Malam Kudus Liga Champions

Inzaghi: “Saya beruntung punya Tare sebagai direktur olahraga, dia paham akan tugasnya… kami butuh kedalaman skuat karena mulai Oktober akan bertanding tiap tiga hari sekali.”

Catatan ini saya buka dengan kutipan dari omongan Inzaghi kala Lazio resmi kita ke Liga Champions. Dan catatan ini akan saya tutup dengan kutipan Inzaghi pula, plus Tare yang kita semua banggakan.

Setelah belasan tahun menunggu momen ini, akhirnya Kamis (01/10/20) mulai jam 22:00 sampai tengah malam, Lazio masuk dalam undian Liga Para Juara, sebuah malam suci yang harus dicatat. Sejak kepastian Lazio masuk empat besar Serie A, menang meragukan atas Cagliari di Olimpico 2-1, dirayakan dengan berlebihan di lapangan pasca laga yang tanpa penonton, antusiasme Laziale mencapai titik didih. Sampai foto-foto merayakan meriah sekali, minus konveti. Kita ke Champions! Kita kembali bermain di kasta tertinggi Eropa. Habitat kita.

Setelah belasan tahun menunggu momen ini, saya terkejut karena lawan-lawan kita malah relatif sederhana (mau ngomong relatif mudah, nggak enak sama Liga Antah yang itu), seolah ini kembali ke Liga Europa. Saya menyebutkan Liga Sparing, karena liganya panjang dan kurang prestis, apalagi main di malam Sunnah Rosul, liga latihan buat pemain cadangan. Maka naik kasta ini harus dirayakan. Berminggu-minggu menantinya berharap mendapat lawan sepadan, misal menjajal Barcelona atau minimal dapat Bayern Muenchen, dan saya harus bilang pupus sudah. Lawannya partisipan klub kelas B, yang sekali lagi, ini sungguh relatif sederhana.

Setelah belasan tahun menunggu momen ini, saya ketawa saat host cewek acara kocok-kocok melongo beberapa detik setelah nama S.S.Lazio (ITA) dibacakan Didier Drogba – yang gundul dan tetap memikat. Detik-detik kepastian itu begini kronologinya. Pot satu dan dua sudah dikocok dan diposisikan di tiap grup. Barcelona ada di G, Bayern ada di A. Kegagalan pertama itu dipastikan ketika nama Barcelona menyusul Juventus, aturan tim satu Negara dalam satu grup tidak boleh. Untuk opsi cadangan, adegan menuju Bayern nyaris sekali, menyisakan dua bola antara Salzburg dan The Great! Bayangkan hanya sejengkal gan, dua tim doang! Rasanya seperti memukul jantung tiap bunyi ‘klenting klenting klenting’ dua bola beradu dalam bejana kaca mendebarkan sekali. Deg-degan… laiknya menanti pacar setelah seminggu tak bertemu. Berdebar-debar jantung hatiku, Dek. Detik-detik Drogba membuka bola dan merenteng kertasnya… dan harapan itu tak terkabul. Kopiku tumpah kepancal! Afu.

Setelah belasan tahun menunggu momen ini, saat dua jam sebelum mulai. Saya memutar film I am Thinking of Ending Things karya Charlie Kaufman, dapat lima belas menit di adegan pembacaan puisi. Turut pening saat seorang gadis membacakan syair itu kepada Jake pacarnya dalam perjalanan diperkenalkan kepada calon mertua. Pening yang syahdu ya, bukan pening stress. Jadi membayangkan, keren juga membacakan puisi dalam mobil sama orang terkasih, ketimbang sekadar nyala radio. Maksudnya yang terkasih itu Sherina ya. Akhirnya balik lagi jempol ini memainkan WhatsApp (WA). Di grup Football on Chat (FOC) ada kuis The Great bakal kebobolan berapa? Dengan pede kujawab 4 (empat)! Mau lawan Bayern atau Lokomotiv sama saja, ini Champions jreng jreng jreng bro. Strakosha akan setangguh Neuer, Radu kokoh bak tiga roda, Immobile akan tetap tajam dengan kaki dan kepalanya, dapat berapa pinalti Pak? Lalu kita buat kuis tandingan, berapa gol yang digelontorkan Lazio selama fase grup? 17 adalah nomor keramat Ciro. Laga perdana dilakukan 20-21 Oktober ini, hanya tiga minggu dari sekarang. Pasang sabuk pengamannya saudara-saudara, sekarang. Partai-partai liga champion bukan untuk penonton berjantung lemah.

