Pandemik, Gladi Bersih Menghadapi Perubahan Iklim

Pandemik! By Slavoj Zizek

Krisis virus akan memungkinkan kita untuk fokus pada pertanyaan apakah sebenarnya hidup kita ini.”

Buku tipis yang padat nasehat, atau setidaknya informatif karena kesimpulan akhir kembali ke pribadi. Untuk kelangsungan hidup, umat manusia dalam peranannya bertahan dari gempuran penyakit, musibah, atau petaka lain.

Virus bukan musuh yang mencoba untuk menghancurkan kita – ia hanya mereproduksi-diri dengan otomatisme buta. Buku penutup bulan September (30/09/20), kuselesaikan baca saat di Blok H lantai satu, Karawang malam jelang Lazio lawan Atalanta. Saya belum pernah baca buku filsuf Slavoj , promo buku ini beberapa kali muncul di beranda sosmed, sebagian hanya kutipan-kutipan. Pemikirannya nyeneh juga, pandemik corona ini dikupas dengan sangat bagus. Sudut pandang yang diambil (terlihat) liberal, tak menyudut satu pihak, tapi berulang kali berujar efeknya ke arah komunis. Agama adalah tekstur kompleks dari dogma, intuisi, praktik sosial dan individu… Perubahan sosial radikal diperlukan jika kita ingin mengatasi konsekuensi dari epidemik yang sedang terjadi. Seperti kata pepatah: dalam krisis kita semua Sosialis. Triliyunan akan dihabiskan dengan melanggar semua aturan pasar konvesional.

Karena bacaanku yang terbatas, tulisan pembuka terdengar ganjil nan lucu, judul “Janji Temu di Samara” terasa fresh, bagaimana seorang pelayan bertemu dengan malaikat pencabut nyawa di pasar, saking takutnya ia minta izin kepada bosnya untuk kabur, dengan kuda melaju mengamankan diri di Samara, Izrail sendiri juga terkejut karena identitas yang akan dimatikan itu seharusnya di Samara yang jauh, bukan di pasar. Haha…itulah yang namanya takdir, sudah tertulis di atas sana. Seperti itukah kematian? Kematian massal di masa pandemi ini? Di antara susunan segala sesuatu yang lebih besar, kita hanyalah spesies tanpa kepentingan khusus.

Epidemik virus corona ini sendiri jelas bukan hanya fenomena biologis yang mempengaruhi manusia: untuk memahami penyebarannya, kita harus mempertimbangkan pilihan budaya manusia (seperti kebiasaan makan kita), ekonomi dan perdagangan global, jaringan tebal hubungan internasional, mekanisme ideologis dari rasa takut dan panik. Krisis virus corona adalah ‘gladi bersih’ menghadapi perubahan iklim yang akan datang yaitu “krisis berikutnya, krisis di mana reorientasi kondisi kehidupan akan dianggap sebagai tantangan bagi kita semua, seakan semua detail kehidupan sehari-hari harus kita pelajari untuk memecahkan persoalan dengan hati-hati.”

Banyak sekali aturan baku dalam hidup ditabrak selama pandemi. Salat harus rapat, sekarang justru kita renggangkan. Kebijakan Pemerintah yang ketat dalam pengelolaan pengeluaran, sekarang jor-joran BLT demi kelangsungan umat. Dengan kebijakan-kebijakan seperti ini, uang tak lagi berfungsi secara kapitalis tradisional; uang menjadi voucher untuk mengalokasikan sumber daya yang tersedia sehingga masyarakat dapat berfungsi, di luar batasan hukum nilai. Berusaha meminimalkan dampak virus melalui isolasi dan karantina, kita hanya akan mengundang bencana kehancuran ekonomi dan kemiskinan jauh lebih parah daripada persentase kematian yang relatif kecil dari virus.

Oleh Zizek, virus ini justru dipandang ‘remeh’. Virus-virus bodoh yang secara membabi buta mereproduksi diri mereka sendiri – dan bermutasi. Dalam sebuah protein: mereka menginfeksi hewan, tumbuhan, dan bakteri dan bereproduksi hanya dalam sel hidup: virus dianggap sebagai unit kimia yang tak hidup atau kadang-kadang sebagai unit organisme hidup. Virus bukanlah bentuk dasar kehidupan yang berkembang lebih kompleks, mereka murni parasit, mereka mereplika diri sendiri dengan menginfeksi organisme yang bisa lebih berkembang (ketika virus menginfeksi kita, manusia hanya berfungsi sebagai mesin penyalin). Seperti virus komputer yang bereproduksi dengan cepat saat kena klik atau bersentuhan, corona menjalin hubung dengan perantara makhluk hidup. Patogen yang virulensinya mengerikan serta telah mengubah kondisi kehidupan semua penghuni planet bukanlah virus, tapi umat manusia.

Perkembangan teknologi membuat kita lebih mandiri dari alam dan pada saat yang sama, pada tingkat yang berbeda, lebih tergantung pada kehendak alam. Ketika saya menghindari mereka yang akrab dengan saya, saya sepenuhnya mengalami kehadiran mereka, pentingnya mereka bagi diri saya. Sekarang main Zoom, WA Video, sampai Google Meeting menjadi sebuah rutinitas. Baik urusan kerja atau kelurga, efek ini memberi arti pentingnya kehadiran nyata saudara/teman.

