#Agustus2020Baca

Georgo Plekhanov berpendapat bahwa dokrin ‘seni untuk seni’ berkembang jika satrawan merasakan: “Suatu kontradiksi yang sangat parah antara tujuan mereka dengan tujuan masyarakat. Seniman pasti bersikap bermusuhan terhadap masyarakatnya dan merasa tidak mungkin dapat mengubahnya.”

Bulan Agustus memang bulan santuy, hanya bacaan jelang Penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK). Tercatat hanya delapan buku yang berhasil dituntaskan, hanya satu yang diulas, dua – satu lagi bulan berikutnya. Memang tak ada target, bulan September baru tancap gas. Maka sedemikian nyaman kegiatan baca tulis di era serba mudah ini. Bersyukurlah kita hidup di era digital.

Paling sulit memang menyelesaikan baca nomor dua, teori Sastra yang njelimet dan panjang sekali penuturannya. Buku terbaik bulan Agustus.

#1. Always Laila, Hanya Cinta yang Bisa Andi Eriawan

Buku lama milik teman se-kos Ruanglain_31, Jemy K yang hilang dipinjam teman. Saya baca ulang dengan kilat dan ulas. Buku ini memang sangat membekas kala itu, kisah sepasang kekasih yang mendayu-dayu dalam puisi kehidupan. Nuansa romantis membalut nasib mereka, sampai akhirnya petaka tiba. Generasi Dilan akan shock ketika tahu ada cerita cinta sejoli Bandung yang mengharu biru dengan belitan romansa berkualitas – jauh lebih berkualitas. Dua kali baca, dua kali pula mewek. “Laila… nama yang cantik. Orangtuamu pandai memberi nama. Mungkin mereka tahu kau akan tumbuh secantik ini.”

#2. Teori Kesusastraan Rene Wellek & Austin

Buku teori sastra luar biasa. Butuh waktu ekstra untuk menuntaskannya, tebal nan padat ilmu. Begini seharusnya buku pengantar ditulis, detailnya mengagumkan. Bagi orang awam seperti saya yang tak sekolah sastra, apa yang disampaikan menjadi pijakan menikmati sastra. Telusur kata, sejarah masa lalu orang-orang hebat sampai hal basic apa itu seni dan turunannya. Ini sih bukan hanya bacaan biasa yang selesai lahap diletakkan, akan sering dibuka ulang untuk menjadi referensi, menjadi tolok ukur bagaimana kualitas sastra sebuah karya tulis.

Tokoh novel muncul dari kalimat-kalimat yang mendeskripsikannya, dan kata-kata yang diletakkan di bibirnya oleh sang pengarang, di luar itu tokoh tidak memiliki masa lalu, masa depan, atau kontinuitas kehidupan. Keren banget ya deskripsinya. Mungkin hal yang wajar, hal biasa tapi kalau ditulis gini jadi terasa wow. Benar juga, tokoh dalam buku itu ya masa-nya di dalam buku. Meskipun ada karya sastra yang erat kaitannya dengan kehidupan pengarangnya, ini bukti bahwa karya sastra merupakan fotokopi kehidupan. Well, yang namanya fotokopi sebagus dan realistis apapun, tetap saja palsu.

#3. Bagaimana Aku Menjadi Penulis Gabriel Garcia Marquez

Ini adalah kumpulan esai penulis nomor satu di daftar novel terbaik LBP. Seru sekali membaca curhatan Penulis favorit, seperti saat pertama kalinya melihat dan menyapa dari jarak jauh penulis idola beliau: Ernest Hemingway di Paris. Sekadar teriak woooy… dibalas lambaian tangan saja, sudah bikin hepi.

Bayangkan, ketemu Seno Gumira Ajidarma lalu diacungi jempol. Hahaha… sedemikian bagus sampai-sampai hal biasa tampak menyenangkan. Atau cerita beliau ketika melakukan wawancara di udara, terdengar menarik sekali, sang narasumber punya waktu sempit, penulis harus menyesuaikan. Terutama sekali cerita beliau saat proses menulis buku paling fenomenalnya, ‘Seratus Tahun Kesunyian’. Mematikan karakter favorit membuatnya menangis tersedu-sedu dalam pelukan istri, betapa mendalam perasaan sang Penulis terhadap tokoh rekaannya. Dan fakta bahwa ia tak suka fantasi karena segala yang ‘ngawang-awang’ terasa palsu. Jadi semua buku beliau berdasar semacam rekontruksi kehidupan, tak ada unsur fantasi? Yup, termasuk adegan dramatis ruh yang terbang? Ya. Itu berdasarkan mimpi, ia mengelola sebuah mimpi menjadi adegan yang terlihat nyata. Hhhmmm… menariq.