Setelah belasan tahun menunggu momen, inilah saatnya Lazio membuktikan kepantasannya. Sempat panas dingin menanti transfer resmi bintang-bintang yang masuk. Akhirnya bulan September kran itu dibuka. Lotito menjanjikan tujuh bintang. Semacam teka-teki Tujuh babak. Dimula dengan nama-nama antah semacam Escalante dan Akpa akpro (gratis) yang dicomot dari Lazio academy, maksudnya Salernitana. Lazio-Salerno memang satu keluarga. Kalian jangan ketawa, Emanuele Cicerelli contohnya. Januari lalu resmi ke Lazio, setengah musim tak jelas, bulan kemarin balik dipinjamkan, ya ke sana lagi lah. Ajaib emang, kantong kiri dan kanan diputar mulu. Rekening satu dan dua sama saja. Lalu ketiga kiper senior Pepe Reina (gratis lagi dong) yang malang melintang ke banyak klub besar dan semenjana, walau mayoritas menjadi cadangan. Pas sparing kemarin lumayan bagus sih, tapi lawannya kebanyakn tim kasta rendah di Auronzo. Walau begitu ia berjasa menyelamatkan Vila dari zona merah.

Rekrutan keempat yang paling dahsyat. Vedat Muriqi, setelah berbulan-bulan akhirnya resmi ke Biancoceleste. Saya ingat sekali ketika penyambutannya, FOC merayakan berlebihan. Yah, begitulah mereka terlalu euphoria. Waktu itu tanggal 13 September 2020, kabar Muriqi mendarat di Bandara Flumicino pertama dipos oleh akun resmi twitter @officialSSlazio yang memberi kode sebuah ikon bajak laut. Beberapa menit kemudian, muncul gambar-gambar mula Vedat di bandara membentangkan syal biru tua bermotif biru muda dengan tulisan di kedua ujungnya Lazio dan logo klub. Lalu muncul gambar kedua syal dikalungkan dengan dua jempol diacungkan, gambar ketiga muncul Vedat membawa tas hitam mengacungkan satu jempol bersiap keluar bandara. Gambar-gambar ekslusif ini heboh, sampai-sampai dipakai untuk picture profile (pp) Grup. Immobile = (gambar bola sebanyak 36 buah), Immobile+Muriqi=(gambar bola sebanyak 59 buah). Duet Ciqi. Chat ini beneran, sampai saya hitung bolanya. Optimis, lini serang digaransi melimpah. Well, dalam satu musimnya di Fenerbache, Muriqi mencetak 17 gol dan tujuh asis dalam 36 laga. Dahsyat! Dahsyat! Dahsyat!, teriakan ala penjual omong kosong di seminar MLM. Lalu Corona menghinggapinya, menunda debut. Jadi ada alasan, lawan Inter KW kemarin kita kurang tajam sebab pasukan bantuan masih karantina mandiri main PS di Turki.

Pemain kelima yang bergabung adalah Andreas Pereira, gelandang MU yang ga guna ini resmi diikat di Olimpico, merasa tersingkir dengan datangnya Donny van de Beek dengan harga ngilani. Opsinya ke Lazio rada annoy kalau dicermati, pinjam dan beli wajib musim depan dengan harga puluhan juta, dan kelak lagi ketika menjualnya MU akan mendapat 10% fee. Mau nangis rasanya lihat highlight di Youtube. Salah satunya pas masuk menggantikan Anthony Martial, melakukan sleding bodoh. Yah, begitulah gambarannya, minimal aksinya ada di Youtube, ketimbang Ahmed Lo yang ketika kutanya Google malah balik bertanya, ‘pakai kata kunci yang lebih rasional lo!’