Di mula pandemi saya sempat baca di surat kabar bahwa nantinya ada kemungkinan herd imun, di mana yang bertahan hanya yang terkuat karena semua akan memiliki kekebalannya sendiri. Orang harus memahami bagaimana menerima logika ‘survival of the fittest’ yang melanggar prinsip dasar etika militer. Negara-negara maju Barat bereaksi berlebihan karena mereka terbiasa dengan kehidupan tanpa musuh nyata. Ada kemungkinan, kelompok ektrimis mengadopsi stategi NAZI “Biarkan yang tua dan yang lemah mati” untuk memperkuat dan meremajakan bangsa. Sekarang setelah Sembilan bulan mengakrabi keadaan, tampak segala kemungkinan masih ada. Termasuk proses pembuatan vaksin yang infonya memasuki tahap akhir.

Dampak nyata di depan kita adalah ekonomi, banyak sektor terpuruk. Pekerjaan yang membutuhkan perjalanan, kumpul-kumpul, atau potensi memunculkan potensi penularan dipenggal seketika. Coba pikirkan jutaan lainnya, seperti yang ada di dunia industri pariwisata, yang pekerjaannya, untuk sementara waktu setidaknya akan hilang dan tak ada artinya. Nasib mereka tak dapat diserahkan kepada mekanisme pasar belaka atau stimulus satu kali pakai. Bagaimana proses produktif kita (metabolisme kita dengan alam, seperti kata Marx) adalah bagian dari metabolisme di dalam alam itu sendiri. Sistem seperti yang kita kenal berada dalam krisis yang mendalam, bahwa ia tak dapat berjalan dalam bentuk permisif liberal yang ada.

Epidemik adalah campuran di mana proses alam, ekonomi dan budaya saling terkait. Oleh Zizek ditambahkan dua: Pertama, sebagai manusia kita adalah satu di antara para aktan dalam kesatuan yang kompleks; hanya dan hanya jika sebagai subjeklah kita dapat mengadopsi ‘pandangan bukan manusia’ yang darinya kita dapat (sebagian, setidaknya) memahami kesatuan aktan yang mana kita menjadi bagian. Kedua, ‘nilai-nilai dan kepercayaan’ tak boleh diabaikan begitu saja: mereka memainkan peran penting dan harus diperlakukan sebagai mode khusus kesatuan.

Zizek menemukan masalah dalam penggunaan istilah ‘perang’ untuk perjuangan kita melawan virus. Virus itu bukan musuh dengan rencana dan strategi untuk menghancurkan kita, virus hanyalah sebuah mekanisme bodoh yang mereplikasi diri sendiri. Ini adalah gagasan dunia seperti di mana Anda punya apartemen, tercukupi kebutuhan dasar seperti makanan dan air, cinta dari orang lain dan tugas yang berfaedah, semua itu jadi berharga lebih dari sebelumnya.

Kukira judulnya Panik!, ternyata ada huruf ‘dem’ di insert ‘I’ sehingga jadi Pandemik! Termasuk buku terbitan luar update, aslinya dari OR Books yang terbit tahun ini. Makanya sungguh beruntung kita hidup di era digital, menikmati karya bisa dalam waktu rentang bentar dari aslinya! Kita memperlakukan alam semesta sekadar sebagai mitra dalam komunikasi.

Hidup adalah hari ini. Jangan terlalu banyak berpikir dalam jangka panjang, fokus saja pada hari ini, apa yang akan Anda lakukan sampai tidur… Kita masing-masing bertanggungjawab secara pribadi dan harus mengikuti aturan baru. Kita terjebak dalam tiga krisis: medis (epidemik itu sendiri), ekonomi (yang terpukul keras apapun dampak epidemik), dan psikologis.

Jika kehidupan pada akhirnya kembali ke arah normalitas, tidak akan sama dengan keadaan normal seperti yang kita alami sebelum wabah. Mari hadapi New Normal ini bersama dengan optimisme. Immanuel Kant menulis, “Patuhi, tetapi pikirkan, pertahankan kebebasan berpikir.” Apa yang salah dengan sistem ketika kita tak siap menghadapi bencana meskipun ilmuwan telah memperingatkan kita tentang hal itu selama bertahun-tahun.

Janganlah kau sentuh aku,” menurut Injil Yohanes 20:17, percakapan Yesus kepada Maria Magdalena ketika dia mengenali Yesus setelah kebangkitan. Kita tak belajar apa pun dari sejarah, jadi saya ragu epidemik akan membuat kita lebih bijaksana. Dari segala permasalahan yang mendera masa ini. Apakah kita (benar-benar) belajar sesuatu darinya?

Pandemik! Covid-19 Mengguncang Dunia | By Slavoj Zizek | Copyright 2020 | Diterjemahkan dari Pandemic! COVID-19 Shakes the World | Terbitan OR Books | Penerjemah Khoiril Maqin | Penyunting Arif Novianto | Tata letak Wahyu Budi Utomo | Sampul buku @sadternal | Penerbit Independen | Cetakan pertama, Mei 2020 | xii + 137 hlm, 14 x 20 cm | ISBN 978-623-93362-I-9 | Slor: 4.5/5

Karawang, 051020 – Sol Hoopii – Hula Girl (1934)

Thx to Titus Pradita, Dema Buku, Tokopedia

UU Cipta Kerja disahkan