Sayatan Tajam Bernama Imaji

Ketua Klub Gosip dan Anggota Kongsi Kematian by Yetti A. KA

Aku suka ide cinta tak masuk akal.”

Kita sudah di garis finish… di rumah Kinoli.

#1. Alangkah Gelap Pagi Itu, Jan

Pembuka yang bagus. Kematian yang tak disangka di bawah pohon kelapa. Pembunuhan terhadap Jan, dan permintaan untuk tak meratap kepada Sare, sang pembunuh yang tak terungkap. Biar aku sendirian yang benar-benar menangisi Jan. biar kesedihanku abadi.

#2. Saya Hanya Berdiri dan Melihat Semuanya

Pertunjukan dan rencana pembunuhan yang ditata. Saya tidak biasa tunduk pada peraturan yang dibuat orang lain. Saya seorang pembunuh dan punya aturan sendiri. Perempuan telanjang dan darah yang mengalir, ini hanya pertunjukan. Ia sudah mematikan seluruh inderanya saat memulai pertunjukan itu. Elia dan keberagaman sandiwara. Ia sedang bermain-main dengan sesuatu yang terpendam di bagian terdalam dari diri manusia dan memancingnya keluar.

#3. Ia dan Moora Berjumpa di Taman Remaja

Perjumpaan dengan karakter buku di taman. Dari novel berjudul Moora, Noda yang mengalami broken home mencoba berdamai dengan imaji, mengajak Moora untuk berjumpa. Dunia memang tempatnya masalah, betapa sering ia ingin meninggalkan dunia yang penuh masalah ini. Maka setiap orang tuanya bertengkar, ia mencoba mengalihkan pikiran. Temannya itu bilang, kalau kau bosan, bacalah sebuah buku. Akhir yang pilu untuk jiwa yang kalut.

Moora belum terbiasa keluar dari dalam novel dan menemui pembacanya.

#4. Semua Bermula Ketika Seekor Ikan Mati

Cerpen paling panjang dalam penelusuran. Birla mati bunuh diri, seorang istri yang posesif. Kepalamu dipenuhi cinta yang posesif. Ia tidak suka sesuatu yang berbau kematian. Berhentilah menanyakan hal-hal tidak penting. Suaminya sering tugas luar, psikolognya yang mencurigakan, adik yang jahil dengan bangkai tikus, kakaknya penyayang yang suka dunia malam.

Apa ikan yang sudah mati masih bisa merasakan senang atau tidak? Bagaimana rasanya mati? Nah, ikan hadiah suaminya mati lalu menghantui bersama pohon cabai tempat bangkai ikan disemayamkan. Birla ditemukan gantung diri di jendela lantai atas, penelusuran benang merah dengan beberapa sudut pandang. Endingnya, kita tahu ada ‘makhluk’ yang menggerakkan Birla.

Saya iri kepada orang yang selalu mengeluh, terus merasa punya masalah.

#5. Perempuan yang Memegang Tali Anjing

Kisah paling absurd, bagaimana orang tua penjaga toko buku dan pengunjung tetap wanita dengan anjing yang diikat. Ia tahu, hanya dengan kembali ke dunia kanak-kanak ia bisa selamat dari keruntuhan moral yang menggerogotinya.

Masel dan putaran tanya di depan toko.

#6. Apa Nama Baumu?

Kau ini punya air mata banyak sekali, jangan-jangan kau anak lautan ya? Waktu sesusiamu, aku merasa bisa menjadi bermacam-macam binatang atau benda-benda. Tapi kemudian aku memilih menjadi malam.” Lonely yang ditanya, kelelawar yang bertengger. Tak ada orang yang menyenangkan di kota ini. Tak ada tempat yang tak membuatnya merasa sepi. Ia duduk di trotoar dan mulai membayangkan apa saja yang bisa ia lakukan. Ia benar-benar ingin berubah menjadi malam saja.

Aku mau menjadi malam saja biar bisa sembunyi dalam warnanya yang gelap. Karena kau anak lautan dan aku adalah malam, kita sama-sama orang yang aneh.”