Berikutnya, rekrutan keenam yang masuk adalah Gabriel Pereira dari Monaco. Kiper muda yang memiliki jambang mirip Wolverine ini adalah pemain U-16 Brasil, walau punya passport Italia juga. Masih sangat muda, baru 18 tahun. Dengan kedatangannya persaingan remaja kiper semakin (nggak) seru. Alia, Adamois, Guido otomatis tersingkir, kembali ke Primavera kalian Nak. Eh kecuali nama terakhir, sudah 24 tahun, Ok dipinjamkan lagi, ke mana lagi kalau bukan ke US Salernitana 1919. Kebetulan sekali dapat nama dua Pareira. Seperti nama Felipe yang melimpah, nama-nama umum di Liga Italia ini setara dengan nama Asep, Budi atau Joko di Liga Shope1.

Pemain ketujuh adalah bek Aljazair Mohamed Fares dari SPAL dengan harga 8 juta euro. Transfer Fares tak kalah drama, pokoknya jadi Laziale drama transfer tiap musim seru nan mendebarkan, bersisian dengan rumor Kumbula (yang akhirnya ke Roma, juga Mayoral dari Madrid), proses negosiasi berbelit dan melilit panjang. SPAL sendiri hari Rabu kemarin kehabisan sabar, SPAL yang terdegradasi memberi ultimatum seolah bilang, ‘jadi nggak sih? Kalau enggak mau saya lego ke tim lain’ Padahal Fares sudah berlari-lari di atas treadmill Paidea beberapa hari lalu. Akhirnya resmi kemarin, Alhamdulillah.

Rekrutan kedelapan adalah Wesley Hoedt, sudah tiba di Roma dan medical di Paidea hanya menanti peresmian. Mungkin menunggu Bastos keluar, baru deh foto-foto sama syal. Si Tampan Hoedt bukan nama asing, ia adalah pemain Lazio tahun 2015 sampai 2017, dibeli mahal The Saints, yang otomatis orang bilang wah calon bintang Liverpool nih. Tiga tahun berselang, malah mbalik ke Lazio, hahaha… kena deh. Tak diragukan lagi memang Hoedt seorang Laziale, barang bukti ada di pos ig-nya. Cek saja sendiri. Hoedt adalah pemain pinjaman dengan opsi beli musim depan. Tak bisa kubayangkan, duet mawut sama Radu! Hore.

Keseimbangan tim itu mencatat (sedikit) luka dengan keluarnya striker wonderkid Simone Palombi ke Pisa. Usianya sudah 24 tahun dan tak kunjung mendapat tempat, lha dipinjamkan terus. Setelah belajar di Ternana, Salernitana, Lecce, dan Cremonese, ia setahun lagi mengembara ke Toscana. Kontraknya tahun depan habis, goodluck di Pisa, Nak. Jaga nama baik almamater The Great.

Masih ingat kasus 2009 ketika transfer Zarate dan Cruz berbelit dan merumitkan diri dalam bursa? Sang Bos sudah belajar banyak dalam mengelola finansial, lihat perutnya buncit. Daftar pemain yang ada dan yang harus in/out tentunya harus seimbang. Untuk meresmikan Fares membutuhkan pemain keluar, dengan kerendahan hati melepas gratis Wallace ke Turki, nama timnya Yeni Malatyaspor, pernah dengar namanya? Enggak? Sama, saya juga, antah maksimal sampai-sampai saya nggak tega bilang ‘Goodluck Woles’. Berita resminya ini sudah ditunggu Laziale seantero raya yang jumlahnya membludak kala nobar. Sampai-sampai beberapa kafe menolak kami ketika registrasi, sebab mereka meminta jumlah minimal penonton 15 orang. Weleh, tiga region digabung juga belum tentu memenuhi Pak. Kecuali kita nebeng sama fan lain yang punya base lebih besar. Ingat nobar Juventus di Kafe Lawang lalu, itu yang booking Juventini ya. Kembali ke Woles, pun pasca berulang kali obral dijual, gagal. Jual rugi yang jarang terjadi, tapi akhirnya legowo. Wallace saat ini dilepas permanen, dengan opsi dapat 50% musim depan kalau klub menjualnya. (kalau) (kalau) (kalau). Logikanya klub akan saving duitnya. Yah, relakan. Ga semua investasi menghasilkan cuan, lihat tuh AISA, setelah bertahun-tahun tampil mapan di industri Food and beverage, AISA luluh lantak di bursa saham.