#4. Bahasa dan Kegilaan – Umberto Eco

Wow. Membahas linguistik dengan sangat keren. Buku tipis yang padat informasi. Dari zaman Adam yang mempertanyakan, bagaimana Tuhan berdialog dengan manusia pertama, sampai zaman Romawi dan tentu saja masa kini. Tidak diberitahukan kepada kita dalam bahasa apa Tuhan berbicara pada Adam. Kata pertama yang diucapkan Adam pastilah nama Tuhan, El. Lucu, bagaimana kesalahan malah mencipta jalan keluar yang lain. Kesalahan – tidak selalu dalam kebohongan, tetapi pasti kekeliruan – telah memotivasi kejadian sejarah. Saya harus bersandar pada kriterium kebenaran. Vernacular adalah bahasa pertama manusia, “meskipun terbagi-bagi oleh kata-kata dan aksen-aksen yang berbeda.”

Saya kutip penuh salah satu bagian bagus. Santo Thomas dalam Queaestio quodlibet alis XII, 14 menyatakan ‘utrum veritas sit fortiori inter vinum et regem et mulierem’ yang memunculkan pertanyaan mengenai mana yang lebih kuat, lebih meyakinkan, dan lebih membatasi: kekuasaan raja, pengaruh anggur, pesona wanita, atau kekuatan kebenaran? Jawaban Aquinas halus dan fasih: anggur, raja, wanita, dan kebenaran tidak dapat dibandingkan mereka tidak dalam kategori yang sama. Semuanya dapat menggerakkan hati manusia untuk melakukan tindakan tertentu.

#5. Rahasia Selma – Linda Christanty

Pemenang Sastra Khatulistiwa 2011 bagian prosa yang lumayan bagus. Memainkan kata untuk menjelajah dunia antah dengan banyak metafora dan pamer keindahan fatamorgana diksi. Terdiri 11 cerpen, hampir semua mengambil sudut pandang perempuan, anak-anak dan dewasa. Dari korban pelecehan seksual, saksi mata perzinaan, sampai seorang istri yang selingkuh menuturkan kenyataan pahitnya. Rangkaian kehidupan yang umum dan begitu nyata, disampaikan dengan berbagai perumpamaan. “Jangan terlalu akrab dengan siapa pun. Jangan bawa teman ke rumah. Ibu-ibu semua penggosip.”

#6. Membina Bahasa Indonesia Baku (seri 1) JS Badudu

Asyik sekali menikmati tata bahasa baku yang disodorkan beliau. Di awal EYD (Ejaan Yang Disempurnakan) tahun 1970-an buku ini menerangkan banyak hal yang dirasa umum dalam berbahasa di masyarakat, ternyata banyak yang salah, atau pas disebut: belum tepat. Kembali ke dasar, sungguh bermanfaat berselancar Bahasa Indonesia. Sayangnya ini seri satu, jadi untuk melanjutkan harus kembali berburu seri berikutnya.

Beberapa mungkin sudah sangat kita kenal, seperti penggunaan kata ‘para’ artinya jamak, maka tak boleh menggunakannya untuk banyak orang seperti ‘para orang-orang’. Atau penggunaan kalimat dalam surat resmi, yang benar itu bagaimana. Hal yang mengejutkan adalah, penutup surat yang biasanya berbunyi, “Demikian surat ini saya buat, untuk digunakan sebagaimana mestinya.” Adalah mubazir kata-kata. Sebab, jelas surat dibuat ya memang untuk digunakan sesuai fungsinya! Nah lo!

#7. SummerAlbert Camus

Baca ulang kumpulan esai Albert Camus. Dulu banyak bagian yang bingung, istilah kata dan aliran maknanya memang banyak yang memuat ambiguitas, setelah baca lagi ternyata tetap rancu. Haha… tapi sekarang lebih bisa masuk karena sudah beberapa novel beliau yang kulahap sehingga alur yang dimaksud setidaknya bisa mengikuti. Sebagai Penulis Prancis kelahiran Aljazair, kumpulan esai ini memang banyak mencerita kehidupan kesehariaan di sana. Dari terik matahari yang menyengat sampai pilihan hidup yang bagai tookoh sisipus, banyak kesiaan.

#8. Ringkasan NovelJS Badudu

Ini adalah buku yang meringkas novel. Sastra klasik Indonesia dari zaman Sitti Nurbaya sampai Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Semua diringkas dalam bahasa populer. Nyaman, sebagian sudah baca, sebagian masuk daftar incar, walau nggak masuk dalam ring satu. Lumayan juga, review buku berisi pendapat, ternyata bisa dibukukan ya. Dengan sudut pandang dan penilaian JS Badudu yang mencoba objektif. Ini bukan buku-buku rekomendasi, karena otomatis semua bagus, ini garis besar kisah dan penilaian darinya bahwa Sastra kita bergeliat jauh di masa sebelum Indonesia berdiri. Sebagian besar jelas sudah kita ketahui dalam pelajaran Bahasa Indonesia semasa sekolah dulu. Ini detailnya walau hanya sebagian saja.

Delapan buku yang bagus semua. Menyenangkan sekali menikmati buku bagus, baik fiksi atau non-fiksi. Sungguh waktu yang kita luangkan bersama lembaran bervitamin itu terasa menggugah. Terasa tak ada yang sia-sia, gizi buku bagus yang banyak membuat hidup menjadi lebih hidup. Cara mengidentifikasinya yang benar-benar khayali.

Karawang, 090920-011020 – Bill Withers – Lovely Day

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s