#7. Dia yang Sering Menerobos Pintu

Miy yang menjadi tempat bercerita, gadis yang sering menerobos pintu bisa setiap saat lalu berkata-kata. Paras, korban kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak. Dan Miy yang lalu berkeluh kepada ibu, dan psikolog yang pernah menemaninya di waktu remaja, Bu Wiwih. Paras tak lagi datang menerobos pintu, Bu…

#8. Mereka yang Berkumpul di Kebun Portulaca

Ini semacam lanjutannya, masih dengan Miy yang galau. Orang tua yang bertengkar, Miyla yang berada di sisi Mamanya. “Mama salah karena tidak mampu memberimu masa kecil yang pantas.” Di bawah jendela kamar, portulaca sudah hampir mati.

#9. Rumah di Langit

Hikayat peminta-minta, pencari derma yang di hari biasa bersekolah, di hari libur menjalankan misi memasang raut kasihan demi duit. Rumahnya di bukit, di atas sana. Keluarga Ovias yang baik hati menampung Saila? “Saila, nama itu terlalu bagus untuk seorang pengemis.”

#10. Bukalah Matamu

Lalit suka membaca. Vonil yang dirundung kesepian. Vonil dan suami yang berduka memimpikan keturunan setelah sepuluh tahun lalu, gagal. Sampai kini setiap percobaan tidak berhasil karena mereka semua menjelma butung, mereka terbang membawa bayi dalam paruhnya.

#11. Sasali Masih Menunggu

Mungkin ini yang terbaik, dalam berbagai sudut mencari benang pararel waktu, siapa yang benar? Sasali yang menunggu dijemput ayahnya di dalam kelas, gurunya yang menemani sampai bosan sebagai bentuk tanggung jawab, dan ayah yang terlambat ke sekolah?

Dan tas Sasali yang tergeletak di atas meja tanpa penjelasan. Yuhuuuii….

#12. Ribuan Ikan Berenang dalam Mata Itu, Daun-daun Melayang dalam Mataku

Tentang hakikat menunggu, sabar adalah kunci dan ia belajar dengan sangat bagus kepada neneknya yang menatap tembok. Sangat sederhana. Aku telah terbiasa dengan kehilangan semacam itu. Apa yang paling kau inginkan dalam hidup? Aku menjawab dalam hati: menunggu seseorang.

Keajaiban sering menjawab kebingungan seseorang.

#13. Lelaki yang Bercerita Pada Marinda

Betapa malang dia yang mati tanpa melihat kebenaran yang sesungguhnya. Dunia muda yang berapi-api. Ia hanya akan membuat satu tato seumur hidupnya dan itu tak memerlukan keahlian yang terlalu dalam. Terlebih Marinda bilang, Jangan pikirkan bagus tidaknya, yang penting tanganmulah yang membuatnya.

Tato kupu-kupu yang menjadi simbol kebersamaan, orang istimewa yang meletakkannya di tubuhnya. Dan di masa depan berpisah. Kita sampai pada kesepakatan untuk tak saling menghubungi demi kebaikan bersama, kita yang harus menyimpan semua masa lalu sedalam-dalamnya.

Aku mencintaimu. Lantas pergi?

#14. Gerbong Kereta

Setiap cinta ada batas waktunya. Mantan kekasih yang menemui kembali walau sudah memiliki pasangan. Di kamar hotel dari beberapa sudut yang melelehkan jiwa, serta darah. Vegetarian-nya Han Kang menjadi saksi sebuah pertemuan terlarang nan kriminal? Di gerbong kereta, aku dan hati kekasihku menguap, lalu perlahan hilang.

#15. Pasangan Bahagia

Hidup normal itu memangnya yang seperti apa lagi? Kau bisa menikah dnegan orang kaya dan kau dapat membeli apa yang kauinginkan, maka tak ada hidup yang lebih normal itu.
Hakikat bahagia itu apa? Tali yang membuncah sampai bosan dijejali kebahagiaan.

#16. Teman Duduk

Teman ngobrol di sebuah bar, dengan vape dan asap yang berkelindan. Setiap leher wanita itu cantik. Pertemuan, perpisahan. “Aku benci bibirku yang hanya bisa tersenyum. Aku benci kepada diriku sendiri.”

#17. Sepupu

Sang sepupu yang memutuskan ganti agama dan pergi jauh dari kelurga. Sang Aku yang dibesarkan bibinya merasa nggak enak karena ia diam-diam menemui sepupunya. Di zaman berat ini, banyak orang mengalaminya, tapi bedanya kau melakukannya, menanggung dosa dan mereka tidak. Sain yang berprestasi di olahraga memutuskan pensiun, demi untuk menjadi pembaca doa yang taat. Kaus kaki terkahir yang disimpan, dan segala kenangan itu melonjak tinggi dalam kepala.