Lihat betapa baiknya Lotito, yang dijanjikan tujuh pemain, beliau malah memberikan delapan. Sungguh mulia hati sang presiden. Salah satu poin sangat penting kita adalah berhasil mempertahankan SEMUA bintang. Correa dibujuk berkali-kali ke Juve. Immobile sempat diincar klub (nggak jadi) kaya baru Newcastle, Luiz Alberto asyik sendiri dengan isu ke Barcelona-nya Koeman, Felipe Luiz bek hebat masih muda ini bahkan ditawar 40 juta euro sama P$G – tunai! Dan berita bintang terbesar Milinkovic-Savic tak pernah berhenti di bursa. Terakhir Juve menawarnya dengan uang receh plus opsi pinjam dua ampasnya Federico Bernardeshi dan Bentacur, hahahahaaaa hajindul hahahahahaaaa hajindul. Harga Savic minimal 110 juta euro coy, dan cash. Kagak ada opsi-opsian, kagak ada paket hemat. Dikira bundel Tokopedia, pakai opsi kesbek OVO. Lihat, betapa keras usaha presiden mempertahankan pemain berkelasnya. Dan seperti kata Dora setelah menyelesikan misi, kita patut turut berteriak, “Berhasil… berhasil… berhasil…” Stefan de Vrij ketawa ngikik.

Inilah malam kudus liga champion, di mana antusiasme diikat erat dengan optimism menghasilkan laga-laga yang paling dinanti. Doa-doa dikirim ke langit, mantra dan tuah dilepar demi tiga poin. Sekarang Lazio masuk jajaran klub elit Bung, mungkin fase gugur nanti keinginan ketemu Barcelona atau Bayern baru terkabul, dengan syarat tentunya mereka berdua lolos dulu. Bisa nggak ya. Mari kita lihat.

Salah kalau kalian menganggap Lazio hanya partisan noob, kita sudah pernah Berjaya dua puluh tahun lalu. Catat juga, kita punya Piala Super Eropa yang menandingkan dua juara kompetisi elit. Saya optimis Lazio melaju ke babak gugur, kalian juga ‘kan? Mari bersenandung, ‘champioooooon….. jreng jreng jreng.”

Kita memperlakukan alam semesta sekadar sebagai mitra dalam komunikasi. Seorang penggemar adalah bumbu kuat memeriahkan tiap pertandingan, walau Italia ada di jauh Eropa sana. Tiap sepak pemain Lazio memberi pengaruh jutaan orang di Indonesia, ratusan manusia di Jawa Barat, belasan orang di Karawang, seorang Laziale di Green Village. Inzaghi bilang, “Malam ini sungguh penting dan menakjubkan…” Tare bilang, “Kesan pertama saya ini adalah grup yang sangat bagus. Tim ini MAMPU MELAWAN TIM MANAPUN, bahkan yang lebih berpengalaman di UCL ini. Antusiasme penting dan kompetisi ini akan memberi kami banyak hal” Terakhir kali Lazio bertanding di Liga Champions pada musim 2007/2008 dengan komposisi grup: Real Madrid, Bremen, dan Olimpiakos. Kala itu strikernya Igli Tare dan Lazio juru kunci.

Karawang, 021020 – Bee Gees – First of May

Catatan: Lazio bergabung dengan Zenit, Dortmund, dan Brugge di grup F.