomatis gugur.

Saya suka sekali kisah hidup tragis, Bung Felix menyajikannya dengan melimpah ruah, suram adalah koentji. Tahun ini jauh lebih mudah diprediksi, karena hanya menampilkan satu buku dengan lima bintang. Yakinlah, Marjin Kiri siap menerbitkan kover baru dengan stempel juara KSK20, bersanding DKJ19. Fiksi Etnografis Sempurna. Marilah… kepada Am Siki kita kasih applaus yang paling meriah…

Karawang, 141020 – Robert Johnson – Cross Road Blues (1936)

Thx to Titus RP, Rani Skom, BasaBasi Store, Tokopedia, Shope, Dema Buku…

Dengarkan juga podcast Mokondo dari Bung Takdir, Sportify prediksi KSK dan ulasan singkatnya: https://anchor.fm/m-takdir/episodes/Mokondo39–Orang-Orang-Oetimu-dan-Kusala-Sastra-Khatulistiwa-2020-eksa4i