#18. Ketua Klub Gosip dan Anggota Kongsi Kematian

Lucu nan ironi. Pantas sekali dijadikan judul buku. Keluarga yang kompleks, mertua yang suka bergosip, anak-anaknya yang dilindungi dari gosip, suaminya yang menjadi petugas menarik dana duka cita. Ibu satu-satunya orang yang berusaha keras menjauhkan kami dari gosip seputar kemerosotan moral. Lalu suaminya meninggal dunia, siapa yang menarik dana?

Dua anak lelaki sudah cukup bagi ayahku untuk menjadi pria paling bahagia di dunia.

#19. Menjadi Tua

Syukurlah, penutupnya bagus banget. Hal sederhana (saya suka yang sederhana) dalam bertumbuh tua bersama, dituturkan dalam kelambanan, ya karena para karakter sudah tua. Miki menua bersama kedua orang tuanya. Kakaknya meninggal muda, dan ia gagal menikah sehingga rumah mereka sepi dari celoteh anak-anak. Merajut dalam sunyi bersama ayah-ibunya yang kini berusia 90-an, Miki kini 60-an. Bergosip serba lambat, tetangganya yang harus segera membetulkan genting, warna rajut seharusnya, sampai jempol kaki berdarah. “Seharusnya kau menggunakan benang merah untuk topi itu”, kata ibunya dengan suara yang lemah.

Penyakit mental yang menghasilkan delusi, halusinasi, dan bentuk-bentuk yang barangkali, secara fundamental, merupakan disfungsi hati dan pikiran. Buku terakhir Kusala Sastra Khatulistiwa 2020 yang kubaca. Lumayan bagus, lebih OK ini dari Surat-Surat Lenin, sama-sama mencoba ngawang-awang tapi Ketua Klub terasa lebih kuat isi ceritanya. Beberapa bahkan lucu (hantu penarik dana kematian), beberapa ironis (keseringan bahagia, ingin merasakan sedih), sampai menyodorkan tema absurd (mantan kekasih datang lagi untuk bercumbu, padahal punya gadis lain), dst. Hal-hal yang sejatinya enak dibaca, dibuat menyimpang dan tampil dalam pilihan diksi.

Bagus, rerata saya suka cerpennya. Permainan psikologi tentang eksistensi pribadi manusia. Manusia berkodrat untuk dapat mentransendenkan trauma, kesakitan dan penghinaan yang dialaminya pada masa yang telah lewat. Eksistensi mendahului esensi, maka pribadi manusia adalah pilihan sendiri.
Hal-hal sederhana yang disajikan malah mendekatkan manusia kembali pada realitas kehidupan. Kata Martin Heidegger dari Jerman, yang meneliti eksistensi manusia terutama tentang kecemasan, kenisbian segalanya dan kesadaran manusia akan kematian. Ada yang bilang Heideggar seorang ateis, ada yang bilang pula ia seorang mistikus, tapi dengan jelas ia mengatakan bahwa dirinya, “sedang menunggu kedatangan Tuhan.”

Begitulah, Ketua Klub Gosip menjadi kumpulan cerita pendek yang melatari sisi dalam setiap individu. Dengan tema beragam dan beberapa minim penjelasan menjadikannya lebih asyik sebab beberapa yang membingungkan malah menarik. Ia mempertahankan pentingnya transendensi. Bagaimana jadinya kalau gosip sedih itu dimulai dari orang yang kita kasihi?

Ketua Klub Gosip dan Anggota Kongsi Kematian | by Yetti A. KA | Penyunting Avifah Ve | Penyelaras akhir Athena | Tata sampul Sukutangan | Tata isi Vitya | Pracetak Antini, Dwi, Wardi | Penerbit Diva Press | Ceatakn pertama, April 2020 | 196 hlmn; 14 x 20 cm | ISBN 978-602-391-908-6 | Skor: 4/5

Karawang, 121020 – Bill Withers – Lean on Me (1973 live)

Thx to Rani skom, Dema Buku, Tokopedia

Sepuluh dari sepuluh, Done – KSK 2020